Empowering the Young Generation with Financial Literacy Firya Qurratu'ain Abisono1*. Sri Hastjarjo1. Novita Haryono1. Aulia Suminar Ayu1. Andrine Prima Afneta Arzil1. Diah Kusumawati1. Pawito1. Hamid Arifin1 Article Info *Correspondence Author Department Communication Science. Faculty of Social Science and Political Science. Sebelas Maret University How to Cite: Abisono. Hastjarjo, . Haryono. Ayu. Arzil. Kusumawati. Pawito. Arifin, . Empowering the Young Generation with Financial Literacy. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 4 . , 54-66. Article History Submitted: 3 November 2023 Received: 5 February 2025 Accepted: 6 February 2025 Abstract Many young people adhere to the principle of YOLO or You Only Live Once, so this is a reason to use personal finances for self-reward or to buy everything they like, especially when they start to have their income. In connection with this situation. Bank Indonesia as the Central Bank has a mission to help increase the financial market deepening to strengthen the effectiveness of Bank Indonesia policies and support national economic financing. Bank Indonesia also wants to create an Indonesian society with a better understanding of financial literacy amidst the increasing enthusiasm of the younger generation to start investing but does not yet have adequate financial investment literacy. From this perspective, our Group Research helps with communication strategy issues related to financial literacy for the younger generation so that the information provided can be disseminated to the right targets and in a way that is easily accepted. Targeting the young generation aged 21-35 years, we held a workshop with the title Financial Literacy: Young. Smart, and Safe in Transactions and Investing as a communication strategy for public literacy to correctly recognize and understand the forms of investment and banking products that suit their character. Keywords: Education. Financial Literacy. Investment. Surakarta. Young Generation Correspondence E-Mail: firyaqr@staff. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. https://doi. org/10. 55381/jpm. https://prospectpublishing. id/ojs/index. php/jpm/index p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Creative Commons Share Alike CC-BY-SA: This work is licensed under a Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Creative Commons Attribution- Share-Alike 4. 0 International License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. which permits non-commercial use, reproduction, and distribution of the work without further permission provided the original work is attributed as specified on the Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat and Open Access pages. Pemberdayaan Generasi Muda melalui Lokakarya Literasi Finansial Firya Qurratu'ain Abisono1*. Sri Hastjarjo1. Novita Haryono1. Aulia Suminar Ayu1. Andrine Prima Afneta Arzil1. Diah Kusumawati1. Pawito1. Hamid Arifin1 Info Artikel Abstrak Departemen Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sebelas Maret Banyak generasi muda yang menganut prinsip YOLO atau You Only Live Once sehingga hal ini menjadi alasan memanfaatkan keuangan pribadi untuk self-reward atau membeli semua yang mereka sukai terutama ketika mulai memiliki penghasilan sendiri. Sehubungan dengan situasi ini. Bank Indonesia sebagai bank sentral memiliki misi, yaitu untuk turut meningkatkan pendalaman pasar keuangan guna memperkuat efektivitas kebijakan Bank Indonesia dan mendukung pembiayaan ekonomi nasional. Bank Indonesia pun ingin mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki pemahaman akan literasi keuangan yang semakin baik ditengah animo generasi muda yang semakin meningkat untuk mulai berinvestasi namun belum memiliki literasi akan investasi keuangan yang memadai. Dari sisi inilah, grup riset kami membantu permasalahan strategi komunikasi terkait literasi keuangan kepada generasi muda ini sehingga informasi yang diberikan dapat disebarkan kepada target