AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Wahyu Catur Perdana PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONALISME GURU MELALUI PELATIHAN MODERASI BERAGAMA DI BALAI DIKLAT KEAGAMAAN SURABAYA Wahyu Catur Perdana UIN Sunan Ampel Surabaya 06020321051@student. Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai peningkatan kompetensi profesionalisme guru melalui pelatihan moderasi beragama di balai diklat keagamaan Surabaya. Pendekatan penelitian yang digunakan bersifat kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mencakup wawancara, observasi, serta Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Peningkatan kompetensi profesionalisme guru melalui pelatihan moderasi beragama di balai diklat keagamaan Surabaya sangat memuaskan dan berjalan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Pelatihan moderasi beragama tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kompetensi profesionalisme guru, tetapi juga berdampak langsung pada pengelolaan kelas dan pembentukan karakter siswa. Keywords: Peningkatan Kompetensi. Kompetensi Profesionalisme Guru. Pelatihan Moderasi Beragama. PENDAHULUAN Guru adalah perencana, pelaksana, pengevaluasi dan pengembang kurikulum bagi kelasnya. Seorang guru ikut berperan serta dalam upaya membentuk sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Sebagai salah satu komponen penting yang mempunyai kewenangan serta tanggung jawab membimbing serta membina murid, baik secara individual maupun klasikal di sekolah . roses belajar mengaja. maupun di luar sekolah, guru wajib memiliki empat standar kompetensi. Apalagi saat ini hampir setengah dari jumlah guru di Indonesia sudah mempunyai sertifikat sertifikasi, yang berarti mereka sudah lulus sebagai seorang guru profesional yang keempat kompetensi tersebut harus selalu dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas kesehariannya. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen menyatakan, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru Halaman 626 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Peningkatan kompetensi Profesionalisme Guru Wahyu Catur Perdana atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. 1 Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesionalisme yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Masalah kompetensi profesionalisme guru merupakan salah satu dari tenaga kependidikan memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan tugas itu. Profesionalisme adalah kebutuhan yang tidak dapat tunda lagi, semakin meningkatnya persaingan yang semakin ketat dalam era globalisasi maka perlu ditingkatkan lagi profesionalisme dari seorang guru. Untuk meningkatkan profesionalisme guru maka guru dituntut untuk melakukan proses pembelajaran yang lebih inovatif kepada peserta didik. Kompetensi profesional meliputi sebagai berikut, . menguasai struktur dan materi kurikulum bidang . menguasai substansi bidang studi dan metodologi keilmuannya. menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam . mengorganisasikan materi kurikulum bidang studi. meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas. Selain melalui kompetensi profesional guru seperti yang sudah tertera diatas, seorang guru juga dapat meningkatan kompetensi profesionalisme melalui pelatihan moderasi beragama. Moderasi beragama merupakan Tindakan paling sempuna dalam menangani masalah di berbagai wilayah lokal yang memiliki keberagaman agama. Secara umum, terdapat alasan penting untuk menghubungkan antara pendidikan dengan moderasi, yaitu terkait penguatan pemahaman tentang moderasi dan paham keagamaan dalam Alasan penguatan pemahaman keagamaan ini memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan dengan upaya untuk menanggulangi munculnya pemikiran keagamaan konservatif yang masih enggan menerima realitas keragaman dan perbedaan. Pemahaman keagamaan tersebut secara umum lebih