MIMBAR AGRIBISNIS Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis. Juli 2019. : 206-223 KESEJAHTERAAN PETANI PELAKU USAHATANI POLIKULTUR TERINTEGRASI DI KABUPATEN TASIKMALAYA THE WELFARE OF INTEGRATED POLYCULTURAL FARMERS IN TASIKMALAYA DISTRICT Rina Nuryati1*1. Lies Sulistyowati2. Iwan Setiawan2. Trisna Insan Noor2 Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi. Jl. Siliwangi No. 24 Tasikmalaya Fakultas Pertanian dan Sekolah Pascasarjana UNPAD. Jl. Raya Jatinangor Sumedang *E-mail corresponding: rinanuryati@unsil. (Diterima 27-03-2019. Disetujui 19-07-2. ABSTRAK Indonesia memiliki potensi lahan kering (LK) yang luas yang umumnya berstatus kritis dan terdapat di desa tertinggal yang sebagian besar dikelola petani miskin yang tidak mampu melaksanakan upaya konservasi, sehingga kondisinya memburuk. Pola pengembangan pertanian yang sesuai dengan karakteristik LK adalah usahatani terintegrasi. Usahatani terintegrasi memiliki tiga fungsi pokok, yaitu memperbaiki kesejahteraan dan mendorong pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan dan memelihara keberlanjutan lingkungan. Kesejahteraan keluarga petani merupakan output dari proses pengelolaan sumberdaya dan penanggulangan masalah yang dihadapi keluarga petani. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kesejahteraan petani pelaku UTPPT. Penelitian dilakukan dengan metode survey terhadap 250 orang petani di Kabupaten Tasikmalaya yang diambil secara proportional random sampling. Data dianalisis dengan analisis struktur pendapatan dan struktur pengeluaran/konsumsi pangan rumah tangga petani, serta Nilai Tukar Pendapatan Rumahtangga Pedesaan (NTPRP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga petani bersumber dari sektor pertanian dan non pertanian serta dari pendapatan anggota keluarga. Pendapatan dari sektor pertanian diperoleh dari usahatani polikultur . anaman kehutanan, perkebunan, hortikultura dan panga. dan usaha ternak. Kontribusi pendapatan usahaternak lebih besar . ,99%) dari pada usahatani polikultur . ,52%) dan non pertanian . ,49%), serta pendapatan anggota keluarga . ,91%). Pendapatan dari UTPPT penyumbang terbesar pendapatan rumah tangga petani. Sebanyak 71,46% keluarga petani proporsi pendapatan dari sektor pertanian >80%. Sebanyak 63,67% petani menggantungkan hidup sepenuhnya dari sektor pertanian. Pangsa pengeluaran pangan rumah tangga petani masih cukup tinggi, 42,19% keluarga petani pengeluaran untuk pangannya antara 60-80 % dan >80%. NTPRP bernilai >1, petani mengalami surplus sehingga termasuk kategori sejahtera. Kata kunci: Usahatani Polikultur Perkebunan Terintegrasi. NTPRP. Pangsa Pengeluaran Pangan ABSTRACT Indonesia has the potential for extensive dry land (LK) that was generally in critical status and are located in disadvantaged villages, most of which are managed by poor farmers who are unable to carry out conservation efforts, so that their conditions deteriorate. The pattern of agricultural development in accordance with the characteristics of FIs is integrated farming. Integrated farming has three main functions, namely improving welfare and encouraging economic growth, food security and maintaining environmental sustainability. The well-being of the farm family is the output of the resource management process and overcoming the problems faced by the farmer The study aims to determine the welfare of farmers who are UTPPT actors. Research was done by using survey method of 250 farmers in Tasikmalaya Regency that was determined by proportional random sampling. Data were analyzed by analysis of income structure and expenditure structure/consumption of farmer RT food, as well as the exchange rate of rural household income (NTPRP). The results of the study shows that the income of farmer households comes from the agricultural and non-agricultural sectors as well as from the income of family KESEJAHTERAAN PETANI PELAKU USAHATANI POLIKULTUR TERINTEGRASI DI KABUPATEN TASIKMALAYA Rina Nuryati. Lies Sulistyowati. Iwan Setiawan. Trisna Insan Noor Revenues from the agricultural sector are obtained from polyculture farming . orestry, plantation, horticulture and foo. and livestock business. The contribution of livestock business income is greater . 