DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam AnakIslam Usia Anak Dini Usia Dini e-ISSN DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan e-ISSN2987-128X 2987-128X http://ejournal. id/index. php/dzurriyat http://ejournal. id/index. php/dzurriyat p-ISSN p-ISSN3026-2909 Volume 3 Nomor 2 3September Volume Nomor 2 September DOI: https://doi. org/10. 61104/dz. Mengenal Panca Indra Melalui Kegiatan Eksploratif Pada Anak Usia Dini Widya Saflitha1. Nurul Zahriani Jf2 Universitas Muhammadiyah Sumatera utara Email Korespondensi: widyasaflitha@gmail. Article received: 30 Mei 2025. Review process: 18 Juni 2025 Article Accepted: 20 September 2015. Article published: 27 September 2025 ABSTRACT Early childhood is a critical phase where sensory experiences strongly influence childrenAos holistic growth. This study aims to examine the role of exploratory activities in introducing the five senses to early learners. Using a qualitative descriptive approach, the study involved 42 children aged 5Ae6 years at RA Maghfirah. Medan, with data obtained through participatory observation, teacher interviews, and documentation. The results reveal that exploratory activities not only enhanced childrenAos sensory awareness and discrimination skills but also fostered attention span, memory retention, language development, and confidence in expressing emotions. Children were observed to engage actively, display enthusiasm, collaborate with peers, and demonstrate improved abilities in associating sensory inputs with concepts of literacy and numeracy. The findings further indicate that sensory-based exploration helps cultivate creativity, problem-solving skills, and socioemotional resilience. These outcomes imply that exploratory learning should be systematically integrated into early childhood education curricula to support holistic development and create meaningful learning experiences. Keywords: Early Childhood. Exploratory Learning. Sensory Development ABSTRAK Masa kanak-kanak awal merupakan fase kritis di mana pengalaman sensorik memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan anak secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran kegiatan eksploratif dalam mengenalkan panca indra pada anak usia dini. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan dengan melibatkan 42 anak berusia 5Ae6 tahun di RA Maghfirah. Medan, melalui observasi partisipatif, wawancara guru, dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan eksploratif tidak hanya meningkatkan kepekaan sensorik dan kemampuan diskriminasi, tetapi juga memperkuat rentang perhatian, daya ingat, perkembangan bahasa, serta keberanian anak mengekspresikan emosi. Anak-anak tampak antusias, aktif berpartisipasi, berkolaborasi dengan teman sebaya, dan menunjukkan peningkatan kemampuan dalam menghubungkan pengalaman sensorik dengan konsep literasi maupun numerasi. Temuan lain memperlihatkan bahwa kegiatan eksploratif turut menumbuhkan kreativitas, keterampilan pemecahan masalah, serta ketahanan sosial-emosional. Implikasi dari hasil ini menegaskan perlunya integrasi pembelajaran berbasis eksplorasi sensorik dalam kurikulum PAUD untuk mendukung perkembangan holistik sekaligus menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Kata Kunci: Anak Usia Dini. Pembelajaran Eksploratif. Perkembangan Sensorik Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Widya Saflitha. Nurul Zahriani Jf DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2 September 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 PENDAHULUAN Masa kanak-kanak awal sering disebut sebagai golden age, yakni periode kritis pada rentang usia 0Ae6 tahun ketika perkembangan fisik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan sensorik berlangsung