PROGRES PENDIDIKAN Vol. No. Januari 2026, pp. p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348. DOI: 10. 29303/prospek. IMPLEMENTASI MODEL PROJECT BASED LEARNING BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM MENINGKATKAN KREATIFITAS SISWA SD Gladistiana Syawal Dinah Senida Putri. Ahmad Suriansyah. Arta Mulya Budi Harsono Universitas Lambung Mangkurat. Indonesia Informasi Artikel Riwayat Artikel: Diterima: 11-11-2025 Direvisi: 28-12-2025 Dipublikasikan: 31-01-2026 Kata-kata kunci: Kearifan Lokal Kreativitas Siswa Project Based Learning Sekolah Dasar Studi Kasus ABSTRAK Penelitian ini dilatar belakangi dari permasalahan rendahnya kreativitas siswa sekolah dasar akibat pembelajaran yang masih berfokus pada hasil akhir, bukan pada proses berpikir kreatif. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan model Project Based Learning (PJBL) berbasis kearifan lokal sebagai upaya meningkatkan kreativitas siswa di SDN Pangeran 1 Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi langsung terhadap guru, kepala sekolah, serta siswa kelas V dan VI yang terlibat dalam proyek melukis pot bermotif sasirangan. Analisis dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan untuk memahami proses implementasi PJBL berbasis kearifan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan PJBL berbasis kearifan lokal efektif dalam menumbuhkan kreativitas siswa, terlihat dari kemampuan menghasilkan ide baru, memodifikasi pola dan warna, serta menciptakan karya yang orisinal. Pembelajaran yang terintegrasi dengan nilai budaya daerah juga meningkatkan kerja sama, rasa bangga terhadap identitas lokal, dan suasana belajar yang lebih Kendala seperti keterbatasan fasilitas dapat diatasi melalui kerja sama dengan pihak luar, pelatihan guru, serta dokumentasi digital kegiatan. Secara keseluruhan, model PJBL berbasis kearifan lokal tidak hanya mengembangkan kreativitas, tetapi juga memperkuat karakter dan nilai budaya siswa sebagai bekal menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21. This is an open access article under the CC BY-SA license. Penulis Korespondensi: Gladistiana Syawal Dinah Senida Putri. PGSD. FKIP Universitas Lambung Mangkurat Alamat Universitas. Kota. Negara. Email: gladistiana01@gmail. PENDAHULUAN Model Project Based Learning (PJBL) merupakan metode pembelajaran yang memotivasi siswa untuk berpartisipasi dalam aktivitas autentik, sehingga mereka dapat belajar secara aktif melalui eksplorasi, kolaborasi, dan penyelesaian masalah yang inovatif menurut (Omelianenko & Artyukhova, 2. Pembelajaran berbasis proyek merupakan metode pengajaran bersifat interaktif, inovatif, dan menarik, di mana siswa belajar melalui pelaksanaan suatu proyek atau kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran dari berbagai perspektif (Syarifudin et al. , 2. Kearifan lokal yang sesuai adalah yang mampu Journal homepage: http://prospek. id/index. php/PROSPEK A p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 menhintegasikan nilai-nilai budaya daerah ke dalam proyek nyata (Ibnu Fitrianto & Muhammad Farisi, 2. Menurut Salamah & Setiawati . Pendekatan pembelajaran yang berlandaskan kearifan lokal tidak hanya terbatas pada penguatan nilai-nilai sosial, melainkan juga memberi ruang bagi siswa untuk inovasi dan menumbuhkan daya cipta. Fakta-fakta yang terjadi di lapangan, kegiatan pembelajaran dengan model PJBL berbasis kearifan lokal telah diterapkan di SDN Pangeran 1 Bajarmasin. Kegiatan tersebut mengaplikasikan model PJBL berbasis keaifan lokal dengan melukis pot bermotif sasirangan secara rutin dalam proses pembelajaran sebagai upaya meningkatkan kreativitas siswa,dengan demikian penerapan model PJBL yang dipadukan dengan nilai-nilai kearifan lokal menjadi strategi pembelajaran yang potensial untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kreatif pada siswa (Rahayu et al. , 2. Setiap akhir semester, sekolah bersama guru, kepala sekolah, dan rekan sejawat, terutama guru kelas V dan VI, menyusun kegiatan proses belajar yang dirancang sesuai dengan kebutuhan