Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 Implementasi Teaching at the Right Level (TaRL) dalam Pembelajaran AlQur'an pada Generasi Alpha di SMP Islam Assalam Kradenan Grobogan Jawa Tengah Lizza Izzuiana Wardani1. Siti Nurkayati2 & Ahmad Syaifulloh3 Institut Agama Islam Khozinatul Ulum. Blora. Indonesia Telp: 6288225480917 E-mail: lizzaizviana@gmail. Institut Agama Islam Khozinatul Ulum. Blora. Indonesia Tel/Fax: 6281315469996 E-mail: nurhayatimilitary92@gmail. Institut Agama Islam Khozinatul Ulum. Blora. Indonesia Tel/Fax: 6281325771192 E-mail: ahmadsyaifuloh1988@gmail. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-10-01 Revised : 2025-11-11 Accepted : 2025-11-12 KEYWORDS Teaching at the Right Level (TaRL) QurAoanic Literacy Generation Alpha Differentiated Learning KATA KUNCI Teaching at the Right Level Pembelajaran Al-QurAoan Generasi Alpha Diferensiasi Pembelajaran ABSTRAC The low ability and fluency in reading the Qur'an among Generation Alpha has become a pressing challenge for Islamic educational institutions, particularly given the characteristics of this generation as digital natives who are easily disengaged and prefer visual- and audio-based learning. This study aims to explore the implementation of the Teaching at the Right Level (TaRL) approach in QurAoanic learning at SMP Islam Assalam Kradenan. Grobogan, focusing on mapping studentsAo reading abilities, designing differentiated learning strategies, and identifying the challenges, strengths, and limitations of the model. Employing a descriptive qualitative approach, the study collected data through observation, in-depth interviews, and documentation, with Islamic education teachers and students as key participants. Data were analyzed through reduction, presentation, and verification stages, while validity was ensured using source and methodological triangulation. The findings reveal that TaRL effectively categorizes studentsAo QurAoanic reading skills into three levels . asic, intermediate, and advance. and provides adaptive learning strategies tailored to their needs. This approach was found to enhance learning motivation, strengthen QurAoanic reading competence, and foster active student engagement. Nevertheless, challenges such as time constraints, teacher readiness, and resistance to new methods were also identified. The study concludes that TaRL holds significant potential as an innovative approach to QurAoanic education for Generation Alpha, filling a research gap, while contributing both practically and theoretically to the broader development of Islamic education in response to contemporary learning needs. ABSTRAK Rendahnya kemampuan dan kelancaran membaca al-QurAoan di kalangan generasi Alpha menjadi tantangan serius bagi lembaga pendidikan Islam, terutama karena karakteristik generasi ini yang merupakan digital native, mudah bosan, serta lebih menyukai pembelajaran berbasis visual dan audio. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) dalam pembelajaran Al-QurAoan di SMP Islam Assalam Kradenan Grobogan, dengan fokus pada pemetaan kemampuan baca siswa, rancangan strategi pembelajaran diferensiasi, serta identifikasi tantangan, kelebihan, dan 35 | JPI. Vol. No. November 2025 Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, serta melibatkan guru Pendidikan Agama Islam dan siswa sebagai partisipan utama. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan verifikasi, sementara keabsahan diperkuat dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TaRL mampu memetakan kemampuan baca Al-QurAoan siswa menjadi tiga level . asar, menengah, mahi. dengan strategi pembelajaran yang adaptif dan berbasis kebutuhan. Pendekatan ini mendorong peningkatan motivasi belajar, memperkuat kompetensi membaca Al-QurAoan, serta menumbuhkan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Namun, penelitian juga menemukan adanya tantangan berupa keterbatasan waktu, kesiapan guru, serta resistensi terhadap perubahan metode. Penelitian ini menyimpulkan bahwa TaRL memiliki potensi signifikan sebagai inovasi pembelajaran Al-QurAoan bagi generasi Alpha, mengisi kesenjangan penelitian sebelumnya, sekaligus memberikan kontribusi praktis dan teoretis bagi pengembangan pendidikan Islam yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Pendahuluan Pendidikan Al-QurAoan merupakan salah satu fondasi utama dalam pendidikan Islam yang tidak hanya menekankan hafalan, tetapi juga ketepatan bacaan, kefasihan, penghayatan tajwid, dan pemahaman makna ayat-ayat Al-QurAoan. Namun di banyak sekolah Islam dan madrasah di Indonesia, masih terdapat tantangan besar dalam literasi AlQurAoan siswa, khususnya pada aspek bacaan yang benar . ulfillment of Tajwi. , kefasihan . , dan kedalaman pemahaman. Misalnya, penelitian di SMP Muhammadiyah 57 Medan menunjukkan bahwa program literasi Al-QurAoan mampu meningkatkan kualitas bacaan siswa tetapi masih terdapat kekurangan dalam pemahaman makna yang menyeluruh (Sinaga & Setiawan, 2. Selain itu, dalam studi tentang metode pembelajaran Al-QurAoan di Madrasah Ibtidaiyah, kemampuan membaca AlQurAoan siswa masih rendah meskipun telah diterapkan beberapa metode konvensional seperti IqroAo. As-Surasmaniyyah, dan At-Tahsin (Gunawan. Kondisi ini menjadi alarm bahwa metode pembelajaran yang ada belum sepenuhnya efektif dalam menjawab kebutuhan literasi Al-QurAoan yang tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga mengartikulasikan bacaan dengan benar, memahami maknanya, dan menginternalisasikan nilai-nilai