Open Community Service Journal 4 . : 162-170 2025 Contents lists available at openscie. E-ISSN: 2828-1195 Open Community Service Journal DOI: 10. 33292/ocsj. Journal homepage: https://opencomserv. Pelatihan Apocil (Apoteker Cili. Kepada Siswa Sekolah Dasar SDN Lamper Kidul 02 Semarang: Tidak Takut Minum Obat Christina AstutiningsihA*. Yustisia Dian Advitasari1. Sri Purwanti2. Benediktus Tri Sarwoko3 Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Yayasan Pharmasi Semarang. Semarang. Indonesia Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang. Semarang. Indonesia Alberta Farma Apotek dan Alkes. Semarang. Indonesia *Correspondence E-mail: christinastutiningsih@gmail. INFORMASI ARTIKEL Riwayat Artikel: Disubmit 5 Agustus 2025 Diperbaiki 2 September 2025 Diterima 20 Oktober 2025 Diterbitkan 31 Oktober 2025 Kata Kunci: Apoteker. Apoteker Cilik. Obat. Sekolah Dasar. Siswa. ABSTRAK Latar Belakang: Apoteker membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun kebanyakan orang belum mengetahui tentang profesi ini. Sangat penting untuk memperkenalkan apoteker sejak usia dini, terutama selama kampanye WHO yang mendukung kesehatan di sekolah dasar di Indonesia. Tujuan: Pengabdian masyarakat yang dilakukan bertujuan memperkenalkan apoteker sejak usia dini untuk mendukung aktivitas promosi kesehatan di sekolah dasar di Indonesia dan untuk meningkatkan visibilitas profesi apoteker secara langsung. Metode: Kegiatan pengabdian ini terbagi menjadi beberapa tahap, yaitu tahapan persiapan, pelaksanaan edukasi hingga tahapan monitoring dan evaluasi. Tahap edukasi terdiri dari presentasi materi, menyanyi, belajar meracik obat, dan bersama-sama mengkonsumsi vitamin atau obat agar anak-anak mengenal obat sehingga tidak merasa takut untuk minum obat serta pembagian hadiah. Hasil dari kegiatan dievaluasi dengan pertanyaan lisan dan post test tertulis untuk mengetahui keberterimaan peserta terhadap materi yang diberikan. Hasil: Semua siswa terlibat dalam kegiatan ini telah mengerti peran Apoteker, hal ini dapat diketahui dari jawaban pertanyaan yang diberikan secara langsung kepada siswa di awal kegiatan dibandingkan dengan jawaban dari pertanyaan yang sama diberikan di akhir kegiatan dan hasil post test tertulis juga menunjukkan nilai cukup bagus dengan nilai rata-rata 93,5. Untuk mengutip artikel ini: Astutiningsih. Advitasari. Purwanti. & Sarwoko. Pelatihan apocil . poteker cili. kepada siswa sekolah dasar SDN Lamper Kidul 02 Semarang: Tidak takut minum obat. Open Community Service Journal, 4. , 162Ae170. Artikel ini berada di bawah lisensi: A Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. License. Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Copyright A2025 by author/s Pendahuluan Apoteker adalah tenaga kesehatan yang memiliki keahlian di bidang obat-obatan dan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang dapat mendukung kegiatan promosi kesehatan (Ikatan Apoteker Indonesia, 2. Eksistensi profesi apoteker sayangnya kurang diakui di Indonesia dibandingkan negara lain. Dalam membangun eksistensi apoteker di mata masyarakat, tidak bisa dilakukan secara instan tetapi dengan memperkenalkan sedikit demi sedikit yang tujuannya menumbuhkan rasa ingin tahu masyarakat (Haryanti, 2. Eksistensi apoteker sangat terbantu dengan adanya program yang dicanangkan oleh organisasi IAI, yaitu apoteker cilik. Pada siswa sekolah dasar, apoteker cilik diharapkan dapat memberikan teladan, penggerak, pendorong serta agent of change pada siswa lainnya. Penelitian yang dilakukan dengan mengambil data tentang program apoteker cilik yang ternyata mampu memperoleh hasil signifikan . =0,0. meningkatkan pengetahuan tentang tanaman obat (Apsari & Wintariani, 2. Tujuan dari konsep apoteker cilik adalah untuk memperkuat keberadaan profesi apoteker secara nyata (Octavia & Aisyah, 2. Konsep ini sangat penting untuk memperkenalkan profesi apoteker sejak dini, terutama kepada siswa sekolah dasar. Diharapkan ini akan meningkatkan kesehatan masyarakat, memperkenalkan profesi apoteker kepada anak-anak, dan meningkatkan citra apoteker di masyarakat. Anak usia SD kurang paham tentang profesi apoteker, tentang jenis dan golongan obat serta penggunaan obat yang tepat. Siswa di SD, khususnya di SD Lamper Kidul 