CENDEKIA Volume xx Issue xx . Pages 28-34 P-ISSN x-x. E-ISSN x-x https://ejournal. id/index. php/cendekia Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kompetensi Sosial Guru Di Smk Darunnajah Cipining Bogor Yunita Nurkholifah. Universitas Darunnajah yunitanurkholifah02@gmail. Received: 20-05-2025 Revised: 21-05-2025 Accepted: 23-05-2025 Published: 24-05-2024 DOI: https://doi. org/10. 61159/cendekia. Abstract Social competence is the ability of educators as part of the community to communicate with the skills to interact effectively and efficiently with students, so the social role of a teacher is very important. If a teacher does not have social competence, the relationship between the principal and the surrounding community will not be harmonious. The method used is a quantitative approach. Sampling of 20 teachers The data collection is using a questionnaire questionnaire. The data analysis technique used is simple regression and correlation in the form of descriptive analysis, inferential analysis, and test requirements analysis. It is known that the results of statistical calculations using SPSS 16 show that there is a relationship between the leadership style of the principal and the teacher's environment on the social competence of teachers at SMK Darunnajah Cipining, as evidenced by the value (R y. = 0. 729 which means it has a strong relationship. With a range of values . , a significant value of 0. 000 <0. 05 then H0 is rejected and H1 is accepted which means it is significant, and the coefficient of determination is 54. 0% while the remaining 46. 0% is influenced by others. Keywords: Leadership Style. Work Environment. Social Competence. Abstrak Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dengan keterampilan untuk berinteraksi secara efektif dan efisien dengan siswa, sehingga peran sosial seorang guru sangat penting. Jika seorang guru tidak memiliki kompetensi sosial, hubungan antara kepala sekolah dan masyarakat sekitar tidak akan harmonis. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Sampel yang diambil adalah 20 guru. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi sederhana dan korelasi dalam bentuk analisis deskriptif, analisis inferensial, dan analisis syarat uji. Diketahui bahwa hasil perhitungan statistik menggunakan SPSS 16 menunjukkan bahwa ada hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan kerja guru terhadap kompetensi sosial guru di SMK Darunnajah Cipining, yang dibuktikan dengan nilai (R y. = 0,729 yang berarti memiliki hubungan yang kuat. Dengan rentang nilai . ,60-0,. , nilai signifikan 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti signifikan, serta koefisien determinasi sebesar 54,0% sementara sisanya 46,0% dipengaruhi oleh faktor lain. Kata Kunci: Gaya Kepemimpinan. Lingkungan Kerja. Kompetensi Sosial. Introduction Dalam menciptakan pendidikan yang bermutu perlu adanya dukungan dari seluruh sumber pendidikan yang meliputi keuangan, kurikulum, fasilitas, tenaga kependidikan, dan pendidik . Dalam lingkungan pendidikan juga diperlukan budaya organisasi agar pendidikan berjalan dengan baik. (Susanto, 2. Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen, guru harus mempunyai kemampuan yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional di mana kemampuan ini terdapat melalui pendidikan profesi. Salah satu dari kemampuan guru yang harus dimiliki adalah Kompetensi sosial guru, yang perlu dibangun secara beriringan dengan kompetensi guru dalam berkomunikasi, bekerja sama, bergaul simpatik, dan mempunyai jiwa yang menyenangkan. Tentu ini semua harus ditanamkan dengan baik oleh guru. (Indonesia, 2. Pandangan masyarakat terhadap guru ialah sebagai suri tauladan bagi peserta didik yang perlu dicontoh dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu guru harus mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi yang baik