A AL-MUSTAQBAL: Jurnal Agama Islam Volume. Nomor. 4 November 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 107-131 DOI: https://doi. org/10. 59841/al-mustaqbal. Tersedia: https://ibnusinapublisher. org/index. php/AL-MUSTAQBAL Pendekatan Pedagogis Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis dan Pengaruhnya terhadap Kesadaran Ibadah Santri Madrasah Diniyah Darut Tauhid Riskatul Isnaini1*. Ainur Rofiq Sofa2 Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Zainul Hasan Genggong Probolinggo. Indonesia Email: bungaaklirik@gmail. com1*, riskatulisnaini845@gmail. *Penulis Korespondensi: bungaaklirik@gmail. Abstract. This study discusses the pedagogical approach in learning the Book of Safinatun Najah Bab Najis and its impact on the worship awareness of 5th grade students at Madrasah Diniyah. Darut Tauhid Islamic Boarding School. Tanjungsari Krejengan. Probolinggo. The purpose of this study is to find out how the learning strategies applied by teachers affect students' understanding of the concept of najis and its application in daily worship The research method used is qualitative descriptive with data collection techniques through observation of the learning process in the classroom, in-depth interviews with teachers and students, and documentation of taharah practices carried out by students. The results of the study show that the combination of bandongan, sorogan, and practical exercises methods is directly able to improve the conceptual understanding and practical skills of students in recognizing the types of unclean and how to purify them. In addition, this method also strengthens the consistency of students in performing ablution and preparing themselves to perform prayers The implications of this study confirm that the balanced integration of theoretical and practical learning is effective in fostering religious discipline, improving cognitive understanding, and forming habits of maintaining personal hygiene, so that students' awareness of worship develops sustainably. Keywords: Bab Najis. Fiqh Learning. Pedagogical Approach. Pondok Pesantren. Worship Awareness. Abstrak. Penelitian ini membahas pendekatan pedagogis dalam pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis serta dampaknya terhadap kesadaran ibadah santri kelas 5 di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darut Tauhid Tanjungsari Krejengan Probolinggo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru memengaruhi pemahaman santri mengenai konsep najis dan penerapannya dalam praktik ibadah sehari-hari. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi proses pembelajaran di kelas, wawancara mendalam dengan guru dan santri, serta dokumentasi praktik thaharah yang dilakukan santri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi metode bandongan, sorogan, dan latihan praktik secara langsung mampu meningkatkan pemahaman konseptual dan keterampilan praktis santri dalam mengenali jenis-jenis najis dan cara mensucikannya. Selain itu, metode tersebut juga memperkuat konsistensi santri dalam berwudhu dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan shalat dengan benar. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa integrasi pembelajaran teori dan praktik secara seimbang efektif dalam menumbuhkan disiplin keagamaan, meningkatkan pemahaman kognitif, serta membentuk kebiasaan menjaga kebersihan pribadi, sehingga kesadaran ibadah santri berkembang secara Kata kunci: Bab Najis. Kesadaran Ibadah. Pembelajaran Fiqh. Pendekatan Pedagogis. Pondok Pesantren. LATAR BELAKANG Pembelajaran fiqih di lingkungan pesantren memiliki posisi yang sangat fundamental dalam membentuk karakter keagamaan santri (Hakiki & Sofa, n. Salah satu kitab fiqih dasar yang banyak diajarkan di pesantren tradisional adalah Safinatun Najah, sebuah kitab ringkas yang berisi hukum-hukum ibadah, termasuk pembahasan mengenai thaharah . dan najis (Sita & Sofa, 2. Materi najis merupakan bagian penting dalam kitab ini karena berkaitan langsung dengan syarat sahnya ibadah, khususnya shalat (Yunus et al. , 2. Dengan demikian, pemahaman yang benar mengenai jenis najis, cara penyucian, serta Naskah Masuk: 17 September 2025. Revisi: 21 Oktober 2025. Diterima: 28 November 2025. Terbit: 30 November 2025 Pendekatan Pedagogis Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis dan Pengaruhnya terhadap Kesadaran Ibadah Santri Madrasah Diniyah Darut Tauhid penerapannya dalam kehidupan sehari-hari menjadi hal yang sangat menentukan kualitas ibadah seorang muslim (Sholeha & Sofa, 2. Di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darut Tauhid Tanjungsari Krejengan Probolinggo, pembelajaran Kitab Safinatun Najah khususnya Bab Najis diberikan kepada santri kelas 5 dengan tujuan membekali mereka pemahaman fiqih yang aplikatif (Sofa. Sukandarman, et al. , 2. Namun, dalam praktiknya, proses pembelajaran fiqih tidak hanya membutuhkan kegiatan membaca dan menghafal, tetapi juga memerlukan metode pedagogis menghubungkan antara teori dan praktik (Ulya & Sofa, 2. Guru di madrasah ini tidak sekadar mentransfer ilmu melalui metode ceramah, tetapi mengembangkan pendekatan pedagogis yang melibatkan dialog interaktif, contoh konkret dari realitas harian, studi kasus, serta penguatan pemahaman melalui hafalan matan dan penerapan langsung dalam tindakan ibadah (Muzdalifah & Sofa, 2. Pendekatan ini memungkinkan santri tidak hanya mengetahui hukum najis secara tekstual, tetapi juga memahami penerapannya pada situasi nyata, seperti cara menghadapi kondisi pakaian yang terkena najis, status kebersihan tempat shalat, dan prosedur penyucian najis sesuai kategori fiqih (Wijaya & Sofa, 2. Selain itu, pembelajaran ini tidak berlangsung dalam ruang kelas yang formal semata, tetapi melebur dalam kehidupan berasrama santri di lingkungan pesantren (Sofa. Harifah, et , 2. Suasana religius, pengawasan guru yang melekat, dan budaya keilmuan yang kuat menjadi faktor pendukung yang memperkuat internalisasi nilai-nilai hukum syariat (Fuadah & Sofa, 2. Santri kemudian menunjukkan perubahan sikap yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti meningkatnya kehati-hatian dalam menjaga kesucian diri, lebih selektif dalam memilih lokasi shalat, serta kebiasaan saling mengingatkan teman terkait kebersihan dan status najis (Sofa & Munawaroh, 2. Meski demikian, proses pembelajaran juga menghadapi beberapa tantangan. Variasi kemampuan intelektual santri membuat tingkat pemahaman tidak merata (Sakinah & Sofa. Ada santri yang cepat memahami materi, sementara yang lain membutuhkan penjelasan berulang (Bulqiyah & Sofa, 2. Selain itu, keterbatasan media pembelajaran modern, seperti visualisasi grafik dan sarana edukasi digital, membuat guru lebih mengandalkan metode lisantradisional yang membutuhkan daya abstraksi tinggi dari santri (Isabillah & Sofa, 2. Berdasarkan fenomena tersebut, penting untuk mengkaji bagaimana pendekatan pedagogis yang dilakukan guru dalam pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis, bagaimana tingkat pemahaman santri setelah mengikuti pembelajaran tersebut, serta AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 107-131 bagaimana dampaknya terhadap praktik ibadah dan kesadaran fiqih mereka dalam kehidupan sehari-hari (Fitria & Sofa, 2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan metodologi pembelajaran