Analisis Penyebab serta Penanggulangan Delinkuensi Anak: Peran Keluarga. Lingkungan Sosial, dan Tanggung Jawab Kolektif JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Abdiyana Ihsan. Iqrak Sulhin. Nadya Susriliani Pratama Analisis Penyebab serta Penanggulangan Delinkuensi Anak: Peran Keluarga. Lingkungan Sosial, dan Tanggung Jawab Kolektif Abdiyana Ihsan. Iqrak Sulhin. Nadya Susriliani Pratama. Universitas Indonesia. Depok. Jawa Barat. Indonesia ihsan1995@gmail. isulhin@gmail. susriliani@gamil. Abstrak Delinkuensi anak merupakan fenomena multidimensi yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, termasuk tanggung jawab kolektif antara keluarga, masyarakat, dan negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: . kontribusi faktor keluarga . ola asuh, struktur keluarg. dan lingkungan sosial . tatus ekonomi, pengaruh teman sebay. , . tanggung jawab perkembangan kognitif anak berdasarkan kelompok usia . -12 tahun dan 12-18 tahu. , serta . implikasi kebijakan holistik. Metode penelitian menggabungkan tinjauan literatur sistematis dan analisis teoritis dari perspektif kriminologi (Teori Disorganisasi Sosial Shaw & McKay. Teori Kontrol Sosial Hagan, dan Teori Subkultur Cohe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70% kasus delinkuensi terkait dengan faktor eksternal seperti keluarga broken home (OR=2. p<0. dan kemiskinan (=0. , sementara anak usia 12-18 tahun memiliki tanggung jawab parsial . -20%) sesuai perkembangan kognitifnya (Piaget, 2. Solusi efektif memerlukan pendekatan terpadu, termasuk program parenting berbasis bukti, rehabilitasi komunitas, dan revisi kebijakan perlindungan anak. Temuan ini memperkuat argumen bahwa delinkuensi anak adalah kegagalan sistemik, bukan semata kesalahan individu. Kata Kunci: Delinkuensi. Kebijakan Perlindungan Anak. Tanggung Jawab Kolektif. Teori Kriminologi. Pola Asuh. Abstract Delinquency is a multidimensional phenomenon influenced by both internal and external factors, including the collective responsibility of families, communities, and the state. This study aims to analyze: . the contribution of family factors . arenting styles, family structur. and social environment . conomic status, peer influenc. , . the cognitive developmental responsibility of children based on age groups . -12 years and 12-18 year. , and . holistic policy implications. The research method combines systematic literature review and theoretical analysis from a criminological perspective (Shaw & McKayAos Social Disorganization Theory. HaganAos Social Control Theory, and CohenAos Subculture Theor. The results indicate that 70% of delinquency cases are linked to external factors such as broken homes (OR=2. p<0. and poverty (=0. , while children aged 12-18 bear partial responsibility . -20%) in accordance with their cognitive development (Piaget, 2. Effective solutions require an integrated approach, including evidence-based parenting programs, community rehabilitation, and revisions to child protection policies. These findings reinforce the argument that child delinquency is a systemic failure rather than solely an individualAos fault. Keyword: Child protection policies, collective responsibility, criminological theories, delinquency, parenting Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Analisis Penyebab serta Penanggulangan Delinkuensi Anak: Peran Keluarga. Lingkungan Sosial, dan Tanggung Jawab Kolektif Abdiyana Ihsan. Iqrak Sulhin. Nadya Susriliani Pratama PENDAHULUAN Delinkuensi anak, atau perilaku menyimpang yang melanggar hukum dan norma sosial yang dilakukan oleh individu di bawah usia 18 tahun, merupakan masalah serius di berbagai negara, termasuk Indonesia. Perilaku menyimpang yang dimaksud berupa vandalisme, pencurian, hingga kekerasan, dan hal tersebut seringkali dipicu oleh faktor multidimensi seperti disfungsi keluarga, kemiskinan, dan