Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 PENINGKATAN MUTU WISATA BERBASIS SAPTA PESONA MELALUI KONSEP COMMUNITY BASED TOURISM GUNA MENCIPTAKAN KEBERLANJUTAN PARIWISATA Fahmi Muhamad Rizky. Elly MalihahA. Rini AndariA 1,2,3 Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr. Setiabudi Nomor 229. Bandung. Jawa Barat Email Correspondence: fahmimuhamadrizky@upi. ABSTRAK Hingga pada tahun 2022 pasca Pandemi Covid-19, angka kunjungan wisatawan meningkat sebesar 63,80% yang menunjukan peningkatan dalam sektor pariwisata di Jawa Barat tidak terkecuali Kabupaten Bandung. Akan tetapi yang menjadi permasalahan saat ini adalah kurang optimalnya partisipasi dari masyarakat dalam pengelolaan destinasi wisata. Maka daripada itu perlu adanya upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat khususnya masyarakat lokal terhadap potensi pariwisata melalui sapta pesona berdasarkan konsep pariwisata berbasis masyarakat . ommunity based touris. Dalam penerapan konsep ini, penulis akan berfokus pada daerah di Kabupaten Bandung yaitu Desa Wisata Alamendah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang mengedepankan kualitas dari penelitian dengan penarikan kesimpulan yang bermakna. Adapun pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan studi kasus dan deskriptif analisis dengan teknik pengumpulan data berupa triangulasi sumber data yaitu menganalisis data-data berupa jurnal, buku, dan artikel serta hasil wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa kesadaran wisata masyarakat lokal masih rendah dibuktikan dengan kurangnya berpartisipasi dalam pengelolaan Desa Wisata Alamendah. Maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan mutu wisata berbasis Sapta Pesona melalui konsep Community Based Tourism (CBT) guna menciptakan keberlanjutan pariwisata (Sustainable Touris. Kata Kunci: Masyarakat. Mutu. Sapta Pesona. Pariwisata Berbasis Masyarakat. Berkelanjutan ABSTRACT Until 2022 after the Covid-19 Pandemic, the number of tourist visits increased by 63. 80%, which shows an increase in the tourism sector in West Java, including Bandung Regency. However, the current problem is the less than optimal participation from the community in the management of tourist destinations. Therefore, efforts are needed to increase community understanding, especially local communities, of tourism potential through charm sapta based on the concept of community-based tourism. In applying this concept, the author will focus on areas in Bandung Regency, namely Alamendah Tourism Village. This research uses qualitative research methods that prioritize the quality of research with meaningful conclusions. The approach used is a case study approach and descriptive analysis with data collection techniques in the form of triangulation of data sources, namely analyzing data in the form of journals, books, and articles and interview results. The results showed that local people's tourism awareness is still low as evidenced by the lack of participation in the management of Alamendah Tourism Village. So there is a need for efforts to improve the quality of Sapta Pesona based tourism through the concept of Community Based Tourism (CBT) to create Sustainable Tourism. Keywords: Community. Quality. Sapta Pesona. Community Based Tourism. Sustainable Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Merujuk pada data, luas negara Indonesia ada pada angka 1,9 juta km2 dan luas daratannya mencapai 1,81 juta km2 atau 1,2% dari total luas daratan dunia. Luas daratan ini menjadikan negara Indonesia kaya terhadap sumber daya Ditambah dengan letak wilayahnya yang strategis di tengah jalur khatulistiwa menjadikan Indonesia sebagai negara yang subur. Kekayaan ini tentunya menjadi modal untuk Indonesia dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Berbicara mengenai sumber daya manusia di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2023, jumlah penduduk Indonesia mencapai 278,8 juta jiwa. Angka tersebut naik sebesar 1,1% dari jumlah penduduk tahun 2022 yang berjumlah 275,7 juta jiwa. Jumlah peningkatan penduduk di Indonesia adalah bonus demografi yang perlu diberdayakan dengan baik sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi jalannya kenegaraan nasional. Tentunya dalam hal perekonomian negara, sudah semestinya bonus demografi ini dimanfaatkan untuk menunjang perekonomian yang maju dengan mengedepankan prinsip partisipasi masyarakat dalam peningkatan Prinsip partisipasi masyarakat adalah citra dari demokrasi yang perlu diterapkan dalam berbagai sektor kehidupan meskipun dalam skala kecil misalnya pengelolaan wisata dan budaya. Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman wisata dan budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kekayaan dan keanekaragaman yang didalamnya terdapat unsur lingkungan, sosial, dan budaya adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa untuk dijaga dan dilestarikan dengan seksama demi kesejahteraan Sebagaimana yang diucapkan oleh Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI). Jazilul Fawaid mengatakan bahwa kekayaan yang dimiliki Indonesia baik berupa alam, lingkungan, sosial, dan budaya harus dimanfaatkan demi kesejahteraan rakyatnya. Terutama bagi sektor-sektor yang memiliki peluang besar bagi negara sebagai sumber Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan Devisa Negara demi menunjang perekonomian. Pemanfaatan sebagaimana yang dimaksud dapat dilakukan melalui pengelolaan yang terstruktur jelas dengan keterlibatan seluruh unsur masyarakat baik pemerintah maupun masyarakat lokal. Pengelolaan yang baik dan manajemen yang efektif serta solutif dan positif tentunya diperlukan demi terciptanya kesejahteraan Membahas mengenai wisata dan budaya, pariwisata merupakan salah satu sektor penyumbang devisa terbesar ketiga setelah Crude Palm Oil (CPO) atau Minyak Kelapa Sawit dan Batu Bara. Berdasarkan data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat bahwa pendapatan devisa dari sektor pariwisata Indonesia mencapai 4,26 Miliar US Dollar pada tahun 2022. Nilai tersebut mengalami kenaikan hingga 769,39% dibandingkan pada tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2021 yang hanya sebesar 0,49 Miliar US Dollar. Dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2019, sektor pariwisata dari tahun ke tahun memberikan angka kenaikan pendapatan devisa bagi Negara Indonesia. Namun, dengan adanya insiden atau peristiwa wabah penyebaran Covid-19 pada tahun Sektor pariwisata menjadi redup dikarenakan adanya larangan bagi wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri untuk melakukan perjalanan lintas negara baik kepentingan negara maupun untuk rekreasi. Pandemi Covid-19 memberikan dampak negatif terhadap penurunan angka wisatawan mancanegara maupun nusantara yang Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 berkunjung ke Indonesia di berbagai daerah tidak terkecuali bagi Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Penurunan angka wisatawan mancanegara maupun nusantara pada tahun 2020 hingga tahun 2021, menjadi permasalahan dalam sektor pariwisata khususnya di daerah Kabupaten Bandung. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah demi meningkatkan kembali angka kunjungan wisatawan. Hingga pada akhir 2022. Kabupaten Bandung menerima lonjakan kenaikan wisatawan sebesar 6. 563 wisatawan yang terdiri dari 6. 815 wisatawan nusantara dan 1. 748 wisatawan mancanegara. Angka ini sangat signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pencapaian ini terjadi berkat upaya yang dilakukan melalui pembenahan objek wisata dan penggiatan kembali destination branding kepada khalayak luas dengan memperkenalkan berbagai destinasi wisata yang ada yang mana salah satunya adalah Desa Wisata Alamendah sebagai salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Bandung. Namun yang menjadi permasalahan sekarang adalah dalam internal daerah sendiri. Berdasarkan hasil wawancara dengan warga Kabupaten Bandung, pengelolaan destinasi wisata khususnya Desa Wisata Alamendah masih kurang optimal dalam memberdayakan masyarakat lokal. Permasalahan ini muncul karena faktor kurangnya pengetahuan dan sadar wisata masyarakat terhadap potensi yang ada. Sehingga keterlibatan masyarakat kurang optimal dalam