02. Semarang, mengalami kesulitan siswa SD tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang pekerjaan apoteker sebagai profesional kesehatan dan penyedia informasi tentang penggunaan obat, hal tersebut diketahui saat analisis situasi sebelum melakukan kegiatan pengabdian dengan melakukan wawancara kepada siswa dan guru. Hal ini menyebabkan anak sering enggan dan tidak patuh ketika meminum obat untuk menyembuhkan penyakit atau gangguan kesehatan yang dikeluhkannya. Hal ini dikarenakan anak percaya bahwa rasa obat yang pahit dan tidak enak membuatnya tidak nyaman. Masalah tambahannya adalah kurangnya pengetahuan anak tentang obat yang tepat dapat berdampak pada perilaku anak, yang rentan terhadap perlindungan obat, terutama obat keras. Pengetahuan tentang obat-obatan pada anak dapat menjadi poin penting dalam meminimalisir kesalahan dalam pengobatan (Sugihartini et al. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan identitas profesi apoteker. Pengenalan mengenai obat sebaiknya dilakukan sejak usia sekolah dasar, karena anak-anak pada usia tersebut lebih mampu menyerap dan mengingat informasi dengan baik, dibandingkan dengan anak yang lebih besar atau orang dewasa. Apoteker cilik dapat menjadi program sosial yang merupakan langkah kongkret untuk mengedukasi masyarakat, khususnya anak-anak, tentang dunia farmasi (Arfan et al. , 2. Kegiatan pengabdian masyarakat yang akan dilaksanakan berupa edukasi apoteker cilik tentang penggunaan obat dengan tema AyTidak Takut Minum ObatAy. Kegiatan ini ditujukan untuk siswa Sekolah Dasar Negeri Lamper Kidul 02. Semarang. Edukasi ini dirancang sesuai dengan karakteristik siswa dan dikemas dengan cara yang menarik, menggunakan aktivitas kreatif dan inovatif seperti diskusi interaktif, praktik meracik obat dan praktik minum obat secara tepat (Wahyuningsih, 2. Tujuannya adalah untuk menarik minat siswa agar lebih mengenal penggunaan obat sejak usia dini (Anidya et al. , 2. Selain itu, diharapkan dapat meningkatkan citra profesi apoteker dalam melaksanakan tugas kefarmasian di Oleh karena itu, edukasi dan sosialisasi mengenai Apoteker Cilik di sekolah dasar perlu dilakukan untuk meningkatkan pemahaman tentang profesi apoteker sejak usia dini dan semakin mendekatkan apoteker dengan masyarakat Metode Pelaksanaan Kegiatan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang dikoordinir oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Kota Semarang di Sekolah Dasar Negeri 02 Lamper Kidul. Jalan Sompok Baru No 87. Lamper Kidul. Semarang. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2025 dengan total siswa 40 anak dari kelas 4-6 dan masing-masing kelas hanya diikuti oleh perwakilan Kegiatan pengabdian ini terbagi menjadi beberapa tahap, yaitu tahapan persiapan, tahapan pelaksanaan edukasi hingga tahapan monitoring dan evaluasi. 1 Tahap Persiapan Persiapan untuk pengabdian masyarakat ini meliputi survei lokasi, persiapan alat dan bahan. Survei lokasi dan pengurusan perijinan dikoordinir panitia dari IAI Cabang Kota Semarang dengan kepala sekolah dalam merencanakan waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan. Selanjutnya, persiapan alat yang akan dibawa ke SDN Lamper Kidul 02. Semarang dilakukan seperti berbagai sediaan obat yang akan diperkenalkan, alat mortir, dan stamper, cangkang kapsul, kertas perkamen, topik untuk apoteker cilik, hadiah untuk peserta, plakat dan kenang-kenangan serta Liquid Crystal Disoplasy (LCD) dan speaker dari pihak sekolah. 2 Tahap Pelaksanaan Kegiatan sosialisasi yang dilakukan mencakup penyampaian materi menggunakan metode ceramah. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan apoteker, apoteker cilik, pengenalan obat, cara meracik obat dan cara mengkonsumsi obat dengan tepat kepada anak-anak. 3 Tahap Evaluasi Evaluasi kegiatan pengabdian antara lain menilai pelaksanaan kegiatan dan peningkatan pengetahuan edukasi pengenalan apoteker dan obat. Tahap evaluasi yang pertama dilakukan bersama pemaparan materi sehingga setiap tahap akan diketahui tingkat pemahaman peserta yang dilakukan dengan pertanyaan secara langsung. Tahap kedua pada akhir kegiatan dengan memberikan soal post test. Post test ini terdiri dari beberapa pertanyaan yang dapat dijadikan acuan parameter keberhasilan dari kegiatan. Diagram