terhadap peserta didik dan juga masyarakat, guna mendukung kegiatan proses pembelajaran. ketika seorang guru mempunyai kemampuan dalam Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan 28 berkomunikasi yang ada di lingkungannya, akan menciptakan sebuah hubungan yang harmonis anatara sekolah dengan masyarakat, sehingga menimbulkan rasa saling menguntungkan antara sekolah dengan Guru profesional harus mampu menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang guru kepada siswa, orangtua, masyrakat, bangsa, negara dan agamanya. Tanggung jawab pribadi, mandiri yang mampu memahamidirinya, mengelola, mengendalikan, dan menghargai serta mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Tanggung jawab sosial serta diwujudkan melalui kompetensi guru dalam memahami dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan, dari lingkungan sosial serta memiliki kemampuan kompetensi sosial. Kepala sekolah yang berhasil adalah mereka yang memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang bersifat kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan tugas sekolah, serta bertanggung jawab untuk memimpin sekolah. Disisi lain setiap guru memiliki persepsi yang berbeda satu sama lainnya mengenai gaya kepemimpinan kepala sekolah. Apapun gaya kepemimpinan kepala sekolah, yang penting kepemimpinan kepala sekolah itu mampu mendukung kinerja bawahannya. Selain kepemimpinan kepala sekolah, seorang guru tentu mengharapkan lingkungan tempat ia bekerja merupakan lingkungan yang aman, nyaman, dan tentram. Menurut Alex lingkungan kerja merupakan segala sesuatu yang ada disekitar pekerja dan dapat mempengaruhi mereka dalam menjalankan tugastugas yang dibebankan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan perilaku pekerja yang berhubungan dengan kondisi lingkungan kerja. Lingkungan ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu lingkungan kerja yang menyangkut segi fisik dan segi psikis. (Nitisemitro, 2. Kondisi lingkungan kerja yang menyangkut segi fisik antara lain: keadaan bangunan, tersedianya beberapa fasilitas, dan letak gedung atau tempat kerja yang strategis. Sementara itu, kondisi lingkungan kerja yang menyangkut segi fsikis antara lain: perasaan aman dari para pegawai dalam menjalankan tugasnya, rasa loyalitas serta perasaan puas dikalangan pegawai. Oleh karena itu, lingkungan yang aman, nyaman, dan tentram akan membuat seseorang betah untuk tetap bekerja di tempat tersebut. Tidak hanya itu saja, rekan kerja yang baik seta sarana dan prasarana yang ada di sekolah akan mempengaruhi guru dalam melaksanakan tugasnya. Ketika gaya kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan sekolah diterima baik oleh para guru, maka akan meningkatkan kompetensi sosial gurunya. Akan tetapi setelah peneliti melakukan survei di SMK Darunnajah Cipining Bogor mendapatkan Kurangknya sinergeritas antara pendidik dengan kepala sekolah serta Pendidik dan Kepala Sekolah Kurang Harmonis sehingga tidak ada suasana yang sehat dan bersahabat. AuLingkungan kerja sekolah kurang memadaiAy Suasana kerja kurang nyaman karena kurangnya fasilitas yang ada. Rendahnya rasa tanggung jawab guru dalam mendidik siswa diluar sekolah serta Rendahnya perhatian pendidik terhadap siswa di sekolah menyebabkan kurangnya berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat sekitar sekolah. Methods Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan pendekatan kuantitatif mengunakan regresi ganda. Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel, yaitu Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah . ariabel X. Lingkungan Kerja . ariabel X. dan Kompetensi Sosial Guru . ariabel Y) yang akan di cari korelasinya. (Sangadji & Sopiah, 2. Variabel terikat yaitu Kompetensi Sosial Guru yang dilambangkan dengan huruf Y . ariabel Y). Variabel bebas pertama yaitu Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah yang dilambangkan X 1 . ariabel X. Variabel bebas kedua yaitu Lingkungan Kerja yang dilambangkan X2 ( variabel X. Result and Discussion Kajian Teori Pengertian Kompetensi Sosial Guru Peran guru di dalam masyrakat sangatlah berpengaruh positif untuk masyarakat, dimana guru harus meciptkan peserta didik untuk menjadi generasi yang baik dan harus Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan 29 membimbing masyarakat dalam hal kegitan yang positif di masa yang akan datang sebagai mana pendapat yang dikemukakan Mulyasa Kompetensi Sosial adalah salah satu daya atau kemampuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang baik serta kemampuan untuk mendidik, membimbing masyarakat dalam menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. (Mulyasa, 2. Menurut Mohamad Saekhan Muchith sebagaimana di kutip oleh Ramayulis "Kompetensi sosial adalah seperangkat kemampuan dan ketrampilan yang berkaitan dengan hubungan atau intraksi dengan orang lain. " Maka guru harus multi talenta dalam aspek bidang ketrampilan, schingga guru dapat mejalin hubungan yang hangat dengan peserta didik, teman profesi, orang tua/wali peserta didik, dan juga masyarakat. (Ramayulis, 2. Sebagaimana guru juga manusia biasa yaitu sebagai makhluk sosial yang menjalankan kehidupan membutuhkan intraksi dengan orang lain. Seperti yang dikemukakan Jamil Suprihatiningsih kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyrakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan siswa, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua peserta didik, dan masyarakat sekitar. (Suprianingsih, 2. Dari empat konsep di atas terdapat 3 konsep yang memiliki persamaan yang menyatakan bahwa kompetensi sosial adalah . kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dari kertampylan untuk berintraksi secara efektif dan efesien dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Namun yang membedakannya menurut konsep Enco Mulyasa Kompetensi sosial ialah salah satu daya atau kemampuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang baik serta kemampuan untuk mendidik, membimbing masyarakat dalam menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Fungsi Kompetensi Sosial Masyarakat dalam proses pembangunan sekarang ini guru sebagai anggota masyarakat yang memiliki kemampuan , keterampilan yang cukup luas, yang mau ikut serta secara aktif dalam proses pembangunan. Guru diharapkan menjadi pelopor di dalam pelaksanaan Guru perlu menyadari posisinya di tengah-tengan masyarakat berperan sangat penting, yakni sebagai: Motivator dan Inovator dalam Pembangunan Pendidikan . Perintis dan Pelopor Pendidikan . Penelitian dan Pengkajian Ilmu Pengetahuan . Pengabdian. (Saudagar & Firdaus, 2. Indikator Kompetensi Sosial Menurut Permendiknas No. 16 Tahun 2007 kemampuan dalam standar kompetensi ini mencakup empat kompetensi utama yakni : Bersikap Inklusif. Bertindak Objektif dan tidak Diskrimitatif Bersikap inklusif artinya bersikap terbuka terhadap berbagai perbedaan yang dimiliki oleh orang lain dalam berintraksi. Guru dalam berintraksi dengan siswa atau sesame guru juga berhadapan dengan realitas ini. Siswa memiliki latar belakang yang berbeda- beda dari segi jenis kelamin, agama, suku, ras, status sosial ekonomi, dan Perbedaan perbedaan selera, minat, preferensi juga dapat membawa situasi konflik yang potensial. Situasi semacam ini memiliki potensi konflik tertentu baik laten atau nyata. Berkomunikasi secara Efektif. Empatik dan Santun Pada prinsipnya, komunikasi yang efektif terjadi apabila pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan . dapat diterima denganbaik oleh penerima . rang tua, rekan sejawat, atau masyarakat pada umumny. , dipahami maksudnya dan bias menghasilkan efek yang diharapkan dalam diri penerima pesan. Efektivitas komunikasi tergantung pada beberapa factor yakni: penerima pesan . , pengirim pesan . , pesan dan situasi. 