DE_JOURNAL (Dharmas Education Journa. http://ejournal. id/index. php/de_journal E-ISSN : 2722-7839. P-ISSN : 2746-7732 Vol. 6 No. , 253-259 Implementasi Nilai-Nilai Aswaja An-Nahdliyah Dalam Menangkal Radikalisme Di Mts Berbasis Pesantren (Studi Kasus Di Mts Riyadul Huda Majalengk. Ade Tubagus Hasim Abdurrahman Wahid. Asriana Kibtiyah. Universitas Hasyim AsyAoari Adetubagus7@gmail. com, 2asriana22d69@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam menangkal radikalisme di Madrasah Tsanawiyah Riyadul Huda Majalengka, sebuah madrasah yang berbasis pesantren. Maraknya penyebaran paham radikalisme berbasis agama menuntut lembaga pendidikan, khususnya madrasah, berperan aktif dalam membangun karakter siswa yang moderat, toleran, dan cinta damai. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi nilai-nilai Aswaja, seperti tawasuth, tasamuh, tawazun, dan iAotidal, dilakukan melalui pembelajaran formal, pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan madrasah, serta melalui kegiatan ekstrakurikuler. Implementasi ini berimplikasi positif dalam membentuk sikap keagamaan siswa yang moderat dan menumbuhkan ketahanan ideologis terhadap pengaruh paham radikal. Keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh dukungan kuat dari pimpinan madrasah, guru Aswaja, serta lingkungan pesantren yang kondusif, meskipun masih menghadapi tantangan dalam penguatan pemahaman siswa secara berkelanjutan. Kata Kunci : Madrasah Tsanawiyah. Nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah. Pendidikan Pesantren. Radikalisme. Abstract This study aims to describe the implementation of the values of Aswaja An-Nahdliyah in counteracting radicalism in Madrasah Tsanawiyah Riyadul Huda Majalengka, a boarding schoolbased madrasah. The widespread spread of religious-based radicalism requires educational institutions, especially madrasas, to play an active role in building the character of moderate, tolerant, and peace-loving students. The study used a qualitative approach with data collection techniques through interviews, observations, and documentation. The results showed that the implementation of values Aswaja, such as tawasuth, tasamuh, tawazun, and I'tidal, was done through formal learning, and habituation in everyday life in the madrasah and extracurricular activities. This implementation has positive implications in shaping students ' moderate religious attitudes and fostering ideological resistance to the influence of radicalism. The success of the implementation is influenced by strong support from madrasah leaders. Aswaja teachers, and a conducive pesantren environment, although it still faces challenges in strengthening student understanding on an ongoing basis. Keywords: Madrasah Tsanawiyah. Aswaja An-Nahdliyah Values. Pesantren-based Education. Radicalism. Ade Tubagus Hasim Abdurrahman Wahid. Asriana Kibtiyah. | Implementasi Nilai-Nilai Aswaja An-Nahdliyah Dalam Menangkal Radikalisme Di Mts Berbasis Pesantren (Studi Kasus Di Mts Riyadul Huda Majalengk. Pendahuluan Radikalisme berbasis agama merupakan salah satu ancaman serius bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia (Rozi, 2. Penyebaran terkait paham radikal kian zaman sangat mudah menjangkau berbagai lapisan masyarakat, yang salah satunya termasuk generasi muda saat ini, seiring berkembangnya teknologi informasi dan media sosial. Kelompok-kelompok radikal kerap memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan ideologi kekerasan, intoleransi, dan eksklusivisme agama yang bertentangan dengan prinsip Islam rahmatan lil Aoalamin (Khoirunissa, 2. Di tengah kondisi tersebut, pendidikan menjadi arena strategis dalam membangun ketahanan ideologis siswa sejak dini. Melalui proses pendidikan, siswa tidak hanya dibekali dengan pengetahuan akademik, melainkan juga ditanamkan nilai-nilai keagamaan yang moderat dan toleran (Khamim et al. , 2. Pendidikan agama yang bersifat inklusif, adaptif, dan sesuai dengan konteks ke-Indonesiaan sangat dibutuhkan untuk menangkal penetrasi ideologi radikal di lingkungan sekolah (Madanih, 2. Salah satu pendekatan yang memiliki potensi besar dalam upaya deradikalisasi melalui pendidikan adalah penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaj. An-Nahdliyah (Amir et al. , 2. Nilai-nilai