DAWUH DaAowah & Communication Islamic Jurnal Islam Dan Budaya Minangkabau Dalam Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Riesangaji Wibisena1. Moch Iqbal2 Institit Agama Islam Negeri Bengkulu12 riesangaji@gmail. com1, moch_iqbal@iainbengkulu. Abstract This research is titled "Islam and Minangkabau Culture in the Van Der Wijck Ship Sinking Film" The purpose of this study is to describe the relationship between Islam and Minangkabau culture in the Van Der Wijck Ship Sinking film, and to describe the propaganda messages for the Van Der Wijck Sinking film. This research uses a qualitative method by using descriptive method in which the researcher tries to describe how the Relationship between Islam and Minangkabau culture in the movie Van Der Wijck Sinking. The object of this research is the Van Der Wijck Ship Sinking. This study uses the theory of Charles Sanders Pierce Charles Sanders emphasizes the importance of meaning for humans by saying the main references of humans in using Pierce's ratio divide it into 3 namely: Icons. Indexes, and Symbols. The results of this study determine the relationship between Islam and Minangkabau culture symbolized in the sinking film Van Der Wijck Ship created through the use of language, clothing, and customs, which uses which films, films, films, what could be used by the Minangkabau people in 1930- n, a map often used in daily life, a picture of the young batipuh who are fervently listening and studying religion. Keywords: Islam and Minangkabau Culture. Van Der Wijck Ship Sinking Abstrak Penelitian ini berjudul AuIslam Dan Budaya Minangkabau Dalam Film Tenggelamnya Kapal Van Der WijckAy Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan Hubungan Islam dan budaya Minangkabau dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, serta untuk mendeskripsikan pesan-pesan dakwah dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan pendekatan deskriptif dimana peneliti berusaha untuk mendeskripsikan bagaimana Hubungan Islam dan budaya Minangkabau dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Objek penelitian ini adalah film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Penelitian ini menggunakan teori Charles Sanders Pierce Charles sanders pierce menekankan pentingnya makna tanda bagi kehidupan manusia dengan mengatakan bahwa tanda merupakan instrumen utama manusia dalam menggunakan rasionya Pierce membaginya menjadi 3 yakni: Ikon. Indeks. Dan Simbol. Hasil penelitian ini Menunjukan bahwa Hubungan Islam dan Budaya Minangkabau yang disimbolkan dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck diwujudkan melalui penggunaan bahasa, pakaian, dan adat, yang ditampilkan melalui beberapa adegan, seperti adegan yang menampilkan transportasi tradisional seperti bendi yang sering digunakan oleh masyarakat Minangkabau pada tahun 1930-an, deta yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, gambar para pemuda batipuh yang sedang khusyuknya mendengarkan dan belajar agama. Kata Kunci: Islam Dan Budaya Minangkabau. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Riesangaji Wibisena, dkk : Islam dan Budaya Minangkabau A | 27 PENDAHULUAN Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck merupakan film adaptasi dari novel karya Hamka dengan judul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Temautama film ini adalah percintaan dengan bumbu konflik budaya yang juga merupakan isu utama yang sekaligus merupakan penyebab konflik dalam film. Dikisahkan bahwa Zainudin, seorang pemuda dengan kondisi melarat yang lahir dari ibu berdarah Bugis Makasar dan bapak berdarah Minang yang pergi kekampung halaman bapaknya Batipuh. Padang Panjang. Disana Zainuddin bertemu dengan Hayati, seoranggadis Minang dari keluarga terpandang, akhirnya kedua insan saling jatuh cinta. Akan tetapi, masyarakat Minang menganggap Zainudin bukanbagian dari mereka karena ibunya bukan