cenderung mengarah pada upaya memunculkan identitas baru dalam mengekspresikan sikap keagamaannya yang resisten terhadap budaya dan kearifan lokal, bahkan mengarah pada sikap enggan untuk menerima dasar Dalam (Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 7272 Tahun 2019, 2. menjelaskan Moderasi beragama berarti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan, moral, dan watak sebagai ekspresi sikap keagamaan individu atau kelompok tertentu. Perilaku keagamaan yang didasarkan pada nilai-nilai keseimbangan tersebut konsisten dalam mengakui dan memahami individu maupun kelompok lain yang berbeda. Dengan demikian, moderasi beragama memiliki pengertian seimbang dalam memahami ajaran agama, di mana sikap seimbang tersebut diekspresikan secara konsisten dalam memegangi prinsip ajaran agamanya dengan mengakui keberadaan pihak Perilaku moderasi beragama menunjukkan sikap toleran, menghormati atas 1 Khaeroni. AuPeningkatan Kompetensi Profesional Guru Dalam Bidang Moderasi Beragama Melalui Pelatihan Di Wilayah Kerja (Pdw. Dan Pelatihan Reguler. Ay Hal 03. 2 (Sulastri. Happy Fitria. Alfroki Martha, 2. Hal 260. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 627 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Wahyu Catur Perdana setiap perbedaan pendapat, menghargai kemajemukan, dan tidak memaksakan kehendak atas nama paham keagamaan dengan cara kekerasan. Pelatihan Moderasi Beragama saat ini menjadi agenda bersama untuk dikuatkan, diimplementasikan dalam berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia. Moderasi beragama dipandang banyak kalangan akan efektif untuk menangkis bahaya radikalisme, terorisme dan ektrimisme yang saat ini menjadi isu sentral yang memerlukan penanganan multi sektor. Upaya pencegahan radikalisme, terorisme dan ektrimisme tidak bisa hanya mengandalkan sektor keamanan semata atau sektor politik semata, tetapi semua sektor perlu terlibat. Termasuk di antaranya sektor pendidikan yang di dalamnya terdapat lembaga pendidikan serta warganya. Melalui pendidikan dan pembelajaran, diharapkan bukan hanya siswa atau mahasiswa bisa menyerap nilai-nilai yang dapat menghalanginya ke dalam proses radikalisme, terorisme dan ektrimisme, tetapi juga kalangan guru atau tenaga pendidik secara keseluruhan. Nilai-nilai tersebut termasuk nilai kebangsaan, kemanusiaan dan keagamaan yang diharapkan bisa menumbuhkan sikap humanis, toleran, ramah, dan cinta damai. Sikap ini penting untuk membangun harmoni sosial ditengah kemajemukan masyarakat Indonesia. Pelathihan moderasi beragama menjadi langkah pencegahan radikalisme, terorisme dan ektrimisme yang menjadi perhatian banyak Lembaga atau kementerian, termasuk didalamnya Kementerian Agama (Kemena. dan juga Lembaga Balai Diklat Keagamaan yang menangani pelaksanaan pendidikan dan pelatihan tenaga administrasi serta juga tenaga teknis keagamaan salah satunya seorang guru yang sesuai dengan wilayah kerja masing-masing di seluruh Indonesia. Sehubung dengan permasalahan diatas telah dijelaskan bahwa penulis merasa tertarik untuk memperdalam penelitian mengenai urgensi dalam peningkatan kompetensi professional seorang guru melalui pelatihan moderasi beragama di Balai Diklat Keagamaan Surabaya. Peningkatan Kompetensi Profesionalisme Guru Konsep kompetensi menjadi bagian penting dari pendidikan, ekonomi, sosial, politik, dan budaya di beberapa negara. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat . Aukompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalannyaAy. Wujud profesional atau tidak seorang guru diwujudkan dengan sertifikat Hal ini sesuai dengan penjelasan pasal 1 ayat . yang menyatakan bahwa Au sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Sementara 3 (Najmi, 2. Hal 18. 