Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Perbandingan Efektivitas Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran Sejarah di SMAN 2 Dompu Sulaiman1. Sumiyati2. Putri Julita3. Sakila Putri4 Pendidikan Sejarah. STKIP Yapis Dompu inov15@gmail. Submitted: 05-12-2. Reviewed: 06-12-2024 | Accepted: 01-01-2025 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan persepsi guru terhadap efektivitas Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan studi fenomenologi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan guru mata pelajaran sejarah, sementara data sekunder diperoleh dari dokumentasi tertulis, seperti catatan hasil observasi dan wawancara, serta melalui foto dan rekaman suara. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Untuk memastikan keabsahan temuan, dilakukan uji kredibilitas dan triangulasi. Hasil wawancara dengan guru mata pelajaran sejarah kelas X dan XI menunjukkan bahwa keberadaan Kurikulum Merdeka sangat memudahkan proses pembelajaran. Kurikulum ini memberikan kebebasan tidak hanya kepada siswa untuk meningkatkan kemampuan mereka, tetapi juga kepada guru untuk merancang pendidikan dan merencanakan implementasinya. Siswa diberi kebebasan dalam memilih minat belajar mereka, yang pada gilirannya mengurangi beban akademik dan mendorong kreativitas guru. Temuan wawancara dengan guru sejarah menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan bagi guru untuk merancang pembelajaran yang fleksibel dan relevan dengan minat serta kebutuhan siswa, yang perlu didukung dengan pelatihan dalam desain pembelajaran berbasis proyek dan pendekatan individual. Kurikulum masa depan harus menyediakan lebih banyak pilihan bagi siswa untuk mengeksplorasi minat mereka, dengan diimbangi pelatihan bagi guru untuk membantu siswa memilih jalur pendidikan yang tepat. Selain itu, pengurangan beban akademik siswa harus diikuti dengan pelatihan guru dalam mengelola waktu pembelajaran yang efektif serta menerapkan evaluasi yang fleksibel untuk mendukung perkembangan siswa secara Kata Kunci: Kurikulum 2013. Kurikulum Merdeka. Sejarah. ABSTRACT The present study sets out to compare teachers' perceptions of the effectiveness of the 2013 Curriculum and Merdeka Curriculum, adopting a phenomenological study approach. The study utilised a combination of primary and secondary data sources, with primary data being collected through in-depth interviews with history subject teachers and secondary data obtained from written documentation, including observation and interview notes, as well as photographs and sound The research employed a multifaceted data collection approach, encompassing observation, interview, and documentation techniques. The analysis process involved several stages, including data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing or To ensure the validity of the findings, credibility and triangulation tests were The results of interviews with history subject teachers in grades X and XI indicate that the Merdeka Curriculum significantly facilitates the learning process. This curriculum provides both students and teachers with significant autonomy, allowing students to enhance their abilities and teachers to design and implement education. Students are given freedom in choosing their learning interests, which in turn reduces the academic burden and encourages teacher creativity. The findings from interviews with history teachers indicate that the Merdeka Curriculum gives teachers the JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 freedom to design flexible learning that is relevant to students' interests and needs. However, this freedom needs to be supported by training in project-based learning design and individualised Future curricula should provide more options for students to explore their interests, balanced with training for teachers to help students choose the right educational path. Furthermore, the reduction of students' academic load should be accompanied by teacher training in managing effective learning time and implementing flexible evaluation to support students' comprehensive Keywords: Curriculum 2013. Independent Curriculum. History PENDAHULUAN Menurut (Hidayati et al. , 2. pendidikan adalah sebuah sistem yang memiliki komponen-komponen sebagai pembangun pendidikan yang berfungsi untuk mencapai tujuan Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan tujuan yang hendak diwujudkan oleh negara sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 "melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosialAy. Tujuan tersebut menggambarkan suatu cita-cita luhur dan harapan negeri dalam membangun sumber energi manusia yang untuk mencapai itu semua dibutuhkan aturan dalam proses pembelajaran. Kurikulum memiliki peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan, karena berkaitan langsung dengan penentuan arah, isi, dan proses pendidikan yang pada akhirnya mempengaruhi jenis dan kualifikasi lulusan dari suatu lembaga pendidikan (Oktaviani et al. Sebagai suatu rencana, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam kegiatan belajar mengajar (Oktaviani et al. , 2. Menurut (Di & Solok, 2. , kurikulum bukanlah suatu hal yang bersifat tetap, melainkan harus fleksibel dan dinamis. Sejak proklamasi kemerdekaan, kurikulum pendidikan Indonesia telah mengalami beberapa perubahan, setidaknya sepuluh kali, sebelum diterapkan Kurikulum 2013 (Junaidi, 2. Berbagai perubahan tersebut bertujuan untuk menyempurnakan kurikulum yang ada dengan menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi (IPTEK), dan tuntutan zaman (Rachmadtullah et al. , 2. Implementasi Kurikulum 2013 dimulai pada tahun ajaran 2013-2014 (Amin, 2. Saat ini, sektor pendidikan Indonesia menghadapi sejumlah tantangan, seperti rendahnya angka partisipasi belajar di jenjang pendidikan tinggi, dengan hanya sekitar 36% dari kelompok usia 19-24 tahun yang terdaftar di perguruan tinggi pada tahun 2023 (BPS. Meskipun ada peningkatan dalam akses pendidikan dasar, kualitas pendidikan di JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 daerah terpencil dan kurang berkembang masih menjadi masalah besar, terbukti dengan adanya perbedaan signifikan dalam skor ujian nasional antara daerah perkotaan dan pedesaan. Tingkat buta huruf pada usia produktif juga menunjukkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan, dengan sekitar 3,6% penduduk usia 15-24 tahun yang masih belum bisa membaca (BPS, 2. (Badan Pusat Statistik, 2. Dampak positif dari penerapan Kurikulum 2013 adalah bahwa siswa dapat mengikuti perkembangan zaman yang semakin pesat. Namun, dampak negatifnya adalah perubahan kurikulum yang terlalu cepat memunculkan masalah baru, seperti kesulitan yang dialami oleh guru akibat waktu pelatihan yang terbatas, sehingga banyak guru yang belum sepenuhnya memahami kurikulum tersebut, yang berakibat pada menurunnya kualitas mengajar dan prestasi siswa yang menurun hingga 30%. Sedangkan Dampak negatif penerapan Kurikulum Merdeka bagi siswa dapat terlihat dari ketidaksiapan mereka dalam menghadapi kebebasan belajar yang lebih besar, yang bisa menyebabkan kebingungannya dalam mengelola waktu dan materi pembelajaran. Selain itu, dengan pendekatan yang lebih fleksibel, tidak semua siswa memiliki kemampuan untuk belajar secara mandiri, sehingga beberapa siswa bisa tertinggal atau merasa tidak terdukung. Terakhir, peralihan dari kurikulum yang lebih terstruktur ke model yang lebih terbuka ini bisa menyebabkan ketidaksesuaian antara kesiapan guru dan siswa dalam beradaptasi dengan metode baru, yang menghambat efektivitas pembelajaran (Junaidi, 2. Dari masalah ini pemerintah mengatasinya dengan menerapkan kurikulum baru yaitu kurikulum merdeka. Kurikulum merdeka yang di anggap penyederhanaan dari kurikulum 2013 (Panginan & Susianti, 2. Kurikulum ini menurut (Lestari, 2. , di harapkan mampu mengatasi masalah pada kurikulum sebelumnya. Kurikulum merdeka merupakan masa guru dan siswa dapat atau memiliki kebebasan dalam berpikir dan juga bebas dalam beban pikiran sehingga dapat mengembangkan potensi pendidikan (Hartati, 2. Salah satu keunggulan kurikulum merdeka yaitu guru dapat mengajar sesuai dengan capaian siswa dan siswa pun dapat mengembangkannya. Kurikulum merdeka belajar yang kini telah diimplementasikan memiliki ciri khas program yaitu program sekolah pengerak yang terdiri dari guru penggerak, praktisi, dan fasilitator (Panginan & Susianti, 2. Kurikulum merdeka memberikan kebebasan kepada sekolah untuk membuat kurikulum operasional dengan melihat konteks, sumber daya, dan kebutuhan sekolah masing-masing dengan tetap mengikuti capaian pembelajaran yang diterapkan pemerintah. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Kurikulum ini mengembangkan kompetensi melalui metode yang mengacu pada bakat dan minat dengan keberagaman pembelajaran intrakurikuler (Almarisi, 2. Merdeka belajar menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran yang dapat berkembang karna memiliki potensi ari dalam dirinya serta proses pembelajaran yang didasari oleh rasa kemauwan untuk memperoleh hasil belajar yang ingin di capai (Panginan & Susianti, 2. Selama ini guru di wajibkan untuk mengikuti tahapan pembelajaran yang telah di buat, mengakibatkan guru menghabiskan waktu lebih banyak untuk melakukan evaluasi Dengan kurikulum merdeka belajar, tidak hanya siswa yang di berikan kebebasan dalam mengembangangkan potensi, tetapi juga memberikan kebebasan pada satuan pendidikan untuk mengelolah kurikulum otonomi daerah serta, serta memberikan kebebasan bagi guru untuk merencanakan pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran (Alawiyah, 2. Menurut (Adi et al. , 2. Kurikulum Merdeka Belajar bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih aktif. Program ini bukanlah pengganti dari sistem yang sudah ada, melainkan untuk memperbaiki sistem yang sedang berjalan. Merdeka Belajar yang ditawarkan oleh Kemendikbud mencakup beberapa perubahan penting, yaitu: . Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang lebih sederhana, hanya terdiri dari satu lembar, sehingga tidak rumit seperti sebelumnya, . sistem zonasi dalam penerimaan siswa baru yang lebih fleksibel dalam implementasinya, . penggantian Ujian Nasional dengan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter, serta . Ujian Sekolah Berstandar Nasional yang dialihkan menjadi asesmen berkelanjutan, seperti portofolio yang meliputi tugas kelompok, karya tulis, praktikum, dan lainnya (Oktaviani et al. , 2. Sementara itu, menurut (Almarisi, 2. , meskipun Kurikulum Merdeka memiliki banyak kelebihan, ada beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan, seperti: . Implementasi Kurikulum Merdeka yang masih kurang matang, . Sistem pendidikan dan pengajaran yang dirancang belum sepenuhnya terealisasi, dan . Kurangnya sumber daya manusia (SDM) serta sistem yang belum terstruktur dengan baik. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti pada hari Rabu, 27 Oktober 2023 di SMAN 2 Dompu. Kurikulum Merdeka telah diterapkan selama lebih dari dua tahun. Wawancara dengan guru mata pelajaran sejarah kelas X dan XI menunjukkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka sangat mempermudah proses pembelajaran, karena tidak hanya memberi kebebasan kepada siswa untuk mengembangkan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 kemampuan mereka, tetapi juga memberikan kebebasan kepada guru untuk merancang pembelajaran serta rencana implementasinya. Siswa diberi kebebasan untuk memilih minat belajar mereka, yang mengurangi beban akademik dan mendorong kreativitas guru. Namun, beberapa kendala yang dihadapi oleh guru dalam menerapkan Kurikulum Merdeka antara lain adalah kurangnya partisipasi aktif dari siswa di kelas, yang mengurangi interaksi antara guru dan siswa. Selain itu, keterbatasan fasilitas yang ada juga mempengaruhi hasil belajar siswa. Berdasarkan observasi, ditemukan bahwa ketika menggunakan Kurikulum 2013, guru mengikuti panduan RPP dan selalu mengacu pada buku teks, sedangkan pada Kurikulum Merdeka, panduan yang digunakan adalah modul ajar yang tidak selalu mengacu pada buku. Adapun beberapa penelitian terdahulu yang dapat di acu oleh penelitian ini yaitu Penelitian oleh (Adi et al. , 2. mengungkapkan bahwa Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan yang lebih besar bagi guru untuk berinovasi dalam mengajar dan menyesuaikan metode pengajaran dengan perkembangan zaman. Meski begitu, penelitian oleh (Almarisi, 2. , juga mencatat bahwa implementasi Kurikulum Merdeka masih memiliki tantangan terkait kesiapan SDM dan pengelolaan sistem pendidikan yang belum sepenuhnya matang. Serta penelitian oleh (Oktaviani et al. , 2. mengidentifikasi bahwa Kurikulum Merdeka lebih fokus pada pembelajaran yang lebih sederhana dan berbasis pada asesmen kompetensi minimum, sementara Kurikulum 2013 lebih berfokus pada ujian nasional sebagai tolok ukur keberhasilan siswa. Maka dari itu perlu analisis yang tajam terkait penerapan dari kurikulum merdeka ini. Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah dipaparkan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan persepsi guru terhadap efektivitas Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran sejarah di SMAN 2 Dompu. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Menurut Dukeshire dan Thurlow (Sugiyono, 2. , penelitian adalah proses pengumpulan dan penyajian informasi secara sistematis. Penelitian merupakan metode yang terstruktur untuk mengumpulkan data dan menyajikan hasilnya. Salah satu jenis penelitian adalah penelitian kualitatif, yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan pengembangan pemahaman mengenai makna dan pengalaman hidup JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 manusia serta dunia sosial (Sugiyono, 2. Penelitian kualitatif yang baik berfokus pada pemahaman makna subjektif, tindakan, dan konteks sosial dari peserta penelitian, sebagaimana mereka pahami. Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan studi fenomenologi, karena pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk melihat dan mendengarkan penjelasan serta pemahaman individu tentang pengalaman mereka secara lebih mendalam dan terperinci (Sugiyono, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbandingan efektivitas Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran sejarah di SMAN 2 Dompu. Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di SMAN 2 Dompu. Kec. Dompu. Kab. Dompu. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penentuan lokasi Penelitian ini berdasarkan hasil observasi awal peneliti yang ingin memaparkan perbandingan efektivitas kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka pada mata pelajaran sejarah di SMAN 2 Dompu. Sumber Data Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, sedangkan data tambahan dapat berupa dokumen dan sebagainya (Sugiono, 2. Penelitian ini menggunakan dua sumber data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer, sebagaimana diungkapkan oleh (Akker et al. , 2. , merupakan sumber data yang langsung memberikan informasi kepada pengumpul data, seperti melalui wawancara dan observasi langsung di lapangan. Dalam penelitian ini, data primer diperoleh melalui wawancara dengan enam guru mata pelajaran sejarah di SMAN 2 Dompu, serta hasil pengamatan langsung di lapangan. Sementara itu, data sekunder, yang juga dijelaskan oleh (Kusumastuti & Khoiron, 2. , merujuk pada sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, seperti melalui orang lain atau dokumen. Data sekunder dalam penelitian ini digunakan untuk mendukung informasi yang diperoleh dari data primer, dengan mengacu pada bahan pustaka, literatur, penelitian terdahulu, buku, serta laporan kegiatan yang diadakan oleh perpustakaan Asmaina, dan lain-lain. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Teknik Pengumpulan Data . Teknik Observasi Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang memiliki ciri spesifik dibandingkan dengan teknik lainnya (I. Afrianti et al. , 2. Jenis observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi non-sistematik, di mana peneliti tidak menggunakan instrumen observasi formal. Teknik ini diterapkan untuk mengetahui perbandingan efektivitas Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran Sejarah di SMAN 2 Dompu. Teknik wawancara Wawancara adalah pertemuan dua orang yang bertujuan untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga makna dapat dikonstruksi secara spesifik mengenai topik yang dibahas (Kusumastuti & Khoiron, 2. Peneliti menggunakan wawancara terstruktur karena metode ini memudahkan untuk memperoleh data dan informasi yang mendalam dari responden. Dokumentasi Dokumentasi adalah catatan mengenai peristiwa yang telah berlalu, yang dapat berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang (Fajarini. Dokumentasi dalam bentuk tulisan meliputi catatan harian, sejarah kehidupan, biografi, peraturan, dan kebijakan. Dokumentasi dalam bentuk gambar dapat berupa foto, gambar hidup, sketsa, dan sebagainya, sementara dokumentasi dalam bentuk karya mencakup karya seni seperti gambar, patung, film, dan lainnya. Studi dokumen berfungsi sebagai pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara (Jannah, 2. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Analisis Interaktif Miles & Huberman. Langkah pertama adalah pengumpulan data, yang dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi di lapangan secara objektif (Kusumastuti & Khoiron, 2. Langkah kedua adalah reduksi data, yang berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, serta memfokuskan perhatian pada aspek-aspek yang penting, dengan mencari tema dan pola dari data yang terkumpul. Proses reduksi data ini berlangsung terusmenerus sepanjang proyek kualitatif sampai laporan akhir disusun (I. Afrianti & JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Asmiatiningsih, 2. Langkah ketiga adalah penyajian data, yang melibatkan penyusunan informasi yang dapat memberikan kemungkinan untuk menarik kesimpulan dan mengambil