sangat pesat. Penelitian menunjukkan bahwa neuroplastisitas otak anak pada usia ini sangat tinggi, sehingga stimulasi lingkungan berpengaruh signifikan terhadap kemampuan belajar sepanjang hayat (Sharma et al. , 2. UNESCO . menekankan bahwa pendidikan pada masa ini menjadi investasi penting dalam menciptakan fondasi keterampilan dasar, karena pengalaman yang diberikan akan membentuk pola pikir, kepribadian, serta kemampuan adaptif anak di masa depan. Dengan demikian, masa usia dini merupakan waktu strategis untuk memberikan pengalaman belajar yang konkret dan bermakna. Salah satu aspek yang memiliki peran fundamental dalam perkembangan anak usia dini adalah fungsi sensorik. Panca indraAipenglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan perabaAiberfungsi sebagai pintu masuk utama bagi informasi dari lingkungan sekitar. Teori integrasi sensorik yang dikemukakan Ayres . menegaskan bahwa kemampuan anak merespons rangsangan sangat bergantung pada kualitas pengalaman multisensori yang mereka alami. Kajian terkini juga menunjukkan bahwa stimulasi sensorik yang terarah dapat memperkuat koordinasi visual-motorik, pemrosesan auditif, serta regulasi emosi yang pada akhirnya mendukung kesiapan literasi dan numerasi (OAoBrien & Kuhaneck, 2. Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan pendidikan yang menekankan pengalaman multisensori. Dalam praktik pendidikan anak usia dini di Indonesia, pengenalan panca indra masih sering dilakukan secara verbal dan abstrak. Metode ini membuat anak kesulitan memahami konsep karena minim pengalaman langsung. Padahal, menurut Piaget . , anak usia praoperasional belajar paling efektif melalui aktivitas konkret yang memungkinkan mereka membangun skema kognitif secara Vygotsky juga menambahkan bahwa interaksi sosial dengan guru dan teman sebaya menjadi faktor penting dalam mengoptimalkan potensi belajar anak (Whitebread & Coltman, 2. Oleh sebab itu, pendekatan eksploratif yang berbasis pengalaman langsung lebih sesuai dengan karakteristik perkembangan Kegiatan eksploratif memberi ruang bagi anak untuk terlibat aktif dalam mengenali objek, fenomena, serta pengalaman sehari-hari melalui panca indra Anak dapat mencium, mendengar, melihat, meraba, dan merasakan secara langsung, lalu mengekspresikan respon melalui bahasa maupun ekspresi Penelitian Herz . menunjukkan bahwa stimulasi sensorik melalui aroma dapat memperkuat memori emosional, sementara Ventura dan Mennella . menegaskan bahwa paparan rasa sejak dini memengaruhi preferensi makan Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan eksploratif bukan hanya sekadar mengenalkan panca indra, melainkan juga mengembangkan identitas diri, emosi, dan keterampilan sosial. Lebih jauh, pembelajaran eksploratif berbasis panca indra terbukti meningkatkan keterampilan berpikir kritis, rasa ingin tahu, serta Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Widya Saflitha. Nurul Zahriani Jf DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2 September 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 kemampuan kolaboratif anak. Studi internasional menegaskan bahwa pendekatan multisensori dalam pendidikan awal mampu memperbaiki capaian literasi dan numerasi dasar, serta mendukung perkembangan bahasa reseptif dan ekspresif (UNESCO, 2017. Ventura & Mennella, 2. Dengan demikian, pembelajaran eksploratif sejalan dengan paradigma pendidikan abad ke-21 yang menekankan pembelajaran holistik, aktif, dan kontekstual. Guru berperan sebagai fasilitator yang menghadirkan pengalaman belajar yang menantang sekaligus menyenangkan, sehingga anak merasa terdorong untuk terus bereksplorasi. Penelitian ini berfokus pada pentingnya kegiatan eksploratif sebagai strategi pembelajaran dalam mengenalkan panca indra pada anak usia dini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran kegiatan eksploratif dalam mendukung pengembangan sensorik, kognitif, dan sosial-emosional anak, serta menyajikan model implementasi kegiatan eksploratif yang dapat diaplikasikan oleh pendidik di lembaga PAUD guna memperkaya pengalaman belajar anak secara optimal. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk mendeskripsikan proses pembelajaran dan respons anak dalam mengenali fungsi panca indra melalui kegiatan eksploratif. Pemilihan metode ini didasarkan pada kebutuhan untuk memahami pengalaman belajar anak secara mendalam dan natural, tanpa manipulasi variable (Creswell. , & Creswell. Penelitian ini dilaksanakan di RA Maghfirah. Kota Medan, dengan subjek 42 anak kelompok . sia 5-6 tahu. Lokasi ini dipilih secara purposif karena RA Maghfirah memiliki kurikulum yang mendukung pembelajaran aktif dan eksploratif, serta menyediakan lingkungan yang kondusif untuk studi kasus ini. Subjek dipilih berdasarkan tahap pra-operasional mereka yang relevan untuk stimulasi sensorik (Papalia. , et al, 1. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara tidak terstruktur dengan guru, dan dokumentasi . oto, video, karya ana. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui reduksi data, penyajian naratif, dan penarikan kesimpulan (Miles. , dan Huberman. Sumber: Olahan Peneliti, 2025 Gambar 1. Skema Analisis Data Model Milles dan Huberman Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari observasi anak. Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Widya Saflitha. Nurul Zahriani Jf DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2 September 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 wawancara guru, dan dokumentasi. Triangulasi teknik dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data . bservasi, wawancara, dan dokumentas. untuk memeriksa konsistensi data. Tabel 1. di bawah ini merangkum langkah-langkah kegiatan eksploratif yang dilakukan: Indra yang Hari Kegiatan Eksploratif Distimulasi Hari 1 Penglihatan Pendengaran Pengenalan bentuk geometri berwarna yang dikaitkan dengan instruksi lisan. Hari 2 Pendengaran Permainan dihubungkan dengan angka. Hari 3 Penciuman Mengenali aroma parfum, minyak telon, dan terasi. Hari 4 Pengecap Mencicipi cokelat, saus pedas, dan jeruk Sumber: Olahan Peneliti, 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan eksploratif yang dilakukan bertujuan untuk mengenalkan fungsi dan peran panca indra kepada anak usia dini melalui pengalaman langsung yang menyenangkan dan bermakna. Berikut merupakan hasil pengamatan dan pembahasan dari setiap kegiatan: Mengenal Indra Penglihatan melalui Bentuk dan Warna Geometri Kegiatan ini diawali dengan penyajian berbagai bentuk geometri dasar seperti lingkaran, segitiga, dan persegi, dalam warna-warna kontras dan mencolok . erah, kuning, biru, dan hija. Anak-anak diminta mengidentifikasi bentuk dan warna secara lisan, kemudian melakukan aktivitas motorik berupa melompat ke arah bentuk yang disebutkan oleh guru. Hasil observasi menunjukkan bahwa mayoritas anak mampu mengenali bentuk dan warna dengan akurat, terutama pada bentuk yang familiar seperti lingkaran dan persegi. Warna-warna primer seperti merah dan kuning lebih mudah dikenali dibanding warna sekunder seperti hijau atau oranye. Anak-anak menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan ekspresi kegembiraan dan partisipasi aktif tampak saat mereka berhasil menjawab dengan benar, bahkan beberapa anak mencoba menyebutkan warna sebelum diberi instruksi (Masitah & Rudi Setiawan, 2. Dari sisi perkembangan sensorik, kegiatan ini secara langsung menstimulasi indra penglihatan . melalui dua aspek utama: diferensiasi bentuk dan kontras warna. Stimulasi semacam ini tidak