99%) than polyculture farming . 52%) and non-agricultural . 49%) and family member income . 91%). Income from UTPPT is the biggest contributor to farmer household income. A total of 71. 46% of farmer families share the income from the agricultural sector> 80%. As many as 63. 67% of farmers depend entirely on the agricultural sector. The share of food expenditure for farmer households is still quite high, 42. 19% of farmer households spend between 60-80% and> 80% on food. NTPRP has a value of> 1, farmers experience a surplus which includes the category of prosperity. Keywords: Integrated Plantation Farming Polyculture. NTPRP. Food Expenditure Share PENDAHULUAN lingkungan adalah cermin kelemahan dan Pembangunan pertanian selama ini keburukan pengelolaan lahan kering di Indonesia selama empat dekade terakhir. Investasi negara untuk pengembangan Hal ini perlu diwaspadai karena lahan kering . ntuk masyarakat kecil dan luas lahan sawah mengalami penurunan petan. sangat rendah, sehingga lahan akibat terjadinya alih fungsi kegiatan kering yang dikelola masyarakat petani non-pertanian degradasi lahan yang terus berlangsung. nfrastruktur, energi, entrepreneurship and brain power dan modal sosia. Akibat mendapatkan prioritas pada program peningkatan produksi pertanian. Bahkan, pembangunan ekologi masyarakat lahan pembangunan pertanian di lahan kering jauh tertinggal dibandingkan dengan gambaran relatif buruk dibandingkan pembangunan pertanian di lahan sawah. dengan ekologi lahan basah . Panadji . menyatakan lahan Argoekologi kering adalah bagian kedaulatan, asset terutama di daerah perbukitan atau negara dan masyarakat, yang tidak dapat kawasan Aumenara airAy alami, mengalami Negara akan mengalami kelumpuhan . angan, energi, ekonomi, dibandingkan dengan lahan basah di tempat tinggal dan jasa lingkunga. dataran rendah. Demikian juga dengan ketika perhatian terhadap lahan kering Krisis MIMBAR AGRIBISNIS Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis. Juli 2019. : 206-223 umumnya mengalami marjinalisasi yang . mencapai 75,1 juta ha. Lebih Abdurachman et al . masyarakat di lahan sawah (Panadji, menjelaskan bahwa dari total luas lahan kering 148 juta ha, yang sesuai untuk World Bank . menyatakan, budidaya pertanian sekitar 76,22 juta ha lahan kering merupakan lahan marjinal . , sebagian besar terdapat di yang dicirikan dengan tingkat kesuburan dataran rendah . ,71 juta ha atau 93 perse. dan sisanya di dataran tinggi . ,51 juta ha atau 7 perse. Di wilayah . efisiensi dataran rendah, lahan datar sampai Masyarakatnya bergelombang . ereng < 15 perse. yang aksesibilitas terhadap komunikasi, tidak sesuai untuk tanaman pangan mencakup mempunyai mobilitas terhadap aspek 23,26 juta ha sedang pada lahan dengan sosial dan ekonomi, rapuh . apasitas lereng 15-30 persen lebih seusai untuk penyerapan input yang rendah, kapasitas tanaman tahunan . ,45 juta h. bertahan terhadap gangguan terbatas, dataran tinggi, lahan yang sesuai untuk kondisi lahan mudah tanaman pangan hanya sekitar 2,07 juta kerusakan yang tidak dapat diruba. dan ha dan untuk tanaman tahunan 3,44 juta heterogen, keragaman fisik dan budaya Karama dan Abdurrachman . menyatakan bahwa lahan kering marginal yang berstatus kritis umumnya terdapat di kelembagaan untuk meniadakan kendala wilayah desa tertinggal dan sebagian atau memanfaatkan peluang. besar dikelola oleh petani miskin yang Indonesia memiliki potensi lahan tidak mampu