serta karakter peserta didik. Data yang diperoleh sejalan dengan kajian penelitian sebelumnya yang dilakukan Saputri dan Desstya . di SD Negeri Teguhan Kabupaten Sragen yang menunjukkan keberhasilan penerapan pembelajaran berbasis kearifan lokal untuk mengembangkan antusiasme, partisipasi aktif, serta minat belajar siswa (Saputri & Desstya, 2. Kegiatan melukis pot bermotif sasirangan melalui model Project Based Learning (PJBL), peserta didik diajak berkolaborasi, berdiskusi, dan mengekspresikan ide kreatif untuk menghasilkan karya yang merefleksikan nilai budaya daerah. Guru memiliki peran dalam memberikan arahan serta bantuan kepada peserta didik seperti memahami makna dan nilai budaya dari setiap aktivitas, seperti pengenalan motif sasirangan, lagu daerah Paris Barantai dan Kambang Baruntai, hingga makanan tradisional seperti soto dan kue khas daerah. Kegiatan tersebut terbukti mampu meningkatkan kreativitas siswa, terlihat dari kemampuan mereka menciptakan variasi pola, warna, dan bentuk yang lebih Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Risma Gusmiarni dan Kusnul Mutamimah . yang menyimpulkan penggunaan model PJBL mampu mendorong pengembangan kompetensi seni budaya melalui proses belajar berdasarkan realitas lingkungan dan menitikberatkan pada kehidupan sehari-hari(Gusmiarni & Mutamimah, 2. Berdasarkan hasil kajian sebelumnya yang dilakukan oleh Ketut Ayu Lola Monika et al. , kajian tersebut meneliti penggunaan model Project Based Learning (PJBL) berbasis kearifan lokal Tri Hita Karana di SDN 7 Sangsit. Bali, melalui kegiatan proyek yang berkaitan dengan nilai-nilai Tri Hita Karana, seperti pembuatan banten Nyepi, siswa belajar bekerja sama, bertanggung jawab, dan menghargai budaya lokal. Penelitian lain berjudul AuImplementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbasis Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SD/MIAy(Sari et al. ,2. juga menyatakan pengintegrasian nilai-nilai budaya daerah pada pembelajaran efektif menumbuhkan keterampilan berpikir kritis serta karakter positif peserta didik. Kedua penelitian sebelumnya hanya berfokus pada peningkatan sikap gotong royong melalui penerapan pembelajaran proyek yang mengintegrasikan kearifan lokal serta penguatan keterampilan berpikir kritis melalui model pembelajaran yang berlandaskan kearifan lokal, dan belum menyoroti serta membahas pengembangan kreativitas peserta didik melalui penerapan model Project Based Learning berbasis kearifan lokal. Dengan demikian, penelitian ini menghadirkan perspektif baru dalam implementasi Project Based Learning, yakni menjadikan kearifan lokal tidak hanya sebagai sarana pembentukan karakter sosial, tetapi juga sebagai sarana yang berfungsi menumbuhkan kreativitas serta potensi pribadi peserta didik di sekolah dasar. Walaupun sejumlah penelitian telah membuktikan efektivitas pembelajaran berbasis kearifan lokal, kajian-kajian tersebut umumnya masih menitikberatkan pada pembentukan nilai sosial, penguatan sikap gotong royong, serta peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Kajian yang secara khusus mengulas pengembangan kreativitas siswa melalui penerapan model Project Based Learning (PJBL) berbasis kearifan lokal, terutama pada jenjang sekolah dasar, masih terbatas. Oleh karena itu, muncul kesenjangan penelitian antara potensi PJBL berbasis kearifan lokal dalam mengembangkan kreativitas peserta didik dan fokus penelitian terdahulu yang lebih dominan pada aspek karakter dan kognitif. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini menjadi penting dilakukan karena berupaya mengatasi keterbatasan studi terdahulu mengenai pengunaan model Project Based Learning berbasis kearifan lokal dalam mengembangkan kreativitas siswa sekolah dasar. Jika aspek ini diabaikan, maka proses belajar berbasis kearifan lokal akan berhenti dalam penguatan nilai sosial tanpa memberi ruang bagi siswa untuk berinovasi dan menumbuhkan daya cipta. Kreativitas merupakan fondasi penting bagi pembelajaran pada global abad ke21 yang menghendaki peserta didik dapat menguasai keterampilan berpikir fleksibel dan produktif (Mantau & Talango, 2. Penelitian ini diharapkan menjadi rujukan bagi pendidik dalam menerapkan model pembelajaran yang memadukan nilai kearifan lokal guna mendorong dan mengembangkan kreativitas peserta (Sakti et al. , 2. Meninjau uraian di atas, penelitian ini berupaya untuk mengkaji implementasi model Project Based Learning (PJBL) yang memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai kearifan lokal upaya mengembangkan kreativitas siswa sekolah dasar. Melalui model ini, peser4ta didik bukan sekedar mengenal dan melestarikan PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2026: 103 - 109 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 budaya daerah namun sekaligus dibimbing untuk berpikir kreatif, berinovasi, serta dapat mengekspresikan ide secara kontekstual. Integrasi nilai budaya lokal dalam pembelajaran berbasis proyek memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan siswa, mendorong kolaborasi, pemikiran kritis, serta kemampuan memecahkan masalah nyata. Melalui pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal, peserta didik dapat membangun rasa bangga terhadap budaya setempat sambil mengasah potensi kreatif siswa sebagai bekal menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21 (H. Sari et al. , 2. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk memahami secara mendalam proses pembelajaran berbasis kearifan lokal melalui model Project Based Learning (PJBL). Metode ini dipilih karena mampu mengungkap secara rinci bagaimana suatu fenomena terjadi serta alasan di baliknya dalam situasi nyata yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh peneliti. Penelitian berlangsung pada semester genap tahun ajaran 2024/2025 dan mencakup aktivitas di ruang kelas maupun area luar sekolah, dengan tujuan menelaah bagaimana perpaduan budaya lokal dan PJBL dapat mendorong kreativitas siswa serta meningkatkan apresiasi mereka terhadap budaya daerah. Partisipan Penelitian dilakukan di SDN Pangeran 1 pada kelas V dan VI yang telah lama menjalankan kegiatan pembelajaran bernuansa budaya daerah, terutama proyek melukis pot bermotif Sasirangan yang menjadi agenda rutin sekolah setiap akhir semester. Guru, siswa, dan kepala sekolah dijadikan unit analisis karena ketiganya berperan langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan pembelajaran. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur serta observasi langsung tanpa keterlibatan peneliti dalam aktivitas peserta. Wawancara dilakukan kepada guru dan kepala sekolah dalam dua sesi masing-masing berdurasi 30Ae45 menit, dengan fokus pada proses perencanaan hingga dampak kegiatan terhadap kreativitas siswa. Observasi dilaksanakan selama dua minggu dengan durasi sekitar dua jam setiap sesi untuk memperoleh gambaran nyata mengenai keterlibatan guru dan siswa, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, serta wujud kreativitas siswa selama kegiatan berlangsung. Analisis Data Analisis data mengikuti model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi proses reduksi data, penyajian data secara terstruktur, serta penarikan kesimpulan secara bertahap dan berulang. Selain itu, digunakan pula teknik analisis tambahan, seperti analisis domain, taksonomi, komponensial, dan tema kultural untuk memperdalam hasil penelitian. Secara keseluruhan, analisis data dilakukan untuk menafsirkan bagaimana integrasi kearifan lokal dalam PJBL mampu menjadi strategi efektif dalam menumbuhkan kreativitas siswa sekaligus memperkuat pemahaman mereka terhadap kebudayaan daerah melalui pengalaman belajar yang autentik dan bermakna. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Project Based Learning Berbasis Kearifan Lokal Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, penerapan model Project Based Learning (PJBL) berbasis kearifan lokal di SDN Pangeran 1 Banjarmasin telah berjalan dengan efektif dan terencana. Kegiatan proyek yang telah dilaksanakan adalah melukis pot bermotif sasirangan, proyek ini melibatkan guru kelas V dan VI, serta disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan siswa. Penyesuaian ini perlu dilakukan karena setiap siswa memiliki keunikan dan karakter yang berbeda, yang berarti kebutuhan belajarnya pun tidak sama. Oleh karena itu, proyek harus dirancang agar mampu mengakomodasi keragaman ini, misalnya dengan memberikan ruang bagi siswa. Pelaksanaan yang terencana dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik ini menjadi fondasi penting bagi keberhasilan model Almujab . , menyatakan bahwa setiap peserta didik merupakan pribadi yang unik dengan kebutuhan, minat, kemampuan, dan gaya belajar berbeda sehingga pengalaman belajar perlu diadaptasi agar sesuai dengan karakteristik mereka. Hal ini sejalan dengan penelitian Saputri & Desstya . di SD Negeri Teguhan yang menemukan keberhasilan penerapan pembelajaran berbasis kearifan lokal dalam mengembangkan antusiasme, partisipasi aktif, serta minat belajar siswa. Pembelajaran berbasis proyek yang mengakomodasi karakteristik dan kebutuhan peserta didik, akan memberikan dampak positif yang besar terhadap pelaksanaan pembelajaran (Saputri & Desstya, 2. Dampak Implementasi Project Based Learning Berbasis Kearifan Lokal Penerapan model Project Based Learning (PJBL) berbasis kearifan lokal di SDN Pangeran 1 Banjarmasin membawa dampak positif pada proses dan hasil pembelajaran siswa lebih terlibat, lebih inovatif, dan lebih yakin pada kemampuan dirinya dalam mengekspresikan ide melalui proyek seperti melukis pot bermotif Melalui kegiatan tersebut, mereka mampu menghasilkan karya orisinal, mengembangkan variasi Putri, et al. Implementasi Model Project . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 pola dan warna sesuai imajinasi, serta menggambarkan kemampuan untuk berpikir secara kritis sekaligus berkolaborasi dalam tim. Integrasi nilai-nilai budaya lokal juga menumbuhkan rasa cinta, tanggung jawab, serta kebanggaan pada budaya Banjar, karena siswa tidak hanya berkreasi tetapi juga mengenal lagu, makanan, serta simbol-simbol tradisional daerahnya. Kegiatan ini juga memberikan dampak positif bagi guru, yaitu guru menjadi aktif dalam menciptakan pembelajaran yang kontekstual dan berpusat pada siswa, sehingga suasana belajar menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Guru juga diberikan keleluasaan dalam merancang proyek untuk proses kegiatan belajar yang sesuai dengan kebutuhan, karakteristik peserta didik, serta potensi kearifan lokal yang tersedia di lingkungan sekitar (Nurul et al. , 2. Penerapan model Project Based Learning (PJBL) secara umum memberikan pengaruh positif pada jalannya proses pembelajaran karena Menciptakan situasi belajar yang bermakna dan kontekstual (Hsbollah & Hassan, 2. Pengintegrasian melalui nilai-nilai kearifan lokal, siswa menjadi terdorong untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah, meningkatkan rasa tanggung jawab, serta memperkuat kerja sama dalam kelompok. Model ini juga menumbuhkan partisipasi aktif siswa dan memicu lahirnya karya-karya kreatif, seperti pembuatan batik jumputan dengan teknik tradisional (Abidah, 2. Dengan demikian, penerapan PJBL berbasis kearifan lokal tidak hanya meningkatkan kreativitas siswa dan memperkuat nilai budaya, tetapi juga membentuk karakter tanggung jawab, kerja sama, serta kebanggaan terhadap identitas budaya daerahnya (Suriansyah et al. , 2. Pengimplementasiaan model ini terbukti berhasil meningkatkan kreativitas siswa. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari kemampuan siswa menghasilkan konsep-konsep baru. memodifikasi pola dan warna, serta menciptakan karya yang orisinal, serta mampu menjelaskan makna dan proses karyanya dengan percaya diri. Temuan mengenai peningkatan kreativitas siswa yang terlihat dari variasi pola, warna, dan kemampuan menghasilkan karya orisinal menegaskan bahwa PJBL berbasis kearifan lokal merupakan strategi efektif. Temuan tersebut selaras dengan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Gusmiarni & Mutamimah . yang menyimpulkan bahwa model PJBL efektif dalam mengembangkan kompetensi