VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA BAHASA INDONESIA MELALUI ALAT PERAGA SUKU KATA DENGAN WHATSAPP SISWA KELAS IC SD NEGERI 002 TARAKAN TAHUN PELAJARAN 2020/2021 IMPROVED ABILITY TO READ INDONESIAN THROUGH SYLLABLE PROPS WITH WHATSAPP STUDENTS OF IC SD NEGERI CLASS 002 TARAKAN SCHOOL YEAR 2020/2021 Jawiyah SD Negeri 002 Tarakan jawiyah/guru. ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian tindakan kelas ini (PTK) adalah untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia melalui alat peraga suku kata dengan WhatsApp Grup. Subjek penelitian ini yaitu hasil belajar Bahasa Indonesia melalui alat peraga suku kata dengan WhatsApp Grup. Adapun kelas yang akan digunakan adalah kelas IC SD Negeri 002 Tarakan yang berjumlah 28 orang anak, yang terdiri dari 12 anak laki-laki dan 16 anak perempuan. Kelas IC dipilih karena peneliti menjadi guru kelasnya. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi, tindakan dan dokumentasi. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus dan setiap siklus dilaksanakan tiga kali pertemuan mengajar. Digunakan dua siklus supaya dapat diketahui dengan pasti peningkatan hasil belajar dalam memahami pembelajaran menggunakan alat peraga suku kata dengan WhatsApp Grup. Hasil penelitian membuktikan bahwa dengan menggunakan alat peraga suku kata dengan WhatsApp Grup, dapat meningkatkan hasil belajar siswa, yang dibuktikan dengan hasil belajar di setiap aspek pengamatan, tindakan sehingga mengalami peningkatkan hasil belajar di setiap siklus dan setiap akhir pertemuan mengajar. Untuk hasil belajar pada siklus I menunjukan peningkatan 46,6% dengan rata-rata nilai klasikal 65,8 sedangkan pada siklus ke II meningkat menjadi 85,7% dengan rata-rata nilai klasikal 82,5 walaupun masih ada 2 orang siswa atau 7,1% belum mencapai ketuntasan dalam pembelajaran maka akan diberikan remedial secara khusus sehingga semua siswa kelas IC ini mengalami ketuntasan dalam pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran menggunakan alat peraga suku kata WhatsApp Grup dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga disarankan kepada guru untuk mempersiapkan pendekatan pembelajaran yang tepat dalam setiap pembelajaran terutama pendekatan pembelajaran serta media yang digunakan di sekolah sehingga mendukung terlaksanannya proses pembelajaran, menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Kata kunci : Hasil Belajar. Alat Peraga Suku Kata. WhatsApp. Jawiyah Peningkatan Kemampuan Membaca Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 ABSTRACT The purpose of this class action research (CAR) is to improve learning outcomes Indonesian through syllable props with WhatsApp Groups. The subject of this study was the result of learning Indonesian through syllable props with WhatsApp Groups. The class that will be used is the IC class of SD Negeri 002 Tarakan which numbers 28 children, consisting of 12 boys and 16 girls. IC classes were chosen because researchers became their classroom teachers. The data collection in this study was done through observation, action and documentation. This class action research is carried out in two cycles and each cycle is carried out three teaching meetings. Used two cycles so that it can be known with certainty the improvement of learning outcomes in understanding learning using syllable props with WhatsApp Groups. The results proved that by using syllable props with WhatsApp Groups, it can improve student learning outcomes, as evidenced by learning outcomes in every aspect of observation, action so as to improve learning outcomes in each cycle and at the end of teaching meetings. For learning outcomes in cycle I showed an increase of 46. 6% with a classical grade average of 65. while in cycle II increased to 85. 7% with a classical grade average of 82. 5 even though there are still 2 students or 7. 1% have not achieved completion in learning it will be given a special remedial so that all students of this IC class experience completion in learning. Thus, learning using WhatsApp Group syllable props can improve student learning outcomes, so it is advisable for teachers to prepare the right learning approach in every learning, especially learning approaches and media used in schools so as to support the implementation of the learning process, interesting and in accordance with the needs of students. Keywords: Learning Outcomes. Syllable Props. WhatsApp. menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya. Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengePeningkatan Kemampuan Membaca Pendahuluan Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu siswa mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat dan menemukan serta Jawiyah Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 tahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD diarahkan untuk meningkatkan kemam-puan siswa untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkaan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Pembelajaran bahasa Indonesia di SD men-cakup komponen bersastra yang meliputi empat aspek antara lain mendengarkan, berbicara, membaca, dan Permulaan tahun ajaran baru muridAe murid kelas I SD sajian yang utama untuk mereka adalah membaca dan menulis. Pembelajaran untuk kedua jenis ketrampilan ini dikemas dalam satu paket yang biasa disebut paket MMP atau membaca menulis Melalui paket ini, untuk pertama kalinya para murid baru diperkenalkan dengan lambangAelambang tulis yang biasa digunakan untuk berkomunikasi. Sasaran utamanya adalah para murid kelas I SD memiliki kemampuan membaca dan kemampuan menulis pada tingkat dasar. Kemampuan dasar dimaksud akan menjadi dasar bagi keterampilan-keterampilan lain. Baik dalam akademik di sekolah, maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Membaca adalah salah satu bidang dalam perkembangan Bahasa Indonesia di sekolah dasar yang memegang peranan Kemampuan yang diperlukan dalam membaca antara lain kemampuan berfikir secara teratur dan logis, kemampuan Jawiyah mengungkapkan fikiran atau gagasan secara Kegunaan membaca bagi siswa adalah untuk bahan pengetahuan dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Tanpa memiliki kemampuan membaca siswa akan mengalami banyak kesulitan. Pembelajaran membaca di sekolah dasar telah diajarkan sejak kelas I sampai kelas VI. Pembelajaran yang utama untuk kelas I adalah membaca dan menulis yang dikemas dalam satu paket yang disebut MMP . embaca menulis permulaa. Kedua kemampuan tersebut yaitu membaca dan menulis sangat erat kaitannya dan sangat penting sehingga tidak bisa dipisah-kan satu dengan yang lainnya. Kemampuan membaca harus sudah dikuasai dari kelas I SD sesuai dengan standar isi Bahasa Indonesia. Kemampuan membaca sangat penting karena kemampuan tersebut akan menjadi dasar kemampuan siswa pada kelas-kelas berikutnya. Masalah dalam pembelajaran membaca yang kerap muncul di tingkat SD misalnya yang terjadi siswa kelas IC SD Negeri 002 Tarakan di antaranya kesulitan siswa ketika mengenal huruf, kesulitan siswa mengucapkan huruf menjadi suku kata, kesulitan siswa mengucapkan suku kata menjadi kata yang bermakna, kesulitan siswa mengucapan kata menjadi kalimat yang bermakna, siswa gagap dalam ber-bicara, siswa menambah atau menghilang-kan bunyi, dan kesulitan siswa membaca buku pelajaran di sekolah dengan lafal yang tepat. Siswa malu membaca karena kurang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan Akhirnya dapatlah disimpulkan Peningkatan Kemampuan Membaca Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 bahwa dalam pembelajaran membaca, metode yang paling cocok dengan jiwa anak atau siswa kelas IC SDN 002 Tarakan adalah melalui metode suku kata. Hasil observasi sebelumnya menunjukkan bahwa dengan pem-belajaran melalui metode suku kata memiliki manfaat yang memuaskan dan itu dIBnggap suatu kelebihan dari metode ini. Oleh karena itu penelitian tindakan kelas ini diarahkan untuk melalui metode suku kata pada siswa kelas IC SDN 002 Tarakan. Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia pada saat ini adalah mewabahnya pandemi Covid-19 adalah krisis kesehatan yang pertama dan terutama di dunia. Banyak negara memutuskan untuk menutup sekolah, perguruan tinggi dan universitas. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi gusar dengan adanya fakta Organisasi Internasional yang bermarkas di New York. AS, itu menangkap bahwa pendidikan menjadi salah satu sektor yang begitu terdampak oleh virus corona. Parahnya lagi, hal itu terjadi dalam tempo yang cepat dan skala yang luas. Sebagai usaha pencegahan penyebaran Covid-19. WHO merekomendasikan untuk menghentikan sementara kegiatankegiatan yang berpotensi menim-bulkan kerumunan massa. Untuk itu pem-belajaran konvensional yang mengumpulkan banyak siswa dalam satu ruangan perlu ditinjau ulang Pembela-jaran dilaksanakan dengan skenario yang mampu meminimalisir kontak fisik antara siswa dengan siswa lain, ataupun antara siswa Jawiyah dengan guru. Menurut Milman . penggunaan teknologi digital memungkinkan siswa dan guru berada di tempat yang berbeda selama proses pembe-lajaran