Copyright A 2023 pada penulis Abdimas Singkerru. Vol. No. Agustus 2023 Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Kooperatif Tipe Number Head Together (NHT) Rachmat Fajar Halim1. Fathurrakhman Ansar2 1Universitas Cokroaminoto Palopo 2Akademi Teknologi Industri Dewantara Palopo Rachmatfh123@gmail. com1, fathurrahman. ansar@gmail. Abstrak Tujuan dalam pengabdian ini yaitu untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui Model Kooperatif Tipe Number Heads Together. Setiap siklus meliputi empat tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa tes dan non tes, dimana tes berupa tes hasil belajar dan non tes berupa lembar observasi keterlaksanaan dan aktivitas Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas siswa pada siklus I diperoleh rata-rata dua pertemuan yakni 63,77% dengan kategori cukup aktif dan pada siklus II diperoleh rata-rata aktivitas siswa pada dua pertemuan yakni 86,13% berada pada kategori sangat aktif. Selanjutnya tingkat hasil belajar siswa pada pra penelitian yakni rata-ratanya adalah 33, berada pada kategori sangat rendah yakni jumlah persentase siswa yang tuntas hanya sebesar 20,83%, pada siklus I skor rata-rata hasil belajar siswa sebesar 67,11 dengan jumlah siswa yang tuntas sebesar 33,33% kategori sedang dan pada siklus II skor rata-rata hasil belajar siswa setelah diajar dengan menggunakan Model Kooperatif Tipe Number Heads Together sebesar 84,14 yakni berada pada kategori tinggi dengan jumlah persentase siswa yang tuntas sebesar 95,83%. Ditinjau dari hasil penelitian tersebut, terlihat bahwa rata-rata hasil belajar pada aktivitas siswa siklus I ke siklus II meningkat yadan rata-rata hasil belajar IPA siswa dari pra penelitian sampai siklus II meningkat. Maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan Model Kooperatif Tipe Number Heads Together dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa. Kata Kunci: Model Kooperatif Tipe Number Heads Together, aktivitas belajar, hasil Pendahuluan Kondisi pendidikan di Indonesia berbading terbalik dengan tujuan yang Dikutip DetikNews. disebutkan bahwa hasil survei dari PISA (Program for International Student Assesmen. tahun 2019 memperlihatkan bahwa negara Indonesia berada diperingkat rendah. Dari 72 negara yang ikut serta dalam PISA. Indonesia berada di urutan 62 dunia di bidang Sains. Masih di bawah Singapura. Vietnam, dan Thailand. Dilihat dari data tersebut dapat dinyatakan bahwa Indonesia masih rendah kondisi pendidikannya di pembelajaran Sains atau biasa disebut dengan IPA (Ilmu Pengetahuan Ala. Hal ini disebabkan karena Motivasi Belajar siswa masih dalam kategori rendah. Melihat fenomena tersebut, maka perlu diterapkan suatu sistem pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar, guna meningkatkan hasil belajar. Salah satu model pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran https://jurnal. id/index. php/singkerru/workflow/index/232/5 Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Onlin. kooperatif sangat cocok diterapkan pada pembelajaran IPA. Jadi pembelajaran IPA tidak hanya mengetahui dan menghafal konsep-konsep IPA tetapi juga dibutuhkan suatu pemahaman serta kemampuan menyelesaikan persoalan IPA dengan baik dan Penggunaan model pembelajaran kooperatif diharapkan siswa dapat mengemukakan pemikirannya, saling bertukar pendapat dan saling bekerja sama jika ada teman dalam kelompoknya yang mengalami kesulitan dalam proses Menurut Wawan . 0 :. , aktivitas belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas secara sadar yang dilakukan oleh seseorang yang mengakibatkan perubahan dalam dirinya, berupa perubahan pengetahuan atau kemahiran yang sifatnya tergantung pada sedikit banyaknya perubahan. Menurut Susilo . 0: . , bahwa aktivitas belajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar, aktivitas belajar yang dimaksud adalah aktivitas yang mengarah pada proses bertanya, mengerjakan tugas-tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama dengan siswa lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa, guru diharapkan mewujudkan suasana belajar yang relevan serta menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas dengan mengadakan pembaharuan dalam model, metode, pendekatan, serta penggunaan media dan alat peraga dalam proses pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara efektif dan menyenangkan. Keberadaan peran dan fungsi guru merupakan salah satu faktor yang sangat signifikan dalam proses belajar mengajar. Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar, dijalur pendidikan formal, informal, ataun nonformal. Oleh sebab itu, dalam setiap upaya peningkatan kualitas pendidikan di tanah air, guru tidak dilepaskan dari berbagai hal yang berkaitan dengan ekstensi. Berdasarkan hasil observasi awal . ra penelitia. yang dilakukan penelitian dengan guru kelas, terungkap bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa semakin lama semakin mengalami penurunan, dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Aktivitas siswa dalam belajar masih rendah dan masih cenderung kepada guru, sehingga siswa masih pasif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Siswa di kelas merasa pembelajaran IPA kurang menarik dan membosankan karena belum diterapkannya model pembelajaran yang bervariatif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan dalam pembelajaran IPA masih tergolong rendah. Hal tersebut berdampak pada hasil belajar siswa, dilihat dari 24 siswa hanya 7 atau 29,16% siswa yang dapat nilai 70 atau lebih, dan 17 atau 70,83% siswa mendapat nilai dibawah 70 dari 24 siswa di kelas IV sedangkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimu. yang telah ditentukan sekolah yaitu 70, dari data tersebut terlihat masih banyak siswa yang belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimu. Menurut Amri . 5: . kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) yaitu: . Dapat memperluas pengetahuan siswa terhadap materi yang dipelajari . Melatih siswa untuk berani menyampaikan pendapat . Terciptanya saling percaya, serta kerjasama antar siswa dan antar anggota kelompok untuk berfikir dalam menyelesaikan satu tugas atau masalah . Siswa saling berfikir aktif dalam pelaksanaan pembelajaran sehingga siswa mampu untuk mengembangkan ketrampilan berfikirnya . Dengan diterapkan pembelajaran kooperatif model Number Head Together (NHT) ini terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai Vol. No. Agustus 2023 ISSN 2776-7477 (Onlin. tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah. Berdasarkan uraian di atas penulis telah melaksanakan pengabdian dengan judul AuPeningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Head Together (NHT). Ay Maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Aktivitas belajar dengan penerapan model kooperatif tipe Number Head Together pada siswa. Hasil belajar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together pada siswa. Apakah terdapat peningkatan hasil belajar IPA setelah diterapkan model koperatif tipe Number Head Together pada siswa Manfaat pengabdian ini, yaitu bagi akademis, yakni dapat menjadi bahan informasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya pada program studi pendidikan guru sekolah dasar berkaitan dengan peningkatan hasil belajar siswa dan pengembangan metode pembelajaran. Bagi siswa, mendapat kesempatan dan pengalaman belajar dalam suasana yang menyenangkan serta meningkatkan pemahaman konsep. Bagi guru, penelitian ini bermanfaat sebagai perbaikan mengajar yang mengutamakan pemahaman konsep dengan peningkatan hasil belajar siswa melalui metode kooperatif tipe Number Heads Together sebagai metode pembelajaran yang menarik, menambah keterampilan pengelola pembelajaran IPA dengan mengembangkan metode kooperatif tipe Number Heads Together, serta memberikan keterampilan yang mendukung pengembangan peran guru sebagai peneliti. Bagi sekolah, mendapat sumbangan inovasi pembelajaran yang secara oprasional cocok dan relevan dengan nuansa pembelajaran yang Metode Pelaksanaan Pengabdian ini telah dilaksanakan di SD Negeri 11 Lasusua, terletak di desa Batu Ganda. Kecamatan Lasusua. Kabupaten Kolaka Utara. Provinsi Sulawesi Tenggara. Waktu penelitian direncakan pada semester genap tahun ajaran 2022/2023. Mitra dalam pegabdian ini yaitu guru di SD Negeri 11 Lasusua, pertimbangan memilih sekolah ini yaitu salah satunya adalah letak sekolah yang berada jauh dari keramaian dan juga lokasi sekolahnya tidak ada jaringan internet, sehingga sekolah ini membutuhkan sesuatu yang baru yaitu berupa cara dalam menyampaikan pembelajaran. Pelaksanaan pegabdian ini bentuk dua siklus pada satu siklus yang terdiri dari empat tahap yaitu . perencanaan tindakan . , . pelaksanaan tindakan . , . observasi/pengamatan . , . Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah . jika analisis observasi keterlaksanaan kegiatan pembelajaran dan siswa dalam proses pembelajaran telah mencapai persentase rata-rata 80% dengan kriteria baik, . jika analisis observasi keaktivan belajar siswa minimal mencapai 75% dengan kategori aktif, . hasil analisis tes hasil belajar ketuntasan individu minimal 70% siswa telah mencapai ketuntasan dan untuk ketuntasan klasikal apabila jumlah siswa yang telah mencapai KKM 70%. Hasil dan Pembahasan Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Onlin. Pra penelitian Sebelum dilakukanya penelitian terlebih dahulu peneliti melakukan observasi dan pendokumentasian daftar nama, daftar nilai peserta didik, dan wawancara bersama guru. Untuk mengetahui data awal peserta didik. Data tersebut diperoleh tes hasil belajar siswa yang diberikan. Paparan data tersebut dapat di lihat pada Tabel berikut: Hasil belajar pra penelitan Kategori Penilaian Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tidak tuntas Presentase ketuntasan klasikal Hasil Belajar 20,83% Sumber: Data primer setelah diolah . Berdasarkan Tabel di atas dapat diketahui bahwa sebelum mendapatkan pembelajaran dengan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) ketuntasan hasil belajar klasikal masih jauh dibawah ketuntasan hasil belajar yang diharapkan yaitu 20,83%. Hasil tersebut belum mencapai standar ketuntasan belajar secara klasikal yaitu 70%. Ditinjau dari data tersebut maka diperoleh hasil belajar siswa berada pada kategori rendah. Sehingga, peneliti akan melakukan rencana perbaikan pembelajaran dengan menggnakan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) pada pembelajaran IPA. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan 2 siklus untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar siswa. Pelaksanaan tindakan pada setiap siklus disertai dengan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refeksi. SIKLUS I Hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Observasi dilaksanakan untuk melihat dan mengetahui aktivitas siswa yang terjadi pada siklus I berlangsung, instrumen yang digunakan yakni lember observasi aktivitas siswa. Berikut merupakan hasil observasi aktivitas siswa ditunjukan pada Tabel berikut. Hasil observasi aktivitas siswa siklus I Pertemuan Persentase Kategori Pertama 57,4% Cukup Aktif Kedua 70,14% Aktif Sumber: Data primer setelah diolah . Berdasarkan Tabel di atas diperoleh bahwa sebanyak 19 skor aktivitas siswa pada pertemuan satu pada siklus I dengan persentase 57,4% dengan kategori cukup Pertemuan kedua sebanyak 25 skor aktivitas siswa dengan presentase siswa 70,14% dengan kategori aktif. Berdasarkan hasil di atas maka rata-rata persentase aktivitas siswa sebesar 63,77% dengan kategori cukup aktif. Saat berlangsungnya tes siklus I, siswa mengerjakan soal sesuai dengan waktu yang telah disediakan. Perolehan hasil belajar siswa dapat dilihat pada Tabel di bawah ini. Berdasarkan Tabel di bawah hasil evaluasi yang dilakukan diakhir siklus I pada pertemuan kedua dengan jumlah soal pilihan ganda sebanyak 20 nomor diperoleh nilai rata-rata siswa kelas IV yaitu 67,11 tidak memenuhi nilai KKM yaitu Vol. No. Agustus 2023 ISSN 2776-7477 (Onlin. Sebanyak 16 siswa yang tidak mencapai KKM sehingga presentase belajar klasikal ketuntasa yaitu 33,33%. Hasil belajar siswa pada siklus I Kategori Penilaian Hasil Belajar Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata 67,11 Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tidak tuntas Presentase ketuntasan klasikal 33,33% Sumber: Data primer setelah diolah . Skor hasil belajar siswa tersebut dikelompokkan dalam lima kategori maka diperoleh distribusi skor dan presentase seperti disajikan pada Tabel berikut. Distribusi frekuensi tingkat hasil belajar siswa siklus I Siklus I Interval Kategori Frekuensi Persentase (%) Sangat tinggi 4,16 Tinggi 8,33 Sedang 29,16 Rendah Sangat rendah 20,83 Jumlah Sumber: Data primer setelah diolah . Berdasarkan Tabel di atas terdapat satu siswa . ,16%) memperoleh hasil belajar dengan kategori sangat tinggi, terdapat dua siswa . ,33%) memperoleh hasil belajar dengan kategori tinggi, terdapat 7 siswa . ,16%) memperoleh hasil belajar dengan kategori sedang, terdapat 9 siswa . ,5%) memperoleh hasil belajar dengan kategori rendah dan terdapat 5 siswa . ,83%) memperoleh hasil belajar dengan kategori sangat rendah. Berdasarkan paparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pada siklus I sebgaian besar siswa memperoleh hasil belajar dengan kategori