tindakan (D. & S. Afrianti, 2. Langkah keempat adalah penarikan kesimpulan atau verifikasi, yang berarti usaha untuk menguji, memeriksa kembali, atau memahami makna dari data yang ada, serta mengidentifikasi pola, keteraturan, dan hubungan kausal atau interaktif, yang akhirnya menghasilkan kesimpulan yang dapat berupa deskripsi, hubungan kausal, hipotesis, atau teori (Lia Suprihartini. Hasyim Rinaldi. Haris Mirza Saputra. Sulaiman. Rudy Tandra, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan utama, yaitu "Bagaimana efektivitas Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka terhadap hasil belajar pada mata pelajaran sejarah di SMAN 2 Dompu?". Penelitian ini melibatkan enam guru yang mengajar mata pelajaran sejarah di sekolah tersebut. Temuan penelitian dibagi berdasarkan pertanyaan penelitian, yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi dengan guru. Dari analisis tersebut, ditemukan berbagai persepsi terkait efektivitas Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Berikut adalah hasil temuan perbandingan persepsi guru terhadap kedua kurikulum A) Kurikulum 2013 Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang menekankan pada pendekatan pedagogik modern dengan fokus pada pemahaman, keterampilan, dan pendidikan berkarakter (Lestari, 2. Dalam kurikulum ini, siswa diharapkan untuk memahami materi dengan baik, aktif dalam diskusi dan presentasi, serta memiliki sikap sopan santun dan disiplin yang tinggi. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mencetak generasi muda yang produktif, kreatif, inovatif, dan efektif (Wiratno, 2. Sementara itu. Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang bersifat tematik integratif dengan lebih banyak jam pelajaran (Rusmawan, 2. Hal ini bertujuan untuk mendorong siswa agar lebih mampu melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mempresentasikan apa yang telah mereka pelajari. Diharapkan dengan kurikulum ini. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 siswa dapat mengembangkan kompetensi dalam aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan secara lebih baik (Di & Solok, 2. Kelemahan dan Kelebihan Kurikulum 2013 Kurikulum 2013 memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan. Pertama, kelemahannya terletak pada materi yang harus dikuasai oleh siswa yang terlalu banyak, sehingga banyak yang merasa bahwa beberapa materi terlalu berat untuk usia tertentu. Hal ini menyebabkan beban belajar siswa menjadi sangat besar, yang pada gilirannya dapat berdampak pada tertinggalnya siswa dengan kemampuan rendah. Kedua, kelebihannya terletak pada penekanan pada pendidikan karakter, di mana kurikulum ini memberikan kesempatan bagi lembaga pendidikan untuk lebih maksimal dalam membentuk karakter siswa, dengan fokus pada pembangunan karakter dan budi pekerti yang baik di semua program studi (Alawiyah, 2. Ini memungkinkan terbentuknya karakter anak bangsa yang lebih kuat. Sedangkan menurut (Darmawati, 2. Kekurangan Kurikulum 2013 adalah terlalu banyak materi yang harus dikuasai siswa, yang menyulitkan penyampaian materi secara efektif. Selain itu, beban administrasi yang harus diselesaikan oleh guru menjadi masalah tersendiri. Namun, kelebihannya adalah siswa dituntut untuk lebih aktif, kreatif, dan inovatif dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi di sekolah (Di & Solok, 2. Proses Pembelajaran Proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 terdiri dari tiga tahapan utama. Pertama, perencanaan pembelajaran, yang mencakup: . Silabus, sebagai acuan dalam menyusun kerangka pembelajaran untuk setiap materi mata pelajaran, dan . Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yaitu rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih, yang dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan siswa mencapai Kompetensi Dasar (KD) (Adha et al. , 2. Kedua, pelaksanaan pembelajaran, yang mencakup kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. Dalam tahap pelaksanaan ini, strategi yang diterapkan harus menggunakan pendekatan ilmiah . cientific approac. dan bernuansa tematik (Lestari, 2. Ketiga, kegiatan penutup, yang meliputi beberapa hal, yaitu: . guru dan siswa bersama-sama menyusun rangkuman atau kesimpulan pelajaran, . guru melakukan penilaian untuk mengukur sejauh mana tujuan tercapai dan melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan, . memberikan umpan balik atas JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 proses dan hasil pembelajaran, . merencanakan