Volume 6 No. Tahun 2026 Halaman 41 - 52 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Konstruksi Identitas Maskulinitas di Kalangan Perokok Pelajar di MTs MaAoarif NU Kedungkendo Maulidia Tachasunah Arifah . Ali Imron . Nasution . Katon Galih Setyawan. 1,2,3,. S1 Pendidikan IPS. Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana konstruksi identitas maskulinitas terbentuk melalui kebiasaan merokok di kalangan siswa laki-laki MTs MaAoarif NU Kedungkendo dan factor factor apa sjaa yang memegaruhi terbentuknya identitas maskulinitas. Fenomena merokok pada remaja, terutama pelajar sekolah menengah pertama, tidak dapat dipahami hanya sebagai perilaku menyimpang atau masalah kesehatan semata, melainkan sebagai hasil konstruksi sosial yang kompleks. Budaya patriarkal, maskulinitas sering dimaknai sebagai keberanian, kemandirian, dan kedewasaan, yang kemudian direpresentasikan dalam bentuk perilaku merokok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan merujuk pada teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann melalui proses internalisasi, objektivasi, dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa merokok digunakan oleh pelajar laki-laki sebagai simbol untuk menunjukkan identitas sebagai Aulaki-laki sejatiAy. Pengaruh lingkungan, terutama dari keluarga yang permisif atau memberi teladan buruk, teman sebaya yang menjadi referensi utama dalam pergaulan, serta lemahnya kontrol dari pihak sekolah, menjadi faktor dominan dalam membentuk perilaku merokok tersebut. Di sisi lain, media sosial seperti TikTok dan YouTube turut memperkuat citra bahwa laki-laki yang merokok terlihat lebih keren, dewasa, dan maskulin. Hal ini mengindikasikan bahwa konstruksi identitas maskulin pada pelajar tidak muncul secara alamiah, tetapi dibentuk dan dipelihara melalui interaksi sosial dan budaya yang ada di sekitar mereka. Penelitian ini merekomendasikan adanya pendekatan edukatif dan reflektif di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk mendekonstruksi simbol-simbol maskulinitas yang merugikan serta membangun pemahaman baru tentang maskulinitas yang sehat dan konstruktif. Kata Kunci: Karakter Maskulinitas. Merokok. Identitas. Pelajar. Konstruksi Sosial Abstract This study aims to reveal how the construction of masculine identity is formed through the smoking habits of male students at MTs MaAoarif NU Kedungkendo and to identify the factors that influence the formation of such identities. The phenomenon of smoking among adolescents particularly among junior high school studentsc annot be understood merely as deviant behavior or a health issue, but rather as the result of a complex social construction. In a patriarchal culture, masculinity is often associated with bravery, independence, and maturity, which are then represented through smoking behavior. This research uses a qualitative approach with data collected through in-depth interviews, observations, and documentation. The data were analyzed using Berger and LuckmannAos theory of social construction, focusing on the processes of internalization, objectivation, and externalization. The findings reveal that smoking is used by male students as a symbol to express their identity as Aureal men. Ay Environmental influences especially from permissive families or those that provide negative examples, peer groups that serve as primary social references, and weak school regulation emerge as dominant factors shaping smoking behavior. Additionally, social media platforms such as TikTok and YouTube further reinforce the image that male smokers appear Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 41-52 cooler, more mature, and masculine. This indicates that the construction of masculine identity among students does not occur naturally, but is shaped and sustained through the social and cultural interactions surrounding them. This study recommends the implementation of educational and reflective approaches within schools, families, and communities to deconstruct harmful symbols of masculinity and to build a new, healthier, and more constructive understanding of what it means to be masculine. Keywords: Masculinity. Smoking. Identity. Students. Social Construction Volume 6 No. Tahun 2026 Halaman 41 - 52 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index PENDAHULUAN Merokok merupakan kebiasaan berbahaya yang berdampak serius pada kesehatan, baik bagi perokok aktif maupun pasif. Kandungan zat beracun seperti nikotin dan karbon monoksida dapat menyebabkan berbagai penyakit kronis seperti kanker paru-paru, jantung, stroke, dan gangguan