Volume 3 (No. : 136 - 145 Tahun 2026 Pengaruh Komposisi Limbah Malam Batik terhadap Kualitas dan Emisi BioKokas dari Biochar Baglog Jamur Siti Azzahra Santika1. Adeecha Cinta Islamiah1. Hamim Thohari Mahfudhillah1* MTsN 6 Malang *Email: hamimtm@gmail. Abstract Batik wax waste and oyster mushroom baglog waste have high potential as raw materials for biomass-based alternative energy. Batik wax waste contains carbon with a calorific value of approximately 42 MJ/kg, while mushroom baglog waste has a high lignocellulose content that functions as a natural adhesive. This study aimed to determine the effect of varying the composition of batik wax waste on the quality and emissions of pyrolyzed mushroom baglog wastebased bio-coke. Mushroom baglog waste was pyrolyzed at 350Ae400AC for three hours, then mixed with batik wax waste in varying concentrations of 10%, 20%, 30%, 40%, and 50%, with a total mass of 100 grams each. The pressing process was carried out using a Leybold-Heraeus Compact MDP 10-1 machine with a pressure of 2 tons. Bio-coke characterization included proximate tests . oisture content, ash content, volatile matter, and fixed carbo. , calorific value using a Parr-6400 Calorimeter, and exhaust emissions using a KOENG KEG-500 Automotive Gas Analyzer. Results showed that increasing the composition of batik wax waste increased the calorific value from 20. MJ/kg (P. 31 MJ/kg (P. Ash content decreased from 30. 2% to 24. 88%, while volatile matter increased from 16% to 26. CO and HC emissions decreased significantly, approaching zero at mixtures of Ou20%. Thus, the addition of batik wax waste can improve energy efficiency and reduce pollutant emissions, making pyrolysis-derived bio-coke suitable for development as an environmentally friendly fuel to replace firewood in the small industrial sector. Keywords: Alternative Energy. Bio-Coke. Batik Wax Waste. Exhaust Emissions. Mushroom Baglog. Pyrolysis Abstrak Limbah malam batik dan limbah baglog jamur tiram memiliki potensi tinggi sebagai bahan baku energi alternatif berbasis biomassa. Limbah malam batik mengandung karbon dengan nilai kalor mencapai A42 MJ/kg, sedangkan limbah baglog jamur memiliki kandungan lignoselulosa tinggi yang berfungsi sebagai perekat alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi komposisi limbah malam batik terhadap kualitas dan emisi bio-kokas berbasis limbah baglog jamur hasil pirolisis. Limbah baglog jamur dipirolisis pada suhu 350Ae400AC selama tiga jam, kemudian dicampur dengan limbah malam batik dalam variasi 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50% dengan total massa masing-masing 100 gram. Proses pengepresan dilakukan menggunakan mesin LeyboldHeraeus Compact MDP 10-1 dengan tekanan 2 ton. Karakterisasi bio-kokas meliputi uji proksimat . adar air, kadar abu, volatile matter, dan fixed carbo. , nilai kalor menggunakan Parr-6400 Calorimeter, serta emisi gas buang menggunakan KOENG KEG-500 Automotive Gas Analyzer. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan komposisi limbah malam batik meningkatkan nilai kalor dari 20,37 MJ/kg (P. menjadi 27,31 MJ/kg (P. Kadar abu menurun dari 30,2% menjadi 24,88%, sedangkan volatile matter meningkat dari 16% menjadi 26,5%. Emisi CO dan HC menurun signifikan, mendekati nol pada campuran Ou20%. Dengan demikian, penambahan limbah malam batik mampu meningkatkan efisiensi energi dan menurunkan emisi polutan, sehingga bio-kokas hasil pirolisis layak dikembangkan sebagai bahan bakar ramah lingkungan pengganti kayu bakar untuk sektor industri kecil. Kata Kunci: Bio-Kokas. Pirolisis. Limbah Malam Batik. Baglog Jamur. Emisi Gas Buang. Energi Alternatif Diterima 27 Okt 2025. Disetujui 23 April 2026. Dipublikasikan 30 April 2026 Volume 3 (No. : 136 - 145 Tahun 2026 Pendahuluan Industri batik merupakan salah satu sektor ekonomi kreatif unggulan di Indonesia yang tidak hanya memiliki nilai budaya tinggi, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, terdapat sekitar 6. 