TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. Konservatisme Akuntansi dalam Era Digital dan Keberlanjutan: Suatu Studi Literatur Risa Rukmana1. Faizah Khaeruddin2. Yustika Jauhari3 1,2,3 Universitas Negeri Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia rukmana@unm. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis perkembangan literatur terkait konservatisme akuntansi dalam konteks akuntansi keuangan modern. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Konservatisme akuntansi, digitalisasi, dan akuntansi keberlanjutan merupakan tiga pilar penting dalam pelaporan keuangan modern. Konservatisme tetap relevan sebagai prinsip kehati-hatian, digitalisasi berperan sebagai penguat transparansi, dan keberlanjutan menekankan tanggung jawab jangka panjang. Meskipun terdapat gap penelitian yang signifikan, integrasi ketiganya dapat memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan teori akuntansi, peningkatan kualitas pelaporan, serta praktik bisnis yang lebih akuntabel dan berkelanjutan. ABSTRACT This research aims to analyze the development of literature related to accounting conservatism in the context of modern financial accounting. The results of this study indicate that accounting conservatism, digitalization, and sustainability accounting are three important pillars of modern financial reporting. Conservatism remains relevant as a precautionary principle, digitalization serves as a transparency enhancer, and sustainability emphasizes long-term responsibility. While there is a significant research gap, integrating these three could significantly contribute to the development of accounting theory, improved reporting quality, and more accountable and sustainable business practices. Volume 10 Nomor 2 Halaman 330-339 Makassar. Desember 2025 p-ISSN 2528-3073 e-ISSN 24656-4505 Tanggal masuk 17 November 2025 Tanggal diterima 23 November 2025 Tanggal dipublikasi 1 Desember 2025 Kata kunci : Konservatisme Akuntansi. Digitalisasi. Akuntansi Keberlanjutan Keywords : Accounting Conservatism, digitalization sustainability Mengutip artikel ini sebagai : Rukmana. Khaeruddin. , dan Jauhari. Konservatisme Akuntansi dalam Era Digital dan Keberlanjutan: Suatu Studi Literatur. Tangible Jurnal, 10. No. Desember 2025. Hal. https://doi. org/10. 53654/tangible. PENDAHULUAN Konservatisme akuntansi merupakan salah satu prinsip penting dalam pelaporan keuangan yang menekankan pengakuan kerugian lebih cepat dibandingkan keuntungan (Hamad, 2. Prinsip ini diyakini mampu meningkatkan kredibilitas laporan keuangan melalui pengurangan asimetri informasi dan risiko oportunisme Namun, dinamika bisnis kontemporer yang ditandai dengan transformasi digital dan meningkatnya tuntutan akan akuntansi keberlanjutan menimbulkan pertanyaan baru mengenai relevansi dan fungsi konservatisme di era sekarang. Transformasi digital-meliputi adopsi big data, artificial intelligence, blockchain, hingga Internet of Things (IoT)-telah mengubah cara perusahaan mengelola dan melaporkan informasi keuangan maupun non-keuangan. Bukti empiris menunjukkan bahwa digitalisasi dapat meningkatkan transparansi dan mengurangi peluang manipulasi, sehingga berpotensi memperkuat praktik konservatisme (Li dan Zhou. Sebaliknya, fenomena digital washing menimbulkan risiko penurunan kualitas informasi yang pada akhirnya dapat melemahkan peran konservatisme dalam menjaga kehati-hatian pelaporan (Wei et al, 2. Di sisi lain, akuntansi keberlanjutan yang berfokus pada pengungkapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola semakin menjadi perhatian global. Perusahaan dituntut untuk tidak hanya menyajikan kinerja keuangan, tetapi juga TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. mengkomunikasikan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Penelitian terbaru menemukan adanya hubungan positif antara