yang tepat dan dengan cara yang mudah Dengan menargetkan generasi muda berusia 21-35 tahun kami menggelar lokakarya dengan tajuk Literasi Finansial: Muda. Cerdas dan Aman dalam Bertransaksi dan Berinvestasi sebagai strategi komunikasi untuk literasi masyarakat guna mengenali dan memahami dengan benar bentuk investasi dan produk perbankan yang sesuai dengan karakter mereka. *Korespondensi Penulis . Surel Korespondensi: firyaqr@staff. Kata Kunci: Edukasi. Generasi Muda. Investasi. Literasi Keuangan. Surakarta A Abisono, et al Pendahuluan Disrupsi yang dibawa oleh perkembangan teknologi komunikasi dapat menciptakan fenomena-fenomena baru, yang tidak jarang membawa beragam permasalahan bagi Peningkatan literasi digital masyarakat menjadi salah satu agenda utama untuk menghadapi tantangan di era digital ini. Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Kendati demikian, kecakapan literasi yang diperlukan untuk menyambut era digital tidak hanya terbatas dengan literasi digital saja, mengingat teknologi masa kini sudah mendorong perkembangan berbagai sektor termasuk sektor keuangan. Kehadiran keuangan digital mempermudah masyarakat dalam melakukan pembayaran dan transaksi, karena semuanya dapat dilakukan hanya menggunakan gawai dan jaringan internet. Hal ini termasuk melakukan berbelanja, melakukan transfer, peminjaman uang, hingga melakukan investasi. Tentunya agar masyarakat dapat meningkatkan produktivitas dengan menggunakan keuangan digital perlu diimbangi dengan literasi keuangan. Literasi keuangan adalah kemampuan dan keterampilan dalam mengelola aspek keuangan, seperti investasi, tabungan, dan juga keamanan. Minimnya literasi keuangan yang baik akan berdampak pada keamanan dari transaksi keuangan digital. Hal pertama yang mungkin terjadi adalah risiko bocornya data pribadi, di mana masyarakat dapat memberikan data pribadi tanpa sengaja dalam proses bertransaksi yang akan meningkatkan risiko keamanan baik dalam dunia nyata dan digital. Kemudian, potensi penipuan digital dengan melakukan transaksi secara sembarangan melalui aplikasi atau penyedia jasa yang tidak terpercaya yang dapat berujung pada penipuan digital. Terakhir, akibat kurangnya pemahaman atas aturan, cara kerja, dan juga keuntungan dalam bertransaksi daring mampu menjadi penghambat diri dan pihak terkait. Oleh karenanya, literasi keuangan juga sangat perlu ditingkatkan untuk menyiapkan masyarakat agar tidak terjerumus ke permasalahan tersebut. Penggunaan Transaksi Digital Melakukan transaksi digital secara rutin Kurang paham bertransaksi digital Sumber: Otoritas Jasa Keuangan, 2019 A Abisono, et al Menurut Otoritas Jasa Keuangan . sekitar 76% atau 3 dari 4 orang Indonesia sudah melakukan transaksi digital secara rutin, namun 38% atau sekitar 6 dari 10 orang Indonesia masih kurang paham bertransaksi digital yang aman, baik dan benar. Hal ini juga selaras dengan kekhawatiran Bank Indonesia (BI) atas meningkatnya transaksi uang elektronik hingga bank digital selama pandemi COVID-19, yang sejalan dengan potensi tingginya masyarakat Indonesia khususnya remaja yang rawan terjerat investasi bodong (Burhan, 2. Rawannya Remaja Indonesia terjerat investasi bodong dikarenakan gaya hidup mereka yang tidak bisa melakukan evaluasi diri terhadap kemampuan mereka melunasi pinjaman. Gaya hidup juga memiliki peranan dalam pengelolaan literasi keuangan. Gaya hidup merupakan cara dari seorang individu di dalam pengalokasian waktu serta uang yang dimilikinya dengan melihat pola penggunaan, cara berpakaian, serta penggunaan waktu senggang. Selain gaya hidup, pembelajaran keuangan dalam perguruan tinggi mempunyai peranan dalam pengembangan literasi keuangan mahasiswa, sehingga membantu mahasiswa meningkatkan kemampuan dalam memahami serta bertindak dalam pengaturan pengelolaan keuangan yang mereka miliki (Syuliswati, 2. Sebagaimana disampaikan oleh Taufiq Arifin, anggota UNS Fintech Center dalam (Pratama, 2. , sulitnya mengendalikan kebiasaan yang bersifat konsumtif . isebabkan oleh faktor fear of missing out dan gaya hidup hedoni. , jeratan pinjaman daring, banyaknya permasalahan dalam menggunakan berbagai macam produk keuangan serta sulit untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan, menunjukkan rendahnya literasi finansial daripada financial inclusion mahasiswa di Kota Solo. Laporan statistik Fintech Lending periode November 2022 pada 3 Januari 2023 yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyebutkan bahwa Generasi Z dan Milenial mendominasi kredit macet pinjaman daring (Pratama, 2. Beberapa alasan di balik rendahnya literasi keuangan masyarakat usia muda, antara lain: . Minimnya pengetahuan generasi muda tentang dana cadangan, sebagai parameter kesadaran seseorang untuk mengantisipasi situasi darurat . Memiliki mental tidak mau ketinggalan dari teman sebaya . ear of missing ou. Memiliki prinsip hidup hanya sekali dan harus dinikmati selagi muda . ou only live onc. (Kurniawan, 2. Banyak generasi muda yang menganut prinsip YOLO atau You Only Live Once sehingga hal ini menjadi alasan memanfaatkan keuangan pribadi untuk self-reward atau membeli semua yang mereka sukai terutama ketika mulai memiliki penghasilan sendiri (Laucereno, 2. Kebiasaan self-reward ini membuat generasi muda kehilangan kendali untuk memilah sesuatu yang benar-benar dibutuhkan dan sesuatu yang dikonsumsi karena emosi sesaat. Padahal generasi muda sangat perlu memiliki literasi keuangan sehingga dapat merencanakan keuangan untuk berbagai keperluan mulai dari merencanakan pengeluaran bulanan, merencanakan tabungan, dan yang tidak kalah penting juga mulai merencanakan investasi yang berguna untuk memberikan penghasilan tambahan di masa depan. Selain memberikan penghasilan tambahan, dengan mulai melakukan investasi ini generasi muda juga dapat membantu mengatasi inflasi. Tidak kalah penting, dengan memulai investasi ini generasi muda juga memperkecil risiko terlilit hutang. Namun pada kenyataannya di lapangan, menurut Taufiq Arifin dalam Solopos. com mengatakan generasi muda terutama di Kota Solo, memiliki tingkat literasi keuangan terutama tentang investasi yang cukup rendah. Tingkat literasi yang dimiliki generasi muda tidaklah menyeluruh. Inggit Primadevi selaku Director Consumer Insight Nielsen IQ Indonesia dalam com . mengatakan 78% generasi muda Indonesia belum memahami risiko dan manfaat produk investasi. Generasi muda ini cenderung melakukan investasi karena mengikuti tren di masyarakat dan juga menganggap bahwa investasi ini adalah cara instan A Abisono, et al untuk mendapatkan keuntungan besar. Generasi muda ini lebih banyak mengakses informasi mengenai literasi keuangan seperti investasi melalui sosial media dan juga platform digital lain seperti situs maupun video-video yang tersebar secara daring. Namun permasalahan muncul karena kelompok ini tidak memahami secara rinci bekal pengetahuan dan strategi memilih investasi yang sesuai dengan profil diri masing-masing. Ketika berinvestasi dalam bentuk saham, mereka tidak mempelajari secara rinci profil saham yang dibeli dan tren pasar saham yang sedang terjadi sehingga hal ini dapat membuat investor muda ini mengalami kerugian karena literasi keuangan yang masih terbatas. Terlebih untuk Kota Solo sendiri, sepanjang tahun 2022 Bursa Efek Indonesia Solo mencatat pertumbuhan angka investor milenial sebanyak 65% dan jumlah ini memainkan porsi sebesar 2,6% dari angka investor total di Indonesia (Damianus Bram, 2. Dengan pertumbuhan angka investor milenial yang pesat pada saat ini, maka persiapan literasi keuangan untuk generasi muda Kota Solo menjadi agenda yang sangat diperlukan agar generasi muda dapat merencanakan investasi yang tepat. Sehubungan dengan situasi ini. Bank Indonesia sebagai bank sentral memiliki misi, yaitu untuk turut meningkatkan pendalaman pasar keuangan untuk memperkuat efektivitas kebijakan Bank Indonesia dan mendukung pembiayaan ekonomi nasional. Dengan misi ini. Bank Indonesia pun ingin mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki pemahaman akan literasi keuangan yang semakin baik di tengah animo generasi muda yang semakin meningkat untuk mulai berinvestasi namun belum memiliki literasi akan investasi keuangan yang memadai. Dengan misi ini. Bank Indonesia ingin lebih dinamis untuk dapat mendekatkan diri dengan generasi muda sehingga dapat memberikan literasi keuangan yang tepat sasaran. Namun untuk mendekati generasi muda dengan kegiatan literasi dinamis dan atraktif tentu memerlukan strategi komunikasi yang tepat dan hal inilah yang menjadi salah satu kendala yang dimiliki Bank Indonesia. Sebagai bank sentral yang memiliki cabang di beberapa daerah. Bank Indonesia memerlukan strategi komunikasi yang tepat dan sesuai dengan karakteristik generasi muda sehingga informasi yang disebarkan dapat lebih mudah Dari sisi inilah, grup riset kami membantu permasalahan strategi komunikasi terkait literasi keuangan kepada generasi muda sehingga informasi yang diberikan dapat disebarkan kepada target yang tepat dan dengan cara yang mudah diterima. Metode Kegiatan pengabdian yang berfokus pada literasi finansial ini akan dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu: Tahap 1 (Analisis Situasi Permasalahan Mitr. Pada tahap ini, tim pengabdi melakukan analisis situasi dan permasalahan mitra meliputi kondisi terkini, profil mitra, kegiatan manajemen mitra, serta menguraikan persoalanpersoalan yang dihadapi oleh mitra. Pada tahap ini pula, tim pengabdi secara intensif melakukan komunikasi dua arah dengan mitra untuk menentukan persoalan prioritas yang disepakati untuk diselesaikan selama pelaksanaan program Pengabdian Kepada Masyarakat Tahap 2 (Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyaraka. Setelah melalui tahap analisis situasi permasalahan mitra, maka tahapan selanjutnya yang dilakukan adalah tahap pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini telah dilaksanakan pada hari Selasa, 8 Agustus 2023 di Pantiarjo Room. Hotel Kusuma Sahid Prince. Surakarta. A Abisono, et al Tahap 3 (Evaluasi Kegiatan Pengabdian Kepada Masyaraka. Tahapan selanjutnya setelah terlaksananya kegiatan pengabdian kepada masyarakat, adalah tahapan evaluasi dimana tim akan melakukan evaluasi untuk melihat apakah tujuan dari kegiatan tersebut sudah tercapai. Proses evaluasi ini akan menjadi dasar untuk mengkaji sejauh mana metode penyuluhan telah diterapkan. Pembahasan Kegiatan pengabdian yang kami lakukan pada saat ini telah mencapai tahap perencanaan yaitu dengan melakukan diskusi lanjutan dengan pihak Bank Indonesia Perwakilan Solo selaku mitra untuk menentukan fokus dan tujuan kegiatan serta target audiens yang akan dibidik. Kemudian pengabdian kami juga telah memasuki tahap pemilihan strategi yang tepat untuk menyampaikan pesan kepada target audiens, sehingga tujuan akhir yang ingin diraih ini dapat Perencanaan Program Pada tahap pertama ini kami melakukan diskusi dengan pihak Bank Indonesia Perwakilan Solo terkait rumusan poin awal yang menjadi penentu untuk tahapan selanjutnya. Dalam pertemuan ini, terlebih dahulu kami menyamakan persepsi terkait fokus kegiatan pengabdian Dalam diskusi ini, hal pertama yang kami sepakati adalah adanya sebuah situasi mendesak yang membuat kegiatan ini menjadi penting dilakukan yaitu animo generasi muda yang semakin tinggi dalam mengakses investasi keuangan dan produk keuangan digital namun masih banyak kaum muda yang belum memiliki pengetahuan yang menyeluruh mengenai keamanan bertransaksi dengan produk keuangan digital dan juga investasi. Dengan adanya kegiatan pengabdian ini menjadi salah satu media untuk mengedukasi masyarakat mengenai cara bertransaksi yang aman dalam menggunakan produk keuangan digital dan juga investasi. Berangkat dari penyamaan persepsi awal ini, kemudian kami merumuskan fokus dan tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan pengabdian yang kami laksanakan. Bank Indonesia sebagai bank sentral memiliki misi yaitu untuk turut meningkatkan