ini mengajarkan prinsip tawasuth . , tasamuh . , tawazun . , dan iAotidal . , yang sangat relevan dalam membentuk karakter siswa agar bersikap inklusif, cinta damai, dan menjunjung tinggi kemanusiaan (Sodikin & Ma`arif, 2. Dalam konteks Pendidikan, internalisasi nilai-nilai Aswaja di lembaga pendidikan merupakan strategi preventif yang efektif untuk membangun ketahanan spiritual dan ideologis generasi muda terhadap pengaruh paham-paham ekstrem. (Ashoumi et al. , 2. Madrasah Tsanawiyah (MT. sebagai lembaga pendidikan formal berciri khas Islam memiliki posisi yang sangat strategis dalam upaya tersebut (Kenedi & Hartati, 2022. Subhan. Apalagi di madrasah yang berbasis pesantren, seperti MTs Riyadul Huda Majalengka memiliki keunggulan dalam penguatan karakter berbasis nilai-nilai Aswaja yang diintegrasikan ke dalam kurikulum, budaya madrasah, dan kegiatan ekstrakurikuler. Lingkungan pesantren yang kental dengan tradisi keagamaan moderat memberikan ruang bagi siswa untuk menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Aswaja dalam kehidupan sehari-hari (Pratomo, n. Solichin, 2. Namun demikian, proses implementasi nilai-nilai Aswaja dalam rangka menangkal radikalisme tentu tidak tanpa tantangan. Diperlukan strategi yang sistematis dan berkesinambungan agar internalisasi nilai-nilai tersebut benar-benar mampu membentuk ketahanan ideologis siswa yang kokoh di tengah gempuran narasi-narasi radikal (Asmani. Irawan et al. , 2. Oleh sebab itu, kajian empiris tentang bagaimana proses ini berlangsung di lapangan menjadi sangat penting. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini yaitu: . Untuk mendeskripsikan secara mendalam implementasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam menangkal radikalisme di MTs Riyadul Huda Majalengka. Untuk menganalisis implikasi implementasi tersebut terhadap sikap dan karakter siswa. Untuk mengidentifikasi faktorfaktor pendukung dan penghambat yang dihadapi dalam proses implementasi nilai-nilai Aswaja di lingkungan madrasah. Ade Tubagus Hasim Abdurrahman Wahid. Asriana Kibtiyah. | Implementasi Nilai-Nilai Aswaja An-Nahdliyah Dalam Menangkal Radikalisme Di Mts Berbasis Pesantren (Studi Kasus Di Mts Riyadul Huda Majalengk. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus (Assyakurrohim et al. , 2022. Rahardjo, 2. , yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai implementasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam menangkal radikalisme di MTs Riyadul Huda Majalengka. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi (Nurhayati et al. , 2024. Sugiyono. Untuk prosedur observasi dilakukan terhadap proses pembelajaran, kegiatan keagamaan di lingkungan pesantren, serta aktivitas ekstrakurikuler, sementara prosedur wawancara melibatkan Kepala Madrasah, guru mata pelajaran Aswaja, dan beberapa siswa. Kemudian untuk dokumentasi meliputi foto, video kegiatan, serta dokumen kurikulum dan silabus. Informan dipilih secara purposive, dengan mempertimbangkan pemahaman dan keterlibatan langsung mereka dalam implementasi nilai-nilai Aswaja. Data dianalisis secara tematik melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta divalidasi melalui triangulasi sumber dan metode (Fadilla & Wulandari, 2. Hasil Penelitian dan Pembahasan Pemahaman Nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah oleh Guru dan Santri Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dilakukan di MTs Riyadul Huda Majalengka, ditemukan bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. An-Nahdliyah telah tertanam kuat di kalangan pendidik dan peserta didik. Para guru memahami Aswaja tidak hanya sebagai identitas keagamaan, melainkan sebagai kerangka berpikir dan bertindak dalam menjalankan fungsi edukatif. Mereka menginternalisasikan nilai-nilai Aswaja seperti tawassuth . , tasamuh . , tawazun . , dan iAotidal . dalam interaksi sehari-hari, baik di dalam kelas maupun dalam kegiatan nonformal di lingkungan madrasah. Implementasi nilai-nilai tersebut juga tampak dalam cara guru menyikapi perbedaan pendapat di antara siswa. Guru mendorong diskusi yang terbuka, menghargai argumentasi yang berbasis nalar, serta menekankan pentingnya adab dalam perbedaan. Hal ini memperlihatkan bahwa pemahaman Aswaja bukan hanya bersifat teoritis, melainkan