Biofarmasetikal Tropis (The Tropical Journal of Biopharmaceutica. 2024, 7. , 52-56 e-ISSN 2685-3167 p-ISSN 2828-6685 Analisis Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis Pada Pasien TB-Paru Menggunakan Kausalitas Naranji di RSUD Jailolo Mitra W. Timburas1. Heru Tatuh2. Irene Palias2 Program Studi Farmasi. Fakultas MIPA. Universitas Kristen Indonesia Tomohon Program Studi Farmasi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Trinita *Penulis Korespondensi. mitra22wy@gmail. Accepted: 21 September 2024. Approved : 25 Oktober 2024 ABSTRAK Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB yaitu Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini diobati dengan Obat Antituberkulosis (OAT) menggunakan obat kombinasi sehingga sebagian besar pasien mengalami efek samping. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek samping Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang terjadi dengan menggunakan kausalitas Naranjo di RSUD Jailolo. Penelitian ini menggunakan Metode pengambilan data secara non-ekesperimental dengan pendekatan studi prospektif pada pasien Tuberkulosis Paru dengan atau tanpa komplikasi yang menerima terapi Obat Anti Tuberkulosis di instalasi rawat jalan RSUD Jailolo pada periode JanuariAeJuli 2024. Hasil kejadian Efek Samping yang terjadi pada pasien yaitu mual sebanyak 15 pasien . %), kehilangna nafsu makan sebanyak 13 pasien . %), demam sebanyak 13 pasien . %), muntah sebanyak 10 pasien . %), gatal-gatal sebanyak 7 pasien . %), dan Pusing sebanyak 5 pasien . %). Hasil penilaian kausalitas menggunakan Algoritma Naranjo pada pasien Tuberkulosis Paru ini terjadi dengan interpretasi skor nilai yaitu >9 sebanyak 2 pasien dan 5-8 sebanyak 23 pasien. Kata kunci: Tuberkulosis Paru. Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Efek Samping. Alogaritma Naranjo. ABSTRACT Tuberculosis (TB) is a direct infectious disease caused by TB germs, namely Mycobacterium This disease is treated with Antituberculosis Drugs (OAT) using a combination of drugs so that most patients experience side effects. The aim of this research is to determine the side effects of Anti-Tuberculosis Drugs (OAT) that occur using Naranjo causality at Jailolo Regional Hospital. This study used a non-experimental data collection method with a prospective study approach in pulmonary tuberculosis patients with or without complications who received anti-tuberculosis drug therapy in the outpatient installation of Jailolo Regional Hospital in the period JanuaryAeJuly 2024. The results of the side effects that occurred in the patients were namely nausea in 15 patients . %), loss of appetite in 13 patients . %), fever in 13 patients . %), vomiting in 10 patients . %). Itching was 7 patients . %), and dizziness was 5 patients . %). The results of causality assessment using the Naranjo Algorithm in Pulmonary Tuberculosis patients occurred with a score interpretation of >9 for 2 patients and 5-8 for 23 patients. Keywords: Pulmonary Tuberculosis. Anti-Tuberculosis Drugs (OAT). Side Effects. Naranjo Alogrithm. PENDAHULUAN dengan hasil bahwa Indonesia masih termasuk dalam negara yang berpartisipasi kasus TB terbesar di dunia2. Estimasi insiden TB di Indonesia tahun 2021 sebesar 969. 000 atau 354 000 penduduk. TB-HIV sebesar 22. kasus pertahun atau 8,1 per 100. 000 penduduk. Di RSUD Jailolo TB merupakan penyakit yang termasuk dalam sepuluh besar penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB yaitu Mycobacterium tuberculosis yang pada umumnya menyerang jaringan paru tetapi dapat juga menyerang organ lainnya1. Pada tahun 2023. WHO pernah melakukan penelitian Biofarmasetikal Tropis e-ISSN 2685-3167 p-ISSN 2828-6685 (The Tropical Journal of Biopharmaceutica. 