HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Hubungan Perilaku Caring Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Anak Prasekolah Yang Dirawat Inap Penulis: Rizka Anggraini 1 Riri Novayelinda 2 Nurhannifah Rizky Tampubolon 3 Afiliasi: Program Studi Keperawatan. Fakultas Keperawatan. Universitas Riau 1, 2, 3 Korespondensi: anggraini4539@studen Histori Naskah: Diajukan: 10-01-2026 Disetujui: 30-01-2026 Publikasi: 31-01-2026 Abstrak: Tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah perilaku caring perawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah 71 responden menggunakan teknik total sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner PSNCQQ dan SCAS yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis yang digunakan adalah analisis uji chi square. Hasil: Hasil penelitian didapatkan 42,3% perilaku caring perawat baik dan 40,8% anak prasekolah yang dirawat inap mengalami kecemasan sedang. Hasil uji chi square menunjukkan terdapat hubungan antara perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap . value 0,000 < yu 0,. Perilaku caring perawat memengaruhi tingkat kecemasan anak sehingga perawat yang memiliki perilaku caring yang baik akan menurunkan kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap. Perawat di masa depan diharapkan dapat mengoptimalkan perilaku caring melalui pemberian informasi tindakan perawatan yang jelas, sikap ramah, serta responsif terhadap kebutuhan anak dan orang tua. Kata kunci: Anak Prasekolah. Hospitalisasi. Kecemasan Anak. Perilaku Caring Pendahuluan Hospitalisasi merupakan keadaan dimana anak harus tinggal di rumah sakit, baik secara darurat atau terencana supaya mendapatkan terapi dan perawatan hingga mereka dapat kembali ke rumah (Ahmad Kholid Fauzi. Azizah, and Andayani 2. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2020, ada 152 juta anak yang dirawat di fasilitas kesehatan. Sedangkan menurut United Nations ChidrenAos Fund (UNICEF) menunjukkan bahwa di tiga negara terbesar di dunia, ada 958 anak usia prasekolah yang dirawat di fasilitas kesehatan (Ulyah. Murwati, and Rossita 2. Di Indonesia, menurut Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa lebih dari 58% dari jumlah keseluruhan populasi anak menunjukkan angka kesakitan anak pada tahun 2019. Peningkatan hospitalisasi anak di Indonesia dapat ditunjukkan berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 bahwa terjadi peningkatan sebesar 19% pada hospitalisasi atau jumlah rawat inap anak dibandingkan tahun 2019 (Badan Pusat Statistik, 2. Selain itu, menurut riset kesehatan dasar (RISKESDAS) yang dilakukan pada tahun 2018 menunjukkan terdapat 35 anak prasekolah . -6 tahu. dari 100 anak yang menjalani perawatan. Anak prasekolah . -6 tahu. ini dapat mencapai 80% dari pasien anak. Hospitalisasi dapat menimbulkan efek pada anak. Efek hospitalisasi pada anak seperti resiko trauma, stres, kecemasan yang disebabkan oleh cedera, kehilangan kendali, perpisahan, dan terbatasnya gerak anak dan ruang bermain karena terapi perawatan yang dijalani. Selain itu, anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi akan menjadi hal yang tidak menyenangkan karena anak terpaksa harus berpisah dengan lingkungan yang sebelumnya, yaitu keluarga terutama kelompok sosialnya sehingga menimbulkan rasa takut, sedih dan cemas (Faidah and Marchelina 2. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ginting dan Sembiring bahwa anak prasekolah yang hospitalisasi mengalami kecemasan dengan kategori berat sebesar 67,1% (Ginting and Sembiring 2. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Respon anak terhadap kecemasan saat dirawat berbeda-beda tergantung pada tahap perkembangan Berdasarkan hasil penelitian Novayelinda. Hasanah dan Indriati menunjukkan bahwa respon kecemasan anak prasekolah yang sering muncul saat dirawat yakni kecemasan cedera fisik dan perpisahan seperti: tampak hati-hati saat turun dari tempat tidur . %), cemas/gemetar/menolak/menangis saat dibawa ke ruang pemeriksaan . %), takut terhadap jarum suntik/alat memasang infus . %), tidak mau ditinggal sendiri karena takut orang tua tidak akan kembali . %). Hal ini disebabkan karena cedera tubuh, kehilangan kendali, perpisahan, dan rasa sakit (Riri. Oswati, and Indrianti 2. Selain itu, anak juga mengungkapkan ketakutan yang disebabkan oleh kurangnya informasi atau lingkungan yang tidak dikenal, lingkungan fisik, sosial, dan simbolik, serta hubungan antara anak dan staf. Kecemasan anak dapat menurun melalui perilaku caring. Perilaku caring perawat adalah kinerja perawat yang dapat dipengaruhi oleh demografi perawat itu sendiri seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, masa kerja, status pernikahan, dan latar belakang keluarga. Perilaku caring perawat dapat ditunjukkan dengan sikap perawat tersenyum dan melakukan kontak mata terhadap orang tua dan pasien, perawat terlihat peduli, memeriksa obat, perawat bersikap ramah, dan perawat memberikan penjelasan dalam melakukan tindakan (Agustin 2. Perilaku caring perawat ini terdiri dari beberapa komponen yakni keyakinan dan harapan, nilai-nilai kemanusiaan dan altruistik, pengekspresian peran positif dan negatif, membantu menumbuhkan kepercayaan, pembelajaran interpersonal, kepekaan pada diri sendiri dan orang lain, proses pemecahan masalah perawatan secara sistematis, dukungan fisik, sosial, mental, dan spiritual, dalam memenuhi kebutuhan manusia melalui penuh penghargaan, serta eksistensi fenomena kekuatan (Basavanthappa 2. Perilaku caring perawat yang diberikan kepada pasien dapat menciptakan rasa nyaman, aman, terpenuhinya kebutuhan fisik, spiritual, dan emosi. Hal ini dapat mengurangi kecemasan sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan. Oleh karena itu, tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi akan berkaitan dengan perilaku caring perawat yang baik, karena melalui perilaku caring perawat dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan kualitas rumah sakit. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Novikasari dan Hairunisa . menunjukkan bahwa perilaku caring perawat yang tidak baik dapat menimbulkan anak mengalami kecemasan sebesar 73,9%. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Listiana. Kustriyani dan Widyaningsih . menunjukkan bahwa perilaku caring perawat yang cukup dapat menimbulkan anak yang dirawat inap mengalami tingkat kecemasan berat sebesar 46,4%. Perilaku caring perawat yang tidak baik ini dapat berupa perawat yang kurang ramah, bersikap menegur dan kritis, kurang mendengarkan kekhawatiran dan menjawab pertanyaan, serta tidak memberikan penjelasan sebelum diberikan tindakan (Fathy Mahmoud and Abd Elkreem 2. Peneliti melakukan studi penelitian di RSUD Arifin Achmad pada Desember 2023 terdapat anak usia 1-4 tahun sebanyak 71 orang dan 5-14 tahun sebanyak 128 orang yang dirawat inap. Peneliti melakukan wawancara informal di ruang Anggrek II sebanyak 10 responden untuk mendapatkan fenomena tingkat kecemasan yang dialami oleh anak yang dirawat inap berkaitan dengan perilaku caring perawat. Hasil yang didapatkan dari wawancara yang dilakukan yaitu 8 dari 10 responden mengatakan mengalami kecemasan dengan beberapa gejala kecemasan seperti sering menangis, sulit tidur dan makan, merasa bosan. Selain itu, orang tua mengatakan bahwa anak menjadi panik This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. dan takut jika ditinggal sendiri bahkan takut terhadap perawat dan prosedur medis seperti saat pemasangan infus, sedangkan 2 responden lainnya mengatakan tidak cemas. Selain itu, hasil wawancara pada orang tua dan anak terkait perilaku caring perawat dengan 6 dari 8 anak yang mengalami kecemasan mengatakan sebagian besar perilaku caring perawat yang kurang dengan ditunjukkan perawat dalam melakukan perawatan nyeri yang dapat menyakitkan pada anak, kurang responsif terhadap kebutuhan/permintaan orang tua dan anak, dan ada beberapa perawat yang kurang ramah terhadap orang tua dan anak. Berdasarkan uraian tersebut, tingginya tingkat kecemasan pada anak yang menjalani hospitalisasi menunjukkan adanya permasalahan yang perlu mendapat perhatian khusus. Temuan awal di lapangan juga mengindikasikan bahwa perilaku caring perawat diduga memiliki keterkaitan dengan munculnya kecemasan pada anak prasekolah selama menjalani perawatan inap. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk menganalisis hubungan antara perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap, sehingga dapat menjadi dasar dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan keperawatan dan penurunan kecemasan pada anak selama hospitalisasi. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Populasi penelitian adalah seluruh orang tua yang memiliki anak prasekolah yang dirawat inap. Pada Januari 2025 tercatat 67 pasien anak prasekolah, namun selama periode penelitian . ertengahan Februari hingga pertengahan Maret 2. jumlah sampel meningkat menjadi 71 responden, dengan teknik pengambilan sampel satu orang tua untuk setiap satu pasien sesuai kriteria inklusi. Seluruh populasi . %) bersedia menjadi responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik responden . enis kelamin, usia, riwayat perawatan, lama dirawat, dan bangsal/ruanga. serta variabel perilaku caring perawat dan tingkat kecemasan anak. Analisis bivariat dilakukan dengan tabulasi silang dan uji Chi-Square menggunakan SPSS 25. 0 untuk mengetahui hubungan antara perilaku caring perawat dan tingkat kecemasan anak prasekolah. Penelitian ini menggunakan tingkat signifikansi = 0,05, dengan ketentuan p value O 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan. Hasil Penelitian tentang hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap telah dilakukan di RSUD Arifin Achmad pada 21 Februari sampai 17 Maret 2025 dengan jumlah responden 71 orang anak prasekolah yang dirawat inap. Hasil penelitian diperoleh sebagai berikut: Analisis Univariat Analisis univariat pada tabel karakteristik responden dan variabel yang diteliti dengan menyajikan karakteristik responden dan variabel penelitian meliputi perilaku caring dan kecemasan anak prasekolah. Hasil analisis univariat dapat diperoleh sebagai berikut: Karakteristik Responden dan Anak Responden Karakteristik responden pada penelitian ini dijabarkan dalam distribusi frekuensi dan persentase yakni umur responden, jenis kelamin responden, jenis kelamin anak, sudah This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. pernah dirawat, jumlah saudara, dan yang menunggu anak. Adapun hasil terkait karakteristik responden dijelaskan sebagai berikut: Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden dan Anak Responden Karakteristik Frekuensi . Persentase (%) Jenis Kelamin Orang Tua Laki-Laki 22,5% Perempuan 77,5% Umur Orang Tua 17 Ae 25 Tahun 14,1% 26 Ae 35 Tahun 66,2% 36 Ae 45 Tahun 19,7% Jenis Kelamin Anak Laki-Laki 45,1% Perempuan 54,9% Sudah Pernah Dirawat Pernah 70,4% Belum Pernah 29,6% Jumlah Saudara Anak Tunggal 53,5% Punya Saudara 46,5% Yang Menunggu Anak Ayah 12,7% Ibu 77,5% Kakak 4,2% Nenek 5,6% Total Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua sebagai responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 55 responden . ,5%) dan sebagian besar berumur 26 Ae 35 tahun sebanyak 47 responden . ,2%). Sedangkan anak responden sebagian besar berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 39 responden . ,9%) dan sebagian besar anak sudah pernah dirawat sebelumnya yaitu sebanyak 50 responden . ,4%). Selain itu, jumlah saudara anak sebagian besar anak tunggal yaitu sebanyak 38 responden . ,5%) dan sebagian besar yang menunggu anak di rumah sakit yakni ibu sebanyak 55 responden . ,5%). Perilaku Caring Variabel perilaku caring perawat merupakan variabel kategorik dengan data ordinal yang disajikan berdasarkan total skor dapat dijabarkan dalam distribusi frekuensi dan persentase sebagai berikut: This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Perilaku Caring Perawat Perilaku Caring Perawat Frekuensi . Persentase (%) Baik 42,3% Cukup Baik 39,4% Kurang Baik 18,3% Total Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar perawat memiliki perilaku caring yang baik dengan didapatkan hasil sebanyak 30 responden . ,3%). Kecemasan Anak Prasekolah Variabel tingkat kecemasan anak prasekolah merupakan variabel kategorik dengan data ordinal yang disusun berdasarkan total skor sehingga dapat dijabarkan dalam distribusi