bersifat aplikatif dalam proses pendidikan. Dari sisi peserta didik, wawancara menunjukkan bahwa santri memiliki kesadaran akan pentingnya bersikap moderat dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi Mereka memahami bahwa keberagaman merupakan realitas yang harus dihargai, bukan dijadikan alasan untuk membenci atau memusuhi pihak lain. Santri juga menilai bahwa nilai-nilai Aswaja membimbing mereka dalam membentuk sikap religius yang damai dan penuh kasih sayang. Faktor pendukung utama dari penguatan pemahaman ini adalah adanya kesinambungan antara pendidikan formal dan kultural di lingkungan pesantren. Santri tidak hanya memperoleh materi Aswaja dalam ruang kelas, tetapi juga mengalaminya secara langsung melalui kegiatan keagamaan rutin seperti tahlilan, yasinan, dan pengajian kitab kuning. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi sarana konkret dalam memperkuat pemahaman nilai-nilai Aswaja yang bersumber dari tradisi ulama salaf. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah di MTs Riyadul Huda Majalengka tidak hanya hidup dalam tataran wacana, tetapi juga diimplementasikan secara nyata dalam budaya belajar dan kehidupan sosial di lingkungan madrasah. Strategi Implementasi Nilai-nilai Aswaja dalam Kegiatan Pembelajaran dan Kultural Strategi implementasi nilai-nilai Aswaja di MTs Riyadul Huda Majalengka dilakukan melalui integrasi menyeluruh dalam kegiatan pembelajaran formal, pembiasaan harian, serta Ade Tubagus Hasim Abdurrahman Wahid. Asriana Kibtiyah. | Implementasi Nilai-Nilai Aswaja An-Nahdliyah Dalam Menangkal Radikalisme Di Mts Berbasis Pesantren (Studi Kasus Di Mts Riyadul Huda Majalengk. aktivitas kultural dan keagamaan yang berkelanjutan. Tiga pendekatan utama yang diterapkan adalah sebagai berikut: Integrasi kurikulum, integrasi kurikulum dilakukan dengan memasukkan nilai-nilai Aswaja dalam mata pelajaran seperti: Akidah Akhlak. Fikih. SKI, dan Bahasa Arab. Nilainilai seperti tasamuh dan tawazun tidak hanya diajarkan secara tekstual, melainkan juga dikaitkan dengan realitas sosial dan tantangan keagamaan kontemporer. Guru-guru mengembangkan metode pembelajaran kontekstual dengan mengaitkan topik-topik pelajaran dengan isu-isu toleransi, perdamaian, dan bahaya radikalisme. Pembudayaan nilai, pembudayaan nilai Aswaja tercermin dalam kegiatan keagamaan rutin, seperti pembacaan shalawat, tahlil, yasinan, manaqiban, dan pengajian kitab kuning. Praktik-praktik ini membentuk habitus religius yang khas dan menanamkan semangat kebersamaan serta penghormatan terhadap tradisi ulama. Kegiatan ini juga memperkuat spiritualitas santri dengan narasi Islam yang ramah, damai, dan bersumber dari khazanah keilmuan pesantren. Keteladanan, keteladanan menjadi aspek krusial dalam internalisasi nilai. Para guru dan pengasuh pondok menjadi figur sentral yang menunjukkan sikap sabar, bijak, dan toleran dalam interaksi sosial. Santri meniru perilaku guru dalam menghadapi perbedaan dan menyelesaikan konflik. Keteladanan ini memberikan dampak signifikan karena memperlihatkan konsistensi antara ucapan dan tindakan dalam menanamkan nilai Aswaja. Selain itu, madrasah juga mengembangkan kegiatan kokurikuler seperti diskusi keislaman, pelatihan dakwah moderat, dan lomba ceramah bertema Aswaja. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan berpikir kritis santri, tetapi juga memperkuat narasi Islam wasathiyah . yang menjadi ciri utama Aswaja An-Nahdliyah. Dengan demikian, strategi implementasi nilai-nilai Aswaja di MTs Riyadul Huda tidak bersifat parsial, melainkan komprehensif dan berorientasi jangka panjang. Strategi ini terbukti efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang religius, inklusif, dan resisten terhadap infiltrasi paham keagamaan Peran Nilai-nilai Aswaja dalam Menangkal Paham Radikalisme Penerapan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah di lingkungan MTs Riyadul Huda terbukti memainkan peranan sentral dalam upaya pencegahan dan penanggulangan radikalisme Dalam konteks ini, nilai-nilai moderatisme yang diajarkan tidak hanya berfungsi sebagai penguatan identitas keagamaan, tetapi juga sebagai strategi deradikalisasi yang berbasis pendidikan dan budaya lokal, antara lain: Pertama, nilai tawassuth . mendorong siswa untuk menghindari