2024, 7. , 52-56 terbanyak dan menempati urutan keenam. Dari data yang diperoleh dari pihak Rumah Sakit bahwa ada peningkatan kasus TB dari Tahun Tahun 2022 jumlah TB Sensitif obat 217 kasus. TB Resisten Obat 6 kasus. Tahun 2023 jumlah TB Sensitif Obat 165 kasus. TB Resisten Obat 4 kasus. Efek samping obat terjadi karena kerja sekunder obat yang merupakan efek tidak langsung akibat kerja utama obat seperti antibiotik spektrum luas yakni OAT yang bisa mengganggu keseimbangan bakteri usus dan menyebabkan defesiensi vitamin3. penyakit Tuberkulosis Paru terjadi pada laki-laki sebanyak 14 pasien dengan presentase 56%, sedangkan pada perempuan yaitu 11 pasien dengan presentase 44%. Jenis kelamin berkaitan dengan peran kehidupan dan perilaku yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam Dalam hal menjaga kesehatan biasanya kaum perempuan lebih memperhatikan kesehatannya dibandingkan laki-laki. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa laki-laki lebih rentan terkena penyakit Tuberkulosis paru. Hal ini disebabkan karena beban kerja mereka yang berat, istirahat yang kurang, serta gaya hidup yang tidak sehat di antaranya adalah merokok dan minum alkohol4. Hal ini sejalan denga hasil penelitian yang di lakukan didapatkan bahwa responden yang mengalami Tuberkulosis Paru pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 55 pasien . ,75%) lebih banyak dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 25 pasien . ,25%). Pada laki-laki masalah kesehatan yang kerap kali terjadi seperti merokok dan minum alkohol sehingga menurunkan pertahanan tubuh seseorang dan mengurangi kapasitas fungsi paru-paru akibatnya lebih gampang terinfeksi dengan kuman Tuberkulosis, pada laki-laki juga lebih banyak mobilitas dan aktivitas diluar, mengingat fungsinya sebagai kepala rumah tangga yang menjadi tulang punggung keluarga, sehingga lebih gampang terpapar kuman Tuberkulosis baik di lingkungan pekerjaan, sekolah maupun lingkungan sekitar tempat METODE PENELITIAN Metode pengambilan data di lakukan secara non-ekesperimental dengan pendekatan studi prospektif pada pasien Tuberkulosis Paru dengan atau tanpa komplikasi yang menerima terapi Obat Anti Tuberkulosis di instalasi rawat jalan RSUD Jailolo pada periode JanuariAeJuli Data hasil penelitian di alalisis secara Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian ini dilakukan di RSUD Jailolo dan penelitian ini akan dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2024. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien rawat jalan yang di diagnosis Tuberkulosis di RSUD Jailolo. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien rawat jalan yang di diagnosis Tuberkulosis Paru yang menerima terapi Obat Anti Tuberkulosis di RSUD Jailolo pada periode Januari-Juli 2024. Karateristik responden berdasarkan Usia Tabel 2. Karakteristik pasien berdasarkan usia HASIL DAN PEMBAHASAN Karateristik Kelamin Pasien Jenis Tabel 1. Karakteristik pasien berdasarkan jenis Kelamin Karakteristi Kelompok Jumla Pasien Presentas e (%) Jenis Kelamin Laki-laki Perempua Karakteristik Kelompok Usia >60 Jumlah Pasien Presentase (%) Pasien Tuberkulosis paru di RSUD Jailolo di kelompokan berdasarkan usia. Klasifikas usia pasien digunakan sebagai batasan dalam mengetahui banyaknya pasien Tuberkulosis Paru. Berdasrkan karkateristik usia yang di sajikan dalam Tabel 2 Tuberkulosis Paru banyak terjadi pada rentang usia 20-59 tahun . sia Produkti. yaitu sebanyak 21 pasien dengan presentase 84%. Lingkungan kerja yang padat serta berhubungan dengan banyak orang juga Tuberkulosis Paru. Kondisi kerja yang demikian Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Jailolo dikelompokan berdasrkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1 Menunjukan angka tertinggi Biofarmasetikal Tropis (The Tropical Journal of Biopharmaceutica. 