Redaktur PUTIH Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Ijin terbit Sk. Mudir MaAohad Aly No. 18/May-PAF/II/2018/SK Reviewers Abdul Kadir Riyadi Husein Aziz Mukhammad Zamzami Chafid Wahyudi Muhammad Kudhori Abdul Mukti Bisri Muhammad Faiq Editor-in-Chief Mochamad Abduloh Managing Editors Ainul Yaqin Editorial Board Imam Bashori Fathur Rozi Ahmad Syathori Mustaqim Nashiruddin Fathul Harits Abdul Hadi Abdullah Imam Nuddin Alamat Penyunting dan Surat Menyurat: Jl. Kedinding Lor 99 Surabaya P-ISSN: 2598-7607 E-ISSN: 2622-223X Diterbitkan: MAAoHAD ALY PONDOK PESANTREN ASSALAFI AL FITHRAH Surabaya Daftar Isi C Daftar Isi C DIMENSI SPIRITUAL DALAM PROSES PENCIPTAAN DAN PERKEMBANGAN MANUSIA: STUDI ANALISIS ATAS TAFSIR F Z}ILAL AL-QURAoAN KARYA SAYYID QUTB} Mailani Ulfah. Ahmad Zakiy . C KRITERIA MUJTAHID PERSPEKTIF IBNU ARABI (Studi Komparasi Ijtihad Ibnu Arabi dan Para Ulam. Ulil Abshor . C PENGARUH HISTORISITAS TERHADAP PERKEBADAN KAJIAN AL-QURAoAN BARAT DAN TIMUR (Studi Analisis Histori. Abdul Qudus Al Faruq. Muhammad Azhar Fuadi. NafiAo Mubarok . C TELAAH PEMIKIRAN ABDUL DAEM AL-KAHELL TENTANG DZIKIR DALAM AL-QURAoAN Muh. Makhrus Ali Ridho. Deki Ridho Adi Anggara. Ahmad Fadly Rahman Akbar. Nehayatul Rohmania . C PERAN PONDOK PESANTREN DALAM MENGENTASKAN KENAKALAN SANTRI (Studi Kasus Pondok Pesantren Al-Ikhlas Al-Islamy Kaliaji Desa Mongga. Zihniyatul Ulya. Mujahidin Abubakar. Lalu Diraja Hidayatullah . C TAAoARUDH MAFSADATAIN DALAM TINJAUAN TASAWUF (Pemikiran Abdul Wahab al-SyaAorani Tentang Mujahadat al-Naf. Yunita Hikmatul Karimah. Ainul Yaqin . Putih: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Ae ISSN: 2598-7607 (P). 2622-223X (E) Vol. IX. No. II (September 2. , 39-60. PENGARUH HISTORISITAS TERHADAP PERBEDAAN KAJIAN ALQURAoAN BARAT DAN TIMUR Studi Analisis Historis Abdul Qudus Al Faruq Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya abdulqudusalfaruq@gmail. Muhammad Azhar Fuadi Universitas PTIQ Jakarta Azharfuadi27@gmail. NafiAo Mubarok Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya mubarok@gmail. Abstract This research explores the differences in approaches to Qur'anic studies between the East and the West, focusing on the impact of historical contexts on the development of methodologies in both In the East. Qur'anic studies are generally normative and rooted in established Islamic traditions, emphasizing spirituality and Islamic law. In contrast. Western approaches are more critical and analytical, employing historical, hermeneutic, and philological methodologies to understand the Qur'an within historical, sociological, and linguistic contexts. This study utilizes a historical analysis method to identify how historical, cultural, and academic traditions influence these Data were collected through literature reviews from various relevant sources, including books, journals, and scholarly articles. The findings indicate that the historical contexts between the East and the West play a significant role in shaping the methods and understanding of Qur'anic In the West, the focus on critical approaches often overlooks spiritual aspects, while in the East, the emphasis on tradition and religious authority tends to limit critical analysis. The research concludes that these different approaches have their respective strengths and weaknesses and that dialogue between these two traditions can enrich global understanding of the Qur'an. This study highlights the importance of considering historical and cultural backgrounds when developing more comprehensive and inclusive methodologies for Qur'anic studies. Keywords: QurAoanic Studies. Historical Analysis. West and East. Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi perbedaan pendekatan kajian Al-Qur'an antara Timur dan Barat, dengan fokus pada pengaruh historisitas terhadap perkembangan metodologi di kedua wilayah. Timur, kajian Al-Qur'an umumnya bersifat normatif dan berakar pada tradisi keislaman yang mapan, mengutamakan spiritualitas dan hukum Islam. Sebaliknya, di Barat, pendekatan lebih kritis dan analitis, menggunakan metodologi historis, hermeneutik, dan filologi untuk memahami Al-Qur'an dalam konteks sejarah, sosiologi, dan linguistik. Penelitian ini menggunakan metode analisis historis untuk mengidentifikasi bagaimana latar belakang sejarah, budaya, dan tradisi akademis Putih: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah, published by MaAohad Aly Al Fithrah Surabaya. Takhassus. Tasawwuf wa Thoriqotuhu. Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. mempengaruhi perbedaan ini. Data dikumpulkan melalui studi literatur dari berbagai sumber yang relevan, termasuk buku, jurnal, dan artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan historisitas antara Timur dan Barat memainkan peran penting dalam membentuk metode dan pemahaman dalam kajian Al-Qur'an. Di Barat, fokus pada pendekatan kritis sering kali mengabaikan aspek spiritual, sementara di Timur, pendekatan yang mengutamakan tradisi dan otoritas agama cenderung kurang mendukung analisis kritis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan yang berbeda ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan bahwa dialog antara kedua tradisi ini dapat memperkaya pemahaman global tentang Al-Qur'an. Studi ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan latar belakang historis dan budaya dalam mengembangkan metodologi kajian yang lebih komprehensif dan inklusif terhadap Al-Qur'an. Kata kunci: Kajian Al-QurAoan. Analisis Historis. Barat dan Timur. Pendahuluan Pada pergantian abad ke-21 dibalik globalisasi terus berkembang, perpecahan antara Barat dan wilayah lainnya tetap nyata. 1 Kajian terhadap Al-Qur'an, kitab suci umat Islam, telah menjadi objek studi yang signifikan dengan pendekatan berbeda-beda di berbagai belahan dunia, baik di Barat maupun di Timur. 2 Di Timur, studi ini umumnya bersifat normatif dan berkaitan erat dengan kepercayaan agama, di mana teks Al-Qur'an dipahami dalam kerangka spiritualitas dan hukum Islam. 