alir kegiatan tahap-tahap pengabdian msyasyrakat yang telah dilakukan dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Diagram Alir Kegiatan Pengabdian Masyarakat Hasil dan Pembahasan Pemberdayaan program pendidikan dan pelayanan kesehatan khususnya pada pendidikan dasar telah mengalami peningkatan dan agar hasil yang diperoleh juga lebih baik dan lengkap maka perlu diupayakan kehadiran profesi apoteker. Kegiatan pengabdian terkait dengan tema Apoteker cilik (APOCIL) merupakan kegiatan pengenalan profesi kefarmasian kepada anak usia sekolah agar dapat mengenal dan menarik minat terhadap profesi kefarmasian Program pemerdayaan pendidikan dan pelayanan kesehatan, terutama pendidikan dasar, telah meningkat, dan kehadiran profesi apoteker diperlukan untuk mencapai hasil. Untuk membantu anakanak usia sekolah mengenal dan menarik minat terhadap profesi kefarmasian, kegiatan pengabdian terkait tema Apoteker cilik (APOCIL) perlu dilakukan pada siswa SD (Astuti & Hidayati, 2. Penyuluhan ini mencakup penjelasan mengenai peran apoteker, berbagai jenis sediaan obat, cara minum obat dengan tepat, meracik obat dan informasi lainnya. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman siswa dan siswi SDN Lamper Kidul 02. Semarang mengenai mengenai peran apoteker, berbagai jenis sediaan obat, cara minum obat dengan tepat dan cara meracik obat. Diharapkan partisipasi anak-anak dalam dunia kesehatan, terutama profesi apoteker, akan meningkatkan pengetahuannya tentang kesehatan pada umumnya dan penggunaan obat. Program Apoteker Cilik juga diharapkan dapat membantu memperkenalkan apoteker sebagai tenaga kesehatan, dan siswa SD juga diharapkan dapat belajar tentang obat-obatan secara sederhana dan mengenalkan profesi apoteker sehingga anak-anak dapat memiliki cita-cita menjadi seorang apoteker (Astutiningsih et al. , 2021. Pambudi et al. , 2. Penyuluhan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 7 Mei 2025 dimulai pukul 10. 00 WIB, diawali dengan pembukaan oleh MC dilanjutkan sambutan oleh Ketua Tim Pengabdian dan oleh Kepala Sekolah. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan melakukan penyesuaian terhadap karakteristik siswa dan dibuat semenarik mungkin dengan aktivitas yang kreatif dan inovatif melalui permainan, diskusi interaktif, menyanyi, praktik meracik obat dan praktik minum obat secara tepat dengan tujuan agar dapat menarik minat siswa untuk mengenal lebih jauh penggunaan obat sejak usia dini. Tahap selanjutnya penyampaian materi, materi pertama membahas terkait dengan peran apoteker dan konsep dasar tentang obat. Narasumber memberikan penjelasan tentang berbagai aspek profesi apoteker, lingkungan kerja apoteker, tugas-tugasnya, jenis dan bentuk sediaan obat, klasifikasi obat serta cara meperoleh dan menggunakan obat secara benar. Gambar 2. Penyampaian Materi Tidak Takut Minum Obat Meskipun siswa belum terbiasa dengan materi yang diberikan, siswa-siswa tetap antusias untuk mengikuti dan memperhatikan apa yang disampaikan. Tempat yang aman untuk mendapatkan obat, seperti apotek dan toko obat, dijelaskan kepada siswa. Penekanan diberikan pada pentingnya membeli obat dari apotek, yang kualitas dan keasliannya terjamin karena berasal dari distributor resmi produsen Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang profesi apoteker pada anak-anak dengan mengidentifikasi keahlian dan peran apoteker dalam berbagai bidang farmasi (Ahda & Cici. Apoteker memainkan peran penting dalam memberikan informasi tentang obat (DepKes RI, 2. , termasuk tugas dan kewenangan dalam proses pembuatan dan kontrol kualitas produk farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, manajemen obat, penyediaan obat berdasarkan resep dokter, layanan informsi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat Gambar 3. Materi Bentuk Power Point Materi kedua dilanjutkan dengan belajar lagu 5O (Obat digunakan sesuai indikasi. Obat digunakan sesuai petunjuk. Obat digunakan caranya jangan salah. Obat digunakan sesuai Dosis dan Obat digunakan dengan waspada efek sampin. Diharapkan dengan penyampaian materi menggunakan lagu akan lebih mudah dipahami peserta yang masih berusia anak-anak. Jingle lagu Apoteker Cilik berisi ajakan kepada siswa untuk menjadi apoteker jilik dan tidak salah dalam penggunaan