pengungkapan keberlanjutan dan praktik konservatif, karena keduanya terkait dengan upaya mengurangi ketidakpastian dan memperkuat kredibilitas laporan (Dissanayake et al, 2. Keterhubungan konservatisme, digitalisasi, dan keberlanjutan ini belum banyak dieksplorasi secara sistematis. Padahal, integrasi ketiganya berpotensi memberikan kontribusi signifikan, baik dalam pengembangan literatur akuntansi maupun praktik korporasi, terutama dalam menghadapi kompleksitas regulasi, tuntutan stakeholder, dan dinamika teknologi. Meskipun penelitian tentang konservatisme akuntansi telah banyak dilakukan, sebagian besar penelitian masih berfokus pada hubungan konservatisme dengan faktor tradisional seperti ukuran perusahaan, leverage, struktur kepemilikan, maupun kualitas audit. Kajian yang mengaitkan konservatisme dengan transformasi digital masih terbatas, meskipun digitalisasi telah terbukti mengubah pola pengungkapan dan mekanisme akuntabilitas perusahaan. Lebih jauh, penelitian yang menghubungkan konservatisme dengan keberlanjutan cenderung menyoroti aspek pengungkapan lingkungan atau risiko iklim, tanpa memperhitungkan bagaimana digitalisasi dapat memperkuat atau melemahkan hubungan tersebut. Artinya, belum ada kerangka teoritis komprehensif yang menjelaskan interaksi tiga dimensi ini secara Dari sisi teori, penelitian terdahulu banyak mengacu pada teori keagenan dan teori sinyal untuk menjelaskan konservatisme. Namun, penerapan teori legitimasi dan teori institusional dalam konteks integrasi digitalisasi-konservatismekeberlanjutan masih jarang dilakukan. Padahal, teori-teori tersebut dapat memberikan penjelasan lebih luas mengenai bagaimana perusahaan merespons tekanan sosial, teknologi, dan regulasi secara bersamaan. Dengan demikian, terdapat gap penelitian dalam memahami bagaimana digitalisasi memoderasi atau memediasi hubungan antara keberlanjutan dan konservatisme, serta bagaimana integrasi ketiganya membentuk model pelaporan yang lebih relevan di era kontemporer. Adapun tujuan penelitian ini adalah menganalisis perkembangan literatur terkait konservatisme akuntansi dalam konteks akuntansi keuangan modern. Konservatisme Konservatisme telah lama di pandang sebagai mekanisme pelaporan yang mampu menyeimbangkan kepentingan manajer dan pemegang saham. (Basu, 1. menjelaskan konservatisme melalui asymmetric timeliness of earnings, sementara penelitian lanjutan menunjukkan perannya dalam mengurangi litigasi, meningkatkan kredibilitas, dan menurunkan biaya modal. Namun, adopsi IFRS dan tuntutan pelaporan fair value menimbulkan perdebatan mengenai apakah konservatisme masih relevan dalam lingkungan bisnis modern. Penelitian lain ditunjukkan oleh (Ni, 2. Dengan menggunakan data perusahaan A-share di Tiongkok periode 2016Ae2020, penelitian ini menemukan bahwa transformasi digital secara signifikan meningkatkan konservatisme akuntansi. Efek positif ini lebih kuat pada perusahaan yang memiliki tingkat transparansi rendah. Hasil tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi mampu berperan sebagai mekanisme tata kelola yang meningkatkan kehati-hatian akuntansi terutama di lingkungan dengan keterbatasan informasi. Keterkaitan antara konservatisme dengan keberlanjutan lebih lanjut dilakukan oleh (Pereira, 2. hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perusahaan dengan pengungkapan lingkungan yang lebih tinggi cenderung memiliki tingkat konservatisme yang lebih kuat, sehingga meningkatkan kepercayaan investor. TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. Hubungan Teori Agensi dan Konservatisme Teori agensi (Agency Theor. diperkenalkan oleh (Jensen dan Meckling, 1. yang menjelaskan hubungan kontraktual antara prinsipal . emegang saha. dan agen . Dalam hubungan ini, terjadi asimetri informasi karena manajer memiliki informasi lebih banyak tentang kondisi perusahaan dibandingkan pemegang saham. Masalah agensi muncul karena manajer mungkin bertindak untuk kepentingan pribadi . isalnya memanipulasi laba demi bonu. yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan pemegang saham. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme pengendalian . untuk mengurangi konflik kepentingan. Hubungan Teori Sinyal dan Konservatisme Teori signaling diperkenalkan pertama kali oleh (Spence, 1. yang menjelaskan bagaimana pihak yang memiliki informasi lebih . anajemen/inside. memberikan sinyal kepada pihak yang kurang informasi . nvestor/outside. untuk mengurangi asimetri informasi. Dalam konteks akuntansi, laporan keuangan merupakan salah satu bentuk sinyal yang dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap kualitas perusahaan (Connelly et al, 2. Konservatisme akuntansi berfungsi sebagai sinyal kredibilitas Dengan mengakui kerugian lebih cepat dan keuntungan secara hati-hati, perusahaan menunjukkan sikap transparan dan prudent. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan investor dan mengurangi biaya modal (LaFond dan Watts, 2. Dalam era digitalisasi, sinyal melalui konservatisme menjadi semakin penting karena ketersediaan data real-time menuntut keandalan informasi keuangan. Sementara dalam akuntansi keberlanjutan, konservatisme dapat menjadi sinyal bahwa perusahaan serius dalam mengungkapkan risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), serta tidak sekadar melakukan greenwashing. Hubungan Teori Institusional dan Konservatisme Teori institusional memberikan kerangka untuk memahami bagaimana praktik akuntansi, termasuk konservatisme, terbentuk dan dipertahankan tidak hanya karena pertimbangan efisiensi ekonomi, tetapi juga karena kebutuhan organisasi untuk memperoleh legitimasi di mata pemangku kepentingan. Menurut (Meyer dan Rowan, 1. struktur formal organisasi sering kali mencerminkan mitos dan upacara yang dilembagakan dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa praktik akuntansi konservatif dapat dipandang sebagai hasil dari norma dan ekspektasi sosial yang melembaga dalam bidang akuntansi dan keuangan. (DiMaggio dan Powell, 1. mengembangkan konsep isomorfisme institusional, yang menjelaskan tiga bentuk tekanan yang memengaruhi organisasi: . isomorfisme koersif, yaitu tekanan dari regulasi dan aturan pemerintah. isomorfisme normatif, yaitu tekanan dari standar profesi dan komunitas akuntansi. isomorfisme mimetik, yaitu peniruan praktik yang dilakukan oleh organisasi lain yang dianggap berhasil atau legitim. Ketiga mekanisme ini dapat menjelaskan mengapa perusahaan mempertahankan atau meningkatkan konservatisme akuntansi. Dalam konteks konservatisme akuntansi, teori institusional dapat dipahami sebagai berikut. Pertama, tekanan koersif muncul melalui regulasi akuntansi dan hukum pasar modal yang mendorong perusahaan untuk lebih berhati-hati dalam mengakui pendapatan dan lebih cepat dalam mengakui kerugian. Kedua, tekanan normatif datang dari standar profesi akuntan, auditor, dan asosiasi internasional yang memandang konservatisme sebagai wujud kehati-hatian dan kredibilitas laporan Ketiga, tekanan mimetik mendorong perusahaan untuk meniru praktik konservatif dari perusahaan lain yang telah memperoleh legitimasi pasar atau kepercayaan investor. TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. Keterkaitan teori institusional dengan digitalisasi dan akuntansi keberlanjutan semakin relevan dalam praktik akuntansi kontemporer. Digitalisasi mendorong perusahaan untuk mengadopsi sistem pelaporan berbasis teknologi yang transparan, sehingga konservatisme menjadi strategi penting dalam menjaga kredibilitas data yang mudah diverifikasi. Sementara itu, dalam konteks akuntansi keberlanjutan, tekanan regulasi ESG, norma profesi internasional, serta praktik terbaik perusahaan global mendorong adopsi konservatisme