3 Para ulama dan cendekiawan Timur sering kali menafsirkan Al-Qur'an dengan menekankan harmoni dengan tradisi Islam yang telah lama mapan, seperti tafsir klasik dan pendekatan sufistik. Di Barat, kajian terhadap Al-Qur'an lebih sering menggunakan pendekatan yang menurut mereka adalah benar seperti metodologi hermenetik kritis dan historis, yaitu menempatkan teks dalam konteks sejarah, sosiologi, dan linguistik. Perbedaan pendekatan antara Barat dan Timur ini disebabkan oleh perbedaan latar belakang sejarah, budaya, tradisi akademis, dan metodologi yang digunakan. Di Barat, studi Al-Qur'an sering berada dalam ranah kajian agama atau studi Timur Tengah, sebagaimana para orientalis menggunakan pemahaman yang salah dan tujuan yang buruk terhadap agama islam. 5 Contohnya adalah menetapkan metode-metode hermeneutika, filologi, dan kritik tekstual untuk memahami Al-Qur'an. 1 Ivan Davidson Kalmar dan Derek Jonathan Penslar. Orientalism and The Jews. The Tauber Institute for the Study of European Jewry Series (Hanover (N. ): Brandeis university press, 2. , x. 2 Taufik Adnan Amal. Rekonstruksi Sejarah Al-QurAoan (Jakarta: PT Pustaka Alvabet, 2. , 413. 3 M. Amin Abdullah. Dinamika Islam Kultural (Yogyakarta: IRCiSoD, 2. , 5Ae8. 4 Earle H. Waugh dan Fazlur RaumAn, ed. The Shaping of an American Islamic Discourse: A Memorial to Fazlur Rahman. South Florida - Rochester - Saint Louis Studies on Religion and the Social Order 17 (Atlanta. Ga: Scholars Press, 1. , 2Ae3. 5 Syamsuddin Arif. Orientalis & Diabolisme Pemikiran. Cet. 1 (Depok: Gema Insani, 2. , 40. 6 Munzir Hitami. Pengantar Studi Al-QurAoan: Teori dan Pendekatan, 1 ed. (Yogyakarta: PT. LKiS Printing Cemerlang, 2. , 3Ae5. Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. Sementara itu, di Timur, interpretasi Al-Qur'an tetap menggunakan metode klasik dengan ketentuan ataupun syarat-syarat yang harus dimiliki oleh penafsir sebagaimana sudah ditetapkan Aoulama biasa disebut dengan syurutu mufassir. Review daripada literatur sebelumnya penelitian ini memiliki perbedaan yang signifikan. Pertama, terdapat penelitian yang mengungkapkan bahwa baik studi tentang sejarah dan perkembangan Al-Qur'an yang dilakukan oleh kaum orientalis maupun oleh cendekiawan Muslim cenderung bersifat spekulatif, menurutnya hal ini disebabkan oleh keterbatasan data yang dapat diakses oleh kedua pihak. 7 dalam penelitiannya belum mengungkap pengaruh historisitas terhadap perbedaan kajian Al-QurAoan secara mendetail, maka dalam penulisan ini akan di bahas mulai dari sejarah, tradisi akademis serta budaya antara timur dan barat, kemudian mencari titik perbedaan dan dialog pemikiran antara timur dan barat. Sebagaimana masing-masing pendekatan ini memiliki kelebihan dan tantangan. Pendekatan di Timur memperkaya pemahaman keagamaan dan spiritual, tetapi terkadang kurang memberikan ruang untuk analisis kritis terhadap teks. Sebaliknya, pendekatan Barat yang kritis dan ilmiah dapat membuka perspektif baru dalam memahami konteks sejarah dan sastra Al-Qur'an, namun kadangkadang bisa mengabaikan aspek spiritual yang mendalam dari teks tersebut dan metode penafsiran yang telah di tetapkan oleh ulama islam terdahulu. Maka tujuan daripada penelitian ini adalah mengungkap pengaruh historisitas terhadap perbedaan kajian Al-QurAoan antara barat dan timur menggunakan metode analisis historis. Metode Penelitian Penelitian ini memfokuskan pada analisis historis barat dan timur. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah studi literatur (Library Researc. Yaitu data yang diperoleh berasal dari kajian teks, buku-buku, jurnal, maupun literatur lainnya yang relevan dengan pokok permasalahan yang diangkat. 8 Berdasarkan tema yang dikaji peneliti penggunakan pendekatan studi historis yakni dengan menganalisa sejarah sesuatu yang ditujukan. 9 Jenis penelitian termasuk kualitatif deskriptif pada buku-buku literatur dan sumber-sumber atau penemuan terbaru mengenai historisitas barat dan timur yang bersifat kritis dan historis. 10 Sehingga peneliti akan mengumpulkan penjelasan 7 Muhammad Abdul Ghofur. AuSejarah Dan Dinamika Perkembangan Wacana Kronologi Al-Quran Kaum Orientalis,Ay An-Nur: Jurnal Studi Islam 16, no. : 164Ae78. 8 Sugiyono. Cara Mudah Menyusun Skripsi. Tesis, dan Disertasi (STD). Cetakan ke-satu (Bandung: Alfabeta, 2. , 55. 9 Udo Schnelle. The History and Theology of The New Testament Writings (Minneapolis. MN: Fortress Press, 1. , 2. 10 Kaelan. Metode Penelitian Agama Kualitatif Interdisipliner (Yogyakarta: Paradigma, 2. , 134. Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. daripada buku-buku maupun literatur lainnya yang membahas tentang pengaruh historisitas terhadap perbedaan pemahaman maupun kajian barat dan timur terhadap Al-QurAoan. Latar Belakang Sejarah Barat dan Timur Studi sejarah peradaban Timur dan Barat menunjukkan perbedaan mendasar dalam perkembangan budaya, agama, dan pemikiran ilmiah. Peradaban Barat berkembang melalui berbagai fase, dimulai dengan peradaban Yunani dan Romawi yang bercirikan sekularisme dan individualisme. Kemajuan ini terhenti selama periode "Dark Ages," ketika ilmu pengetahuan dibatasi oleh dominasi Namun, kebangkitan kembali terjadi pada abad ke-18, yang ditandai dengan liberalisme dan kebebasan berpikir. Sebaliknya, peradaban Timur dipengaruhi oleh perkembangan agama dan filosofi yang kuat, yang mendominasi kehidupan sosial dan intelektual. Islam, dengan Al-Qur'an sebagai landasan spiritual dan hukum, memainkan peran sentral dalam menyatukan dan mengarahkan peradaban ini. Kedua wilayah ini mengalami pertukaran budaya dan intelektual yang kompleks, yang terus mempengaruhi pemikiran mereka hingga saat ini. Sejarah Negara Barat Periode sejarah mengenai perkembangan barat dibagi menjadi banyak cabang. Sebagaimana yang bertepatan pada abad 6 masehi saat Nabi muhammad lahir peradaban barat berkembang pada yunani dan roma yang disebut dengan classical civilization. 