obat. Gambar 4. Belajar Jingle Lagu Apoteker Cilik Materi ketiga terkait cara minum obat dan meracik obat yang tepat. Adik-adik apoteker cilik diberi kesempatan untuk meracik obat dalam bentuk puyer dan kapsul. Seluruh peserta dibagi dalam kelompokkelompok kecil dan dengan didampingi kakak apoteker pendamping, siswa mencoba untuk meracik obat seperti yang dilakukan para apoteker di apotek. Kegiatan ini sangat menarik sehingga siswa sangat antusias sekali karena tidak hanya mendengar materi tetapi juga praktik. Praktik profesi apoteker menjadi salah satu daya tarik yang ada dalam kegiatan pengabdian ini. Gambar 5. Praktik Meracik Obat Materi yang keempat adalah bersama-sama minum obat dengan tujuan agar siswa tahu bahwa obat tidak semua berasa pahit serta mengenal beberapa obat ada yang berasa manis dan berasa buah sesuai dengan selera siswa. Gambar 6. Minum Obat Bersama Penerapan program Apoteker Cilik memiliki implikasi sosial dan edukatif yang signifikan bagi peningkatan pemahaman tentang obat bagi anak usia dini. Melalui edukasi yang diberikan, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan yang lebih baik tentang bagaimana menggunakan obat dengan benar tetapi juga mengembangkan kebiasaan positif dalm menjaga kesehatan diri dan lingkungannya. Pengetahuanini juga mengurangi resiko penyalahgunaan obat di kemudian hari, yang seringkali terjadi akibat kurangnya informasi yang tepat sejak usia dini. Selain itu dengan mengenal profesi apoteker, anak-anak leboh termotivasi untuk mempertimbangkan karier di bidang kesehatan, yang dapat membantu mengatasi kekurangan tenaga profesional khususnya di sektor kesehatan di amssa depan. Di akhir kegiatan dilakukan evaluasi serta tindak lanjut melalui sesi tanya jawab serta pemberian posttes kepada peserta untuk mengetahui dan mengukur pemahaman peserta mengenai profesi apoteker dan penggunaan obat yang tepat. Jumlah Siswa Nilai Gambar 7. Contoh Soal Posttest, . Grafik Hasil Penilaian Post Test Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta telah memahami dengan baik materi yang disampaikan, termasuk profesi apoteker dan penggunaan obat. Para siswa yang mengikuti kegiatan tampak sangat antusias, yang terlihat dari partisipasi aktif dan keterlibatannya sepanjang acara. Semua siswa terlibat dalam kegiatan ini telah mengerti peran Apoteker, hal ini dapat diketahui dari jawaban pertanyaan yang diberikan secara langsung kepada siswa di awal kegiatan dibandingkan dengan jawaban dari pertanyaan yang sama diberikan di akhir kegiatan. Selain pertanyaan lisan juga diberikan post test secara tertulis, hasil post test menunjukkan tingkat pengetahuan siswa tentang pekerjaan apoteker serta pemakaian obat yang tepat dapat dipahami sehingga nilai post test dari siswa cukup bagus dengan nilai rata-rata 93,5. Gambar 8. Pemateri Apocil, . Pemberian Hadiah kepada Apocil Kegiatan ditutup dengan pemberian hadiah kepada siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan tepat dan menunjukkan antusiasme serta pemahaman yang baik mengenai profesi apoteker. Manfaat jangka panjang dari kegiatan ini bagi masyarakat, sangat signifikan. Peningkatan pemahaman mengenai pengunaan obat yang tepat, masyarakat dapat mengurangi kejadian efek samping obat yang tidak diinginkan dan meningkatakan efektivitas pengobatan. Gambar 9. Seluruh Peserta Apocil dan Pemateri Kegiatan pengabdian ini bila dilaksanakan secara berkelanjutan akan berpotensi meningkatkan kesehatan masyarakat secara keselurruhan, mengurangi beban penyakit, dan meningkatkan kualitas Selain itu, program ini memiliki potensi untuk menjadi model yang direpliaksikan di daerah lain sehingga dampaknya dapat dirasakan lebih luas dan berkelanjutan. Kesimpulan Semua siswa terlibat dalam kegiatan ini telah mengerti peran Apoteker, hal ini dapat diketahui dari jawaban pertanyaan yang diberikan secara langsung kepada siswa di awal kegiatan dibandingkan dengan jawaban dari pertanyaan yang sama diberikan di akhir kegiatan dan hasil post test tertulis juga menunjukkan nilai cukup bagus dengan nilai rata-rata 93,5. Ucapan Terimakasih Kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik karena dukungan dari Ikatan Apoteker Indonesia Cabang Semarang dan pihak Sekolah Dasar Negeri Lamper Kidul 02 Semarang Daftar Pustaka