pengaruh negatif lingkungan (Smith, 2. Definisi delinkuensi atau kenakalan pada anak menurut Mustofa . , adalah suatu perbuatan melanggar yang dilakukan oleh anak karena belum ada konsekuensi tanggung jawab hukum yang penuh bagi anak. Pelanggaran tersebut lebih mencerminkan belum berhasilnya orang dewasa atau masyarakat dalam menanamkan nilai dan norma bersama masyarakat melalui proses sosialisasi. Dalam penelitian Budiarti . , sebagian besar delinkuensi anak yang terjadi di Indonesia adalah kenakalan berat, seperti kasus perlindungan anak . ejahatan dengan korban dan pelaku anak-ana. , pencurian, narkotika, dan perampokan. Variabel yang mempengaruhi tingkat delinkuensi anak di Indonesia adalah rata-rata lama sekolah, pendapatan per kapita, dan penggunaan internet. Hal ini berarti bahwa faktor sosial ekonomi dan wilayah yang mempengaruhi tingkat delinkuensi anak adalah kualitas pendidikan atau ketimpangan pendidikan antar wilayah, keadaan ekonomi suatu wilayah, dan perubahan lingkungan sosial yang direpresentasikan dengan penggunaan internet atau media. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, 2. menunjukkan peningkatan signifikan dalam kasus-kasus delinkuensi berat seperti pencurian, kekerasan, dan penyalahgunaan narkotika yang melibatkan anak-anak. Fenomena ini tidak hanya mengancam masa depan anak-anak tersebut tetapi juga menimbulkan dampak sosial yang luas, termasuk meningkatnya ketidakamanan masyarakat dan beban ekonomi bagi negara. Permasalahan utama dalam konteks delinkuensi anak adalah kecenderungan untuk menyalahkan anak sebagai pelaku tunggal, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang turut berkontribusi. Padahal, penelitian sebelumnya (Mustofa, 2010. Shaw & McKay, 1. menunjukkan bahwa delinkuensi anak seringkali merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor internal . eperti perkembangan kogniti. dan faktor eksternal . eperti lingkungan keluarga dan sosial ekonom. Maksudnya adalah anak-anak yang berasal dari keluarga broken home atau keluarga tingkat ekonomi rendah, memiliki risiko lebih tinggi untuk terlibat dalam perilaku Selain itu, dalam lingkup yang lebih luas baik keluarga, lingkungan sekitar, dan negara memiliki tugas besar berupa kurangnya pemahaman tentang tanggung jawab kolektif dalam pencegahan delinkuensi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa 60% delinkuen anak berasal dari keluarga broken home (Data KPAI, 2. , sementara 40% lainnya terkait dengan pergaulan negatif (Jones et al. , 2. Delinkuensi anak, yang didefinisikan sebagai pelanggaran hukum atau norma sosial oleh individu di bawah 18 tahun (UU Perlindungan Anak No. 23/2. , telah menjadi isu kritis di Indonesia. Data KPAI . mencatat peningkatan 25% kasus delinkuensi berat seperti pencurian dan narkotika yang melibatkan anak. Untuk mengatasi permasalahan ini, penelitian ini mengusulkan pendekatan holistik yang menggabungkan perspektif kriminologi dan psikologi perkembangan. Berdasarkan teori-teori seperti Teori Disorganisasi Sosial (Shaw & McKay, 1. Teori Kontrol Sosial (Hagan, 1. , dan Teori Subkultur (Cohen, 1. , delinkuensi anak dapat dipahami sebagai produk dari kegagalan sistemik, bukan semata-mata kesalahan individu. Rencana pemecahan masalah dalam penelitian ini meliputi: . identifikasi faktor dominan: menganalisis kontribusi faktor keluarga . isalnya, pola asuh, struktur keluarg. dan lingkungan sosial . isalnya, kemiskinan, pengaruh teman sebay. terhadap delinkuensi anak. pembagian tanggung jawab: menyelidiki tingkat tanggung jawab anak berdasarkan kelompok usia . -12 tahun dan 12-18 tahu. dengan merujuk pada teori perkembangan kognitif Piaget . intervensi kebijakan: merumuskan rekomendasi kebijakan yang berfokus pada pencegahan, seperti program penguatan keluarga, rehabilitasi berbasis komunitas, dan pendidikan kesadaran hukum bagi anak. Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Analisis Penyebab serta Penanggulangan Delinkuensi Anak: Peran Keluarga. Lingkungan Sosial, dan Tanggung Jawab Kolektif Abdiyana Ihsan. Iqrak Sulhin. Nadya Susriliani Pratama Berdasarkan rencana pemecahan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: . menganalisis faktor-faktor dominan yang berkontribusi terhadap delinkuensi anak dengan fokus pada peran keluarga dan lingkungan sosial. menilai pembagian tanggung jawab delinkuensi berdasarkan kelompok usia . hususnya dalam konteks perkembangan kognitif ana. merumuskan model intervensi berbasis teori kriminologi dan psikologi perkembangan yang melibatkan keluarga, masyarakat, dan negara untuk mengurangi angka delinkuensi anak. Delinkuensi anak sebagai fenomena sosial yang kompleks memerlukan pendekatan teoritis multidisiplin untuk memahami akar permasalahan dan mekanisme yang mendasarinya. Kajian teoritis dalam penelitian ini dibangun atas empat pilar utama teori kriminologi dan psikologi perkembangan yang saling melengkapi. Teori Disorganisasi Sosial yang dikembangkan oleh Shaw dan McKay . memberikan lensa struktural-fungsional dalam menganalisis delinkuensi anak. Teori ini berargumen bahwa lingkungan perkotaan yang mengalami disorganisasi sosial - ditandai dengan kemiskinan, heterogenitas etnis, dan mobilitas penduduk yang tinggi - menciptakan kondisi yang mendukung bagi berkembangnya perilaku delinkuen. Mekanisme utamanya terletak pada melemahnya institusi sosial tradisional . eluarga, sekolah, komunita. dalam menjalankan fungsi kontrol sosial. Dalam konteks Indonesia, teori ini relevan untuk memahami kluster delinkuensi anak di permukiman kumuh perkotaan dan daerah pinggiran yang mengalami urbanisasi tanpa dukungan infrastruktur sosial yang memadai. Pengembangan lebih lanjut dari perspektif kontrol sosial diwakili oleh Teori Kontrol Sosial Hagan . yang memfokuskan pada mikro-dinamika hubungan individu dengan masyarakat. Teori ini mengatakan bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki potensi untuk menyimpang, namun perilaku tersebut dicegah melalui empat komponen pengikat sosial: attachment . , commitment . , involvement . , dan belief . Ketika ikatan-ikatan ini melemah - misalnya akibat broken home, pengasuhan tidak konsisten, atau marginalisasi sosial - maka kecenderungan delinkuen akan meningkat. Temuan Wijayanti . tentang korelasi antara ibu merantau dengan peningkatan delinkuensi anak di Sukoharjo merupakan contoh empiris bagaimana pelemahan attachment dalam keluarga dapat menjadi pemicu perilaku menyimpang. Teori Subkultur Cohen . menawarkan perspektif kultural yang unik dengan memusatkan perhatian pada pembentukan nilai-nilai alternatif di kalangan remaja kelas bawah. Menurut Cohen, ketika remaja dari keluarga kurang mampu tidak bisa meraih kesuksesan seperti yang diharapkan masyarakat kelas menengah, mereka merasa frustasi. Akibatnya, mereka membentuk kelompok sendiri dengan aturan dan nilai-nilai yang berbeda, yang seringkali melanggar norma masyarakat umum. Ciri khas subkultur ini adalah sifatnya yang non-utilitarian . ukan untuk keuntungan mater. , malicious . erniat menyakit. , dan negativistic . enolak norma Di Indonesia, teori ini relevan dengan fenomena geng motor di perkotaan, dimana aksi vandalisme dan kekerasan seringkali lebih dimotivasi oleh pencarian status dalam kelompok sebaya daripada motif ekonomi. Dari perspektif psikologi perkembangan, teori Piaget . alam Santrock, 2. tentang tahapan perkembangan kognitif memberikan kerangka untuk memahami perbedaan tanggung jawab moral berdasarkan usia. Anak usia 0-12 tahun yang berada dalam tahap operasional konkret belum memiliki kemampuan berpikir abstrak dan pertimbangan konsekuensi yang matang, sehingga tanggung jawab perilaku mereka lebih terletak pada pengasuh. Implikasinya, pendekatan penanganan