Ahad: Multidisciplinary Journal of Islamic Studies Vol . No. 2025 :69-80. ISSN . 3110-2271 https://journal. id/index. php/ahad/ DOI: https://doi. org/10. 64131/ahad. Urgensi Bahasa Arab dalam Pendidikan Islam di Era Digital Lilik Aisatul Husnah1 Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto. Indonesia lilikhusnah011@mail. Submitted: 28 juli 2025 Accepted: 29 agustus 2025 Published: 15 september 2025 Abstract Arabic language learning holds a strategic position in Islamic education as it serves as the primary means for understanding foundational sources of Islamic This article employs a qualitative descriptive approach to illustrate the urgency of Arabic language learning within Islamic education amid digital transformation, while also identifying the emerging challenges and opportunities. Data were collected through literature review, exploration of academic sources, and thematic analysis of policy documents and previous studies. The findings indicate that the integration of technology into Arabic language learning can enhance learning accessibility, strengthen learnersAo motivation, and develop communicative competence when supported by a well structured curriculum, appropriate instructional design, and adequate teacher training. Moreover, digitalization enables the use of multimedia content, digital libraries, and new spaces for interaction with native speakers or global Arabic-speaking communities. Keywords: Arabic language. Islamic education, digital era This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author INTRODUCTION Bahasa Arab fundamental dalam lanskap pendidikan Islam. Sejak masa awal peradaban Islam, bahasa ini menjadi medium utama transmisi ilmu pengetahuan, mulai dari teks-teks suci seperti Al-QurAoan dan hadis, hingga karya-karya para ulama klasik . yang membentuk fondasi pemikiran Islam sepanjang berabad-abad. Bahasa Arab bukan hanya sekadar wahana linguistik, tetapi merupakan pintu masuk menuju dunia intelektual Islam yang kaya dan Penguasaan yang baik terhadap bahasa Arab merupakan prasyarat lahirnya pemahaman keagamaan yang autentik, mendalam, dan Oleh karena itu, berdiri pada pijakan historis dan spiritual ini, bahasa Arab tidak dapat dipandang sebatas mata pelajaran formal yakni kunci peradaban yang membuka cakrawala umat Islam untuk mengenali jati diri dan keberlanjutan tradisi ilmunya. Namun, perjalanan pendidikan tidak pernah berhenti pada tradisi Memasuki transformasi yang luar biasa cepat. Kemajuan teknologi informasi telah melahirkan generasi peserta didik yang hidup dalam aliran data tanpa batas, terbiasa dengan akses informasi serba instan, visualisasi yang dinamis, serta ritme komunikasi yang cepat dan terfragmentasi. Digitalisasi menghadirkan lingkungan belajar yang sangat berbeda dari masa-masa sebelumnya dengan lingkungan yang lebih interaktif, lebih visual, tetapi sekaligus lebih Peserta didik kini memproses ilmu melalui pengalamanpengalaman multimodal, memadukan teks, gambar, audio, dan interaksi digital dalam satu waktu. Perubahan karakteristik generasi ini tentu membawa implikasi yang besar bagi pembelajaran bahasa Arab. Bahasa Arab sebagai bahasa yang memiliki sistem morfologi . , sintaksis . , dan semantik yang sangat kompleks, terkadang dianggap sulit diintegrasikan dengan gaya belajar generasi digital yang cenderung cepat, ringkas, dan pragmatis. Tidak sedikit peserta didik yang kesulitan bertahan dengan metode pembelajaran tradisional yang menuntut ketekunan membaca teks panjang, menghafal polapola gramatikal, dan mempelajari makna kata secara bertahap. Tantangan ini tidak bisa diabaikan. Namun demikian, digitalisasi juga membuka ruang baru yang penuh Teknologi menghadirkan beragam alat bantu pembelajaran kamus digital, platform pembelajaran interaktif, aplikasi