melaksanakan upaya-upaya kering yang merupakan lahan pertanian konservasi, sehingga kondisinya makin marjinal yang relative luas namun belum lama makin memburuk. dimanfaatkan dan belum dikelola dengan Rahmianna McLeod dan bahwa lahan kering merupakan salah satu sumberdaya lahan yang memiliki potensi pertanian menurut Pusat Penelitian dan besar untuk pembangunan pertanian, baik Pengembangan Tanah dan Agroklimat Luas KESEJAHTERAAN PETANI PELAKU USAHATANI POLIKULTUR TERINTEGRASI DI KABUPATEN TASIKMALAYA Rina Nuryati. Lies Sulistyowati. Iwan Setiawan. Trisna Insan Noor perkebunan dan peternakan. Abdurahman secara langsung terhadap pertumbuhan et al . menjelaskan bahwa pola ekonomi dan kesejahteraan rumah tangga pengembangan pertanian yang sesuai petani perlu dikaji lebih lanjut, berkenaan dengan karakteristik dan keterbatasan dengan Departemen Pertanian . yang ada pada lahan kering adalah yang menyatakan bahwa pertanian di usahatani terintegrasi. Andriani et al Indonesia . menyatakan bahwa usahatani didominasi oleh usahatani kecil dengan terintegrasi dapat menjadi pilihan karena tingkat pendidikan rendah . persen dari sistem usahatani ini memiliki tiga fungsi pokok, yaitu memperbaiki kesejahteraan berpendidikan SD ke bawa. , berlahan dan mendorong pertumbuhan ekonomi sempit, bermodal kecil dan memiliki produktivitas yang rendah. Sempitnya penguasaan lahan oleh petani sekitar 0,3- 0,5 ha/kk adalah sesuatu hal yang sangat keberlanjutan lingkungan. Sunarti dan Khomsan . dalam Jawa Siswati dan Nizar . , menjelaskan memperoleh penghasilan dan kehidupan bahwa kesejahteraan keluarga petani yang layak dari sumberdaya lahannya (Utomo, 2. pengelolaan sumberdaya keluarga dan Penelitian ini dilakukan dengan penanggulangan masalah yang dihadapi tujuan untuk mengkaji kesejahteraan rumah tangga petani pelaku usahatani Priyantini . Kabupaten Pembahasan melaksanakan kegiatan integrasi tanaman Tasikmalaya. dengan ternak memiliki kinerja ekonomi pada kajian struktur pendapatan dan struktur pengeluaran rumah tangga petani dibandingkan dengan petani yang tidak serta nilai tukar pendapatan rumah tangga mengikuti pola tersebut. (NTPRP). Penelitian diharapkan bermanfaat sebagai bahan kemiskinan di kalangan petani saat ini masukan dalam penyusunan kebijakan masih banyak ditemukan. Kemampuan peningkatan kesejahteraan petani yang sektor pertanian dalam hal ini usahatani memerlukan data dan informasi di tingkat terintegrasi untuk memberikan kontribusi mikro supaya dapat memotret kondisi Namun MIMBAR AGRIBISNIS Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis. Juli 2019. : 206-223 terkini mengenai tingkat pendapatan Analisis data dilakukan dengan rumah tangga petani di perdesaan, baik menggunakan rumus sebagai berikut: yang bersumber dari usahatani, non . Struktur pendapatan rumah tangga Struktur tangga petani dari sektor pertanian secara sederhana dapat dirumuskan kesejahteraan petani sebagai komunitas menurut Nurmanaf . sebagai PPSP = Oc (TPSP/Oc TP) x 100% METODE PENELITIAN Penelitian Keterangan: PPSP = Pangsa pendapatan sektor pertanian (%) TPSP = Total pendapatan dari (Rp/tahu. TP = Total pendapatan rumah tangga petani (Rp/tahu. Kabupaten Tasikmalaya yang difokuskan Kecamatan Cibalong dan Kecamatan Karangnunggal. Dari masing-masing kecamatan diambil 2 desa, yaitu Desa Parung dan Setiawaras untuk Kecamatan Cibalong, dan Desa Cikupa serta Ciawi untuk Kecamatan . Struktur pengeluaran/ Pangan Rumah Tangga Semakin Karangnunggal. Sumber data yang digunakan untuk mengkaji kesejahteraan petani pelaku usahatani terpadu adalah data primer dari rumah tangga masih terkonsentrasi untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sebaliknya, semakin besar pangsa Pengumpulan pengeluaran sektor sekunder . on melibatkan 250 rumah tangga petani panga. , mengindikasikan telah terjadi dengan rincian dapat