pendalaman pasar keuangan untuk memperkuat efektivitas kebijakan Bank Indonesia dan mendukung pembiayaan ekonomi nasional. Dengan misi ini. Bank Indonesia ingin mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki pemahaman literasi keuangan yang semakin baik di tengah animo generasi muda yang meningkat untuk mulai berinvestasi namun belum memiliki literasi akan investasi keuangan yang memadai. Sejalan dengan misi Bank Indonesia ini, kami sebagai riset grup yang memiliki fokus pada komunikasi publik pun melihat pentingnya memperkuat pengetahuan masyarakat sehingga tercipta pemahaman yang kuat dan ketelitian dalam bertransaksi digital dan berinvestasi. Kemudian dalam pengabdian ini tujuan yang ingin kami capai adalah peningkatan pengetahuan masyarakat, sehingga masyarakat semakin mawas diri dan berhati-hati dalam bertransaksi serta tidak mudah tergoda dengan model investasi yang belum jelas keamanannya. Tujuan lain yang ingin dicapai dari kegiatan lokakarya ini adalah masyarakat terutama generasi muda memiliki kesadaran untuk mulai merencanakan keuangan dengan bijaksana sehingga aktivitas transaksi keuangan dan investasi yang dilakukan benar-benar membawa manfaat untuk peningkatan finansial penggunanya. Setelah kami merumuskan fokus dan tujuan yang ingin dicapai, maka selanjutnya kami menentukan target audiens yang menjadi sasaran kegiatan. Kemudian dari hasil diskusi kami bersama tim Bank Indonesia Perwakilan Surakarta, target audiens dari kegiatan lokakarya yang kami lakukan ini adalah mahasiswa tingkat akhir, fresh graduate, dan dewasa muda dengan rentang usia 21-35 tahun. Pemilihan rentang usia target audiens ini karena kelompok usia ini yang sedang memiliki ketertarikan tinggi pada produk keuangan digital dan juga investasi. A Abisono, et al Banyak mahasiswa tingkat akhir yang lebih memilih menggunakan uang digital dalam bertransaksi, sehingga kelompok ini penting untuk diberikan literasi mengenai keamanan bertransaksi dengan uang digital. Sebagai tambahan pula, mahasiswa tingkat akhir akan sangat cepat terpengaruh oleh rekan-rekan di sekitarnya termasuk pula dengan tren uang digital dan investasi keuangan sehingga literasi untuk pemula seperti mereka sangat diperlukan. Untuk segmen fresh graduate dan dewasa muda, kelompok ini tidak hanya banyak memanfaatkan uang digital dalam bertransaksi tetapi juga mulai secara aktif melakukan investasi keuangan secara berkelompok, sehingga perlu mendapatkan literasi agar dapat dengan bijak menggunakan keuangan digital untuk bertransaksi dan berinvestasi. Pemilihan Strategi Dalam tahap pemilihan strategi ini beberapa hal yang wajib ditetapkan adalah positioning statement campaign, perencanaan format lokakarya, dan pemilihan pembicara untuk menyampaikan pesan. Hal pertama yang ditetapkan dalam pemilihan strategi ini adalah positioning statement, yaitu satu pesan utama yang kita usung kepada target audiens. Positioning statement yang kami angkat dalam kegiatan ini sekaligus menjadi judul dari kegiatan ini adalah Muda. Cerdas, dan Aman dalam Bertransaksi dan Berinvestasi. Dari judul acara ini, secara singkat kami ingin menyampaikan pesan bahwa menjadi generasi muda pada saat ini tidak hanya cerdas menanggapi tren yang sedang terjadi tetapi juga dapat memilah mana yang aman untuk dilakukan terutama ketika hal tersebut berkaitan dengan transaksi keuangan dan Dalam kegiatan pengabdian ini kami menyepakati bahwa kegiatan akan berbentuk lokakarya yang akan memberikan edukasi kepada generasi muda terkait dengan transaksi keuangan digital dan investasi keuangan. Berkaitan dengan materi lokakarya tentang edukasi transaksi keuangan digital ini, materi akan disampaikan oleh perwakilan Bank Indonesia Surakarta. Kemudian terkait materi dengan investasi keuangan, hal ini akan disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Cabang Surakarta. Dengan adanya dua materi yang diberikan oleh narasumber yang memiliki otoritas mengatur peraturan mengenai transaksi keuangan dan investasi, maka