sikap berlebihan, baik dalam hal keagamaan maupun sosial-politik. Santri diajarkan untuk mengambil jalan tengah dan tidak bersikap ekstrem. Ini terlihat dari respon mereka terhadap ajakan-ajakan mereka lebih memilih jalur dialog dan musyawarah ketimbang konfrontasi. Kedua, nilai tasamuh . membuka ruang untuk menghargai perbedaan baik antar mazhab maupun antaragama. Santri diberikan pemahaman bahwa Islam menghargai keberagaman dan menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama. Dalam praktiknya, santri menunjukkan sikap terbuka terhadap perbedaan, tidak mudah memvonis sesat, serta menghargai tradisi lokal sebagai bagian dari ekspresi keagamaan yang sah. Ketiga, nilai tawazun . membantu membentuk pola pikir yang adil dan proporsional dalam memahami teks-teks agama. Santri dilatih untuk tidak menafsirkan ajaran agama secara tekstual semata, melainkan mempertimbangkan konteks historis dan sosial dalam memahami hukum-hukum Islam. Ini menjadi tameng penting terhadap narasinarasi radikal yang cenderung memaksakan pemahaman literal dan skripturalis. Ade Tubagus Hasim Abdurrahman Wahid. Asriana Kibtiyah. | Implementasi Nilai-Nilai Aswaja An-Nahdliyah Dalam Menangkal Radikalisme Di Mts Berbasis Pesantren (Studi Kasus Di Mts Riyadul Huda Majalengk. Keempat, nilai iAotidal . memperkuat semangat keberpihakan terhadap kebenaran, kejujuran, dan penolakan terhadap kekerasan. Dalam pembelajaran, guru sering mengaitkan nilai ini dengan prinsip-prinsip HAM dan keadilan sosial, sehingga santri memiliki perspektif kritis terhadap ketidakadilan dan tidak mudah terprovokasi untuk melakukan tindakan destruktif. Kekuatan pendidikan Aswaja dalam menangkal radikalisme juga terletak pada sinergi antara pendidikan formal dan kultural. Pesantren menyediakan ruang refleksi spiritual yang mendalam dan memperkuat ikatan emosional santri terhadap nilai-nilai Islam yang damai. Praktik-praktik seperti dzikir, muhasabah, dan maulidan memperkaya pengalaman religius dan membentuk kepribadian yang seimbang. Dalam wawancara, beberapa santri menyebutkan bahwa mereka pernah menerima ajakan dari media sosial untuk mengikuti ceramah tokoh yang radikal, namun mereka menolak karena telah memahami bahwa ajaran tersebut bertentangan dengan prinsip Aswaja yang mereka pelajari di madrasah. Ini membuktikan bahwa internalisasi nilai Aswaja telah menumbuhkan daya imun ideologis dalam diri santri. Dengan demikian, nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah bukan hanya berfungsi sebagai identitas keagamaan, tetapi juga sebagai sistem nilai yang efektif dalam membendung radikalisme melalui pendekatan edukatif, spiritual, dan kultural yang menyeluruh. Tantangan Implementasi Meskipun pelaksanaan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah di MTs Riyadul Huda Majalengka menunjukkan dampak positif yang signifikan dalam membangun budaya keagamaan yang moderat dan antiradikalisme, akan tetapi terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas implementasi nilai-nilai tersebut, diantaranya yaitu: Tantangan eksternal yang paling dominan adalah derasnya arus informasi digital, terutama melalui media sosial, yang menjadi medium penyebaran narasi keagamaan radikal. Banyak santri yang memiliki akses terhadap platform digital tanpa memiliki kemampuan literasi digital yang memadai. Hal ini menyebabkan kerentanan terhadap propaganda ekstrem yang disamarkan melalui simbol-simbol religius dan dalil-dalil keagamaan yang diambil secara parsial. Dalam wawancara, beberapa guru menyatakan keprihatinannya terhadap meningkatnya paparan konten yang tidak sejalan dengan nilai Aswaja di kalangan Terdapat keterbatasan internal berupa minimnya ketersediaan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi mendalam dalam bidang Aswaja An-Nahdliyah. Tidak semua guru di MTs Riyadul Huda berlatar belakang pendidikan pesantren atau memiliki pelatihan khusus mengenai pengajaran nilai-nilai Aswaja. Hal ini menyebabkan penyampaian materi seringkali tidak optimal, terutama dalam menjawab tantangan ideologis kontemporer secara kontekstual dan argumentatif. Oleh karena itu, kebutuhan akan pelatihan rutin, seminar, dan workshop peningkatan kapasitas guru menjadi sangat mendesak. Terdapat kendala pada sisi kurikulum, yakni keterbatasan waktu