hanya melatih kemampuan persepsi visual anak, tetapi juga mendorong perkembangan keterampilan kognitif dasar, khususnya dalam klasifikasi visual dan koordinasi antara penglihatan dan gerakan tubuh . isual-motor integratio. Secara pedagogis, pengenalan bentuk dan warna melalui media nyata jauh lebih efektif dibanding metode konvensional berbasis Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Widya Saflitha. Nurul Zahriani Jf DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2 September 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 gambar atau cerita. Hal ini sejalan dengan teori belajar Piaget yang menekankan pentingnya pengalaman konkret dalam membangun skema kognitif pada tahap pra-operasional (Piaget. , & Cook, 1. Selain itu, kegiatan ini juga melatih fokus, atensi visual, serta kemampuan diskriminasi objek, yang merupakan prasyarat penting dalam kesiapan membaca dan menulis (OAoBrien. , & Kuhaneck, 2. Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2025 Gambar 2. Kegiatan Motorik sambil Mengenal Indra Penglihatan Mengenal Indra Pendengaran melalui Ketukan Gelas dan Stick Angka Pada pelaksanaan hari kedua, fokus kegiatan diarahkan pada pengembangan kemampuan auditori anak melalui sebuah permainan edukatif yang sederhana namun memiliki makna pembelajaran yang kuat. Dalam aktivitas ini, guru mengetukkan sebuah gelas secara ritmis misalnya sebanyak dua hingga tiga kali dan anak-anak diminta untuk mengangkat stik bernomor 1 hingga 5 sesuai dengan jumlah ketukan yang mereka dengar. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa mayoritas anak mampu mengenali dan mencocokkan jumlah ketukan dengan angka secara tepat, terutama ketika jumlah ketukan masih dalam rentang yang rendah . Ae. Namun, ketika pola ketukan menjadi lebih kompleks . eperti 4 atau 5 kal. , sebagian anak terlihat ragu-ragu atau lambat dalam merespons, bahkan membutuhkan pengulangan ketukan untuk bisa menentukan jawabannya dengan benar. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kemampuan diskriminasi bunyi anak masih berkembang, dan oleh karenanya membutuhkan latihan konsisten agar lebih peka terhadap perbedaan jumlah dan ritme suara (Rahimah, 2. Dari sudut pandang sensorik, kegiatan ini memberi stimulasi langsung terhadap indra pendengaran, terutama dalam aspek persepsi pola suara, kekuatan bunyi, dan ritme ketukan. Anak belajar untuk mendengarkan secara aktif dan selektif, yakni memilah informasi auditif penting dari suara lain di sekitarnya. Keterampilan ini disebut sebagai perhatian selektif . elective attentio. , dan Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Widya Saflitha. Nurul Zahriani Jf DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2 September 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 sangat berperan dalam pengembangan bahasa reseptif dan kesiapan literasi, karena kemampuan fonologis . eperti membedakan bunyi dan suku kat. menjadi dasar penting dalam proses membaca (Whitebread. , & Coltman, 2. Koordinasi antara pendengaran dan gerakan halus, seperti mengangkat stik angka, memperkuat hubungan antara sistem sensorik dan motorik anak. Aktivitas ini menjadi sarana untuk membangun integrasi sensorik, yaitu proses di mana otak menggabungkan berbagai rangsangan dari indra yang berbeda dan meresponsnya secara efisien (Ayres, 2. Secara tidak langsung, kegiatan ini juga berkontribusi dalam memperkenalkan konsep numerasi awal, karena anak dituntut untuk mengasosiasikan jumlah ketukan dengan simbol angka. Pengalaman ini membantu mereka memahami konsep dasar matematika seperti jumlah, urutan, dan hubungan kuantitatif, yang penting dalam tahap awal perkembangan logika matematis. Namun demikian, terdapat variasi kemampuan auditori antar anak yang cukup mencolok. Beberapa anak tampak lebih cepat memahami pola ketukan dan merespons dengan sigap, sementara yang lain memerlukan pengulangan atau petunjuk tambahan dari guru. Hal ini menegaskan pentingnya penerapan pendekatan pembelajaran yang berbeda . dalam kegiatan sensorik, agar setiap anak dapat terfasilitasi sesuai dengan karakteristik dan kecepatan belajarnya. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan fungsi dasar indra pendengaran, tetapi juga secara komprehensif membantu menumbuhkan konsentrasi, kemampuan mendengarkan aktif, integrasi sensorikmotorik, serta penguatan pemahaman numerik merupakan fondasi penting dalam perkembangan kognitif anak usia dini. Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2025 Gambar 3. Kegiatan mengenal Panca Indra Pendengaran Mengenal Indra Penciuman melalui Aroma Wangi dan Bau Pada sesi kegiatan hari ketiga, fokus pembelajaran diarahkan pada pengenalan dan stimulasi indra penciuman melalui aktivitas sensorik langsung. Anak-anak diminta mengenali dan menyebutkan aroma dari beberapa bahan alami yang umum ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti minyak kayu putih . roma wang. , bubuk kopi . roma kha. , dan cuka . roma taja. Seluruh kegiatan dilakukan dengan kondisi mata tertutup agar anak lebih fokus dalam menggunakan indra penciumannya. Observasi menunjukkan bahwa sebagian Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Widya Saflitha. Nurul Zahriani Jf DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2 September 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 besar anak dapat membedakan dan mengidentifikasi aroma-aroma tersebut, terutama aroma yang kuat dan menyengat seperti cuka, yang memicu reaksi spontan berupa ekspresi tidak nyaman atau menjauh dari sumber bau. Sementara itu, aroma kopi lebih mudah dikenali oleh beberapa anak karena hubungannya dengan pengalaman pribadi di rumah, yang mengindikasikan peran memori olfaktori dalam proses pengenalan bau (Sitepu & Janita, 2. Secara fisiologis, sistem olfaktori sangat erat kaitannya dengan bagian otak yang mengatur emosi dan memori, yaitu sistem limbik, sehingga aroma tertentu dapat memicu ingatan dan perasaan tertentu (Herz, 2. Aktivitas ini membantu anak mengembangkan kesadaran akan lingkungan sekitar, sekaligus melatih keterampilan sensorik untuk mengasosiasikan bau dengan objek atau peristiwa Kegiatan ini juga memberikan kontribusi terhadap perkembangan emosi dan identitas sensorik anak. Ketika anak menunjukkan rasa suka atau tidak suka terhadap aroma tertentu, hal tersebut menunjukkan kemampuan mereka untuk mengenali dan mengungkapkan preferensi, yang penting dalam proses perkembangan sosial-emosional. Anak juga belajar bahwa persepsi aroma dapat bersifat subjektif, dan ini menjadi dasar bagi tumbuhnya empati dan kesadaran akan perbedaan individual. Di samping itu, pengalaman langsung seperti ini sejalan dengan pendekatan konstruktivistik, di mana anak membangun pemahamannya melalui interaksi konkret dengan lingkungan (Piaget. , & Cook. Membangun skema sensorik melalui kegiatan eksploratif dapat memperkaya vocabulary sensorik anak, serta meningkatkan pemahaman kognitif terhadap dunia sekitarnya (Papalia. , et al, 1. Meskipun sebagian besar anak merespons positif, ditemukan adanya variasi dalam tingkat kepekaan penciuman. Beberapa anak membutuhkan waktu lebih lama atau arahan tambahan untuk mengenali aroma tertentu. Temuan ini menunjukkan pentingnya stimulus penciuman yang beragam dan berulang dalam konteks pembelajaran anak usia dini, agar kemampuan diskriminasi bau dapat berkembang secara optimal. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan fungsi dasar dari indra penciuman, tetapi juga menjadi media untuk mengembangkan kemampuan perseptual, pengolahan memori, keterampilan bahasa deskriptif, serta pengendalian emosi, yang keseluruhannya penting dalam perkembangan menyeluruh anak. Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2025 Gambar 4. Kegiatan Mengenal Panca Indra Penciuman Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Widya Saflitha. Nurul Zahriani Jf DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2 September 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 Mengenal Indra Perasa melalui Minuman Coklat. Saus, dan Jeruk Nipis Pada hari keempat, kegiatan pembelajaran diarahkan pada pengenalan indra pengecap . melalui pengalaman langsung mencicipi berbagai rasa Anak-anak diminta untuk mencoba tiga jenis rasa, yaitu manis dari minuman coklat, pedas dari saus, dan asam dari jeruk nipis. Setelah mencicipi, anak diajak untuk mengungkapkan rasa yang mereka rasakan dan menampilkan ekspresi wajah yang sesuai. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rasa manis sangat disukai anak, ditandai dengan antusiasme dan ekspresi senang. Sebaliknya, rasa pedas cenderung dihindari, dan rasa asam memunculkan reaksi spontan, seperti meringis, tertawa, hingga menolak melanjutkan. Anak-anak juga secara umum mampu mengidentifikasi dan membedakan rasa yang mereka coba, menunjukkan perkembangan kemampuan sensorik pengecap yang baik. Interaksi anak dengan rasa secara langsung juga memicu reaksi emosional, yang terlihat dari respons wajah dan komentar spontan selama kegiatan berlangsung. Secara biologis, lidah memiliki reseptor rasa yang mendeteksi rasa dasar seperti manis, asin, pahit, asam, dan umami. Dalam konteks perkembangan anak, stimulasi terhadap reseptor ini membantu memperkuat kepekaan sensorik serta membangun asosiasi antara rasa dan ekspresi emosi (Ventura. , & Mennella. Pengalaman ini juga membantu anak mengenali preferensi pribadi, seperti rasa yang disukai atau dihindari, yang merupakan bagian dari perkembangan identitas diri sejak usia dini. Lebih jauh, melalui kegiatan ini, anak belajar mengekspresikan apa yang mereka rasakan dengan kata-kata dan gerak tubuh, sehingga memperkuat kemampuan komunikasi emosional dan sosial. Respons seperti tertawa bersama atau meniru ekspresi teman juga memicu interaksi sosial yang menyenangkan, yang penting untuk menumbuhkan empati, pengenalan terhadap ekspresi orang lain, dan kerjasama (Papalia. , et al, 1. Namun, toleransi anak terhadap berbagai rasa dapat berbeda-beda, bergantung pada pengalaman sebelumnya dan konteks budaya keluarga. Beberapa anak tampak terbiasa dengan rasa asam atau pedas, sedangkan yang lain menunjukkan keengganan kuat (Nasution & Rini, 2. Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2025 Gambar 5. Kegiatan Mengenal Panca Indra Mulut Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Widya Saflitha. Nurul Zahriani Jf DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2 September 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menerapkan pendekatan fleksibel dan memberikan ruang pada anak untuk bereksplorasi tanpa paksaan, agar pengalaman belajar tetap positif dan menyenangkan. Secara keseluruhan, kegiatan ini menjadi sarana yang efektif untuk menstimulasi fungsi dasar indra pengecap, sekaligus memperkuat kemampuan ekspresi diri, kesadaran sensorik, dan interaksi sosial. Pengalaman seperti ini juga memperkuat integrasi antara sistem sensorik dan emosional anak, yang merupakan fondasi penting dalam tumbuh kembang anak usia dini. Tabel 1. Eksplorasi Panca Indra Pada Anak Usia Dini Aspek Kegiatan Hasil Indra Perkembangan Eksploratif Pengamatan yang Distimulasi Mengenal bentuk Persepsi visual, & warna geometri Anak mengenali koordinasi visual. ingkaran, bentuk & warna Penglihatan segitiga, perseg. dengan akurat. (Visua. melalui aktivitas objek, fokus, tinggi, respon