2024, 7. , 52-56 ini memudahkan seseorang yang berusia produktif lebih mudah dan lebih banyak menderita Tuberkulosis Paru6. Pada usia >60 tahun . jumlah pasien Tuberkulosis Paru yaitu sebanyak 4 pasien dengan presentase 16%. Pasien usia dewasa akhir . ketika semakin bertambahnya usia, dapat mengalami penurunan fungsi fisiologis pada tubuh salah satunya terjadi penurunan system imun tubuh yang meningkatkan risiko pasien terinfeksi e-ISSN 2685-3167 p-ISSN 2828-6685 Puskesmas Tobelo lupa meminum obat antihipertensi antara lain, faktor Usia yang semakin sering lupa dilihat dari faktor usia dari 70 responden yang menjawab Ya terdapat 11 orang yang berusia 33 Ae 44 tahun, 44 orang yang berusia 45 Ae 65 tahun dan 15 orang yang berusia >65 tahun, banyaknya kegiatan yang dilakukan sehingga meyebabkan pasien-pasien tersebut menjadi. 25 pasien yang menggunakan Obat Anti Tuberkulosisi (OAT) Kombinasi dosis tetap RHZE. /75/400/. RH. sebanyak 2 pasien . %), kemudian dosis kombinasi Bedaquuiline 100mg. Ethambutol 400mg. Clofazimin 100mg. Pyrasinamid 500mg. Isoniazid 300mg. Etionamid 250mg dan Lefofloxacin 250mg sebanyak 2 pasien . %). Responden dengan kategori pasien baru . elum pernah berobat TB) diberi OAT kombinasi dosis tetap (KDT) lini pertama yaitu Isoniazid (H), Rifampicin (R), Pyrazinamide (Z). Streptomycin (S) dan Ethambutol (E). Dosis OAT yang diberikan kepada pasien TB ini bergantung dengan berat Pada pasien TB dengan berat badan 3037 kg diberikan 2 tablet/hari, berat badan 38-54 kg diberikan 3 tablet/hari, berat badan 55-70 kg diberikan 4 tablet/hari dan berat badan lebih dari 71 kg diberikan 5 tablet/hari7. Karakteristik Berdasarkn Tahap Pengobatan Hasil karakteristik pasien berdasarkan tahap pengobatan diperoleh hasil bahwa pasien Tuberkulosis lebih banyak terjadi pada tahap pengobatan lanjutan sebanyak 22 pasien dengan presentase 88%. Pengobatan TB membutuhkan waktu yang lama dengan 2 fase pengobatan yakni fase intensif dan lanjutan. Waktu pengobatan yang lama dikarenakan bakteri M. tuberculosis sulit untuk dibunuh sehingga perlu waktu yang panjang untuk mengoptimalkan penyembuhan Pasien yang menjalani fase intensif jika pengobatannya dilakukan dengan benar maka bakteri yang aktif bereplikasi dan dorman akan mati atau terhambat oleh OAT sehingga di akhir fase intensif terjadi konversi BTA dari positif menjadi negatif. Fase lanjutan bertujuan unuk membunuh bakteri persister sehingga pasien dapat sembuh dan mencegah Pengobatan tahap intensif pada semua pasien baru harus diberikan selama 2 bulan dengan diberikan setiap hari dan perlu adanya pengawasan untuk mencegah terjadinya resistensi obat, sedangkan pada tahap lanjutan diberikan selama 4 bulan, pada tahap ini seharusnya obat juga bisa diberikan setiap hari. Kemudian pasien resisten Obat pada tahap pengobatan intensi obat di berikan selama 6 bulan dan pada tahap lanjutan juga diberikan selama 6 bulan7. Efek Samping Penggunaan OAT Gambar 1. Gambaran Kejadian Efek Samping Akibat Penggunaan OAT Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Berdasarkan data di atas