11 Peradaban Yunani matang sekitar tahun 600 SM, diikuti oleh Romawi yang menunjukkan pencapaian signifikan pada 500 SM. 12 Peradaban Yunani berakhir sekitar 300 SM, digantikan oleh peradaban Hellenistik yang mencampurkan elemen Yunani dan Timur Dekat, berlangsung hingga awal era Kristen. Ketiga peradaban ini ditandai oleh sekularisme, di mana negara menjadi lebih dominan daripada agama, dan munculnya nilai-nilai kebebasan individu yang menggantikan despotisme dan kolektivisme dari peradaban Timur Dekat Sekitar abad ke 10 yang disebut dengan Middle Age teknologi pertanian baru dan kelompok sosial baru mengubah ekonomi dan lanskap Eropa. Kebangkitan kembali kota-kota dan perdagangan menciptakan peluang baru untuk kemajuan. Namun, desentralisasi kekuasaan politik menyebabkan kekuasaan para penguasa lokal yang menggunakan sumber daya manusia dan materi untuk kepentingan mereka sendiri. Sementara itu, gerakan reformasi di dalam Gereja meningkatkan 11 Nigel Jonathan Spivey. Classical Civilization: Greeks and Romans in 10 chapters (London: Head of Zeus, 2. , 1Ae3. 12 Zulkifli dkk. Pemikiran Modern Islam (Tangah Padang: PT Global Eksekutif Teknologi, 2. , 29 & 101. 13 Edward McNall Burns. Western Civilizations Their History and Their Culture (London: Peter Owen Limited, 1. , 121Ae Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. otoritas kepausan, yang berusaha menegaskan supremasinya atas penguasa sekuler dan mengendalikan kekerasan dengan mengarahkannya ke tetangga-tetangga Eropa. 14 Sebagaimana cikal bakal dark ages bermula daripada abad 14. Terjadi sebuah peristiwa kejam dan memilukan cendekiawan dan ilmuan barat saat itu. abad ke 14 muncul sebuah perlawanan antara ilmuan sains terhadap gereja yang disebut dengan peristiwa dark ages. Sebagaimana ajaran gereja . waktu itu diatas ilmu pengetahuan, dan setiap disiplin ilmu pengetahuan tidak boleh bertentangan dengan interpretasi gereja, hal ini yang menjadi faktor berhentinya perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman renaissance. 15 Sebagian peneliti sejarah mengatakan bahwa peristiwa Dark Age ini berjalan hingga pada periode modern awal yakni abad 15 sampai 17. Sehingga dark ages memantik polemik pemikiran pada abad ke 18, yakni negara bagian barat banyak melakukan perlawanan terhadap gereja yang kemudian mempengaruhi pada kebebasan berfikir tanpa batas. Rezim konservatif yang mengalahkan Napoleon pada tahun 1815 berusaha untuk membalikkan perubahan yang terjadi di Eropa akibat Revolusi Prancis. Mereka menginginkan keseimbangan kekuatan di antara negara-negara Eropa agar tidak ada satu penguasa pun yang bisa mendominasi benua itu. Namun, para penguasa konservatif ini terus menghadapi tantangan pemikiran dari liberalisme, republikanisme, dan nasionalisme yang mendorong perlawanan terhadap tatanan konservatif. Selain itu, sosialisme muncul dan memberikan pekerja di Eropa cara baru untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap industrialisasi. Hingga pada abad 19 negara bagian barat tepatnya setelah perang dunia ke-2 dengan segala paham kolonialisme mereka memiliki sebuah peradaban filosofis dan kritis mengenai berbagai disiplin ilmu. Dua filsuf kontemporer yang tetap optimis adalah Alfred North Whitehead dan John Dewey. Whitehead, seorang filsuf Inggris yang mengajar di Harvard, percaya bahwa intuisi sama pentingnya dengan akal dan pengalaman dalam memahami dunia. Ia melihat Tuhan sebagai sosok yang penuh kasih, bukan sebagai penguasa yang keras. Whitehead percaya pada kemajuan manusia dan kerjasama antara Tuhan dan manusia untuk mencapai kesempurnaan. Sementara itu. John Dewey, seorang filsuf Amerika, adalah pendukung Pragmatisme. Ia berpendapat bahwa filsafat 14 Joshua Cole. Carol Symes, dan Judith G. Coffin. Western Civilizations: Their History & Their Culture. Eighteenth edition (New York: W. Norton & Company, 2. , 246Ae83. 15 Fakih Hamdani. AuAgama Dalam Peradaban Barat: Sekularisme Dan Nihiliasasi Konsep Tuhan,Ay Journal of International Multidisciplinary Research 2, no. : 178Ae79, https://doi. org/10. 62504/cgcmdd77. 16 Joshua Cole dan Carol Symes. Western Civilizations: Their History & Their Culture (London . New York: W. Norton & Company, 2. , 659Ae82. Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. seharusnya fokus pada masalah manusia dan percaya bahwa manusia dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri dengan akal dan pengalaman, tanpa bantuan supranatural. Dewey juga menolak gagasan bahwa sifat manusia itu jahat atau rusak. 17 Hingga daripada sejarah ini oksidentalis mengambil sebuah konklusi bahwa latar belakang sejarah barat memiliki dampak yang signifikan terhadap kajian al-QurAoan itu sendiri. Sejarah Negara Timur Periode sejarah yang paling dikenal dari negara timur adalah masa Jahiliyah yaitu bangsa Arab dipenuhi berbagai kepercayaan dan pengaruh agama yang beragam. Contohnya adalah agama dengan misionaris seperti Zoroastrian. Nestorian, dan Monofisit yang aktif di wilayah ini, dan monoteisme Yahudi yang sudah diperkenalkan jauh sebelum Nabi Muhammad lahir. 18 Sebagaimana di wilayah timur setelah nabi Muhammad lahir terdapat 3 agama yang dianggap memiliki sebuah kitab suci dan merupakan agama yang turun dari langit yaitu kristen (Inji. , yahudi (Taura. dan islam (Al-QurAoa. Sebagaimana mayoritas sejarawan memiliki pemikiran yang berbeda-beda mengenai definisi sejarah tentang kemunculan agama-agama ini. Pada abad ke-enam sampai ke-tujuh, komunitas Yahudi yang ada di Arabia Barat mengendalikan ekonomi beberapa kota penting seperti Yathrib (Madina. dan Khaibar. Beberapa tokoh seperti Maslama, seorang penyair buta, mulai memperkenalkan gagasan tentang satu Tuhan. Namun, mayoritas orang Arab saat itu masih menyembah banyak dewa . Mereka memuja dewa-dewa yang sering kali dihubungkan dengan binatang atau benda langit, seperti Nasr, dewa burung hering. Manat, dewa bulan. dan al-Uzza, dewa yang dihubungkan dengan planet Venus. Selain itu, ada juga Allah, ar-Rahman, dan Hubal, yang kemudian menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang lebih luas di wilayah tersebut. 20 Hingga kedatangan Rasulullah membawakan ajaran kitab suci Al-QurAoan sekaligus menjadi risalah kenabian yang terakhir dan memperbaiki sosial sekaligus budaya bangsa arab. Bangsa Arab pada masa pra Islam terbiasa membedakan diri mereka dengan fanatisme dan membual tentang garis keturunan mereka. Ketika Islam datang, antara lain mengubah kondisi mereka dengan menyatukan perkataan mereka dan mereka menjadi satu tangan meskipun berbeda garis keturunan dan tempat Orang-orang Yaman telah menyombongkan diri terhadap kaum Hijazi, 17 Burns. Western Civilizations Their History and Their Culture, 863Ae64. 