AGRISILVIKA 7 . : 2023 RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SEGAU PADA PEMBERIAN GUANO DI TANAH MINERAL Erin Tania. Pienyani Rosawanti. Nurul Hidayati. Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian dan Kehutanan. Universitas Muhammadiyah Palangkaraya Jl. RTA Milono Km 1,5 Palangka Raya. Kalimantan Tengah. Indonesia *Email korespondensi: pienyani@yahoo. erintania1@gmail. nurulhidayati@umpr. ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk guano terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman segau di tanah mineral. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal, dengan 5 taraf perlakuan dan 4 kelompok. Perlakuan pemberian guano (G) dengan dosis: G0: 0 ton/ha. G1: 15 ton/ha . gr/polyba. G2: 30 ton/ha . gr/ polyba. G3: 45 ton/ha . gr/ polyba. G4: 60 ton/ha . gr/polyba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk guano berpengaruh terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat segar total, berat segar tajuk dan berat segar akar. Perlakuan terbaik dosis 30 ton/ha terdapat pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun sedangkan 15 ton/ha pada variabel berat segar tanaman, berat segar tajuk dan berat segar akar Kata kunci: guano. tanah mineral. ABSTRACT The research aims to determine the effect of guano fertilizer on the growth and yield of segau plants in mineral soil. The research used a single factor Randomized Block Design (RAK), with 5 treatment levels and 4 groups. Treatment of guano (G) with doses: G0: 0 ton/ha. G1: 15 tons/ha . gr/polyba. G2: 30 tons/ha . gr/polyba. G3: 45 tons/ha . gr/ polyba. G4: 60 tons/ha . gr/polyba. The results of the research showed that the treatment of guano fertilizer had a significant effect on the variables of plant height, number of leaves, leaf area, total fresh weight, fresh weight of the crown and fresh weight of the The best treatment dose is 30 tons/ha for the variables of plant height, number of leaves, leaf area while 15 tons/ha for the variables of plant fresh weight, crown fresh weight and root fresh weight. Keywords: guano. mineral soil. PENDAHULUAN Sayuran indigenous atau sering disebut sayuran lokal adalah sayuran asli daerah yang sudah beradaptasi lama atau sudah lama dimanfaatkan oleh penduduk setempat. Kalimantan Tengah banyak sekali ditemukan sayuran lokal yang dimanfaatkan dan digemari oleh Suku Dayak, salah satunya adalah tanaman AusegauAy. Sayur segau merupakan tumbuhan liar yang sudah lama dimanfaatkan oleh masyarakat asli Kalimantan Tengah secara turun-temurun, biasanya orang menyebutnya Ausawi hutanAy. Sayur segau sangat digemari masyarakat Suku Dayak, namun sampai saat ini belum dibudidayakan secara optimal karena belum ada teknik budidaya yang tepat untuk meningkatkan hasil tanaman segau. Segau atau sawi hutan hanya bisa dijumpai di pedalaman Kalimantan dan tanaman ini merupakan tanaman semusim karena ditanam hanya saat musim tanam padi ladang. Karena hanya ditanam pada saat awal musim tanam padi ladang, maka akan sulit dijumpai di pasar Pemberian pupuk diberikan untuk memperbaiki pertumbuhan dan meningkatkan hasil tanaman. Pemberian pupuk anorganik secara terus menerus cenderung menurunkan tingkat kesuburan tanah karena menyebabkan keseimbangan unsur hara dalam tanah terganggu dan menurunnya kesuburan fisik dan biologis Pemberian pupuk organik diharapkan dapat menanggulangi masalah kesuburan tanah. Pemberian pupuk organik selain dapat memperbaiki kesuburan fisik dan