120 unit industri batik yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dengan total produksi mencapai lebih dari 500 juta meter kain per tahun. Dalam proses pembuatannya, lilin malam digunakan sebagai bahan penutup motif sebelum proses pencelupan warna. Setiap meter kain batik memerlukan sekitar 1,5 ons lilin malam . Namun, efisiensi penggunaannya masih rendah karena hanya sekitar 20% lilin malam yang dapat digunakan kembali, sedangkan 80% sisanya menjadi limbah padat. Secara nasional, potensi limbah malam batik dapat mencapai sekitar 17 ribu ton per tahun. Padahal, limbah ini memiliki nilai kalor tinggi (A42 MJ/k. dan kandungan karbon yang melimpah, sehingga sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif . Di sisi lain, sektor pertanian dan budidaya jamur tiram di Indonesia juga menghasilkan limbah biomassa dalam jumlah besar berupa baglog jamur bekas. Baglog merupakan media tanam jamur yang dibuat dari campuran serbuk kayu, dedak, dan kapur yang dikemas dalam plastik silinder. Setelah masa panen selesai, baglog umumnya dibuang begitu saja meskipun kandungan bahan organiknya masih Produksi jamur tiram di Kabupaten Malang, misalnya, mencapai lebih dari 3. 500 ton per tahun, dengan rasio limbah sekitar 2Ae3 kg baglog untuk setiap 1 kg jamur yang dihasilkan . Artinya, hanya di wilayah Malang saja terdapat sekitar 7. 000Ae10. 500 ton limbah baglog per tahun yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dimanfaatkan. Padahal, limbah baglog memiliki kandungan lignoselulosa yang tinggi sehingga dapat dijadikan bahan dasar pembuatan bahan bakar padat seperti briket atau bio-kokas. Sementara itu, pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor pangan, khususnya produsen tahu, menghadapi permasalahan serius terkait kebutuhan energi termal. Proses perebusan kedelai dan penggorengan tahu membutuhkan sumber panas dalam jumlah besar dan kontinu. Mayoritas pelaku usaha masih menggunakan kayu bakar dengan nilai kalor sekitar 20 MJ/kg, yang selain menimbulkan emisi tinggi juga berkontribusi terhadap deforestasi. Sebagian lainnya beralih menggunakan LPG, namun biayanya relatif tinggi. Misalnya, satu unit UMKM tahu di Kabupaten Bondowoso dilaporkan menghabiskan lebih dari 2 ton LPG per tahun dengan biaya mencapai Rp34 juta . Kondisi ini meningkatkan ongkos produksi secara signifikan, sementara harga jual tahu di pasaran relatif stabil. Oleh karena itu, pengembangan sumber energi alternatif yang lebih murah dan ramah lingkungan sangat diperlukan untuk mendukung keberlanjutan usaha kecil. Salah satu alternatif bahan bakar padat yang potensial dikembangkan adalah bio-kokas. Biokokas merupakan bahan bakar padat berkarbon tinggi yang diperoleh dari proses pirolisis biomassa. Dibandingkan dengan briket biomassa konvensional, bio-kokas memiliki nilai kalor lebih tinggi, kadar air lebih rendah, dan stabilitas pembakaran lebih baik. Proses pirolisis yakni pemanasan bahan organik tanpa oksigen pada suhu 300Ae600AC mampu mengubah biomassa menjadi padatan berkarbon . , gas pirolitik, dan cairan bio-oil . Padatan char ini memiliki struktur karbon teraromatisasi dengan porositas tinggi yang membuatnya cocok sebagai bahan bakar padat berenergi tinggi. Pemanfaatan limbah malam batik sebagai bahan campuran dalam pembuatan bio-kokas dapat meningkatkan nilai kalor sekaligus berperan sebagai binder alami karena sifat termoplastiknya. Sementara limbah baglog jamur berfungsi sebagai sumber karbon dan bahan pengisi . Kombinasi kedua bahan ini