fiqih di pesantren serta kontribusi praktis dalam meningkatkan kualitas ibadah santri melalui pemahaman yang benar mengenai hukum kesucian dalam Islam (Sofa & Erviana, 2. KAJIAN TEORITIS Kajian teoritis ini membahas landasan konseptual yang menjelaskan bagaimana proses pembelajaran kitab Safinatun Najah terutama bab najis dapat berpengaruh terhadap pembentukan kesadaran ibadah santri (Nafila & Sofa, 2. Secara konseptual, pembelajaran kitab kuning yang dipraktikkan di pesantren memiliki karakter pedagogis yang khas dan berbeda dari sistem pendidikan formal modern (Mardiyah & Sofa, 2. Tradisi pendidikan pesantren memadukan transmisi ilmu keagamaan, pembiasaan ritual, dan keteladanan moral yang ditampilkan oleh para ustadz dan kyai, sehingga transfer ilmu tidak hanya bersifat kognitif, tetapi menyentuh aspek emosional dan praksis ibadah (Salsabela & Sofa, 2. Dalam perspektif konstruktivisme, santri bukan objek pasif dalam menerima pengetahuan, tetapi mereka membangun pemahaman melalui pengalaman, interaksi, dan refleksi (Sofa. Muarrifah, et al. , 2. Ketika ustadz menjelaskan teori jenis najis, menunjukkan contoh aplikatif, kemudian santri mempraktikkannya, proses tersebut membentuk struktur pemahaman yang hidup dan terinternalisasi dalam perilaku keseharian (Zummah & Sofa, 2. Pengetahuan agama tidak berhenti pada level mengetahui, tetapi berkembang menjadi kebiasaan beribadah yang benar. Pendekatan pembelajaran pesantren juga dapat dijelaskan melalui teori experiential learning dari Kolb, yang menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam pembelajaran. Proses memahami bab najis tidak hanya berbentuk ceramah, tetapi berupa siklus pengalaman: santri mendengar, menyimak, mengamati, melakukan, dan mengevaluasi diri (Astutik & Sofa. Ketika seorang santri salah dalam cara istinjaAo atau membersihkan najis, ustadz membimbing dengan koreksi, dan santri memperbaiki tindakannya. Melalui siklus ini, pembelajaran menjadi bersifat praksis dan reflektif (Efendy & Sofa, 2. Sisi lain dari pembelajaran di pesantren berkaitan dengan pendidikan karakter. Lickona menegaskan bahwa pendidikan harus mencakup aspek pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral (Rosida & Sofa, 2. Pembelajaran bab najis menanamkan pengetahuan fiqh tentang kesucian tubuh, membentuk sensitivitas spiritual terhadap kebersihan ibadah, dan pada akhirnya mendorong tindakan nyata berupa pemeliharaan kesucian diri dalam shalat dan Pendekatan Pedagogis Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis dan Pengaruhnya terhadap Kesadaran Ibadah Santri Madrasah Diniyah Darut Tauhid aktivitas ibadah lainnya. Dengan demikan, ibadah bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan cerminan pemahaman moral dan spiritual yang matang (L. Hasanah & Sofa, 2. Pendekatan pedagogis pesantren juga sangat mengandalkan konsep uswah hasanah, yaitu keteladanan dari kyai dan ustadz. Santri belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari bagaimana guru menjalankan ajaran. Jika ustadz selalu memperhatikan kesucian tempat shalat, memastikan wudhunya sempurna, dan menjaga kebersihan diri, santri akan menirunya secara alamiah melalui pembelajaran observasional. Model pengajaran melalui teladan ini memiliki dampak yang sering kali lebih kuat daripada instruksi verbal (Sofa & Febrianti, 2. Selain itu, teori behavioristik memberikan kerangka pemahaman tentang pembentukan kebiasaan ibadah melalui pengulangan tindakan dan penguatan positif. Ketika santri terbiasa membersihkan najis dengan benar dan mendapatkan penguatan berupa pujian, koreksi yang membangun, atau pengakuan sebagai teladan bagi teman lainnya, maka perilaku tersebut berkembang menjadi kebiasaan otomatis. Akhirnya, santri tidak lagi harus berpikir panjang dalam menjaga kesucian ibadah. tindakan tersebut telah menjadi bagian dari kepribadian religiusnya (Asror & Sofa, 2. Semua teori tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pedagogis pesantren bekerja secara integratif: santri memahami hukum fikih secara rasional, meresapinya secara emosional, dan mempraktikkannya secara konsisten dalam tindakan ritual (Sofa, 2. Dengan demikian, pembelajaran bab najis dalam kitab Safinatun Najah berkontribusi signifikan pada pembentukan kesadaran ibadah, yaitu kesadaran untuk menjaga kesucian lahir dan batin sebagai syarat sah ibadah yang diterima oleh Allah SWT. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darut Tauhid yang terletak di Desa Tanjungsari. Kecamatan Krejengan. Kabupaten Probolinggo. Lingkungan pesantren ini merupakan ruang pendidikan religius yang sangat kondusif, di mana proses belajar tidak hanya berlangsung dalam bentuk transfer ilmu, tetapi juga internalisasi karakter dan spiritualitas (Maulidya & Sofa, 2. Subjek utama dalam penelitian ini meliputi beberapa elemen kunci pendidikan pesantren. Pertama. Pengasuh Pesantren. KH. Muhammad Taufiqurrahman LC, sebagai figur sentral yang menentukan arah kebijakan dan kultur keilmuan dalam pesantren (U. Hasanah & Sofa, 2. Kedua. Kepala Madrasah. Ustadz Abdullah. Pd. I, berperan sebagai penggerak administratif dan konseptual dalam kurikulum dan manajemen pembelajaran di Madrasah Diniyah. Ketiga. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 107-131 Guru pengampu mata pelajaran fikih dan pembelajaran kitab Safinatun Najah, yaitu Ustadzah Mayla Dwi Agustin. Pd. I, merupakan aktor pedagogis langsung yang berinteraksi dalam proses pembelajaran kitab di kelas (Ramadhani & Sofa, 2. Selanjutnya, penelitian ini juga melibatkan santri kelas 5 Madrasah Diniyah sebagai informan pembelajaran. Dua santri, yaitu Zida Kamalia dan Khoirun Nisak, dipilih secara purposif sebagai representasi santri yang mengalami langsung proses pembelajaran Bab Najis dan praktik keagamaannya dalam kehidupan sehari-hari (Sofa. Anam, et al. , 2. Melalui keterlibatan berbagai informan ini, penelitian mampu menangkap perpektif triangulatif antara kebijakan, metode pengajaran, dan pengalaman belajar (Sofa. Firdausiyah, et al. , 2. Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik berbasis kualitatif untuk memperoleh gambaran menyeluruh terkait implementasi pembelajaran Bab Najis dalam kitab Safinatun Najah (Slama & Sofa, 2. Teknik pertama adalah observasi, yakni peneliti hadir secara langsung dalam kegiatan pembelajaran di kelas untuk mengamati dinamika interaksi antara guru dan santri, metode penyampaian materi, serta respon afektif santri terhadap pelajaran yang diberikan. Observasi ini juga mencakup pengamatan terhadap perilaku ibadah santri, baik di kelas maupun di area kegiatan ibadah pondok (Lathifah & Shofa, 2. Teknik kedua adalah wawancara mendalam. Wawancara dilakukan terhadap guru pengampu, kepala madrasah, pengasuh pesantren, dan siswa kelas 5. Melalui teknik ini, peneliti mengumpulkan narasi personal, persepsi, interpretasi pengalaman belajar, serta pemahaman konseptual setiap informan mengenai materi najis dan kesadaran ibadah. Teknik ketiga adalah dokumentasi, yaitu pengumpulan data berupa catatan pembelajaran kitab kuning, foto kegiatan pembelajaran, lembar catatan santri, buku pegangan guru, arsip kurikulum diniyah, dan dokumen internal pesantren lainnya. Dokumentasi ini memberikan dukungan data visual dan administratif yang memperkuat interpretasi penelitian. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan model analisis Miles. Huberman, dan Saldana yang mencakup tiga langkah utama (Sudaryanto & Sofa, 2. Pertama, reduksi data, yaitu proses penyaringan dan pemilahan data dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mendapatkan data yang relevan dengan fokus penelitian. Kedua, penyajian data yang dilakukan dalam bentuk deskripsi naratif komprehensif, sehingga temuan penelitian dapat dilihat dalam konteks keterhubungan antara metode pembelajaran, pemahaman fikih santri, dan pengaruhnya terhadap perilaku ibadah mereka (Amelia & Sofa, 2. Ketiga, penarikan kesimpulan dilakukan melalui proses interpretatif yang berlandaskan hubungan empiris antara teori pendidikan Islam, praktik pedagogis pesantren, dan pengalaman keagamaan santri (Ilahi et al. , 2. Pendekatan Pedagogis Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis dan Pengaruhnya terhadap Kesadaran Ibadah Santri Madrasah Diniyah Darut Tauhid Keabsahan data dijaga dengan metode triangulasi sumber dan teknik, yaitu membandingkan temuan melalui wawancara, data hasil observasi langsung, dan bukti Dengan demikian, seluruh informasi yang diperoleh tidak hanya sahih secara empiris, tetapi juga kokoh secara metodologis (Yunus & Sofa, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini menyajikan hasil penelitian mengenai penerapan pendekatan pedagogis dalam pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis serta dampaknya terhadap kesadaran ibadah santri kelas 5 Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darut Tauhid Tanjungsari Krejengan Probolinggo. Analisis dilakukan dengan membandingkan temuan lapangan dan teori pedagogis pesantren, teori pembelajaran Islam, serta teori kesadaran ibadah. Pendekatan Pedagogis yang Digunakan dalam Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis Berdasarkan hasil temuan lapangan, pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darut Tauhid menerapkan pendekatan pedagogis khas pesantren yang mengintegrasikan lima metode utama: bandongan, sorogan, hafalan matan, drill praktik ibadah, serta keteladanan . Dalam pelaksanaannya, metode ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dan membentuk suatu model pembelajaran yang koheren antara teori dan praktik. Proses pembelajaran dimulai dari bandongan, di mana guru membaca teks kitab, menjelaskan makna, serta memberikan tafsir fikih yang relevan dengan kehidupan sehari-hari Selanjutnya, metode sorogan mengharuskan santri membaca ulang teks di hadapan guru, yang kemudian memberikan koreksi dan pemantapan pemahaman. Hafalan matan membantu internalisasi konsep-konsep fikih secara terminologis, sedangkan drill ibadah menjadi fase transformatif, karena di sinilah pengetahuan berubah menjadi kebiasaan. Dalam wawancara. Ustadzah Mayla selaku pengajar menjelaskan: AuSaat mengajarkan bab najis, saya tidak hanya membaca matannya. Saya ajak santri melihat contohnya, seperti bagaimana membersihkan najis mutawassithah pada baju, bagaimana cara istinja yang benar. Jadi mereka bukan cuma mengerti teori, tapi juga bisa melakukannya. Ay Pernyataan ini memperlihatkan bahwa pembelajaran tidak berhenti pada ranah kognitif, melainkan menyentuh dimensi psikomotorik melalui praktik konkret. Santri mengalami proses belajar yang tidak hanya mengajarkan Auapa itu najisAy, tetapi bagaimana merespons najis secara AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 107-131 Dengan kata lain, aspek knowing . , doing . , dan being . Dalam perspektif teori experiential learning yang dikemukakan David Kolb, pembelajaran efektif terjadi ketika siswa mengalami pengalaman langsung . oncrete experienc. , merefleksikan pengalaman tersebut, memahami secara konseptual, lalu menerapkannya dalam situasi real. Apa yang dilakukan dalam pengajaran ini selaras dengan model tersebut santri tidak hanya mendengar, tetapi melihat, mencoba, dan mengulang hingga menjadi kebiasaan. Pengasuh pesantren. KH. Muhammad Taufiqurrahman LC, menambahkan dimensi spiritual dan moral dalam proses pendidikan: AuYang penting bagi santri bukan sekadar mengetahui hukum najis, tetapi terbiasa menjaganya dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu itu harus menjiwai perilaku. Ay Kutipan tersebut menunjukkan bahwa dalam pandangan pesantren, tujuan pembelajaran fikih bukanlah sekadar penguasaan materi, tetapi pembentukan karakter religius dan kesadaran Hal ini sejalan dengan konsep pendidikan Islam klasik yang melihat guru bukan hanya sebagai transmiter ilmu, tetapi sebagai figur moral yang menjadi model perilaku. Keteladanan kyai dan ustadz memainkan peran inti sebagai uswah hasanah, di mana santri belajar bukan hanya lewat teks, tetapi melalui melihat cara hidup gurunya. Berdasarkan hasil temuan lapangan, pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darut Tauhid menerapkan pendekatan pedagogis khas pesantren yang mengintegrasikan lima metode utama: bandongan, sorogan, hafalan matan, drill praktik ibadah, serta keteladanan . Dalam pelaksanaannya, metode ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dan membentuk suatu model pembelajaran yang koheren antara teori dan praktik. Metode bandongan, di mana guru membaca teks dan santri menyimak sambil mencatat, memberikan kesempatan bagi santri untuk memahami konten kitab secara holistik. Pendekatan ini sesuai dengan prinsip pembelajaran transmisi pengetahuan dalam pendidikan klasik Islam, di mana guru bertindak sebagai pusat ilmu . arjiAo al-il. , namun tetap memberikan ruang bagi santri untuk mencatat, mempertanyakan, dan merenungkan isi materi. Sementara itu, metode sorogan mendorong interaksi dua arah antara guru dan santri. Santri membaca teks secara individual dan guru mengoreksi bacaan serta pemahaman, sehingga terjadi proses evaluasi langsung yang menguatkan penguasaan materi. Metode ini sejalan dengan teori formative assessment, di mana pengawasan dan umpan balik guru menjadi instrumen penting untuk memperbaiki pemahaman dan keterampilan santri. Pendekatan Pedagogis Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis dan Pengaruhnya terhadap Kesadaran Ibadah Santri Madrasah Diniyah Darut Tauhid Hafalan matan . memperkuat aspek kognitif dan memori jangka panjang santri. Pengulangan teks dan penguasaan matan fiqih tidak hanya menanamkan pengetahuan, tetapi juga membentuk disiplin, konsentrasi, dan kesabaranAikarakter yang sejalan dengan prinsip pendidikan moral Islam. Metode drill praktik ibadah menekankan pengalaman langsung . xperiential learnin. Santri tidak sekadar mengetahui teori najis, tetapi juga mempraktikkan penyucian, wudhu, istinja, dan penanganan najis sesuai kaidah fiqih. Hal ini mengacu pada model pembelajaran experiential learning David Kolb, di mana pembelajaran melalui pengalaman nyata memungkinkan santri untuk belajar melalui refleksi, penerapan, dan internalisasi. Terakhir, keteladanan . dari pengasuh dan guru menjadi faktor kunci dalam internalisasi nilai. Guru tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, tetapi juga contoh nyata perilaku religius. Sebagaimana dikemukakan oleh KH. Muhammad Taufiqurrahman. AuYang penting bagi santri bukan sekadar mengetahui hukum najis, tetapi terbiasa menjaganya dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu itu harus menjiwai perilaku. Ay Pernyataan ini menegaskan teori pendidikan Islam klasik yang menempatkan guru