pernapasan. Nikotin yang bersifat adiktif membuat perokok sulit berhenti, meskipun sadar akan bahayanya. Selain merusak kesehatan, merokok juga menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan beban biaya pengobatan. WHO mencatat bahwa merokok berpotensi menyebabkan lebih dari satu miliar kematian pada abad ini (Hamdi et al. , 2. Di Indonesia, jumlah perokok sangat tinggi dan menempati posisi ketiga terbanyak di dunia setelah China dan India (Organization. Meskipun bahaya merokok telah banyak diungkapkan dalam berbagai studi, konsumsi tembakau masih tinggi di masyarakat. Nikotin yang memberikan sensasi relaksasi justru memperkuat kecanduan dan memperbesar risiko penyakit. Asap rokok juga membahayakan perokok pasif. Melihat dampaknya yang luas, meningkatnya jumlah perokok menjadi tantangan besar dalam upaya menciptakan lingkungan hidup yang lebih sehat. Perilaku merokok umumnya dimulai sejak usia remaja, khususnya antara 11 hingga 13 tahun, dan sekitar 8595% perokok telah mencoba rokok sebelum usia 18 tahun (Salsabilah Ramadhani et al. , 2. Data ini menunjukkan bahwa masa remaja merupakan periode paling rentan terhadap awal mula kebiasaan merokok. Paparan tembakau sejak dini berdampak serius bagi kesehatan, seperti meningkatnya risiko gangguan pernapasan, kanker, dan penyakit kronis lainnya (Mirnawati et al. , 2. Remaja menjadi target utama pemasaran industri rokok karena dianggap sebagai pasar yang besar dan mudah dipengaruhi oleh tren serta tekanan dari lingkungan sosial. Hurlock menyebutkan bahwa dorongan untuk diakui dalam kelompok sebaya juga berperan penting dalam keputusan merokok pada remaja. Selain itu, karakteristik remaja seperti rasa ingin tahu yang besar dan kecenderungan mengikuti kelompok membuat mereka semakin rentan (Imron. Menurut pandangan Kurt Lewin, perilaku seperti merokok muncul dari interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya (Komasari & Helmi, 2. Masyarakat, merokok sering diasosiasikan dengan simbol maskulinitas dan kepercayaan diri, yang membuat banyak remaja lakilaki memaknainya sebagai tanda kedewasaan dan keberanian. Identitas gender, khususnya maskulinitas, dibentuk melalui konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh budaya, norma, dan lingkungan sosial. Di sekolah, merokok menjadi salah satu bentuk ekspresi maskulinitas bagi siswa laki-laki. Anggapan bahwa laki-laki yang merokok lebih jantan atau dewasa mencerminkan bagaimana konstruksi sosial turut memperkuat perilaku merokok di kalangan remaja laki-laki. Keluarga juga memainkan peran penting dalam konstruksi identitas maskulin ini. Di lingkungan keluarga di mana merokok dianggap sebagai hal yang wajar atau diwariskan, anak laki-laki cenderung meniru perilaku anggota keluarga pria dewasa dan melihat rokok sebagai simbol Di sekolah, tekanan teman sebaya memperkuat kebiasaan merokok. Remaja laki-laki sering merasa perlu merokok untuk dianggap "gaul" dan diterima dalam kelompok, bahkan jika mereka sadar akan dampak buruk. Merokok juga kerap menjadi simbol solidaritas antar teman sebaya (Putri et al. , 2. Media turut memperkuat citra bahwa laki-laki yang merokok adalah sosok yang kuat dan mandiri. Representasi semacam ini menciptakan persepsi keliru bahwa kejantanan identik dengan rokok, yang kemudian mendorong pelajar laki-laki mengadopsi kebiasaan tersebut sebagai bagian dari identitas maskulinnya. Madrasah Tsanawiyah (MT. sebagai lembaga pendidikan berbasis nilai-nilai agama memiliki aturan ketat terhadap perilaku merokok. Meskipun Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 41-52 demikian, fenomena merokok di kalangan siswa tetap terjadi dan tidak bisa dipahami hanya sebagai pelanggaran disiplin, melainkan juga berkaitan dengan pembentukan identitas maskulinitas. Perspektif Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), perilaku merokok dipahami sebagai hasil dari konstruksi sosial yang dibentuk melalui interaksi dengan lingkungan sosial, termasuk nilai, norma, dan peran Merokok sering diasosiasikan sebagai simbol kejantanan dan kedewasaan, yang diperkuat oleh pengaruh teman sebaya, keluarga, dan media (Kurniawan, 2. Tekanan sosial ini menjadikan rokok sebagai identitas maskulin yang berpengaruh kuat dalam kehidupan remaja lakilaki, termasuk siswa MTs MaAoarif NU Kedungkendo. Tidak jarang siswa merokok karena meniru anggota keluarga atau bahkan tokoh otoritas religius di lingkungan mereka, yang memperkuat normalisasi perilaku tersebut. Hasil pra-observasi yang dilakukan oleh guru setempat. Pak Budi, menunjukkan bahwa jumlah siswa yang merokok sempat meningkat dari 15 siswa