diharapkan dapat menghasilkan bio-kokas dengan kualitas termal dan emisi yang lebih baik dibandingkan bahan tunggal. Selain itu, pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni mengubah limbah industri menjadi produk bernilai guna tinggi yang dapat kembali mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji pemanfaatan limbah biomassa sebagai bahan bakar padat. Glalah melaporkan bahwa penambahan lilin malam batik dalam pembuatan briket serbuk kayu mampu meningkatkan nilai kalor hingga 30% . Sementara penelitian oleh Yanti menunjukkan bahwa proses pirolisis pada limbah pertanian mampu menurunkan kadar air dan abu, serta meningkatkan kandungan karbon tetap . ixed carbo. Namun, kajian yang menggabungkan limbah malam batik Diterima 27 Okt 2025. Disetujui 23 April 2026. Dipublikasikan 30 April 2026 Volume 3 (No. : 136 - 145 Tahun 2026 dan baglog jamur hasil pirolisis sebagai bahan penyusun bio-kokas masih sangat terbatas, khususnya yang berfokus pada karakteristik emisi gas buang dan kualitas bahan bakar yang dihasilkan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh variasi komposisi limbah malam batik terhadap kualitas dan emisi bio-kokas berbasis biochar limbah baglog jamur. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan teknologi energi alternatif ramah lingkungan sekaligus mengurangi timbunan limbah padat dari industri batik dan Hasil penelitian ini juga dapat menjadi dasar dalam penerapan bahan bakar bio-kokas sebagai pengganti kayu bakar pada skala rumah tangga dan industri kecil di Indonesia. Metode 1 Bahan dan Alat Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah malam batik dan limbah baglog jamur tiram mentah. Limbah malam batik diperoleh dari Griya Batik Sengguruh (Batik Sen. Kabupaten Malang. Limbah baglog jamur diperoleh dari sentra budidaya jamur tiram di Kecamatan Pakisaji. Kabupaten Malang. Limbah malam batik digunakan sebagai bahan pengikat . sekaligus penambah karbon, sedangkan limbah baglog jamur berfungsi sebagai sumber biomassa. Variasi komposisi limbah malam batik yang digunakan adalah 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50% dari total massa 100 gram untuk setiap sampel. Variasi tersebut disebut sebagai PAe10. PAe20. PAe30. PAe40, dan PAe50. Peralatan yang digunakan meliputi timbangan digital GSF kapasitas 10 kg, pengaduk kayu, wadah mika ThinWall berkapasitas 1 liter, cetakan stainless steel silindris . iameter 3,2 cm. , mesin press Leybold-Heraeus Compact MDP 10-1. Parr-6400 Calorimeter. KOENG KEG-500 Automotive Gas Analyzer, neraca analitik, desikator, oven pengering, dan furnace untuk analisis 2 Prosedur Penelitian Persiapan Bahan Limbah baglog jamur dikeringkan menggunakan sinar matahari selama empat hari hingga kadar air menurun dan tekstur menjadi rapuh. Bahan kering kemudian dihaluskan untuk memperoleh ukuran partikel yang seragam. Selanjutnya, baglog kering dipirolisis pada suhu 350Ae400AC selama 3 jam dalam reaktor pirolisis tipe tertutup hingga diperoleh arang halus . Sementara itu, limbah malam batik dilelehkan menggunakan wajan aluminium pada suhu A100AC. Pembuatan Bio-Kokas Campuran bio-kokas dibuat dengan menimbang bahan sesuai variasi komposisi malam batik . Ae50%) dari total massa 100 gram. Limbah baglog hasil pirolysis . dicampurkan dengan malam batik cair secara merata pada wajan aluminium yang panas, kemudian diaduk hingga homogen. Campuran kemudian disimpan sementara dalam wadah mika thinwall kemudian dimasukkan ke dalam cetakan stainless steel silindris berdiameter 3,2 cm dan tinggi 12 cm. Selanjutnya, campuran tersebut dilakukan pengepresan menggunakan mesin press Leybold-Heraeus Compact MDP 10-1 dengan tekanan sebesar 2 ton metrik (A20 kN). Setelah pengepresan, bio-kokas dilepaskan dari