18 Christoper Catherwood. A Brief History of The Middle East (London: Robinson, 2. , 27Ae29. 19 Ian A. Morrison. Middle East (Austin. Tex. : Steck-Vaughn Library, 1. , 38. 20 Saul S. Friedman. A History of The Middle East (Jefferson. C: McFarland & Company. Inc. Publishers, 2. , 102. Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. dan kaum Misri telah menyombongkan kaum Himyar, dan sejenisnya dengan menyombongkan suku-suku, perut dan paha, maka datanglah Islam menyatukan mereka di bawah satu panji dengan satu nama yakni islam. 21 Sebagaimana kontribusi islam salah satunya adalah mengubah kebiasaan dan tradisi buruk menjadi baik. Setelah kepergian rasulullah jazirah arab masih kembali dengan kebiasaan serta budaya sekitar yakni kegemarannya melakukan ekspedisi dan ekspansi tetapi di tambahkan unsur dakwah keislaman di dalamnya. Jenis-jenis etika pra-Islam yang diperkenalkan, sebagian besar berasal dari syair dan pidato, yang keduanya ditingkatkan keanggunannya oleh Islam. Pidato memiliki peran penting karena lebih canggih dan dibutuhkan dalam penaklukan serta invasi, mengingat orang Arab pada masa itu sangat dipengaruhi oleh ekspresi puitis, baik dalam bentuk retorika maupun syair. Retorika lebih mudah diakses, dan berbeda dengan syair, tidak ada dalam Al-Qur'an yang menolaknya. Retorika sangat penting untuk membangkitkan semangat, mengumpulkan pendukung, dan menakutnakuti musuh. Pada abad ke-13 hingga ke-18, kebebasan akademis di dunia Muslim mengalami fluktuasi yang dipengaruhi oleh kondisi politik, sosial, dan budaya di berbagai wilayah. Periode ini ditandai dengan kejayaan dan kemunduran kekuasaan politik, serta kontak intensif dengan budaya lain. Dinasti seperti Kesultanan Utsmaniyah. Kesultanan Mamluk, dan Kekaisaran Timur Tengah mendukung kehidupan intelektual dan ilmiah, meskipun kebebasan akademis sering dipengaruhi oleh otoritas politik dan agama yang semakin ketat. Walaupun ada pembatasan dari pengaruh agama dan tradisi konservatif, pusat-pusat pembelajaran seperti Kairo. Baghdad. Istanbul, dan Samarkand tetap penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kontak dengan Eropa juga memperkaya pertukaran gagasan selama periode ini. 23 Secara keseluruhan, kebebasan akademis mengalami variasi namun tetap ada ruang untuk inovasi dan pemikiran kritis dalam berbagai disiplin Selama abad kesembilan belas, negara-negara Timur Tengah mulai membentuk berbagai kementerian baru untuk mengatur banyak aspek kehidupan rakyatnya, seperti pendidikan, kesehatan, dan perdagangan. Hal ini meningkatkan keterlibatan negara dalam kehidupan rakyat dan mempengaruhi pandangan mereka terhadap pemerintah. Setelah Perang Dunia I dan pecahnya 21 Abdul Malik Bin HiyAm. Al-Srah Al-Nabawah Li-ibni HiyAm. Jilid. 2, (Misra: Syirkah Al-TibaAoah Al-Fanniyah, 1. , 22 AoAmru Bin Bahr Al-Jahidh. Al-Bayan Wa Al-Tabyin (Bayrt: Dar wa Maktabah Al-Hilal, 2. , 98. 23 Abdul Aziz Azhar Bako dan Solihah Titin Sumanti. AuKebebasan Akademis Dalam Tradisi Keilmuan Muslim,Ay Nashr al-Islam: Jurnal Kajian Literatur Islam 06, no. : 421, https://journalpedia. com/1/index. php/jkli/article/view/3051. Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. Kekaisaran Ottoman, banyak negara baru terbentuk di kawasan ini, seringkali di bawah pengaruh kekuatan Barat. Dengan berkembangnya komunikasi dan meningkatnya kontak dengan negara lain, kesadaran politik pun tumbuh pesat. 24 Sehingga diplomasi-diplomasi kenegaraan sangat dibutuhkan seiring berjalannya waktu. Arab Saudi, dengan wilayah luas, jarak dari pusat kota besar, dan kekayaan minyaknya, telah lama terisolasi dari perubahan politik. Kebijakan negara biasanya berasal dari keluarga kerajaan, dan pejabat yang bertindak mandiri segera diarahkan kembali. Keluarga kerajaan juga berhubungan erat dengan ulama yang membantu melegitimasi pemerintah sebagai Haramain di Mekah dan Madinah, memperkuat posisi mereka dalam dunia Islam. Ulama adalah satu-satunya kelompok terorganisir di luar keluarga kerajaan dan mendukung pemerintahan, meskipun ada biaya yang terlibat. 25 Realitanya bahwa barat tergiur akan sumber daya minyak yang sangat melimpah daripada timur tengah, ini yang menjadi awal mula adanya ketertarikan barat memandang timur yakni ingin memanfaatkan sumberdaya sampai keinginan untuk menginterverensi sekaligus menguasai pemikirannya dalam upaya diplomasi negara barat terkhusus amerika dilakukan kepada timur tengah. Kebutuhan energi Amerika yang berkembang pesat selama Perang Dunia Kedua menyoroti hubungan penting antara minyak dan keamanan nasional, serta meyakinkan pemerintahan Roosevelt bahwa keputusan tentang minyak bumi di Teluk Persia terlalu penting untuk diserahkan sepenuhnya kepada perusahaan swasta. Bahkan sebelum serangan mendadak di Pearl Harbor, para pejabat tinggi AS telah menyadari bahwa ambisi kekaisaran Jepang di Pasifik Selatan dan Samudra Hindia sebagian besar didorong oleh keinginannya untuk menguasai Hindia Belanda yang kaya minyak dan mendapatkan akses ke minyak mentah Timur Tengah. 26 Hal ini yang kemudian menjembatani pemikiran barat masuk secara perlahan dan dikenal oleh beberapa negara timur seperti mesir, india dan lain sebagainya, sampai pada kehadiran tokoh-tokoh timur yang membawakan pemikiran barat. seperti Hassan Hanafi. Mohammad Arkoun. Abid al-Jabiry. Nashr Hamid Abu Zayd, dan Fazlur Rahman. 24 Camron Michael Amin, ed. The Modern Middle East: A Sourcebook For History, 1. publ (Oxford: Oxford Univ. Press, 2. , 303Ae4. 25 William Spencer. The Middle East, 6th ed (Guilford. Conn. : Dushkin Publ. Group : Brown & Benchmark Publishers, 1. , 121. 26 Douglas Little. American Orientalism: The United States and the Middle East since 1945. Nachdr. (Chapel Hill: Univ. North Carolina Press, 2. , 48Ae49. 27 Hadi Mutamam. AuKontribusi dan Kritik Tafsir Kontemporer,Ay Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam 17, no. Maret 2. : 157, https://doi. org/10. 