seni budaya melalui pembelajaran kontekstual yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari. Peningkatan kreativitas yang signifikan ini juga didukung oleh penelitian Sastradiharja & Febriani . yang mengungkapkan bahwa model PJBL berperan signifikan dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka dan terbukti mampu meningkatkan tingkat kreativitas siswa, tercermin melalui berkembangnya rasa ingin tahu, inisiatif, imajinasi, kepercayaan diri, daya cipta, inovasi, tanggung jawab, serta kebebasan dalam berpikir dan Tantangan dan Hambatan dalam Implementasi Model Project Based Learning berbasis Kearifan Lokal Merujuk pada temuan hasil observasi dan wawancara, penerapan model Project Based Learning (PJBL) berbasis kearifan lokal tidak lepas dari berbagai hambatan dan tantangan yaitu: . Keterbatasan dana dan fasilitas sekolah . Kurangnya dokumentasi dan media pendukung . Variasi kemampuan dan karakter siswa . Pemahaman guru terhadap konsep PJBL berbasis kearifan lokal. Salah satu hambatan utama dalam pelaksanaan kegiatan berbasis kearifan lokal adalah keterbatasan anggaran sekolah. Kegiatan proyek seperti melukis pot bermotif sasirangan memerlukan bahan dan alat tertentu, sementara dukungan dana dari sekolah masih minim. Hal ini menyebabkan guru perlu berinovasi dengan memanfaatkan bahan sederhana atau sumbangan dari lingkungan sekitar. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Astuti et al. , . , adanya keterbatasan anggaran dan fasilitas menjadi hambatan utama dalam pelaksanaan PjBL di sekolah dengan sumber daya terbatas. Berdasarkan hasil wawancara, kegiatan yang dilakukan belum terdokumentasikan dengan baik. Tidak semua hasil karya siswa difoto atau direkam, sehingga sulit dijadikan bukti konkret dalam laporan evaluasi maupun publikasi kegiatan. Kurangnya dokumentasi ini juga menghambat refleksi terhadap hasil pembelajaran dan perkembangan kreativitas siswa. Selain itu kurangnya dokumentasi juga berdampak pada motivasi siswa yang menurun karena merasa kurang diapresiasi. Temuan ini selaras dengan hasil penelitian (Khodijah & Indrayuda, 2. mengungkapkan bahwa motivasi belajar mendorong siswa menjadi lebih rajin, tekun, dan konsentrasi dalam proses pembelajaran. Salah satu strategi yang efektif untuk menumbuhkan motivasi ini adalah dengan memberikan apresiasi terhadap hasil kerja siswa. Guru dihadapkan pada tantangan dalam menyesuaikan pelaksanaan proyek dengan keragaman karakter Sebagian siswa lebih antusias dan produktif saat belajar di luar kelas, sedangkan lainnya lebih fokus ketika berada di dalam kelas. Hal ini seiring dengan hasil penelitian Andini & Praheto . , mengingat tiap peserta didik memiliki keunikan masing-masing, sehingga kebutuhan belajarnya pun tidak sama. Keberagaman ini menuntut guru agar mampu menyesuaikan proses pembelajaran sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa di kelas. Beberapa guru memiliki pemahaman yang berbeda mengenai konsep dan tahapan Project Based Learning (PJBL). Akibatnya, pelaksanaan proyek sering kali berfokus pada hasil akhir tanpa memperhatikan proses PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2026: 103 - 109 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 pembelajaran kolaboratif dan reflektif yang menjadi inti dari penerapan PJBL. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Andini & Praheto . , menyatakan bahwa secara keseluruhan, guru memiliki peran yang kompleks dalam pelaksanaan Project Based Learning (PJBL). Mereka tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai perancang pembelajaran, pembimbing, pengelola kelas, serta evaluator yang mampu menyesuaikan diri dengan dinamika proyek. Pemahaman menyeluruh terhadap peran tersebut menjadikan guru katalisator penting dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna, menarik, dan mampu meningkatkan minat belajar siswa. Solusi Berdasarkan pemaparan berbagai hambatan dan tantangan di atas, solusi pertama yang dapat diterapkan adalah dengan memaksimalkan potensi sumber daya yang tersedia dan membangun kerja