cetakan dan dikeringkan pada suhu ruang selama 24 jam di tempat kering sebelum dilakukan pengujian. Diterima 27 Okt 2025. Disetujui 23 April 2026. Dipublikasikan 30 April 2026 Volume 3 (No. : 136 - 145 Tahun 2026 Gambar 1. Proses pencetakan biokokas menggunakan mesin press Leybold-Heraeus Compact MDP 10-1 dengan tekanan sebesar 2-ton metrik (A20 kN). Uji Kualitas Bio-Kokas Karakteristik bio-kokas dianalisis berdasarkan tiga jenis pengujian utama, yaitu uji proksimat, uji nilai kalor, dan uji emisi gas buang. Uji Proksimat Uji proksimat dilakukan di Laboratorium Kimia Terapan Politeknik Negeri Malang untuk menentukan kadar air, kadar abu, volatile matter, dan fixed carbon. Metode pengujian mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu SNI 06-3730-1995: untuk pengujian kadar abu, volatile matter, dan fixed carbon dan SNI 01-1506-1989: untuk pengujian kadar air. Hasil dinyatakan dalam persen massa (% berat kerin. Uji Nilai Kalor Uji nilai kalor dilakukan menggunakan Parr-6400 Calorimeter di Laboratorium Kimia Terapan Politeknik Negeri Malang. Sampel dikeringkan terlebih dahulu hingga kadar air konstan. Nilai kalor dinyatakan dalam satuan kalori per gram . , kemudian dikonversi menjadi megajoule per kilogram (MJ/k. Pengujian dilakukan berdasarkan prinsip bom kalorimeter isoperibol dengan kontrol suhu otomatis sesuai standar ASTM D5865. Gambar 2. Alat uji nilai kalor Parr-6400 Calorimeter Uji Emisi Gas Buang Uji emisi dilakukan di Balai Uji Emisi Dinas Perhubungan Kabupaten Malang menggunakan KOENG KEG-500 Automotive Gas Analyzer. Parameter yang diukur meliputi COCC (%). OCC (%). NOCe Diterima 27 Okt 2025. Disetujui 23 April 2026. Dipublikasikan 30 April 2026 Volume 3 (No. : 136 - 145 Tahun 2026 (%). CO (%),HC . , dan Lambda (). Pengujian dilakukan pada kondisi bara api . on-flame combustio. , yaitu saat nyala api padam dan hanya tersisa bara merah pada bio-kokas. Ao Gambar 3. KOENG KEG-500 Automotive Gas Analyzer 3 Analisis Data Data hasil pengujian meliputi nilai kalor, kadar abu, kadar air, volatile matter, fixed carbon, serta emisi gas buang (COCC. CO. NOCe. HC, dan OCC). Semua data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik untuk menunjukkan kecenderungan perubahan akibat variasi komposisi malam batik. Analisis statistik deskriptif dilakukan untuk menilai hubungan antara komposisi malam batik dan parameter kualitas biokokas. Nilai peningkatan efisiensi energi dihitung dari rasio antara nilai kalor campuran terhadap nilai kalor dasar. Selain itu, interpretasi hasil dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu untuk menilai kelayakan bio-kokas sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini telah berhasil membuat biokokas berbahan biochar hasil pirolisis limbah baglog jamur dan limbah malam lilin batik dengan variasi P10% hingga P50%. Biokokas yang dihasilkan dapat dilihat pada gambar berikut. P10 P20 P30 P40 P50 Gambar 4. Biokokas berbahan biochar limbah baglog jamur dan limbah malam lilin batik Adapun hasil uji kualitas biokokas dari biochar limbah baglog jamur dan limbah malam lilin batik dapat dilihat pada Tabel 1 berikut. Diterima 27 Okt 2025. Disetujui 23 April 2026. Dipublikasikan 30 April 2026 Volume 3 (No. : 136 - 145 Tahun 2026 Tabel 1. Hasil uji kualitas biokokas dari biochar limbah baglog jamur dan limbah malam lilin batik Karakter Biokokas P-10% P-20% P-30% P-40% P-50% Nilai kalor . alori/gra. Nilai kalor (MJ/K. Emisi CO2 (%) Kadar O2 (%) Emisi NOX (%) A 0. A 0. A 0. A 0. A 0. Emisi CO (%) Emisi HC . Lambda Kadar abu (%) 26,25 25,46 23,25 24,88 Fixed carbon (%) 52,50 54,05 51,23 51,05 46,76 Kadar air (%) 1,29 1,45 1,45 0,95 1,85 Volatile matter (%) 18,24 21,85 24,75 Densitas . /cm. 0,66 0,68 0,75 Ketahanan tekan . 