24252/jumdpi. Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. Keadaan Budaya Serta Tradisi Akademisi Barat dan Timur Budaya dan Tradisi Akademis Barat Budaya barat di masa peperangan dunia 1 ataupun 2 yang menjadi dasar pemikiran orientalis adalah kolonialisme. pandangan Alexander Agung sebagai model untuk dominasi dan pengaturan kekuasaan di Timur mencerminkan strategi kontrol dan asimilasi budaya yang sering diadopsi oleh kekuatan kolonial Barat. Para orientalis melihat Timur sebagai wilayah yang harus "diperadabkan" dan diatur menurut norma-norma dan nilai-nilai Barat. Seperti halnya Alexander yang menerapkan hukum dan kebiasaan Yunani pada wilayah-wilayah yang ditaklukkannya, orientalis juga mendorong ide bahwa budaya Timur harus diubah agar sesuai dengan standar Barat. 28 Sehingga banyak daripada negara hasil jajahan barat menerapkan bahwa tolak ukur kemajuan sebuah negara adalah budaya kebarat-baratan (Westernisas. Disamping itu Orientalisme juga menggambarkan kekuatan Barat dan kelemahan Timur dari sudut pandang Barat dengan cara yang sangat bias. Ini mirip dengan gambaran yang sangat terdistorsi tentang rantai komando yang keras dan pengelolaan yang kuat, seperti yang disebut Cromer sebagai operasi harmonis yang sejatinya hanya membenarkan keinginannya. Pandangan tentang kekuatan dan kelemahan ini menjadi inti dari perspektif orientalis, sama seperti halnya dengan pandangan lain yang membagi dunia menjadi bagian-bagian besar yang berbeda dan hidup berdampingan dalam ketegangan yang diyakini berasal dari perbedaan mendasar. Pandangan ini sejalan dengan karya-karya orientalis yang seringkali menggambarkan budaya Timur sebagai terbelakang dan membutuhkan campur tangan dan bimbingan dari Barat. John Gillies dalam bukunya juga mengambil pendekatan serupa dengan menyoroti ekspansi Yunani sebagai bentuk penyebaran peradaban yang superior. Pemikiran ini menggarisbawahi kecenderungan orientalis untuk melihat dominasi Barat atas Timur sebagai sesuatu yang alami dan diperlukan, menjustifikasi intervensi kolonial dan asimilasi budaya sebagai bagian dari misi memperadabkan 30 Hal ini menjadi latar belakang permulaannya asumsi masyarakat beserta nilai bahwa peradaban barat dan budayanya sangat maju. Upaya barat untuk menginterverensi pemikirannya disebut dengan westernisasi. Islam revolusioner di Iran pada akhir 1970-an merupakan contoh bagaimana upaya westernisasi Barat di 28 Chandreyee Niyogi. Reorienting Orientalism (New Delhi Thousand Oaks (Calif. ) London: SAGE Publications, 2. , 37. 29 Edward W. Said dan Muuammad InAn. Al-IstirAq: Al-MafAhm Al-arbiyyia Li--arq, aba 1 . l-QAhira: Roueya, 2. , 104. 30 Niyogi. Reorienting Orientalism, 38. Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. negara-negara Timur Tengah bisa berbalik dan memicu perlawanan. Ketika Amerika Serikat mendukung Revolusi Putih sang shah di Iran, tujuannya adalah untuk memperkuat pengaruh Barat melalui westernisasi dan modernisasi ekonomi. Namun, reformasi ini dianggap oleh banyak orang Iran sebagai upaya untuk menghapus nilai-nilai Islam tradisional dan menggantinya dengan budaya Barat. Reaksi terhadap westernisasi ini akhirnya memunculkan dukungan luas untuk Ayatollah Khomeini, yang menuduh sang shah dan para pendukung Baratnya telah mengkhianati prinsipprinsip Islam. 31 Hal ini menunjukkan bahwa upaya westernisasi yang dipaksakan dari luar sering kali menimbulkan penolakan yang kuat dan dapat memperkuat identitas budaya dan agama lokal sebagai bentuk perlawanan . e-westernisas. Disamping budaya kolonialisme dan interverensi yang kuat . budaya Barat dalam akademisi menanamkan bahwa teori lama akan diperbarui dengan teori baru yang lebih relevan. Hal ini menjadikan sesuatu yang baik tetapi lama bukanlah sesuatu yang tetap dan abadi, melainkan posisi tersebut dapat berubah apabila ada sebuah fenomena baru yang mematahkan. Sehingga pemikiran Barat mulai mengarah pada kebebasan konteks dan penekanan pada logika proposisional dengan munculnya filsafat Yunani klasik. Plato dan Aristoteles, misalnya, mulai memperkenalkan konsep pemisahan antara subjek dan objek. Seiring waktu, ada pergeseran menuju pemahaman yang lebih subjektif tentang pengetahuan dan spiritualitas. 32 Salah satu hal yang dihindari oleh timur adalah ketika penggunaan teori barat di gunakan terlalu bebas, maka hukum dan ketetapan agama akan selalu menjadi ajang kajian layak atau tidak layaknya di masa yang akan mendatang. Budaya dan Tradisi Akademis Timur Membahas masalah akademis timur setelah pembahasan mengenai orientalis beserta budayanya sangat bersangkut paut dengan oksidentalis. Definisi oksidentalis merujuk pada cara orang-orang Timur menggambarkan dan memandang budaya Barat, seringkali melalui stereotip yang mereka miliki tentang Barat. Sebaliknya, auto-orientalisme adalah bagaimana orang-orang Timur mendiskusikan dan mendefinisikan identitas mereka sendiri dalam hubungannya dengan pandangan Barat. Dengan kata lain, oksidentalisme adalah wacana Timur tentang Barat, sementara autoorientalisme adalah wacana Timur tentang diri mereka sendiri, yang sering dipengaruhi oleh cara 31 Little. American Orientalism, 193Ae94. 32 Fred R. Dallmayr. Beyond Orientalism: Essays on Cross-Cultural Encounter. Repr (Jaipur New Delhi: Rawat Publ, 2. , 164. Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. Barat melihat mereka. 33 Sebagaimana yang telah orientalis lakukan terhadap timur oksidentalis mengkaji letak kesalahan berfikir barat terhadap timur. tradisi akademis di dunia Timur, terutama dalam peradaban Islam, sangat dipengaruhi oleh al-Qur'an dan Hadis. Kedua sumber ini dianggap sebagai dasar semua ilmu pengetahuan dan mendukung pengembangan ilmu dengan menekankan pentingnya pencarian ilmu untuk memperkuat konsep Tauhid atau keesaan Tuhan. Al-Qur'an dan Hadis membentuk dasar metafisika dan kosmologi Islam, menciptakan suasana akademis yang mendorong kegiatan intelektual sejalan dengan nilai-nilai Islam. 