harapan kami edukasi yang diberikan dapat memberikan pengetahuan yang luas kepada target audiens, sehingga audiens dapat semakin bijak dalam bertransaksi dan berinvestasi serta tidak mudah tergiur dengan program promosi yang berpotensi merugikan konsumen. Berkaitan dengan persiapan kegiatan lokakarya ini, kami menghubungi pihak Otoritas Jasa Keuangan untuk menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut. Dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memberikan konfirmasi kesediaan untuk menjadi narasumber. Dengan demikian tahapan untuk pemilihan strategi dan pemilihan narasumber telah terlaksana dengan baik. Pelaksanaan Program Lokakarya "Literasi Finansial: Muda. Cerdas, dan Aman Bertransaksi dan Berinvestasi" diselenggarakan pada 8 Agustus 2023. Untuk memastikan kegiatan ini menjangkau audiens yang tepat, kami bekerja sama dengan kelompok mahasiswa serta ikatan alumni sebagai strategi utama. Kolaborasi ini bertujuan untuk menarik peserta sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan, yaitu mahasiswa tingkat akhir, fresh graduate, dan kelompok early adult. Berkat pendekatan ini, lokakarya berhasil dihadiri oleh mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate dari Universitas Sebelas Maret (UNS) serta beberapa perguruan tinggi di wilayah Solo Raya. Lokakarya ini diselenggarakan di Pantiarjo Room. Hotel Kusuma Sahid Prince, karena lokasinya yang strategis di pusat kota. Pemilihan tempat ini bertujuan untuk mempermudah akses bagi peserta dan narasumber, sehingga mereka dapat menghadiri kegiatan tanpa A Abisono, et al kendala transportasi. Dalam acara ini, kami menghadirkan dua narasumber yang kompeten untuk memberikan wawasan komprehensif mengenai keamanan finansial di era digital. Narasumber pertama adalah Aries Purnomohadi. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Solo, yang membawakan materi tentang keamanan dalam bertransaksi digital. Selain itu, beliau bersama tim dari Bank Indonesia turut memberikan edukasi tambahan mengenai cara mengenali keaslian uang kertas, yang menjadi bagian penting dari literasi keamanan finansial. Sementara narasumber kedua adalah Heri Santosa. Kepala Bagian IKNB. Pasar Modal, dan EPK dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang membahas keamanan dalam berinvestasi, khususnya yang berkaitan dengan fintech dan fintech lending. Gambar 1. Sambutan dari Ketua Grup Riset (Sumber: Dokumentasi Pengabdia. Lokakarya literasi finansial ini diawali dengan sambutan dari Ketua Grup Riset Komunikasi Publik. Sosial, dan Budaya. Dalam sambutannya, beliau menyoroti maraknya informasi mengenai investasi dan transaksi digital yang beredar di masyarakat. Oleh karena itu, literasi keuangan menjadi hal yang krusial bagi generasi muda, khususnya mahasiswa dan kelompok early adult, agar mereka dapat memahami prinsip investasi yang aman dan bertanggung jawab. Sebagai penutup. Ketua Grup Riset menyampaikan harapannya agar kerja sama dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat terus berlanjut melalui berbagai program edukasi lainnya di masa mendatang. A Abisono, et al Gambar 2. Penyampaian Materi dari Perwakilan Bank Indonesia Solo (Sumber: Dokumentasi Pengabdia. Setelah sesi sambutan, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Aries Purnomohadi selaku Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Solo, sebagai narasumber pertama. Beliau membuka sesi dengan melemparkan pertanyaan kepada audiens mengenai QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar. , untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka terhadap sistem pembayaran digital tersebut. Pertanyaan ini disambut dengan antusias oleh peserta yang aktif memberikan tanggapan. Dalam pemaparannya. Bapak Aries menjelaskan bahwa seiring dengan pesatnya perkembangan digitalisasi di Indonesia. QRIS telah menjadi salah satu alat pembayaran digital yang paling diandalkan. Sebagai bank sentral. Bank Indonesia memiliki peran penting dalam memastikan keamanan