sebagai murabbi, muAoallim, dan qudwah, yaitu pendidik moral sekaligus pengarah spiritual. Dengan integrasi kelima metode tersebut, pembelajaran Bab Najis tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik. Santri tidak sekadar memahami konsep najis, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam praktik ibadah sehari-hari, membentuk kebiasaan bersuci, serta menginternalisasi nilai religius yang melekat dalam kehidupan Pendekatan pedagogis ini membuktikan efektivitas model pembelajaran holistik dalam pendidikan pesantren, yang menekankan keseimbangan antara pengetahuan, praktik, dan pembentukan karakter. Pendekatan pedagogis yang diterapkan dalam pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis memiliki keunggulan dalam membentuk keseimbangan antara teori fikih dengan praktik hidup, antara pengetahuan dan ibadah, antara kesadaran intelektual dan kepekaan spiritual. Pendekatan pedagogis ini secara efektif membangun tradisi keilmuan yang berdampak langsung pada perilaku keseharian santri. Tingkat Pemahaman Santri terhadap Materi Najis Berdasarkan hasil observasi kelas dan wawancara dengan santri, terlihat bahwa tingkat pemahaman terhadap materi najis mengalami perkembangan yang signifikan setelah diterapkannya pendekatan pedagogis berbasis pengalaman . xperiential learnin. dan praktik Sebelum pembelajaran, santri masih sering mengalami kebingungan dalam membedakan jenis najis dan cara penyuciannya. Namun setelah pelaksanaan proses AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 107-131 pembelajaran yang sistematis, santri mampu menunjukkan pemahaman yang mencakup baik aspek konseptual maupun praktikal. Santri tidak hanya dapat menyebutkan kategori najis secara definisional, tetapi telah mampu memetakan perbedaan antara najis mukhaffafah . , najis mutawassithah . , dan najis mughalazah . Lebih jauh lagi, mereka menunjukkan kemampuan dalam menjelaskan prosedur penyucian masing-masing jenis najis sesuai ketentuan fikih. Selain memahami secara verbal, santri juga mampu menerapkannya dalam konteks kehidupan sehari-hari, terutama sebelum pelaksanaan ibadah shalat. Pernyataan santri Zida Kamalia memberikan gambaran konkret tentang peningkatan pemahaman ini: AuDulu saya sering bingung beda antara najis yang harus dicuci satu kali atau tujuh kali. Tapi setelah diajari cara membedakannya, sekarang saya lebih paham, dan kalau najis anjing harus tujuh kali dengan tanah. Ay Ungkapan ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dari pemahaman deklaratif . engetahuan tentang fakt. menuju pemahaman prosedural . engetahuan tentang bagaimana melakukan sesuat. Zida bukan hanya tahu bahwa najis anjing adalah mughalazah, tetapi juga mengetahui prosedur penyuciannya dengan tujuh kali basuhan, salah satunya menggunakan Hal ini menunjukkan bahwa materi telah bergerak dari lingkup teori menuju internalisasi Santri lain. Khoirun Nisak, menambahkan dimensi spiritual dalam pemahaman tersebut: AuSekarang kalau mau shalat, saya lebih teliti melihat apakah pakaian saya bersih dari Karena shalat tidak sah kalau ada najis. Saya jadi lebih hati-hati. Ay Pernyataan Khoirun menunjukkan bahwa pemahaman fikih najis telah masuk ke ranah afektif menyentuh kesadaran spiritual dan kehati-hatian dalam beribadah. Ia tidak hanya mengerti, tetapi juga merasa penting untuk menjaga kesucian sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah dan validitas shalat. Dalam perspektif taksonomi Bloom, domain yang dicapai dalam proses pembelajaran ini mencakup: Kognitif: Santri memahami konsep dan jenis najis. Afektif: Santri mengembangkan sikap kehati-hatian dan kepekaan religius. Psikomotorik: Santri mampu mempraktikkan penyucian najis secara langsung Pembelajaran fikih najis telah berhasil melewati tahap transfer informasi dan mencapai tahap transformasi sikap dan perilaku. Pemahaman santri tidak lagi bersifat mekanistik, tetapi telah menjadi kesadaran ibadah yang terus mengarahkan tindakan mereka dalam kehidupan keseharian di pesantren. Pendekatan Pedagogis Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis dan Pengaruhnya terhadap Kesadaran Ibadah Santri Madrasah Diniyah Darut Tauhid Berdasarkan kajian teori pedagogis dan pendidikan Islam, pemahaman santri terhadap materi najis dapat dianalisis melalui beberapa kerangka konseptual. Pertama, menurut taksonomi Bloom . , pembelajaran yang efektif mencakup tiga domain: kognitif . , afektif . , dan psikomotorik . Dalam konteks pembelajaran fikih, kognitif tercermin dari kemampuan santri membedakan jenis najis dan metode penyucian yang sesuai dengan hukum Islam. Afektif tercermin dari kesadaran dan kepedulian terhadap kebersihan diri sebagai bagian dari ibadah, sedangkan psikomotorik tercermin dari kemampuan praktik penyucian dan wudhu yang benar. Kedua, teori David Kolb . tentang experiential learning menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam proses belajar. Santri tidak hanya menerima informasi secara verbal, tetapi juga mengalami praktik nyata yang memperkuat pemahaman mereka. Dengan penerapan metode pembelajaran yang menggabungkan bandongan, sorogan, hafalan matan, drill ibadah, dan keteladanan guru, proses belajar menjadi lebih holistik. Santri dapat mengkonseptualisasikan teori, merefleksikannya, dan menerapkannya dalam praktik seharihari, sehingga pemahaman menjadi menyeluruh dan integratif. Ketiga, perspektif pedagogi Islam menekankan internalisasi nilai-nilai syariat melalui pembiasaan dan teladan guru. Pemahaman materi najis bukan sekadar penguasaan teks, tetapi juga pembentukan kesadaran spiritual yang mendorong santri menjaga thaharah secara Dengan demikian, teori pedagogis dan pendidikan Islam mendukung pendekatan pembelajaran yang memadukan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik melalui pengalaman nyata dan teladan moral. Peningkatan pemahaman santri terhadap materi najis sesuai dengan teori Bloom dan Kolb menunjukkan bahwa kombinasi antara pembelajaran berbasis pengalaman, praktik langsung, dan internalisasi nilai keagamaan mampu membentuk kompetensi yang holistik, mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Hal ini menegaskan relevansi pendekatan pedagogis pesantren dalam pendidikan fikih, khususnya untuk Bab Najis. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pembelajaran Dalam pelaksanaan pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis, terdapat sejumlah faktor internal pesantren maupun faktor eksternal yang memengaruhi keberhasilan Faktor pendukung memberikan atmosfir positif bagi pembentukan pemahaman santri, sementara faktor penghambat menunjukkan adanya kebutuhan strategi pedagogis yang AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 107-131 Salah satu faktor yang paling dominan adalah ketersediaan kitab Safinatun Najah sebagai sumber kajian utama. Kitab ini menjadi teks klasik . yang mudah dipahami, ringkas namun substansial, sehingga dapat dijadikan dasar untuk memahami sistematika thaharah dalam fiqih SyafiAoi. Selain itu, kedekatan emosional antara guru dan santri membentuk relasi pedagogis yang humanis. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pendamping spiritual yang dekat secara psikologis dengan santri. Di sisi lain, keteladanan ustadz dan kyai menjadi faktor paling kuat dalam membentuk atmosfer religius. Lingkungan pesantren yang bersifat living learning classroom, di mana praktik kebersihan syariat . dijalankan tidak hanya di kelas, tetapi juga pada rutinitas harian santri seperti mandi, berwudhu, dan menjaga kebersihan pakaian. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Madrasah. Ustadz Abdullah. Pd. I, yang mengatakan: AuKultur pesantren memang mendukung pembiasaan thaharah. Di kamar mandi, tempat wudhu, bahkan di asrama, santri saling mengingatkan agar menjaga kebersihan sesuai Ay Dari kutipan ini terlihat bahwa thaharah tidak hanya menjadi kewajiban personal, tetapi juga menjadi budaya kolektif yang ditaati secara sosial. Lingkungan pesantren membangun mekanisme internal berupa saling mengingatkan, sehingga pembelajaran tidak berhenti di kelas tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Faktor pendukung ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial Albert Bandura, yang menyatakan bahwa individu belajar melalui observasi, imitasi, dan modeling. Dalam konteks ini, santri belajar kepatuhan pada thaharah bukan hanya melalui membaca teks kitab, tetapi melalui mencontoh perilaku guru dan teman sebaya. Di sisi lain, terdapat sejumlah kendala yang memengaruhi proses internalisasi pemahaman najis. Pertama, beberapa santri memiliki pemahaman awal yang sangat minim. Mereka berasal dari latar belakang rumah tangga yang tidak membiasakan standar thaharah sebagaimana diajarkan dalam kitab klasik fiqih. Akibatnya, mereka membutuhkan waktu adaptasi terhadap konsep najis secara detail. Kendala kedua adalah aspek usia psikologis. Sebagai siswa kelas 5 Madrasah Diniyah, tingkat kedewasaan kognitif mereka masih dalam tahap konkret-operasional. Mereka cenderung mudah lupa dan membutuhkan pengulangan. Hal ini selaras dengan teori Piaget bahwa anak pada tahap ini memahami hal secara konkret, bukan abstrak. Pendekatan Pedagogis Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis dan Pengaruhnya terhadap Kesadaran Ibadah Santri Madrasah Diniyah Darut Tauhid Ustadzah Mayla sebagai pengajar menjelaskan: AuKadang ada santri yang di rumah tidak terbiasa memperhatikan najis. Jadi saat masuk pesantren, perlu waktu untuk menumbuhkan kebiasaan baru. Mengetahui saja tidak cukup, harus melalui pembiasaan. Ay Kutipan ini menunjukkan bahwa pembelajaran fiqih najis tidak dapat ditransformasikan hanya melalui transfer pengetahuan. Dibutuhkan proses habituasi . dan internalisasi nilai-nilai spiritual. Santri harus melewati proses transformasi kebiasaan dari lingkungan rumah menuju lingkungan pesantren yang lebih ketat dalam standar kesucian. Penghambat lainnya adalah perbedaan tingkat kecerdasan dan kemampuan belajar antar Ada santri yang dengan cepat memahami jenis-jenis najis, sementara sebagian lainnya memerlukan pengulangan materi dan bimbingan personal . Gabungan faktor pendukung dan penghambat ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran kitab fiqih di pesantren berjalan dalam konteks situated learning, di mana pemahaman tidak hanya berasal dari teks tetapi dari praktik sosial dan budaya dalam komunitas Budaya kolektif dan keteladanan moral menjadi faktor utama yang mempercepat pemahaman, sementara faktor pengalaman awal dan kebiasaan rumah menjadi tantangan dalam internalisasi ajaran fiqih secara menyeluruh. Faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas pembelajaran di pesantren dapat dianalisis melalui kerangka teori pendidikan Islam dan teori pedagogis kontemporer. Secara umum, faktor pendukung dan penghambat dapat dibedakan menjadi dua aspek utama: aspek struktural dan aspek individual/psikososial. Pertama, ketersediaan kitab Safinatun Najah sebagai sumber rujukan utama memberikan dasar materi yang jelas dan sistematis bagi guru dan santri. Menurut teori constructivism (Piaget, 1970. Vygotsky, 1. , materi yang terstruktur memungkinkan santri membangun pengetahuan secara bertahap melalui interaksi dengan teks dan praktik. Kedua, budaya pesantren yang menekankan disiplin, kebersihan, dan thaharah menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Teori social learning (Bandura, 1. menekankan bahwa perilaku dipelajari melalui observasi dan teladan. Dalam konteks ini, keteladanan guru dan kyai menjadi faktor pendukung yang kuat, karena santri meniru sikap, kebiasaan, dan etika ibadah mereka. Ketiga, hubungan interpersonal yang harmonis antara guru dan santri meningkatkan motivasi intrinsik santri. Teori motivasi dalam pendidikan (Deci & Ryan, 1. menegaskan bahwa motivasi intrinsik berperan penting dalam keberhasilan pembelajaran, karena santri belajar bukan hanya untuk nilai, tetapi juga untuk membentuk kesadaran spiritual. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 107-131 Faktor penghambat muncul terutama dari perbedaan kemampuan dan pengalaman awal Beberapa santri mungkin memiliki pemahaman awal yang lemah tentang konsep fikih, usia yang masih muda, atau kebiasaan dari rumah yang belum sesuai standar thaharah. Menurut teori differentiated instruction (Tomlinson, 2. , variabilitas kemampuan peserta didik dapat menjadi penghambat jika strategi pembelajaran tidak disesuaikan secara individual. Selain itu, keterbatasan media pembelajaran modern, seperti visualisasi atau alat peraga, dapat membatasi pemahaman konsep yang abstrak, terutama untuk jenis najis yang memerlukan praktik nyata. Hal ini sejalan dengan teori cognitive load (Sweller, 1. , yang menyatakan bahwa pemahaman dapat terganggu jika peserta didik harus memproses informasi kompleks tanpa bantuan visualisasi atau simulasi praktis. Secara keseluruhan, teori pendidikan Islam dan pedagogi modern menunjukkan bahwa faktor pendukung seperti ketersediaan sumber belajar, lingkungan belajar yang religius, keteladanan guru, dan motivasi intrinsik santri sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Sebaliknya, perbedaan kemampuan awal santri dan keterbatasan media pembelajaran merupakan faktor penghambat yang harus diantisipasi melalui strategi diferensiasi, pembelajaran pengalaman, dan penggunaan pendekatan multi-sensorik. Dampak terhadap Kesadaran Ibadah dan Praktik Keseharian Santri Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis terbukti memberikan dampak signifikan terhadap perilaku keagamaan santri dalam keseharian. Santri tidak hanya memahami konsep najis secara linguistik dan teoritis, tetapi menginternalisasikannya dalam tindakan praktis. Mereka menunjukkan peningkatan kesadaran dalam menjaga kebersihan diri, pakaian, tempat ibadah, serta kehatian-hatian dalam memastikan keadaan suci sebelum shalat. Melalui observasi, ditemukan bahwa santri secara otomatis melakukan pengecekan terhadap baju, celana, atau sarung sebelum memasuki waktu shalat. Mereka juga tampak lebih teliti saat keluar dari kamar mandi, bermain, atau bersentuhan dengan benda yang berpotensi Hal ini senada dengan pengakuan salah satu santri. Khoirun Nisak, yang menuturkan secara panjang lebar: AuKalau dulu saya langsung shalat saja tanpa terlalu memperhatikan keadaan pakaian. Tapi setelah belajar bab najis, saya jadi lebih memahami bahwa najis itu berpengaruh terhadap sah tidaknya shalat. Jadi sekarang misalnya kalau habis bermain dan pakaian kena tanah atau kotoran, saya tidak langsung shalat. Saya cek dulu apakah itu najis atau Kalau ragu, saya cuci dulu. Bahkan kadang saya bertanya kepada teman atau ustadzah untuk memastikan. Saya jadi lebih