frekuensi dan persentase sebagai berikut: Tabel 3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Kecemasan Anak Prasekolah Tingkat Kecemasan Anak Frekuensi . Persentase (%) Prasekolah Ringan 39,4% Sedang 40,8% Berat 19,7% Total Tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar anak prasekolah yang dirawat inap mengalami tingkat kecemasan sedang dengan didapatkan hasil sebanyak 29 responden . ,8%). Analisis Bivariat Analisis bivariat dalam penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap. Analisis bivariat ini menggunakan uji statistik Chi Square. Hasil analisis bivariat dapat diperoleh dari tabel uraian berikut: Tabel 4 Hubungan Perilaku Caring Perawat dengan Tingkat Kecemasan Anak Prasekolah yang Dirawat Inap Perilaku Tingkat Kecemasan Anak Prasekolah Total pCaring Perawat Ringan Sedang Berat Baik 26 86,7% 4 13,3% 0 30 100% 0,000 Cukup Baik 2 7,1% 78,6% 4 14,3% 28 100% Kurang Baik 0 23,1% 10 76,9% 13 100% Total 28 39,4% 29 40,8% 14 19,7% 71 100% This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Tabel 4 menunjukkan bahwa hasil analisis hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap. Hasil analisis didapatkan bahwa sebagian besar responden menunjukkan tingkat kecemasan sedang pada anak prasekolah yang dirawat inap dengan perilaku caring perawat yang cukup baik yaitu sebanyak 22 responden . ,6%). Hasil uji statistik Chi Square dengan nilai p value 0,000 < yu = . , maka H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap. Pembahasan ANALISIS UNIVARIAT Karakteristik Responden dan Anak Responden Jenis Kelamin Orang Tua Hasil penelitian berdasarkan karakteristik jenis kelamin responden menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah perempuan sebanyak 55 orang . ,5%). Responden perempuan tersebut merupakan ibu yang berperan sebagai pendamping utama anak selama menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara itu, responden laki-laki merupakan ayah yang juga berperan sebagai penunggu atau pendamping anak selama masa perawatan, meskipun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan responden perempuan. Hal ini sejalan yang dilakukan oleh Nurfatimah . yang menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua yang mendampingi anak selama menjalani hospitalisasi yakni ibu sebanyak 29 responden . ,3%). Penelitian Sunarti . juga menunjukkan bahwa sebagian besar yang mendampingi anak prasekolah selama menjalani hospitalisasi yakni ibu sebanyak 28 responden . ,8%). Umur Orang Tua Hasil penelitian ini berdasarkan karakteristik responden dapat menunjukkan bahwa sebagian besar responden berumur 26 Ae 35 tahun yakni dewasa awal sebanyak 47 responden . ,2%). Klasifikasi umur tersebut berdasarkan Kemenkes . yang mengungkapkan 17Ae25 tahun merupakan umur remaja akhir, 26Ae35 tahun merupakan umur dewasa awal, dan 36 Ae 45 tahun merupakan umur dewasa akhir. Penelitian ini didukung oleh Kaban. Damanik, dan Siahaan . yang mengungkapkan bahwa orang tua yang memiliki anak prasekolah paling banyak di rentang umur 26Ae35 tahun . ewasa awa. sebanyak 52 responden . ,9%). Jenis Kelamin Anak Hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan karakteristik jenis kelamin anak responden dapat menunjukkan bahwa sebagian besar anak prasekolah yang dirawat inap berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 39 responden . ,9%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fiteli. Nurchayati, dan Zukhra . mengatakan bahwa sebagian besar anak prasekolah yang dirawat inap di Ruang Lili Infeksius dan Non Infeksius RSUD Arifin Achmad berjenis kelamin perempuan dengan diperoleh 18 orang perempuan . %). Penelitian Sulaeman. Ismanto dan Amir . juga menunjukkan bahwa anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi berdasarkan jenis kelamin sebagian besar perempuan sebanyak 16 orang . ,3%). Kecemasan pada anak berusia 3-6 tahun lebih sering dialami oleh anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. Hal ini disebabkan oleh sifat anak laki-laki yang lebih aktif dan eksploratif, sementara anak perempuan cenderung lebih sensitif dan lebih banyak mengandalkan perasaan. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Sudah Pernah Dirawat Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat menunjukkan bahwa sebagian besar anak prasekolah sudah pernah dirawat sebelumnya yaitu sebanyak 50 responden . ,4%). Hal ini mungkin disebabkan karena RSUD Arifin Achmad sebagai rumah sakit tipe A yang merupakan rumah sakit rujukan utama di Provinsi Riau. Berdasarkan sistem rujukan yang diterapkan oleh BPJS, pasien yang dirawat di RSUD Arifin Achmad adalah pasien rujukan tingkat lanjut yang berasal dari rumah sakit dengan tipe yang berbeda. Oleh karena itu, jumlah anak yang telah dirawat sebelumnya cukup signifikan. Selain itu, peneliti juga melakukan penelitian di ruang rawat inap anak yang mengalami penyakit kronis sehingga adanya kemungkinan pasien anak menjalani perawatan berulang di rumah sakit akibat komplikasi ataupun rangkaian terapi dan pengobatan yang intensif. Penelitian yang dilakukan oleh Novayelinda. Hasanah dan Indriati . mengungkapkan bahwa anak yang mengalami hospitalisasi dengan kategori penyakit kronis sebesar 42,5% dengan pengalaman pernah dirawat sebelumnya sebesar 70%. Hal ini mungkin dapat berkaitan dengan timbulnya trauma pada anak meskipun anak pernah mengalami perawatan sebelumnya dimana pengalaman yang tidak menyenangkan dapat tetap menimbulkan rasa Dengan demikian, perawat harus mengidentifikasi riwayat kesakitan anak. Tujuannya adalah supaya mengetahui pengalaman anak ataupun faktor-faktor yang dapat meningkatkan kecemasan pada anak ketika menjalani hospitalisasi. Jumlah Saudara Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar anak prasekolah yang dirawat inap merupakan anak tunggal yaitu sebanyak 38 responden . ,5%). Jumlah saudara kandung juga memiliki hubungan yang erat dengan dukungan keluarga. Apabila anak yang tidak punya saudara kandung lebih cenderung mengalami kecemasan saat menjalani hospitalisasi (Nazari et al. Namun demikian, berbeda halnya dengan penelitian Prayogi . ) yang mengatakan bahwa semakin banyak jumlah saudara kandung, maka anak cenderung mengalami kecemasan yang lebih tinggi serta perasaan kesepian dan merasa sendiri ketika menjalani hospitalisasi. Yang Menunggu Anak Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat menunjukkan bahwa sebagian besar yang menunggu anak di rumah sakit yakni ibu sebanyak 55 responden . ,5%), sementara itu ayah sebanyak 9 responden . ,7%), kakak sebanyak 3 responden . ,2%), dan nenek sebanyak 4 responden . ,6%). Orang yang menunggu anak ini merupakan orang tua atau keluarga anak prasekolah yang dirawat inap di rumah sakit. Dengan demikian, mereka mengetahui kondisi anak selama menjalani perawatan di rumah sakit serta kualitas pelayanan kesehatan yang Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas anak prasekolah yang dirawat inap didampingi oleh ibu. Hal ini menunjukkan bahwa ibu berperan sebagai pengasuh utama yang memiliki tanggung jawab yang besar dalam menjaga kesehatan anak (Rostami Ghadi and Chakeri Ibu merupakan sosok sentral dalam keluarga dan kepedulian ibu terhadap anaknya This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. bersifat naluriah (Kusumawaty et al. Keluarga yang mempunyai anak dengan penyakit kronis dapat menyebabkan tingkat stress cenderung lebih tinggi dialami ibu dibandingkan dengan yang dirasakan ayah. Hal ini disebabkan oleh peran ibu sebagai pengasuh utama yang lebih sering berinteraksi dengan anak dibandingkan dengan ayah (Pradana and Kustanti 2. Perilaku Caring Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat menunjukkan bahwa perawat memiliki perilaku caring yang cukup baik dengan didapatkan hasil sebanyak 28 responden . ,4%). Gambaran perilaku caring perawat dalam penelitian ini adalah beberapa responden yakni 32 responden . ,1%) memiliki persepsi caring perawat yang cukup baik mengatakan bahwa informasi yang disampaikan perawat kurang terkait tindakan perawatan, pemeriksaan, dan pengobatan. Orang tua bahkan harus bertanya terlebih dahulu kepada perawat untuk mendapatkan penjelasan tersebut. Sebagian orang tua pun mengatakan beberapa perawat yang kurang ramah terhadap orang tua dan anak sebanyak 22 responden . %). Sebagian besar orang tua, 25 responden . ,2%) juga mengatakan perawat kurang responsif terhadap kebutuhan/permintaan orang tua dan anak dimana terdapat sebanyak, serta suasana ruangan yang terkadang kurang nyaman dan tenang bagi orang tua dan anak dengan 34 responden . ,9%). Perilaku caring perawat adalah kinerja perawat yang dapat dipengaruhi oleh demografi perawat itu sendiri seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, masa kerja, status pernikahan, dan latar belakang keluarga. Perilaku caring perawat dapat terlihat melalui senyuman dan kontak mata yang dilakukan terhadap pasien dan keluarganya, perawat terlihat peduli, memeriksa obat, perawat bersikap ramah, dan perawat memberikan penjelasan dalam melakukan tindakan (Agustin 2. Perilaku caring perawat ini terdiri dari beberapa komponen yakni keyakinan dan harapan, nilai-nilai kemanusiaan serta altruistik, pengekspresian peran positif dan negatif, membantu menumbuhkan kepercayaan, pembelajaran interpersonal, kepekaan pada diri sendiri dan orang lain, proses pemecahan masalah perawatan secara sistematis, dukungan fisik, sosial, mental, dan spiritual, dalam memenuhi kebutuhan manusia melalui penghargaan, serta mencerminkan fenomena kekuatan yang ada. Perawat yang memiliki perilaku caring menunjukkan kepedulian yang tulus terhadap pasien, tidak berarti dari segi fisik saja melainkan juga dari hati yang tulus. Caring merupakan sifat yang harus dimiliki oleh seorang perawat dan harus muncul secara alami dari dalam dirinya (Febryanto 2. Penelitian yang dilakukan oleh Fitriani. Aklima dan Jufrizal . mengungkapkan bahwa Sebagian besar perilaku caring perawat cukup sebanyak 43 orang . %). Penelitian Pragholapati dan Gusraeni . juga mengungkapkan bahwa sebagian besar perilaku caring perawat cukup baik di Ruang Rawat Inap Cempaka RSUD Majalaya sebanyak 17 orang . %). Persepsi ini muncul karena responden merasa bahwa kesibukan perawat dalam melayani sejumlah pasien yang banyak memengaruhi kualitas perhatian yang diberikan (Pardede 2. Kecemasan Anak Prasekolah Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat menunjukkan bahwa sebagian besar anak prasekolah yang dirawat inap mengalami tingkat kecemasan sedang dengan didapatkan hasil This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. sebanyak 29 responden . ,8%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Akingbohungbe . yang menunjukkan bahwa sebagian besar anak prasekolah yang dirawat memiliki kecemasan sedang sebanyak 20 responden . ,6%). Gambaran kecemasan yang dialami anak prasekolah saat dirawat inap pada penelitian ini yakni takut terhadap perawat dan prosedur medis seperti saat pemasangan infus, gelisah ketika akan pergi ke suatu tempat seperti ke ruang pemeriksaan, merasa sedih apabila ditinggal sendiri karena takut orang tua tidak akan kembali, dan anak takut bertemu serta berinteraksi dengan orang asing. Penelitian Novayelinda. Hasanah dan Indriati . juga menunjukkan bahwa respon kecemasan anak prasekolah yang sering muncul saat dirawat yakni kecemasan cedera fisik dan perpisahan seperti: tampak hati-hati saat turun dari tempat tidur . %), cemas/gemetar/menolak/menangis saat dibawa ke ruang pemeriksaan . %), takut terhadap jarum suntik/alat memasang infus . %), tidak mau ditinggal sendiri karena takut orang tua tidak akan kembali . %). Dengan demikian, kecemasan anak sangat penting menjadi Hal ini dikarenakan kecemasan yang dialami anak selama hospitalisasi dapat mengurangi motivasi untuk sembuh, menghambat pemulihan, serta menyebabkan kurang kooperatif terhadap tenaga kesehatan saat diberikan tindakan perawatan bahkan berpotensi meningkatkan munculnya komplikasi saat menjalani perawatan (Basavanthappa 2. ANALISIS BIVARIAT Hasil analisis lebih lanjut terkait hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap dengan uji statistik Chi Square diperoleh nilai p value < yu . ,000 < 0,. Peneliti menyimpulkan bahwa H0 ditolak berarti terdapat hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap. Hal ini sejalan dengan penelitian Novikasari dan Hairunisa . dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan pasien anak