4 Ai Fatimah Nur Fuad. Nurjanah. AuPelatihan Pengarusutamaan Moderasi Beragama Bagi Generasi Milenial Dki Jakarta. Ay Hal 26. Halaman 628 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Peningkatan kompetensi Profesionalisme Guru Wahyu Catur Perdana menurut Broke & Stone mengemukakan bahwa kompetensi sebagai Aydescriptive of qualitative nature of teacher behavior appears to be entirely meaningfullAy. Artinya kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru atau tenaga kependidikan yang tampak sangat berarti. Profesionalisme berasal dari kata profesi yang memiliki arti suatu bidang pekerjaan yang ingin ditekuni oleh seseorang. Profesi juga memili arti sebagai suatu jabatan pekerjaan yang diperoleh dari Pendidikan akademis yang intensif. Jadi, profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut seseorang terhadap suatu keahlian tertentu atau suatu pekerjaan suatu profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, tetapi memerlukan sebuah persiapan melalui suatu Pendidikan dan pelatihan secara khusus. 6 Profesionalisme merupakan suatu tingkah laku, tujuan dan sebuah kualitas yang dapat menandai suatu profesi seseorang dan profesionalisme mengandung pengertian yang dapat menjalankan suatu profesi untuk keuntungan yang dijadikan sebagai sumber Menurut Nata dalam buku yang berjudul Profesi Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Profesionalisme merupakan suatu pandangan terhadap suatu bidang kerja, yaitu suatu pandangan yang memandang bidang kerja sebagai fungsi dari suatu keterampilan tertentu dan menganggap bahwa keterampilan tersebut merupakan suatu hal yang perlu diperbaharui dengan memanfaatkan kegiatan ilmiah. 8 Sedangkan Menurut Uwes dalam bukunya yang berjudul Kepala Sekolah Dan Guru Profesional. Profesionalisme guru adalah guru yang menguasai, mampu mengembangkan dan bertanggung terhadap disiplin ilmu, memiliki kemampuasn berinteraksi dengan anak didik secara professional, yang dapat melindungi dan menghormati hahak-hak anak didik, menjadi teladan dalam sikap dan pemikiran, berkemampuan Menyusun kurikulum . atuan pelajara. yang relevan, efektif dan efisien, memberikan informasi yang luas, menciptakan suasana sekolah yang konduktif bagi pengembangan anak didik, membuat sistem penilaian yang benar serta pemantauan dan evaluasi yang teratur, sebagai kegiatan-kegiatan yang langsung berhubungan baik dengan transfer knowledge and attitude maupun pengembangan scientific attitude anak 9 Berdasarkan dengan pendapat para ahli diatas, peneliti dapat menyimpukan bahwa peningkatan kompetensi profesionalisme guru adalah sebuah proses berkelanjutan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan, dan sikap guru agar dapat menjalankan tugasnya sebagai pendidik secara optimal. Ini mencakup upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, mengikuti perkembangan ilmu 5 Sutikno. AuUpaya Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Pengembangan Diri. Ay Hal 48. 6 Fauzi. AuPeningkatan Profesionalisme Guru Melalui Supervisi Klinis. Ay. Hal. 7 Baso. AuPeran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Agama Di Sekolah Khoiriyah Wittaya Mulnithi Provinsi Yala (Thailand Selata. Ay. Hal. 8 Dr. Rusydi Ananda. Pd. Profesi Pendidik Dan Tenaga Kependidikan. Hal. 9 Dr. Sri Rahmi. MA. Kepala Sekolah Dan Guru Profesional. Hal. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 629 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Wahyu Catur Perdana pengetahuan dan teknologi, serta menerapkan teknik-teknik pembelajaran terbaik dalam pendidikan. Pelatihan Moderasi Beragama Menurut Handoko. Pelatihan . dimaksudkan untuk menguasai berbagai keterampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu terinci dan rutin. Pelatihan merupakan proses pendidikan jangka pendek bagi karyawan operasional untuk memperoleh ketrampilan operasional sistematis. 