pada 2020 . %) menjadi 18 siswa pada 2022 . %), kemudian menurun pada 2024 menjadi 16 siswa . ,33%), tetapi kembali meningkat menjadi 18 siswa . %) pada 2025. Meskipun ada upaya preventif dan edukatif, pengaruh eksternal seperti teman sebaya dan lemahnya pengawasan tetap menjadi tantangan. Merokok dipahami tidak hanya sebagai kebiasaan, tetapi sebagai bagian dari konstruksi identitas laki-laki. Penelitian terhadap fenomena ini penting untuk mengurai bagaimana maskulinitas terbentuk dalam lingkungan pendidikan agama dan bagaimana pengaruh sosial dapat mengarahkan siswa pada perilaku merokok. Harapannya, pemahaman ini dapat membuka ruang perubahan sosial di mana maskulinitas tidak lagi dikaitkan dengan perilaku merokok, melainkan dibangun melalui nilai-nilai positif dan konstruktif. METODE PENELITIAN Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini berfokus pada pemahaman mendalam mengenai penegalaman subjektif indivisu dalam menjalan dan memberi makna pada suatu fenomena. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan Sumber data primer adalah siswa laki-laki yang merokok di MTs MaAoarif NU Kedungkendo, guru, dan Masyarakat sekitar dengan teknik snowball. Lokasi penelitian di MTs MaAoarif NU Kedungkendo waktu penelitian berlangsung dari 20 Mei hingga 21 Juni 2025. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan mengacu pada model Miles dan Huberman yang mencakup tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, yang dilakukan secara simultan selama proses penelitian. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber untuk memastikan keabsahan hasil HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil Wawancara Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap sejumlah siswa laki-laki kelas Vi dan IX, guru, serta pedagang yang berada di sekitar lingkungan MTs MaAoarif NU Kedungkendo. ditemukan bahwa kebiasaan merokok banyak dimulai sejak duduk di kelas Vi. Beberapa siswa mengenal rokok dari lingkungan rumah, tetapi sebagian besar mulai merokok karena pengaruh teman sebaya. Siswa menyampaikan bahwa merokok bukan hanya kebiasaan, tetapi telah menjadi bagian dari pergaulan. Bagi mereka, merokok memberikan kesan bahwa seseorang berani, dewasa, dan mampu menunjukkan jati diri sebagai laki-laki. Pergaulan siswa yang merokok dianggap lebih AugaulAy dan memiliki status sosial yang lebih tinggi. Sebaliknya, siswa yang tidak merokok kadang dianggap belum dewasa atau tidak cukup maskulin oleh kelompoknya. Merokok dilakukan secara Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 41-52 berkelompok, biasanya di tempat-tempat tersembunyi seperti belakang sekolah, warung sekitar, atau lapangan kosong yang jauh dari pengawasan guru. Siswa juga mengaku bahwa mereka sadar merokok melanggar aturan sekolah, tetapi tekanan sosial dari teman sebaya sangat kuat. Beberapa siswa merasa terpaksa ikut merokok agar tidak dikucilkan, dan sebagian lainnya menjadikan rokok sebagai simbol kebebasan dari pengawasan orang dewasa. Dalam konteks ini, merokok menjadi sarana untuk mendapatkan pengakuan, solidaritas kelompok, dan kepercayaan diri. Beberapa siswa bahkan merasa lebih dihormati dan berani berbicara atau bertindak ketika mereka telah AudiakuiAy sebagai perokok dalam lingkungannya. Guru BK menyampaikan bahwa pihak sekolah sudah sering memberikan penyuluhan, pembinaan, serta menerapkan sistem poin sebagai bentuk sanksi bagi siswa yang merokok. Namun, langkah-langkah tersebut belum cukup efektif untuk mencegah atau menghentikan kebiasaan ini. Guru melihat bahwa siswa yang merokok memiliki motivasi yang lebih kompleks daripada sekadar ingin mencoba. Mereka ingin menunjukkan identitas sebagai laki-laki sejati dan merasa lebih percaya diri ketika merokok. Selain itu, pengaruh keluarga juga menjadi faktor penting. Guru mengamati bahwa banyak siswa yang berasal dari keluarga di mana ayah atau anggota laki-laki lainnya adalah perokok, sehingga siswa menganggap merokok sebagai hal yang wajar dan dapat diterima. Pedagang sekitar sekolah turut memberikan informasi bahwa siswa sering datang untuk membeli makanan dan nongkrong di area warung, sambil merokok secara sembunyi-sembunyi. Meskipun ada larangan menjual rokok kepada anak di bawah umur, kenyataannya masih banyak siswa yang bisa mendapatkan rokok dari toko-toko kecil atau membawanya dari rumah. Pedagang mengaku sering melihat siswa duduk berkelompok, tertawa, dan merokok bersama sebagai bentuk kebersamaan Mereka jarang terlihat sendiri, karena merokok lebih sering dilakukan secara kolektif, bukan Hasil wawancara ini menunjukkan bahwa kebiasaan merokok