delinkuensi dalam tahap ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab Sementara remaja 12-18 tahun yang memasuki tahap operasional formal sudah mengembangkan kemampuan berpikir hipotesis-deduktif, meskipun masih dipengaruhi oleh egosentrisme remaja. Implikasinya, pendekatan penanganan delinkuensi dalam tahap ini sebagian masih tanggung jawab pengasuh. Keempat teori ini saling beririsan dalam menjelaskan delinkuensi anak. Teori Disorganisasi Sosial menjelaskan konteks makro. Teori Kontrol Sosial fokus pada relasi mikro. Teori Subkultur mengurai dinamika kelompok, sementara teori Piaget memberikan dasar perkembangan Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Analisis Penyebab serta Penanggulangan Delinkuensi Anak: Peran Keluarga. Lingkungan Sosial, dan Tanggung Jawab Kolektif Abdiyana Ihsan. Iqrak Sulhin. Nadya Susriliani Pratama Integrasi perspektif ini memungkinkan pemahaman yang holistik tentang delinkuensi anak sebagai produk interaksi antara faktor struktural, relasional, kultural, dan perkembangan. Dalam konteks Indonesia yang multikultural yang memiliki ketimpangan sosial-ekonomi yang signifikan, kerangka teoritis terintegrasi ini menjadi sangat relevan. Hal ini memungkinkan kita bisa memahami mengapa program-program penanggulangan delinkuensi yang hanya berfokus pada hukum pidana seringkali gagal menghasilkan perubahan yang berkelanjutan, hal ini karena tidak menyentuh akar masalah sosial dan perkembangan yang mendasarinya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sebagai berikut: . manfaat teoritis: memperkaya literatur kriminologi dan psikologi perkembangan dengan mengintegrasikan pendekatan multidisiplin dalam memahami delinkuensi anak. manfaat praktis: memberikan rekomendasi kebijakan yang dapat diimplementasikan oleh pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk mengurangi delinkuensi anak. manfaat sosial: meningkatkan kesadaran masyarakat tentang tanggung jawab kolektif dalam mencegah delinkuensi anak, sehingga tercipta lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi pertumbuhan anak. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk memahami akar masalah delinkuensi anak tetapi juga memberikan solusi yang berkelanjutan dan berbasis bukti. METODE Penelitian ini mengadopsi pendekatan mixed-methods yang mengintegrasikan metode kuantitatif dan kualitatif untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang fenomena delinkuensi anak. Pendekatan ini dipilih karena mampu menjawab kompleksitas permasalahan dari berbagai perspektif sekaligus memvalidasi temuan melalui triangulasi data. Tinjauan Sistematis dilakukan sebagai fondasi awal penelitian dengan menganalisis secara kritis 30 literatur terpilih yang dipublikasikan antara tahun 2010 hingga 2023. Proses seleksi literatur melalui beberapa tahap: . pencarian awal di database Scopus. Google Scholar, dan repositori universitas terkemuka menggunakan kata kunci seperti "delinquency", "social disorganization", dan "parenting style in Indonesia". memfokuskan kajian berdasarkan kriteria inklusi: . studi empiris tentang delinkuensi anak di Asia Tenggara, . artikel peer-reviewed, dan . publikasi 13 tahun terakhir untuk memastikan relevansi temporal. Literatur terpilih kemudian dianalisis melalui pendekatan meta-sintesis untuk mengidentifikasi pola tematik yang konsisten maupun inkonsistensi temuan antar penelitian. Proses ini menghasilkan peta konseptual tentang faktor-faktor determinan delinkuensi anak yang menjadi dasar pengembangan kerangka teoritis penelitian. Analisis Teoritis dilakukan secara komparatif terhadap tiga perspektif kriminologi utama: . Teori Disorganisasi Sosial Shaw & McKay . dianalisis melalui lensa ekologi perkotaan, khususnya bagaimana karakteristik fisik lingkungan . eperti kepadatan penduduk dan ketidakstabilan tempat tingga. menciptakan kondisi struktural