Berdasarkan data yang telah diperoleh pada proses pembelajaran disiklus I dengan dua kali pertemuan maka dapat disimpulkan rata-rata nilai kelas IV yaitu 1 yang belum mencapai kriteria ketuntasan maksimal (KKM) yang ditetapkan, ditinjau dari data tersebut maka diperoleh presentase ketuntasan klasikal yaitu 68,58 belum mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan, ditinjau dari data tersebut maka diperoleh persentase ketuntasan klasikal yaitu 33,33% dan belum mencapai indikator keberhasilan dengan presentase ketuntasan belajar klasikal yang telah ditetapkan. SIKLUS II Hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Berikut merupakan hasil observasi aktivitas siswa ditunjukan pada Tabel berikut. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II Pertemuan Jumah skor Presentase Kategori Pertama 82,26% Aktif Kedua Sangat aktif Sumber: Data primer setelah diolah . Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Onlin. Berdasarkan Tabel di atas diperoleh bahwa sebanyak 29 skor aktivitas siswa pada pertemuan satu pada siklus II dengan presentase 82,26% dengan kategori Pada pertemuan kedua sebanyak 35 skor aktivitas siswa dengan presentase siswa 90% dengan kategori sangat aktif. Berdasarkan hasil diatas maka rata-rata presentase aktivitas siswa sebesar 86,13% dengan kategori sangat aktif. Pada saat berlangsungnya tes siklus II, siswa mengerjakan soal sesuai dengan waktu yang telah disediakan. Perolehan hasil belajar siswa dapat dilihat pada Tabel dibawah ini. Distribusi hasil belajar siswa pada siklus II Kategori Penilaian Hasil Belajar Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata 84,14 Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tidak tuntas Presentase ketuntasan klasikal 95,83% Sumber: Data primer setelah diolah . Berdasarkan Tabel di atas hasil evaluasi yang dilakukan diakhir siklus II pada pertemuan kedua dengan jumlah soal pilihan ganda sebanyak 20 nomor diperoleh nilai rata-rata siswa kelas IV yaitu 86,13 memenuhi nilai KKM yaitu 70. Sebanyak 1 siswa yang tidak mencapai KKM sehingga presentase belajar klasikal ketuntasa yaitu 95,83% Skor hasil belajar siswa tersebut dikelompokkan dalam lima kategori maka diperoleh distribusi skor dan presentase seperti disajikan pada tabel 12 berikut Distribusi frekuensi tingkat hasil belajar siswa siklus II Siklus II Interval Kategori Frekuensi Presentase (%) Sangat tinggi 4,16 Tinggi 33,33 Sedang Rendah Sangat rendah Jumlah Sumber: Data primer setelah diolah . Berdasarkan Tabel di atas terdapat satu siswa . ,16%) memperoleh hasil belajar dengan kategori sangat tinggi, terdapat delapan siswa . ,33%) memperoleh hasil belajar dengan kategori tinggi, terdapat 15 siswa . ,5%) memperoleh hasil belajar dengan kategori sedang dan tidak ada siswa yang berada pada kategori rendah dan sangat rendah. Berdasarkan paparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa pada siklus II sebagaian besar siswa memperoleh hasil belajar dengan kategori sedang. Berdasarkan data yang telah diperoleh pada proses pembelajaran disiklus II dengan dua kali pertemuan maka dapat disimpulkan rata-rata nilai kelas IV yaitu 1 yang belum mencapai kriteria ketuntasan maksimal (KKM) yang ditetapkan, ditinjau dari data tersebut maka diperoleh presentase ketidak tuntasan klasikal yaitu 4,16% belum mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan, sedangkan ditinjau dari data tersebut maka diperoleh 23yang mencapai ketuntasan diatas atau sma dengan 70 dengan persentase ketuntasan klasikal yaitu 95,83% dan telah mencapai indikator keberhasilan dengan presentase ketuntasan belajar klasikal yang telah Vol. No. Agustus 2023 ISSN 2776-7477 (Onlin. Berikut merupakan tabel perbandingan hasil belajar siswa pra penelitian, siklus I dan siklus II. Ditunjukkan pada Tabel berikut: Perbandingan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pra penelitian, siklus I dan siklus Rata-rata No. Data Keterangan Pra penelitian Siklus I Siklus II Aktivitas siswa 63,77% 86,13% Meningkat Hasil belajar 67,11 84,14 Meningkat Sumber: Data primer setelah diolah . Berdasarkan Tabel di atas, terlihat bahwa hasil belajar IPA pada pra penelitian adalah rata-ratanya 33 sebagian besar berada pada kategori sangat rendah, untuk siklus I adalah rata-ratanya adalah 67,11 sebagian besar berada pada kategori rendah, sedangkan hasil belajar IPA siswa untuk siklus II adalah rata-ratanya 84,14 besar berada pada kategori sedang. Berdasarkan paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa IPA untuk siklus I ke siklus II terjadi Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan pada akhir siklus I maka proses pembelajran dilanjutkan ke siklus II dengan memberikan proses pembelajran. Aspek yang belum terpenuhi pada siklus I dilaksanakan disiklus II. Sehingga diharapkan pada siklus II peneliti lebih mampu mengorganisasikan kelas. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran di siklus II sama dengan pembelajaran pada siklus I yaitu dilaksanakan 2 kali pertemuan. Adapun data diperoleh dari siklus II yaitu keterlaksanaan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) yakni 87,5% dengan perolehan rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa yaitu 76,56% dengan kategori sedang dan telah melampaui indikator keberhasilan yang telah ditetapkan dalam penelitian ini. Ditinjau dari data tersebut maka diperoleh hasil belajar siswa pada siklus II terus mengalami peningkatan. Hal ini dapat terlihat dari presentase ketuntasan klasikal pada siklus I sebesar 20,83% meningkat menjadi 95,87% pada siklus II sehingga penelitian ini berhenti di siklus II. Peningkatan tersebut bisa terjadi karna dalam proses pembelajaran dengan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) siswa selalu melakukan demonstrasi sehingga menumbuhkan rasa percaya diri siswa, aktif dalam diskusi kelompok serta selalu diberi kesempatan untuk mengoreksi jawaban dari teman yang Hal tersebut sejalan dengan kelebihan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Pada siklus II ini ada beberapa aspek keterlaksanaan pembelajaran yang belum terlaksana jika ditinjau dari lembar observasi pembelajaran yang telah diisi pada saat pembelajaran berlangsung oleh observer, diantaranya pada pertemuan pertama yakni ada dua aspek yang tidak terlaksana yaitu mengajukan pertanyaan untuk mengawali pembelajaran dan guru tidak memberikan apresiasi kepada siswa yang menjawab betul, sedangakn pada pertemuan kedua hanya ada satu aspek yang tidak terlaksana yakni guru tidak membimbing jalannya proses diskusi siswa. Selanjutnya untuk akitifitas siswa, semua telah terlaksana namun ada beberapa aspek yang tidak maksimal sehingga tidak memperoleh poin maksimal yaitu 4, seperti pada aspek siswa bertanya pada guru, untuk aspek tersebut hanya memperoleh poin 3 karena siswa cenderung sedikit aktif bertanya kepada guru mengenai materinya. Berdasarkan pembahasan di atas maka dlam hal ini telah memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan yang meliputi rata-rata hasil belajar siswa mencapai KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah yaitu 70 dan presentase Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Onlin. ketuntasan belajar klasikal mencapai 95,83 Maka pengabdian telah berhasil dengan perolehan rata-rata nilai siswa 84,14. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan keterlaksaan, aktivitas dan hasil belajar IPA pada materi gaya dan gerak siswa. Hasil pengabdian ini sejalan dengan penelitian relevan yaitu penelitian yang dilaksanakan oleh Rabiah . dengan hasil penelitian bahwa terdapat peningkatan aktivitas siswa, aktivitas guru dan hasil belajar IPA setelah diterapkan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Diperkuat pula oleh Suandewi . dengan hasil penelitian bahwa pembelajaran IPA dengan menggunakan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN 3 Kapal tahun pelajaran 2016/2017. Kendala dalam penelitian ini yang dihadapi oleh peneliti yang paling menonjol adalah karena dalam proses penelitian ini dilaksanakan di masa pandemi, maka peneliti, guru serta siswa was-was dalam belajar dan pembelajaran namun bisa sedikit teratasi dengan pembelajaran mematuhi protokol kesehatan dengan cara menjaga jarak serta memakai masker serta siswa terkesan agak sulit diatur, bisa jadi karena mereka dalam masa-masa emas pertumbuhan. Kesimpulan Berdasarkan paparan data dan pembahasan, kesimpulan pengabdian ini adalah sebagai berikut: Aktivitas siswa selama penerapan model pemvelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) mengalami peningkatan. Hasil belajar siswa selama penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan. Ucapan Terimakasih Terima kasih kepada Kepala SD Negeri 11 Lasusua dan seluruh guru-guru yang telah bersedia menjadi mitra dalam pengabdian ini. Dan terima kasih kepada Akademi Teknologi Industri Dewantara Palopo. Referensi