di kalangan siswa laki-laki bukan hanya persoalan konsumsi zat, tetapi juga bagian dari proses sosial dalam membentuk identitas dan menunjukkan eksistensi diri. Merokok dipersepsikan sebagai jalan pintas untuk mendapatkan pengakuan dan status sosial di lingkungan sekolah maupun keluarga. Persepsi bahwa merokok adalah simbol maskulinitas memperkuat motivasi siswa untuk melakukannya meski sadar akan risikonya. Oleh karena itu, pendekatan dalam menangani masalah ini tidak hanya bisa dilakukan dengan sanksi atau larangan, tetapi perlu menyasar akar budaya dan sosial yang melingkupi perilaku merokok Pendidikan nilai, penguatan identitas positif, serta peran aktif guru, keluarga, dan lingkungan menjadi kunci dalam mengubah konstruksi maskulinitas yang keliru ini. Hasil Observasi Berdasarkan observasi di MTs MaAoarif NU Kedungkendo mengungkapkan bahwa meskipun madrasah secara resmi melarang merokok, fenomena merokok masih terjadi di kalangan siswa, terutama siswa kelas Vi dan IX. Aktivitas ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi, namun cukup masif dalam frekuensinya. Lokasi yang kerap menjadi tempat merokok antara lain di area parkir belakang, dekat kamar mandi, dan di sekitar warung yang tidak jauh dari pagar sekolah. Siswa perokok umumnya tidak merokok sendirian. Mereka merokok secara berkelompok dan dalam suasana santai, seperti sedang nongkrong, bercanda, dan sesekali menunjukkan aksi seperti meniup asap dengan gaya, atau menyodorkan rokok kepada temannya sambil bercanda. Pada pengamatan langsung, terlihat bahwa rokok bukan sekadar konsumsi nikotin, tetapi menjadi semacam simbol sosial yang memperkuat relasi antarsiswa dan citra diri mereka di hadapan Mereka yang merokok cenderung dianggap lebih berani, dewasa, dan AogaulAo oleh teman-teman sebayanya, bahkan beberapa siswa menjadikan kebiasaan ini sebagai bukti bahwa mereka sudah pantas disebut Aulaki-laki sejatiAy. Interaksi sosial antar siswa, perokok terlihat lebih dominan dalam percakapan, lebih percaya diri, dan seringkali menjadi pusat perhatian dalam kelompoknya. Beberapa siswa yang tidak Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 41-52 merokok justru terlihat agak terpinggirkan dari interaksi kelompok yang berisi perokok. Hal ini menunjukkan bahwa rokok bukan sekadar produk konsumsi, tetapi juga alat simbolik yang digunakan untuk membentuk status sosial dan identitas maskulin dalam konteks sekolah. Pihak sekolah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya preventif, seperti pembinaan, teguran, serta penerapan sanksi berupa pengurangan poin pelanggaran. Salah satu guru. Pak Budi, mencatat bahwa siswa yang kedapatan merokok akan dikenai sanksi berupa pengurangan 50 poin dari total 100 poin pembinaan karakter. Namun, efektivitas sanksi ini masih belum optimal. Siswa cenderung tidak takut dengan sanksi tersebut dan bahkan menganggapnya sebagai konsekuensi biasa yang tidak terlalu berat. Lingkungan sekitar sekolah juga berpengaruh besar terhadap perilaku ini. Masih ditemukan pedagang yang secara diam-diam menjual rokok kepada siswa, meskipun sudah ada larangan dari sekolah. Selain itu, keberadaan figur dewasa seperti ayah, kakak, atau bahkan guru yang merokok, ikut memperkuat anggapan bahwa merokok adalah hal yang lumrah bagi laki-laki dewasa. Secara keseluruhan, hasil observasi menunjukkan bahwa kebiasaan merokok di kalangan siswa MTs MaAoarif NU Kedungkendo merupakan fenomena yang kompleks. Perilaku ini tidak hanya terjadi karena keinginan pribadi, tetapi merupakan hasil dari interaksi sosial, tekanan kelompok sebaya, serta pengaruh simbolik maskulinitas yang melekat pada rokok. Rokok menjadi bagian dari proses pencarian identitas dan konfirmasi status gender sebagai Aulaki-laki sejatiAy dalam ruang sosial sekolah. Fenomena ini mengindikasikan perlunya pendekatan yang lebih komprehensif dan kritis dalam menangani kebiasaan merokok di kalangan pelajar, terutama dari perspektif sosial dan kultural. Pembahasan Konstruksi Identitas Maskulinitas di Kalangan Perokok Pelajar di MTs MaAoarif NU Kedungkendo Merokok sebagai tanda maskulinitas Di kalangan pelajar laki-laki MTs MaAoarif NU Kedungkendo, merokok tidak hanya dipandang sebagai kebiasaan, tetapi juga simbol penting dalam menegaskan identitas Rokok dianggap sebagai tanda keberanian, kedewasaan, dan status sebagai Aulakilaki sejatiAy. Persepsi ini dibentuk melalui interaksi sosial yang berulang dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan kelompok sebaya. Fitri menegaskan bahwa keluarga dan teman sebaya memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebiasaan merokok remaja, karena perilaku ini sering dianggap wajar dan diteladani dari figur-figur maskulin seperti ayah, pemuda sekitar, atau tokoh media. Teori R. Connell menjelaskan bahwa maskulinitas hegemonik mendorong laki-laki untuk menunjukkan dominasi, ketangguhan, dan keberanian (Connell. Merokok menjadi salah satu simbol visual dari identitas tersebut. Siswa yang merokok dianggap lebih dewasa dan berani menentang aturan, sementara yang tidak merokok sering kali dipandang kurang jantan atau bahkan mendapat stigma negatif. Peter L. Berger dan Thomas Luckmann memandang bahwa realitas sosial terbentuk melalui proses eksternalisasi . enampilkan perilak. , objektivasi . iterima secara sosia. , dan internalisasi . enjadi bagian dari dir. (Luckman, 2. Rokok, dalam hal ini, menjadi realitas sosial yang dianggap AualamiAy, padahal dibentuk oleh masyarakat. Kodriati menunjukkan bahwa dalam budaya Asia, merokok erat kaitannya dengan definisi maskulinitas, sehingga menolak rokok dapat dianggap sebagai pelanggaran identitas gender (Kodriati et al. , 2. Tekanan teman sebaya juga berperan besar. Remaja sering merokok untuk mendapatkan penerimaan sosial. Merokok menjadi bentuk validasi diri dan cara agar diakui sebagai bagian dari kelompok laki-laki. Oleh karena itu, perilaku ini bukan semata pelanggaran aturan sekolah, melainkan bagian dari mekanisme sosial dalam membentuk identitas gender yang dominan. Merokok sebagai Simbol Keberanian Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 41-52 Di kalangan pelajar laki-laki MTs MaAoarif NU Kedungkendo, merokok tidak hanya dipahami sebagai kebiasaan atau pelanggaran, tetapi berkembang menjadi simbol keberanian yang memiliki makna sosial tersendiri. Keberanian di sini tidak hanya berarti kekuatan fisik, melainkan juga keberanian sosial berani melawan larangan, menantang otoritas, dan menunjukkan eksistensi diri dalam kelompok. Merokok menjadi ekspresi yang sah dan diterima untuk menunjukkan kualitas tersebut, di mana pengakuan dari teman sebaya sering kali lebih kuat dibanding pencapaian akademik. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, yang menjelaskan bahwa makna sosial terbentuk melalui tiga tahapan: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi (Luckman, 2. Pada tahap eksternalisasi, siswa menampilkan keberanian lewat tindakan nyata seperti merokok. Di tahap objektivasi, tindakan itu diterima dan dilembagakan sebagai norma sosial, bahkan dilihat sebagai bagian dari proses kedewasaan laki-laki. Fitri mencatat bahwa lingkungan permisif sangat memperkuat proses normalisasi ini (Fitri et al. , 2. Rokok pun bergeser dari zat adiktif menjadi simbol keberanian dan kematangan sosial. Tahap internalisasi terjadi ketika siswa mulai meyakini bahwa merokok adalah bagian dari jati dirinya sebagai laki-laki berani. Safitri menunjukkan bahwa remaja yang telah menginternalisasi makna ini cenderung merasa bahwa merokok adalah bentuk autentik dari keberanian mereka (Safitri et al. , 2. Nilai keberanian tidak lagi bersifat reflektif, tetapi ditentukan oleh pengulangan praktik sosial yang dilegitimasi secara kolektif. Dengan demikian, merokok sebagai simbol keberanian merupakan hasil konstruksi sosial yang dilembagakan dalam budaya remaja laki-laki. Untuk mengubahnya, dibutuhkan pendekatan yang tidak hanya bersifat normatif atau medis, tetapi juga menyentuh akar-akar simbolik dan kultural yang membentuk identitas maskulin tersebut. Merokok Sebagai Simbol Perekat Solidaritas Di kalangan pelajar laki-laki MTs MaAoarif NU Kedungkendo, merokok tidak hanya dipahami sebagai simbol keberanian, tetapi juga berfungsi sebagai alat pemersatu dalam membentuk solidaritas sosial. Rokok hadir dalam berbagai aktivitas keseharian seperti nongkrong di warung, di belakang sekolah, atau saat berkumpul sepulang sekolah. Merokok bersama menjadi bentuk komunikasi non-verbal yang menegaskan afiliasi kelompok, di mana pelajar yang merokok dianggap lebih AudewasaAy dan AusolidAy dibanding mereka yang menolak atau tidak merokok. Fenomena ini dapat dipahami melalui teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann. Pada tahap eksternalisasi, siswa menggunakan rokok sebagai sarana untuk menunjukkan rasa kebersamaan dan loyalitas terhadap kelompok. Rokok dibagikan, dinyalakan bergiliran, dan dijadikan simbol perhatian sosial. Penolakan terhadap tawaran rokok sering dianggap sebagai bentuk penolakan terhadap ikatan kelompok. Martini mencatat bahwa banyak pelajar mulai merokok bukan karena kecanduan, tetapi karena dorongan solidaritas sosial (Martini, 2. Tahap selanjutnya, objektivasi, terjadi