latihan bahasa, video penjelasan, simulasi percakapan, hingga teknologi kecerdasan buatan yang mampu memperkaya pengalaman belajar dan menjadikan proses memahami bahasa Arab lebih menarik, efektif, serta relevan dengan kebutuhan zaman. Dalam konteks ini, teknologi bukanlah ancaman bagi bahasa Arab, melainkan mitra yang dapat menyokong keberlanjutan tradisi keilmuan Islam. Dari berbagai dinamika tersebut lahir pertanyaan krusial yang perlu pembelajaran bahasa Arab, atau justru menguatkan posisinya dalam pendidikan Islam, pertanyaan ini semakin signifikan ketika kita melihat realitas sosial hari ini: banjir informasi keagamaan di media sosial sering kali disertai misinterpretasi dan penyalahgunaan teks karena lemahnya literasi bahasa Arab. Kesalahpahaman terhadap dalil, radikalisasi berbasis kutipan agama, serta penyebaran disinformasi menjadi bukti bahwa kemampuan menafsirkan teks-teks Arab dengan tepat adalah kompetensi yang semakin mendesak di era modern. Lebih jauh, pendidikan Islam kini dihadapkan pada tuntutan untuk melakukan reorientasi pendekatan pedagogis. Pembelajaran bahasa Arab tidak lagi memadai jika hanya mengandalkan model satu arah . , yang menjadikan peserta didik sekadar objek penerima Era digital mengharuskan munculnya pendekatan yang lebih humanis, yang melihat peserta didik sebagai manusia seutuhnya makhluk yang unik, memiliki kebutuhan emosional, intelektual, dan spiritual. Pendekatan humanistik dalam pembelajaran bahasa Arab menekankan bahwa teknologi hanyalah alat, esensi pendidikan terletak pada hubungan manusiawi antara guru dan peserta didik, pada proses saling memahami, menginspirasi, dan membimbing menuju pembentukan karakter serta kemampuan berpikir Dengan mempertimbangkan seluruh dinamika ini, kajian mengenai urgensi pembelajaran bahasa Arab di era digital menjadi sangat penting. Artikel ini berusaha menggali lebih dalam bagaimana transformasi digital memengaruhi kedudukan, tantangan, dan arah masa depan pembelajaran bahasa Arab dalam pendidikan Islam. Melalui analisis teoretis dan refleksi konseptual, pembahasan ini diharapkan mampu menawarkan perspektif baru dalam merumuskan strategi pembelajaran bahasa Arab yang adaptif, manusiawi, dan tetap berakar pada tradisi keilmuan Islam. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Arab tidak hanya menjadi kegiatan akademik, tetapi juga proses humanisasi yang membantu peserta didik menemukan makna, identitas, dan jati diri mereka di tengah arus perubahan zaman. METHOD Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui kajian literatur, penelaahan dokumen, laporan kebijakan, dan berbagai hasil penelitian terkait pembelajaran bahasa Arab dan pendidikan digital. Seluruh data kemudian dianalisis dengan pendekatan tematik, yaitu mengelompokkan informasi berdasarkan tema urgensi, peluang, tantangan, dan rekomendasi. Adapun langkah-langkah metode Studi pustaka sistematis terhadap buku, artikel ilmiah, laporan kebijakan, dan sumber daring mengenai pembelajaran bahasa Arab, teknologi pendidikan, dan praktik pedagogi di pendidikan Islam. Analisis dokumen . urikulum relevan, modul pembelajaran digital, panduan gur. untuk melihat kecenderungan integrasi teknologi. Sintesis tematik yang mengkategorikan temuan ke dalam tema-tema utama urgensi atau rasional, peluang, hambatan, dan rekomendasi. Data dianalisis secara induktif dengan membaca secara berulang, memberi kode pada ide-ide kunci, mengelompokkan kode menjadi tema, dan merumuskan deskripsi akhir yang representatif. RESULT AND DISCUSSION Berdasarkan analisis data kualitatif yang diperoleh melalui kajian literatur, telaah dokumen, observasi virtual terhadap platform pembelajaran, serta wawancara terbatas dengan praktisi pendidikan bahasa Arab, diperoleh beberapa temuan utama sebagai berikut: Bahasa Arab Tetap Menjadi Kunci Pemahaman Sumber Islam Data menunjukkan bahwa mayoritas praktisi pendidikan Islam menilai kemampuan bahasa Arab masih menjadi kompetensi fundamental bagi peserta didik untuk memahami sumber-sumber primer Islam, seperti Al-QurAoan. Hadis, kitab turats, dan literatur kontemporer. Era digital tidak menurunkan urgensi ini, tetapi justru memperkuatnya karena akses terhadap khazanah digital berbahasa Arab semakin luas. Transformasi Media dan Sumber Belajar Bahasa Arab Penelitian menemukan bahwa sumber belajar bahasa Arab kini berkembang pesat melalui berbagai platform digital seperti e-learning, aplikasi mobile, video pembelajaran, kanal YouTube edukatif, serta kecerdasan buatan. Media digital terbukti berperan sebagai pengayaan . dan penunjang . upporting tool. dalam penguasaan keterampilan bahasa. Pergeseran Pola dan Preferensi Belajar Generasi Digital Generasi peserta didik saat ini cenderung memiliki gaya belajar yang bersifat multimodal, cepat, interaktif, dan berbasis visual. Mereka lebih tertarik menggunakan media digital, aplikasi latihan interaktif, dan video pembelajaran. Hal ini menuntut pengajar bahasa Arab untuk melakukan inovasi metode dan materi ajar. Munculnya Tantangan Baru dalam Pembelajaran Bahasa Arab Beberapa tantangan teridentifikasi: Kurangnya literasi digital sebagian guru Dominasi hiburan digital yang mengurangi fokus belajar Ketersediaan materi digital yang belum seluruhnya terverifikasi Kecenderungan siswa mengandalkan terjemahan instan tanpa memahami kaidah kebahasaan. Perubahan Peran Guru di Era Digital Peran guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi sebagai fasilitator, kurator sumber belajar digital, pembimbing literasi digital, dan motivator pembelajar. Kompetensi pedagogi digital menjadi kebutuhan mendesak. Pembahasan Urgensi Pembelajaran Bahasa Arab dalam Konteks Pendidikan Islam Secara epistemologis, bahasa Arab memiliki posisi yang vital karena menjadi pintu masuk utama bagi pemahaman ajaran Islam. Hal ini sejalan dengan literatur klasik dan kontemporer yang menegaskan pentingnya bahasa Arab dalam peradaban Islam. Dalam konteks pendidikan Islam, kompetensi bahasa Arab bukan hanya bersifat linguistik, tetapi juga menjadi instrumen untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan tekstual. Era digital justru memperkuat urgensi ini. Penyebaran ilmu keislaman melalui jurnal elektronik, kitab digital, dan platform ilmiah seperti Maktabah Syamilah. Al-Maktabah al-Waqfiyah, atau E-Library universitas Timur Tengah membuktikan bahwa bahasa Arab tetap relevan dan semakin Integrasi Pembelajaran Bahasa Arab dengan Teknologi Digital Pembelajaran bahasa Arab mengalami transformasi signifikan dengan munculnya teknologi digital. Integrasi ini menciptakan: Pembelajaran lebih fleksibel, dapat dilakukan kapan saja melalui Sumber belajar variatif, seperti video grammar, podcast bahasa Arab, kamus digital, dan latihan interaktif. Pendekatan personalisasi, karena peserta didik dapat belajar sesuai ritme dan gaya belajar masing-masing. Peningkatan motivasi, terutama melalui media visual dan gamifikasi. Dalam pendekatan deskriptif kualitatif, temuan ini menunjukkan bahwa teknologi digital bukan hanya alat bantu, tetapi juga menjadi ekosistem baru yang memperluas akses dan kualitas pembelajaran. Tantangan dan Problematika Era Digital Meskipun membawa peluang besar, era digital juga menghadirkan berbagai tantangan dalam pembelajaran bahasa Arab: Literasi Digital Guru Sebagian guru masih memiliki keterbatasan dalam mengelola media digital atau merancang konten pembelajaran berbasis teknologi. Hal ini berpotensi menghambat inovasi pembelajaran. Kecenderungan Belajar Instan Aplikasi terjemahan otomatis sering digunakan tanpa memperhatikan struktur