dalam menyampaikan materi Aswaja secara menyeluruh. Mata pelajaran yang menjadi wahana utama penyampaian nilai-nilai Aswaja seperti Akidah Akhlak. Fikih, dan SKI seringkali terjebak dalam penyampaian materi normatif, tanpa ruang yang cukup untuk eksplorasi dialogis mengenai isu-isu keumatan, kebangsaan, dan kontestasi pemikiran keagamaan. Ini menyebabkan proses internalisasi nilai kurang mendalam dan berisiko menjadi formalitas Ade Tubagus Hasim Abdurrahman Wahid. Asriana Kibtiyah. | Implementasi Nilai-Nilai Aswaja An-Nahdliyah Dalam Menangkal Radikalisme Di Mts Berbasis Pesantren (Studi Kasus Di Mts Riyadul Huda Majalengk. Tantangan kultural juga muncul dari sebagian kecil santri yang masih menunjukkan kecenderungan eksklusivisme dalam beragama. Hal ini biasanya bersumber dari pengaruh lingkungan keluarga atau komunitas luar madrasah yang tidak sejalan dengan prinsip Aswaja. Guru dan pengasuh perlu bekerja ekstra untuk merekonstruksi cara pandang sempit tersebut melalui pendekatan persuasif, keteladanan, serta penanaman nilai-nilai toleransi dan dialog antar pandangan. Pendanaan juga menjadi tantangan struktural yang tidak dapat diabaikan. Untuk mengembangkan program-program penguatan nilai Aswaja yang bersifat inovatif dan adaptif, dibutuhkan alokasi dana yang cukup, baik untuk pelatihan guru, pengadaan bahan ajar kontekstual, maupun untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler yang bertema Islam Keterbatasan anggaran kadang menghambat realisasi ide-ide kreatif yang telah dirancang oleh pihak madrasah. Dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut. MTs Riyadul Huda telah mulai melakukan beberapa langkah strategis, seperti menjalin kerja sama dengan ormas Islam. Lembaga Bahtsul Masail, serta lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang deradikalisasi dan pendidikan perdamaian. Madrasah juga tengah mengembangkan program literasi digital Islami untuk membekali santri dengan kemampuan menyaring informasi keagamaan secara kritis. Dengan demikian, meskipun tantangan dalam implementasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah cukup kompleks dan multidimensional, kesadaran kolektif serta komitmen dari seluruh unsur madrasah menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan gerakan moderasi beragama di lingkungan pendidikan pesantren berbasis madrasah. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa implementasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah . awasuth, tasamuh, tawazun, dan i'tida. di MTs Riyadul Huda Majalengka berperan signifikan dalam menangkal radikalisme melalui tiga pendekatan utama: Pembelajaran formal yang mengintegrasikan nilai-nilai Aswaja dalam kurikulum, khususnya mata pelajaran Aswaja dengan metode diskusi kontekstual untuk membangun pemahaman moderat dan kritis terhadap isu radikalisme. Pembiasaan budaya madrasah melalui kegiatan sehari-hari . oleransi antar-siswa, penghormatan tradisi lokal, dan gotong royon. yang memperkuat internalisasi nilai-nilai inklusivitas dan kemanusiaan. Dukungan lingkungan pesantren sebagai ekosistem pendidikan yang kondusif, dengan kegiatan keagamaan . engajian, dzikir bersam. sebagai media penguatan karakter siswa. Implikasi positif terlihat pada sikap siswa yang lebih terbuka, resisten terhadap narasi intoleran di media sosial, dan memiliki ketahanan ideologis. Namun, tantangan seperti keragaman latar belakang siswa dan pengaruh media sosial memerlukan strategi berkelanjutan, termasuk pelibatan orang tua dan literasi digital. Dari penelitian ini merekomendasikan model integrasi nilai-nilai Aswaja berbasis pesantren sebagai rujukan bagi madrasah lain dalam upaya deradikalisasi. Model ini mengombinasikan pembelajaran formal, pembiasaan budaya madrasah, dan penguatan karakter melalui kegiatan keagamaan. Keberhasilan implementasi menuntut adanya evaluasi berkala agar proses internalisasi nilai tetap konsisten dan relevan. Selain itu, keterlibatan guru, pimpinan madrasah, dan lingkungan pesantren perlu terus diperkuat untuk menjaga efektivitas pendekatan ini. Ade Tubagus Hasim Abdurrahman Wahid. Asriana Kibtiyah. | Implementasi Nilai-Nilai Aswaja An-Nahdliyah Dalam Menangkal Radikalisme Di Mts Berbasis Pesantren (Studi Kasus Di Mts Riyadul Huda Majalengk. Daftar Pustaka