ketika aktivitas merokok bersama dilembagakan dalam kebiasaan harian. Lingkungan sosial ini, rokok dipahami sebagai sesuatu yang wajar, bahkan menjadi syarat tak tertulis dalam menjaga status sosial dan keakraban kelompok. Suprayitno menjelaskan bahwa dalam media pun, rokok digambarkan sebagai simbol keakraban laki-laki (Suprayitno, 2. Hal ini diperkuat oleh sikap permisif orang tua dan guru, yang tidak menganggap rokok sebagai ancaman serius selama tidak menggangg. Pada tahap internalisasi, makna solidaritas yang melekat pada rokok telah menyatu dalam kesadaran siswa. Merokok menjadi bagian dari identitas diri, sebagai laki-laki yang setia kawan dan dapat dipercaya. Kebiasaan merokok sulit dilepaskan karena khawatir kehilangan kedekatan emosional dengan kelompok. Putra menegaskan bahwa praktik merokok lebih dipengaruhi oleh dinamika sosial dibanding faktor pribadi, menjadikan rokok instrumen penting dalam mempertahankan relasi sosial di kalangan pelajar laki-laki (Putra et al. , 2. Konstruksi Identitas Maskulinitas dalam perpektif Ilmu Pengethaun Sosial(IPS) Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 41-52 Perilaku merokok di kalangan siswa laki-laki MTs MaAoarif NU Kedungkendo merupakan hasil konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh interaksi dengan keluarga, teman sebaya, media, dan institusi Identitas maskulin yang dilekatkan pada kebiasaan merokok merupakan bentuk internalisasi nilai patriarki dan simbol dominasi yang diajarkan dalam lingkungan sosial. Hal ini sejalan dengan temuan Kodriati bahwa perilaku merokok erat kaitannya dengan maskulinitas yang menekankan keberanian dan pengakuan social (Kodriati et al. , 2. Dalam perspektif IPS, identitas gender dipahami bukan dari sisi biologis semata, melainkan dari proses sosialisasi melalui lembaga-lembaga sosial seperti sekolah dan keluarga. Teori Berger dan Luckmann menjelaskan bahwa perilaku seperti merokok merupakan bentuk objektivasi nilai sosial yang sudah terlembagakan (Luckman, 2. IPS juga menyoroti ketegangan antara struktur dan agen: struktur sosial seperti budaya patriarki dan contoh dari orang tua atau guru yang merokok memberikan tekanan terhadap siswa, namun siswa tetap memiliki kapasitas sebagai agen yang bisa melakukan Seperti yang dikemukakan Jamal pengaruh teman sebaya dan panutan dewasa sangat kuat dalam membentuk kebiasaan merokok, namun sebagian siswa menolak merokok atas dasar nilai religius atau kesadaran Kesehatan (Jamal et al. , 2. Oleh karena itu, pendidikan IPS tidak hanya menjelaskan fenomena sosial, tetapi juga menjadi alat perubahan sosial. Melalui pembelajaran nilai, norma, dan struktur sosial. IPS mendorong siswa untuk membongkar stereotip keliru seperti Aulakilaki sejati harus merokokAy dan menggantinya dengan nilai tanggung jawab sosial, kontribusi positif, serta pemikiran kritis. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya identitas maskulinitas melalui perilaku merokok di kalangan pelajar di MTs MaAoarif NU Kedungkendo Pembentukan identitas maskulinitas di kalangan siswa MTs MaAoarif NU Kedungkendo merupakan hasil interaksi sosial yang kompleks, di mana perilaku merokok memainkan peran penting sebagai simbol status dan ekspresi gender. Merokok dipersepsikan bukan sekadar kebiasaan, melainkan bentuk keberanian, kedewasaan, dan kemandirian yang diakui dalam lingkungan Konsep ini sejalan dengan maskulinitas hegemonik ala Connell yang menekankan dominasi, kekuatan, dan ketegasan laki-laki dalam struktur sosial. Di kalangan siswa, nilai-nilai tersebut dimanifestasikan melalui keberanian merokok secara terbuka dan resistensi terhadap Faktor pembentuk identitas ini terbagi dalam dua aspek utama yaitu internal dan eksternal. Faktor Internal Faktor internal merujuk pada dorongan dari dalam diri remaja laki-laki yang membentuk identitas maskulinitasnya melalui perilaku merokok. Terdapat tiga aspek penting: Motivasi Pribadi untuk Menunjukkan Kejantanan Banyak siswa merokok karena ingin dianggap sebagai Aulaki-laki sejatiAy oleh teman sebaya. Dalam konteks ini, merokok menjadi simbol keberanian, kedewasaan, dan kemandirian. Teori konstruksi sosial Berger & Luckmann menyatakan bahwa makna sosial dibentuk melalui interaksi sosial yang terus-menerus (Luckman, 2. Merokok dijadikan alat untuk mengekspresikan identitas gender dan memperoleh pengakuan sosial. Jamal juga menunjukkan bahwa remaja merokok untuk membuktikan keberanian di hadapan teman dan keluarga (Jamal et al. , 2. Persepsi Diri terhadap Maskulinitas Persepsi terhadap bagaimana menjadi laki-laki terbentuk sejak dini melalui