10 Sedangkan menurut Mathies, pelatihan merupakan proses seorang karyawan agar memperoleh dan meningkatkan kemampuan baru untuk melakukan suatu Pelatihan memberikan pengetahuan dan keterampilan yang spesifik kepada karyawan serta dapat digunakan dalam pekerjaan mereka saat itu juga. Pada definsi tersebut dijelaskan bahwa selama kegiatan pelatihan, karyawan diharapkan mampu meningkatkan kemampuannya pada suatu pekerjaan Pekerjaan yang diberikan biasanya sudah ditentukan sesuai kebutuhan organisasi, hal tersebut berarti bahwa pelatihan hanya dilakukan dalam jangka waktu yang pendek. Pelatihan bagi karyawan atau tenaga pendidik akan memberikan kesempatan bagi mereka mengembangkan keahlian dan kemampuan baru dalam bidang pekerjaan yang digelutinya. Hal ini bertujuan agar apa yang diketahui dan dikuasai saat ini maupun untuk masa mendatang semakin menjadi baik. Pelatihan dianggap menjadi sarana yang dapat meningkatkan kualitas, penambahan wawasan, kemampuan baru terhadap suatu bidang pekerjaan, dan untuk menunjang karir seorang karyawan atau tenaga pendidik, serta dalam menghadapi sikap toleransi moderasi beragama yang terdapat di berbagai instansi saat ini yang sangat krusial bahkan di masa mendatang. Moderasi berasal dari Bahasa Latin moderytio, yang berarti ke-sedang-an . idak kelebihan dan tidak kekuranga. Kata itu juga berarti penguasaan diri . ari sikap sangat kelebihan dan kekuranga. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyediakan dua pengertian kata moderasi, yakni: pengurangan kekerasan, dan penghindaran keekstreman. Jika dikatakan. Auorang itu bersikap moderatAy, kalimat itu berarti bahwa orang itu bersikap wajar, biasa-biasa saja, dan tidak ekstrem. Menganalogikan dari uraian diatas, moderasi adalah ibarat gerak dari pinggir yang selalu cenderung menuju pusat atau sumbu . , sedangkan ekstremisme adalah gerak sebaliknya menjauhi pusat atau sumbu, menuju sisi terluar dan ekstrem . Meminjam analogi ini, dalam konteks beragama, sikap moderat dengan demikian adalah pilihan untuk memiliki cara pandang, sikap, dan perilaku di tengah-tengah di antara pilihan ekstrem yang ada, sedangkan ekstremisme beragama adalah cara pandang, 10 (Muhammad Darari Bariqi, n. ),Hal. 11 (Agus Dwi Cahya. Daru Amanta rahmadani. Dkk, 2. Hal. 12 (Arviana Wulandari, n. Hal. Halaman 630 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Peningkatan kompetensi Profesionalisme Guru Wahyu Catur Perdana sikap, dan perilaku melebihi batas-batas moderasi dalam pemahaman dan praktik beragama. Moderasi beragama adalah cara memandang dan bertindak di tengah, dalam arti kita menyikapi sebuah kejadian atau mengamatisebuah kenyataan yang terjadi secara seimbang sesuai ajaran agama, juga menyikapi berbagai hal keragamaan yang ada di dalam masyarakat dengan membudayakan sikap saling menolong, menghormati, toleransi, baik dengan seagama atau tidak seagama, beda budaya, suku dan lain sebagainya hal itu tudak menjadikan goyah dalam memiliki rasa menghargai dengan sesama dalam rangka mewujudkan kedamaian serta keutuhan Negara Republik Indonesia. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa. Pelatihan Moderasi Beragama bertujuan untuk memperkuat pemahaman dan sikap moderat dalam beragama, baik dalam keyakinan maupun praktik, guna mencegah ekstremisme dan radikalisme. Pelatihan ini menekankan pentingnya toleransi, penghargaan terhadap keberagaman, serta hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang majemuk. Melalui pelatihan ini, peserta diajak untuk memahami nilai-nilai kebersamaan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap hak-hak orang lain, tanpa mengorbankan keyakinan Kesimpulannya, pelatihan ini bertujuan menciptakan individu dan komunitas yang mampu menjaga kerukunan, mengedepankan dialog, serta mencegah konflik berbasis agama. Peningkatan Kompetensi Profesionalisme Guru Melalui Pelatihan Moderasi Beragama di Balai Diklat Keagamaan Surabaya Balai Diklat Keagamaan Surabaya menyelenggarakan pelatihan penguatan Penggerak Moderasi Beragama profesionalisme guru. Untuk itu, secara spesifik kajian ini untuk evaluasi pelaksanaan pelatihan