penggunaan QRIS sebagai sarana transaksi yang terpercaya bagi masyarakat. Lebih lanjut. Bapak Aries menguraikan berbagai manfaat QRIS bagi masyarakat. Bagi UMKM dan pelaku usaha. QRIS tidak hanya mempermudah pencatatan transaksi secara otomatis ke rekening mereka, tetapi juga membantu dalam membangun credit profile, yang berpotensi memudahkan akses ke layanan keuangan di masa depan. Sementara itu, bagi pengguna umum. QRIS memungkinkan pencatatan pengeluaran yang lebih sistematis, sehingga membantu dalam mengelola keuangan pribadi. Selain itu. QRIS juga menawarkan keunggulan ekonomis, karena tidak memerlukan biaya tambahan dalam penggunaannya. Dengan integrasi QRIS di berbagai aplikasi mobile banking di seluruh bank di Indonesia, masyarakat dapat dengan mudah melakukan transaksi digital yang praktis, efisien, dan aman. A Abisono, et al Gambar 3. Materi Pengenalan Keaslian Uang (Sumber: Dokumentasi Pengabdia. Selain membahas manfaat QRIS, narasumber juga memberikan pemaparan mengenai langkah-langkah menjaga keamanan dalam bertransaksi menggunakan QRIS. Beberapa langkah yang disarankan antara lain memastikan bahwa nama yang tertera di aplikasi QRIS sesuai dengan nama tempat bertransaksi, mengingat semakin maraknya kasus penyalahgunaan QRIS untuk kepentingan lain. Bagi pelaku usaha dan UMKM, disarankan untuk melakukan pengecekan transaksi secara berkala guna memastikan keaslian QRIS yang Jika terjadi kendala dalam transaksi, pengguna dianjurkan untuk segera melaporkannya kepada penyedia jasa pembayaran agar sistem QRIS dapat diperiksa dan ditindaklanjuti dengan cepat. Sesi ini kemudian ditutup dengan tambahan materi mengenai cara mengenali keaslian uang kertas sebagai alat pembayaran resmi, yang menjadi bagian penting dalam literasi keamanan finansial. Setelah sesi pertama, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari narasumber kedua. Heri Santosa, perwakilan dari OJK Solo. Dalam presentasinya, beliau membahas karakteristik fintech, potensi risikonya, serta tips untuk bertransaksi dengan aman menggunakan layanan Materi diawali dengan penjelasan mengenai karakteristik utama fintech, yaitu proses transaksi yang cepat, persyaratan yang lebih mudah dibandingkan lembaga keuangan konvensional, serta fleksibilitas tanpa batasan waktu dan lokasi. Kemudahan akses ini menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan pesat fintech di Indonesia. Namun, selain keunggulan tersebut, fintech juga memiliki beberapa risiko yang perlu diperhatikan, seperti potensi tingginya tingkat kredit macet, suku bunga yang relatif tinggi, serta tidak adanya jaminan perlindungan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terhadap dana yang A Abisono, et al Gambar 4. Materi dari Perwakilan OJK Solo (Sumber: Dokumentasi Pengabdia. Setelah membahas karakteristik fintech. Bapak Heri melanjutkan pemaparannya dengan menjelaskan beberapa permasalahan yang sering meresahkan masyarakat. Terdapat tiga isu utama yang menjadi perhatian. Pertama, fintech legal tidak diizinkan mengirimkan penawaran melalui kanal pribadi, sehingga masyarakat perlu berhati-hati terhadap pesan penawaran pinjaman daring yang dikirim dari nomor ponsel pribadi. Kedua, masyarakat harus mewaspadai praktik pengiriman dana pinjaman tanpa pengajuan resmi. Sesuai dengan regulasi OJK, dana pinjaman hanya dapat diberikan kepada individu yang telah mengajukan permohonan secara resmi. Oleh karena itu, jika seseorang menerima dana tanpa pengajuan, hal tersebut patut dicurigai. Ketiga, maraknya fintech ilegal yang meniru nama fintech berizin untuk menipu masyarakat. Guna menghindari hal ini, masyarakat disarankan melakukan pengecekan berkala terhadap daftar fintech resmi yang diterbitkan oleh OJK. Sebagai penutup. Bapak Heri memberikan beberapa tips untuk berinvestasi dan bertransaksi dengan fintech secara aman. Dalam menghadapi fintech ilegal, langkah utama yang disarankan adalah melakukan pengecekan rutin terhadap daftar fintech berizin di situs resmi OJK. Jika