tindak lanjut seperti pembelajaran remedial, pengayaan, layanan konseling, atau pemberian tugas individu atau kelompok sesuai dengan hasil belajar, dan . menyampaikan rencana pembelajaran untuk pertemuan berikutnya (Sari et al. , 2. Sedangkan menurut (Alawiyah, 2. , proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 mengembangkan dua pendekatan utama, yaitu pembelajaran langsung . irect teachin. dan pembelajaran tidak langsung . ndirect teachin. Pembelajaran langsung merupakan proses di mana siswa mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir, dan keterampilan psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang telah dirancang dalam silabus dan RPP melalui berbagai kegiatan pembelajaran. B) Kurikulum Merdeka Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang dikeluarkan oleh KEMDIKBUD pada tahun 2020/2021, yang memberikan kebebasan kepada guru dan sekolah untuk mengelola dan memilih materi pembelajaran (Oktaviani et al. , 2. Kurikulum ini juga menekankan pengembangan keterampilan lunak dan keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan karakter yang baik (Hidayati et al. , 2. Tujuan utama dari Kurikulum Merdeka adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara lebih kreatif, fleksibel, dan aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Sementara itu. Kurikulum Merdeka merupakan penyederhanaan dari Kurikulum 2013 yang lebih fleksibel untuk memudahkan guru dan siswa (Lastriyani, 2. Konsep Merdeka Belajar yang diusung dalam kurikulum ini memberikan kebebasan bagi sekolah, guru, dan siswa, termasuk kebebasan untuk berinovasi dalam pembelajaran, belajar secara mandiri, dan berpikir kreatif (Junaidi, 2. Selain itu, tujuan Kurikulum Merdeka adalah untuk mencapai tujuan nasional dalam dunia pendidikan, yaitu meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia agar memiliki keunggulan dan daya saing di kancah internasional (Panginan & Susianti, 2. Kelebihan dan Kekurangan Kurikulum Merdeka Salah satu kelebihan Kurikulum Merdeka adalah penyederhanaan materi yang diajarkan, sehingga lebih fokus dan mendalam (Panginan & Susianti, 2. Materi yang disampaikan dalam kurikulum ini dirancang agar siswa dapat mempelajari konsep dengan lebih detail tanpa terburu-buru (Oktaviani et al. , 2. Hal ini memungkinkan siswa untuk JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 memahami materi dengan lebih baik dan mendalam, karena proses pembelajaran tidak terbagi-bagi dengan banyaknya topik yang harus dipelajari dalam waktu singkat (Panginan & Susianti, 2. Dengan demikian, siswa memiliki kesempatan untuk benar-benar memahami materi sebelum melanjutkan ke topik berikutnya. Namun, di sisi lain, terdapat kekurangan yang cukup signifikan, yaitu kebutuhan akan waktu dan sumber daya yang lebih besar. Kurikulum Merdeka memberi kebebasan kepada siswa untuk mengatur proses pembelajarannya sendiri, yang berarti mereka dapat mengeksplorasi materi sesuai dengan minat dan kecepatan mereka (Sari et al. , 2. Hal ini tentu saja memerlukan waktu ekstra dari guru untuk memberikan bimbingan tambahan kepada siswa yang membutuhkan bantuan lebih intensif. Selain itu, penerapan kurikulum ini memerlukan lebih banyak sumber daya, seperti buku teks yang relevan, alat bantu pembelajaran, dan fasilitas lainnya yang mendukung pembelajaran yang lebih mandiri dan fleksibel (Almarisi, 2. Dengan demikian, meskipun memberikan kebebasan dan kedalaman dalam belajar, implementasi Kurikulum Merdeka membutuhkan persiapan dan dukungan yang lebih besar baik dari segi waktu maupun materi pembelajaran (Oktaviani et , 2. Proses pembelajaran Proses pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka terdiri dari tiga tahap utama yang dirancang untuk memberikan pembelajaran yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan setiap siswa (Sari et al. , 2. Tahap pertama adalah asesmen diagnostik. Pada tahap ini, guru melakukan evaluasi awal untuk mengenali berbagai aspek dari siswa, seperti potensi akademik, karakteristik individu, kebutuhan belajar, serta tahap perkembangan dan pencapaian pembelajaran mereka (Almarisi, 2. Asesmen ini biasanya dilakukan di awal tahun ajaran atau periode pembelajaran, sehingga hasilnya dapat dijadikan dasar dalam merencanakan pendekatan dan metode pembelajaran yang paling sesuai dengan setiap siswa. Tahap kedua adalah perencanaan pembelajaran. Berdasarkan hasil dari asesmen diagnostik, guru merencanakan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa. Guru juga melakukan pengelompokan