rawat Gambaran hubungan antara perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap pada penelitian ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa sebagian besar tingkat kecemasan sedang pada anak prasekolah yang dirawat inap dengan perilaku caring perawat yang cukup baik yaitu sebanyak 22 responden . ,6%). Perilaku caring perawat yang menjadi fokus perhatian yang dapat menimbulkan kecemasan pada anak yakni kurangnya penjelasan yang jelas dan lengkap dari perawat tentang tes, pengobatan, dan hal yang diharapkan. kemampuan perawat dalam memberikan prosedur invasif pada anak. kurang dalam memenuhi kebutuhan orang tua/anak. kurang responsif. serta kurang ramah terhadap orang tua dan anak. Hal ini yang menyebabkan anak seringkali merasa cemas ditunjukkan dengan anak merasa takut mengenai prosedur medis yang dijalani seperti ingin mencoba menghindar, takut bertemu serta berinteraksi dengan orang asing salah satunya perawat, dll. Hal ini didukung oleh penelitian Ashraf . yang mengungkapkan bahwa salah satu perilaku caring perawat yang dapat menyebabkan kecemasan pada anak prasekolah selama dirawat inap yakni mengenai pemberian tindakan invasif pada anak. Respon anak terhadap prosedur invasif bervariasi, tergantung pada tahap perkembangan dan usia mereka. Anak-anak yang belum dapat This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. mengungkapkan rasa sakit yang dialami akibat keterbatasan dalam kosakata cenderung menggunakan strategi koping berupa melarikan atau menghindar. Perlu diketahui bahwa, perilaku caring perawat yang tidak baik dapat berupa perawat yang kurang ramah, bersikap menegur dan kritis, kurang mendengarkan kekhawatiran dan menjawab pertanyaan, serta tidak memberikan penjelasan sebelum diberikan tindakan (Pardede 2. Hal ini dapat menunjukkan bahwa caring perawat dapat mempengaruhi tingkat kecemasan anak selama Caring perawat yang baik memengaruhi tingkat kesembuhan anak selama masa Peneliti berasumsi bahwa kekuatan hubungan antara perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perilaku caring perawat yang baik dapat menyebabkan anak prasekolah yang dirawat inap mengalami tingkat kecemasan ringan dan sedang, bahkan perilaku caring perawat yang kurang baik tidak ada yang menyebabkan anak mengalami kecemasan ringan melainkan kecemasan di tingkat sedang dan berat. Namun demikian, kecemasan yang dialami anak bukan hanya dipengaruhi oleh perilaku caring perawat saja, melainkan adanya faktor-faktor lainnya. Faktor tersebut berupa jenis kelamin, pengalaman dirawat sebelumnya, penyakit anak, jumlah saudara, dan bahkan yang menunggu anak/pengasuhan anak. Meskipun demikian, perawat perlu senantiasa menjaga dan meningkatkan perilaku caring dalam setiap tahap perawatan terutama dalam konteks keperawatan anak. Kesimpulan Hasil penelitian tentang hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap adalah pada karakteristik responden, sebagian besar orang tua sebagai responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 55 responden . ,5%) dan sebagian besar berumur 26 Ae 35 tahun sebanyak 47 responden . ,2%). Sedangkan karakteristik anak, jenis kelamin anak sebagian besar dalam penelitian ini adalah perempuan yaitu sebanyak 39 responden . ,9%), dan sebagian besar anak sudah pernah dirawat sebelumnya yaitu sebanyak 50 responden . ,4%). Selain itu, jumlah saudara anak sebagian besar anak tunggal yaitu sebanyak 38 responden . ,5%) dan sebagian besar yang menunggu anak di rumah sakit yakni ibu sebanyak 55 responden . ,5%). Penelitian yang telah dilakukan ini menghasilkan sebagian besar perawat memiliki perilaku caring yang baik dengan didapatkan hasil sebanyak 30 responden . ,3%). Hasil penelitian juga didapatkan bahwa sebagian besar anak prasekolah yang dirawat inap mengalami tingkat kecemasan sedang dengan didapatkan hasil sebanyak 29 responden . ,8%). Hasil uji statistik Chi Square diperoleh nilai p value < yu . ,000 < 0,. Peneliti menyimpulkan bahwa H0 ditolak berarti terdapat hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak prasekolah yang dirawat inap. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Referensi