dilihat pada Tabel 1. pergeseran posisi petani dari subsisten ke komersial. Dalam arti, apabila Tabel 1. Jumlah Petani Responden Masingmasing Lokasi Penelitian Kecamatan Cibalong Karangnunggal Jumlah Desa Parung Setiawaras Cikupa Ciawi Populasi . kebutuhan primer telah terpenuhi. Sampel . digunakan untuk memenuhi keperluan lain, seperti pendidikan, kesehatan. KESEJAHTERAAN PETANI PELAKU USAHATANI POLIKULTUR TERINTEGRASI DI KABUPATEN TASIKMALAYA Rina Nuryati. Lies Sulistyowati. Iwan Setiawan. Trisna Insan Noor Pangsa pengeluaran dihitung dengan rumus = Total pengeluaran untuk usaha pertanian = Total pengeluaran untuk usaha non pertanian PEP = Oc (PPn/OcTE) x 100% HASIL DAN PEMBAHASAN Keterangan: PEP = Pangsa pengeluaran untuk pangan (%) PPn = Pengeluaran untuk pangan (Rp/tahu. TE = Total pengeluaran rumah tangga petani (Rp/tahu. Karakteristik Petani Usia petani rata-rata antara 15-64 tahun yang merupakan usia yang masih termasuk pada produktif, diharapkan dapat menjamin petani dalam kondisi . Nilai Tukar Pendapatan Rumahtangga Pedesaan (NTPRP) yang masih potensial dan produktif untuk Simatupang et al . dalam kawin dan hanya sekitar 1,00-2,00 persen Nilai yang berstatus belum kawin dan berstatus Tukar duda/janda. Jumlah tanggungan keluarga Pendapatan Rumahtangga Pedesaan (NTPRP) paling banyak kurang dari 3 orang dan antara 3-5 orang. Jumlah petani yang perbandingan antara pendapatan total memiliki tanggungan keluarga lebih dari rumahtangga dengan pengeluaran total NTPRP Secara 5 orang persentasenya hanya berkisar Berdasarkan status perkawinannya, 90 persen berstatus Sugiarto . menyatakan bahwa antara 2-3 orang. Tingkat pendidikan rumus sebagai berikut: berpendidikan SD mencapai lebih dari 50 NTPRP = Y/E Y = YP YNP E = EP EK Pekerjaan pokok responden pada umumnya adalah sebagai petani sehingga Keterangan: NTPRP = Nilai tukar pendapatan rumahtangga pedesaan = Pendapatan = Pengeluaran = Total pendapatan dari usaha pertanian YNP = Total pendapatan dari usaha non pertanian sektor pertanian sampai saat ini masih mendukung perekonomian masyarakat. Pengalaman petani dalam pengelolaan usahatani polikultur terintegrasi sangat beragam mulai dari yang baru 1 tahun MIMBAR AGRIBISNIS Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis. Juli 2019. : 206-223 sampai yang sudah melaksanakannya yaitu pendapatan yang diperoleh dari selama lebih dari 40 tahun. Pengalaman hasil di luar sektor pertanian tetapi masih dalam lingkup pertanian, diantaranya kenyataannya mengelola usahataninya berasal dari upah tenaga kerja, sistem yang sudah berproduksi atau sudah bagi hasil, maupun kontrak upah tenaga Hal ini disebabkan lahan kerja non-upah. Sektor non farm usahatani yang dikelolanya merupakan income, pendapatan yang bukan berasal lahan yang diperoleh dari orang tuanya dari pertanian, seperti pendapatan atau Asal gaji pensiun, pendapatan dari usaha pribadi, dan sebagainya. ebih dari 60,00 perse. Hal Tabel 2. Struktur Pendapatan Rumah Tangga Petani Polikultur Terintegrasi Kab. Tasikmalaya Sumber Pendapatan Rupiah Petani (Kepala Keluarg. Subsektor Petanian menunjukkan bahwa UTPPT merupakan usahatani yang sudah lama ditekuni oleh petani di lokasi penelitian. Luas penguasaan lahan rata-rata 0,618 ha dengan status penguasaan lahan umumnya adalah lahan milik . ebih dari 90 perse. sehingga petani mendapatkan hak pengelolaan penuh terhadap lahan Struktur Pendapatan Tangga Petani Rumah Sumber pendapatan yang biasa Sektor Pertanian 73,51 Sektor Non Pertanian Total Pendapatan Petani Kontribusi Anggota Keluarga 26,49 92,09 7,91 32,71 Subsektor Peternakan 34,98 Sektor Pertanian 67,69 Sektor Non Pertanian Total Pendapatan Keluarga Pendapatan per kapita/bulan 32,31 100,00 Pendapatan Keluarga Subsektor Petanian yang dimilikinya. Subsektor Peternakan menurut Ellis . adalah: . Sektor on farm income, yaitu