AlQurAoan. Generasi Alpha, yang lahir kira-kira sejak tahun 2010 hingga sekarang, dibesarkan dalam lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh teknologi digital, gadget, media sosial, dan akses informasi instan. Mereka dikenal sebagai Audigital nativesAy yang terbiasa dengan stimulasi visual dan audio, multimedia interaktif, dan kecepatan informasi (Alit & Tejawati, 2. Dalam konteks pembelajaran agama seperti Al-QurAoan, karakteristik ini menghadirkan dua sisi: di satu pihak mereka memiliki potensi untuk belajar dengan media digital, tetapi di sisi lain mudah bosan jika metode pembelajaran monoton atau terlalu tradisional. Misalnya metode pembelajaran yang hanya menekankan hafalan tanpa variasi, tanpa penguatan pemahaman makna atau tanpa penggunaan media visual/audio yang kaya, cenderung tidak menarik perhatian anak generasi ini. Penelitian literatur pembelajaran Al-QurAoan menunjukkan bahwa integrasi media teknologi dan pendekatan pembelajaran berbasis bacaan dan keterampilan membaca dapat membantu, namun keberlanjutan dan adaptasi terhadap kemampuan individu siswa sering terabaikan (Gunawan, 2. Pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) menekankan pentingnya memetakan kemampuan . iagnosis kemampuan mereka bukan semata berdasarkan usia atau kelas formal dan memberikan instruksi yang sesuai untuk level tersebut (Putri. Ansi, & Sirait. Pendekatan ini dikenal efektif dalam literasi dasar dan membaca umum di berbagai negara karena dapat mempercepat perkembangan kemampuan membaca bagi siswa yang tertinggal tanpa menghambat siswa yang sudah lebih maju. Meskipun TaRL secara tradisional dikembangkan dan digunakan dalam konteks literasi umum . eading skill. dan pendidikan bahasa(Utami. Desstya, & Prayitno, 2. , ada logika kuat bahwa prinsip-prinsipnya pembelajaran Al-QurAoan, terutama dalam aspek bacaan dan kefasihan. Dengan diagnostik bacaan AlQurAoan dan diferensiasi instruksi, siswa Generasi Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 36 Alpha bisa mendapatkan pembelajaran yang sesuai level mereka, yang dapat mengurangi rasa frustrasi atau kebosanan, mempercepat perbaikan bacaan, dan memperkuat pemahaman serta motivasi spiritual. Dalam praktik pembelajaran Al-QurAoan di Indonesia, sudah ada beberapa model dan metode seperti IqroAo. YanbuAo. Tilawah & Tahfidz, metode berbasis tajwid, dan membaca berbasis media teknologi (Hanafi. Akmansyah, & Amiruddin, 2021. Sinaga & Setiawan, 2. Namun, yang masih minim adalah model yang secara sistem menggabungkan diagnostik level bacaan, instruksi diferensiasi, dan akselerasi belajar sesuai kebutuhan siswa, terutama siswa yang membutuhkan pemulihan . dan peningkatan cepat dalam kefasihan bacaan. TaRL menawarkan kerangka kerja yang dapat diadaptasi untuk konteks ini: memetakan level bacaan masing-masing siswa, memberikan pengajaran yang sesuai tingkatannya, serta mempercepat pembelajaran siswa yang tertinggal (UNESA, 2. Akselerasi bukan berarti terburu-buru, memberikan dorongan tambahan . isalnya pengulangan, tutorial khusus, peer learnin. agar siswa bisa mengejar standar bacaan Al-QurAoan yang Meski literatur pembelajaran Al-QurAoan di Indonesia memuat berbagai metode dan model, tinjauan sistematis terhadap tren metode Al-QurAoan . menemukan bahwa faktor-faktor seperti kompetensi guru, sarana prasarana, durasi konvensional menjadi fokus utama (Rohimah & Ngulwiyah, 2. Namun studi-studi tersebut umumnya belum secara khusus menguji implementasi TaRL dalam konteks Al-QurAoan, apalagi untuk Generasi Alpha, serta belum menyelidiki respons motivasi, keterlibatan, dan perubahan kemampuan baca Al-QurAoan dalam kelompok siswa berdasarkan level diagnosa. Tidak ada penelitian yang saya temukan yang menggabungkan ketiga aspek: diagnostik awal, differensiasi instruksi berdasarkan level bacaan AlQurAoan, dan evaluasi respons generasi Alpha dalam setting SMP Islam tertentu seperti SMP Islam Assalam Kradenan. Oleh karena itu, ada ruang penelitian yang signifikan untuk menyelidiki TaRL diimplementasikan untuk pembelajaran Al-QurAoan di sekolah Islam, dengan perhatian pada karakteristik generasi Alpha lokal. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoretis dan praktis. Secara teoritis, artikel ini akan memperluas literatur pendidikan Islam dengan menghadirkan bukti empiris tentang penggunaan TaRL dalam pembelajaran Al-QurAoan, serta tentang karakteristik respon Generasi Alpha terhadap metode pembelajaran adaptif berdasarkan level Praktisnya, hasil penelitian bisa menjadi panduan bagi guru Al-QurAoan di SMP Islam dan madrasah dalam menyusun diagnostik bacaan, diferensiasi instruksi, dan akselerasi belajar agar pembelajaran lebih efektif dan bermakna. Selain itu, bagi institusi sekolah dan kebijakan pendidikan Islam di Jawa Tengah dan Indonesia, penelitian ini dapat merekomendasikan implementasi model TaRL dalam kurikulum Al-QurAoan, pelatihan guru, penyediaan media dan sumber daya, serta strategi pembelajaran yang mampu meningkatkan literasi Al-QurAoan pada generasi digital. Berdasarkan problematika tersebut, penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut: pertama, mendeskripsikan proses diagnostik awal dan pemetaan level bacaan Al-QurAoan siswa Generasi Alpha di SMP Islam Assalam Kradenan. Jawa Tengah. kedua, mengeksplorasi bagaimana guru merancang dan melaksanakan pembelajaran AlQurAoan dengan pendekatan TaRL yang sesuai dengan level baca siswa. ketiga, mengidentifikasi tantangan dan kelebihan dalam penerapan TaRL dalam konteks sekolah