1,15 74,25 88,25 Ketahan tarik . 1 Nilai Kalor Bio-Kokas Nilai kalor merupakan parameter utama yang menentukan kualitas energi suatu bahan bakar padat . Hasil pengujian menunjukkan bahwa peningkatan komposisi limbah malam batik secara signifikan meningkatkan nilai kalor bio-kokas (Tabel . Nilai kalor terendah diperoleh pada sampel PAe 10 sebesar 4. 867,69 kal/g . ,37 MJ/k. , sedangkan nilai tertinggi pada PAe50 mencapai 6. 528,31 kal/g . ,31 MJ/k. Peningkatan nilai kalor sejalan dengan bertambahnya fraksi malam batik dalam Hal ini dikarenakan malam batik memiliki kandungan karbon dan hidrokarbon jenuh yang tinggi, dengan nilai kalor alami mencapai A42 MJ/kg . Selama proses pirolisis, komponen organik dalam baglog mengalami dekomposisi termal dan menghasilkan padatan berkarbon . dengan porositas tinggi . Penambahan malam batik cair kemudian berperan mengisi pori-pori dan menambah kandungan karbon tetap, sehingga energi pembakaran meningkat. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang melaporkan bahwa penambahan lilin malam pada briket serbuk kayu mampu meningkatkan nilai kalor hingga 25Ae30% . Ridhuan and J. Suranto juga menemukan bahwa bio-kokas hasil pirolisis biomassa pada suhu 350Ae400AC menghasilkan nilai kalor lebih tinggi dibandingkan briket non-pirolisis karena penurunan kandungan air dan zat volatile . Secara umum, nilai kalor bio-kokas pada komposisi Ou30% sudah melampaui nilai kalor kayu bakar . ekitar 18Ae20 MJ/k. dan mendekati nilai kalor batubara muda . ignit, 25Ae28 MJ/k. Hal ini menunjukkan bahwa bio-kokas berbasis baglog jamur dan malam batik layak dikategorikan sebagai bahan bakar padat berenergi tinggi. Diterima 27 Okt 2025. Disetujui 23 April 2026. Dipublikasikan 30 April 2026 Volume 3 (No. : 136 - 145 Tahun 2026 2 Komposisi Proksimat Kadar Air Kadar air bio-kokas berada pada kisaran 0,95Ae1,85%, dengan nilai terendah pada sampel PAe40. Rendahnya kadar air disebabkan oleh dua faktor utama: . proses pirolisis yang menguapkan sebagian besar kelembapan alami pada baglog jamur, dan . sifat hidrofobik dari malam batik yang menolak penyerapan air. Menurut SNI 01-6235-2000, kadar air ideal untuk bahan bakar padat adalah di bawah Hasil ini menunjukkan bahwa seluruh sampel telah memenuhi standar tersebut, bahkan jauh lebih rendah, sehingga pembakaran dapat berlangsung stabil tanpa energi terbuang untuk menguapkan air. Untuk bahan yang telah mengalami karbonisasi . , kadar air akhir biasanya lebih rendah hal ini disebabkan karbonisasi membuat material lebih hidrofobik, sehingga moisture content dapat mencapai <5% . Kadar Abu Kadar abu menunjukkan jumlah residu anorganik yang tersisa setelah pembakaran sempurna . Nilai kadar abu menurun dari 30,20% (PAe. menjadi 23,25% (PAe. sebelum sedikit naik pada PAe50 . ,88%). Penurunan ini menandakan meningkatnya kemurnian karbon dan efisiensi proses Kadar abu yang rendah berhubungan langsung dengan peningkatan nilai kalor, karena kandungan mineral anorganik . ilika, oksida loga. cenderung tidak menghasilkan energi pembakaran. Penelitian Gimba menunjukkan bahwa kadar abu briket berbahan biomassa yang telah terkarbonisasi yaitu sekitar 16. 54% . Volatile Matter dan Fixed Carbon Kandungan volatile matter meningkat dari 16% (PAe. menjadi 26,5% (PAe. , sedangkan fixed carbon relatif tinggi . Ae54%). Peningkatan volatil menunjukkan bahwa fraksi malam batik memperkaya komponen hidrokarbon ringan yang mudah terbakar, sehingga mempermudah penyalaan awal dan meningkatkan efisiensi pembakaran. Sementara itu, kandungan fixed carbon yang tinggi (>45%) menjadi indikator penting dari karakteristik bahan bakar berenergi tinggi. Nilai tersebut lebih baik dibandingkan rata-rata briket biomassa mentah yang umumnya hanya memiliki 35Ae40% karbon tetap . Dengan demikian, proses pirolisis pada suhu 350Ae400AC telah berhasil meningkatkan karakter karbonisasi bahan bakar. 