pendapatan yang Tabel berasal dari pertanian baik dari lahan pertanian milik sendiri, maupun yang keluarga bersumber dari pendapatan yang diusahakan oleh pemilik tanah maupun berasal dari sektor pertanian dan sektor diakses melalui sewa menyewa ataupun bagi hasil. Sektor off farm income. Berkaitan KESEJAHTERAAN PETANI PELAKU USAHATANI POLIKULTUR TERINTEGRASI DI KABUPATEN TASIKMALAYA Rina Nuryati. Lies Sulistyowati. Iwan Setiawan. Trisna Insan Noor usahatani yang dikaji pada penelitian ini permodala. dan dukungan faktor sosial adalah usahatani polikultur terintegrasi, . gama, budaya dan perilak. Turasih maka pendapatan dari sektor pertanian Wibowo diperoleh dari usahatani polikultur berupa menyatakan adanya kelangkaan sumber penghidupan yang memadai di perdesaan yang pada akhirnya menjadikan petani hortikultura dan tanaman pangan serta harus memilih untuk menerapkan strategi pendapatan dari sektor peternakan. Sing intensifikasi pada lahan pertanian yang dan Ratan . menjelaskan bahwa diversifikasi sumber nafkah. Kegiatan seperangkat elemen atau komponen yang mendiversifikasi nafkah ini merupakan bentuk perjuangan rumah tangga petani diperlihatkan petani pada sumberdaya peternakan yang mereka miliki untuk Berkaitan dengan hal tersebut, dalam pertanian juga berusaha di sektor non Mengkaji rata-rata luas pengelolaan pertanian termasuk melibatkan anggota lahan usahatani polikultur terintegrasi keluarganya untuk berkontribusi terhadap petani menunjukkan bahwa luas lahan pendapatan rumah tangga petani. UTPPT yang dikelola petani hanya Secara keseluruhan sektor pertanian mencapai 0,62 ha per petani. Lisson et al memberikan kontribusi sebesar 73,51 . Indonesia didominasi oleh Kontribusi terbesar diperoleh dari sektor petani kecil dengan kepemilikan lahan peternakan . ,52 perse. dan dari yang relatif sempit. Namun demikian, terdapat integrasi yang kuat di antara kehutanan dan tanaman semusim sebesar berbagai elemen biofisik yaitu tanaman, 37,99 persen. Dari sektor non pertanian ternak dan tanah, serta adanya dukungan memberikan kontribusi sebesar 26,49 sumberdaya . ualitas dan kuantitas lahan, persen dan dari pendapatan anggota keluarga sebesar 7,91 persen. Sektor . MIMBAR AGRIBISNIS Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis. Juli 2019. : 206-223 terhadap total pendapatan rumah tangga semua anggota keluarga petani pada petani sebesar 67,69 persen dan sektor kehidupan sehari-hari, baik pada aktivitas non pertanian sebesar 32,31 persen. sektor pertanian maupun aktivitas di luar Dengan demikian, sektor pertanian masih sektor pertanian dalam upaya memenuhi yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan Pendapatan yang berasal dari sektor non rumah tangga petani. Hal ini sesuai dengan hasil kajian Susilowati dan keluarga memiliki peranan penting bagi Suryani . yang menunjukkan bahwa rumah tangga petani. Widodo . Jawa mengungkapkan adanya gejala migrasi Tengah masih memberikan kontribusi tenaga kerja sektor pertanian ke sektor pendapatan rumah tangga sebesar 73 non pertanian melalui proses migrasi desa-kota memberikan gambaran tentang usaha mempertahankan hidup melalui pendapatan non pertanian. pencarian nafkah di luar sektor pertanian. Besarnya pendapatan dari sektor Kusnadi . menyatakan bahwa peranan petani sebagai kepala keluarga dalam upaya memenuhi kebutuhan dasar kehidupan yang dihadapi rumah tangga. Selain pendapatan dari sektor pertanian, individu-individu yang ada dalam rumah dalam hal ini pendapatan dari usahatani tangga petani berusaha secara maksimal terintegrasi, petani juga memperoleh untuk dapat bekerja guna memenuhi pendapatan dari sektor non pertanian yaitu dari pekerjaannya sebagai buruh, kelangsungan hidupnya dapat terpelihara. wiraswasta dan sebagai PNS termasuk Setiap anggota rumah tangga petani dapat penyediaan jasa . jek, penjahit dan