memanfaatkan sektor pariwisata. Tidak hanya itu, dampak yang dihasilkan dari objek Wisata Alamendah belum merata dirasakan oleh masyarakat sekitar. Hal ini mengindikasikan bahwa partisipasi masyarakat belum diberdayakan maksimal dikarenakan sadar wisata dari masyarakatnya pun belum terbentuk sehingga menganggap objek wisata tidak memiliki potensi yang besar dalam hal mutu pariwisata jika dibandingkan dengan mata pencaharian lain yang memang dapat menunjang perekonomian masyarakat seperti pertanian dan peternakan. Oleh karena itu, dalam menjawab permasalahan yang telah disebutkan sebelumnya. Penulis melihat perlu adanya upaya yang dilakukan untuk selanjutnya menjadi problem solving dari hal-hal tersebut. Maka daripada itu, dalam penelitian ini penulis memberikan sebuah solusi yang solutif berupa sebuah gagasan yang tertuang dalam hasil penelitian yaitu Peningkatan Mutu Wisata Berbasis Sapta Pesona Melalui Konsep Community Based Tourism Guna Menciptakan Keberlanjutan Pariwisata dengan Studi Kasus di Desa Wisata Alamendah Kabupaten Bandung. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi solusi atas permasalahan dalam sektor pariwisata khususnya di Desa Wisata Alamendah perihal keterlibatan masyarakat dan kurangnya sadar wisata masyarakat terhadap potensi yang ada sehingga terbentuk pemerataan dampak yang sama rata bagi masyarakat sekitar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang menekankan pada kualitas hasil dan makna dari penelitian yang dilaksanakan. Menurut Moleong, penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Syifaul Adhimah, 2. Dalam hal ini, penulis meneliti dan bermaksud untuk memahami fenomena peningkatan mutu wisata berbasis sapta pesona melalui konsep Community Based Tourism (CBT) guna menciptakan keberlanjutan pariwisata dengan studi kasus di Desa Wisata Alamendah Kabupaten Bandung. Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif analisis dan pendekatan studi kasus. Penjelasan mengenai kedua hal tersebut sebagai Pendekatan deskriptif analisis yaitu pendekatan dengan menggambarkan, mendemonstrasikan, atau membantu meringkas poin-poin data sehingga dapat berkembang memenuhi seluruh kondisi data. pendekatan ini memakai teknik identifikasi pola dan tautan dengan memanfaatkan data terkini dan historis. Pendekatan studi kasus yaitu pendekatan yang meneliti suatu kasus atau fenomena tertentu yang ada pada masyarakat. Penelitian dilakukan secara mendalam untuk mempelajari latar belakang, keadaan, dan interaksi yang terjadi. Berbagai macam data yang telah didapatkan kemudian diolah sehingga menghasilkan sebuah solusi untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Pada penelitian ini, penulis menggunakan teknik triangulasi sumber data dalam mengumpulkan data. Menurut Sugiyono . , triangulasi sumber data merupakan teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan berbagai data dengan sumber yang telah ada baik dari data dokumentasi berupa jurnal, buku, dan artikel maupun dari data wawancara dan observasi. Triangulasi sumber data dimaksudkan untuk menguji kredibilitas suatu data dengan cara melakukan pengecekan pada data yang telah diperoleh dari berbagai sumber. HASIL DAN PEMBAHASAN Status Quo Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Desa Wisata Alamendah Figure 1. Desa Wisata Alamendah Source: Peneliti . Desa Wisata Alamendah adalah objek wisata yang secara administratif wilayahnya terletak di Desa Alamendah. Kecamatan Ciwidey. Kabupaten Bandung. Provinsi Jawa Barat. Indonesia. Desa Wisata Alamendah merupakan destinasi wisata yang terkenal di Kabupaten Bandung dengan kategori Desa Wisata Maju Menuju Mandiri. Secara geografis. Desa Alamendah terdiri dari 5 . dusun dan 30 . iga pulu. RW berada di dataran tinggi dengan rata-rata suhu mencapai 19 sampai 24 derajat celcius. Rata-rata suhu ini sangat cocok digunakan untuk kegiatan pertanian. Nyatanya berdasarkan fakta di lapangan dari data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung menurut data terakhir tahun 2021, mata pencaharian masyarakat lokal lebih banyak pada bidang pertanian dengan jumlah petani laki-laki maupun perempuan sebanyak 221. 