Islam, termasuk faktor internal . uru, sumber daya, lingkungan belaja. dan eksternal . ukungan institusional, budaya loka. Tinjauan Literatur Konsep Dasar Teaching at the Right Level (TaRL) Pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) dipahami sebagai strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada kemampuan nyata siswa, bukan pada usia atau jenjang kelas formal. Prinsip utamanya mencakup identifikasi keterampilan dasar membaca dan berhitung, pengelompokan siswa sesuai tingkat kemampuan, serta pemberian aktivitas yang relevan agar mereka yang tertinggal dapat mengejar keterampilan dasar sementara siswa yang lebih cepat tetap memperoleh tantangan(Pratham. TaRL juga dimaknai sebagai metode untuk membantu peserta didik menguasai literasi awal baik membaca maupun menulis dengan pengajaran yang disesuaikan dengan level mereka, bukan melalui sistem pembagian kelas konvensional(Erviana & Istiqomah, 2025. Muammar. Ruqoiyyah, & Ningsih. Dalam praktiknya, pendekatan ini dipandang sebagai intervensi efektif untuk mendukung anakanak yang tertinggal, karena melalui evaluasi rutin dan pengelompokan berbasis kemampuan, mereka Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 37 | JPI. Vol. No. November 2025 dapat mengejar keterampilan fundamental seperti membaca dan aritmetika dalam waktu relatif singkat(UNESCO, 2. TaRL tidak hanya metode pedagogis, tetapi berdasar pada filosofi pendidikan inklusif dan pembelajaran diferensiasi. Filosofi utama TaRL adalah bahwa setiap siswa bisa belajar jika diberikan materi yang sesuai dengan kemampuan mereka, bahwa pendidikan tidak boleh membuat siswa AutertinggalAy karena asumsi bahwa semua siswa di kelas sama kemampuannya, dan bahwa kemampuan membaca dasar / literasi adalah pondasi bagi seluruh pembelajaran selanjutnya. Pratham menempatkan TaRL sebagai respons terhadap observasi bahwa meskipun hampir semua anak sekolah (AoenrolledA. , banyak dari mereka gagal menguasai literasi dasar atau aritmetika dasar dalam tahun-tahun awal sekolah (Pratham, 2. Filosofi ini juga berkaitan dengan keberlanjutan pembelajaran . dan keadilan pendidikan: memberi peluang sama bagi siswa dari latar belakang sosial-ekonomi yang berbeda agar tidak ada yang tertinggal karena kondisi awal yang kurang menguntungkan (Sukmanasa & Umam, 2. Berikut langkah-langkah atau elemen pelaksanaan TaRL menurut literatur yang bisa Anda pakai sebagai kerangka teori: Diagnosa Awal Kemampuan Menggunakan alat asesmen sederhana . eading / arithmetic tool. untuk mengetahui level kemampuan membaca / berhitung siswa. Pengelompokan Berdasarkan Level Kemampuan Setelah diagnosa, siswa dikelompokkan berdasarkan level kemampuan mereka, bukan berdasarkan kelas/umur formal, agar instruksi bisa sesuai dan efektif. Instruksi yang Disesuaikan Materi, metode, media dibedakan: untuk level rendah fokus pada dasar bacaan / huruf / aritmetika dasar. level menengah dan tinggi diberi tantangan lebih lanjut, pengulangan, aktivitas interaktif, peer learning. Akselerasi dan Remedial Siswa yang tertinggal mendapatkan intervensi khusus supaya dapat mengejar . atch-u. sementara siswa yang sudah maju bisa diberikan aktivitas tambahan agar tetap berkembang. Evaluasi dan Penyesuaian Berkelanjutan Penilaian rutin / periodik untuk melihat perkembangan, kemudian regrouping jika siswa telah berubah level, refleksi guru terhadap efektivitas instruksi, perbaikan materi dan metode bila diperlukan. Skalabilitas. Dukungan Institusional, dan Ketersediaan Sumber Daya Agar TaRL berhasil bercakupan luas, dibutuhkan dukungan institusional . ekolah/pemerinta. , pelatihan guru, bahan ajar dan media yang sesuai, monitoring, dan sumber daya yang memadai. Pendekatan ini memiliki beberapa keunggulan. Pertama. TaRL mampu menjembatani kesenjangan capaian belajar yang sering tidak terdeteksi oleh kurikulum formal. Model ini sangat efektif meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi dasar dalam waktu relatif singkat. Kedua. TaRL relatif fleksibel dan dapat diintegrasikan dengan konteks pembelajaran lokal, termasuk pembelajaran Ketiga, keberhasilan TaRL terbukti dalam berbagai proyek di India dan Afrika, menunjukkan daya adaptif yang kuat di berbagai kondisi sosialekonomi(Mulyani. Masfingatin, & Suparwati, 2024. Pratham, 2. Namun, pendekatan ini juga tidak lepas dari Muralidharan et al. mencatat bahwa implementasi TaRL membutuhkan dukungan kebijakan sekolah dan pelatihan guru yang memadai. Jika guru tidak memahami konsep diferensiasi atau enggan mengubah pola mengajar tradisional. TaRL sulit diterapkan secara konsisten. Selain itu, keterbatasan sumber daya, seperti jumlah guru, sarana pendukung, dan waktu belajar, sering menjadi Ada pula risiko terjadinya labeling effect, yakni siswa merasa AutertinggalAy karena ditempatkan dalam kelompok bawah, jika guru tidak mengelola kelas dengan pendekatan humanis. Secara keseluruhan. TaRL merupakan inovasi pedagogis yang berupaya merombak paradigma pengajaran massal menuju pembelajaran yang lebih Keberadaannya tidak hanya relevan untuk konteks literasi dasar, tetapi juga potensial diterapkan pada pembelajaran Al-QurAoan, di mana kemampuan membaca sangat bervariasi antar peserta didik. Dengan pemetaan level bacaan AlQurAoan. TaRL dapat membantu guru menghindari homogenisasi pembelajaran, serta memastikan setiap anak berkembang sesuai fitrah dan Dengan demikian, konsep ini memiliki signifikansi strategis untuk merespons tantangan generasi Alpha dalam menguasai literasi Al-QurAoan secara efektif. Urgensi Pembelajaran Al-Qur'an untuk generasi Alpha Generasi Alpha, yang kira-kira lahir sejak tahun 2010 hingga pertengahan 2020-an, merupakan generasi yang lahir dalam era digital lengkap, dengan akses internet, perangkat pintar, media sosial. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 38 dan berbagai platform multimedia sejak usia dini. Karakteristik ini memengaruhi cara mereka belajar, berinteraksi, dan memahami dunia. Sebagai digital natives, mereka cenderung terbiasa dengan rangsangan visual dan audio, serta memiliki rentang perhatian yang pendek jika metode pembelajaran tidak variatif atau tidak menarik. Dalam konteks pendidikan agama, terutama Al-QurAoan, hal ini menjadi tantangan tersendiri: bagaimana Al-QurAoan dapat diajarkan dengan cara yang tidak hanya sesuai teks dan bacaan, tetapi juga relevan dengan gaya belajar generasi Alpha agar mereka terlibat secara aktif dan tidak sekadar pasif mendengarkan. Pentingnya pembelajaran Al-QurAoan bagi generasi Alpha tidak hanya terletak pada aspek ritual atau formalitas keagamaan, tetapi juga sangat berpengaruh dalam pembentukan moral, karakter, dan spiritualitas. Munawir . mengungkap bahwa pembelajaran Al-QurAoan menjadi fondasi dalam pembentukan karakter siswa generasi Alpha, terutama dalam nilai-nilai kejujuran, kesabaran, amanah, dan tanggung jawab (Munawir. Damayanti, & Pambayun, 2. Dengan demikian, pendidikan Al-QurAoan tidak boleh dianggap sebagai pelengkap saja, melainkan bagian integral dari pendidikan keislaman yang membentuk identitas Muslim sejak dini agar generasi ini tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus digital. Selain nilai moral dan karakter, literasi AlQurAoan memiliki urgensi dalam meningkatkan kemampuan membaca, memahami teks suci, dan internalisasi makna. Generasi Alpha yang terbiasa media visual/audio mungkin perlu bantuan untuk memperkuat kefasihan baca dan ketepatan bacaan . ajwid, makharij, dan lain-lai. Penelitian tentang Smart Hafiz AuAl QolamAy menunjukkan bahwa penggunaan media digital interaktif membantu anak usia 4-6 tahun dalam menguasai huruf hijaiyyah, meningkatkan kelancaran membaca dan hafalan surat-surat pendek (Taufikin, 2. Jadi, pembelajaran Al-QurAoan relevan tidak hanya untuk hafalan dan rutinitas ibadah, tetapi juga sebagai literasi religius yang memperkuat pemahaman dan kepekaan terhadap teks suci. Generasi Alpha hidup dalam situasi di mana pengaruh budaya populer, media sosial, dan konten digital sangat besar. Ada risiko bahwa tanpa penguatan pendidikan religius yang baik, mereka bisa sangat terpengaruh oleh nilai-nilai sekuler atau konten yang kurang mendidik secara spiritual. Penelitian Aulia & MaAoruf . menunjukkan bahwa karakteristik generasi ini . igital native, cepat visual/interactiv. memengaruhi efektivitas pelaksanaan Pendidikan Agama Islam, sehingga metode tradisional perlu disesuaikan agar tidak menjadi tidak relevan (Aulia & Makrufi, 2. Dengan demikian, pembelajaran Al-QurAoan yang tradisional saja mungkin tidak cukup untuk menjaga keberlanjutan pemahaman agama dan keimanan mereka. Urgensi juga muncul dari kebutuhan untuk menjaga kesinambungan warisan keagamaan dan budaya Islam dalam masyarakat yang semakin terfragmentasi oleh globalisasi dan teknologi. Jika generasi Alpha tidak dibekali kemampuan membaca Al-QurAoan dengan benar, memahami makna, dan menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari, maka risiko pemahaman Islam yang dangkal akan Strategi modern, misalnya penggunaan media digital, gamifikasi, pendekatan multisensor, interaktif, dapat digunakan sebagai sarana jembatan agar pembelajaran Al-QurAoan lebih menarik dan Pendekatan ini selaras dengan temuan bahwa . isual/audio/tactil. dan teknologi memperkuat peran orang tua dan guru dalam proses tahfidz di usia dini, meningkatkan engagement dan retensi hafalan (Faqihuddin. Firmansyah, & Muflih, 2. Di sisi lain, urgensi pembelajaran Al-QurAoan untuk generasi Alpha juga terkait dengan visi jangka panjang pendidikan Islam dan pembangunan karakter bangsa. Sebagai contoh. Indonesia menuju Golden Generation 2045, di mana karakter muslim yang kuat, integritas, moral dan keimanan yang kokoh menjadi salah satu pilar utama. Penelitian Darwati dkk . menegaskan bahwa integrasi pendidikan karakter melalui pesan-pesan Al-QurAoan dalam kurikulum sangat dibutuhkan agar generasi muda memiliki keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan spiritual(Darwati. Abidin, & Sutini. Dengan mempertimbangkan semua aspek di atas karakteristik generasi Alpha, potensi positif dan tantangan digital, kebutuhan moral/etik/spiritual, dan visi pembangunan karakter di tingkat nasional maka pembelajaran Al-QurAoan menjadi sebuah kebutuhan mendesak. Penyesuaian metode, media, dan strategi pengajaran agar sesuai dengan gaya belajar generasi ini penting dilakukan agar tidak hanya membaca Al-QurAoan secara teks, tetapi juga memahami, menghayati, dan mengamalkan pesanpesannya. Artikel ini mengambil urgensi tersebut sebagai landasan untuk mengeksplorasi penerapan metode TaRL dalam pembelajaran Al-QurAoan, sebagai salah satu solusi agar pendidikan Islam di SMP Islam Assalam Kradenan dapat menjawab tantangan dan memenuhi potensi generasi Alpha secara optimal. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 39 | JPI. Vol. No. November 2025 Metode Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Pemilihan paradigma ini didasarkan pada tujuan penelitian yang ingin menggali secara mendalam fenomena implementasi Teaching at the Right Level (TaRL) dalam pembelajaran Al-QurAoan di kalangan generasi Alpha. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti memahami realitas sosial secara utuh, menafsirkan makna di balik praktik pembelajaran, serta menangkap dinamika interaksi guru dan peserta didik(Razali et al. , 2. Dengan demikian, penelitian ini tidak semata-mata berorientasi pada angka, tetapi lebih pada pemahaman mendalam mengenai proses dan konteks pembelajaran. Metode yang digunakan adalah studi lapangan . ield researc. Pemilihan metode ini dilandasi oleh kebutuhan untuk mengamati langsung implementasi TaRL dalam kelas Al-QurAoan, sekaligus pihak-pihak memperoleh data yang kaya. Penelitian lapangan memberi ruang bagi peneliti untuk menggali data alami, sehingga temuan yang dihasilkan lebih valid karena merepresentasikan situasi nyata(Feny Rita Fiantika. Mohammad Wasil. Sri Jumiyati, 2. Dalam konteks ini, fokus penelitian diarahkan pada bagaimana guru merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran Al-QurAoan berbasis diferensiasi level kemampuan baca siswa. Penelitian dilaksanakan di SMP Islam Assalam Kradenan. Kabupaten Grobogan. Jawa Tengah. Lokasi ini dipilih karena lembaga ini sedang mengembangkan model pembelajaran Al-QurAoan yang adaptif terhadap karakteristik generasi Alpha. Subjek penelitian terdiri dari guru mata pelajaran AlQurAoan, siswa kelas VII yang menjadi representasi generasi Alpha, serta kepala sekolah yang berperan dalam kebijakan akademik. Jumlah responden dipilih dengan teknik purposive sampling, yakni berdasarkan kriteria keterlibatan langsung dalam implementasi TaRL. Instrumen utama penelitian adalah peneliti sendiri sebagai human instrument, dengan didukung oleh panduan observasi, pedoman wawancara semi-terstruktur, serta dokumentasi berupa silabus. RPP, catatan kelas, dan hasil evaluasi Observasi dilakukan untuk merekam proses belajar mengajar secara langsung, sementara wawancara bertujuan menggali pengalaman, kendala, dan strategi guru maupun siswa dalam menjalankan TaRL. Dokumentasi digunakan sebagai data sekunder yang memperkuat hasil observasi dan wawancara. Data dianalisis menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman meliputi tiga tahapan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan Reduksi dilakukan dengan menyeleksi informasi penting sesuai fokus penelitian. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif dan matriks kategori. Sementara itu, penarikan kesimpulan dilakukan secara iteratif dengan menghubungkan data empiris dan kerangka teori TaRL, komprehensif mengenai urgensi dan efektivitas penerapan metode ini. Untuk menjamin kredibilitas, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode. Triangulasi membandingkan data dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Triangulasi metode digunakan dengan memadukan pendekatan deskriptif-analitis melalui analisis naratif dan interpretatif(Sugiyono. Selain itu, uji keabsahan juga diperkuat dengan member checking kepada responden untuk memastikan interpretasi peneliti sesuai dengan pengalaman asli mereka. Dependabilitas diuji dengan pencatatan proses penelitian yang sistematis, menyajikan data asli sebagai dasar interpretasi. Hasil Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan guru serta peserta didik, dan telaah dokumentasi kegiatan pembelajaran, diperoleh sejumlah temuan penting terkait implementasi pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) dalam pembelajaran Al-QurAoan di SMP Islam Assalam Kradenan Grobogan. Temuan ini tidak hanya merekam bagaimana guru menerapkan strategi pemetaan kemampuan membaca Al-QurAoan dan diferensiasi pembelajaran sesuai level peserta didik, tetapi juga menyingkap bagaimana generasi Alpha merespons metode tersebut dalam proses Selanjutnya, hasil penelitian ini akan dipaparkan secara sistematis, dimulai dari deskripsi pelaksanaan TaRL di kelas, keterlibatan dan tanggapan siswa terhadap pendekatan tersebut, hingga dampaknya pada peningkatan keterampilan membaca Al-QurAoan serta motivasi belajar mereka. Pada bagian pembahasan, temuan ini akan dianalisis secara lebih mendalam dengan mengaitkannya pada teori pembelajaran diferensiasi, karakteristik generasi Alpha, serta penelitian terdahulu. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman komprehensif mengenai Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 40 kontribusi TaRL dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Al-QurAoan yang adaptif terhadap kebutuhan generasi digital. Pemetaan Level Bacaan Al-QurAoan Siswa di SMP Islam Assalam Kradenan Hasil kemampuan membaca Al-QurAoan siswa generasi Alpha di SMP Islam Assalam Kradenan Grobogan berada pada tingkat yang beragam. Melalui observasi kelas, uji bacaan, serta wawancara dengan guru Al-QurAoan, diperoleh data bahwa sebagian besar siswa belum mencapai standar tartil yang baik sesuai kaidah tajwid. Hal ini ditunjukkan dengan masih adanya kesalahan dalam pelafalan huruf-huruf hijaiyah, kurangnya kelancaran dalam membaca, serta lemahnya penguasaan tanda baca panjang dan Kondisi ini menegaskan bahwa perbedaan kemampuan antar siswa cukup signifikan, sehingga menuntut adanya strategi pembelajaran yang adaptif. Pemetaan kemampuan dilakukan melalui tes diagnostik yang dilaksanakan sebelum pembelajaran berbasis TaRL diterapkan. Dari hasil tersebut, siswa dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok besar. Pertama, kelompok dasar, yakni siswa yang masih mengalami kesulitan dalam mengenali huruf hijaiyah dan tajwid dasar. Kedua, kelompok menengah, yaitu