siswa berdasarkan tingkat kemampuan mereka, yang memungkinkan pembelajaran disesuaikan dengan level kompetensi masing-masing. Dengan perencanaan yang matang ini, guru dapat merancang kegiatan pembelajaran yang efektif dan dapat JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 memaksimalkan potensi setiap siswa (Oktaviani et al. , 2. Tahap terakhir adalah pembelajaran itu sendiri. Selama proses pembelajaran, guru secara rutin melakukan asesmen formatif, yaitu penilaian yang dilakukan secara berkala untuk memantau perkembangan dan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Asesmen formatif ini memungkinkan guru untuk menilai apakah metode atau pendekatan yang digunakan efektif, dan jika diperlukan, guru dapat menyesuaikan strategi pembelajaran untuk mengatasi hambatan atau kebutuhan khusus siswa (Lastriyani, 2. Di akhir proses pembelajaran, guru melakukan asesmen sumatif, yang berfungsi sebagai evaluasi untuk mengukur sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai oleh siswa. Dengan demikian, pendekatan ini memungkinkan pembelajaran yang lebih adaptif dan responsif terhadap perkembangan siswa sepanjang proses pembelajaran (Panginan & Susianti, 2. Profil Sekolah SMA Negeri 2 Dompu terletak di Jalan Lele. Kelurahan Bali I. Kecamatan Dompu. Kabupaten Dompu. Sekolah ini didirikan pada tahun 2005 dan berdiri di atas tanah milik pemerintah, karena merupakan sekolah negeri. Dari segi infrastruktur. SMA Negeri 2 Dompu terus mengalami perkembangan setiap tahunnya. Beberapa perbaikan yang telah dilakukan meliputi renovasi gedung sekolah menjadi dua lantai, serta pembangunan fasilitas seperti pemisahan toilet untuk perempuan dan laki-laki, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang proses belajar mengajar. Siswa di SMA Negeri 2 Dompu tidak hanya berasal dari Kelurahan Bali I, tetapi juga dari desa dan kelurahan lainnya. Sekolah ini memiliki 93 tenaga pendidik, sebagian besar berasal dari perguruan tinggi dan mengajar sesuai dengan bidangnya. Selain itu. SMA Negeri 2 Dompu juga menyediakan fasilitas internet yang dapat diakses bebas oleh siswa, yang dapat membantu mempercepat pencarian informasi. Pembelajaran tatap muka dilaksanakan setiap hari dari pukul 07:15 hingga 14:00. Pembahasan Kurkulum 2013 Kurikulm 2013 menekankan pada dimensi pedagogic modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmia. Pendekatan ilmiah . cientific approac. dalam pembelajaran sebagaimana yang dimaksud meliputi, mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan menciptakan untuk semua mata pelajaran JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 (Darmawati, 2. Kurikulum 2013 menekankan pada siswa agar lebih aktif, kreatif, dan Faktanya, kurikulum 2013 ini mempunyai tujuan yang sangat penting, yaitu untuk mendorong semua siswa untuk melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mempresentasikan apa yang mereka dapatkan ketika pembelajaran dengan baik (Darmawati, 2. Sedangkan guru hanya menjadi fasilitator saja. Padahal Guru merupakan faktor penting dalam implementasi kurikulum (Rusmawan, 2. Mengingat kurikulum 2013 banyak materi yang begitu padat, sehingga banyaknya jam pelajaran yang di lalui oleh guru dan siswa Sehingga membuat guru mengurangin materi atau topic sebagaimana yang terus dilalui oleh guru untuk menyelesaikan materi tanpa mempertimbangkan kemampuan pemahaman siswa untuk memahami saebuah pelajaran jika dilakukan dengan tergesa-gesa siswa tidak punya cukup waktu untuk mengerti konsep yang mendalam (Adha et al. , 2. Kurikulum Merdeka Sedangkan kurikulum merdeka yang di terapkan pada tahun 2020/2021 yang di mana kurikulum ini menyempurnakan kurikulum terdahulu (Oktaviani et al. , 2. Kurikulum merdeka tidak hanya memberikan kebebasan kepada siswa dalam pengembangan potensi, tetapi memberikan kebebasan kepada satuan Pendidikan untuk mengelolah kurikulum berbasis otonomi daerah serta memberikan kebebasan bagi guru untuk merancang pembelajaran. Rencana pelaksanaan pembelajaran yang selama ini dikeluhkan karena susunan yang rinci dan kaku serta mewajibkan guru untuk mengikuti tahapan pembelajaran yang telah dibuat mengakibatkan guru menghabiskan waktu lebih banyak untuk urusan administrasi Dan siswa yang belajar tidak sesui dengan minat dan bakat mereka. (Alawiyah, 2. Dengan penerapan kurikulum merdeka segala rancangan dan rencana pembelajaran dibuat lebih ringkas dengan memuat kompunen yang penting sehingga guru memiliki banyak waktu untuk melakukan evaluasi pembelajaran serta siswa