212 orang dari kurang lebih jumlah penduduk yaitu 23. 000 orang. Hampir semua penduduk di sana memiliki mata pencaharian sebagai petani ataupun buruh tani. Tentunya jika dikorelasikan dengan Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 potensi pariwisata, objek pertanian dapat menjadi peluang untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis agrowisata maupun ekowisata. Adapun luas daerah dari Desa Alamendah mencapai 500 hektar dengan sebaran berupa hutan, tegalan, dan ladang. Desa Wisata Alamendah menjadi sebuah destinasi wisata dan ditetapkan sebagai Desa Wisata pada Rabu, 2 Februari 2011 melalui Keputusan Bupati Bandung Nomor 556. 42/kep. 71-DISBUDPAR/2011. Keputusan tersebut menjadi awal destinasi wisata di Kabupaten Bandung yaitu Desa Wisata Alamendah menjadi salah satu bagian dari sektor pariwisata yang harus dikembangkan secara maksimal dan optimal dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat mulai dari pemerintah maupun masyarakat lokal. Berdasarkan hasil observasi, pengembangan sarana dan prasarana dalam menunjang pengelolaan Destinasi Wisata Alamendah sudah dilaksanakan oleh pihak instansi pemerintah. Mulai dari perbaikan jalan hingga sarana prasarana lain yang menunjang aksesibilitas menuju desa wisata. Dalam praktiknya, desa ini bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpa. , akademisi, media, serta badan usaha seperti travel dan operator untuk wisatawan luar. Namun berdasarkan wawancara dengan salah satu masyarakat desa menyebutkan bahwa dari 23. 000 jumlah penduduk hanya terdapat kurang lebih 300 orang yang berkecimpung dalam pengembangan Jika dilihat secara keseluruhan, dampak yang dihasilkan dari pariwisata yang mana pada awalnya untuk peningkatan ekonomi masyarakat nyatanya belum dirasakan secara merata. Hal ini mengindikasikan pemerataan dampak yang dirasakan oleh masyarakat terhadap pariwisata belum optimal. Permasalahan ini terjadi salah satunya karena belum optimalnya keikutsertaan masyarakat serta kurangnya kepedulian masyarakat terhadap sadar wisata . apta peson. Kedudukan Regulasi Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 7 tahun 2020 Terhadap Pengelolaan Destinasi Wisata Alamendah Untuk mengatur jalannya pengelolaan Destinasi Wisata Alamendah di Kabupaten Bandung. Dibentuklah suatu regulasi Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 7 Tahun 2020 tentang Pengelolaan dan Pengembangan Desa Wisata. Peraturan ini menjadi payung hukum dan memberi kepastian hukum bagi jalannya sektor pariwisata khususnya sektor destinasi wisata dalam pengelolaan desa wisata. Dalam pembuatan regulasi tersebut tentunya tidak semata-mata dibuat untuk menjadi payung hukum akan tetapi berdasarkan isinya bahwa hukum dibuat untuk mengatur jalannya kehidupan masyarakat. Maka daripada itu sesuai pada Pasal 5, pembentukan regulasi ini bermaksud sebagai pedoman dalam pengelolaan dan pengembangan desa wisata sesuai dengan rencana pengembangan kepariwisataan daerah. Adapun tujuannya untuk memberikan aturan mengenai pengelolaan desa wisata serta pengembangannya sebagaimana yang termaktub dalam Pasal 6 Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2020 tentang Pengelolaan dan Pengembangan Desa Wisata sebagaimana berikut: Meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui terbukanya peluang dan lapangan kerja, peluang dan lapangan usaha baru, serta meningkatkan usaha dan jasa yang telah ada. meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengembangkan potensi Alam dan mengkonservasi/melestarikan adat, budaya, serta arsitektur yang secara turun temurun. Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam konservasi satwa dan tumbuhan khas serta lingkungan alam. Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Mendorong masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bersih, rapi, dan sehat. Mempercepat penanaman sikap dan keterampilan yang sesuai dengan sapta pesona pariwisata Indonesia. Menumbuhkan kebanggaan masyarakat atas alam, budaya, dan lingkungan desanya. Jika ditinjau dari keefektifan regulasi Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2020 tentang Pengelolaan dan Pengembangan Desa Wisata bagi Desa Wisata Alamendah. Penulis sebagai peneliti yang melakukan observasi dan wawancara menemukan sebuah fakta di lapangan bahwa tujuan pengembangan desa wisata pada point b, d, e, dan f masih belum terealisasikan dengan baik. Berdasarkan hasil wawancara, kesadaran masyarakat terhadap potensi dari agrowisata dan ekowisata pada Desa Wisata Alamendah masih kurang. Beberapa masyarakat masih menganggap potensi pertanian tidak ada korelasinya dengan pengembangan pariwisata. Namun jika dilihat, agrowisata di Desa Wisata Alamendah cukup melimpah dan hal ini dapat menjadi peluang untuk inovasi destinasi yang baru tidak hanya pada mendaki gunung, menuju kebun kopi, maupun Ter-Bike Ngagoes Ulin ka Lembur. Meskipun wisata peternakan dan wisata pertanian sudah menjadi bagian dari edukasi destinasi wisata dalam paket wisata namun paket ini kurang banyak diminati sehingga menimbulkan paradigma yang menganggap destinasi pertanian dan peternakan kurang diminati. Maka daripada itu penulis memberikan sebuah gagasan berupa inovasi yang menarik kepada pemerintah dan masyarakat berupa kereta sawah atau kereta kebun sebagaimana destinasi di Mojokerto dan Yogyakarta dengan ditemani oleh tourguide untuk mengenalkan dan mengedukasi wisatawan perihal destinasi pertanian dan Kemudian untuk permasalahan point d, masalah perihal sampah masih menjadi hal yang perlu diatasi dengan baik. Berdasarkan hasil observasi, sejauh ini tidak ada sistem pengelolaan sampah yang dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah daerah. Sampah yang dihasilkan baik sampah rumah tangga maupun sampah yang dihasilkan dari kegiatan wisata tidak ada sistem pengelolaan seperti pengumpulan, pengangkutan, pengolahan ataupun proses daur ulang. Dalam hal ini, penulis memberikan saran kepada pemerintah untuk menggiatkan maupun memberdayakan masyarakatnya untuk menjadi petugas sampah yang nantinya diberikan upah sehingga menjadi salah satu tempat penghasilan bagi mereka. Tidak hanya itu, pemerintah perlu mensosialisasikan perihal pengelolaan sampah dengan giat setidaknya dalam 4 . bulan sekali dalam pengelolaannya maupun bagaimana cara untuk memanfaatkannya dengan baik. Misalnya pengelolaan sampah organik menjadi pupuk serta sampah anorganik seperti botol bekas dan plastik bisa dijadikan bahan kerajinan. Selanjutnya mengenai permasalahan point e dan f, dalam penelitian ini sapta pesona menjadi unsur utama pembahasan yang harus dijelaskan. Pada dasarnya, sapta pesona merupakan kesadaran masyarakat terhadap desa wisata baik dalam pengelolaannya maupun pengembangannya. Kurangnya kesadaran terhadap desa wisata salah satunya karena tidak bangganya terhadap destinasi wisata yang ada. Maka perlu dikembangkan pemikiran yang memberikan sebuah citra rasa bangga terhadap destinasi wisata yang dimiliki dalam hal ini Desa Wisata Alamendah. Sapta Pesona dapat menjadi acuan dalam menentukan indikator peningkatan mutu wisata. Salah satunya adalah daya tarik yang diberikan kepada wisatawan. Jika masyarakat telah menerapkan konsep sapta pesona dalam pengelolaan desa wisata, sudah pasti mereka akan menciptakan sebuah inovasi melalui kemampuan dan keterampilan masing-masing untuk memperkenalkan Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Desa Wisata Alamendah kepada masyarakat luas dengan berbagai upaya misalnya dengan menonjolkan kebudayaan lokal dan adat istiadat. Tantangan Penerapan Konsep Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Touris. di Desa Wisata Alamendah Pada awal tahun 2011 selaku tahun di mana Desa Wisata Alamendah berdiri sebagai destinasi pariwisata. Penerapan mengenai Konsep Pariwisata Berbasis Masyarakat atau Community Based Tourism (CBT) banyak ditentang oleh masyarakat. Mereka merasa risih dengan keberadaan desa wisata karena dikhawatirkan dapat mengganggu pekerjaan mereka yang mayoritas petani. Masyarakat menganggap keberadaan desa wisata dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan seperti pencemaran lingkungan akibat pengembangan sarana dan prasarana yang menunjang pariwisata. Tidak hanya itu, kekhawatiran para petani yang