30 Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan . Beradaptasi di Tempat Tugas Guru Indonesia telah disiapkan untuk mampu bekerja di seluruh Indonesia. telah disiapkan sebagai abdi negara dan abdi masyrakat di mana saja di seluruh wilayah Indonesia. Karna itu guru harus memiliki cultural intelligence (CI) yakni kemampuan untuk berdaptasi dengan kondisi budaya yang beraneka ragam di seluruh Indonesia. Kemampuan beradaptasi ini antara lain ditunjukan dengan kemampuan untuk menampakan diri sebagai warga masyrakat dimana ia bekerja, kemampuan untuk memahami menggunakan bahasa setempat sebagai bahasa pergaulan, dan kemampuan untuk menghargai keunikan, kekhasan, dan nilai-nilai budaya dan adat istiadat dari masyrakat setempat. Berkomunukasi dengan Komunitas Profesi Sendiri dan Profesi Lain Kemampuan komunikasi guru tidak hanya sebatas komunikasi dalam konteks pembelajaran yang melibatkan intraksi guru siswa, tetapi juga kemampuan untuk bias berkomunikasi secara ilmiah dengan komunitas seprofesi maupun komunitas profesi lain dengan menggunakan berbagai macam media dan forum. (Permendiknas, 2. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Kompetensi Sosial guru adalah kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dengan sesame makhluk bisa seorang guru, siswa, dan masyarakat sekitar. Gaya Kepemimpinan Pengertian Gaya dan Kepemimpinan Gaya kepemimpinan adalah sifat, kebiasaan, tempramen,watak dan kepribadian yang membedakan seorang pemimpin dalamberinteraksi dengan orang lain. Menurut Miftah. Thoha. Augaya kepemimpinan merupakan norma prilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi prilaku orang lain atau bawahan. (Thoha, 2. Sedangkan menurut Bangun, ada empat gaya kepemimpinan berdasarkan model jalursasaran yang terdiri dari: (Bagun, 2. Kepemimpinan Direktif . irective leadershi. , bawahan mengetahui apa yang diharapkan dari mereka, dan pemimpin memberi pengarahan yang spesifik dalam menyelesaikan . Kepemimpinan Suportif (Supportive leadershi. , pemimpin dengan sikap ramah, dan menunjukkan perhatian besar kepada para bawahannya. Kepemimpinan Partisipatif . artisipative leadershi. , pemimpin berkonsultasi dan menggunakan saran dari bawahan sebelum mengambil keputusan. Kepemimpinan berorientasi pada prestasi . he achievmentoriented leadershi. , pemimpin menetapkan serangkaian sasaran yang menantang dan mengharapkan mereka bisa mengerjakan dengan hasil yang baik. Jenis - Jenis Gaya Kepemimpinan . Gaya kepemiminan Otoriter. Otoriter berasal dari bahasa yunani. Istilah otokratis berasal dari dua kata yaitu: autos dan kratos. Autos berarti sendiri atau diri pribadi, kratos adalah kekuasaan atau kekuatan. Otoriter adalah suatu bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya dipegang oleh satu orang. Jadi otokratis berarti berkuasa sendiri secara mutlak . entre of authorit. Kepemimpinan otokratis merupakan kepemimpinan yang dilakukan oleh seorang pemimpin dengan prilaku otoriter. Gaya Kepemimpinan Otoriter adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan. (Hasibuan, 2. Gaya kepemimpinan Demokratis. Tipe kepemimpinan demokratis adalah kebalikan dari pemimpin otoriter disini pemimpin ikut berbaur dan berada ditengah-tengah Hubungan yang tercipta juga tidaklah kaku seperti majikan dengan bawahan, melainkan seperti saudara sendiri. Pemimpin selalu memperhatikan Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan 31 kebutuhan kelompoknya dan mempertimbangkan kesanggupan kelompok dalam mengerjakan tugas. Pemimpin juga mau menerima masukan dan saran dari (Hasian, 2. Gaya kepemimpinan Kharismatik. Tipe kepemimpinan kharismatik memiliki energi dan daya tarik yang luar biasa untuk dapat mempengaruhi orang lain, maka tidaklah heran apabila memiliki pengikut atau masa yang jumlahnya besar. Sifat kharismatik yang dimiliki adalah karunia dari tuhan. Pemimpin kharismatik bisa dilihat dari cara mereka berbicara, berjalan maupun bertindak. (Hasian, 2. Indikator Gaya Kepemimpinan Indikator kepemimpinan menuruut Pamdji ialah : Pengaruh. Yaitu serangkaian usaha yang dilakukan oleh seorang pemimpin, dengan menunjukan keteladanan, kewibawaan dan kecakapan,untuk mengerakkan dan mengarahkan bawahan melakukan tugastugasnya guna mencapai tujuan organisasi atau perusahaan secara efektif dan efisien. Pengaruh yang baik yang diberikan seorang pemimpin kepada bawahan akan membantu pencapaian tujuan sekolah. Informasi. Yaitu serangkaian usaha yang dilakukan oleh seorang pemimpin untuk memperoleh dan menyampaikan berita atau pesan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada bawahannya, sehingga guru atau bawahannya mengerti dan dapat melaksanakan tujuan perusahaan secara efektif dan efisien. Informasi harus disampaikan kepada bawahan agar bawahan dapat melaksanakan pekerjaan sesuai tujuan sekolah. Pengambilan keputusan. Yaitu serangkaian usaha yang dilakukan oleh seorang pemimpin dalam menentukan strategi perusahaan guna mencapai tujuan perusahaan secara efektif dan efisien, baik dengan memperhatikan saran dari bawahannya maupun atas keputusan sendiri. Keputusan yang diambil dengan memperhatikan visi dan misi . Memotivasi. Yaitu serangkaian usaha yang dilakukan oleh seorang pemimpin untuk dapat memberikan motif atau dorongan, memenuhi harapan dan memberikan penghargaan kepada karyawan atau bawahannya sehingga bawahan merasa termotivasi melakukan tugas dengan ikhlas, antusias dan senang hati guna mencapai tujuan perusahaan secara efektif dan efisien. (Hasian, 2. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Gaya Kepemimpinan adalah tindakan yang dilakukan seseorang dalam sebuah kelompok untuk mempengaruhi, menggerakkan, dan mengkoordinasikan kinerja anggotannya dalam mencapai tujuan yang dapat diukur dengan indikator: Pengaruh. Informasi, dan Memotivasi Lingkungan Kerja Pengertian lingkungan kerja Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang berada di sekitar para pekerja dan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diembankan kepada Guru atau Pendidik. Berangkat dari pengertian di atas, dapat di pahami bahwa, lingkungan kerja adalah keadaan fisik yang dapat mempengaruhi guru saat menjalankan tugasnya. Lingkungan kerja yang tidak mendukung dapat menyebabkan kehadiran guru menjadi menurun dan membuat guru menjadi bosan dan motivasi dalam menjalankan tugasnya pun akan terhambat di karenakan lingkungan tersebut. (Nitisemitro, 2. Jenis-jenis lingkungan kerja Sedarmayanti menyatakan bahwa secara garis besarnya, jenis lingkungan kerja terbagi 2 yaitu. lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik. Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi guru secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan Kerja Non Fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun hubungan sesama rekan kerja 32 Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan ataupun hubungan dengan bawahan. Kedua garis lingkungan kerja tersebut baik lingkungan fisik maupun lingkungan non fisik sangat menentukan kinerja dari guruguru dan dapat meningkatkan kinerja mereka. Lingkungan kerja yang tidak memadai akan dapat menurunkan kinerja, sebaiknya Lingkungan kerja yang baik akan menambah kinerja lebih meningkat. Suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan baik atau sesuai apabila para guru dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman, dan nyaman. Kesesuaian lingkungan kerja dapat dilihat hasilnya dalam jangka waktu yang cukup lama. (Sedarmayanti, 2. Indikator Lingkungan kerja Indikator lingkungan kerja yang di ungkapkan oleh Nitisemito meliputi : Suasana kerja, adalah kondisi yang ada disekitar guru yang sedang melakukan pekerjaan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan itu sendiri. Suasana kerja ini akan meliputi tempat kerja, fasilitas dan alat bantu pekerjaan, kebersihan, pencahayaan, ketenangan termasuk juga hubungan kerja antara orang-orang yang ada ditempat . Hubungan dengan rekan kerja, yaitu hubungan dengan rekan kerja harmonis dan tanpa ada saling intrik diantara sesama rekan sekerja. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi guru tetap tinggal dalam satu organisasi adalah adanya hubungan yang harmonis diantara rekan kerja. Hubungan yang harmonis dan kekeluargaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja guru. Tersedianya fasilitas kerja. Hal ini dimaksudkan bahwa peralatan yang digunakan untuk mendukung kelancaran kerja lengkap/mutakhir. Tersedianya fasilitas kerja yang lengkap, walaupun tidak baru merupakan salah satu penunjang proses dalam bekerja. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Lingkungan Kerja adalah keadaan fisik yang dapat mempengaruhi guru saat menjalankan tugasnya. Analysis/Discussion Berdasarkan hasil uji normalitas gaya kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan kerja guru pada tabel Test Of Normality Kolmogorov-Smirnova test pada bagian sig 0,200 > 0,05 yang berarti data berdistribusi normal. Begitu pula hasil uji normalitas kompetensi sosial guru pada tabel Test Of Normality Kolmogorov-Smirnova test pada bagian sig 0,200 > 0,05 yang berarti data berdistribusi normal. Berdasarkan hasil pengujian regresi dengan menggunakan regresi product moment, dapat diketahui bahwa regresi (Rx. = 0,700 dan 0,729 dengan nilai probabilitas . Fchange ) = 0,000 karena nilai 0,000 < 0,05 maka keputusannya adalah H1 : diterima dan H0 ditolak. Artinya signifikan. Jadi, adanya pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan kerja guru terhadap kompetensi sosial guru terbukti dengan persamaan regresi adalah yy = 14,732 0,235 0,638 X artinya jika gaya kepemimpinan kepala sekolah (X. dan lingkungan kerja guru (X. ditambah 1 skor maka akan bertambah kompetensi sosial guru (Y) sebesar 0,235 dan 0,638 dengan konstanta 14,732. Hal ini menunjukan bahwa apabila gaya kepemimpinan kepala sekolah (X. dan lingkungan kerja guru (X. baik, maka kompetensi sosial guru akan meningkat. Jadi hasil analisis pengujian hipotesis penelitian menyatakan bahwa H : ryx> 0 maka diterima H1 yang berarti adanya hubungan gaya kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan kerja guru terhadap kompetensi sosial guru di SMK Darunnajah Cipining. Dari analisis tersebut, dapat diketehui bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan kerja guru mempunyai hubungan positif terhadap kompetensi sosial guru. Dengan pelaksanaan gaya kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan kerja guru yang baik dapat meningkatkan kompetensi sosial guru yang baik di SMK Darunnajah Cipining. Konstribusi gaya kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan kerja guru terhadap peningkatan kompetensi sosial guru di SMK Darunnajah Cipining memiliki angka sebesar 54,0%, secara signifikan pengaruh pelaksanaan gaya kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan kerja guru dapat meningkatkan kompetensi sosial melalui kemampuan sosial yaang baik. Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan 33 D. Conclusion Berdasarkan dari hasil analisis yang diperoleh dari penelitian dan di padukan dengan kajian teori dan dibuktikan dengan pengukuran secara sistematis, maka dapat di simpulkan bahwa: Terdapat hubungan Gaya Kepemimpinan terhadap Kompetensi Sosial Guru di SMK Darunnajah Cipining. Terdapat hubungan Lingkungan Kerja terhadap Kompetensi Sosial Guru di SMK Darunnajah Cipining. Terdapat hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Lingkungan Kerja secara simultan terhadap Kompetensi Sosial Guru di SMK Darunnajah Cipining memiliki pengaruh sebesar 54,0% yang dapat dilihat dari R2 = 0,540 % dan dihitung dengan R2 x 100% = 54,0%. References