sama strategis dengan berbagai pihak di luar sekolah. Sekolah dapat menjalin kolaborasi dengan orang tua, komite sekolah, instansi pemerintah daerah, maupun sektor swasta untuk mendapatkan dukungan berupa pendanaan, material, dan sarana pendukung kegiatan pembelajaran. Penerapan Project Based Learning berbasis kearifan lokal, siswa memerlukan akses terhadap sumber belajar, teknologi, dan peralatan yang memadai. Oleh karena itu, sekolah perlu memastikan ketersediaannya melalui peningkatan fasilitas serta kemitraan dengan pihak eksternal, seperti perpustakaan daerah, lembaga pemerintah, dan perusahaan teknologi, guna menyediakan bahan referensi, perangkat, dan aplikasi pendukung pembelajaran proyek (F. Sari et al. , 2. Mengatasi keterbatasan sumber daya dan kurangnya dokumentasi, sekolah dapat memanfaatkan perangkat yang ada, seperti ponsel guru, untuk merekam kegiatan proyek siswa secara rutin dan menyimpannya dalam arsip digital. Publikasi hasil karya melalui kegiatan pameran seni di sekolah,publikasi melalui media sekolah juga dapat menjadi bentuk apresiasi yang mampu meningkatkan motivasi dan rasa bangga siswa. Pameran seni rupa menjadi sarana pembelajaran dan apresiasi yang tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga memberi kesempatan bagi siswa untuk memahami, menilai, dan menghargai hasil kreativitas mereka sendiri maupun teman-temannya. Melalui kegiatan ini, siswa dapat meningkatkan rasa percaya diri, kreativitas, serta kemampuan berpikir kritis, sekaligus mempererat hubungan antara sekolah dan masyarakat (Khusnul et , 2. Pembentukan komunitas belajar guru menjadi langkah efektif untuk meningkatkan kompetensi dan kepercayaan diri dalam menerapkan Project Based Learning (PJBL). Melalui komunitas ini, guru dapat berbagi strategi dalam menghadapi perbedaan kemampuan dan karakter siswa. Guru juga dapat menerapakan pendekatan diferensiasi sehingga guru dapat menyesuaikan metode serta dukungan belajar sesuai kebutuhan siswa, sehingga PJBL berlangsung dengan inklusif dan optimal (Nadila & Lestari, 2. Pelatihan guru menjadi faktor penting sekaligus solusi dalam mengatasi kendala penerapan Project Based Learning berbasis kearifan lokal. Melalui pelatihan khusus, guru dapat memahami cara merancang dan mengelola proyek yang terintegrasi dengan nilai-nilai budaya daerah. Pemahaman ini membantu guru membimbing siswa secara lebih kontekstual, sehingga kegiatan belajar-mengajar menjadi lebih efektif, bermakna, relevan, dan mampu mengoptimalkan potensi lokal sebagai sumber belajar (Rifky et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Project Based Learning (PJBL) berbasis kearifan lokal di SDN Pangeran 1 Banjarmasin berhasil meningkatkan kreativitas siswa melalui kegiatan yang kontekstual dan berakar pada budaya daerah. Siswa menjadi lebih aktif, percaya diri, serta mampu berpikir kritis dan berkolaborasi dalam menyelesaikan proyek. Implementasi model Project Based Learning (PJBL) berbasis kearifan lokal juga meningkatkan apresiasi terhadap budaya lokal sekaligus menjadikan pembelajaran lebih bermakna, meskipun terdapat tantangan seperti keterbatasan sumber daya. dokumentasi, dan perbedaan karakter siswa, berbagai solusi seperti pelatihan guru, komunitas belajar, dan kemitraan dengan pihak eksternal terbukti dapat mendukung keberhasilan pelaksanaannya. Adapun keterbatasan penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan studi kasus tunggal yang hanya terfokus pada satu lokasi sekolah. Kondisi tersebut menyebabkan validitas eksternal temuan penelitian menjadi terbatas dan bersifat sangat kontekstual, sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan replikasi dengan menggunakan rancangan studi multi-situs . ulti-site stud. , khususnya pada sekolah-sekolah yang memiliki kendala implementasi Replikasi ini diharapkan dapat memvalidasi temuan penelitian serta menguji sejauh mana efektivitas model Project Based Learning (PJBL) berbasis kearifan lokal dapat diadaptasi dan diterapkan secara lebih optimal pada berbagai konteks dan kondisi sekolah. DAFTAR PUSTAKA