memperoleh penghasilan yang berfungsi Dalam kebutuhan keluarganya, maka anggota Pada situasi yang demikian, keluarga petani dilibatkan dalam mencari sistem pembagian kerja dilakukan secara Dengan tangga petani. Chambers dan Conway memperlihatkan dinamika dari aktivitas KESEJAHTERAAN PETANI PELAKU USAHATANI POLIKULTUR TERINTEGRASI DI KABUPATEN TASIKMALAYA Rina Nuryati. Lies Sulistyowati. Iwan Setiawan. Trisna Insan Noor terintegras. sangat dominan sebagai kemampuan, aset, dan aktivitas yang penyumbang terbesar bagi pendapatan diperlukan sebagai alat untuk hidup. rumah tangga petani. Di lokasi penelitian Penghasilan yang rendah dari sektor proporsi pendapatan dari sektor pertanian mencari alternatif tambahan penghasilan mencapai lebih dari 80%. Hal ini guna memenuhi kebutuhan keluarganya. memperlihatkan bahwa pada umumnya di Upaya lokasi penelitian, usahatani polikultur menjalani pola nafkah ganda (Sumarti, terintegrasi menjadi tulang punggung bagi sumber pendapatan rumah tangga. Total pendapatan rumah tangga Tabel 3 petani mencapai Rp 15. 812 per tahun kapita/bulan 71,46% kapita per bulan tersebut dibandingkan dengan garis kemiskinan di pedesaan Jawa Barat pada tahun 2017 sebesar Rp 682 (BPS Jawa Barat, 2. , maka petani di Kabupaten Tasikmalaya secara Kab Tasikmalaya (%) 4,20 9,92 5,41 9,01 71,46 100,00 < 100 % Total umum tidak miskin walaupun relatif masih dekat dengan garis kemiskinan. 36,33 63,67 100,00 Sebanyak Sehubungan dengan hal tersebut, maka Pangsa Pendapatan Sektor Pertanian (PPSP dalam %) Keluarga Petani Proporsi < 20 % 21 - 40 % 41 -60 % 61 - 80 % > 80 % Total sebesar Rp 364. Data pendapatan per 63,67 persen petani di diperlukan upaya untuk meningkatkan Kabupaten Tasikmalaya menggantung- pendapatan rumah tangga petani agar pertanian (Gambar . Hal ini semakin merupakan tulang punggung sumber Perhitungan sektor pertanian (PPSP) (Tabel 3. ) dalam Agustian dan Ilham . menyebutkan struktur pendapatan bahwa struktur pendapatan rumah tangga menunjukkan bahwa pendapatan dari tani masih dominan berasal dari sektor sektor pertanian (Usahatani polikultur Tahun MIMBAR AGRIBISNIS Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis. Juli 2019. : 206-223 pendapatan rumah tangga tani berbasis lahan sawah sekitar 51,33% berasal dari terhadap guncangan ekonomi seperti sektor pertanian, demikian juga dengan Kenaikan harga BBM dan harga beras rumah tangga tani di desa-desa berbasis lahan kering sekitar 53,38% sumber Keadaan masih tetap merupakan andalan bagi rumah tangga dalam membiayai hidup keluarga selain pendapatan tambahan dari non pertanian. Total pendapatan keluarga petani Gambar 1. per tahun di Kabupaten Tasikmalaya adalah Rp 15. 812 atau setara dengan Pangsa Pendapatan Sektor Pertanian (PPSP dalam %) Kel. Petani 294,401,0 (Gambar . Dibandingkan dengan upah minimum regional (UMR) Kabupaten Tasikmalaya sebesar Rp 1. 435 per bulan, maka sebagian besar petani di lokasi penelitian memperoleh pendapatan lebih rendah dari UMR. Hal ini memperlihatkan Gambar 2. Perbandingan Pendapatan Keluarga dgn UMR Kab. Tsm 2017 Rp 1. 435/bln bahwa rata-rata petani yang bekerja di sektor pertanian (Usahatani polikultur terintegras. kehidupannya lebih miskin Struktur Pengeluaran Tangga Petani dibandingkan dengan yang bekerja di luar Kebutuhan rumah tangga dapat sektor pertanian. Hasil kajian Ilham dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu . juga menyimpulkan bahwa rumah Rumah kebutuhan pangan dan non pangan. Pada sejahtera dibandingkan dengan rumah tangga akan mengalokasikan pendapatan- tangga petani. Namun demikian rumah nya untuk memenuhi kedua kebutuhan KESEJAHTERAAN PETANI PELAKU USAHATANI POLIKULTUR TERINTEGRASI DI KABUPATEN TASIKMALAYA Rina Nuryati. Lies Sulistyowati. Iwan Setiawan. Trisna Insan Noor Kuantitas Rumah tangga akan terus menambah dibutuhkan seseorang secara