merasa lahan pertanian akan tergantikan oleh adanya konsep desa wisata menjadi tantangan dalam penerapan konsep Community Based Tourism (CBT). Namun seiring dengan perkembangan desa wisata, tantangan penerapan konsep ini baik dari unsur masyarakat maupun dari aspek sarana dan prasarana dapat Penerapan konsep Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Touris. , seiring dengan berjalannya waktu dinilai memberikan dampak yang positif bagi Karena melalui konsep ini masyarakat dapat ikut serta dalam pengelolaan dan pembangunan desa wisata. Tidak hanya itu, masyarakat diberikan hak untuk menyampaikan informasi, laporan, saran, aspirasi dan/atau kritik dalam rangka pengembangan desa wisata. Hal ini tentunya sesuai dengan asas penyelenggaraan desa wisata yaitu asas kekeluargaan, partisipatif,dan demokrasi. Akhirnya masyarakat menjadi lebih antusias mendukung keberadaan Desa Wisata Alamendah. Melalui penerapan konsep CBT dalam pengelolaan Desa Wisata Alamendah dinilai memberikan manfaat bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Namun terdapat permasalahan yang dirasakan oleh sebagian masyarakat saat ini yaitu adanya ketidaksetaraan atau ketidakmerataan dikarenakan pengembangan desa wisata belum mencangkup kepada seluruh wilayah. Hal ini tentunya dapat menimbulkan konflik dalam masyarakat sendiri dalam hal kesenjangan sosial dan ekonomi. Maka daripada itu, permasalahan-permasalahan sebagaimana hasil penelitian penulis seperti kurang optimalnya partisipasi masyarakat, kurang sadarnya terhadap sapta pesona, dan adanya ketidakmerataan. Hal ini harus segera diatasi melalui strategi yang solutif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dalam penelitian ini penulis memberikan sebuah gagasan berupa implementasi strategi Sapta Pesona berdasarkan konsep CBT yang mana dapat menunjang peningkatan mutu pariwisata dan guna menciptakan Pariwisata berkelanjutan khususnya di Desa Wisata Alamendah. Implementasi Strategi Peningkatan Mutu Wisata Berbasis Sapta Pesona Berdasarkan Konsep Community Based Tourism Guna Menciptakan Pariwisata Berkelanjutan di Desa Wisata Alamendah Sebagaimana permasalahan-permasalah yang telah disebutkan pada pembahasan Untuk mempertegas gagasan yang diberikan oleh penulis selaku peneliti. Maka daripada itu, diperlukan sebuah gagasan yang solutif dalam hal ini penulis merancangnya dalam hasil penelitian dengan gagasan berupa implementasi strategi peningkatan mutu wisata berbasis Sapta Pesona berdasarkan konsep Community Based Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Tourism (CBT) guna menciptakan Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Touris. di Desa Wisata Alamendah. Penulis sebagai peneliti mengkonseptualisasikan implementasi strategi peningkatan mutu wisata berbasis Sapta Pesona berdasarkan konsep Community Based Tourism (CBT) guna menciptakan Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Touris. di Desa Wisata Alamendah dimulai dengan peningkatan mutu wisata berbasis sapta pesona, optimalisasi asas partisipatif sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 7 Tahun 2020 tentang Pengelolaan dan Pengembangan Desa Wisata, dan Pemecahan masalah yang ada dengan disertai program masyarakat dan pemerintah yang solutif dan efektif. Untuk selanjutnya akan dibahas sebagai berikut: Pertama. Peningkatan Mutu Wisata Berbasis Sapta Pesona. Sapta Pesona merupakan jabaran konsep sadar wisata yang berkaitan dengan dukungan dan peran masyarakat sebagai tuan rumah dalam upaya menciptakan lingkungan dan suasana kondusif yang mampu mendorong tumbuh dan berkembangnya pariwisata melalui perwujudan unsur aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan. Sapta pesona pariwisata memiliki korelasi terhadap peningkatan mutu wisata yaitu dalam hal menciptakan daya tarik bagi wisatawan sehingga memberikan sebuah kenangan . melalui pelayanan yang aman, tertib, dan ramah serta penyajian objek wisata yang bersih, sejuk, dan indah. Untuk menciptakan sapta pesona pada masyarakat yang pertama dibenahi adalah paradigma masyarakat yang menganggap sebelah mata destinasi wisata. Maka daripada itu, diperlukan