menerima pesan atau panggilan dari penagih yang tidak resmi, masyarakat dianjurkan untuk memblokir dan mengabaikan kontak tersebut. Apabila terdapat ancaman dari pihak penagih, segera laporkan kepada pihak berwenang, karena fintech legal tidak diperbolehkan melakukan tindakan intimidatif terhadap peminjam. Terkait investasi. Bapak Heri menekankan pentingnya memahami produk investasi yang sesuai dengan tingkat literasi finansial individu. Selain itu, setiap investor perlu mengenali profil risiko dari instrumen investasi yang dipilih agar dapat mengantisipasi potensi kerugian. Langkah terakhir yang direkomendasikan adalah melakukan pengecekan berkala terhadap legalitas investasi yang digunakan untuk memastikan keamanannya. A Abisono, et al Gambar 5. Sesi Tanya Jawab dengan Peserta (Sumber: Dokumentasi Pengabdia. Sesi pemaparan materi dari kedua narasumber diakhiri dengan sesi tanya jawab yang Beberapa peserta mengajukan pertanyaan terkait kebocoran data dan langkahlangkah mitigasi yang dilakukan OJK, pemalsuan data oleh peminjam dalam sistem fintech, serta perkembangan dan rencana ke depan terkait implementasi QRIS. Kedua narasumber memberikan jawaban yang komprehensif untuk menjelaskan setiap isu yang diajukan. Acara literasi finansial ini kemudian ditutup dengan pemberian kenang-kenangan berupa sertifikat kepada masing-masing narasumber sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam memberikan edukasi kepada peserta. Kesimpulan Kegiatan lokakarya literasi finansial ini telah memberikan wawasan mendalam kepada peserta mengenai transaksi digital dan investasi yang aman. Beberapa poin utama yang dapat disimpulkan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut: Keamanan dalam Penggunaan QRIS QRIS telah menjadi salah satu alat transaksi digital yang paling banyak digunakan oleh masyarakat karena kemudahannya bagi pelaku usaha maupun pengguna umum. Namun, maraknya kasus penyalahgunaan QRIS menuntut kewaspadaan lebih dalam Melalui literasi ini. Bank Indonesia menekankan pentingnya pengecekan identitas QRIS secara berkala dan memastikan kesesuaian identitas QRIS dengan tempat tujuan transaksi. Selain itu, audiens juga tertarik dengan perkembangan dan rencana jangka panjang implementasi QRIS di Indonesia. Fintech: Kelebihan. Risiko, dan Pencegahan Penyalahgunaan Fintech sebagai platform layanan keuangan digital memiliki manfaat besar, seperti kemudahan akses dan proses yang cepat. Namun, fintech juga memiliki risiko, terutama terkait penyalahgunaan data dan keberadaan fintech ilegal. OJK Solo menjelaskan strategi verifikasi fintech yang resmi, langkah-langkah pencegahan terhadap fintech ilegal, serta pentingnya memilih model investasi yang sesuai dengan tingkat literasi finansial Selain itu. OJK menekankan pentingnya memahami profil risiko sebelum melakukan investasi guna menghindari potensi kerugian. Dampak Kegiatan terhadap Pemahaman Audiens Evaluasi terhadap kegiatan menunjukkan bahwa peserta memperoleh pemahaman A Abisono, et al yang lebih baik mengenai transaksi digital dan investasi yang aman. Mereka kini lebih mampu mengidentifikasi keamanan QRIS serta mengenali tanda-tanda penyalahgunaan dalam sistem ini. Selain itu, peserta juga menyadari bahwa memahami risiko investasi sebelum memulai adalah langkah awal yang krusial. Hasil akhir dari kegiatan ini menunjukkan bahwa setelah mendapatkan literasi finansial, peserta merasa lebih percaya diri dan tidak lagi ragu untuk memulai investasi dalam skala kecil. Secara keseluruhan, kegiatan ini tidak hanya memberikan edukasi finansial, tetapi juga menjawab tantangan dalam strategi komunikasi literasi keuangan bagi generasi muda. Dengan pendekatan yang interaktif dan berbasis kebutuhan audiens, informasi yang disampaikan menjadi lebih mudah dipahami dan diterapkan. Harapannya, peserta dapat menyebarkan pengetahuan ini kepada lingkungan sekitar mereka, sehingga literasi keuangan dapat berkembang lebih luas dan berdampak positif bagi masyarakat. Daftar Pustaka