alamiah konsumsi makanannya seiring dengan akan mencapai titik jenuh, sementara itu meningkatnya pendapatan, dan sampai kebutuhan non pangan tidak dibatasi batas tertentu peningkatan pendapatan dengan cara yang sama. Sehubungan tidak lagi menyakibatkan bertambahnya dengan itu, maka besaran pangan . ang jumlah makanan yang dikonsumsi. diproksi dengan pengeluaran tota. yang Struktur pengeluaran rumah tangga dibelanjakan untuk pangan pada suatu petani pada penelitian ini dilihat dari total rumah tangga dapat dipakai sebagai petunjuk tingkat kesejahteraan rumah . onsumsi Pangsa pengeluaran pangan yang semakin tinggi pangan, non pangan dan biaya usahatan. berarti kesejahteraan rumah tangga yang Gambar 3 memperlihatkan bahwa di bersangkutan semakin rendah, sebaliknya Kabupaten Tasikmalaya 42,19% keluarga petani melakukan pengeluaran untuk pangan maka rumah tangga tersebut pangannya antara 60-80 % dan lebih dari makin sejahtera. Sementara itu data FAO . menunjukkan bahwa tahun 2006 pangsa pengeluaran pangan penduduk Indonesia secara agregat sebesar 47,9%. Beberapa negara pangsa pengeluaran pangan rumah tangga secara nasional jauh di atas Gambar 3. Pangsa Pengeluaran untuk Pangan dari Total Konsumsi (PEP dalam %) Keluarga Petani negara-negara maju diantaranya adalah negara Cina . ,8%). Italia . ,1%). Hal ini sesuai dengan Hukum Engle Inggris . ,5%), dan USA . ,7%). bahwa semakin tinggi pendapatan maka Sudaryanto et al . menyata- pangsa pengeluaran pangan semakin Pengeluaran kan bahwa tingkat pendapatan memiliki hubungan terbalik maksudnya makin pengeluaran untuk makanan, dalam arti rendah pendapatan rumah tangga maka semakin tinggi tingkat pendapatan maka semakin tinggi persentase pengeluaran semakin rendah porsi pengeluaran untuk Dengan demikian, di lokasi (Pakpahan. MIMBAR AGRIBISNIS Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis. Juli 2019. : 206-223 penelitian masih ditemui rumah tangga kering/ha/tahun. Demikian juga dengan petani dengan pangsa pengeluaran yang tanaman kelapa. Bursatriannyo . cukup tinggi yang berarti rumah tangga jumlah buah/pohon/tahun yang dapat Usahatani sebanyak 75 butir, sementara itu petani Tanaman model usahatani yang mengusahakan kelapa/pohon/tahun. menurut Tim Tani Karya Mandiri . memperhitungkan konsep meminimalkan dapat menghasilkan sebanyak 0,5-5 kg biji kopi. Produktivitas yang dicapai petani hanya 0,5 kg biji kopi. Oleh karena Namun demikian, usaha ini belum dikelola secara optimal oleh petani meningkatkan produksi dan produktivitas karena berbagai keterbatasan yang ada, usahatani polikultur terintegrasi dalam merupakan petani kecil, luas lahan sempit, modal terbatas dan sering tidak memiliki pengalaman dan pelatihan atau Nilai Tukar Pendapatan Rumah Tangga Pedesaan (NTPRTP) latar belakang bekerja dengan ternak. Konsep Nilai Tukar Pendapatan Selain itu, latar belakang pendidikan Rumah tangga Pedesaan (NTPRP) dapat formal petani pada umumnya rendah digunakan untuk mengukur kesejahteraan serta dukungan kelembagaan yang juga yang merupakan perbandingan antara pendapatan total rumah tangga dengan Pola tanam usahatani polikultur terintegrasi dilaksanakan oleh petani dengan berbagai keterbatasannya yang tanaman kakao yang hanya mencapai 0,84 ton per ha padahal potensi produksi Pendapatan dihasilkan petani baik dari tanaman bisa dilihat diantaranya dari produktivitas hasil produksi komoditas pertanian yang tingkat produktivitas yang rendah. Hal ini merupakan penjumlahan dari seluruh ada pada diri mereka, umumnya memiliki . anaman tanaman panga. serta dari usaha ternak, ditambah nilai berburuh tani, nilai dari KESEJAHTERAAN PETANI PELAKU USAHATANI POLIKULTUR TERINTEGRASI DI KABUPATEN TASIKMALAYA Rina Nuryati. Lies Sulistyowati. Iwan Setiawan. Trisna Insan Noor berburuh non pertanian, pendapatan dari Pendapatan rata-rata petani per anggota keluarga dan lainnya. Sedangkan pendapatan terbesar diperoleh dari sektor penjumlahan dari pengeluaran untuk pertanian Rp 10. ,77%) dan konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pendapatan dari sektor non pertanian untuk biaya produksi. 