34 Ini menunjukkan bahwa perkembangan akademis di timur terkhusus Muslim tidak hanya dipengaruhi oleh faktor sosial dan politik, tetapi juga oleh prinsip-prinsip agama yang mendorong pemahaman dan pengetahuan yang lebih dalam. Di negara-negara Timur Tengah, tradisi akademis sering melihat studi al-Qur'an sebagai bentuk ibadah yang penting dalam praktik keagamaan dan intelektual. Hasan al-Banna adalah contoh dari pendekatan ini, di mana ia mengembangkan gagasan-gagasan Islamnya dengan merujuk pada konsep-konsep Tasawuf dan pemikiran ulama-ulama klasik. Karya-karyanya mencerminkan bagaimana studi al-Qur'an dapat menjadi sarana untuk memperkuat pengabdian spiritual, seperti yang terlihat dalam perjalanan spiritualnya bersama tokoh-tokoh Tasawuf di Mesir. Aziz al-Azmeh, dalam salah satu dari dua kritik utama berbahasa Arab terhadap teori Orientalisme. Edward Said, berpendapat bahwa representasi budaya dan agama lain tidak eksklusif bagi orang Eropa modern seperti yang difokuskan oleh Said. Al-Azmeh meneliti literatur dan geografi Arab abad pertengahan dan menunjukkan bahwa mereka juga telah mengembangkan wacana tentang ilmu lain, yang serupa dengan orientalisme dalam menggambarkan orang barbar di Eropa. Afrika, dan bagian lain dari dunia yang tidak dikenal. Menurut Al-Azmeh, representasi terhadap orang lain bukanlah sesuatu yang hanya dilakukan oleh Barat terhadap Timur, tetapi merupakan karakteristik umum dari setiap masyarakat dalam memahami masyarakat lain. Sebagaimana pemikirannya membuka dialog antara timur dan barat. menurutnya Negara, peradaban, dan budaya sering kali menghabiskan banyak energi untuk menetapkan batas moral, 33 James G. Carrier, ed. Occidentalism: Images of The West (Oxford : New York: Clarendon Press . Oxford University Press, 1. , 35Ae36. 34 Azyumardi Azra dan Idris Thaha. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium i. Cet. (Jakarta: Kencana kerja sama dengan UIN Jakarta Press, 2. , 13. Yon Machmudi. Timur Tengah Dalam Sorotan: Dinamika Timur Tengah Dalam Perspektif Indonesia. Cetakan pertama (Rawamangun. Jakarta. Indonesia: Penerbit Bumi Aksara, 2. , 90. 36 Azz al-Aema. Al-Arab Wa-AoL-BarAbira: Al-Muslimn Wa-AoL-asArAt Al-UrA, aba 1 (Lundun: RiyAs ar-Raiyis li-AolKutub wa-Aon-Nar, 1. , 138Ae50. Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. mengkonsolidasikan perbedaan mereka dari orang luar, dan menciptakan batas-batas yang sulit ditembus terhadap hal-hal eksotis, terutama dalam kondisi ketidakstabilan dan konflik. Menurut AlAzmeh, representasi tentang orang lain bukanlah bagian dari proyek kolonial, seperti yang diklaim Said, tetapi merupakan bagian dari wacana manusia secara umum di mana setiap masyarakat, baik Timur maupun Barat. Eropa maupun Arab, memiliki kecenderungan untuk mengesensikan hal lain melalui sistem dikotomisasi dan representasi. Tradisi historiografi Islam yang menunjukkan minat yang mendalam terhadap sejarah dan budaya dunia non-Muslim mencerminkan sifat inklusif dan universalis yang juga terlihat dalam tradisi akademis Timur secara umum. Seperti yang dilakukan oleh Al-Biruni dalam karyanya tentang India, sejarawan dan akademisi dari dunia Timur sering kali menunjukkan ketertarikan yang besar untuk mempelajari, mendokumentasikan, dan memahami peradaban lain, menganggap bahwa ilmu dan kebijaksanaan dapat ditemukan di berbagai budaya. Pandangan ini juga sejalan dengan pendekatan akademis Timur yang sering menekankan pada penerimaan dan penghargaan terhadap keragaman pengetahuan serta pengakuan terhadap kontribusi peradaban lain dalam pembentukan pemahaman kolektif umat manusia. 38 Dalam hal ini islam membuka dialog untuk keterbukaan hidayah beragama terhadap barat, tradisi historiografi Islam dan tradisi akademis Timur berbagi prinsip dasar tentang pentingnya pengetahuan lintas budaya dan perlunya mempertahankan dialog yang baik dan berkelanjutan antara peradaban meski melalui banyak polemik dan perbedaan pemikiran antar peradaban. Analisis Pengaruh Dialog Dalam Pencampuan Peradaban Barat dan Timur Analisis pengaruh dialog dalam pencapaian peradaban Barat dan Timur mengungkapkan bahwa interaksi antara kedua peradaban ini telah memainkan peran krusial dalam membentuk kemajuan dan pemahaman masing-masing. Dialog yang terjadi, baik dalam konteks pertukaran ilmiah, budaya, maupun pemikiran filosofis, memungkinkan transfer pengetahuan dan ide yang signifikan, memperkaya kedua belah pihak. Di Barat, pemikiran Timur sering kali diintegrasikan untuk memperluas horizon intelektual dan kebudayaan, sementara di Timur, interaksi dengan Barat dapat memicu penyesuaian dan reformasi yang mempertimbangkan modernisasi tanpa mengabaikan nilai-nilai lokal. Proses dialog ini tidak hanya memperluas wawasan dan pengertian antara dua dunia, 37 Patricia Clare Ingham dan Michelle R. Warren, ed. Postcolonial Moves: Medieval Through Modern (New York: Palgrave Macmillan, 2. , 153. 38 Jyrn Rysen dan Universityt Bielefeld, ed. Western Historical Thinking: An Intercultural Debate. Making Sense of History (New York: Berghahn Books, 2. , 58. Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. tetapi juga berfungsi sebagai jembatan untuk mengatasi perbedaan dan membangun hubungan yang lebih harmonis dan produktif antara peradaban yang berbeda. Budaya dan tradisi akademis Barat dan Timur menunjukkan perbedaan yang mencolok dalam cara mereka memandang dan memproses pengetahuan. Di Barat, periode kolonialisme menciptakan pola pikir orientalis yang melihat Timur sebagai wilayah yang perlu "diperadabkan" menurut standar Barat. Pandangan ini sering kali menggambarkan Timur sebagai terbelakang dan perlu campur tangan Barat untuk kemajuan, yang berlanjut dengan fenomena westernisasi yang bertujuan menyebarluaskan nilai-nilai Barat. Namun, upaya ini sering kali memicu perlawanan yang kuat, seperti yang terlihat dalam Revolusi Iran yang menolak pengaruh Barat dan memperkuat identitas budaya lokal. Sebaliknya, di Timur, tradisi akademis sangat dipengaruhi oleh ajaran agama, khususnya Islam, yang menjadikan al-Qur'an dan Hadis sebagai dasar pengetahuan dan pengembangan ilmu. sini, studi tentang al-Qur'an bukan hanya sebagai aktivitas intelektual tetapi juga sebagai ibadah yang memperkuat pengabdian spiritual. Dialog antara Timur dan Barat, sebagaimana diilustrasikan oleh pemikir seperti Aziz al-Azmeh, menunjukkan bahwa representasi budaya bukanlah monopoli Barat, melainkan karakteristik universal dalam memahami budaya lain. Tradisi historiografi Islam, seperti yang dilakukan oleh Al-Biruni, menekankan pentingnya memahami dan menghargai pengetahuan lintas budaya, mencerminkan sikap inklusif dan terbuka terhadap kontribusi peradaban lain. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan Kajian Al-QurAoan Metode Barat Dalam Mengkaji Al-QurAoan Meninjau daripada letak geografis, barat berkomunikasi tidak menggunakan Bahasa arab. Sebagaimana sebelum pembahasan mengenai metode kajian Al-QurAoan secara tidak langsung menyinggung bahasa yang digunakannya untuk memahami teks bahasa arab, kemudian hal ini pasti akan bersangkut paut pada sebuah terjemahan mereka kepada sebuah teks AL-QurAoan. Sejak dulu, terjemahan telah menjadi cara untuk mentransfer pengetahuan dan budaya antara berbagai bangsa. Saat ini, terjemahan dianggap sebagai ilmu dengan aturan dan prinsipnya sendiri. Seorang 39 Bobbi Aidi Rahman. AuKontribusi Sastra Arab Terhadap Perkembangan Peradaban Barat,Ay Islam Realitas: Journal of Islamic & Social Studies 4, no. Desember 2. : 173Ae87, https://doi. org/10. 30983/islam_realitas. Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. penerjemah yang baik harus menguasai bahasa asal dan bahasa tujuan dengan baik, serta mampu menyampaikan istilah, contoh, dan makna dengan tepat. Meskipun ada berbagai jenis terjemahan, beberapa teks sulit untuk diterjemahkan dengan akurat terlebih lagi bahasa arab yang kaya atas kosa kata. seperti Al-Quran, karena kaya dengan makna mendalam dan beragam kosa kata serta struktur bahasa sehingga banyak terjemahan yang tidak begitu mendalam untuk diterjemahkan. Fakta ini diakui oleh para ahli, baik dari kalangan Muslim maupun non-Muslim, yang meskipun telah berusaha menerjemahkan Al-Quran ke berbagai bahasa, tetap menyadari keterbatasan terjemahan dalam menangkap makna asli dari bahasa Arab AlQuran. 41 Maka banyak Aoulama tafsir menetapkan salah satu syarat untuk menafsirkan ataupun menginterpretasikan Al-QurAoan wajib memahami bahasa arab baik kaidah, fashohah dan rumpun keilmuan bahasa yang lainnya. Pertama contohnya adalah seorang peneliti dalam studi Islam dan Muslim asal Inggris yang bernama Muhammad Marmaduke Pitchall dikenal sebagai salah satu penerjemah terbaik Al-Quran ke dalam bahasa Inggris. Menurutnya bahwa Al-Quran dianggap sebagai salah satu keajaiban dunia yang tak ada tandingannya. Dalam pengantarnya, penulis menyatakan bahwa Al-Quran tidak bisa diterjemahkan sepenuhnya, karena makna mendalam dan keindahan bahasanya sulit ditransfer ke bahasa lain. Meskipun terjemahan ini berusaha menghadirkan Al-Quran dalam bahasa Inggris yang jelas, tetap tidak bisa menggantikan Al-Quran dalam bahasa Arab. Buku ini hanya mencoba menjelaskan konsep dan beberapa inspirasi dari Al-Quran, tapi bukan pengganti teks aslinya. Meskipun mahir dalam bahasa Arab dan telah lama tinggal di negara-negara Islam, dalam pengantar ia mengatakan bahwa Al-Quran tidak bisa diterjemahkan sepenuhnya ke bahasa lain. Karena itu, ia memilih judul "The Meaning of the Glorious Quran" untuk karyanya. Kedua contohnya adalah J. Barthylemy Saint-Hilaire yaitu seorang orientalis Prancis dan penerjemah karya-karya Aristoteles. Pada tahun 1865, ia menerbitkan terjemahan Al-Quran dan menulis buku berjudul Mahomed et le Coran atau yang dikenal sebagai Muhammad And The QurAoan. Setelah menyatakan kekagumannya terhadap gaya bahasa dan keajaiban retorika Al-Quran, ia menulis tentang terjemahan Al-Quran: "Fanatisme kuat umat Kristen Arab tidak menghalangi mereka untuk mengakui pengaruh besar kitab yang agung ini di hati para pendengarnya. Jika Al40 Manna Khalil Al-Qattan. Studi Ilmu-Ilmu QurAoan: Mabahis Fi AoUlumil QurAoan (Jakarta: Pustaka Litera AntarNusa, 2. , 442Ae46. MajmuAoatu Bahisin. Tarjamau Al-QurAn Inda Al-Mustayriqn: MuqArabAt Naqda (Iraq: Al-Markaz Al-Islamiy Liddirasat Al-Istiratijiyyah, 2. , 77. 42 Marmaduke Pickthall. The Meanings of The Glorious QurAn (New Delhi. India: Kitab Bhavan, 1. , i. Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. Quran diterjemahkan, sebagian besar keindahan dan kekuatan bahasanya akan hilang, musiknya yang hangat dan kata-katanya yang tertata akan menjadi dingin. Namun demikian, cahaya abadi dari kitab ini tetap bersinar terang, menembus awan gelap terjemahanAy. Menerjemahkan makna Al-Quran sangat sulit karena kompleksitas bahasa Arab dan keindahan retorikanya yang tidak bisa sepenuhnya disampaikan dalam bahasa lain. Banyak orientalis, termasuk peneliti asal inggris, prancis bahkan Rusia telah mencoba menerjemahkan Al-Quran ke berbagai bahasa Barat. Meski studi Al-Quran di barat sering dipengaruhi oleh tradisi orientalisme, upaya dakwah para ulama Muslim telah mendorong perhatian lebih pada kitab-kitab hadis dan 44 Maka dalam hal ini memang ditemukan banyaknya permasalahan untuk mentransfer makna kebahasaan Al-QurAoan yang berbahasa Arab kepada setiap negara barat. Disamping metode penerjemahan makna, orientalis menggunakan pendekatan hermeneutika yang biasa digunakan untuk mengkaji kitab bible. 45 Kemudian dikembangkannya metode ini dengan 5 macam pendekatan untuk memahami Al-QurAoan yaitu linguistik, ilmu sosial, antropologi budaya, psikoanalisis, dan science. 46 Secara istilah AuHermeneutikaAy berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu AuHermeneuinAy yang berarti mengucapkan, menjelaskan dan menerjemahkan. 47 Sebagaimana teori ini adalah penafsiran yang merujuk pada Hermes dalam mitologi Yunani, utusan para dewa . Tugas Hermes pada waktu itu adalah menjelaskan keputusan dan rencana para dewa . uhan merek. kepada manusia, menjembatani kesenjangan antara alam ilahi dan manusia. 