belajar dengan senang karna di arahakan dengan minat dan bakat mereka (Sari et al. , 2. Dari penerapan kurikulum ini memiliki beberapa keunggulan yang akan didapatkan. Beberapa keunggulan tersebut antara lain (Lastriyani, 2. Pertama. Materi yang diajarkan lebih sederhana, mendalam, dan fokus terhadap materi esensial saja. Oleh karena itu, siswa bisa belajar secara lebih mendalam dan tidak terburu-buru dalam proses pembelajaran sehingga akan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 lebih paham dengan apa yang dipelajari. Kedua. Guru lebih leluasa untuk mengajar sesuai dengan tahap capaian dan perkembangan siswa. Selain itu, sekolah juga memiliki wewenang untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan satuan pendidikan dan siswa. Dan ketiga. Lebih relevan dan interaktif karena pembelajaran melalui kegiatan proyek yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif dan mengeksplorasi isu-isu Novelty atau kebaruan dari penelitian ini terletak pada perbandingan langsung antara efektivitas Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka dalam konteks mata pelajaran Sejarah di SMAN 2 Dompu, yang memberikan wawasan baru tentang implementasi kedua kurikulum tersebut dalam satuan pendidikan yang sama. Penelitian ini juga memperkenalkan perspektif guru sebagai sumber utama dalam menilai efektivitas kedua kurikulum tersebut melalui wawancara dan observasi langsung, yang memungkinkan peneliti untuk menggali pengalaman nyata serta kendala yang dihadapi dalam Selain itu, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam menggambarkan dampak langsung terhadap hasil belajar siswa, serta memberikan masukan mengenai bagaimana perbandingan kedua kurikulum dapat mempengaruhi metode pengajaran dan pencapaian kompetensi di tingkat lokal. Kelemahan dan keterbatasan dalam penelitian ini antara lain adalah sampel yang Penelitian ini hanya dilakukan di SMAN 2 Dompu dengan melibatkan enam guru mata pelajaran Sejarah sebagai responden. Hal ini membatasi generalisasi hasil penelitian, karena pengalaman dan implementasi kurikulum di sekolah lain bisa berbeda, tergantung pada konteks dan kondisi yang ada. Selain itu, penelitian ini mengandalkan metode pengumpulan data melalui wawancara dan observasi, yang merupakan teknik kualitatif. Meskipun memberikan informasi mendalam, data yang diperoleh bisa dipengaruhi oleh bias responden atau pengamat serta subjektivitas dalam penafsiran data, yang dapat memengaruhi keakuratan hasil penelitian. Penelitian ini juga memiliki fokus terbatas pada mata pelajaran Sejarah, sehingga temuan yang ada tidak bisa langsung diterapkan untuk mata pelajaran lainnya. Dampak implementasi kurikulum bisa berbeda-beda tergantung pada karakteristik masing-masing mata pelajaran. Keterbatasan waktu dan sumber daya juga mempengaruhi kedalaman pengumpulan data serta analisis yang dilakukan, mengingat penelitian ini bersifat studi kasus di satu sekolah. Penelitian dengan cakupan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 62-78 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 yang lebih luas dan sumber daya yang lebih memadai bisa memberikan gambaran yang lebih komprehensif. Keterbatasan-keterbatasan ini perlu diperhatikan dalam menafsirkan hasil penelitian dan sebagai dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut guna memperoleh pemahaman yang lebih lengkap dan representatif mengenai perbandingan efektivitas kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka. KESIMPULAN Berdasarkan temuan penelitian, terdapat beberapa data yang mendukung klaim bahwa Kurikulum Merdeka lebih efektif. Peningkatan hasil belajar siswa dapat terlihat dari meningkatnya skor evaluasi pembelajaran, terutama pada aspek pemahaman konsep yang lebih mendalam. Selain itu, partisipasi siswa dalam kelas lebih tinggi karena mereka diberikan kebebasan untuk memilih topik yang sesuai dengan minat mereka, yang mendorong keterlibatan lebih aktif. Dari sisi guru, mereka melaporkan adanya peningkatan kepuasan dalam mengelola pembelajaran karena adanya kebebasan untuk merancang dan menyesuaikan materi sesuai dengan kebutuhan siswa, serta waktu yang lebih banyak untuk melakukan evaluasi secara lebih menyeluruh. Dengan demikian. Kurikulum Merdeka terbukti memberikan manfaat baik dari sisi hasil belajar siswa maupun kepuasan guru dalam melaksanakan tugasnya. Peneliti berharap guru SMAN 2 Dompu mampu menciptakan suasana belajar yang menarik agar siswa tidak bosan selama proses mengajar berlangsung. DAFTAR PUSTAKA