bahasa. Dampaknya, peserta didik kehilangan sensitivitas terhadap kaidah nahwu sharaf dan struktur kalimat asli. Validitas Sumber Digital Tidak semua materi digital yang tersebar memiliki kredibilitas. Beberapa aplikasi atau video berisi kesalahan linguistik, yang bila tidak diseleksi secara kritis, dapat menyesatkan peserta didik. Distraksi Digital Media sosial, game, dan hiburan online sering mengalihkan perhatian siswa dari kegiatan belajar bahasa Arab. Temuan ini sejalan dengan hasil wawancara yang menunjukkan perlunya pendampingan literasi digital secara berkelanjutan. Peran Guru sebagai Fasilitator di Era Digital Guru menjadi aktor utama dalam menyelaraskan teknologi dengan kebutuhan pembelajaran. Dalam hasil penelitian, guru berperan sebagai: Kurator konten: memilih materi digital yang valid dan berkualitas. Fasilitator belajar: membimbing penggunaan aplikasi pembelajaran dengan benar. Inovator: menciptakan media digital seperti video, modul interaktif, atau kuis online. Motivator: mengarahkan siswa menggunakan teknologi untuk belajar, bukan sekadar hiburan. Peran ini sejalan dengan paradigma student-centered learning yang semakin menguat di era digital. Model Pembelajaran Bahasa Arab yang Efektif di Era Digital Berdasarkan analisis temuan, strategi yang paling efektif meliputi: Blended Learning: kombinasi tatap muka dan digital untuk memperoleh pemahaman mendalam. Project-Based Learning: siswa membuat konten digital berbahasa Arab . ideo, vlog, poste. Interactive Learning: memanfaatkan quiz online, flashcard digital, dan aplikasi latihan. Collaborative Learning: diskusi daring, kelompok belajar via platform digital. Model-model ini relevan dengan karakter generasi digital yang kolaboratif dan visual. Dengan demikian hasil penelitian menunjukkan bahwa urgensi pembelajaran bahasa Arab di era digital tidak mengalami penurunan, tetapi justru semakin menguat. Teknologi membuka ruang baru bagi efektivitas pembelajaran, sekaligus menuntut peningkatan kompetensi guru dan literasi digital siswa. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pembelajaran bahasa Arab di era digital sangat bergantung pada inovasi, adaptasi teknologi, dan kemampuan kritis dalam memilih sumber belajar digital. CONCLUSION Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Arab tetap memiliki urgensi yang sangat tinggi dalam pendidikan Islam, bahkan semakin menguat di era digital. Bahasa Arab tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi instrumen epistemologis utama untuk memahami sumber-sumber ajaran Islam seperti Al-QurAoan. Hadis, dan literatur keislaman klasik maupun kontemporer. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Arab tetap menjadi kompetensi fundamental bagi peserta didik di lembaga pendidikan Islam. Adapun transformasi teknologi digital membawa dampak signifikan terhadap proses pembelajaran bahasa Arab. Berbagai platform digital, aplikasi pembelajaran, media audiovisual, serta kecerdasan buatan telah memperluas akses dan variasi sumber belajar, sehingga pembelajaran menjadi lebih fleksibel, interaktif, dan menarik. Namun demikian, era digital juga menghadirkan sejumlah tantangan, termasuk rendahnya literasi digital sebagian guru, kecenderungan peserta didik menggunakan terjemahan instan, potensi penyebaran materi tidak valid, serta distraksi digital yang mengganggu fokus belajar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Arab di era digital memerlukan sinergi antara kompetensi linguistik, penguasaan teknologi, dan kemampuan berpikir kritis dalam memilih serta memanfaatkan sumber belajar digital. Inovasi dan literasi digital menjadi kunci keberhasilan pembelajaran, sehingga lembaga pendidikan Islam perlu terus meningkatkan kapasitas guru dan memperkuat ekosistem pembelajaran berbasis teknologi. BIBLIOGRAPHY