dalam pengakuan biaya lingkungan, risiko sosial, atau kewajiban keberlanjutan. Dengan demikian, teori institusional menjelaskan bahwa konservatisme tidak hanya sekadar prinsip teknis akuntansi, tetapi juga merupakan mekanisme legitimasi yang dipengaruhi oleh dinamika regulasi, norma profesi, dan praktik pasar. Teori legitimasi dan Konsevatisme Teori legitimasi (Legitimacy Theor. berangkat dari asumsi bahwa organisasi berusaha mendapatkan, mempertahankan, atau memulihkan legitimasi di mata masyarakat dengan cara menyesuaikan nilai, norma, dan ekspektasi sosial yang Legitimasi dipandang sebagai sumber daya yang esensial agar perusahaan dapat bertahan hidup (Dowling dan Pfeffer, 1. Perusahaan dianggap legitim ketika tindakan dan pengungkapan mereka sesuai dengan sistem nilai sosial yang berlaku. Jika terdapat kesenjangan legitimasi . egitimacy ga. , perusahaan dapat menghadapi tekanan dari publik, regulator, dan investor. Oleh karena itu, praktik akuntansitermasuk konservatisme dapat digunakan sebagai sarana memperoleh atau mempertahankan legitimasi. (Suchman, 1. memandang konservatisme akuntansi sebagai strategi perusahaan untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan publik, terutama dalam menghadapi tekanan digitalisasi dan keberlanjutan. Perusahaan menggunakan konservatisme untuk menunjukkan sikap hati-hati, transparansi, dan akuntabilitas, sehingga dapat meningkatkan legitimasi di mata pemangku kepentingan. Ketika masyarakat atau investor menuntut pelaporan yang lebih kredibel, konservatisme membantu mengurangi legitimacy gap dengan menyajikan informasi yang lebih dapat dipercaya . isalnya pengakuan kerugian lebih Dalam konteks ESG . ingkungan, sosial, tata kelol. , konservatisme berfungsi sebagai mekanisme pelaporan yang konservatif dalam mencatat kewajiban lingkungan atau biaya sosial. Hal ini memperkuat legitimasi perusahaan di mata masyarakat dan Teori legitimasi memandang konservatisme akuntansi sebagai strategi perusahaan untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan publik, terutama dalam menghadapi tekanan digitalisasi dan keberlanjutan. teori institusional dapat menjelaskan bahwa praktik konservatisme bukan hanya persoalan efisiensi pelaporan, tetapi juga sebagai upaya perusahaan untuk memperoleh legitimasi sosial dan institusional di era digital dan keberlanjutan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi literatur . tau kajian pustak. , adapun jenis penelitian ini termasuk ketegori jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan analitis. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menganalisis dan menguraikan perkembangan literatur akademik terkait konservatisme akuntansi dalam konteks pelaporan keuangan modern, khususnya dengan mengintegrasikan isu digitalisasi dan akuntansi keberlanjutan. penelitian adalah keseluruhan literatur yang membahas konservatisme akuntansi, digitalisasi, dan akuntansi keberlanjutan. Sementara itu, sampel penelitian terdiri dari artikel-artikel jurnal dan sumber pustaka terpilih yang secara spesifik dianalisis dan TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. dirujuk dalam draf untuk membangun kerangka teoritis dan mengidentifikasi research HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Digitalisasi dan Konservatisme Transformasi digital dapat meningkatkan tingkat konservatisme akuntansi karena teknologi memperkuat transparansi dan efisiensi informasi (Zhong et al, 2. (Zhao dan Chen, 2. menambahkan bahwa digitalisasi dapat menurunkan risiko stock price crash melalui mekanisme konservatisme. Sebaliknya, (Wei, 2. menemukan bahwa adanya fenomena digital washing justru melemahkan praktik konservatif, khususnya ketika perusahaan hanya menggunakan digitalisasi sebagai simbol legitimasi tanpa implementasi substansial. Penelitian yang dilakukan oleh (Zhong at al, 2024, 2. Berdasarkan