sebuah program pelatihan bagi masyarakat untuk simulasi pengelolaan destinasi dengan metode problem solving learning sehingga memunculkan daya pikir kritis dan sadar akan potensi wisata yang ada sehingga dapat dikembangkan guna menciptakan pariwisata yang berkelanjutan. Kedua. Optimalisasi Asas Partisipatif Sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 7 Tahun 2020 tentang Pengelolaan dan Pengembangan Desa Wisata. Asas partisipatif sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Peraturan Daerah ini, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dan pengembangan desa wisata menjadi salah satu hal indikator keberhasilan desa wisata. Adanya Konsep Pariwisata Berbasis Masyarakat atau Community Based Tourism (CBT) yang dilaksanakan dalam pengelolaan desa wisata memberikan gambaran bahwa partisipasi masyarakat telah Akan tetapi yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini, apakah konsep CBT ini sudah optimal serta apakah masyarakat sudah secara merata menerima dampaknya? Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan oleh penulis selaku Konsep CBT belum terealisasikan dengan baik. Hal ini didasari karena kesetaraan dan pemerataan pembangunan desa wisata belum mencangkup seluruh daerah sehingga konsep ini hanya dilaksanakan oleh masyarakat daerah yang sudah terkena Maka daripada itu perlu adanya pemerataan pembangunan dan kesetaraan pariwisata berbasis masyarakat melalui program kekeluargaan Desa Wisata Alamendah berupa forum diskusi maupun forum aspirasi masyarakat. Ketiga. Pemecahan Masalah yang Ada Dengan Disertai Program Masyarakat dan Pemerintah yang Solutif dan Efektif. Permasalahan yang dimaksud adalah kurang optimalnya partisipasi masyarakat, kurang sadarnya terhadap sapta pesona, dan adanya ketidakmerataan pembangunan desa wisata. Permasalahan ini dapat diatasi dalam satu solusi yang mencangkup keseluruhan yaitu melalui PORDESANA (Program Desa Sapta Peson. Dalam program ini akan difokuskan pada optimalisasi partisipatif masyarakat melalui forum diskusi dan forum aspirasi dalam memberikan saran dan masukan mengenai pengelolaan dan pengembangan Desa Wisata Alamendah serta program Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 kreatif-inovatif yang menjadikan sampah menjadi olahan masyarakat yang bernilai Kemudian perihal kesadaran masyarakat terhadap sapta pesona dapat dilakukan dengan cara pelatihan bagi masyarakat untuk simulasi pengelolaan destinasi dengan metode problem solving learning sehingga memunculkan daya pikir kritis dan sadar akan potensi wisata yang ada sehingga dapat dikembangkan guna menciptakan pariwisata yang berkelanjutan. Selanjutnya yang terakhir dan tidak kalah penting adalah penanganan permasalahan ketidakmerataan pembangunan. Hal ini diperlukan kolaborasi antara masyarakat dan instansi pemerintah dalam pembangunan sarana dan prasarana serta pemerataan pembangunan desa wisata sehingga seluruh daerah yang ada di Desa Alamendah mendapatkan manfaat terutama bagi peningkatan ekonomi bagi masyarakat Penulis berdasarkan hasil penelitian mengharapkan gagasan yang diusung dapat diimplementasikan sehingga dapat bermanfaat untuk pengelolaan dan pengembangan Desa Wisata Alamendah menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang. KESIMPULAN Desa Wisata Alamendah merupakan desa wisata yang termasuk maju dan menjadi salah satu tujuan wisatawan baik dari wisatawan mancanegara maupun nusantara. Dalam mempertahankan pariwisata berkelanjutan (Sustainable Touris. maka diperlukan upaya dari masyarakat dan pemerintah yaitu melalui implementasi strategi peningkatan mutu wisata berbasis Sapta Pesona berdasarkan konsep Community Based Tourism (CBT) guna menciptakan Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Touris. di Desa Wisata Alamendah. Dalam implementasinya, konsep ini merupakan jawaban atas permasalahan yang ada seperti kurang optimalnya partisipasi masyarakat, kurang sadarnya terhadap sapta pesona, dan adanya ketidakmerataan pembangunan desa wisata. Oleh karena itu, konsep ini perlu untuk direalisasikan dengan baik khususnya di Desa Wisata Alamendah Kabupaten Bandung. DAFTAR PUSTAKA