biologis tanah (Harjono, 2. Menurut Peraturan Menteri Pertanian No. 70/Permentan/SR. 140/10/2011, pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan dan/atau limbah organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair, dapat diperkaya dengan bahan mineral dan/atau mikroba, yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan hara dan bahan organik tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan atau ternak, salah satunya berasal dari kotoran walet yang disebut guano. Guano merupakan salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada pertanian organik BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai bulan Juli 2019, berlokasi di Jalan Jendral Sudirman km. 8 Kasongan. Kelurahan Kasongan Lama. Kecamatan Katingan Hilir. Kabupaten Katingan. Kalimantan Tengah. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih segau, tanah mineral, dan guano . ebagai perlakua. Alat yang digunakan adalah polybag ukuran 30 x 30 cm, ayakan tanah ukuran 16 mesh, cangkul, paku, tukul, gergaji, parang, ember, timbangan, meteran, alat tulis, penggaris serta alat lainnya yang menunjang kelancaran penelitian. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal, dengan 5 taraf perlakuan dan 4 kelompok. Perlakuan yang diteliti adalah pemberian guano (G) dengan dosis sebagai berikut: G0: 0 ton/ha. G1: 15 ton/ha . gr/polyba. G2: 30 ton/ha . gr/ polyba. G3: 45 ton/ha . gr/ polyba. G4: 60 ton/ha . gr/ polyba. Tempat penelitian di lapangan terbuka dengan dibuat rak-rak setinggi 1 m dari permukaan tanah untuk menempatkan polybag. Tanah mineral diambil dari Jalan Jendral Sudirman km 8 Kasongan. Kelurahan Kasongan Lama. Kecamatan Katingan Hilir. Kabupaten Katingan. Kalimantan Tengah, pada kedalaman 0 Ae 20 cm. Setelah itu tanah dibersihkan dari sisasisa akar tanaman dengan menggunakan ayakan ukuran 16 mesh lalu dikering anginkan selama 1 minggu, kemudian ditimbang dengan berat masing-masing 5 kg/polybag, dan dicampur (Piay et al. , 2. Pupuk guano banyak mengandung unsur hara penting yaitu : 8-13% N, 5-12% P, 1,5-2% K, 7,5% Ca, 0,5-1% Mg dan 23% S (Lingga dan Marsono, 2. Pupuk guano merupakan bahan yang efektif untuk penyubur tanah karena kandungan fosfor dan nitrogennya tinggi. Superfosfat yang terbuat dari guano digunakan untuk topdressing. Tanah yang kekurangan zat organik dapat dibuat lebih produktif dengan tambahan pupuk ini. Guano mengandung amonia, asam fosfat, asam oksalat, dan asam karbonat, serta garam tanah. Berdasarkan hasil penelitian Nugrahini . , perlakuan pemberian guano pada polybag 6 kg dengan dosis 94,50 gr/polybag berpengaruh nyata sampai sangat nyata terhadap tinggi tanaman selada dan jumlah daun pada umur 10, 20, 30 hari setelah tanam. dengan pupuk guano sesuai dengan dosis perlakuan lalu diinkubasikan kurang lebih selama 10 hari . Bibit segau yang siap tanam adalah bibit yang sudah berumur 14 hari setelah semai dan sudah berdaun 5 helai. Bibit yang dipindahkan ke dalam polybag besar sebagai satuan percobaan dipilih yang seragam dan pertumbuhannya baik dengan ciri-ciri: batang tegak dan berwarna hijau segar, tidak terserang hama dan penyakit. Setelah proses penanaman selesai maka dilakukan penyiraman untuk menjaga kelembapan tanah. Pemeliharaan dilakukan dari benih ditanam hingga panen yang meliputi penyiraman, penyulaman, penyiangan, dan pengendalian hama dan penyakit. Panen dilakukan pada umur 25 hari setelah tanam (HST), dengan melihat keadaan fisik tanaman yakni melihat tanaman