3 Densitas dan Kekuatan Mekanik Terlihat bahwa densitas meningkat secara bertahap seiring dengan bertambahnya konsentrasi lilin malam dari 10% hingga 50%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa penambahan lilin malam berperan positif dalam memperkuat ikatan antar partikel pada briket, menghasilkan struktur yang lebih padat dan kompak. Pada PAe10% hingga PAe20%, kenaikan densitas masih relatif kecil . ,66 Ie 0,. , menunjukkan tahap awal penambahan binder belum signifikan mengisi rongga antar partikel biomassa. Mulai PAe30% hingga PAe50%, densitas meningkat tajam . ,75 Ie 0,. , menandakan bahwa lilin malam mulai berfungsi efektif sebagai pengikat dan pengisi pori. Lilin malam bersifat termoplastik, yang meleleh saat proses pencetakan atau pengeringan, lalu mengeras kembali saat dingin, mengisi celah antar partikel baglog jamur. Proses ini menurunkan porositas internal dan meningkatkan massa jenis per satuan volume. Selain itu, lilin memiliki viskositas tinggi sehingga membantu adhesi antar permukaan partikel biomassa. Densitas yang lebih tinggi umumnya berhubungan dengan . nilai kalor yang meningkat, karena briket lebih padat dan mengandung lebih sedikit rongga udara, . Ketahanan mekanik lebih baik, karena gaya kohesi antar partikel meningkat, . laju pembakaran lebih lambat, akibat berkurangnya porositas dan sirkulasi udara Menurut Glahat et al. penambahan wax sebagai binder meningkatkan water resistance dan densitas briquette hingga 0,91 g/cmA . Kurniawan et al. melaporkan bahwa penggunaan binder berbasis lilin dan tar dapat meningkatkan densitas dari 0,63 g/cmA menjadi 0,85 g/cmA pada briket sekam Diterima 27 Okt 2025. Disetujui 23 April 2026. Dipublikasikan 30 April 2026 Volume 3 (No. : 136 - 145 Tahun 2026 padi, akibat berkurangnya rongga antar partikel . Obi et al, juga menyebut bahwa binder organik seperti wax, resin, dan starch meningkatkan densitas karena sifatnya yang melekat kuat dan mampu menembus struktur pori biomassa selama proses pencetakan . 4 Emisi Gas Buang Uji emisi gas buang dilakukan untuk menilai karakter lingkungan dari pembakaran bio-kokas. Hasil pengujian menunjukkan tren penurunan kadar polutan dengan meningkatnya komposisi malam batik (Gambar . Emisi COCC menurun dari 1,8% (PAe. menjadi 0,6% (PAe. Emisi CO turun drastis dari 0,47% (PAe. menjadi 0,00% (PAe20 ke ata. Emisi HC . idrokarbon tak terbaka. juga menurun signifikan dari 523 ppm (PAe. menjadi 0 ppm (OuPAe. Emisi NOCe tidak terdeteksi pada seluruh sampel, menunjukkan bahwa suhu pembakaran dan kandungan nitrogen dalam bahan relatif rendah. Penurunan emisi ini menunjukkan bahwa campuran dengan proporsi malam batik tinggi menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna dan efisien. Kandungan hidrokarbon malam batik yang tinggi mempercepat reaksi oksidasi karbon menjadi COCC, sementara peningkatan nilai kalor memperpendek waktu pembakaran sehingga mengurangi emisi tidak sempurna. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Simeng Li dan Maxwell et al, yang menyebutkan bahwa bio-kokas hasil pirolisis memiliki emisi CO dan HC lebih rendah dibandingkan briket nonpirolisis. Hal tersebut disebabkan oleh struktur pori terbuka dan kadar volatil yang lebih terkendali, sehingga pembakaran berlangsung lebih sempurna. Produk pirolisis . cenderung menghasilkan emisi CO dan hidrokarbon (HC/VOC) lebih rendah saat dibakar dibandingkan briket/biomassa nonpirolisis. Hal ini disebabkan pirolisis mengurangi fraksi volatile organik dan meningkatkan fraksi karbon tetap sehingga bahan bakar yang dihasilkan lebih AutersusunAy dan lebih mudah terbakar secara lengkap Ai sehingga emisi gas hasil pembakaran yang disebabkan pembakaran tidak sempurna (CO. HC/VOC) berkurang . 