JURNAL AWILARAS ISSN: 2407-6627 E-ISSN 2988-4098 | Beranda Jurnal: https://jurnal. id/index. php/awilaras/index Juni 2024 Volume 11 Nomor 1 Hubungan Strategi Distinction Masyarakat Makassar Dengan Penggunaan Bebunyian Kultural Ganrang PaAoBalle dalam Upacara Ritual Pernikahan Arhamuddin Ali STKIP Kusuma Negara Jl. Raya Bogor. RT. 3/RW. Gedong. Kec. Ps. Rebo. Kota Jakarta Timur. DKI Jakarta E-mail: arhamuddinali@gmail. ABSTRAK Penelitian kualitatif ini bertujuan membahas dan mengkritisi penggunaan bebunyian kultural ganrang paAoballe dalam konteks ritual pernikahan masyarakat Makassar. Data yang diperoleh berdasarkan observasi dan analisis literatur menunjukkan adanya perbedaan pola tabuhan ganrang paAoballe jika digunakan dalam pernikahan kalangan karaeng, anak karaeng paninik dan tau samarak. Berdasar dari konsep pemikiran Bourdieu, hal itu merupakan strategi distinction. Strategi ini digunakan oleh kalangan karaeng untuk melegitimasi dominasi relasi kuasanya terhadap kelas di bawahnya dalam konteks arena sosial. Kata kunci: ganrang paAoballe, pernikahan, distinction, dan relasi kuasa ABSTRACT This qualitative research aims to discuss and criticize the use of the cultural sound ganrang pa'balle in the context of Makassar community wedding rituals. Data collected based on observations and literature analysis shows that there are differences in the patterns of playing ganrang pa'balle when used at weddings group AukaraengAy. Auanak karaeng paninikAy and Autau samarakAy. According to Bourdieu, this is a distinction strategy. This strategy is used by the AukaraengAy group class to legitimize its power relations towards the Aukaraeng PaninikAy and Autau SamarakAy community classes in the context of the social arena. Key words: ganrang pa'balle, marriage, distinction, and power relations Jurnal Awilara. 15 A. PENDAHULUAN Bagaimana peranan ritual dalam masyarakat? Tentunya ada banyak jawaban menjelaskan pertanyaan ini. Di samping itu, beragam jawaban tersebut justru kemungkinan besar menjelaskan pentingnya masyarakat melaksanakan upacara ritual. Jika melihat penjelasan Radcliffe-Brown dalam Sugira . , bahwa beberapa peranan upacara ritual di masyarakat, antara lain sebagai pernyataan sosial dan perwujudan kebaikan orang-orang yang melibatkan diri di dalamnya, upacara juga sebagai media komunikatif emosi keagamaan antar sesama warga, dan pengubah pandangan masyarakat melalui pertemuan dalam upacara, khususnya pada pernikahan. Penjelasan ini mewakili salah satu aspek yang didiskusikan dalam artikel ini, yaitu Auupacara pernikahanAy. AuPernikahanAy merupakan kata yang memberikan penjelasan mengenai prilaku sosial masyarakat dalam menjalankan mengenai siklus kehidupannya. Sama halnya dengan kelahiran dan kematian, pernikahan telah menjelma sebagai simbol penting bagi warga yang tercermin pada upacara ritual. Jika diibaratjan teh dan gula, upacara ritual dan pernikahan adalah zat yang Maka dari itu, ada anggapan bahwa pernikahan tanpa upacara ritual terkesan kurang Belum ada jawaban pasti tentang awal mula pandangan ini. Tetapi yang perlu diperhatikan, dampak paradigma itu secara tidak sadar menguasai pola piker dan prilaku masyarakat. Tentunya, akan ada pertanyaan yang muncul terkait dengan permasalahan ini. Misalnya, apa saja ciri khas sebuah ritual pernikahan yang dilaksanakan oleh masyarakat? Salah satu jawabannya adalah kehadiran kesenian. Dapat dikatakan, di mana pun, pernikahan tidak pernah lepas dengan kesenian. Seni merupakan elemen utama dalam pelaksanaan ritual siklus kehidupan Bermacam-macam peranannya, seperti misalnya menjadi sarana ritual maupun hiburan, bahkan keberadaannya dapat menyatukan pengalaman religius sekaligus estetik (Hartoko, 1. Yang menarik, jika ada pertanyaan, apakah kesenian dalam ritual pernikahan dihadirkan begitu saja tanpa adanya aspek lain dari kepentingan upacara ritual? Pertanyaan itulah yang menjadi pemantik pembahasan dalam tulisan ini. Jika mengamati pernikahan masyarakat Makassar di Sulawesi Selatan, akan ditemukan bebunyian kultural yang menjadi satu di antara banyaknya aspek utama dalam pelaksanaan ritualnya. Bebunyian itu adalah ganrang paAoballe. Jurnal Awilara. 