yang mengurus dan mulai memanjang maka segau harus segera dipanen. Pemanenan dilakukan pada sore hari dengan cara mencabut Pengamatan Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah: pengamatan tinggi tanaman diukur dari pangkal batang bawah sampai ujung daun tertinggi, pengamatan dilakukan pada saat tanaman berumur 7, 14, dan 21 HST. Perhitungan jumlah daun dilakukan dengan cara menghitung daun yang baik atau tidak rusak dan telah membuka sempurna, pengamatan dilakukan pada saat tanaman berumur 7, 14, 21 HST. Luas daun dihitung dengan metode panjang kali lebar (Sitompul dan Guritno, 1. Berat segar total dihitung dengan cara menimbang seluruh bagian tanaman meliputi tajuk dan akar tanaman. Berat AGRISILVIKA 7 . : 2023 segar tajuk dihitung dengan cara menimbang seluruh bagian tajuk tanaman yang telah dibersihkan dan dipisahkan dari akar. Berat segar akar dihitung dengan cara menimbang seluruh akar tanaman yang telah dibersihkan dan dipisahkan dari tanaman, dinyatakan dalam gram. Analisa Data Data dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (Uji F) pada taraf 5% dan 1%. Apabila uji F menunjukkan adanya pengaruh perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji BNJ taraf 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk guano berpengaruh sangat nyata terhadap variabel tinggi tanaman umur 7, 14, dan 21 HST. Hasil uji beda rata-rata tinggi tanaman disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil uji beda rata-rata tinggi tanaman pengaruh perlakuan pupuk guano Perlakuan Rata-Rata Tinggi Tanaman Guano 7 HST 14 HST 21 HST 0 ton/ha 3,1a 4,05a 4,4a 15 ton/ha 4,37b 5,7a 7,2b 30 ton/ha 5,95 8,35 9,72c 45 ton/ha 3,67ab 5,62a 6,72b 60 ton/ha 3,6ab 4,97a 6,75b BNT 5 % 1,04 1,90 2,05 Keterangan: Angka-angka yang didampingi notasi yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda pada uji BNT taraf 5%. Pada Tabel 1 terlihat bahwa rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada umur 7, 14 dan 21 HST dihasilkan pada perlakuan pupuk guano dengan dosis 30 ton/ha dengan rata-rata berturut-turut seebesar 5,95 cm, 8,35 cm, 9,72 cm berpengaruh nyata dengan perlakuan lainnya. Jumlah Daun Hasil analisa ragam menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk guano berpengaruh nyata pada variabel jumlah daun tanaman pada umur 7, 14 dan 21 HST. Hasil uji beda rata-rata jumlah daun disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil uji beda rata-rata jumlah daun pengaruh perlakuan pupuk guano Perlakuan Rata-Rata Jumlah Daun Guano 7 HST 14 HST 21 HST 0 ton/ha 2,75a 3,5a 4,25a 15 ton/ha 3,25 5,75b 30 ton/ha 5,75 45 ton/ha 4,25c 5,25cd 5,5b 60 ton/ha 3,75 BNT 5 % 1,04 1,90 2,05 Keterangan : Angka-angka yang didampingi notasi yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda pada uji BNT taraf 5 %. Pada Tabel 3 terlihat bahwa rata-rata jumlah daun terbanyak pada umur 7 HST dihasilkan pada perlakuan pupuk guano dengan dosis 30 ton/ha . ,5 hela. tidak berbeda nyata dengan perlakuan 45 ton/ha dan 60 ton/ha, berbeda nyata dengan 0 ton/ha dan 15 ton/ha. Pada umur 14 HST jumlah daun terbanyak dihasilkan pada perlakuan 30 ton/ha . ,75 hela. tidak berbeda nyata dengan perlakuan 45 ton/ha, berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Pada umur 21 HST jumlah daun terbanyak dihasilkan pada perlakuan 30 ton/ha . berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Luas Daun Hasil analisis ragam pada Tabel 3. menunjukan bahwa perlakuan pupuk guano berpengaruh