sosialisasi di keluarga, sekolah, dan media. Dalam masyarakat patriarkal, laki-laki didorong untuk menjadi mandiri dan Rokok menjadi simbol maskulinitas karena sering dikaitkan dengan sosok laki-laki yang dominan di lingkungan sekitar. Connell menjelaskan bahwa maskulinitas hegemonik merupakan bentuk maskulinitas dominan yang sering terlihat pada perilaku berani seperti merokok di depan umum (Connell, 2. Hal ini diperkuat oleh Jamal menyebutkan bahwa anak laki-laki cenderung meniru perilaku ayah atau kakak laki-laki yang merokok (Jamal et al. , 2. Tekanan Psikologis untuk Diakui Teman Sebaya Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 41-52 Remaja berada dalam fase pencarian jati diri dan sangat membutuhkan pengakuan dari Merokok dianggap sebagai tindakan yang bisa meningkatkan status sosial di antara teman laki-laki. Jika tidak merokok, mereka berisiko dianggap pengecut atau tidak dewasa. Teori maskulinitas hegemonik Connell menekankan bahwa bentuk maskulinitas yang ideal adalah yang dominan, berani, dan menonjol dalam kelompok sosial (Connell, 2. Jamal menegaskan bahwa anak yang tinggal dengan orangtua perokok lebih berpotensi meniru kebiasaan tersebut karena perilaku tersebut dipandang wajar (Jamal et al. , 2. Faktor Eksternal Faktor eksternal merujuk pada pengaruh-pengaruh dari luar individu yang membentuk cara seseorang memahami dan mempraktikkan identitas maskulinitas. Terdapat sejumlah aspek eksternal yang berperan penting, yaitu: Pengaruh Teman Sebaya Pada masa remaja, kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan sosial sangat tinggi. Teman sebaya menjadi salah satu agen sosialisasi terkuat yang memengaruhi pembentukan identitas, termasuk identitas maskulinitas. Ketika mayoritas anggota kelompok pertemanan merokok, remaja laki-laki yang belum pernah merokok sering kali terdorong untuk ikut merokok sebagai cara untuk menunjukkan kesetiaan, kedekatan, dan keberanian. Aktivitas keseharian seperti nongkrong di warung, lapangan, atau gang belakang sekolah, merokok seringkali menjadi semacam Auritual maskulinAy yang menciptakan rasa kebersamaan dan memperkuat status sebagai bagian dari kelompok laki-laki yang dianggap tangguh. Situasi ini memperlihatkan norma kelompok memiliki daya paksa yang kuat terhadap perilaku individu. Roupa menegaskan bahwa lingkungan sosial yang permisif terhadap rokok, khususnya dari teman sebaya, menjadi salah satu faktor paling signifikan dalam meningkatkan prevalensi merokok di kalangan remaja(Roupa et , 2. Ketika rokok diterima dan bahkan dimaknai sebagai simbol kejantanan, maka tekanan untuk menyesuaikan diri dengan norma tersebut pun meningkat. Remaja tidak hanya belajar dari tindakan teman-temannya, tetapi juga menjadikan kelompok sebaya sebagai standar untuk mengukur apakah dirinya cukup AumaskulinAy atau tidak. Teori maskulinitas hegemonik yang dikemukakan oleh R. Connell, bahwa maskulinitas yang dominan dalam masyarakat sering dikaitkan dengan keberanian, kekuatan, ketangguhan, dan kesediaan mengambil risiko karakteristik yang bisa diekspresikan melalui perilaku merokok (Connell, 2. Lingkaran pertemanan yang mendewakan sifat maskulin seperti itu, merokok dianggap sebagai simbol status dan kedewasaan, sehingga banyak remaja merasa perlu merokok untuk diakui sebagai bagian dari kelompok laki-laki sejati. Bahkan bagi remaja yang awalnya ragu atau tidak tertarik, tekanan sosial . eer pressur. dapat menjadi faktor penentu dalam keputusan mereka untuk mencoba merokok. Mereka khawatir dianggap pengecut, tidak solid, atau Aubukan laki-laki sejatiAy jika menolak ajakan teman. Hal ini menciptakan pola perilaku yang berulang, di mana nilai maskulinitas dikonstruksi dan direproduksi melalui interaksi sosial yang sederhana namun penuh makna, seperti berbagi rokok dalam suasana kebersamaan. Dengan demikian, teman sebaya tidak hanya berperan dalam mempengaruhi perilaku merokok, tetapi juga dalam membentuk pemahaman remaja tentang arti menjadi laki-laki. Lingkungan Keluarga Lingkungan keluarga berperan penting dalam membentuk kebiasaan merokok pada remaja lakilaki. Ketika ayah atau anggota keluarga laki-lainnya merokok tanpa kontrol atau komunikasi kritis, anak akan menilai bahwa merokok adalah bagian dari kehidupan laki-laki dewasa. Menurut Lorant, anak lebih berisiko menjadi perokok jika orangtua mereka juga merokok, terlepas dari latar belakang sosialnya (Lorant et al. , 2. Rokok sering dipersepsikan sebagai simbol kedekatan dan penerimaan dalam relasi laki-laki di rumah, yang kemudian direproduksi oleh anak Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 41-52 