16 Hampir semua pada setiap ritual pernikahan, bunyi-bunyi ini selalu ada. Tetapi yang menarik, tidak semua kalangan masyarakat memiliki hak menggunakannya dalam pernikahan. Di samping itu pula, bentuk dan pola permainan ganrang selalu dibedakan berdasarkan latar belakang golongan masyarakat yang melaksanakan ritual pernikahan. Berdasar dari rangkaian fenomena tersebut, tulisan ini akan menjawab pertanyaan, antara lain: . Apakah makna upaya membedakan diri oleh golongan masyarakat pada penggunaan ganrang paAoballe dalam pernikahan masyarakat Makassar? . Bagaimana proses membedakan diri itu bekerja dalam pernikahan masyarakat Makassar? Pandangan Bourdieu digunakan dalam membaca fenomena penggunaan bebunyian kultural ganrang paAoballe dalam pernikahan masyarakat Makassar. Pilihan seni sifatnya tidak netral, sebab menjadi penanda komunikasi yang membedakan posisi masyarakat dalam dunia sosial (Bourdieu, 1. Pilhan musik sebenarnya bukan sesuatu pilihan yang hadir begitu saja. kehadriannya melalui proses pemikiran panjang terlebih dahulu. Seseorang atau masyarakat menentukan pilihannya terhadap sesuatu berdasarkan pengetahuannya. Inilah kemudian disebut sebagai modal budaya (Ibid. 1984, . Berdasar dari analisis pilihan musik. Bourdieu menetapkan kategori kelas masyarakat, yaitu kelas dominan, kelas borjuis kecil, dan kelas pekerja. Setiap kategori tersebut memiliki karakter pilihan selera seni tersendiri yang menandakan perbedaan antar golongan (Bourdieu 1984, . Posisi pengetahuan terhadap objek budaya mempengaruhi pembentukan kelas. Asal usul kelas sosial menjadi indikator penting dalam membentuk pengetahuan tentang buday. Masyarakat yang berasal dari kelas sosial dominan memiliki pilihan selera artistik yang berbeda dengan masyarakat kelas lainnya (Ibid. Kondisi ini menyebabkan masyarakat golongan atas selalu memiliki perbedaan pilihan artistik dengan kelas lainnya. Sekaligus, mereka selalu akan membedakan dirinya dengan kelas lain sebagai tanda dominasi dalam dunia sosial yang disebut arena kultural. Konsep pemikiran Bourdieu inilah yang digunakan dalam membaca fenomena masyarakat Makassar yang cenderung selalu membedakan diri melalu penggunaan bebunyian kultural ganrang paAoballe dalam ritual pernikahannya. Melalui pandangan ini, akan menjawab Jurnal Awilara. 17 permasalahan makna di balik sikap kelas tertentu membedakan dirinya dengan kelas masyararat lainnya dalam konteks sosial masyarakat Makassar dalam perspektif ritual pernikahan. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang fokus pada pembacaan terhadap fenomena penggunaan bebunyian kultural dalam pernikahan masyarakat Makassar. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pengamatan secara langsung dan analisis terhadap berbagai macam literatur. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dan diinterpretasi berdasarkan hasil triangulasi data yang didapatkan dari kegiatan pengamatan dan studi literatur tentang kategori konsep pemikiran Bourdieu mengenai strategi distiction masyarakat dalam arena kultural. HASIL DAN PEMBAHASAN Pernikahan Masyarakat Makassar dan Ganrang PaAoballe Relevansi ganrang paAoballe dengan ritual pernikahan di Sulawesi Selatan diceritakan telah ada jauh hari sejak terciptanya kehidupan di dunia ini. Cerita itu terdapat dalam kisah kitab I La Galigo, sebuah kumpulan naskah mengenai permulaan kehidupan masyarakat di Sulawesi Selatan. Ada kisah tentang Batara Guru dan istrinya. We Nyiliq Timoq, yang juga merupakan sepupu satu Pada kisah itu, rombongan Batara Guru yang terdiri dari orang-orang istana berjalan menuju pantai. Mereka ingin menjemput permaisuri yang baru saja muncul dari dunia bawah, yaitu sedang berada di permukaan laut. Rombongan manurunge ini berangkat ke pantai, membawa usungan berlapis emas. Para pengawal memayunginya dengan teAoteng nriuq yang indah untuk menghindari sengatan terik Ketika diberangkatkan, suara ganrang beserta ribuan gong terdengar bergemuruh (Salim dkk. , 1. Itulah kemudian ditafsirkan bebunyian kultural tersebut perdana digunakan dalam ritual pernikahan, yaitu pada prosesi pengantin pria menjemput pasangannya. Walaupun dikisahkan dalam cerita naskah I La Galigo, namun itu melengkapi keterangan informasi ganrang secara spesifik. Belum ada memberitakan mengenai jumlahnya. Setidaknya, kisah ini memberikan titik terang hubungan alat tetabuhan ini dengan pernikahan masyarakat Sulawesi Selatan pada masa lalu. Yang menarik, ditemukan cerita tentang perpaduan perangkat Jurnal Awilara. 