moderasi beragama dan bagaimana sikap moderasi beragama para ASN penggerak penguatan moderasi beragama Kementerian Agama. Manfaat kajian ini dapat memetakan sikap moderasi beragama penggerak moderasi beragama dan perbaikan penyelenggaraan pelatihan moderasi beragama. Pelatihan penguatan penggerak moderasi beragama Balai Diklat Keagamaan Surabaya menunjukkan bahwa responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 70%. Peserta terbanyak dari unsur guru madrasah dan mayoritas responden beragama Islam. Pelatihan penguatan penggerak moderasi beragama ASN Kementerian Agama Jawa Timur telah dilaksanakan pada bulan Maret sampai April 2024. Penyelenggaraan pelatihan penguatan penggerak moderasi beragama oleh Balai Diklat Keagamaan Surabaya ditinjau dari beberapa komponen pelatihan menunjukkan hasil memuaskan. Kepuasan peserta 13 (Lukman Hakim Saifuddin, 2. Hal. 14 (Ahmad Alvi Harismawan. Moch Hafid Alhawawi. Dkk, 2. Hal. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 631 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Wahyu Catur Perdana terhadap keseluruhan komponen penyelenggaraan pelatihan menunjukkan bahwa 71% menyatakan sangat puas, dan 28% menyatakan puas, sebagaimana Komponen penyelenggaraan yang memiliki skor kepuasan tertinggi adalah . Kesigapan penyelenggara dalam melayani peserta dalam proses pelatihan, . Bahan ajar mudah dipahami, . Kesesuaian materi pelatihan dengan harapan, . Kesesuaian metode pelatihan dengan materi, . Ketercukupan waktu penyelenggaraan pelatihan dengan materi yang diberikan, . Fasilitas pelatihan mudah digunakan . Ketercukupan waktu dalam mengerjakan tugas, kuis atau Pelatihan penguatan moderasi beragama tentang sikap moderasi beragama ditinjau dari jenjang kepegawaian, jenjang pendidikan dan jenis pekerjaannya, adalah sebagai berikut: Rerata skor sikap moderasi beragama dari ASN penggerak moderasi beragama setiap jenjang, usia, maupun pendidikan ASN menunjukkan hasil sikap yang relatif sama, dan rerata keseluruhan skor sikap moderasi beragama ASN adalah 3,75. Hasil pada unsur dari sikap moderasi beragama menunjukkan bahwa komitmen kebangsaan, sikap anti kekerasan dan sikap toleransi para penggerak moderasi beragama cukup tinggi, sedangkan sikap akomodasi terhadap budaya lokal cukup. Penyelenggaraan pelatihan yang masih rendah adalah pada ketercukupan waktu dalam mengerjakan tugas, kuis atau ujian. Peserta menganggap waktu kurang mencukupi, karena beberapa tugas pelatihan yang harus diselesaikan peserta. Pada komponen-komponen penyelenggaraan yang lain telah menunjukkan kepuasan, seperti pada kesigapan penyelenggara dalam melayani peserta dalam proses pelatihan, bahan ajar mudah dipahami, kesesuaian materi pelatihan dengan harapan, metode pelatihan dengan materi, dan fasilitas yang mudah dimanfaatkan. Studi ini menunjukkan bahwa sikap moderasi beragama pada setiap individu ASN berbeda dengan angka yang tipis, sikap moderasi beragama memiliki nilai hampir sama. Sikap moderasi beragama menunjukkan nilai beragam jika dilihat dari tingkat pendidikannya, yaitu bahwa ASN berpendidikan S-3 memiliki skor moderasi beragama yang lebih tinggi dibandingkan S-2, dan S-1. Data sikap moderasi beragama para ASN menunjukkan skor unsur-unsur moderasi beragama juga bervariasi. Skor tertinggi adalah pada komitmen kebangsaan, anti kekerasan dan toleransi, sedangkan yang terendah adalah sikap akomodatif terhadap budaya lokal. Bapak Agus menjelaskan bahwa sikap moderasi beragama para ASN yang bervariasi menunjukkan bahwa terdapat berbagai faktor pembentuk sikap moderasi, seperti aspek sosial budaya, keyakinan agama, lingkungan, pendidikan, keluarga dan suku. Membangun sikap moderasi dimulai dari lingkungan pendidikan baik pendidikan formal di sekolah, pendidikan informal di keluarga, maupun pendidikan nonformal di masyarakat. Pendidikan formal dapat menjadi wahana tumbuh kembangnya sikap moderasi beragama siswa