untuk pertanyaan 1 sebanyak 70 orang menjawab ya dan 20 orang menjawab tidak. Cara minum obat hipertensi yang tidak teratur, bisa meningkatkan resiko komplikasi dari tekanan darah tinggi. Dampak yang terjadi jika pasien hipertensi lupa minum obat antihipertensi yaitu pasien akan mengalami gagal jantung dan bisa Stroke. Faktor yang mempengaruhi pasien hipertensi di Berdasarkan mendapatkan hasil bahwa dari 25 pasien Tuberkulosis Paru yang merasakan efek samping mual sebanyak 15 pasien . %), kehilangna nafsu makan sebanyak 13 pasien . %), demam sebanyak 13 pasien . %), muntah sebanyak 10 pasien . %), gatal-gatal sebanyak 7 pasien . %), dan Pusing sebanyak 5 pasien . %). Keluhan efek samping mual memang tidak selalu di sertai dengan muntah keluhan ini Biofarmasetikal Tropis e-ISSN 2685-3167 p-ISSN 2828-6685 (The Tropical Journal of Biopharmaceutica. 2024, 7. , 52-56 biasanya langsung dirasakan oleh pasien setelah meminum obat. Obat yang menyebabkan efek samping mual dan muntah adalah isoniazid. Mekanisme kerja isoniazid yaitu berpengaruh terhadap proses biosintesis lipid, protein, asam nukleat dan glikolisis. Aksi utama isoniazid menghambat biosintesis asam mikolat yang mempunyai konstituen penting dalam dinding sel mikrobakteri. Perubahan pada biosintesis senyawa-senyawa di atas karena terbentuk komplek enzim obat yang tidak aktif. Inaktifitas enzim ini terjadi melalui mekanisme perubahan nikotinamida dalam enzim oleh isoniazid 8. Kurang nafsu makan dikarenakan Isoniazid. Rifampisin dan Pirazinamid. Isoniazid memiliki rumus kimia yang sama dengan piridoksin tubuh sehingga dapat berinteraksi dan menyebabkan defisiensi vitamin9. Keluhan pusing, demam dan gatal pada kulit disebabkan oleh obat Isoniazid. Pemberian isoniazid dan ethambutol dapat menyebabkan gangguan terhadap system saraf perifer, gangguan sensori serta kelemahan system motorik. Akan tetapi sampai saat ini angka kejadiaan efek samping pada pemberian obatobatan jenis ini masih sedikit dilaporkan. pengecekan terhadap konsentrasi obat dalam darah atau cairan tubuh pasien. Algoritma Naranjo bisa digunakan sebagai nilai perubahan status klinis yang mengarah ke ADR (Adverse Drug Interactio. Kategori kausalitas berdasarkan WHO yaitu terdiri dari beberapa bagian berdasarkan skor. Total skor 0 . artinya tidak ada kejadian efek samping, akan tetapi karena faktor lain selain dari penggunaan obat yang telah dicurigai. Total skor 1Ae4 . artinya kondisi klinis yang dirasakan pasien mungkin merupakan berasal dari efek samping, total skor 5Ae8 . artinya kemungkinan kondisi yang tidak diinginkan yang merupakan kejadian efek samping dari obat yang telah dicurigai dan skor lebih dari sama dengan 9 . artinya keluhan yang dirasakan pasien pasti terjadinya kejadian efek samping yang diakibatkan oleh penggunaan obat yang dicurigai10. KESIMPULAN Kejadian efek samping yang paling banyak terjadi pada pasien di RSUD Jailolo yaitu efek samping mual sebanyak 15 pasien . %), kehilangna nafsu makan sebanyak 13 pasien . %), demam sebanyak 12 pasien . %), muntah sebanyak 10 pasien . %), gatal-gatal sebanyak 7 pasien . %), dan Pusing sebanyak 5 pasien . %). Hasil penilaian kausalitas pasien Tuberkulosis Paru menggunakan Algoritma Naranjo AuKemungkinanAy kejadian efek samping pada pasien tuberkulosis paru ini terjadi dengan interpretasi skor nilai yaitu >9 sebanyak 2 pasien dan 5-8 sebanyak 23 pasien. Penilaian Menggunakan Kausalitas Naranjo (Diraguka. 1-4 (Cukup Mungki. (Mungki. Gambar 2. Hasil Rekapitulasi Penilaian Kausalitas Algoritma Naranjo DAFTAR PUSTAKA