melompat ke arah Anak mampu Perhatian selektif. Mengenali jumlah jumlah ketukan ketukan gelas dan bunyi, integrasi Pendengaran mengangkat stik sensorik-motorik, (Auditor. kesulitan pada angka sesuai kesiapan literasi, jumlah ketukan konsep numerasi Perlu Anak Diskriminasi bau, membedakan bau Mengenali aroma asosiasi aroma tajam . dengan mata Penciuman dengan spontan, tertutup: minyak memori/emosi, (Olfaktor. aroma kopi kayu putih, kopi, dikenali karena dan cuka preferensi dan Anak sangat Kepekaan Mencicipi rasa menyukai rasa manis . , ekspresi emosi. Pengecap asam . eruk nipi. , menghindari rasa interaksi sosial, (Gustator. dan pedas . pedas, merespons komunikasi rasa, lalu menirukan rasa asam dengan ekspresi rasa ekspresi spontan identitas diri. Sumber: Olahan Peneliti, 2025 Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Widya Saflitha. Nurul Zahriani Jf DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2 September 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 Berdasarkan keempat rangkaian kegiatan eksploratif yang berfokus pada stimulasi pancaindra penglihatan, pendengaran, penciuman, dan pengecap, dapat disimpulkan bahwa pengalaman sensorik langsung memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan holistik anak usia dini. Melalui aktivitas yang menyenangkan dan bermakna, anak-anak tidak hanya belajar mengenal fungsi masing-masing indra, tetapi juga mengembangkan aspek-aspek penting dalam pertumbuhan mereka, seperti koordinasi motorik, kemampuan kognitif awal, kecerdasan emosional, dan interaksi sosial. Pengamatan menunjukkan bahwa stimulasi sensorik yang tepat dan kontekstual dapat memicu rasa ingin tahu, memperkuat memori, serta membentuk preferensi dan kesadaran diri anak. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran berbasis eksplorasi indrawi sangat direkomendasikan dalam pendidikan anak usia dini, karena mendukung kesiapan belajar secara menyeluruh sekaligus menumbuhkan kecintaan anak terhadap proses belajar melalui pengalaman konkret yang menyenangkan. Tabel 2. Hasil Wawancara Narasumber Pertanyaan Jawaban/Temuan Utama Kegiatan ini sangat sesuai dengan karakteristik anak usia Bagaimana pendapat Ibu Mereka belajar lebih cepat Ibu Khairiza tentang kegiatan Fithri. saat menggunakan panca indra eksploratif panca indra (Kepala RA) secara langsung, dibandingkan yang dilakukan di RA? hanya mendengarkan penjelasan Anak lebih percaya diri, berani mengemukakan pendapat, dan lebih fokus ketika diminta Apa dampak yang terlihat mendeskripsikan apa yang pada anak setelah mereka lihat, dengar, cium, atau mengikuti kegiatan ini? Hal ini juga meningkatkan keterampilan sosial mereka. Sarana prasarana yang terbatas, misalnya media belajar modern Apa tantangan dalam belum tersedia. Namun guru melaksanakan kegiatan kreatif memanfaatkan benda eksploratif ini? sehari-hari, sehingga kegiatan tetap berjalan efektif. Anak sangat antusias, terlihat senang mencoba, tertawa, dan Bagaimana respon anakIbu mengekspresikan diri. Misalnya anak saat kegiatan Purnamawati saat mencium aroma tertentu Daulay. eksploratif panca indra atau mencicipi rasa asam, respon (Guru Kela. spontan mereka membuat kegiatan lebih hidup. Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Widya Saflitha. Nurul Zahriani Jf DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2 September 2025 Menurut Ibu, apa manfaat terbesar kegiatan eksploratif panca indra ini? Apakah ada perbedaan kemampuan antar anak dalam kegiatan ini? e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 Anak lebih mudah mengenal warna, bentuk, bunyi, aroma, dan rasa. Selain itu, mereka belajar menghubungkan pengalaman sensorik dengan bahasa, sehingga kosa kata anak Ada, beberapa anak cepat tanggap, sementara yang lain