sebagai elemen masyarakat. Pengembangan sikap moderasi melalui Halaman 632 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Peningkatan kompetensi Profesionalisme Guru Wahyu Catur Perdana pembelajaran yang mengajarkan konsep moderasi beragama, membiasakan sikap menjunjung tinggi akhlak mulia mendasarkan pada Islam Aurakhmatan lilalaminAy. Sebagaimana data diatas telah diperkuat dengan hasil wawancara dengan salah satu peserta diklat terkait peningkatan kompetensi profesionalisme guru melalui pelatihan moderasi beragama:15 Nama: Bapak Ahmad Yusuf Profesi: Guru Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 2 Surabaya Tanggal Wawancara: 7 April 2024 Pertanyaan 1: Bagaimana kesan Bapak terhadap pelatihan moderasi beragama yang diselenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan Surabaya? Jawaban: "Menurut saya, pelatihan ini sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Sebagai guru, saya sering menghadapi perbedaan pandangan di antara siswa yang kadang menimbulkan gesekan. Melalui pelatihan ini, saya lebih memahami konsep moderasi beragama, yaitu bagaimana menyeimbangkan nilai-nilai agama tanpa meminggirkan toleransi. Pemateri juga sangat kompeten, sehingga materi yang disampaikan mudah dipahami dan langsung bisa saya Pertanyaan 2: Apakah pelatihan ini membantu Bapak dalam meningkatkan kompetensi profesionalisme sebagai guru? Jawaban: "Sangat membantu, terutama dalam aspek pedagogik dan sosial. Saya jadi lebih memahami bagaimana menerapkan nilai-nilai moderasi beragama dalam proses pembelajaran, bukan hanya melalui materi ajar tetapi juga dalam pendekatan kepada siswa. Kompetensi profesionalisme saya meningkat karena pelatihan ini mengajarkan cara memfasilitasi dialog antar siswa yang berbeda latar belakang dengan cara yang konstruktif dan penuh empati. Pertanyaan 3: Apakah ada tantangan yang Bapak rasakan dalam menerapkan hasil pelatihan ini di sekolah? Jawaban: "Tentu ada. Tantangan utamanya adalah resistensi dari sebagian siswa dan bahkan rekan kerja yang masih memegang pandangan ekstrem. Namun, melalui pelatihan ini, saya belajar cara-cara efektif untuk menyampaikan nilai moderasi tanpa terkesan memaksakan. Pendekatan personal dan diskusi kelompok menjadi strategi yang saya gunakan untuk menanamkan nilai-nilai ini secara Pertanyaan 4: Apakah Bapak memiliki harapan terkait program serupa di masa Jawaban: 15 Hasil Wawancara Bapak Ahmad Yusuf, 7 April 2024. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 633 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Wahyu Catur Perdana "Harapan saya, pelatihan seperti ini bisa diperluas ke lebih banyak guru, terutama di daerah-daerah yang memiliki keragaman agama dan budaya tinggi. Selain itu, mungkin perlu ada tindak lanjut atau pendampingan setelah pelatihan untuk memastikan implementasi berjalan dengan baik. Dengan begitu, dampaknya bisa lebih terasa, baik di tingkat sekolah maupun masyarakat. Hasil wawancara ini menunjukkan bahwa pelatihan moderasi beragama tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kompetensi profesionalisme guru, tetapi juga berdampak langsung pada pengelolaan kelas dan pembentukan karakter siswa. KESIMPULAN Peningkatan kompetensi profesionalisme guru melalui pelatihan moderasi beragama di balai diklat keagamaan Surabaya sangat memuaskan dan berjalan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Sebagaimana dengan penjelasan diatas dapat menunjukan bahwa sikap moderasi beragama para penggerak moderasi beragama menunjukkan skor tinggi. Pengembangan sikap moderat perlu dilakukan pelatihan moderasi beragama secara berkelanjutan. Penyelenggaraan pelatihan penguatan penggerak moderasi beragama perlu penambahan waktu agar peserta dapat leluasa menguasai subtansi materi moderasi beragama. Pelatihan dapat menggunakan berbagai strategi dan dapat diperkuat dengan metode diskusi, kerja kelompok dan karya wisata. DAFTAR PUSTAKA