Mengajar bukan semata persoalan Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam Belajar keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif. Pelaksanaan pembelajaran daring berjalan dengan lancar, walaupun dirasakan kurang ideal. Hasil belajar siswa bervariasi, mulai dari kurang memuaskan, cukup hingga Kendala yang dihadapi siswa dan guru dalam pembelajaran daring antara lain: ketersediaan kuota internet, jaringan yang tidak stabil, dan alat penunjang seperti gawai dan laptop. Pembelajaran daring dinilai efektif jika diterapkan pada masa pandemi covid-19 namun diperlukan model yang lebih variatif agar tetap menarik jika digunakan dalam jangka panjang Untuk mengatasi masalah dalam pelaksanaan pembelajaran tersebut, tentu diperlukan model pembelajaran yang dipandang mampu mengatasi kesulitan Guru harus mampu menggunakan dan memilih model pembelajaran yang tepat untuk membantu siswa mencapai hasil belajar yang maksimal. Menyikapi kenyataan tersebut merupakan tantangan bagi pendidikan untuk menciptakan suasana yang menarik sehingga siswa akan ikut aktif dalam Peningkatan Kemampuan Membaca Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 proses pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam melibatkan siswa secara aktif adalah dengan menggunakan alat peraga suku kata melalui WA Grup kelas IC SD Negeri 002 Tarakan. Berdasarkan paparan di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul AuPeningkatan Kemampuan Siswa Membaca Suku Kata Dengan WhatsApp Melalui Alat Peraga di Kelas IC SD Negeri 002 Tarakan Tahun Pelajaran 2020/2021Ay. Dengan harapan terjadi peningkatan hasil belajar siswa di masa pendemi covid 19 ini. Siswa kelas I belum tentu mahir menggunakan alat komunikasi digital sebagai media pembelajaran. Karena keterbatasan waktu dan kemampuan, peneliti membatasi masalah pada pengenalan huruf, pengucapan huruf menjadi suku kata dengan lafal yang tepat, pengucapan suku kata menjadi kata yang bermakna dengan lafal yang tepat, pengucapan kata menjadi kalimat yang bermakna dengan lafal yang tepat, dan siswa membaca beberapa kalimat yang bermakna dengan lafal yang tepat dengan metode pembelajaran suku kata melalui WA Grup kelas IC SDN 002 Tarakan yang senantiasa dipantau oleh walikelas atau guru kelasnya sehingga siswa dapat dibimbing dalam membaca. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas dan observasi yang telah dilakukan, maka dipaparkan beberapa masalah yang ditemukan, antara lain: Pada tahun permulaan banyak kesulitan siswa dalam mengenal huruf. Siswa kesulitan mengucapkan huruf menjadi suku kata dengan lafal yang Kesulitan siswa mengucapkan kata menjadi kalimat yang bermakna dengan lafal yang tepat. Siswa masih gagap dalam berbicara. Masih ditemukan siswa sering menambah atau menghilangkan bunyi. Kondisi pendemi covid 19 yang membatasi guru dan siswa bertatap muka sehingga harus menggunakan alat komunikasi dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang dan identifikasi masalah di atas maka dapat disusun rumusan masalah dalam penelitian ini yakni bagaimanakah upaya peningkatan kemampuan membaca Bahasa Indonesia melalui alat peraga suku kata dengan WhatsApp siswa kelas IC SD Negeri 002 Tarakan tahun pelajaran 2020/2021? Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah penelitian di atas maka penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimanakah upaya peningkatan kemampuan membaca Bahasa Indonesia melalui alat peraga suku kata dengan WhatsApp siswa kelas IC SD Negeri 002 Tarakan tahun pelajaran 2020/2021. Jawiyah Peningkatan Kemampuan Membaca Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 Manfaat Penelitian Hasil penelitian akan bermanfaat bagi siswa, guru dan sekolah dengan perincian sebagai berikut. Siswa Dapat meningkatkan kemampuan membaca dengan lafal yang benar. Mampu mengembangkan ketrampilan dalam membaca. Melatih siswa dalam ketrampilan membaca lancar melalui metode suku kata. Guru: Mampu pembelajaran membaca melalui metode suku kata di sekolah dasar. Mampu melaksanakan penilaian dan membaca, khususnya siswa kelas IC SDN 002 Tarakan. Sekolah: Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang pembelajaran dengan menerapkan metode suku kata di lingkungan sekolah dasar. Memberikan pemahaman bagi guru dengan menggunakan metode suku kata yang sesuai dengan perkembangan siswa kelas awal sekolah Memberikan ketrampilan kepada guru dalam menyusun perencanaan pelaksanaan dan melakukan penilaian dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada aspek membaca. Pengertian