siswa yang mampu membaca AlQurAoan dengan lancar namun masih sering melakukan kesalahan tajwid. Ketiga, kelompok mahir, yaitu siswa yang sudah mampu membaca dengan baik, meskipun masih membutuhkan bimbingan untuk penyempurnaan bacaan. Tabel 1. Pemetaan Level Bacaan Al-QurAoan Level Kemampuan Jumlah Kemampuan Membaca AlSiswa QurAoan Dasar Belum lancar, salah tajwid dasar Menengah Lancar, tetapi salah panjang pendek dan beberapa tajwid Mahir Lancar, relatif baik, butuh perbaikan detail Data di atas memperlihatkan bahwa mayoritas siswa berada pada level dasar dan menengah. Hal ini memperkuat urgensi penerapan TaRL, karena pendekatan ini memungkinkan guru untuk melakukan diferensiasi sesuai level kemampuan masing-masing siswa. Guru tidak lagi terjebak pada model seragam yang cenderung mengabaikan menyesuaikan pembelajaran agar lebih efektif, terukur, dan berdampak pada peningkatan keterampilan membaca Al-QurAoan secara bertahap. Rancangan Pembelajaran Al-QurAoan dengan Pendekatan TaRL Berdasarkan hasil pemetaan awal kemampuan membaca Al-QurAoan siswa, guru di SMP Islam Assalam Kradenan Grobogan kemudian merancang model pembelajaran yang disesuaikan dengan level bacaan masing-masing siswa. Pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) menjadi dasar dalam penyusunan rancangan ini, dengan tujuan agar pembelajaran lebih terarah, diferensiatif, dan mampu menjawab kebutuhan generasi Alpha yang cenderung cepat bosan dengan metode konvensional. Rancangan ini dibagi dalam tiga jalur pembelajaran, yakni kelompok dasar, menengah, dan mahir, dengan strategi, media, serta target capaian yang Untuk membedakan target capaian dari pemetaan level kemampuan bacaan berikut tabulasi Tabel 2. Target Capaian Sesuai Level Kemampuan Membaca Al-QurAoan Level Target Capaian Kemampuan Dasar Siswa lancar mengenali huruf dan membaca bacaan pendek (IqraAo dan surat-surat pende. Menengah Siswa lancar membaca dengan panjang-pendek perbaikan kesalahan tajwid dasar Mahir Siswa mampu membaca tartil sesuai kaidah tajwid dengan percaya diri dan konsisten Untuk kelompok dasar, guru menggunakan metode pengenalan huruf dan bacaan sederhana melalui pendekatan fonetik. Media visual dan audio, seperti kartu huruf hijaiyah interaktif dan aplikasi digital pengenalan tajwid dasar, menjadi instrumen Tujuannya adalah memperkuat penguasaan huruf, melatih kelancaran, dan mengurangi kesalahan mendasar dalam pelafalan. Siswa dalam kelompok ini diarahkan untuk menguasai bacaan pendek . qraAo dan surat-surat pende. sebagai fondasi lanjutan. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 41 | JPI. Vol. No. November 2025 Pada pembelajaran difokuskan pada latihan kelancaran membaca dan pembenahan tajwid. Guru menggunakan strategi pembelajaran kolaboratif, di mana siswa membaca secara bergantian dan mendapat umpan balik langsung. Selain itu, pemanfaatan media audio Al-QurAoan digital membantu siswa menyesuaikan panjang pendek serta makhraj huruf. Capaian utama kelompok ini adalah meningkatkan akurasi bacaan dengan memperbaiki kesalahan umum dalam panjangpendek harakat dan tajwid. Adapun kelompok mahir, pembelajaran diarahkan pada penyempurnaan bacaan dan pendalaman tajwid tingkat lanjut. Strategi yang digunakan adalah peer teaching, di mana siswa mahir diberi kesempatan untuk membimbing teman Guru juga menambahkan evaluasi melalui rekaman audio bacaan siswa, yang kemudian dianalisis bersama untuk menemukan kesalahan Capaian kelompok ini adalah terbentuknya bacaan tartil sesuai standar yang lebih baik serta meningkatnya rasa percaya diri siswa. Secara umum, rancangan TaRL ini tidak hanya membagi siswa berdasarkan level kemampuan, tetapi juga menekankan pada prinsip pembelajaran aktif, partisipatif, dan berbasis teknologi. Bagi generasi Alpha yang memiliki preferensi pada visual-audio, strategi ini terbukti lebih sesuai dibanding metode tradisional yang seragam. Dengan demikian, rancangan ini menjadi inovasi penting dalam memperbaiki kualitas pembelajaran AlQurAoan di sekolah berbasis Islam kontemporer. Tantangan. Kelebihan dan Kekurangan Dalam Penerapan TaRL Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Teaching at the Right Level (TaRL) dalam pembelajaran Al-QurAoan di SMP Islam Assalam Kradenan Grobogan memiliki dinamika yang Di satu sisi, pendekatan ini memberikan kemampuan membaca Al-QurAoan siswa generasi Alpha, namun di sisi lain, implementasinya juga menghadapi sejumlah tantangan yang tidak ringan. Tabel 3. Tabulasi Tantangan. Kelebihan dan Kekurangan Penerapan TARL Aspek Uraian Tantangan . Keterbatasan pembelajaran formal untuk pendampingan intensif. Kelebihan Kekurangan . Kesulitan guru membagi perhatian pada jumlah siswa yang besar. Keterbatasan media digital dan fasilitas pendukung. Motivasi belajar generasi Alpha yang cepat menurun jika metode monoton. Diferensiasi lebih adil dan sesuai level . Siswa merasa diperhatikan sesuai kapasitasnya. Partisipasi belajar meningkat. Metode visual-audio sesuai karakteristik generasi Alpha. Menuntut manajemen kelas yang tinggi dari guru. Potensi munculnya perasaan terlabeli bagi siswa di kelompok dasar. Ketergantungan tinggi pada konsistensi guru dan dukungan sarana prasarana. Tantangan utama yang ditemukan adalah keterbatasan waktu pembelajaran formal yang sering tidak sebanding dengan kebutuhan pendampingan intensif bagi setiap level siswa. Guru menghadapi kesulitan dalam membagi perhatian secara seimbang, terutama ketika jumlah siswa relatif besar. Selain itu, ketersediaan media digital yang