18 peralatan membrafon tersebut dengan gong. Sehingga disimpulkan kedua jenis alat tersebut merupakan pasangan instrumen bebunyian kultural yang telah digunakan sejak dulu. Pernikahan di Sulawesi Selatan, khususnya dalam masyarakat Makassar memiliki tahapantahapan tertentu, yaitu saat sebelum, pelaksanaan, dan setelahnya. Pada sesi pertama dan kedua, terdapat permainan ganrang. Sebelum prosesi pernikahan dilaksanakan, diadakan ritual naik kalenna tiga hari sebelum acara. Gemuruh ganrang terdengar setiap menjelang senja dan pada saat tengah malam. Paduan ganrang, gong dan puiAo-puiAo dimainkan. Tetapi ada yang berbeda bagi kalangan bangsawan, yaitu penambahan alat kaccing-kaccing dan parappasaAo (A. Rahim, 1977: Pada pelaksanaan upacara pernikahan, ganrang dimainkan untuk mengiringi mempelai pria menuju rumah pengantin perempuan. Dimainkanlah pola tetabuhan bernama renjangrenjang dan kemudian memainkan pola tunrung pakkanjara kapalak sebagai penutup. Begitu pun sebaliknya, pihak mempelai perempuan membunyikan ganrang ketika menyambut kedatangan calon suaminya. Tabuh-tabuhan ganrang bergemuruh saat rombongan sampai di depan tangga (Sugira, 2. Setelah tahapan itu, permainan ganrang berlanjut hingga prosesi pernikahan berlangsung. Tetapi, permainannya tidak berlangsung terus menerus sepanjang acara. Ada waktu-waktu tertentu ganrang ini dimainkan. Dalam ritual pernikahan ini, bentuk dan jenis permainan ganrang berbeda satu sama lain. Faktor stratafikasi sosial menjadi alasan ketidansamaannya. Masyarakat Makassar terdiri dari beberapa lapisan, antara lain kalangan atas yang merupakan Karaeng . , anak karaeng palilik . angsawan luar Gow. , kalangan menengah, terdiri dari tau samarak . rang awa. , tau bajik . rang bai. dan tau muradeka . rang merdek. Sedangkan kelompok terakhir adalah ata . akyat kelas bawah, biasa disebut ata atau abd. Kalangan ini terbagi dalam kategori ata sosoorang . bdi pusak. , ata nibuang . bdi yang dibuan. , tumangnginrang . bdi yang disebabkan karena tidak mampu membayar utan. (Ibid. : 36-. Pembentukan stratafikasi masyarakat Makassar dimulai dari masa kehadiran To Manurung Bainea di Tamalate. Secara politis, ini diatur dalam sistem peradatan dengan istilah Sistem nilai tersebut mengatur dan membentuk pola prilaku masyarakat Jurnal Awilara. 19 Makassar, termasuk sikapnya yang berbasis dari golongannya dalam masyarakat (Hamid, 1. Sehingga, kebiasaan tersebut tercermin dalam praktek permainan ganrang, salah satunya dalam ritual pernikahan. Perbedaan sajian permainan ganrang yang berhubungan dengan stratafikasi masyarakat tercermin pada saat memainkan pola-pola tabuhannya. Adapun polanya disusun dari tunrung paAoballe, tunrung yang lamban . idak ada nama khusu. , pola transisi . idak ada nama khusu. , tunrung rua, tunrung pakkanjaraAo langkaraAo serta tunrung pakkanjaraAo kapalak. Untuk kalangan Karaeng, para pemain ganrang memainkan tunrung paAoballe dua kali atau Setelah itu, dilanjutkan dengan sebuah tunrung yang lamban. Kemudian dilanjutkan dengan memainkan pola transisi, lalu memainkan susunan tiga pola yaitu tunrung rua, pakkanjaraAo langkaraAo dan pakkanjaraAo kappalak sebagai penutup. Berbeda pula permainan ganrang bagi kalangan anak karaeng paninik. Ada perbedaan pada saat memainkan tunrung paAoballe. Tabuhan ini hanya dimainkan satu kali. Sementara itu, tau samarak, tau baji dan tau muradeka, tidak boleh memainkan tabuhan tunrung paAoballe (Sutton. Strategi Distinction. Ritual Pernikahan Masyarakat Makassar dan Ganrang PaAoballe Tentang kekuasaan, kata Karl Marx, agama itu candu. Sama halnya dengan kekuasaan. Kekuasaan adalah kenikmatan, lihai, mampu memainkan segala hal secara simbolis. Korban kekuasaan bahkan tidak menyadari dirinya terefresi karena adanya aspek simbolis yang bekerja. Jika dikatakan sebagai dominasi, cara kerjanya pun tidak lagi diproduksi secara makro, tetapi melalui tataran mikro. Adanya kecenderungan kelas masyarakat tertentu membedakan dirinya dengan kelas lainnya merupakan ciri-ciri model kekuasaan semacam ini. Menurut Bourdieu . 4: . , hal itu merupakan distinction, yakni suatu strategi yang dilakukan oleh kelas masyarakat atas untuk membedakan diri dengan kelas masyarakat di bawahnya untuk tujuan kekuasaan. Beberapa contohnya, pilihan mendengarkan jenis musik tertentu, hadir di konser musik tertentu, dan lain Kebiasaan tersebut tidak murni, sebab tujuannya untuk melegitimasi posisi kelas masyarakat tertentu dalam arena kultural. Jurnal Awilara. 20 Dalam penjelasan lain, memilih-milih jenis musik dan hanya menghadiri konser-konser tertentu merupakan prilaku bersifat ideologis. Sehingga, kelompok yang membedakan dirinya melalui pilihan-pilihan tersebut merupakan cara melegitimasi posisinya sebagai kelas dominan di dalam arena sosial. Mereka ingin menunjukkan kekuasaan simbolisnya kepada kelas masyarakat di Rangkaian lain dari kekuasaan terdiri dari wewenang dan legitimasi. Ketiganya adalah Wewenang pihak yang menguasai diperkuat oleh legitimasi. Legitimasi dimainkan menggunakan norma aturan, biasanya mengatasnamakan undang-undang, kitab suci maupun adat istiadat (Haryanto, 2. Sebagai contoh, dapat melihat pada kalangan bangsawan, legitimasi kekuasaannya berhubungan dengan adat istiadat. Aturan itu berlaku terus-menerus, akibatnya dapat mempengaruhi pembentukan struktur pemikiran dan mental masyarakat. Inilah yang disebut dengan doxa,1diciptakan oleh masyarakat yang memiliki modal simbolis berupa status kebangsawanan (Bourdieu, 1984: . Penjelasan di atas dapat dihubungkan dengan penggunaan bebunyian kultural ganrang paAoballe dalam konteks ritual pernikahan masyarakat Makassar. Keberadaan ganrang dalam pernikahan ternyata dijadikan sebagai alat pembeda antara golongan karaeng, anak karaeng paninik dan tau samarak. Tunrung paAoballe dimainkan dua kali atau lebih pada pernikahan keluarga karaeng. Berbeda ketika pernikahan anak karaeng paninik, tunrung paAoballe hanya bisa dimainkan satu kali. Sedangkan untuk pernikahan tau samarak dan tau muradeka, tabuhan ini sama sekali tidak diperbolehkan. Semuanya sudah diatur dalam sistem norma yang disebut Praktek membedakan diri oleh masyarakat kelas atas ini mau tidak mau mendudukkan dirinya sebagai pihak yang mendominasi. Mereka menikmati posisinya sebagai kelas penguasa yang bekerja secara simbolis. Sedangkan kelas masyarakat di bawahnya diposisikan sebagai pihak terdominasi, sebab mental dan struktur pemikirannya telah dibentuk secara bawah sadar oleh Kekuasaan simbolis mendudukkannya untuk menerima kodratnya sebagai pihak yang lemah. Sehingga terlihat adanya kondisi ketidakadilan sosial dalam relasi antar kelas dalam konteks pernikahan masyarakat Makassar tersebut. Bourdieu. Pierre. Op cit. , p. Jurnal Awilara. 21 D. KESIMPULAN Berdasar dari uraian di atas, disimpulkan bahwa terdapat sistem relasi kekuasaan dalam pernikahan masyarakat Makassar. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan bebunyian kultural ganrang paAoballe. Keberadaannya dalam upacara tersebut tidak sekedar kepentingan ritual saja, tetapi menjadi instrumen yang digunakan oleh kelas masyarakat atas sebagai strategi distiction. Strategi ini digunakan untuk melegitimasi dominasinya terhadap kelas di bawahnya dalam konteks arena sosial. Relasi kekuasaan ini bekerja secara halus dalam upaya membedakan pola, struktur, dan jumlah tabuhan ganrang paAoballe yang dimainkan pada setiap pernikahan dari golongan karaeng, anak karaeng paninik dan tau samarak. DAFTAR PUSTAKA