Membaca Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif. Disebut reseptif karena dengan membaca seseorang akan memperoleh informasi, memperoleh ilmu dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Semua yang diperoleh melalui bacaan akan memungkinkan seseorang mampu mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pandangannya, dan memperluas wawasannya. Membaca adalah kegiatan berbahasa berupa proses melisankan dan mengolah bahan bacaan secara aktif, membaca juga merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di Membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulisan atau lambang bunyi bahasa, melainkan juga menanggapi dan memahami isi bahasa tulisan. Dengan demikian membaca pada hakikatnya merupakan suatu bentuk komunikasi tulis. Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang diajarkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia di SD. Pembelajaran membaca di SD dilaksanakan sesuai dengan pembedaan atas kelaskelas awal dan kelas-kelas tinggi. Pelajaran membaca di kelas-kelas awal disebut pelajaran membaca permulaan, sedangkan di kelas-kelas tinggi disebut pelajaran membaca lanjut. Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk Peningkatan Kemampuan Membaca KAJIAN TEORI Jawiyah Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu sebagai suatu yang menyenangkan. Menurut Akhaidah dalam dalam Darmiyati dan Budiasih, kemampuan membaca di kelas I merupakan pembe-lajaran membaca tahap awal. Kemam-puan membaca yang di peroleh di kelas I tersebut akan menjadi dasar pembelajaran membaca di kelas berikutnya. Kemampuan membaca yang di peroleh pada membaca permulaan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjut. Oleh karena itu, pembelajaran membaca awal ini sangat penting. Tujuan membaca permulaan di kelas I adalah agar "Siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat seder-hana dengan lancar dan tepat. Pelak-sanaan membaca permulaan di kelas I SD dilakukan dalam dua tahap, yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan alat peraga atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar, kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat. Pembelajaran membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan Kemampuan Membaca Permulaan Jawiyah Menurut Darmiyati Zuhdi dan Budiasih kemampuan membaca yang diperoleh pada membaca permulaan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjut. Sebagai kemampuan yang mendasari kemampuan berikutnya maka kemampuan membaca permulaan benar-benar memerlukan perhatian guru, membaca permulaan di kelas I merupakan fondasi bagi pengajaran selanjutnya. Sebagai fondasi haruslah kuat dan kokoh, oleh karena itu harus dilayani dan dilaksanakan secara berdaya guna dan sungguh-sungguh. Kesabaran dan ketelitian sangat diperlukan dalam melatih dan membimbing serta mengarahkan siswa demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Menurut Rahayu anak atau siswa dikatakan berkemampuan membaca permulaan jika dia dapat membaca dengan lafal dan intonasi yang jelas, benar dan wajar, serta lancar dalam membaca dan memperhatikan tanda baca. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca permulaan adalah kesanggupan siswa membaca dengan lafal dan intonasi yang jelas, benar dan wajar serta memperhatikan tanda baca. Pembelajaran membaca permulaan lebih ditekankan kepada pengembangan kemampuan dasar membaca. Siswa dituntut untuk dapat menyuarakan huruf, suku kata, kata dan kalimat yang disajikan dalam bentuk tulisan ke dalam bentuk lisan. Tujuan pengajaran membaca dan menulis adalah agar siswa dapat Peningkatan Kemampuan Membaca Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 membaca dan menulis kata-kata dan kalimat sederhana dengan benar dan tepat Teori Belajar Membaca Menggunakan Alat Peraga Kartu Huruf Teori Belajar konstruktivisme mengisyaratkan bahwa guru tidak memompakan pengetahuan ke dalam kepala pelajar, melainkan penge-tahuan diperoleh melalui suatu dialog yang ditandai oleh suasana belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi. Ini berarti bahwa penekanan bukan pada kuantitas materi, melainkan pada upaya agar siswa mampu meng-gunakan otak-nya secara efektif dan efisien sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka, melainkan oleh keterlibatan emosi dan kemampuan Dengan demikian proses belajar membaca perlu disesuai-kan dengan kebutuhan perkembangan siswa. Teori kognitif dari Jean Piaget kognitif bukan hanya hasil kema-tangan organisme, bukan pula lingkungan semata, melainkan hasil interaksi diantara keduanya yakni mengemukakan perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan Teori perkembangan piaget mewakili konstruktivisme yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses di mana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalamanpengalaman dan interaksi mereka. Tahap perkembangan kognitif anak menurut Piaget terdiri dari : Jawiyah Tahap Sensorimotor (Usia 0-18 bula. Pada tahap ini mulai terbentuk konsep "kepermanenan objek" dan kemajuan gradual dari perilaku refleksif ke perilaku yang mengarah pada tujuan. Anak memanipulasi objek di lingkungannya dan mulai membentuk Tahap Pra Operasional . -7 tahu. Perkembangan kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk menyatakan obyek-obyek dunia. Pemikiran masih egosentris dan sentrasi. Anak SD belum memahami pikiran simbolik, tetapi belum dapat berpikir logis. Tahap Operasional Kongkret . -11 Perbaikan dalam kemampuan untuk berpikir secara logis. Pemikiran tidak lagi sentrasi tetapi desentrasi dan pemecahan masalah tidak begitu dibatasi oleh keegosentrisan. Anak dapat berpikir logis mengenai bendabenda kongkret. Tahap Formal Operasional . tahun sampai dewas. Pemikiran abstrak dan murni simbolis mungkin dilakukan. Masalah dapat eksperimentasi sistematis. Piaget menemukan bahwa penggunaan operasi formal bergantung pada keakraban dengan daerah subyek tertentu. Apabila siswa akrab dengan suatu obyek tertentu, lebih besar kemungkinannya meng-gunakan operasi formal. Psikolog Jean Piaget mengungkapkan bahwa pertumbuhan kognitif Peningkatan Kemampuan Membaca Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 bergerak dari yang kongkret ke yang Begitu pula perkembangan kemampuan membaca dan menulis. Usia siswa SD . -12 tahu. ada pada stadium operasional konkrit. Oleh karena itu penting bagi siswa SD jika dalam pembelajaran membaca menggunakan benda kongkrit. Kemampuan baca-tulis anak berawal dari tulisan-tulisan yang kongkret dan yang sering ditemukan di dunia anak, seperti pada mainan kesukaannya, simbol-simbol pada tempat makanan, serta buku bergambar. 4 Alat Peraga Pembelajaran Kata alat peraga atau media berasal dari bahasa latin yaitu jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti Dalam Depdiknas . dinyatakan bahwa alat peraga pembelajaran adalah alat peraga pendidikan secara khusus digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu yang dirumuskan. Seperti yang dikemukakan oleh Latuheru yang dikutip oleh Arsyad memberi batasan alat peraga sebagai sebuah bentuk menyampaikan atau menyebar ide, gagasan, atau pendapat, sehingga ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang Alat peraga juga seringkah diartikan sebagai alat yang dapat dilihat dan di Alat-alat ini dipakai dalam pengajaran dengan maksud untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif dan Jawiyah Dengan menggunakan alat-alat ini, guru dan siswa dapat berkomunikasi lebih mantap, hidup dan interaksinya bersifat banyak arah. Seperti yang dikemukakan oleh Hamalik dalam Arsyad bahwa hubungan komunikasi akan berjalan lancar dengan hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut dengan alat peraga Sedangkan menurut Gagne dan Briggs dalam Arsyad alat peraga pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri dari: buku, tape recorder, benda nyata, video camera, video recorder, film, slide . ambar bingka. , foto, gambar, grafik, televisi, dan computer. Dengan kata lain alat peraga adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk Dari beberapa pendapat di atas tentang pengertian alat peraga dapat diambil kesimpulan bahwa: . Alat peraga adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai dengan sempurna, . Alat peraga berperan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraih tujuan-tujuan belajar, . Adapun yang disampaikan oleh guru mesti menggunakan alat peraga, paling tidak yang digunakan adalah alat peraga Peningkatan Kemampuan Membaca Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 verbal yaitu berupa kata-kata yang diucapkannya di hadapan siswa, . Segala sesuatu yang terdapat di lingkungan sekolah, baik berupa manusia ataupun bukan manusia yang pada permulaannya tidak dilibatkan dalam proses belajar mengajar setelah dirancang dan di pakai dalam kegiatan tersebut. Lingkungan itu berstatus alat peraga sebagai alat perangsang belajar. Berbagai pendapat mengenai manfaat dari alat peraga pembelajaran diantaranya adalah menurut pendapat Sudjana dan Rivai seperti yang dikutip oleh Arsyad mengemukakan manfaat alat peraga pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu: . Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar, . Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami SD oleh siswa dan memungkinkan pembelajaran, . Metode meng-ajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penu-turan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran, . Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati,melakukan, mendemonstrasikan, memerankan dan lain-lain. Pengertian WhatsApp Perkembangan kemajuan dunia internet yang saat ini berlangsung, sedang Jawiyah dirasakan oleh semua orang. Perubahan zaman yang begitu cepat membuat masya-rakat menjadi berubah. Akses informasi dengan mudah didapatkan berbeda dengan masa Dengan kecang-gihan internet menghadirkan sebuah alat peraga sosial yang digunakan untuk kemudahan penggunanya, salah satu alat peraga sosial tersebut yaitu WhatsApp. WhatsApp adalah aplikasi pesan berbasis pesan untuk smartphone dengan basic mirip Blackberry Messenger. WhatsApp massanger merupakan aplikasi pesan lintas platform yang memungkinkan kita bertukar pesan tanpa biaya sms, karena WhatsApp Massanger menggunakan paket data internet yang sama untuk email, browsing web, dan lain-lain. Jika dibandingkan dengan aplikasi obrolan online yang lain. WhatsApp tetap menjadi aplikasi chatting yang banyak digunakan. Sejarah dan Perkembangan WhatsApp Keberadaan WhatsApp cukup potensial untuk penyebaran informasi. Dengan perkembangan informasi yang saat ini semakin gencar maka perlu diimbangi dengan penyebaran yang juga Dalam aplikasi WhatsApp terdapat dua jenis alat peraga yang dapat digunakan untuk penyebaran informasi secara cepat yaitu broadcast dan grup. Potensi WhatsApp sebagai alat peraga dakwah sangat tinggi, dengan pengguna aplikasi yang lebih banyak dari aplikasi chat lain. Dengan berbagai macam fitur. Peningkatan Kemampuan Membaca Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 fasilitas serta layanan yang tersedia kita dapat dengan mudah berkomunikasi serta memperoleh teman-teman baru tanpa ada batasan ruang dan waktu. WhatsApp berasal dari kalimat AuwhatAos upAy yang biasa dipakai untuk menanyakan kabar. Melalui laman resmi WhatsApp http://WhatsApp. definisi WhatsApp yaitu layanan pesan yang menggunakan sambungan internet ponsel pengguna untuk chatting dengan pengguna WhatsApp lainnya. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) Secara Daring atau dalam bahasa Inggris disebut Classroom Action Research (CAR). Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang berkaitan dengan proses pembelajaran di kelas daring, dengan menggunakan alat peraga membaca permulaan melalui WA Grup. Penelitian ini dilakukan sebanyak dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari 3 . kali pertemuan mengajar serta setiap pertemuan mengajar meng-ikuti 4 tahap penelitian, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan Dalam penelitian ini peneliti akan melaksanakan penelitian tindakan kelas dengan mengikuti desain penelitian dimulai dari. Perencanaan, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat Pelaksanaan/Tindakan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa. Pengamatan . , mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya WA Grup. Observasi dibagi dalam beberapa siklus dimana masing-masing siklus dikenai perlakuan yang sama . lur kegiatan yang sam. dan membahas satu sub pokok METODE PENELITIAN Setting Penelitian. Penelitian tindakan kelas ini bertempat atau dilaksanakan di kelas IC SD Negeri 002 Tarakan yang terletak di Jalan Yos Sudarso. Kota Tarakan dan waktu penelitian ini dilaksanakan semester genap tahun pelajaran 2020/ 2021 selama 3 bulan yaitu dari bulan Januari sampai dengan Maret 2021. Dipilihnya waktu ini supaya tidak menganggu dalam melaksanakan tugas Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IC SD Negeri 002 Tarakan sebanyak 28 siswa. Peneliti mengambil subjek siswa kelas IC mengingat peneliti sebagai guru kelasnya dan berdasarkan dari hasil belajar pada konsep materi sebelumnya masih relatif Sedangkan partisipan yang terlibat dalam penelitian ini adalah rekan sejawat sebagai observer yang menjadi kolaborator dalam penelitian. Jawiyah Peningkatan Kemampuan Membaca Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 bahasan yang diakhiri dengan tes tertulis diakhir pembelajaran. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan hasil aplikasi WA Grup. Berdasarkan hasil refleksi tersebut kemudian dapat diputuskan apakah dilanjutkan pada siklus berikutnya ataukah tidak. kembalikan pada guru kelasnya. Selanjutnya orangtua akan merespon informasi yang disampaikan guru. Sedangkan tahap pelaksanaan tindakan ini adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran sebagaimana yang telah direncanakan berdasarkan rencana pelaksan pembelajaran (RPP) Daring dengan indikator yang telah ditetapkan dengan menggunakan WA Grup. Siklus I dilaksanakan sebagai hasil refleksi hasil belajar pratindakan, yakni materi mengenal ruang dengan langkah-langkah pembelajaran yang akan ditempuh antara Kegiatan Awal . Siswa dan guru berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing untuk mengawali pelajaran melalui WA. Menginformasikan pada siswa untuk siap belajar melalui WA Grup. Guru menginformasikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Guru menyampaikan apersepsi berupa memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi tentang membaca permu-laan. Kegiatan Inti Kegiatan pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau pembelajaran daring adalah WA Grup. Berikut langkah-langkah aktivitas guru dan siswa dalam WA Grup. Peningkatan Kemampuan Membaca Desain Penelitian Perencanaan dimulai dengan tahap Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengadakan perencanaan kegiatan yang akan dilakukan setelah melihat dan mengamati keadaan pembelajaran sebenarnya di lapangan. Rencana kegiatan ini didapat setelah diadakan diskusi antara peneliti dan kolaborator. Adapun kegiatan dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah: Membuat pemetaan, silabus dan Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) Daring pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan WA Grup. Guru merancang sekenario pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan WA Grup. Mendownload WA Grup untuk melihat bagaimana proses belajar mengajar di WA Grup berlangsung. WA grup sebagai media informasi yang disampaikan guru pada siswa atau pembelajaran, materi pelajaran bahkan tugas yang harus dikerjakan dan diJawiyah Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 Pra WA: Guru meminta siswa mempersiapkan diri untuk belajar melalui grup WhatsApp dan siswa merespon WA guru dan siap belajar. Guru mengucapkan salam, menyapa siswa, dan meminta siswa melakukan presensi/ mengisi daftar hadir. Siswa membalas salam, sapa, dan mengisi daftar hadir. Guru menjelaskan garis besar kegiatan belajar melalui WA. Siswa mencermati penjelasan guru dan memberikan respon terhadap penjelasan tersebut. Guru menyampaikan apersepsi dan motivasi. Siswa memperhatikan dan memberikan respon terhadap apersepsi dan motivasi dari guru. Guru pembelajaran dan bertanya jawab dengan siswa. Siswa memberikan respon terhadap penjelasan atau pertanyaan dari Guru menyampaikan materi pembelajaran . uku pake. untuk penguatan literasi digital. Siswa mencermati dan menanggapi materi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Guru memberikan kesempatan tanya jawab atau diskusi membahas materi pembela-jaran. Siswa bertanya jawab atau berdiskusi mengenai materi Guru memberikan tugas kepada siswa dan siswa mengerjakan mengirimkan tugas ke guru. Kegiatan Akhir . Melakukan tanya jawab pada siswa tentang hal-hal yang belum dipahami siswa. Membimbing siswa untuk membuat pembelajaran yang telah dipelajari. Guru mereflekesi kegiatan pembelajaran. Menutup pelajaran, siswa dan guru berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan masingmasing Tahap Pengamatan/Observasi Kegiatan ini dilakukan oleh pengamat atau observer dalam rangka memantau proses pembelajaran yang sedang berlangsung menggunakan alat peraga membaca permulaan melalui WA Grup. Pengamatan dilaksanakan bersamasama dengan pelaksanaan penelitian. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan alat pengumpulan data dan analisis data yang tersedia di WA Grup. Dalam kegiatan pengamatan menggunakan lembar pengamatan aktivitas siswa dan kinerja guru di WA Grup. Selain mengamati kinerja guru dalam kegiatan belajar mengajar, observer juga dimintai bantuan peneliti untuk berdiskusi mencari penyebab masalah serta alternatif Peningkatan Kemampuan Membaca Jawiyah Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 pemecahan masalah tersebut. Adapun aspek yang diobservasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Keaktifan mengisi daftar hadir Keaktifan membaca materi Keaktifan menjawab pertanyaan Menyerahkan tugas Mengoreksi tugas Refleksi Hasil yang diperoleh dalam tahap observasi dikumpulkan serta dianalisis dalam tahap refleksi ini. Jika dalam refleksi pada siklus pertama masih ada kekurangan atau kendala yang ditemukan, maka untuk selanjutnya akan disusun kembali rencana-rencana pembelajaran dengan berorientasi pada pembelajaran dengan menggunakan alat peraga membaca permulaan melalui WA Grup yang lebih baik lagi pada siklus berikutnya. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan dalam penelitian ini apabila aktivitas siswa di setiap siklusnya mengalami peningkatan dan hasil belajar Bahasa Indonesia minimal 75% dari jumlah siswa mencapai KKM yaitu Ou 70. pemahaman siswa terhadap materi membaca permulaan yang disampaikan peneliti, yakni ketuntasan belajar meningkat dari siklus I hingga siklus II yaitu masing-masing ketuntasan pada siklus I hanya 13 orang siswa atau 46,4% saja yang tuntas dan pada siklus II meningkat menjadi 24 orang siswa atau 85,7% tuntas secara klasikal serta nilai rata-rata siswapun meningkat dari ratarata siklus I sebesar 65,8 meningkat pada siklus II menjadi 82,5 sehingga melampaui kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah, yakni 70, walaupun masih ada 2 orang siswa atau 7,1% belum mencapai ketuntasan minimal maka akan diberikan tugas remedial dalam pertemuan tersendiri dalam menggunakan alat peraga mem-baca permulaan melalui WA Grup sehingga mampu mencapai ketuntasan dalam Untuk jelasnya dapat dilihat peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I hingga siklus II sebagaimana tercantum dalam Tabel 4. 31 ini. Tabel 4. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Siklus I dan II HASIL PENELITIAN Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Dari data yang telah dipaparkan di atas hasil penelitian siklus I hingga siklus II menunjukkan bahwa menggunakan alat peraga membaca permulaan melalui WA Grup dapat meningkatkan hasil belajar siswa memberikan dampak positif. Hal ini dapat dilihat dari semakin baiknya Jawiyah Kegiatan Ratarata Frekwensi Ketuntasan (%) Siklus I Siklus II Grafik peningkatan hasil belajar siswa siklus I dan Siklus II dapat dilihat pada Grafik 4. 24 ini. Grafik 4. Peningkatan Hasil Belajar Siklus I dan II Peningkatan Kemampuan Membaca Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 pada awalnya terjadi dapat di atasi oleh peneliti dengan melakukan pendekatan secara personal terhadap siswa dan orang tua serta meminta bantuan guru piket untuk home visit ke siswa yang dianggap mengalami masalah yang lebih kompleks. Peningkatan Hasil Belajar Siklus I ke Siklus II Siklus I Siklus II Ratarata Frekwensi (%) KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil kegiatan penelitian yang telah dilakukan selama dua siklus dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca melalui metode suku kata dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas IC SD Negeri 002 Tarakan hal ini dibuktikan dengan kemampuan membaca siswa sebelum dilakukan tindakan penelitian membaca permulaan melalui metode suku kata pada siklus I dengan nilai ratarata 65,8 atau dengan ketuntasan 46,4% dan pada penelitian siklus II meningkat menjadi rata-rata 82,5 dengan persentase 85,7% sehingga penelitian dihentikan dan 80% siswa telah mencapai nilai di atas 70 yang belum tuntas dan tidak mengikuti pembelajaran daring maka akan diberikan tugas tersendiri dalam waktu yang berbeda sehingga semua siswa dapat mencapai ketuntasan minimal. Demikian juga dengan guru senantiasa proaktif meng-hubungi orangtua siswa yang tidak hadir dalam pembelajaran daring dengan mem-berikan tugas pada siswa dan dikerjakan di rumah sehingga semua siswa dapat belajar walaupun dalam masa pendemi covid 19 Ketuntasan Kehadiran Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh hasil belajar siswa terhadap proses belajar mengajar dengan menerapkan media pembelajaran aplikasi WA Grup, dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap hasil belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa dari siklus I hingga mengalami peningkatan pada siklus II, yakni dari ratarata kehadiran dalam pembelajaran siklus I sebanyak 10 orang atau 35,7% menjadi 26 orang atau 92,9% pada pertemuan 6 dan aktif dalam mengikuti pembelajaran menggunakan pendekatan pembelajaran inkuiri berbantuan WA Grup. Kemampuan Peneliti Dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan diperoleh kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran menggunakan alat peraga membaca permulaan melalui WA Grup dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia yang di kirim melalui WA Grup terdapat peningkatan kehadiran siswa dalam pembelajaran sehingga Masalah kehadiran siswa yang Jawiyah Peningkatan Kemampuan Membaca Available at http://jurnal. id/edu VOLUME 9 NOMOR 1 TAHUN 2022 e-ISSN: 2654-329X p-ISSN: 2302-1225 Saran. DAFTAR PUSTAKA