sebagai bagian dari identitas maskulin. Teori Connell, di mana keberanian dan kedewasaan sering disimbolkan melalui perilaku berisiko, seperti merokok (Connell, 2. Keluarga menjadi agen sosialisasi awal yang bisa memperkuat atau mengkritisi nilai-nilai maskulinitas namun sayangnya, seringkali justru memperkuatnya tanpa sadar. Pengaruh Media dan Budaya Media massa dan budaya populer memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi remaja laki-laki tentang maskulinitas. Tayangan seperti film aksi, sinetron, video musik, dan iklan rokok kerap menampilkan laki-laki perokok sebagai sosok kuat, mandiri, dan pemberani. Citra tersebut menciptakan simbol maskulinitas yang mudah ditiru, sehingga merokok dipersepsi bukan sekadar kebiasaan, melainkan representasi status sosial dan identitas gender. Representasi ini menjadi bagian dari Auskrip maskulinitasAy yang dibangun secara visual dan simbolik. Tanpa adanya literasi media yang memadai, remaja cenderung menerima representasi tersebut secara mentah. Algoritma media sosial pun memperkuat bias ini dengan menampilkan konten serupa secara berulang, mendorong internalisasi nilai bahwa Aulaki-laki sejatiAy adalah mereka yang berani mengambil risiko, termasuk merokok. Teori Connell, maskulinitas hegemonik adalah bentuk dominan maskulinitas yang dilegitimasi secara sosial, dikaitkan dengan keberanian dan kekuasaan, serta sering direpresentasikan melalui perilaku berisiko (Connell, 2. Media menjadi agen sosialisasi penting dalam proses konstruksi sosial maskulinitas, sebagaimana ditekankan oleh Berger dan Luckmann, bahwa realitas sosial dibentuk dan diperkuat melalui pengulangan makna dalam kehidupan sehari-hari (Luckman, 2. Suprayitno juga menunjukkan bahwa iklan rokok merupakan faktor dominan dalam mendorong perilaku merokok pada remaja, menunjukkan betapa kuatnya peran media dalam membentuk identitas dan perilaku laki-laki muda (Suprayitno, 2. Peran Sekolah dan Pencegahannya Sekolah sebagai institusi pendidikan formal seharusnya berperan aktif dalam membentuk karakter siswa serta membongkar konstruksi gender yang merugikan, termasuk maskulinitas yang Namun, dalam praktiknya, sekolah sering gagal menjalankan peran ini secara optimal. Penanganan terhadap siswa perokok umumnya hanya berupa teguran atau hukuman ringan, tanpa upaya mendalam menyentuh akar persoalan, yaitu keterkaitan antara perilaku merokok dengan pembentukan identitas maskulin dan pencarian pengakuan sosial dari teman sebaya. Pengawasan yang terbatas hanya di jam pelajaran membuat ruang sosial siswa di luar sekolah seperti warung, gang belakang, dan tempat umum lainnya luput dari pantauan. Hal ini menyebabkan pemisahan antara nilai formal yang diajarkan dan praktik sosial yang berlangsung. Teori Berger dan Luckmann, realitas sosial akan menjadi objektif hanya jika nilai-nilai ditanamkan secara konsisten (Luckman, 2. Ketika sekolah gagal melakukan internalisasi nilai secara menyeluruh, siswa tetap menganggap merokok sebagai hal yang lumrah dan bahkan wajar bagi laki-laki. Situasi ini memperkuat konstruksi maskulinitas hegemonik sebagaimana dikemukakan oleh Connell, di mana simbol-simbol seperti Aurokok = keberanian dan kejantananAy terus hidup tanpa ada narasi tandingan dari pihak sekolah (Connell, 2. Ketidakhadiran guru dalam kehidupan sosial siswa, minimnya edukasi tentang makna budaya dari merokok, dan absennya program pembinaan karakter berbasis gender menjadikan sekolah tidak berfungsi sebagai benteng nilai. Kelemahan inilah yang membuat sekolah justru ikut melanggengkan budaya maskulinitas yang berbahaya di kalangan remaja. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian bahwa bahwa konstruksi identitas maskulinitas di kalangan siswa perokok MTs MaAoarif NU Kedungkendo terbentuk melalui proses sosial yang melibatkan eksternalisasi . eniru perilaku merokok dari tokoh maskuli. , objektivasi . erilaku itu dianggap Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 41-52 wajar dan menunjukkan kejantana. , serta internalisasi . enjadi bagian dari jati diri merek. Merokok bukan sekadar kebiasaan, tetapi menjadi simbol keberanian dan kedewasaan yang diakui oleh lingkungan sekitar. Empat faktor utama yang memengaruhi proses ini adalah: pengaruh teman sebaya sebagai penentu eksistensi sosial. keluarga yang permisif dan memberi contoh langsung. media yang merepresentasikan perokok sebagai sosok mandiri dan kuat. serta lemahnya kontrol sekolah dalam menangani konstruksi identitas ini. Seluruh faktor ini saling berinteraksi dan memperkuat reproduksi maskulinitas melalui perilaku merokok. DAFTAR PUSTAKA