5 Implikasi Lingkungan dan Energi Hasil penelitian menunjukkan bahwa bio-kokas berbasis limbah malam batik dan baglog jamur hasil pirolisis memiliki efisiensi energi tinggi, emisi rendah, dan stabilitas pembakaran baik. Secara lingkungan, pemanfaatan dua limbah padat ini dapat membantu mengurangi timbunan residu industri batik dan pertanian, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil maupun kayu bakar. Selain itu, hasil penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG. poin 7 (Energi Bersih dan Terjangka. dan poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawa. Dengan potensi nilai kalor hingga 27,31 MJ/kg dan emisi COAeHC yang hampir nol, bio-kokas ini sangat prospektif untuk diterapkan pada UMKM sektor pangan, seperti industri tahu, tempe, dan pengeringan hasil pertanian. Kesimpulan Penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa variasi komposisi limbah malam batik memberikan pengaruh signifikan terhadap kualitas dan karakteristik emisi bio-kokas berbasis limbah baglog jamur hasil pirolisis. Beberapa kesimpulan utama yang dapat diambil adalah sebagai berikut. Peningkatan fraksi malam batik dari 10% hingga 50% menyebabkan peningkatan nilai kalor bio-kokas dari 20,37 MJ/kg (PAe. menjadi 27,31 MJ/kg (PAe. Hal ini menunjukkan kontribusi signifikan komponen karbon dan hidrokarbon malam batik terhadap densitas energi bahan bakar. Karakteristik proksimat bio-kokas menunjukkan tren perbaikan seiring dengan peningkatan komposisi malam batik: kadar abu menurun dari 30,2% menjadi 24,88%, kadar air sangat rendah (<2%), serta kandungan volatile matter meningkat hingga 26,5%. Nilai fixed carbon tetap tinggi . Ae54%), menandakan efisiensi proses pirolisis dan pembentukan struktur karbon yang stabil. Kekuatan mekanik meningkat drastis dari 1,15 kg menjadi 88,25 kg, menunjukkan bahwa malam batik berperan efektif sebagai perekat alami . yang memperkuat ikatan antar partikel karbon. Emisi gas buang menunjukkan perbaikan signifikan dengan meningkatnya komposisi malam batik. Emisi CO dan HC menurun hingga 0% pada Diterima 27 Okt 2025. Disetujui 23 April 2026. Dipublikasikan 30 April 2026 Volume 3 (No. : 136 - 145 Tahun 2026 campuran Ou20%, sedangkan NOCe tidak terdeteksi. Kondisi ini membuktikan bahwa bio-kokas hasil pirolisis menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna dan ramah lingkungan. Berdasarkan parameter termal, fisik, dan emisi, komposisi optimum dicapai pada kisaran 40Ae50% malam batik, di mana nilai kalor tinggi, kadar abu rendah, dan emisi polutan minimum. Secara keseluruhan, kombinasi limbah malam batik dan biochar limbah baglog jamur terbukti meningkatkan efisiensi energi dan menurunkan dampak lingkungan, sehingga bio-kokas yang dihasilkan layak dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti kayu bakar atau LPG bagi industri kecil dan rumah tangga (UMKM). Ucapan Terima Kasih Peneliti menyampaikan terima kasih kepada Ibu Evi Wahyu Astutik. , pemilik Griya Batik Sengguruh, atas izin pemanfaatan limbah malam batik sebagai bahan penelitian. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Prof. Dr. Eng. Mega Nur Sasongko. ST. MT. Prof. Dr. Eng. Eko Siswanto. ST. MT. , dan Dr. Eng. Ir. Ming Narto Wijaya. ST. MT. Sc. IPM. ASEAN Eng. Sugeng Hendik P. , beserta tim laboratorium Universitas Brawijaya atas bimbingan dan fasilitas selama proses pirolisis, pengepresan, dan uji mekanik. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada tim Laboratorium Teknik Kimia Politeknik Negeri Malang atas bantuan uji proksimat dan nilai kalor, serta kepada Dinas Perhubungan Kabupaten Malang atas fasilitas uji emisi gas. References