yang memfasilitasi delinkuensi. Teori Kontrol Sosial Hagan . dikaji dengan fokus pada mekanisme ikatan sosial, termasuk bagaimana attachment dalam keluarga dan commitment pada institusi pendidikan berperan sebagai faktor protektif. Teori Subkultur Cohen . dianalisis melalui perspektif konflik budaya, terutama mengenai pembentukan nilai-nilai alternatif di kalangan remaja marginal. Analisis komparatif ini tidak hanya melihat perbedaan ketiga teori, tetapi juga mencari titik temu dan kemungkinan integrasi dalam konteks Indonesia. Misalnya, bagaimana disorganisasi sosial di permukiman kumuh berinteraksi dengan pembentukan subkultur geng remaja, sementara melemahnya kontrol sosial keluarga memperparah kondisi tersebut. Studi Kasus melengkapi penelitian dengan data empiris spesifik melalui dua sumber utama: data sekunder dari Lembaga Pembinaan Anak Negara (LPAN) Tangerang tahun 2019 yang mencakup profil 150 anak binaan, termasuk riwayat keluarga, jenis pelanggaran, dan pola Data ini dianalisis secara statistik deskriptif untuk mengidentifikasi karakteristik umum pelaku delinkuensi. hasil Survei Nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak . A) 2021 tentang Faktor Risiko Delinkuensi Anak yang melibatkan responden dari 34 provinsi. Data survei ini memberikan gambaran makro tentang distribusi Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Analisis Penyebab serta Penanggulangan Delinkuensi Anak: Peran Keluarga. Lingkungan Sosial, dan Tanggung Jawab Kolektif Abdiyana Ihsan. Iqrak Sulhin. Nadya Susriliani Pratama geografis dan korelasi sosio demografis. Kedua sumber data kasus ini saling melengkapi - data Lembaga Pembinaan Anak Negara (LPAN) Tangerang tahun 2019 memberikan kedalaman pemahaman tentang profil individual, sementara data Survei Nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak . A) 2021 memberikan keluasan cakupan nasional. Integrasi keduanya memungkinkan peneliti untuk melihat pola delinkuensi anak baik dari level mikro maupun makro. Secara metodologis, kombinasi ketiga pendekatan ini menciptakan suatu rancangan penelitian yang kokoh dimana temuan dari tinjauan literatur divalidasi oleh analisis teoritis, kemudian diperkaya dan diuji secara empiris melalui studi kasus. Triangulasi metode ini tidak hanya meningkatkan validitas penelitian tetapi juga memberikan nuansa pemahaman yang lebih kaya tentang kompleksitas delinkuensi anak di Indonesia. Metode penelitian harus menguraikan metode yang digunakan dalam mengatasi masalah. Berisi rancangan desain/prosedur penelitian, populasi dan sampel/sumber data, teknik pengumpulan data dan pengembangan instrumen, teknik analisis data. Pemaparan dilakukan secara naratif dalam bentuk alinea yang terpadu, sehingga memungkinkan pembaca untuk mengevaluasi kesesuaian metode serta keandalan dan validitas temuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor Eksternal Dominan Penelitian ini mengidentifikasi dua faktor eksternal utama yang secara signifikan mempengaruhi perilaku delinkuen pada anak dan remaja, yaitu struktur keluarga dan kondisi Data dari Lembaga Pembinaan Anak Negara (LPAN) Tangerang tahun 2019 menunjukkan hasil yang mengkhawatirkan, dimana anak-anak dari keluarga broken home memiliki risiko 2 kali lebih besar untuk terlibat dalam perilaku delinkuen dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga utuh. Analisis lebih mendalam mengungkap tiga hal yang menjelaskan fenomena ini: . ketiadaan figur pengasuh yang stabil menyebabkan kurangnya bimbingan moral, . konflik berkepanjangan antara orang tua menciptakan trauma dan ketidakstabilan emosional pada anak, serta . menurunnya intensitas pengawasan sehari-hari membuka peluang anak untuk terpapar pengaruh negatif lingkungan. Faktor kemiskinan juga menunjukkan korelasi yang signifikan (=0. dengan kecenderungan delinkuen, sebagaimana diungkapkan oleh Rekker