48 Sehingga banyak kritik daripada timur terhadap pemberian makna al-QurAoan oleh barat, begitu pula ketika orientalis menggunakan macam-macam pendekatan dan didasari dengan niat yang salah yaitu membelokkan pemahaman islam dari kebenarannya, atau menjadikan Al-QurAoan menjadi kajian yang relevan atau tidak di zaman mendatang dengan menguji realitivitas teori Al-QurAoan dan tidak mendasari bahwa Al-QurAoan adalah kitab suci yang benar. Metode Timur Dalam Mengkaji Al-QurAoan Membahas masalah metode kajian Al-QurAoan tidak terlepas dengan syarat khusus untuk seorang penafsir. Menurut ulama hal ini dilakukan bertujuan untuk siapa pun yang ingin menafsirkan 43 J. Barthylemy Saint Hilaire. Mahomed et le Coran (Paris: Libr. Acadymique Didier, 1. , 186. 44 MajmuAoatu Bahisin. Tarjamau Al-QurAn Inda Al-Mustayriqn: MuqArabAt Naqda, 352. 45 Gerhard Maier. Biblical Hermeneutics, 1st English ed (Wheaton. Ill: Crossway Books, 1. , 21Ae28. 46 H. -G. Gadamer. Philosophical Hermeneutics: Translated And Edited By David E. Linge (London: University of California Press, 1. , 15Ae42. 47 Jens Zimmermann. Hermeneutics: A Very Short Introduction. First edition. Very Short Introductions 448 (Oxford: Oxford University Press, 2. , 3. 48 Werner G. Jeanrond. Theological Hermeneutics: Development And Significance, 3. impr (London: SCM Press, 2. , 1. Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. Al-Qur'an harus memenuhi persyaratan yang diakui agar layak menjelaskan maksud Allah. Salah satu syarat dasar yang paling penting adalah keyakinan yang benar dari sang penafsir. Penafsiran dari orang-orang yang sesat dan ahli bid'ah, meskipun mereka berpengetahuan luas, tidak dapat dipercaya karena mereka cenderung memutarbalikkan makna untuk menyesuaikan dengan kesesatan mereka, seperti yang dilakukan oleh kelompok batiniyah, ekstremis Syiah, dan ahli bid'ah, baik di masa lalu maupun sekarang. 49 Sehingga selain tujuan yang baik perlu untuk mengkritisi seorang penafsir baik dari segi aqidahnya sampai dengan kemampuan berbahasanya dan lain sebagainya. Sebagaimana qaidah dalam menafsirkan teks-teks yang dimiliki oleh agama islam tidak boleh sembarangan mencocoklogikan sebuah teks kepada penafsiran. Sehingga seseorang yang dipercaya dalam menafsirkan sebuah teks agama diberikan persyaratan-persyaratan yang harus di miliki oleh individualnya, syurutu mufassir bertujuan untuk menjaga dari pemahaman yang salah ataupun tujuan meragukan teks agama islam. 50 Metode tafsir oleh ulama timur klasik yang digunakan untuk mengkaji Al-QurAoan bermacam-macam sehingga dapat dikategorikan menjadi 3 garis besar yang kemudian bercabang menjadi beberapa kategori:51 AoAli Al-Hasan. Al-ManAr F Ulmi Al-QurAn Maa Madnal F Uli Al-Tafsr WamaAdiruhu (Bayrt: Muassasah Al-Risalah, 2. , 250. 50 JalAlu Al-Dn Al-Suy. Al-ItqAn F Ulmi Al-QurAn (Al-QAhirah: Al-Haiau Al-Mirah Al-Ammah LilkitAb, 1. , 1198Ae99. 51 Muhammad Badrun Syahir. At-Taysir Fi Dirasati AoIlmi At-Tafsir (Ponorogo: UNIDA Gontor Press, 2. , 22Ae43. 49 Muhammad Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. Abdul Qudus Al Faruq, et. Sedangkan di era modern saat ini beberapa negara timur telah menggunakan metode baru beserta pendekatan yang bermacam untuk mengkaji ayat Al-QurAoan. Tentu hal ini dengan menyesuaikan ayat apa saja yang ingin dikajinya dengan objek kajian yang ingin dibawakan. Karena beberapa cendekiawan muslim kontemporer berpendapat bahwa permasalahan baru saat ini dengan perkembangan pemikiran Islam yang baru, metode tafsir lama ini perlu disesuaikan dengan bijaksana agar sesuai dengan tuntutan pemikiran modern. 52 Penafsiran ayat al-QurAoan tentang majaz contohnya. Abu Ubaidah sering menggunakan syair Arab sebagai referensi. Pendekatan ini membuatnya kurang memperhatikan kisah-kisah Al-Qur'an atau sebab-sebab turunnya ayat, kecuali jika diperlukan untuk memahami teks. 53 Hingga pendekatan ilmiah seperti Ar-Razi dan Tantawi Jauhari dengan kitab tafsirnya. Titik Perbedaan Metode Barat dan Timur Dalam Mengkaji Al-QurAoan Dalam hal ini peneliti membuat sebuah tabel mengenai perbedaan metode barat dan timur dalam mengkaji Al-QurAoan sebagai berikut: Metode Kajian Al-QurAoan oleh Barat Metode Kajian Al-QurAoan oleh Timur Kajian Al-Qur'an sering melalui terjemahan kajian Al-Qur'an menekankan pemahaman karena banyak peneliti tidak menguasai bahasa mendalam Arab Arab. Terjemahan ini penting tetapi sering memerlukan syarat khusus bagi penafsir. Dan tidak dapat menangkap makna asli teks secara kebanyakan audience tidak kesusahan dalam Peneliti menangkap pemahaman Al-QurAoan. Barat pendekatan Pendekatan tafsir yang di sepakati oleh ulama seperti muslim telah terstruktur dan sistematis. linguistik dan antropologi. Pendekatan ini Contohnya kajian Al-Qur'an bersifat spiritual, sering dikritik karena dianggap menyimpang seperti yang dilakukan Hasan al-Banna, yang dari pemahaman tradisional Islam. Tasawuf. Dan pendekatan lainnya Kesimpulan Hasil daripada penelitian ini adalah adanya pengaruh historisitas terhadap perbedaan kajian Al-QurAoan di barat dan timur. Sebagaimana barat diketahui bukanlah negara turunnya Al-QurAoan 52 Malik bin Al-Hajj AoUmar. Al-DeAhira Al-QurAna (Damaskus: Dar Al-Fikr, 2. , 23. 53 Abu AoUbaidah MuAoammar. MajAz Al-QurAn . l-QAhirah: Maktabah Al-Khonijiy, 1. , 19. Jurnal Putih. Vol 9. No. 2, 2024 Abdul Qudus Al Faruq, et. Pengaruh Historisitas Terhadap Perbedaan KajianA. sehingga metode-metode yang digunakan baik memahami ataupun menterjemahkan tidak se-efektif negara timur tengah, di lain sisi timur memiliki cara yang disepakati oleh mayoritas baik dalam mengkaji atau menafsirkan Al-QurAoan. Ilmuan sepakat bahwa adanya pengaruh sejarah pada perbedaan kajian Al-QurAoan di timur maupun di barat. perbedaan historisitas antara Timur dan Barat memainkan peran penting dalam membentuk metode dan pemahaman dalam kajian Al-Qur'an. Barat, fokus pada pendekatan kritis sering kali mengabaikan aspek spiritual kemudian penggunaan metode hermeneutika yang sering melenceng daripada nilai yang ditetapkan oleh cendekiawan timur. Sementara di Timur, pendekatan yang mengutamakan tradisi dan otoritas agama cenderung kurang mendukung analisis kritis sehingga adanya asumsi bahwa tafsiran timur bersifat kaku. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan yang berbeda ini memiliki kelebihan dan kekurangan masingmasing dan bahwa dialog antara kedua tradisi ini dapat memperkaya pemahaman global tentang AlQur'an. Daftar Pustaka