perlu pengulangan atau arahan Namun dengan diferensiasi, semua anak bisa mengikuti sesuai kemampuan masing-masing. Sumber: Wawancara Peneliti, 2025 Hasil wawancara dengan Kepala RA. Ibu Khairiza Fithri. menunjukkan bahwa kegiatan eksploratif panca indra dipandang sangat relevan dengan karakteristik anak usia dini. Menurut beliau, anak-anak lebih cepat memahami pembelajaran ketika dilibatkan secara langsung menggunakan panca indra dibandingkan hanya melalui penjelasan verbal. Pandangan ini menguatkan teori Piaget yang menyatakan bahwa anak pada tahap praoperasional belajar paling efektif melalui pengalaman konkret. Dengan demikian, kegiatan eksploratif dapat dipandang sebagai strategi yang tepat untuk meningkatkan pemahaman konsep dasar anak usia dini. Ibu Khairiza menilai kegiatan ini membuat anak lebih percaya diri, berani berbicara, serta fokus ketika mendeskripsikan pengalaman sensoriknya. Anak yang sebelumnya pasif menjadi lebih aktif mengemukakan pendapat, baik secara verbal maupun melalui ekspresi wajah dan gerak tubuh. Hal ini sekaligus meningkatkan keterampilan sosial anak karena mereka belajar berinteraksi, mendengarkan, serta merespons teman sebaya dalam suasana belajar yang Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menegaskan bahwa stimulasi multisensori tidak hanya berdampak pada aspek kognitif, tetapi juga pada perkembangan sosial-emosional anak. Hasil wawancara dengan guru kelas. Ibu Purnamawati Daulay. memperlihatkan bahwa anak-anak merespons kegiatan eksploratif dengan antusiasme tinggi. Mereka tampak senang, bersemangat mencoba hal baru, dan menunjukkan ekspresi spontan terutama ketika mencium aroma atau mencicipi rasa tertentu. Guru juga menilai kegiatan ini membantu anak mengenal warna, bentuk, bunyi, aroma, dan rasa dengan lebih mudah, serta menghubungkan pengalaman sensorik dengan bahasa. Hal ini memperkaya kosa kata anak, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan sekaligus menguatkan kerampilan literasi awal. Baik kepala RA maupun guru kelas sama-sama menyoroti adanya tantangan dan perbedaan kemampuan antar anak. Keterbatasan sarana prasarana Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Widya Saflitha. Nurul Zahriani Jf DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2 September 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 menjadi kendala, meski guru mampu mengatasinya dengan kreativitas memanfaatkan benda-benda sederhana di sekitar sekolah. Selain itu, tidak semua anak merespons dengan kecepatan yang sama. sebagian membutuhkan pengulangan atau arahan tambahan. Temuan ini mengindikasikan pentingnya penerapan pembelajaran diferensiasi agar semua anak dapat mengikuti kegiatan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Secara keseluruhan, wawancara memperkuat bahwa kegiatan eksploratif panca indra efektif dan relevan diterapkan di RA, sekaligus memberikan gambaran bahwa dukungan fasilitas dan strategi pembelajaran. SIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa kegiatan eksploratif berbasis panca indra merupakan strategi efektif dalam pendidikan anak usia dini karena mampu meningkatkan kepekaan sensorik, kemampuan kognitif, keterampilan bahasa, ekspresi emosional, serta interaksi sosial anak secara terpadu. Melalui pengalaman belajar yang konkret, menyenangkan, dan kontekstual, anak tidak hanya mengenal fungsi indrawi, tetapi juga mengembangkan kreativitas, rasa percaya diri, serta keterampilan kolaboratif yang menjadi fondasi penting bagi proses belajar sepanjang hayat. Oleh karena itu, pembelajaran eksploratif perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum PAUD sebagai pendekatan yang mendukung perkembangan holistik anak dan menumbuhkan kecintaan terhadap proses belajar sejak dini. UCAPAN TERIMAKASIH