nyata pada luas daun. Hasil uji beda rata-rata luas daun disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil uji rata-rata luas daun pengaruh perlakuan pupuk guano Perlakuan Rata-Rata Luas Daun . Guano 7 HST 14 HST 21 HST 0 ton/ha 11,495a 15 ton/ha 28,538a 30 ton/ha 45 ton/ha 60 ton/ha BNT 5 % 31,16 83,88 160,20 Keterangan : Angka-angka yang didampingi notasi yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda pada uji BNT taraf 5 %. Pada Tabel 3 menunjukkan bahwa pada umur 7, 14, 21 HST perlakuan 30 ton/ha menghasilkan luas daun tertinggi berturut-turut 79,875 cmA, 291,520 cmA, 646,958 cmA berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Berat Segar Total Hasil analisa ragam pada Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan pupuk guano berpengaruh nyata pada berat segar total. Tabel 4. Hasil uji rata-rata berat segar total pengaruh perlakuan pupuk guano pada umur 25 HST Perlakuan Guano Berat Segar Total . 0 ton/ha 0,164a 15 ton/ha 1,003ab 30 ton/ha 1,873b 45 ton/ha 0,758a 60 ton/ha 0,742a BNT 5 % 0,99 Keterangan : Angka-angka yang didampingi notasi yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda pada uji BNT taraf 5 %. Pada Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan 30 ton/ha menunjukkan nilai berat segar total tertinggi yaitu 1,873 gram, tidak berbeda nyata dengan perlakuan 15 ton/ha, berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Berat Segar Tajuk Hasil analisa ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk guano berpengaruh nyata pada berat segar tajuk. Hasil uji beda rata-rata berat segar tajuk disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Hasil uji rata-rata berat segar tajuk pengaruh perlakuan pupuk guano Perlakuan Guano Berat Segar Tajuk . 0 ton/ha 0,133a 15 ton/ha 0,880ab 30 ton/ha 1,711b 45 ton/ha 0,681a 60 ton/ha 0,699a BNT 5 % 0,96 Keterangan : Angka-angka yang didampingi notasi yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda pada uji BNT taraf 5 %. Pada Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai berat segar tajuk tertinggi yaitu 1,711 gram terdapat pada perlakuan 30 ton/ha, tidak berbeda nyata dengan perlakuan 15 ton/ha, berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Berat Segar Akar Hasil analisa ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk guano berpengaruh sangat nyata pada berat segar akar. Hasil uji beda rata-rata berat segar akar disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Hasil uji rata-rata berat segar akar pengaruh perlakuan pupuk guano Perlakuan Guano Berat Segar Akar . 0 ton/ha 0,031a 15 ton/ha 0,123bc 30 ton/ha 0,164c 45 ton/ha 0,077ab 60 ton/ha 0,036a BNT 5 % 0,0845 Keterangan : Angka-angka yang didampingi notasi yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda pada uji BNT taraf 5 %. Pada Tabel 6 menunjukkan bahwa nilai berat segar akar tertinggi yaitu 0,164 gram terdapat pada perlakuan 30 ton/ha tidak berbeda nyata dengan perlakuan 15 ton/ha, berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Berdasarkan hasil pengamatan, perlakuan pupuk guano menunjukkan pengaruh terhadap variabel pertumbuhan dan hasil tanaman segau yaitu pada tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat segar total, berat segar tajuk dan berat segar akar. Hal ini disebabkan karena pupuk guano mampu menambah ketersediaan unsur hara di dalam tanah sehingga dapat mendukung pertumbuhan tanaman dan hasil secara optimal. Guano merupakan salah satu bahan organik yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pupuk dalam pertanian organik untuk menjaga dan meningkatkan kesuburan dan kehidupan biologi dalam tanah untuk mendukung kebutuhan nutrisi tanaman (Piay et al. , 2. Pupuk guano merupakan salah satu pupuk kandang dan merupakan jenis pupuk organik yang mengandung bahan organik. Menurut Salam . , bahan organik tanah dapat meningkatkan dan memperkuat agregasi tanah sehingga memperbaiki porositas tanah dan meningkatkan daya serap tanah terhadap air. Hasil analisis pupuk guano walet mempunyai nilai pH 6,86. COrganik 51,14%. N Total 4,20%. P total 1377,39 AGRISILVIKA 7 . : 2023 K Total 13271,05 ppm. Ca Total 2152,85 Mg Total 2557,12 ppm (Hariyadi, 2. Unsur N. Ca dan Mg merupakan unsur hara makro yang esensial yang diperlukan oleh tanaman dalam jumlah yang besar. Leibeg . alam Mascher, 1. menyimpulkan bahwa unsur mineral Nitrogen. Fosfor. Kalium. Kalsium dan Magnesium merupakan unsur yang esensial untuk tanaman. Nitrogen merupakan unsur mineral yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah terbesar, merupakan bagian dari komponen sel tumbuhan, termasuk asam amino dan asam nukleat. Kekurangan nitrogen akan menghambat pertumbuhan tanaman (Taiz dan Zeiger, 2. merupakan unsur hara mineral yang paling melimpah pada tanaman, yaitu sebesar 2Ae4% dari bahan kering tanaman. N merupakan bagian dari klorofil . igmen hijau pada dau. dan merupakan unsur esensial penyusun semua protein. N sangat berperan pada pertumbuhan dan produksi daun termasuk warna hijau pada daun dan perbesaran ukuran daun (Roy et al. , 2. Pada tanaman sayuran daun dan tanaman berbiji. N berperan dalam peningkatan kualitas dan kuantitas dari bahan kering yang dihasilkan dan kandungan protein di dalamnya (Purba et al. , 2. Pada penelitian ini kandungan N dalam pupuk guano berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat segar total, berat segar tajuk dan berat segar akar tanaman segau. Hal ini dikarenakan N berfungsi sebagai pemacu pertumbuhan vegetatif (Salam, 2. Fosfor merupakan komponen integral dari senyawa penting sel tumbuhan, termasuk perantara respirasi gula-fosfat dan fotosintesis dan fosfolipid yang menyusun membran tanaman, merupakan komponen nukleotida digunakan dalam metabolisme energi tanaman . eperti ATP) dan dalam DNA dan RNA (Taiz dan Zeiger, 2. P sangat penting untuk pertumbuhan, pembelahan sel, pemanjangan akar, perkembangan benih dan buah, serta pemasakan awal. Senyawa P adenosin difosfat (ADP) dan adenosin trifosfat (ATP) bertindak sebagai pembawa energi di dalam tanaman (Roy et al. , 2. Unsur P lebih banyak dibutuhkan pada bagian yang memiliki aktivitas metabolisme yang tinggi dan pembelahan sel yang cepat seperti di pucuk dan ujung akar, saat inisiasi bunga, dan pembentukan, perkembangan dan pematangan biji dan buah (Purba et al. , 2. Ketersediaan unsur P membantu mentransfer energi dari sinar matahari ke tanaman, merangsang pertumbuhan awal akar dan tanaman dan mendukung aktivitas pembelahan sel sehingga dapat memicu pertumbuhan daun dan batang tanaman segau dan meningkatkan jumlah daun dan bobot tanaman segau. Ketersediaan pertumbuhan, morfologi dan distribusi akar pada tanah (Mascher, 1. , sehingga unsur P yang tersedia dapat meningkatkan berat segar akat tanaman segau. Pertumbuhan dan perkembangan akar sangat penting untuk tahap pertumbuhan dan siklus hidup tanaman. Akar berfungsi untuk menyerap air, nutrisi dan garam mineral yang berasal dari dalam tanah (Dubrovsky dan North. Kalium, berperan penting dalam regulasi osmotik potensial sel tumbuhan, mengaktifkan banyak enzim yang terlibat dalam respirasi dan fotosintesis (Taiz dan Zeiger, 2. merupakan unsur hara mineral terbanyak kedua pada tanaman setelah N. Jumlahnya 4Ae6 kali lipat lebih melimpah dibandingkan makronutrien P. Ca. Mg dan S. K terlibat dalam kerja lebih dari 60 enzim, dalam fotosintesis dan perpindahan hasil produksinya . ke organ penyimpan . iji, umbi, akar dan buah-buaha. , berperan dalam penghematan air dan memberikan ketahanan terhadap serangan hama, penyakit dan stres . mbun beku dan kekeringa. dan mengatur pembukaan stomata daun. (Roy et al. , 2. bersama dengan unsur nitrogen juga berperan dalam sintesis protein (Purba et al. , 2. Kandungan K dalam pupuk guano walet mendukung proses fotosintesis sehingga proses pembentukan bahan organik pada tumbuhan berlangsung optimal. Hal ini akan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman segau. Kalsium (C. menempati peringkat bersama Mg. P dan S dalam kelompok unsur hara makro yang paling sedikit kelimpahannya pada Ca merupakan bagian dari struktur dinding sel dan membran, terlibat dalam pembelahan sel, pertumbuhan, pemanjangan akar dan aktivasi atau penghambatan enzim (Roy et , 2. Menurut Salam . , kalsium membentuk Ca-Oksalat dan Ca-Pektat, yang merupakan senyawa utama penyusun dinding sel tanaman dan juga sebagai ion pembangkit tekanan turgor di dalam sel tanaman sedangkan Mg merupakan penyusun klorofil dan berperan dalam aktivasi enzim, pembentukan biji, dan sintesis minyak. Ion kalsium digunakan dalam sintesis dinding sel baru, khususnya lamela tengah yang memisahkan sel-sel yang baru Kalsium berperan dalam pembelahan sel (Taiz dan Zeiger, 2. Mg berada di peringkat yang sama dengan Ca. P dan S dalam kelompok unsur hara makro yang paling sedikit kelimpahannya tanaman. merupakan bagian dari klorofil dan sangat penting untuk fotosintesis dan terkait dengan aktivasi enzim, transfer energi, pemeliharaan metabolisme karbohidrat, dan lain-lain (Roy et , 2. Pada sel tumbuhan, ion magnesium memiliki peran spesifik dalam aktivasi enzim yang terlibat dalam respirasi, fotosintesis, dan sintesis DNA dan RNA serta merupakan bagian dari struktur cincin molekul klorofil (Taiz dan Zeiger, 2. Pemberian bahan organik yang bersumber dari pupuk guano walet menyediakan unsur C dan N untuk perkembangan mikroorganisme Mikroorganisme tanah berperan dalam perombakan bahan organik agar tersedia dan terserap oleh tanaman (Salam, 2. Unsur mineral dengan ketersediaan rendah di dalam tanah sering kali membatasi produksi tanaman, oleh karena itu unsur hara diberikan untuk mendukung pertumbuhan tanaman dalam bentuk Tanaman membutuhkan pasokan unsurunsur mineral esensial yang cukup, namun tidak berlebihan, untuk produktivitas optimal (White dan Brown, 2. Menurut Taiz dan Zeiger . , masingmasing unsur hara yang terkandung dalam pupuk guano walet mempunyai fungsi dan peran yang saling terkait yaitu unsur Mg bersama dengan N menyusun klorofil, unsur Ca bersama P SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa: Pemberian pupuk guano berpengaruh terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun berat segar total tanaman, berat segar tajuk dan berat segar akar. Perlakuan terbaik dosis 30 ton/ha terdapat pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun sedangkan 15 ton/ha pada variabel berat segar tanaman, berat segar tajuk dan berat segar akar DAFTAR PUSTAKA