hati-hati karena saya tidak mau ibadah saya sia-sia hanya karena ada najis sedikit saja di pakaian. Ay Pendekatan Pedagogis Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis dan Pengaruhnya terhadap Kesadaran Ibadah Santri Madrasah Diniyah Darut Tauhid Kutipan tersebut menunjukkan adanya transformasi dalam ranah afektif dan psikomotorik, bukan sekadar pengetahuan kognitif. Kesadaran tersebut timbul dari penghayatan ilmu, bukan sekadar dorongan dari luar. Dari sisi kelembagaan pesantren, pengasuh KH. Taufiqurrahman menekankan bahwa pendidikan fikih dalam pesantren memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Beliau AuKesadaran ibadah itu muncul bukan karena santri disuruh, tapi karena santri memahami ilmunya. Kalau santri sudah tahu dan yakin bahwa kebersihan lahir itu menjadi syarat sah ibadah, maka ia akan menjaga kebersihan itu bukan karena dilihat orang atau karena takut dimarahi guru, tapi karena merasa beribadah kepada Allah. Jadi ilmu fikih ini sebenarnya membentuk karakter, membentuk identitas Muslim yang bersih lahir batin. Kalau ilmu masuk ke hati, ia menjadi akhlak. Kalau hanya sampai di mulut, ia hanya jadi bacaan. Ay Pernyataan ini selaras dengan pandangan bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan teks keagamaan, tetapi juga mentransfer nilai spiritual hingga menjadi etos hidup. Lebih lanjut. Ustadzah Mayla sebagai pengajar kitab juga menyampaikan secara naratif bagaimana ia melihat perubahan sikap santri: AuSaya melihat betul bahwa setelah santri memahami bab najis ini, mereka berubah lebih Dulu banyak santri yang tidak tahu atau kurang peduli jika sarungnya terkena cipratan air dari WC atau terkena tanah yang basah. Sekarang mereka langsung membersihkan, atau setidaknya bertanya apakah itu najis. Bahkan saya sering melihat mereka saling mengingatkan teman. AoSarungmu kena ini, itu najis atau bukan?Ao Jadi ilmu ini benar-benar hidup dalam diri mereka. Mereka tidak hanya tahu, tapi menerapkan. Ay Ustadzah Mayla memaparkan sedikit materinya yang ada di dalam sebagian redaksi, fasal ini disebutkan: ca Aa EaaU EA A eE aI ea eCa aA a AA a A eOA e aA aOuaa Eaa aN aO aNa eEAA e aA(AA ca A EA a AA aE aIe aE eO U Aa eO a eA a A Caa eO aE aEaA a AA aEa aOEIac aA a caA EIA a AI EIac aA a aEU) Aa eO aOA a AA e AeEA A a aNa Aa eO aa sIA a A aI aA a A aN eOEa a E ac eIOaOa a aE aE a e aIa aN aOaE aeE ea eCa aNa aOaE aEA a AaOEa aNA a AaO eaU aE acEA s aAeE eaOA a AO seI a a aI aIA a e aAC aEaA a A aEA a e AEaOA A eC sEA a A a eOA Wawancara dengan KH. Muhammad Taufiqurrahman LC dilakukan di kediaman beliau pada jam istirahat setelah pengajian. Beliau menjelaskan bahwa pembelajaran fikih dalam pesantren memiliki tujuan yang jauh melampaui sekadar transfer pengetahuan. Beliau menekankan bahwa ilmu fikih harus menjadi pedoman hidup santri dan tercermin dalam perilaku sehari-hari. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 107-131 Beliau menyatakan: AuIlmu fikih ini bukan ilmu yang hanya dibaca di dalam kelas. Ketika santri memahami hukum najis, wudhu, dan thaharah, itu bukan hanya untuk menjawab soal atau sekadar untuk ujian. Itu untuk hidupnya. Karena orang yang faham fikih, itu akan lebih berhatihati dalam setiap gerak kehidupannya. Kami di pesantren selalu mengajarkan bahwa kebersihan itu bagian dari iman, dan ilmu itu harus menjadi karakter bukan hanya Saya selalu mendorong guru dan santri agar menjadikan fikih sebagai budaya Santri yang belajar tentang najis bukan hanya paham teori, tetapi terbiasa membersihkan diri, terbiasa memeriksa pakaian sebelum shalat, dan terbiasa menjaga kebersihan tempat ibadah. Ay Hasil wawancara ini menunjukkan bahwa pendekatan yang diterapkan beliau selaras dengan teori pendidikan Islam klasik, di mana guru memiliki peran sebagai model moral . , bukan sekadar penyampai materi. Dalam wawancara yang dilakukan di kantor madrasah. Ustadz Abdullah menjelaskan bagaimana pembelajaran Kitab Safinatun Najah terintegrasi dengan lingkungan pendidikan pesantren yang sudah membudayakan thaharah dan disiplin ibadah. Beliau menjelaskan: AuDi lingkungan pesantren ini, praktik thaharah itu sudah menjadi budaya yang kuat. Santri terbiasa saling mengingatkan satu sama lain misalnya ketika ada yang lupa beristinja dengan benar atau ketika ada yang shalat tanpa memastikan kesucian Kami selalu memberi ruang kepada guru untuk tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga mendampingi para santri dalam kehidupan harian mereka. Kami percaya bahwa pembelajaran sebaiknya tidak berhenti di buku. Bahkan di toilet pun santri diberi pemahaman tentang najis mutawassithah dan najis mughalazah secara praktis. Dengan demikian, pengetahuan mereka menjadi keterampilan, dan keterampilan itu menjadi Itulah pesantren. Ay Pernyataan ini menegaskan bahwa faktor pendukung pembelajaran bukan hanya metode pengajaran, tetapi juga kultur pesantren yang mendukung internalisasi nilai-nilai fikih dalam kehidupan nyata. Wawancara dilakukan di ruang kelas setelah pembelajaran selesai. Ustadzah Mayla menjelaskan secara rinci bagaimana ia menerapkan metode pedagogis tradisional pesantren seperti bandongan, sorogan, hafalan matan, serta pembiasaan praktik langsung. Pendekatan Pedagogis Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis dan Pengaruhnya terhadap Kesadaran Ibadah Santri Madrasah Diniyah Darut Tauhid Beliau menjelaskan: AuKalau saya mengajarkan bab najis, saya tidak hanya membacakan matannya saja. Biasanya saya mulai dengan bandongan dulu supaya santri menyimak. Lalu saya minta beberapa santri membaca sendiri lewat metode sorogan untuk melihat sejauh mana mereka paham. Setelah itu saya ajak mereka praktikAimisalnya coba simulasi cara membersihkan najis pada pakaian, cara menghapus najis ringan dengan tissue basah, hingga demonstrasi bagaimana najis anjing harus dicuci dengan tujuh kali basuhan yang salah satunya menggunakan tanah. Dari situ terlihat bahwa santri bukan hanya bisa menyebutkan teorinya, tetapi benar-benar bisa mempraktikkannya. Itulah tujuan sayaAimencetak pembiasaan, bukan hanya pemahaman verbal. Ay Lebih lanjut beliau menambahkan: AuSaya melihat perubahan pada santri. Mereka menjadi lebih hati-hati. Ada santri yang mengaku tidak berani shalat jika belum yakin benar-benar suci. Ini menunjukkan pembelajaran sudah masuk ke dalam kesadaran spiritualnya, bukan hanya aspek Ay Kutipan ini memperkuat teori Kolb tentang experiential learning serta teori Bloom terkait domain ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Zida merupakan salah satu santri perempuan yang aktif dan rajin bertanya. Saat diwawancarai, ia mengungkapkan perubahan pemahami dan perilakunya setelah mempelajari bab najis. Ia mengatakan: AuDulu saya hanya tahu bahwa najis itu membuat shalat tidak sah, tetapi saya tidak bisa membedakan jenis-jenisnya. Sekarang saya sudah bisa menjelaskan perbedaan najis yang ringan dan yang berat. Saya juga jadi lebih teliti kalau mau shalat, misalnya melihat apakah baju atau rok saya terkena najis atau tidak. Saya merasa lebih yakin dalam beribadah karena tahu ilmunya. Bahkan saya juga sering mengingatkan teman saya kalau ada yang lupa atau salah dalam bersuci. Ay Ini menunjukkan terjadinya internalisasi dalam ranah afektifAiyaitu lahirnya kepekaan spiritual terhadap kebersihan dan kesucian. Saat berdialog. Khoirun Nisak menegaskan bahwa ia kini merasa lebih bertanggung jawab terhadap kebersihan diri, dan pemahaman tentang najis telah berpengaruh pada mentalitas beribadahnya. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 107-131 Ia menyampaikan: AuKalau dulu saya shalat tanpa terlalu memikirkan apakah ada najis atau tidak pada pakaian saya. Tapi sekarang rasanya tidak tenang kalau belum memeriksa. Saya lebih berhati-hati dalam berwudhu dan membersihkan diri. Bahkan saat di rumah pun saya mulai membiasakan diri dan kadang saya mengajari adik saya cara bersuci yang benar. Saya merasa ilmu ini penting sekali untuk dibawa sepanjang hidup, bukan hanya untuk di sekolah. Ay Data wawancara ini menunjukkan bahwa pembelajaran telah terinternalisasi menjadi self-awareness dan self-regulation, yang merupakan indikator pencapaian ranah afektif tingkat Data di atas diperkuat dengan hasil observasi dan dokumentasi gambar berikut ini: Gambar 1. proses pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darut Tauhid. Gambar ini menjelaskan tiga aspek utama dalam proses pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darut Tauhid, yaitu strategi guru, pemahaman santri, dan dukungan lembaga. Pertama, strategi yang diterapkan oleh Ustadzah Mayla Dwi Agustin menekankan pendekatan kontekstual. Beliau tidak hanya membacakan atau menjelaskan teks kitab, tetapi juga menghadirkan contoh nyata terkait najis, seperti simulasi penyucian pakaian yang terkena najis mutawassithah maupun mughaladhah. Selain itu, beliau kerap mengajukan pertanyaan spontan kepada santri untuk meningkatkan Pendekatan Pedagogis Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis dan Pengaruhnya terhadap Kesadaran Ibadah Santri Madrasah Diniyah Darut Tauhid konsentrasi, mendorong mereka berpikir kritis, dan memastikan bahwa pemahaman tidak hanya bersifat hafalan, tetapi juga aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Strategi ini selaras dengan teori experiential learning David Kolb, di mana pembelajaran melalui pengalaman nyata dan refleksi meningkatkan keterampilan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Kedua, pemahaman santri terlihat bervariasi. Santri seperti Zida Kamalia dan Khoirun Nisak telah mampu memahami perbedaan antara najis mukhaffafah, mutawassithah, dan Mereka dapat menjelaskan cara penyucian masing-masing jenis najis dan mengaplikasikannya sebelum ibadah, menunjukkan internalisasi konsep secara praktis. Namun, beberapa santri masih mengalami kesulitan, misalnya membedakan najis mutawassithah yang basah dan kering, yang menunjukkan adanya variasi kemampuan dalam memahami konsep hukum fiqih. Temuan ini memperkuat pentingnya strategi pengajaran yang adaptif, di mana guru memberikan pengulangan dan penjelasan tambahan untuk menjembatani perbedaan tingkat pemahaman. Ketiga, dukungan lembaga menjadi faktor kunci yang memperkuat efektivitas Kepala madrasah. Ustadz Abdullah, menegaskan bahwa pembelajaran kitab kuning mendapat dukungan penuh dari pengasuh pesantren maupun pihak madrasah. Dukungan ini diwujudkan melalui pengaturan jadwal khusus pembelajaran, pengawasan rutin oleh guru dan pengasuh, serta fasilitas yang memadai untuk praktik ibadah. Kebijakan ini menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, di mana santri merasa termotivasi untuk memahami materi sekaligus membiasakan perilaku religius secara konsisten. Secara keseluruhan, gambar ini menampilkan hubungan sinergis antara strategi guru, pemahaman santri, dan dukungan lembaga. Ketiga elemen ini bekerja bersama untuk menciptakan pembelajaran fiqih yang tidak hanya berfokus pada penguasaan teks, tetapi juga membentuk kompetensi praktis, kesadaran spiritual, dan karakter religius santri dalam kehidupan sehari-hari. Jika ditinjau secara keseluruhan, hasil wawancara menunjukkan adanya sinergi antara pendekatan pedagogis, budaya pesantren, dan internalisasi nilai religius yang membentuk pengalaman belajar santri secara holistik. Guru pengajar, dalam hal ini Ustadzah Mayla, menerapkan metode pengajaran aktif yang menekankan praktik langsung. Hal ini terlihat dari penerapan bandongan, sorogan, hafalan matan, serta simulasi praktik penyucian najis, yang memungkinkan santri tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini menegaskan prinsip experiential learning yang dikemukakan Kolb, di mana pengalaman langsung menjadi medium utama pembelajaran yang efektif dalam mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik santri. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 107-131 Sementara itu, kepala madrasah. Ustadz Abdullah, menekankan pentingnya budaya kebersihan kolektif yang telah menjadi ciri khas pesantren. Budaya ini bukan hanya sebatas aturan formal, tetapi melekat dalam kehidupan sehari-hari santri, mulai dari kamar mandi, tempat wudhu, hingga asrama dan musholla. Santri saling mengingatkan, membimbing, dan meneladani satu sama lain, sehingga pembelajaran thaharah menjadi praktik sosial yang membentuk kebiasaan dan disiplin kolektif. Budaya ini menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memperkuat motivasi intrinsik santri, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kebersihan dan kesucian sebagai bagian dari identitas keagamaan mereka. Pengasuh pesantren. KH. Muhammad Taufiqurrahman LC, menekankan bahwa pembelajaran fikih bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi orientasinya adalah pembentukan identitas moral santri. Ilmu fikih dipandang sebagai pedoman hidup yang menjiwai perilaku sehari-hari. Pernyataan beliau menunjukkan bahwa guru dan pengasuh pesantren berperan sebagai moral exemplar, menanamkan nilai kesadaran, kehati-hatian, dan tanggung jawab spiritual, sehingga pembelajaran menjadi pengalaman hidup yang melekat pada karakter santri. Dari sisi santri, baik Zida Kamalia maupun Khoirun Nisak menunjukkan peningkatan yang nyata dalam pemahaman dan kesadaran spiritual. Mereka tidak hanya mampu mengidentifikasi dan membedakan jenis najis serta cara penyuciannya, tetapi juga menunjukkan sikap hati-hati dan tanggung jawab dalam melaksanakan ibadah. Kesadaran mereka terhadap pentingnya bersuci sebelum beribadah, kemampuan mengingatkan teman, dan kesadaran menjaga lingkungan ibadah merupakan indikator bahwa internalisasi nilai telah Santri mengalami transformasi dari pemahaman deklaratif menjadi pemahaman aplikatif yang menyatu dengan praktik keseharian, menunjukkan keberhasilan pendekatan pedagogis pesantren dalam mengembangkan kompetensi religius yang utuh. Secara keseluruhan, hasil wawancara ini menggambarkan bahwa pembelajaran Safinatun Najah Bab Najis di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darut Tauhid tidak hanya mencetak santri yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter moral dan spiritual yang konsisten, yang tercermin dalam praktik ibadah dan kehidupan sehari-hari mereka. Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis di pesantren tidak berhenti pada aspek kognitif, melainkan juga membentuk kesadaran spiritual dan perilaku santri dalam kehidupan sehari-hari. Teori experiential learning Kolb, menekankan bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman langsung akan lebih mudah diinternalisasi. Dengan praktik langsung membersihkan najis dan memahami prosedur thaharah, santri memperoleh pembelajaran yang holistik: menggabungkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik (Ilahi et al. , 2. Pendekatan Pedagogis Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis dan Pengaruhnya terhadap Kesadaran Ibadah Santri Madrasah Diniyah Darut Tauhid Selain itu, teori moral development Kohlberg, menunjukkan bahwa internalisasi nilainilai religius terjadi melalui pembiasaan dan pengamatan terhadap teladan. Dalam konteks pesantren, keteladanan guru dan pengasuh yang konsisten menjaga kebersihan dan beribadah dengan benar memberikan model perilaku yang dapat ditiru santri. Seiring waktu, proses pembiasaan ini menumbuhkan kesadaran intrinsik, bukan sekadar kepatuhan formal (Widayanti, 2. Teori psychology of religion James. Pargament, juga menegaskan bahwa kesadaran ibadah terbentuk melalui penghayatan nilai-nilai religius, di mana santri mulai memahami bahwa thaharah dan kebersihan bukan sekadar prosedur ritual, tetapi bagian dari hubungan mereka dengan Allah. Dengan demikian, praktik keseharian seperti memastikan pakaian dan tubuh suci sebelum shalat, menjaga kebersihan musholla, dan memperhatikan lingkungan ibadah merupakan indikator bahwa pengetahuan fikih telah menjadi bagian dari identitas moral dan spiritual mereka (Maghfiroh & Sofa, 2. Pembelajaran bab najis melalui pendekatan pedagogis pesantren menghasilkan perubahan nyata: pengetahuan teori tidak hanya dimiliki secara verbal, tetapi diterapkan dalam perilaku nyata. Proses ini memperkuat kesadaran ibadah santri, membentuk kebiasaan religius, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kesucian diri serta lingkungan ibadah. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dan saran penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darut Tauhid menerapkan pendekatan pedagogis khas pesantren yang memadukan lima metode utama, yakni bandongan, sorogan, hafalan matan, drill praktik ibadah, dan keteladanan guru. Kelima metode ini saling melengkapi sehingga menciptakan model pembelajaran yang koheren antara teori dan praktik. Bandongan memberikan kesempatan bagi santri untuk memahami materi secara holistik melalui pendampingan guru, sorogan mendorong interaksi langsung dan evaluasi pemahaman, sementara hafalan matan menanamkan pengetahuan sekaligus disiplin. Drill praktik ibadah menghadirkan pengalaman nyata dalam penyucian najis, sedangkan keteladanan guru dan pengasuh menanamkan nilai moral dan religius melalui contoh perilaku sehari-hari. Proses pembelajaran ini tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik, sejalan dengan teori experiential learning David Kolb yang menekankan pentingnya pengalaman langsung, refleksi, dan penerapan. Santri tidak hanya mengetahui definisi dan jenis-jenis najis, tetapi juga mampu menerapkan prosedur penyucian dalam kehidupan seharihari. Hasil wawancara menunjukkan bahwa santri seperti Zida Kamalia dan Khoirun Nisak AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 107-131 mengalami peningkatan pemahaman konseptual sekaligus kesadaran spiritual. Mereka menjadi lebih hati-hati dalam menjaga kebersihan diri, pakaian, dan lingkungan ibadah, serta mampu mengingatkan teman sebaya, menandakan adanya internalisasi nilai religius dan praktik thaharah yang menjadi bagian dari karakter mereka. Faktor pendukung keberhasilan pembelajaran antara lain ketersediaan kitab Safinatun Najah sebagai sumber utama, budaya pesantren yang menekankan disiplin dan kebersihan, keteladanan guru, serta motivasi intrinsik Lingkungan pesantren yang bersifat Auliving learning classroomAy memperkuat praktik thaharah secara kolektif. Sementara itu, faktor penghambat muncul dari perbedaan kemampuan awal santri, kebiasaan rumah yang belum sesuai standar thaharah, usia psikologis yang masih tahap konkret-operasional, serta keterbatasan media pembelajaran modern. Untuk mengatasi hal ini diperlukan strategi pedagogis adaptif yang menggabungkan pembelajaran berbasis Dampak dari pembelajaran ini terlihat pada transformasi perilaku santri. Pengetahuan tentang najis tidak hanya dimiliki secara verbal, tetapi diterapkan dalam tindakan nyata seharihari. Santri secara otomatis melakukan pengecekan kebersihan pakaian sebelum shalat, menjaga kebersihan musholla, serta saling mengingatkan teman-teman dalam praktik thaharah. Hal ini memperkuat kesadaran ibadah yang berasal dari internalisasi ilmu, bukan sekadar kepatuhan formal. Dengan demikian, pembelajaran bab najis melalui pendekatan pedagogis pesantren berhasil membentuk kompetensi holistik santri, mencakup pengetahuan, sikap, keterampilan, serta karakter moral dan spiritual yang konsisten dalam kehidupan seharihari. Saran dari penelitian ini menekankan pentingnya penguatan metode pembelajaran yang berorientasi pada pengalaman nyata dan praktik langsung, pemanfaatan keteladanan guru secara optimal, serta pengembangan media pembelajaran multi-sensorik untuk mendukung pemahaman konsep yang lebih kompleks. Selain itu, perhatian terhadap perbedaan kemampuan awal santri harus dijadikan dasar penerapan strategi diferensiasi agar semua santri dapat mencapai kompetensi yang sama dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Upaya ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pembelajaran yang holistik, sekaligus memperkuat internalisasi nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari santri di lingkungan pesantren. UCAPAN TERIMA KASIH Alhamdulillahi Rabbil AoAlamin, segala puji hanya bagi Allah SWT atas limpahan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta seluruh umat yang istiqamah mengikuti sunnah beliau. Pendekatan Pedagogis Pembelajaran Kitab Safinatun Najah Bab Najis dan Pengaruhnya terhadap Kesadaran Ibadah Santri Madrasah Diniyah Darut Tauhid Penulis menyadari bahwa penelitian ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada: Pertama. Assoc. Prof. Dr. Abdul Aziz Wahab. CH. CHT. BA. Ag. Rektor Universitas Islam Zainul Hasan (UNZAH) Genggong Probolinggo, atas kesempatan, fasilitas, dan dukungan yang diberikan sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan lancar. Kedua. Dr. Ainur Rofiq Sofa. Pd. Ketua Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI) Pascasarjana Universitas Islam Zainul Hasan (UNZAH) Genggong Probolinggo sekaligus dosen pembimbing, yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta motivasi yang sangat berharga, membantu penulis dalam memperjelas fokus penelitian, analisis data, dan penyusunan laporan penelitian. Ketiga. Muhammad Sugianto. Pd. Ketua Program Studi Sarjana Pendidikan Bahasa Arab (S1 PBA) Universitas Islam Zainul Hasan (UNZAH) Genggong Probolinggo, atas bantuan, masukan, dan dukungan yang diberikan selama proses penelitian, khususnya terkait pengumpulan data dan koordinasi akademik. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang tulus kepada seluruh guru, pengasuh, dan siswa di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darut Tauhid Tanjungsari Krejengan Probolinggo, yang telah berkenan memberikan waktu, informasi, dan kerjasama dalam proses observasi dan wawancara. Terima kasih juga kepada teman-teman dan semua pihak yang telah memberikan semangat, dukungan moral, dan bantuan teknis sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan, kesabaran, dan kerjasama yang diberikan dengan pahala berlipat, keberkahan, dan kemudahan dalam segala urusan dunia maupun akhirat. DAFTAR PUSTAKA