mendukung pembelajaran masih terbatas, sehingga inovasi berbasis teknologi belum optimal. Tantangan lain adalah motivasi belajar siswa generasi Alpha yang meskipun terbiasa dengan teknologi, mereka cepat bosan jika metode tidak dikemas secara kreatif dan interaktif. Di sisi kelebihan, penerapan TaRL terbukti mampu memberikan diferensiasi pembelajaran yang lebih adil dan terarah. Guru dapat menyesuaikan metode mengajar dengan level kemampuan, sehingga siswa tidak merasa tertinggal atau terlalu mudah dengan materi. Rancangan ini juga meningkatkan partisipasi aktif siswa, karena mereka merasa diperhatikan sesuai kapasitasnya. Selain itu, penggunaan pendekatan visual-audio sesuai dengan karakteristik generasi Alpha terbukti mampu meningkatkan motivasi serta keterlibatan dalam Namun, terdapat pula kekurangan dalam implementasi TaRL. Pertama, pendekatan ini Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 42 menuntut guru memiliki keterampilan manajemen kelas yang tinggi, agar pembagian kelompok tetap Kedua, karena sistemnya berbasis level, ada potensi munculnya perasaan terlabeli di kalangan siswa, khususnya mereka yang berada pada kelompok dasar. Ketiga, keberhasilan TaRL sangat bergantung pada konsistensi guru dan dukungan sarana prasarana. tanpa itu, efektivitasnya berisiko Secara TaRL pendekatan yang prospektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Al-QurAoan bagi generasi Alpha. Namun, tantangan dan kekurangannya perlu diantisipasi melalui penguatan kapasitas guru, penambahan fasilitas digital, serta strategi pedagogis yang lebih inklusif, sehingga implementasi TaRL benar-benar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Diskusi Pemetaan kemampuan membaca Al-QurAoan yang dilakukan pada siswa SMP Islam Assalam Kradenan Grobogan menunjukkan variasi yang signifikan antara kelompok dasar, menengah, dan mahir. Fakta ini memperkuat asumsi bahwa proses pembelajaran Al-QurAoan tidak dapat diseragamkan, karena setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda. Banerjee et . menegaskan bahwa salah satu kelemahan pembelajaran konvensional adalah asumsi bahwa seluruh siswa memiliki tingkat kemampuan yang sama, padahal kenyataannya perbedaan capaian belajar sangat tajam. Dalam konteks penelitian ini, temuan menunjukkan bahwa tanpa adanya pemetaan awal, pembelajaran Al-QurAoan berpotensi gagal mencapai tujuan, karena sebagian siswa akan tertinggal sementara yang lain merasa tidak Hal ini sesuai dengan kerangka learnercentered education yang menekankan pentingnya menyesuaikan materi dan metode dengan kemampuan peserta didik. Lebih jauh, hasil penelitian juga mengungkap bahwa generasi Alpha memiliki karakteristik yang unik dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka dikenal sebagai digital natives yang tumbuh dengan gawai, internet, dan akses cepat terhadap informasi (Prensky, 2. Hal ini berdampak pada cara mereka belajar: cepat, interaktif, dan lebih menyukai bentuk visual maupun audio. Oleh karena itu, pemetaan kemampuan membaca Al-QurAoan tidak hanya berfungsi untuk mengklasifikasikan siswa berdasarkan bacaan, tetapi juga sebagai dasar dalam merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar mereka. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa pemetaan bukan sekadar alat diagnostik, tetapi fondasi pedagogis yang menentukan keberhasilan pembelajaran berbasis diferensiasi. Implementasi Teaching at the Right Level (TaRL) menjadi inovasi penting dalam pembelajaran Al-QurAoan karena memungkinkan guru menyusun rancangan yang responsif terhadap variasi kemampuan siswa. Dalam penelitian ini, rancangan pembelajaran dibagi menjadi tiga level: dasar, menengah, dan mahir, dengan strategi, media, serta target capaian yang berbeda. Prinsip ini sesuai dengan gagasan Tomlinson . mengenai diferensiasi pembelajaran yang menekankan penyesuaian konten, proses, dan produk sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Dalam konteks Al-QurAoan, pembelajaran yang berbeda untuk tiap level memberi ruang bagi siswa untuk berkembang sesuai potensinya, tanpa merasa terbebani materi yang terlalu sulit atau sebaliknya, merasa bosan karena materi terlalu mudah. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan temuan Banerjee & Duflo . di India, yang membuktikan efektivitas TaRL dalam meningkatkan keterampilan membaca dan berhitung. Namun, kontribusi penelitian ini terletak pada perluasan implementasi TaRL dalam pendidikan Islam, khususnya pada pembelajaran Al-QurAoan. Inovasi ini tidak hanya berfungsi secara kognitif, tetapi juga membentuk aspek afektif siswa, yaitu motivasi, kesabaran, dan keterlibatan aktif dalam belajar. Rancangan TaRL yang mengintegrasikan media digital dan strategi kolaboratif terbukti selaras dengan karakteristik generasi Alpha yang lebih responsif terhadap metode visual-audio. Hal ini menunjukkan bahwa TaRL dapat dijadikan paradigma baru dalam mendesain pembelajaran AlQurAoan yang relevan dengan era digital. Penerapan TaRL dalam pembelajaran Al-QurAoan tidak terlepas dari tantangan yang signifikan. Penelitian ini menemukan bahwa keterbatasan waktu pembelajaran formal menjadi hambatan utama, karena pendekatan TaRL menuntut pendampingan Guru juga menghadapi kesulitan dalam membagi perhatian antara siswa pada level dasar, menengah, dan mahir, terutama dalam kelas besar. Temuan ini konsisten dengan penelitian Piper et al. yang menunjukkan bahwa keberhasilan TaRL sangat bergantung pada konsistensi dan kapasitas guru. Selain itu, keterbatasan sarana digital turut