sampel perusahaan A-share di Tiongkok selama periode 2010Ae2019, penelitian ini menggunakan pengukuran tingkat digitalisasi (DIG) yang diambil dari teks laporan tahunan dan mengukur konservatisme akuntansi menggunakan C-Score. Hasilnya menunjukkan bahwa transformasi digital perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat konservatisme akuntansi. Semakin tinggi tingkat digitalisasi, semakin besar pula penerapan prinsip konservatisme dalam pelaporan Penelitian ini juga menemukan bahwa perhatian media . edia attentio. berperan sebagai variabel mediasi yang memperkuat hubungan tersebut. Dengan demikian, digitalisasi bukan hanya meningkatkan efisiensi pelaporan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran sosial terhadap praktik kehati-hatian dalam pengakuan laba dan rugi. Penelitian lain ditunjukkan oleh (Ni, 2. Dengan menggunakan data perusahaan A-share di Tiongkok periode 2016Ae2020, penelitian ini menemukan bahwa transformasi digital secara signifikan meningkatkan konservatisme akuntansi. Efek positif ini lebih kuat pada perusahaan yang memiliki tingkat transparansi rendah. Hasil tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi mampu berperan sebagai mekanisme tata kelola yang meningkatkan kehati-hatian akuntansi terutama di lingkungan dengan keterbatasan informasi. Temuan ini memberikan dasar teoretis yang kuat bahwa penerapan teknologi digital dapat memperkuat kualitas pelaporan keuangan melalui peningkatan Namun, hubungan antara digitalisasi dan konservatisme akuntansi tidak selalu bersifat positif. (Wei et al, 2. dalam artikelnya AuThe Dark Side of Digital Transformation: Digital Washing and Accounting ConservatismAy mengungkap sisi negatif dari fenomena tersebut. Berdasarkan data perusahaan terdaftar di Tiongkok periode 2007Ae2022, penelitian ini menemukan bahwa praktik digital washing yakni pengungkapan digitalisasi yang dilebih-lebihkan tanpa implementasi nyata berdampak negatif terhadap konservatisme akuntansi. Semakin tinggi tingkat digital washing, semakin rendah tingkat konservatisme yang diterapkan. Walaupun demikian, efek negatif ini dapat diredam oleh faktorfaktor seperti banyaknya liputan analis, tingginya sentimen investor, dan besarnya kompensasi eksekutif. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan digitalisasi dalam mendorong konservatisme bergantung pada kualitas implementasi digital, bukan sekadar retorika digitalisasi. Penelitian lain yang mendukung implikasi positif digitalisasi terhadap kualitas pelaporan dilakukan oleh penelitian yang dilakukan oleh (Alassuli et al, 2. melalui artikel AuThe Impact of Accounting Digital Transformation on Financial Transparency: Mediating Role of Good GovernanceAy yang diterbitkan oleh MDPI. Studi ini meneliti bank-bank komersial di Yordania dan menunjukkan bahwa digital transformation dalam akuntansi meningkatkan transparansi keuangan, dengan tata kelola perusahaan . ood governanc. berperan sebagai mediator. Meskipun fokusnya bukan langsung pada konservatisme akuntansi, hasil ini memperkuat argumen bahwa digitalisasi memperbaiki mekanisme pengendalian dan transparansi pelaporan, yang TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. merupakan fondasi penting bagi praktik konservatisme akuntansi. Selanjutnya, (Suwarno. , 2. menemukan bahwa penelitian konservatisme akuntansi banyak berkaitan dengan topik-topik seperti tata kelola perusahaan, transparansi informasi, tanggung jawab sosial perusahaan, dan penerapan IFRS. Walaupun tidak membahas digitalisasi secara langsung, tinjauan ini menegaskan bahwa faktor-faktor institusional dan teknologi informasi merupakan determinan penting yang memengaruhi tingkat konservatisme akuntansi di berbagai konteks negara. Secara keseluruhan, hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya konsensus akademik baru bahwa digitalisasi dan