dianggap lelaki Minang tulen yang kaya raya. Merasa kecewa. Zainudin kemudian merantau bersama Bang Muluk ke Batavia pada tahun 1932. Disana Zainuddin memulai karir sebagai penulis. Singkat cerita. Zainuddin menjadi penulis terkenal. Di popularitas serta kemakmurannya. Zainudin bertemu Hayati bersama suaminya. Aziz, dalam kondisi perekonomian yang tidak baik. Zainudin yang menganggap keduanya sebagai sahabat bersedia untuk membantu meringankan beban perekonomian Hayati serta Aziz. Namun kemudian Aziz menceraikan Hayati karena merasa tidak mampu lagi Hayati sendiri tetaptinggal di rumah Zainudin. Akibat suatu perdebatan. Zainudin memulangkan Hayati kekampung halaman dengan menyuruhnya menumpang kapal Van der Wick yang karam di tengah perjalanan. Sebelum Hayati meninggal di sebuah Rumah Sakit mereka mengaku jika masih saling mencintai. Film adalah karya seni yang menggambarkan sebuah bentuk seni kehidupan manusia berbentuk audio visual yang memiliki alur cerita yang kuat, sehingga film bisa mempengaruhi imajinasi atau ideologi seseorang atau penonton. Selain itu menurut Sobur, film juga selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan di baliknya tanpa pernah berlaku Film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, dan kemudian memproyeksikannya ke atas layar. Keberadaan film saat ini mempunyai makna yang berbeda dibandingkan dengan media massa yang lainnya. Film tidak hanya memiliki asumsi informasi, edukasi dan intertain . , film pun mampu mengubah pandangan baik menjadi pandangan buruk atas pesan yang disampaikan kepada penonton. Film juga dapat menjadi alat Film ini juga dianggap sebagai media komunikasi yang ampuh terhadap massa yang menjadi sasaranya, karena sifatnya yang audio visual, yaitu gambar dan suara yang hidup. Dengan gambar dan suara, film mampu bercerita banyak dalam waktu singkat, ketika menonton film seakan-akan dapat menembus ruang dan waktu yang dapat menceritakan kehidupan dan bahkan dapat mempengaruhi audiens. Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan film yang memberikan referensi kepada penonton tentang budaya Indonesia khususnya di Minangkabau dan Bugis-Makassar karena dalam film ini memperkenalkan tentang budaya yang ada di Indonesia. Dengan adanya film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck para penikmat film bisa menambah wawasan mereka tentang budaya Indonesia. Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menonjolkan dua kebudayaan yang ada di Indonesia yaitu budaya Minangkabau dan budaya Bugis-Makassar, menuangkan hal-hal yang berhubungan dengan adat setempat. Budaya Minangkabau dan budaya Bugis-Makassar yang diwujudkan melalui penggunaan bahasa, pakaian dan adat yang digambarkan dalam film tersebut masih sangat dijunjung tinggi. Dalam film ini terdapat keunikan yang membuat peneliti tertarik untuk mengangkat film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sebagai bahan penelitian karena dalam film tersebut menampilkan unsur kebudayaan yang sangat khas yaitu budaya Minangkabau yang berlatar tahun 1930-an. Drs. Alex Sobur. Si. Semiotika Komunikasi, (Bandung :PT remaja rosdakarya,2. , hlm. Vivian, jhon. Teori Komunikasi Massa, (Jakarta : Prenada Media Group,2. , hlm. 28 | Dawuh : Vol. No. Maret 2021 METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini peneliti mengambil objek penelitian film tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang di Produseri Oleh Sunil Soraya. Penelitian ini dilakukan dirumah peneliti sendiri yang beralamat di Jln Garuda Putih No 42 Kelurahan Pasar Permiri Kota Lubuklinggau Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif berhubungan dengan ide, persepsi, pendapat atau kepercayaan orang yang diteliti dan semuanya tidak dapat diukur dengan angka. Penelitian kualitatif juga merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami berbagai fenomena-fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat eksplanatif dimana penelitian eksplanatif dilakukan dengan alasan karena seorang peneliti biasanya tidak puas hanya sekedar mengetahui apa yang terjadi dan bagaimana terjadinya suatu fenomena sosial. Tetapi, juga ingin mengetahui mengapa fenomena itu dapat Jenis penelitian ini merupakan analisis teks media. Penelitian ini diarahkan untuk mengungkapkan pola pemikiran dalam menganalisis film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Wilayah teks media merupakan representasi yang berkaitan dengan realitas produksi dan konsumsi. Fungsi representasional teks menyatakan bahwa teks berkaitan dengan bagaimana kejadian, situasi, hubungan dan orang yang direpresentasikan dalam teks3. Penelitian ini menggunakan semiotika Charles Sanders Pierce dengan tiga jenis tanda yaitu ikon, indeks, dan simbol. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan analisis teks media untuk memahami makna pesan Islam Dan Budaya Minangkabau yang terkandung dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Untuk menarik makna pesan dakwah dan budaya dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dengan penelitian kualitatif tidak menggunakan angka-angka tetapi menggunakan sebuah analisis dengan menggunakan teori sebagai landasan dalam melakukan Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud memberikan penafsiran tentang fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN PEMBAHASAN Sinopsis Singkat Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Film berlatar belakang suku Minang ini memiliki durasi 155 menit. diadopsi dari novel berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang sering disebut Hamka. Film ini disutradarai oleh Sunil Soraya. dan rilis dua kali di bioskop. Rilis pertama tahun 2013 dan yang kedua tahun 2014. di film ini juga diperankan oleh artis ternama di indonesia. Diantara-nya. Harjunot Ali sebagai Zainuddin. Pevita Pearce sebagai Hayati. Reza Rahardian sebagai Aziz. Rendy Nidji sebagai Bang Muluk. Kisah berawal dari seorang pemuda yang berasal dari Makassar bernama Zainuddin. merupakan anak berdarah suku campuran. Ayahnya berasal dari Padang Panjang dan Ibunya berdarah Minang. Kedua orang tua Zainuddin telah lama meninggal dunia. Zainuddin yang hidup bersama sang nenek, memutuskan untuk berlayar ke tanah kelahiran ayahnya di Batipuh. Untuk mendalami ilmu agama. Di desa tempat Zainuddin mendalami agama, bertemulah dia dengan seorang gadis cantik. dialah Hayati si cantik nan sholehah berdarah asli Minangkabau yang menjadi bunga desa. Hayati yang juga yatim piatu diasuh seorang pemuka adat di Batipuh. Lingkungan yang mempertemukan mereka. Lingkungan jugalah yang membuat dua insan ini jatuh cinta. Namun kisah cinta mereka, tak semulus apa yang diharapkan oleh keduanya. Peraturan adat istiadat yang teguh. Menjadikan hubungan mereka mendapatkan pertentangan oleh masyarakat suku adat. Tak terkecuali oleh datuk ketua adat yang merawat Hayati. Karena Zainuddin dinilai seseorang yang miskin dan tidak Abdul Halik. Tradisi Semiotika Dalam Teori Dan Penelitian Komunikasi, (Makasar:Alaludin Press, 2. , hlm. Lexy J. Moloeong. Meteodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:PT Rosdakarya, 2. , hlm. Wikipedia. https://id. org/wiki/Tenggelamnya_Kapal_van_der_Wijck_. April 2. Riesangaji Wibisena, dkk : Islam dan Budaya Minangkabau A | 29 jelas asal usulnya. Hubungan mereka yang tidak mendapatkan restu lantaran aturan adat. memaksa Zainuddin harus diusir dari desa batipuh. Dan berpindah ke Padang Panjang. Hari terakhir sebelum Zainuddin pergi dari desa tersebut. Zainuddin mendapat sebuah kenang-kenangan dari Hayati berupa sehelai kain putih. sebagai tanda untuk mengikat tali cinta mereka. Zainuddin berjanji suatu saat kembali ke desa tersebut, untuk meminang Hayati menjadi Istrinya dan hayati pun sanggup menunggu sampai kapanpun itu. Berawal dari kisah cintanya yang kelam. Zainuddin menuliskan semua kisahnya menjadi sebuah karya sastra. Sampai-sampai pemilik surat kabar di batavia, merasa tertarik dengan tulisan karya Zainuddin dan ingin menerbitkannya. Buku Berjudul Teroesier menjadi karya pertamanya yang laris dipasaran. berkat buku tersebut Zainuddin menjadi kini menjadi penulis terkenal dan bergelimang harta, kepintaran Zainuddin dalam membuat tulisan-tulisan yang menginspirasi. Menjadikan Zainuddin dipercaya untuk memimpin sebuah perusahaan surat kabar di Surabaya. Zainuddin yang ternyata masih menyimpan dendam dengan Hayati. tidak mau menerima kembali Hayati sebagai kekasihnya. Karena dinilai hayati pernah merendahkanya dan menghianatinya, sampai pada akhirnya. Zainuddin menyuruh untuk Hayati pulang ke kampung halaman. Zainuddin yang membiayainya semua biaya kepulangan Hayati. Kapal Van Der Wijck lah yang saat itu akan mengantarkan Hayati sampai ke tanah halaman. kapal buatan Belanda cukup mewah pada zaman itu. Namun tragis, dalam pelayarannya, kapal tersebut tenggelam dan menewaskan Hayati yang berada di dalamnya. Untuk mengenang Hayati. Zainuddin membangun panti asuhan untuk anak yatim piatu yang dia beri nama Panti HAYATI. Islam Dan Budaya Minangkabau yang Disimbolkan dalam Film Tenggelmanya Kapal Van Der Wijck Gambar 16. Musyawarah (Adegan gambar . (Sumber: Capture film TKVDW) Gambar 16 tampak datuk Hayati yang merupakan tokoh adat penghulu adat desa Batipuh, datuk memulai pembicaraan dengan menuturkan maskud serta tujuanya dan mengundang para penghulu adat ke rumah Gadang adalah untuk melakukan musyawarah. Ikon,Indeks, dan Simbol pada adegan terebut akan diuriakan pada tabel berikut: Tabel 6. Sistem Penandaan adegan Musyawarah Visualiasi: berupa gambar beberapa penghulu ada desa BatiIkon puh sedang berkumpul melakukan musyawarah Musyawarah adalah suatu sistem pengambilan keputusan yang melibatkan banyak orang dengan mengakomodasi semua keIndeks pentingan sehingga tercipta suatu keputusan yang disepakati Musyawarah biasa dilakukan penghulu ada Minangkabau un- 30 | Dawuh : Vol. No. Maret 2021 Simbol tuk mencari kata mufakat dari apa yang dirundingkan. Dari ikon dan tanda verbal diatas, terkandung pesan simbolik dari adegan tersebut bahwa untuk mendapatakan kata mufakat harus melakukan musyawarah bersama agar tidak terjadi kesalahpahaman dikemudian hari. Misalnya melakukan musyawrah dengan keluarga dalam menentukan pasangan hidup Sumber : Olahan Peneliti 2020 Adegan tersebut, menggambarkan interkasi yang terjadi dirumah adat Minangkabau yaitu rumah gadang atau biasa disebut rumah bagonjong. Ikon pada adegan gambar 16 tersebut adalah musyawarah yang dilakukan oleh beberapa penghulu adat Batipuh, untuk mendapatkan kata sepakat atau mufakat. Adanya musyarawah tersebut adalah dengan mempertimbangkan lamaran untuk Hayati dari dua pemuda yang mempunyai latar belakang berbeda, yaitu Zainuddin dan Aziz. Kedua pemuda tersebut sama-sama ingin menjadikan Hayati sebagai istrinya. Pemuda yang pertama ialah Aziz yang berasal dari Padang Panjang yang merupakan anak Sutan Mantari yang terkenal semasa hidupnya. Aziz adalah pemuda yang berasal dari keluarga terpandang serta kaya raya dan mempunyai pekerjaan tetap sebagai seorang pegawai Belanda, sedangkan Zainuddin adalah seorang pemuda yang berasal dari Sulawesi Selatan yang tidak mempunyai kekayaan dan pekerjaan tetap, dan di pandang sebagai pemuda yang tak bersuku. Pada adegan tersebut, lamaran Zainuddin disampaikan melalui sebuah surat dan ditolak sesuai dengan keputusan serta hasil musyawarah penghulu adat desa Batipuh. Interpretasi pada gambar adegan musyawarah tersebut yaitu untuk menyampaikan nilai-nilai budaya Minangkabau masih dijunjung tinggi, dan adegan tersebut diperkuat dengan tampilan orang-orang atau para penghulu adat yang menghadiri musyawarah tersebut. Namun musyawarah yang ditampilakan dalam film tersebut tidak sepenuhnya hasil dari musyawarah bersama. Seorang pemuda yang berusia A 30 tahun mengutarakan pendaptnya tentang Zainuddin, namun pemuda tersebut hanya dianggap sebagagi seorang pemuda yang tidak mengerti adatnya sendiri hanya karena pemuda tersebut masih muda dan membela Zainuddin. Dalam masyarakat Minangkabau, status usia juga diperhitungkan ketika memberikan pendapat dalam suatu musyawarah. Makna yang hendak disampaikan dalam adegan tersebut adalah musyawarah merupakan sebuah cara yang baik dalam menemukan sebuah keputusan bersama. Melakukan sebuah musyawarah adalah sebuah bentuk pengharagaan terhadap orang lain dan menghargai keberadaan orang lain, namun dalam adegan film tersebut mengambarakan Datuk sebagai seorang pemimpin adat desa Batipuh yang tidak menghargai setiap pendapat yang dikemukakan oleh masyarakat yang mengikuti musywarah tersebut. Perbandingan Scan film Peneliti dengan Novel TKVDW karya Hamka Tabel 14. Perbandingan film TKVDW dan Novel TKVDW scan 16 Scan Film Adegan gambar 16 Perbandingan Film Pada adegan gambar 16 ini tampak datuk Hayati yang merupakan tokoh adat penghulu adat desa Batipuh, datuk dengan menuturkan Novel Pada halaman 121 tertulis setelah hadir semuanya, mulailah datuk membuka kata, demikiankanlah maka tuan-tuan saya hadirkan dalam rumah nan gedang ini, yaitu elok kata dengan mufakat Riesangaji Wibisena, dkk : Islam dan Budaya Minangkabau A | 31 maskud serta tujuanya dan mengundang para penghulu adat ke rumah Gadang adalah untuk buruk kata diluar mufakat, tahi mata tak dapat dibungkan dengan empu kaki. Sumber: Olahan Peneliti 2020 Kesimpulan pada adegan gambar 16 yakni tampak datuk Hayati yang merupakan tokoh adat penghulu adat desa Batipuh, datuk memulai pembicaraan dengan menuturkan maksud serta tujuanya dan mengundang para penghulu adat ke rumah Gadang adalah untuk melakukan musyawarah. Dalam novel tertulis juga demikian sama tidak ada bedanya akan tetapi hanya berbeda waktu saja di dalam film langit kelihatan gelap seperti hendak maghrib akan tetapi di dalam novel di halaman 120 diceritakan pukul 7 pagi sampai selesai jadi di dalam scan ini hanya berbeda waktunya saja . KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Islam dan Budaya Minangkabau dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang dianalisis dengan menggunakan semiotika model Charles Sander Pierce, penelitian ini menyimpulkan: Hubungan Islam dan Budaya Minangkabau yang disimbolkan dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck diwujudkan melalui penggunaan bahasa, pakaian, dan adat, yang ditampilkan melalui beberapa adegan, seperti adegan yang menampilkan transportasi tradisional seperti bendi yang sering digunakan oleh masyarakat Minangkabau pada tahun 1930-an, deta yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai perwujudan identitas masyarakat Minangkabau, gambar para pemuda batipuh yang sedang khusyuknya mendengarkan dan belajar agama gambar mesjid dengan bentuk atap yang runcing ke atas, musyawarah yang dilakukan para penghulu adat Batipuh yang membahas lamaran dari Azis dan Zaenuddin, pakain adat tertutup wanita Mingkabau saat menonton pacuan kuda, serta hijrahnya kedua sahabat kekota Batavia. Pesan Dakwah Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah sebuah bentuk kritikan terhadap budaya Minangkabau yang menganut sistem matrilineal dan materialistis. Dalam film tersebut, menceritakan tentang seorang pemuda yang mengalami perlakuan diskriminasi dari masyarakat Minangkabau karena keturunan dan status sosialnya dan Seorang perempuan yang kehidupannya hancur karena adat dan budayanya. Masyarakat Minangkabau menggunakan alasan adat untuk kepentingan-kepentingan materi, sehingga film ini digunakan untuk mengkritik ketidakseimbangan sosial dalam masyarakat. Film ini mengingatkan untuk menjalin hubungan dengan seseorang tanpa melihat dari kepentingan-kepentingan materi. DAFTAR PUSTAKA