599,03, 818,59 ,23%). NTP merupakan hubungan antara Biaya produksi yang dikeluarkan petani hasil pertanian yang dijual petani dengan untuk membiayai usahatani polikulturnya barang dan jasa lain yang dibeli oleh adalah sebesar Rp 1. 648,13 dengan Secara NTP mengukur kemampuan tukar barang- 551,65. Konsumsi non pangan dihasilkan petani dengan barang atau jasa memerlukan biaya yang lebih besar (Rp yang diperlukan untuk memproduksi 433,. barang pertanian. biaya pangan ( Rp 6. Nilai tukar pendapatan terhadap Tabel 4. Nilai Tukar Pendapatan Rumah Tangga Pedesaan (NTPRTP) A Pendapatan Pertanian Non Pertanian B Biaya Produksi C Konsumsi Pangan Non Pangan D Total Pengeluaran Nilai Tukar E Pendapatan Terhadap Biaya Produksi Konsumsi Pangan Konsumsi Non Pangan Total Konsumsi Total Pengeluaran biaya produksi mencapai 10,06, nilai Kab. Tasikmalaya 599,03 780,44 818,59 648,13 551,65 118,32 433,33 551,65 mencapai 2,22 dan nilai tukar terhadap konsumsi non pangan 2,00. Nilai total pengeluaran mencapai nilai 1,05. Rachmat bahwa nilai tukar pendapatan rumah tangga petani bernilai >1 maka berarti 10,06 kenaikan harga konsumsi dan biaya 2,22 Pendapatan naik lebih besar 2,00 1,05 dari pengeluarannya. Nilai tukar rumah tangga = 1, berarti petani mengalami 1,05 impas/break even. Kenaikan/penurunan MIMBAR AGRIBISNIS Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis. Juli 2019. : 206-223 harga produksi sama dengan persentase Saleh et al . menjelaskan kenaikan/penurunan harga konsumsi dan bahwa faktor harga berpengaruh besar biaya produksi, tingkat kesejahteraan terhadap nilai tukar penerimaan dan nilai petani tidak mengalami perubahan. Nilai tukar pendapatan. Nilai tukar penerimaan tukar pendapatan rumah tangga petani pengeluarannya < 1 yang berarti petani penyakit, musim/cuaca, dan harga . aik mengalami defisit. Harga produksinya harga saprodi maupun harga produ. naik lebih kecil dari kenaikan harga Nilai tukar subsisten dipengaruhi oleh konsumsi dan biaya produksi. Tingkat pertanian dan tingkat pengeluaran untuk konsumsi pangan. penurunan dibanding dengan tingkat kesejahteraan petani sebelumnya. Dengan demikian, petani pelaku KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis data dan Kabupaten Tasikmalaya memiliki nilai pembahasan maka dapat disimpulkan tukar pendapatan rumah tangga pedesaan sebagai berikut: Pendapatan >1, mengalami surplus, harga produksinya pelaku usaha polikultur terintegrasi naik lebih besar dari kenaikan harga bersumber dari sektor pertanian dan konsumsi dan biaya produksi. Pendapatan naik lebih besar dari pengeluarannya Pendapatan Meskipun demikian, diperlukan diperoleh dari usahatani polikultur upaya untuk terus dapat meningkatkan . anaman hortikultura dan tanaman panga. dan berkenaan dengan hasil tukar komoditas usaha ternak. Kontribusi pendapatan pertanian yang cenderung mengalami dari usahaternak lebih besar . ,99%) penurunan sementara biaya produksi dan dibandingkan dengan kontribusi sektor keperluan konsumsi pangan dan non pertanian . ,52%) dan non pertanian pangan terus mengalami peningkatan. ,49%), serta kontribusi pendapatan anggota keluarga . ,91%) terhadap KESEJAHTERAAN PETANI PELAKU USAHATANI POLIKULTUR TERINTEGRASI DI KABUPATEN TASIKMALAYA Rina Nuryati. Lies Sulistyowati. Iwan Setiawan. Trisna Insan Noor Pendapatan . sahatani pertanian yang cenderung mengalami penurunan sementara biaya produksi dan keperluan konsumsi pangan dan non pangan terus mengalami peningkatan. penyumbang terbesar bagi pendapatan rumah tangga petani. 71,46% keluarga petani proporsi pendapatan dari sektor DAFTAR PUSTAKA