transformasi digital memiliki pengaruh positif terhadap konservatisme akuntansi, terutama ketika digitalisasi diimplementasikan secara nyata dan didukung oleh tata kelola perusahaan yang baik. Namun, jika digitalisasi hanya bersifat simbolik atau sekadar Audigital washingAy, maka efeknya dapat berbalik negatif. Keberlanjutan dan Konservatisme Penelitian yang dilakukan oleh (Ren, 2. menunjukkan bahwa kinerja keberlanjutan perusahaan berkorelasi positif dengan praktik konservatisme, karena keduanya mencerminkan upaya manajemen dalam mengurangi ketidakpastian jangka (Ferdous et al, 2. juga menemukan bahwa risiko iklim mendorong perusahaan untuk lebih konservatif dalam pelaporan keuangan. Di sisi lain, penelitian (Pereira, 2. menunjukkan bahwa perusahaan dengan pengungkapan lingkungan yang lebih tinggi cenderung memiliki tingkat konservatisme yang lebih kuat, sehingga meningkatkan kepercayaan investor. Konsep keberlanjutan . semakin mendapat perhatian dalam praktik pelaporan keuangan modern. Seiring meningkatnya tuntutan pemangku kepentingan terhadap transparansi lingkungan, sosial, dan tata kelola, perusahaan didorong untuk menyeimbangkan kepentingan profitabilitas jangka pendek dengan keberlanjutan jangka panjang. Salah satu implikasi dari peningkatan praktik keberlanjutan ini adalah penerapan konservatisme akuntansi, yang mencerminkan kehati-hatian dalam pengakuan pendapatan dan beban guna mencegah overstatement laba. Beberapa penelitian terkini menunjukkan adanya hubungan positif antara keberlanjutan dan konservatisme akuntansi, di mana perusahaan yang lebih berorientasi keberlanjutan cenderung lebih berhati-hati dalam pelaporan keuangan. Penelitian yang dilakukan oleh (Khlifi et al, 2. yakni meneliti pengaruh kinerja keberlanjutan ekonomi, lingkungan, dan sosial terhadap konservatisme akuntansi pada 136 perusahaan dari indeks ESG Eropa selama periode 2015Ae2022. Dengan menggunakan analisis regresi panel, hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi ekonomi dan lingkungan dari kinerja keberlanjutan berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat konservatisme akuntansi. Selain itu, tata kelola perusahaan yang baik . ood corporate governanc. memperkuat hubungan tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa perusahaan dengan praktik keberlanjutan tinggi cenderung menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pelaporan keuangan sebagai bentuk pengelolaan risiko reputasi dan peningkatan kredibilitas laporan keuangan. Konsistensi hasil positif juga ditunjukkan oleh (Benyasrisawat et al, 2. dalam penelitianya menggunakan sampel perusahaan di Thailand. Sebanyak 2. 470 observasi firm-year selama periode 2018Ae2023, penelitian ini menemukan adanya asosiasi positif antara kinerja ESG dan konservatisme akuntansi, di mana perusahaan dengan skor ESG yang lebih baik cenderung mengenali kerugian lebih cepat dibandingkan perusahaan lain. Penelitian ini memperluas bukti empiris di kawasan Asia dan menegaskan bahwa keberlanjutan korporasi dapat memperkuat penerapan konservatisme melalui peningkatan akuntabilitas dan kepekaan terhadap risiko. TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. Dalam konteks Indonesia, penelitian oleh (Putri et al, 2. memperlihatkan hasil yang sejalan. Dengan menganalisis 74 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 2017Ae2020, ditemukan bahwa pengungkapan laporan keberlanjutan . ustainability report disclosur. berpengaruh positif dan signifikan terhadap konservatisme akuntansi. Hasil ini memperlihatkan bahwa praktik pelaporan keberlanjutan yang baik dapat memperkuat mekanisme kehati-hatian akuntansi di perusahaan Indonesia, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas informasi Selain itu, penelitian oleh (Nugrahaning dan Setiawan, 2. juga berfokus pada hubungan antara pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR disclosur. dan konservatisme akuntansi dengan mempertimbangkan kepemilikan asing sebagai variabel moderasi. Berdasarkan data 590 observasi perusahaan manufaktur Indonesia periode 2018Ae2022, penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara pengungkapan CSR dan konservatisme, dengan indikasi bahwa kepemilikan asing dapat memperkuat hubungan tersebut. Temuan ini memberikan perspektif tambahan bahwa karakteristik kepemilikan dapat mempengaruhi sejauh mana praktik keberlanjutan berdampak terhadap kehatihatian dalam pelaporan keuangan. Berbeda dengan sebagian besar penelitian yang menemukan hubungan positif, (Altn, 2. dalam penelitiannya menunjukkan hasil yang berlawanan dalam konteks Turki. Berdasarkan analisis terhadap 530 perusahaan yang terdaftar di Bursa Istanbul selama 2014-2023, penelitian ini menemukan bahwa skor ESG dan pengeluaran lingkungan berpengaruh negatif terhadap konservatisme Hasil ini menunjukkan bahwa dalam konteks tertentu, perusahaan yang berfokus pada aktivitas keberlanjutan dapat merasa lebih AuamanAy secara reputasi dan karenanya mengurangi kehati-hatian dalam pelaporan laba. Meskipun demikian, hasil ini memperkaya diskursus akademik dengan menunjukkan bahwa hubungan antara keberlanjutan dan konservatisme dapat bersifat kontekstual dan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti regulasi, tekanan pasar, dan budaya perusahaan. Secara keseluruhan, mayoritas penelitian terkini menunjukkan bahwa keberlanjutan dan konservatisme akuntansi memiliki hubungan positif, terutama di lingkungan yang menekankan tata kelola perusahaan yang baik dan tekanan eksternal dari investor serta masyarakat. Perusahaan yang berorientasi pada keberlanjutan cenderung lebih berhati-hati dalam mengakui laba untuk menjaga kredibilitas, keandalan, dan integritas informasi keuangan. Hubungan ini menunjukkan bahwa praktik keberlanjutan bukan hanya meningkatkan tanggung jawab sosial dan lingkungan, tetapi juga memperkuat kualitas pelaporan keuangan melalui penerapan prinsip konservatisme. Integrasi Konservatisme. Digitalisasi, dan Keberlanjutan Penelitian sebelumnya belum banyak mengeksplorasi interaksi simultan antara ketiga dimensi ini. Digitalisasi dapat berperan sebagai pendorong akuntabilitas ESG sekaligus memperkuat konservatisme, tetapi juga berpotensi menimbulkan digital washing yang melemahkan keduanya. Di sisi lain, keberlanjutan menuntut pengakuan risiko lingkungan yang lebih cepat, yang sejalan dengan prinsip konservatisme. Dengan demikian, integrasi konservatisme, digitalisasi, dan keberlanjutan menjadi topik penelitian yang menarik untuk dikaji untuk memperkaya teori akuntansi maupun meningkatkan kualitas praktik pelaporan keuangan modern. SIMPULAN Konservatisme akuntansi, digitalisasi, dan akuntansi keberlanjutan merupakan tiga pilar penting dalam pelaporan keuangan modern. Konservatisme tetap relevan sebagai prinsip kehati-hatian, digitalisasi berperan sebagai penguat transparansi, dan keberlanjutan menekankan tanggung jawab jangka panjang. Meskipun terdapat gap TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. DESEMBER 2025. HAL. penelitian yang signifikan, integrasi ketiganya dapat memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan teori akuntansi, peningkatan kualitas pelaporan, serta praktik bisnis yang lebih akuntabel dan berkelanjutan. Penelitian berikutnya diharapkan dapat menguji secara empiris bagaimana digitalisasi memoderasi atau memediasi hubungan antara keberlanjutan dan konservatisme. Selain itu, kerangka teoritis yang menggabungkan teori keagenan, sinyal, legitimasi, dan institusional perlu dikembangkan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai fenomena ini. Dengan demikian, literatur akuntansi akan semakin mampu menjawab tantangan era digital sekaligus mendukung agenda keberlanjutan. DAFTAR PUSTAKA