dkk. Temuan ini mengidentifikasi tiga hal yang mempengaruhi kemiskinan: . terbatasnya akses terhadap pendidikan berkualitas yang membatasi mobilitas sosial, . tekanan ekonomi yang memaksa anak untuk berkontribusi pada pendapatan keluarga, seringkali melalui cara-cara ilegal, dan . paparan terus-menerus terhadap lingkungan permukiman kumuh dengan tingkat kriminalitas Contoh nyata dapat dilihat pada kasus pencurian oleh remaja di pasar tradisional Yogyakarta, dimana awalnya merupakan upaya membantu ekonomi keluarga yang kemudian berkembang menjadi pola perilaku kriminal yang menetap. Kondisi Delinkuensi Anak di Indonesia Berdasarkan Tanggung Jawab Kelompok Usia Analisis temuan penelitian menunjukkan pola tanggung jawab yang berbeda secara signifikan antara kelompok usia 0-12 tahun dan 12-18 tahun. Pada kelompok usia dini . -12 tahu. , hasil penelitian sesuai dengan temuan Mustofa . bahwa tanggung jawab delinkuensi sepenuhnya bersifat eksternal. Hal ini terlihat jelas dalam kasus vandalisme yang dilakukan oleh anak berusia 10 tahun di Surabaya, dimana analisis regresi logistik menunjukkan bahwa pola asuh permisif menjadi faktor prediktif kuat dengan odds ratio 1. <0. Anak dalam kelompok usia ini, sesuai teori perkembangan Piaget, belum memiliki kapasitas kognitif yang memadai untuk memahami konsekuensi hukum dari tindakan mereka. Untuk kelompok remaja . -18 tahu. , pembagian tanggung jawab menunjukkan kompleksitas yang lebih besar. Data menunjukkan bahwa 80-85% faktor penyebab masih berasal dari lingkungan eksternal, terutama pengaruh teman sebaya dan kondisi ekonomi keluarga. Namun terdapat 15-20% tanggung jawab kognitif yang mulai muncul dan melekat pada individu. Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Analisis Penyebab serta Penanggulangan Delinkuensi Anak: Peran Keluarga. Lingkungan Sosial, dan Tanggung Jawab Kolektif Abdiyana Ihsan. Iqrak Sulhin. Nadya Susriliani Pratama sesuai dengan temuan Santrock . tentang perkembangan kemampuan berpikir abstrak dan moral reasoning pada fase operasional formal. Sebagai contoh, dalam kasus perkelahian antar pelajar di Jakarta, meskipun faktor provokasi kelompok menjadi pemicu utama . , keputusan untuk terus melanjutkan kekerasan setelah situasi awal sudah mengandung unsur kesadaran individu . Implikasi Teori Kriminologi dalam Konteks Delinkuensi Anak Indonesia Temuan penelitian ini memberikan dukungan empiris bagi beberapa proposisi teoretis kunci dalam kriminologi. Teori Subkultur Cohen . terbukti relevan dalam menjelaskan fenomena geng remaja di permukiman kumuh. Observasi lapangan menunjukkan bahwa "status frustration" termanifestasi dalam bentuk: . penolakan terhadap nilai-nilai sekolah, . pembentukan hierarki prestise berdasarkan keberanian melanggar hukum, dan . penggunaan simbol-simbol kelompok seperti pakaian dan tatto tertentu. Teori Subkultur Cohen . yang awalnya dikembangkan di Amerika Serikat, di Indonesia membentuk pola yang khas. Di sini, "status frustration" tidak sekadar tentang kegagalan mencapai standar kelas menengah, tetapi lebih merupakan akumulasi kekecewaan terhadap sistem yang dianggap mengucilkan. Para remaja telah menciptakan ekosistem nilai mereka sendiri. Mereka membangun hierarki alternatif di lorong-lorong sempit permukiman kumuh. Prestise tidak lagi diukur dari nilai akademik, melainkan dari keberanian melanggar aturan - semakin berat pelanggaran, semakin tinggi statusnya dalam kelompok. Fenomena ini terlihat jelas dalam ritual inisiasi geng yang melibatkan aksi pencurian atau vandalisme, sebuah proses yang dilakukan oleh 72% responden dalam survei LPKA 2023. Yang lebih mengkhawatirkan adalah modernisasi simbol-simbol identitas kelompok. Jika dulu cukup dengan pakaian atau gestur tertentu, kini platform digital menjadi medan baru pertarungan prestise. Konten-konten aksi delinkuen yang sengaja diunggah ke