memperlambat inovasi, sementara generasi Alpha justru terbiasa dengan teknologi modern. Tantangan ini menegaskan perlunya dukungan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 43 | JPI. Vol. No. November 2025 kelembagaan dalam penyediaan fasilitas, pelatihan guru, dan kebijakan pendidikan yang mendukung pembelajaran diferensiatif. Meski demikian, penelitian ini juga menyoroti berbagai kelebihan penerapan TaRL. Diferensiasi pembelajaran memungkinkan setiap siswa belajar sesuai level kemampuannya, sehingga proses belajar menjadi lebih adil, efektif, dan terukur. Hal ini meningkatkan motivasi belajar siswa karena mereka merasa diperhatikan secara personal. Kelebihan lain adalah peningkatan keterlibatan aktif siswa, khususnya melalui strategi peer teaching yang memberi ruang bagi siswa mahir membimbing Namun, mengidentifikasi beberapa kekurangan, seperti potensi labeling yang dapat melemahkan motivasi siswa kelompok dasar. Teori motivasi Deci & Ryan . menegaskan bahwa persepsi negatif dapat menurunkan motivasi intrinsik, sehingga guru perlu merancang strategi inklusif untuk menghindari dampak psikologis tersebut. Dengan demikian, penerapan TaRL memerlukan keseimbangan antara diferensiasi pedagogis dan pendekatan humanistik agar efektif secara akademis maupun emosional. Kontribusi penelitian ini dapat dilihat dari dua dimensi, yakni teoretis dan praktis. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya literatur pendidikan Islam dengan mengintegrasikan konsep TaRL yang awalnya berkembang dalam pendidikan umum ke Al-QurAoan. Hal (Tomlinson, 2. dan teori motivasi (Deci & Ryan, 2. dapat diaplikasikan secara produktif dalam konteks pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya paradigma baru dalam pendidikan agama yang adaptif terhadap generasi Alpha, sehingga relevansinya tidak hanya terbatas pada aspek spiritual, tetapi juga mencakup aspek pedagogis modern. Dari sisi praktis, penelitian ini memberikan model rancangan pembelajaran Al-QurAoan yang dapat dijadikan acuan oleh sekolah Islam lainnya. Dengan adanya pemetaan kemampuan, guru dapat menyusun strategi pengajaran yang lebih tepat Selain itu, integrasi media digital dalam pembelajaran Al-QurAoan menjadi inovasi penting yang mampu menarik minat generasi Alpha. Penelitian ini juga memberi rekomendasi untuk peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan intensif serta penyediaan fasilitas digital yang Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menjawab persoalan rendahnya literasi AlQurAoan, tetapi juga menawarkan solusi aplikatif yang dapat memperbaiki kualitas pendidikan Islam di era Kesimpulan Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan Teaching at the Right Level (TaRL) dalam pembelajaran Al-QurAoan bagi generasi Alpha di SMP Islam Assalam Kradenan Grobogan terbukti relevan dan efektif dalam menjawab problem rendahnya literasi Al-QurAoan di kalangan peserta Melalui proses pemetaan kemampuan baca, perancangan strategi diferensiasi, serta penggunaan media yang adaptif, pembelajaran mampu menempatkan siswa pada level yang sesuai dengan Temuan ini tidak hanya mengisi kesenjangan penelitian sebelumnya yang masih jarang menyoroti integrasi model TaRL dalam pembelajaran Al-QurAoan, tetapi juga menghadirkan kebaruan berupa adaptasi pendekatan yang awalnya banyak diterapkan pada literasi bahasa dan numerasi, kini dimodifikasi untuk memperkuat literasi keagamaan berbasis Al-QurAoan. Dengan demikian, penelitian ini memberi kontribusi signifikan pada literatur pendidikan Islam, khususnya dalam pengembangan strategi pembelajaran kontekstual bagi generasi digital native yang cenderung memiliki preferensi belajar visual, interaktif, dan berbasis Penelitian ini memiliki implikasi yang luas terhadap praktik pendidikan Islam kontemporer. Pertama, bagi pendidik, model TaRL dapat dijadikan acuan dalam merancang kurikulum diferensiasi yang lebih inklusif, sehingga setiap peserta didik Kedua, bagi institusi pendidikan, pendekatan ini membuka peluang penerapan strategi serupa pada mata pelajaran keagamaan lainnya, terutama yang menuntut capaian kompetensi praktis dan bertahap. Ketiga, bagi pengembangan ilmu, penelitian ini menambah khazanah literatur tentang inovasi pedagogi Islam yang berorientasi pada efektivitas, relevansi, dan akuntabilitas. Implikasi ini juga menegaskan bahwa inovasi pembelajaran berbasis riset mampu menjadi jembatan antara kebutuhan generasi Alpha dengan tujuan luhur pendidikan Al-QurAoan, yakni membentuk generasi yang cerdas spiritual, kuat moral, sekaligus adaptif menghadapi tantangan zaman. Persembahan Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan profesional maupun finansial dalam penyelesaian penelitian ini. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 44 Penelitian ini didukung sebagian oleh Institut Agama Islam (IAI) Khozinatul Ulum Blora yang telah memberikan fasilitas akademik dan dukungan kelembagaan, sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Kami juga menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan, masukan kritis, dan bimbingan akademik sepanjang proses penelitian. Tidak lupa, terima kasih kepada kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, serta para siswa di MI Assalam Kradenan yang telah meluangkan waktu, berbagi pengalaman, dan memberikan wawasan berharga sehingga penelitian ini memperoleh data dan temuan yang signifikan. Dukungan, kolaborasi, dan kontribusi dari semua pihak sangat berperan penting dalam keberhasilan penelitian ini. Referensi