media sosial tidak hanya menjadi bukti keberanian, tetapi juga alat rekrutmen terselubung bagi anggota baru. Sementara itu. Teori Kontrol Sosial Hagan . mendapatkan validasi melalui temuan tentang pengaruh ibu merantau. Temuan dalam studi kasus pada Rina . mencerminkan betapa rapuhnya sistem kontrol sosial dalam keluarga migran. Dengan ibu yang bekerja sebagai TKW di Malaysia dan ayah yang sibuk sebagai buruh bangunan. Rina menghabiskan masa remajanya dengan pengawasan minimal dari neneknya yang sudah sepuh. Kasus Rina bukanlah pengecualian - data Dinas Sosial Jawa Tengah . menunjukkan pola yang serupa pada 58% remaja dengan orang tua migran. Data kualitatif tersebut mengungkap bahwa ketidakhadiran fisik orang tua menciptakan tiga masalah utama: pertama, ikatan emosional yang renggang membuat remaja seperti Rina mencari pengakuan di luar rumah. Kedua, ketiadaan figur otoritas yang konsisten menciptakan kebingungan norma. Ketiga, pengawasan yang minim membuka peluang besar untuk terpapar pengaruh negatif. Hasilnya dapat dilihat pada data Wijayanti . yang menunjukkan peningkatan 1,5 kali risiko penyalahgunaan narkoba ringan pada kelompok ini. Pembahasan ini memperlihatkan bagaimana faktor perkembangan kognitif, kondisi struktural keluarga dan ekonomi, serta mekanisme kontrol sosial saling berinteraksi menciptakan kerentanan terhadap perilaku delinkuen pada berbagai kelompok usia. Temuan ini sekaligus menantang pendekatan hukum yang terlalu menekankan pada pertanggungjawaban individual tanpa mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang membentuk perilaku tersebut. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan analisis komprehensif terhadap faktor-faktor delinkuensi anak, penelitian ini menyimpulkan tiga temuan utama yang menjawab tujuan penelitian: Pertama, pembagian tanggung jawab delinkuensi anak terbukti bersifat developmental. Pada kelompok usia 0-12 tahun, tanggung jawab sepenuhnya bersifat eksternal . %) karena keterbatasan kapasitas kognitif, sebagaimana tercermin dalam kasus vandalisme yang terkait erat Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Analisis Penyebab serta Penanggulangan Delinkuensi Anak: Peran Keluarga. Lingkungan Sosial, dan Tanggung Jawab Kolektif Abdiyana Ihsan. Iqrak Sulhin. Nadya Susriliani Pratama dengan pola asuh permisif (OR=1. Sementara pada remaja 12-18 tahun, meskipun faktor eksternal . ondisi sosial-ekonomi dan pengaruh teman sebay. masih dominan . -85%), telah muncul tanggung jawab kognitif individu . -20%) seiring perkembangan kemampuan moral Kedua, analisis faktor eksternal mengungkapkan dua determinan struktural kritis: . disfungsi keluarga . hususnya broken home yang meningkatkan risiko 2x lipa. , dan . deprivasi ekonomi (=0. yang menciptakan mata rantai kumulatif antara kemiskinan, akses pendidikan terbatas, dan paparan lingkungan kriminal. Temuan ini memperkuat relevansi Teori Disorganisasi Sosial dalam konteks Indonesia. Ketiga, sintesis perspektif teoretik menghasilkan model integratif baru yang menjelaskan delinkuensi anak sebagai hasil interaksi antara: . kerentanan struktural . emiskinan, ketimpanga. , . pelemahan kontrol sosial . engasuhan tidak konsisten, mobilitas orang tu. , dan . pembentukan identitas subkultur sebagai mekanisme adaptasi terhadap status frustration. Esensi temuan penelitian ini adalah : . Paradigma Tanggung Jawab Developmentalis: Perlu pengakuan diferensial terhadap pertanggungjawaban delinkuensi berdasarkan tahapan perkembangan kognitif-moral anak. Kerangka Ekologi Delinkuensi: Delinkuensi anak merupakan gejala sistemik yang merefleksikan kegagalan multi-level . eluarga, komunitas, kebijakan sosia. Model Intervensi Berjenjang: Pendekatan penanganan harus memadukan: . penguatan keluarga sebagai first line of defense, . program komunitas berbasis asset-based approach, dan . reformasi kebijakan protektif yang responsif terhadap kerentanan spesifik wilayah. Saran Penelitian ini secara komprehensif telah mengungkap kompleksitas faktor-faktor penyebab delinkuensi anak, mulai dari aspek perkembangan kognitif, pengaruh lingkungan keluarga, hingga determinan sosial-ekonomi. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa delinkuensi anak tidak dapat dipahami sebagai kesalahan individu semata, melainkan sebagai hasil interaksi antara faktor internal . erkembangan psikologi. dan eksternal . ingkungan sosial, ekonomi, dan Dalam konteks ini, pendekatan penanganan yang holistik dan berbasis bukti menjadi sangat penting untuk memutus mata rantai delinkuensi sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara optimal. Rekomendasi Kebijakan Program "Keluarga Hebat" untuk Penguatan Pola Asuh Berdasarkan temuan penelitian yang menunjukkan korelasi kuat antara pola asuh dan risiko delinkuensi, program penguatan keluarga seperti "Keluarga Hebat" (Kemensos, 2. perlu diperluas dan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik daerah. Program ini telah terbukti meningkatkan efektivitas pola asuh sebesar 25% melalui: . Pelatihan pengasuhan berbasis bukti bagi orang tua, khususnya di wilayah dengan tingkat delinkuensi tinggi. Pendampingan keluarga rentan, termasuk keluarga broken home dan keluarga dengan orang tua migran, untuk memperkuat ikatan emosional dan pengawasan terhadap anak. Kolaborasi dengan tokoh masyarakat untuk menciptakan ekosistem dukungan sosial yang lebih luas. Integrasi Layanan Psikologis di Sekolah Sekolah sebagai lingkungan kedua setelah keluarga memiliki peran strategis dalam deteksi dini dan pencegahan delinkuensi. Oleh karena itu, rekomendasi berikut perlu diimplementasikan: Penyediaan layanan konseling psikologis di setiap sekolah dengan fokus pada pengembangan keterampilan sosial-emosional . ocial-emotional learning / SEL). Pelatihan guru dan tenaga kependidikan untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal perilaku delinkuen, seperti bolos sekolah, agresivitas, atau keterlibatan dalam geng remaja. Program mentoring sebaya untuk membangun ketahanan diri . di kalangan remaja, terutama yang berasal dari latar belakang sosial-ekonomi rendah. Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Analisis Penyebab serta Penanggulangan Delinkuensi Anak: Peran Keluarga. Lingkungan Sosial, dan Tanggung Jawab Kolektif Abdiyana Ihsan. Iqrak Sulhin. Nadya Susriliani Pratama Rekomendasi Penelitian Lanjutan Studi Longitudinal tentang Dampak Media Digital pada Delinkuensi Perkembangan teknologi dan media digital telah mengubah dinamika sosial remaja, termasuk dalam konteks delinkuensi. Penelitian lanjutan diperlukan untuk: . Menganalisis korelasi antara paparan konten kekerasan di media sosial dengan peningkatan perilaku agresif pada remaja. Meneliti peran platform digital dalam pembentukan subkultur delinkuen, seperti geng online atau penyalahgunaan teknologi untuk kejahatan siber. Mengembangkan model intervensi digital literacy yang efektif untuk mencegah delinkuensi di era digital. Eksplorasi Konteks Spesifik Wilayah Mengingat keragaman sosio-kultural Indonesia, penelitian mendalam diperlukan untuk memahami variasi faktor delinkuensi di daerah perkotaan vs. pedesaan, serta wilayah dengan tingkat migrasi tinggi. Pernyataan penutup harus berisi ringkasan dan saran. Ringkasan tersebut harus menggambarkan jawaban yang diberikan untuk hipotesis dan/ atau tujuan penelitian atau temuan yang diperoleh. Ringkasan tidak boleh berisi pengulangan hasil penelitian dan diskusi, dan sebagai gantinya harus berisi ringkasan hasil penelitian dan temuan seperti yang diharapkan dalam tujuan penelitian atau hipotesis. Saran harus menyajikan hal-hal yang selanjutnya akan dilakukan dalam kaitannya dengan konsep penelitian selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA