Pelestarian Kesenian Melalui Tradisi Saparan Indra Maulana . Zahrotul Umami . Study Program of Communication Faculty of Computer Science. Universitas Dian Nuswantoro . Department of Communication. Faculty of Computer Science. Universitas Dian Nuswanoro Email: . maulanaindra203060@gmail. umami@dsn. ARTICLE HISTORY Received . April 2. Revised . Mei 2. Accepted . Juni 2. KEYWORDS Art and Culture. Intercultural Communication. Local Culture. Saparan. Tradition. This is an open access article under the CCAeBY-SA license ABSTRAK Kebudayaan lokal yang melekat di masyarakat Indonesia mengalami perubahanperubahan di Era society 5. Generasi remaja sudah memahami mengenai rasa nasionalis tetapi mereka sendiri memang menyadari adanya arus modernisasi yang membuat mereka harus beradaptasi menjadi lebih modern dan secara tidak sadar meninggalkan budaya lokal. Hal ini mengakibatkan perubahan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat terutama kebudayaan masyarakat itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tradisi saparan sebagai media komunikasi untuk melestariakan kesenian, khususnya dalam konteks kesenian lokal di desa Tajuk. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dengan teknik pengumpulan data berupa teknik pengumpulan data: wawancara, observasi, dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Saparan sebagai media komunikasi budaya yang kuat dalam membangun dan mempertahankan identitas masyarakat lokal. Tradisi Saparan memiliki peran penting dalam komunikasi antarbudaya, terutama dalam hal pelestarian kesenian lokal. Selain itu, ditemukan bahwa tradisi saparan menjadi jembatan proses pertukaran pesan antara individu atau kelompok dari latar belakang budaya yang berbeda. Penelitian ini menunjukkan bahwa Saparan juga menjadi media komunikasi antarbudaya yang efektif, di mana pertukaran nilai, simbol, dan praktik budaya terjadi tidak hanya antarwarga lokal, tetapi juga antara masyarakat lokal dan pengunjung dari luar daerah. Serta memberikan implikasi terhadap Pelestarian kesenian lokal. ABSTRACT Local culture inherent in Indonesian society has undergone changes in the Era of Society 5. The teenage generation already understands the sense of nationalism but they themselves are aware of the current of modernization that makes them have to adapt to be more modern and unconsciously leave local culture. This results in significant changes in people's lives, especially the culture of the community itself. This study aims to determine the Saparan tradition as a communication medium to preserve the arts, especially in the context of local arts in Tajuk village. The research method used is descriptive qualitative with a phenomenological approach with data collection techniques in the form of data collection techniques: interviews, observations. The results of the study indicate that the Saparan Tradition is a strong cultural communication medium in building and maintaining the identity of the local The Saparan Tradition has an important role in intercultural communication, especially in terms of preserving local arts. In addition, it was found that the Saparan tradition is a bridge for the process of exchanging messages between individuals or groups from different cultural backgrounds. This study shows that Saparan is also an effective intercultural communication medium, where the exchange of values, symbols, and cultural practices occurs not only between local residents, but also between local communities and visitors from outside the area. And provides implications for the preservation of local arts. PENDAHULUAN Kebudayaan lokal yang melekat di masyarakat Indonesia mengalami perubahan-perubahan di Era Masuknya informasi yang tak terkendali membuat suatu negara akan mengalami kesalahpahaman dalam menerima informasi dari negara lain. Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Suryana & Dewi, 2. menyatakan bahwa generasi remaja sudah memahami mengenai rasa nasionalis tetapi mereka sendiri memang menyadari adanya arus modernisasi yang membuat mereka harus beradaptasi menjadi lebih modern dan secara tidak sadar meninggalkan budaya lokal. Melalui media yang semakin mudah diakses dan terjangkau, masyarakat kini dapat menerima berbagai informasi mengenai peradaban baru dari berbagai penjuru dunia. Teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat dapat mempercepat proses globalisasi, yang pada gilirannya membawa pengaruh budaya dan nilai-nilai yang memengaruhi selera serta gaya hidup masyarakat. Globalisasi merupakan sebuah fenomena dalam kehidupan manusia yang terus berkembang, bergerak dalam masyarakat secara luas, dan termasuk bagian dari perjalanan hidup manusia (Nurhasanah et al. , 2. Dari hasil penelitian yang sudah banyak dilakukan, arus globalisasi secara signifikan mempengaruhi generasi muda dalam mengubah tata nilai sikap serta pola pikir yang lebih maju dalam kehidupan. Dengan demikian, bangsa Indonesia dapat berkembang dan maju. Namun, ada pula generasi muda yang terimbas dampak buruk akibat perubahan ini. Jurnal Professional. Vol. 12 No. 1 Juni 2025 page: 401 Ae 408 | 401 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X Generasi muda memiliki pola pikir yang lebih terbuka terhadap perubahan, sehingga mereka lebih rentan terpengaruh oleh arus globalisasi. Kondisi ini bisa menimbulkan goncangan sosial atau culture shock, yaitu situasi di mana masyarakat kesulitan atau tidak siap menghadapi masuknya pengaruh budaya asing ke Indonesia. Derasnya arus globalisasi menimbulkan permasalahan terhadap keberadaan kebudayaan daerah, salah satunya adalah penurunan rasa cinta terhadap kebudayaan daerah yang merupakan jati diri bangsa (Andika, 2. Pelestarian kebudayaan pada dasarnya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan juga kewajiban seluruh lapisan masyarakat. Partisipasi masyarakat dan para pelaku seni sangat penting dalam upaya menjaga kelestarian seni budaya. Pemerintah juga harus memberikan kebebasan serta pengawasan kepada masyarakat untuk mengembangkan seni budaya tradisional yang Kebudayaan sebagai salah satu identitas Indonesia yang mempunyai keberagaman dari timur sampai barat baik dari segi agama, bahasa hingga suku. Banyak sarana yang dapat dijadikan sebagai media pelestarian budaya seperti pendidikan formal, komunitas, sosial media, dan sarana lainnya. Sosial media menjadi potensi yang paling besar dalam melestarikan dan memperkenalkan kebudayaan ke masyarakat luas. Namun tidak semua masyarakat paham dalam memanfaatkan sosial media untuk melestarikan budaya, sebagian masyarakat khususnya masyarakat desa lebih memilih memanfaatkan tradisi yang mereka anut untuk melestarikan dan memperkenalkan kebudayaan milik mereka sendiri. Tradisi kebudayaan yang masih dianut dan diselenggarakan oleh masyarakat suku Jawa khususnya di kabupaten Semarang yaitu Saparan. Kata Saparan berasal dari Shafar, yakni bulan kedua dalam kalender Hijriah. Dalam tradisi masyarakat Jawa, bulan ini sering dianggap membawa energi negatif atau rentan terhadap kesialan. Masyarakat melaksanakan berbagai ritual dan upacara sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan agar senantiasa diberikan perlindungan, kesejahteraan, dan dijauhkan dari berbagai musibah (Ningsih, 2. Keyakinan ini muncul dari pandangan bahwa bulan Sapar memiliki makna yang kurang baik sehingga perlu diantisipasi melalui pelaksanaan tradisi-tradisi Tradisi Saparan yang paling sering dijumpai dalam masyarakat Jawa adalah pelaksanaan upacara Kegiatan saparan biasanya dilakukan doa bersama, penyajian sesajen, serta berbagai prosesi adat lainnya. Upacara tersebut merupakan wujud rasa syukur atas nikmat yang telah diterima sekaligus sebagai permohonan agar terhindar dari bencana dan penyakit. Dalam praktiknya, perayaan Saparan kerap berkembang menjadi acara besar yang turut menampilkan berbagai pertunjukan budaya khas daerah setempat. Tradisi Saparan sampai saat ini juga masih terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Tajuk. Desa Tajuk merupakan desa yang terletak di lereng gunung Merbabu kabupaten Semarang. Seperti masyarakat Jawa pada umumnya masyarakat desa Tajuk melaksanakan tradisi saparan sebagai bentuk wujud syukur atas kelimpahan hasil tani serta sebagai bentuk permohonan agar dijauhkan dari bentuk musibah dan untuk memperkuat kerukunan antar dusun. Dalam pelaksanaan tradisi Saparan di desa Tajuk, masyarakat saling mengunjungi antar dusun untuk bertamu ke rumah orang-orang yang mereka kenal, selain itu banyak masyarakat yang datang dari luar desa untuk mengikuti kegiatan saparan. Tamu yang datang akan disambut dengan ramah oleh pemilik rumah sebagai bentuk kerukunan dan kebersamaan antar warga. Sebelumnya peneliti telah mencari penelitian terdahulu yang berhubungan dengan toik ini yang pertama dengan judul penelitian AuPemberdayaan Masyarakat dalam Pelestarian Budaya Lokal di Pekon SukaratuAy yang menekankan pada partisipasi aktif masyarakat sebagai subjek pelestarian budaya. Penelitian ini menganalisis pemberdayaan masyarakat dalam pelestarian budaya lokal Lampung Seni Butabuh yang dijembatani oleh sanggar kesenian melalui sosialisasi, pelatihan, pembinaan, pendampingan (Putri, 2. Penelitian kedua dengan judul AuPelestarian Budaya Masyarakat Jawa Di Desa Batangharjo Lampung TimurAy. Penelitian ini membahas bagaimana nilai-nilai budaya Jawa dijaga melalui praktik sanggar oleh para budayawan serta secara turun temurun dari generasi ke generasi dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan budaya (Aulia, 2. Penelitian ketiga yang ada keterkaitan dengan topik ini yaitu dengan judul AuPeran Pemerintah Desa Dalam Melestarikan Budaya Di Desa Dadapaya. Kecamatan Semanu. Kabupaten GunungkidulAy. Penelitian ini membahas peran pemerintah desa dalam upaya pelestarian budaya lokal. Dalam pelaksanaannya, terdapat berbagai faktor yang menjadi pendukung maupun penghambat peran pemerintah desa, baik sebagai fasilitator, komunikator, maupun katalisator. Keberadaan faktor-faktor tersebut menimbulkan sejumlah kendala dalam proses pelestarian budaya lokal (Deta, 2. Berdasarkan hasil telaah terhadap penelitian-penelitian tersebut, tampak bahwa kebanyakan studi lebih menitikberatkan pada aspek pelestarian budaya secara umum, seperti peran masyarakat, pemerintah, atau praktik ritualnya. Namun, belum ada penelitian yang secara spesifik mengkaji bagaimana tradisi lokal khususnya Tradisi Saparan di Desa Tajuk berfungsi sebagai media komunikasi 402 | Indra Maulana. Zahrotul Umami . Pelestarian Kesenian Melalui Tradisi . antarbudaya sekaligus sarana pelestarian kesenian lokal. Penelitian ini mencoba mengisi kekosongan tersebut dengan menelusuri fungsi komunikasi dalam pelaksanaan Saparan, baik sebagai sarana komunikasi identitas budaya, komunikasi antargenerasi, maupun komunikasi antarbudaya yang melibatkan masyarakat luar. Selain itu, penelitian ini juga mengungkap dampak Saparan terhadap inovasi kesenian lokal dalam menghadapi arus modernisasi, yang menjadi bentuk komunikasi budaya dinamis antara masa lalu dan masa kini. Oleh karena itu, penelitian ini penting karena menghubungkan studi pelestarian budaya dengan teori komunikasi. Kemudian peneliti melakukan analisis untuk mencari kebaharuan penelitian dengan menggunakan teknik observasi di lapangan dan juga diskusi langsung dengan para informan yang dijadikan indikator penelitian berkaitan dengan pelestarian budaya Budaya tradisional merupakan warisan leluhur yang mencerminkan identitas, nilai, serta kearifan lokal suatu masyarakat. Dalam wujudnya yang beragam seperti seni pertunjukan, adat istiadat, upacara keagamaan, hingga kerajinan tangan, budaya tradisional menyimpan nilai historil dan filosofi yang dalam. Di satu sisi, modernitas mendorong transformasi sosial dan ekonomi yang berdampak pada perubahan orientasi nilai. Generasi muda cenderung lebih akrab dengan budaya popular global dibandingkan dengan tradisi lokalnya sendiri. Praktik budaya tradisional mulai terpinggirkan karena dianggap ketinggalan zaman, tidak relevan, atau bahkan kurang menarik secara visual dan komersial serta berkurangnya regenerasi pelaku budaya, terutama di kalangan remaja LANDASAN TEORI Teori Komunikasi Antarbudaya Komunikasi dan kebudayaan bukan sekadar dua istilah, melainkan dua konsep yang saling berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Studi mengenai komunikasi antarbudaya berfokus pada bagaimana kebudayaan memengaruhi proses komunikasi, sebagaimana dijelaskan oleh (William B. Hart II, 1. dalam Sudarmika, . Secara sederhana, komunikasi antarbudaya dapat dipahami sebagai proses komunikasi yang diwarnai atau dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya dalam pernyataan Aukomunikasi antara dua orang atau lebih yang berbeda latar belakang budayaAy. Komunikasi antarbudaya dapat didefinisikan melalui beberapa pernyataan sebagai berikut (Liliweri, 2. Komunikasi antarbudaya adalah proses penyebaran pesan, baik berupa informasi maupun hiburan, yang disampaikan secara lisan, tertulis, atau dengan cara lain antara dua orang yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Komunikasi antarbudaya merupakan proses pertukaran makna dalam bentuk simbol yang dilakukan oleh dua individu dengan latar belakang budaya yang berbeda. Komunikasi antarbudaya merupakan proses penyampaian pesan oleh seseorang melalui media tertentu kepada orang lain yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda dan menghasilkan dampak tertentu. Komunikasi antarbudaya merujuk pada proses pertukaran informasi, ide, atau perasaan antara individu yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Proses ini bisa terjadi secara lisan, tertulis, melalui bahasa tubuh, atau menggunakan elemen lain yang membantu menyampaikan pesan dengan lebih jelas. Proses komunikasi dan kebudayaan berkaitan dengan perbedaan cara dan langkah berkomunikasi yang terjadi antar komunitas atau kelompok. Studi komunikasi dan kebudayaan juga mencakup bagaimana makna dan pola-pola disampaikan dalam kelompok sosial, budaya, politik, pendidikan, serta dalam konteks teknologi yang melibatkan interaksi antar individu. Pelestarian Kebudayaan Daerah Budaya dapat dipahami sebagai kumpulan tindakan atau perilaku yang mengandung nilai-nilai esensial, yang diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, serta telah mengakar sebagai tradisi dalam kehidupan masyarakat. Kebudayaan daerah merujuk pada bentuk kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di wilayah tertentu, yang memiliki karakteristik khas dan membedakannya dari kebudayaan daerah lainnya (Fatin, 2. Pelestarian dapat diartikan sebagai upaya untuk mempertahankan, melindungi, dan memanfaatkan sumber daya dari suatu tempat dengan cara beradaptasi terhadap fungsi baru tanpa mengubah makna budaya yang ada. Dalam UndangUndang Nomor 11 Tahun 2010, pelestarian didefinisikan sebagai usaha yang bersifat dinamis untuk mempertahankan eksistensi cagar budaya dan nilai-nilainya melalui perlindungan, pengembangan, dan Sementara itu, menurut A. Widjaja pada tahun 1986, pelestarian merupakan kegiatan yang dilakukan secara berkesinambungan, terarah, dan terintegrasi, dengan tujuan untuk mencapai sesuatu yang tetap dan abadi, namun tetap dinamis, fleksibel, dan selektif (Hartini et al. , 2. Jurnal Professional. Vol. 12 No. 1 Juni 2025 page: 401 Ae 408 | 403 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X Pelestarian kebudayaan daerah bertujuan untuk melindungi warisan budaya dari ancaman kerusakan atau kepunahan. Derasnya arus globalisasi menimbulkan permasalahan terhadap kebudayaan daerah, salah satunya adalah penurunan rasa cinta terhadap kebudayaan daerah yang merupakan jati diri Media Komunikasi Media komunikasi adalah sebuah alat yang memudahkan proses komunikasi. Dengan adanya media komunikasi, penyebaran informasi menjadi lebih efisien, memungkinkan pesan disampaikan secara luas dan serempak dari komunikator ke komunikan. Media komunikasi karena itu adalah sarana apapun yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Berdasarkan atas proses semiosis manusia yang tanpa batas apapun bisa dipakai untuk menyampaikan pesan, dari suitas kawat dengan kaleng diujungnya (Husna, 2. Media komunikasi berfungsi sebagai perantara yang dipilih oleh komunikator untuk menyampaikan pesan kepada Lasswell mengemukakan beberapa fungsi utama media komunikasi, yaitu pengamatan . , menyediakan informasi tentang lingkungan, memberikan alternatif untuk memecahkan masalah atau hubungan . , serta sosialisasi dan pendidikan yang dikenal sebagai transmisi . (Littlejohn, 2014:. METODE PENELITIAN Metode Analisis Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian kualitatif lebih menitikberatkan pada pemahaman terhadap kualitas objek yang diteliti, seperti nilai, makna, perasaan manusia, pemahaman terhadap keberagaman, keindahan seni, serta nilai Fenomenologi adalah kajian mengenai pengetahuan yang berasal dari kesadaran, yaitu cara memahami suatu objek atau peristiwa dengan mengalaminya secara langsung dan sadar (Littlejohn. Fenomenologi berusaha untuk mengungkapkan arti dari pengalaman individu. Makna dari pengalaman tersebut sangat bergantung pada bagaimana seseorang berinteraksi dengan objek atau peristiwa yang dialaminya. (Edgar dan Sedgwick dalam Hamid, 2. Fenomenologi berkaitan dengan penampakan suatu objek, peristiwa, atau suatu kondisi dalam persepsi kita. Pendekatan ini dipilih atas pertimbangan secara matang bahwa sifat dan penelitian mampu mempertahankan dari objek penelitian, semua data yang berkaitan dengan penelitian di Lapangan dapat dipahami secara keseluruhan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Hasil data penelitian akan diolah, disusun, dianalisa, sehingga data mempunyai unsur nilai yang tinggi bagi masyarakat sekitar. Peneliti melakukan penelitian di Desa Tajuk. Kecamatan Getasan. Kabupaten Semarang, yang merupakan desa dengan beragam budaya tradisional yang diturunkan dari nenek moyang. Sumber data yang digunakan peneliti yaitu data primer dan data sekunder. Data primer ialah data yang diperoleh secara langsung di lapangan. Peneliti melakukan teknik wawancara secara mendalam kepada informan dalam mengambil data primer. Sedangkan data Sekunder adalah data yang diperoleh melalui perantara orang lain atau juga bida menggunakan dokumen-dokumen tertentu (Undari Sulung, 2. Informan yang diambil untuk di wawancarai sejumlah 3 orang yang meliputi Budayawan. Ketua Dusun. Ketua Sanggar, dan pengunjung dari luar desa yang mengikuti proses Saparan, karena mereka dianggap memiliki pengetahuan mendalam tentang isu yang diteliti. Pemilihan informan adalah mereka yang terlibat langsung ataupun tidak langsung dalam penelitian. Informan yang dipilih berdasarkan pertimbangan peneliti yang dianggap paling mengetahui secara keseluruhan terkait permasalahan yang akan diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Tradisi Saparan yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Tajuk merupakan salah satu warisan budaya yang sarat makna, tidak hanya sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya yang kuat dalam membangun dan mempertahankan identitas masyarakat lokal. Berdasarkan data hasil wawancara dan observasi, pelaksanaan Saparan berlangsung melalui sejumlah kegiatan inti seperti bersih kubur, bersih sumber air, doa bersama, serta makan bersama atau sedekahan yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan dilaksanakan berdasarkan waktu-waktu tertentu yang ditentukan oleh para sesepuh desa melalui musyawarah adat. 404 | Indra Maulana. Zahrotul Umami . Pelestarian Kesenian Melalui Tradisi . Dari sisi sosial. Saparan berfungsi sebagai media komunikasi antarindividu dan antarkelompok. Hal ini terlihat dari tingginya partisipasi masyarakat, baik warga lokal maupun pengunjung dari luar desa, yang secara aktif datang untuk bersilaturahmi, makan bersama, serta menyaksikan pertunjukan Interaksi yang terjadi selama kegiatan berlangsung menciptakan ruang dialog antarwarga, mempererat hubungan kekeluargaan, dan memperkuat rasa kebersamaan. Kegiatan ini juga membuka kesempatan bagi para seniman lokal untuk menampilkan karya mereka di hadapan publik, sekaligus menumbuhkan kembali semangat gotong royong yang kini mulai luntur dalam kehidupan modern. Dari aspek budaya. Saparan menjadi ajang pelestarian kesenian lokal seperti Wayang serta kesenian-kesenian lainnya. Kesenian ini ditampilkan sebagai bagian dari ritual perayaan, namun lebih dari itu. Kesenian berfungsi sebagai media komunikasi simbolik yang menyampaikan nilai-nilai kearifan lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Simbol, gerakan, irama, dan cerita yang dihadirkan dalam kesenian tersebut merupakan bagian dari komunikasi nonverbal yang memperkenalkan sejarah, identitas, serta makna kehidupan dari perspektif masyarakat setempat. Bahkan dalam perkembangannya, beberapa bentuk kesenian telah mengalami proses adaptasi dengan unsur-unsur modern agar tetap relevan di mata masyarakat sekarang, tanpa meninggalkan esensi tradisi yang Saparan tidak hanya mencerminkan komunikasi dalam konteks internal komunitas, tetapi juga menjembatani komunikasi antarbudaya. Hal ini tercermin dari keterlibatan masyarakat non-Muslim dalam kegiatan yang memiliki pola serupa dengan Saparan, namun disesuaikan dengan momentum keagamaan mereka seperti Natal dan Paskah. Meski tidak memiliki muatan ritual yang sama, bentuk partisipasi ini menunjukkan adanya penghormatan dan penerimaan terhadap budaya dominan di wilayah tersebut, serta mencerminkan kehidupan masyarakat yang toleran dan harmonis. Semua bentuk interaksi, simbolisasi, dan adaptasi budaya yang terjadi dalam Saparan menggambarkan proses komunikasi lintas budaya yang berlangsung secara alamiah. Tradisi ini mampu menyatukan berbagai elemen sosial-budaya dalam satu ruang budaya yang aktif dan hidup, di mana terjadi pertukaran nilai, pengakuan identitas, serta pemeliharaan norma dan simbol-simbol budaya melalui komunikasi verbal dan nonverbal. Tradisi Saparan merupakan bentuk komunikasi budaya yang holistic menghubungkan manusia dengan Tuhan melalui syukur dan ritual, manusia dengan manusia melalui interaksi sosial, dan manusia dengan budayanya melalui kesenian serta simbol-simbol adat. Dalam situasi dunia yang semakin terdigitalisasi dan homogen. Saparan menjadi benteng penting untuk menjaga keberlanjutan identitas budaya lokal dan eksistensi kesenian tradisional, sembari membuka ruang inklusi dan dialog lintas budaya yang sehat dan produktif. Saparan Sebagai Sarana Pengenalan Budaya Tradisi Saparan di Desa Tajuk tidak hanya penting bagi masyarakat lokal sebagai sekedar adat istiadat, tetapi juga memiliki peran strategis sebagai sarana pengenalan budaya kepada masyarakat luar Tradisi ini menyuguhkan berbagai unsur budaya lokal yang mencakup kegiatan spiritual, ritual sosial, dan pertunjukan kesenian tradisional, sehingga menjadikannya sebagai momen terbuka untuk menunjukkan identitas budaya komunitas kepada pihak eksternal, termasuk pengunjung dari luar daerah. Masyarakat secara aktif mengundang teman, kerabat, dan kenalan dari luar desa untuk turut menghadiri acara Saparan. Kehadiran mereka tidak sekadar menjadi tamu, tetapi juga sebagai peserta aktif yang ikut dalam kegiatan bersama seperti makan bersama, menyaksikan pertunjukan kesenian, dan berinteraksi dengan warga lokal. Pola ini menandakan bahwa Saparan memiliki fungsi komunikasi budaya yang terbuka dan partisipatif, di mana masyarakat luar dapat mengalami langsung suasana budaya khas Desa Tajuk. Tradisi Saparan mencerminkan terjadinya proses komunikasi lintas budaya secara langsung . aceto-face interactio. Dalam proses ini, terjadi pertukaran nilai, simbol, dan makna antarindividu atau kelompok dengan latar budaya yang berbeda. Komunikasi ini tidak hanya bersifat verbal, tetapi juga nonverbal dan simbolik terlihat dari kesenian yang ditampilkan, makanan tradisional yang disajikan, serta tata cara pelaksanaan ritual Saparan itu sendiri. Saparan menyediakan ruang yang memungkinkan pengunjung luar memahami nilai-nilai budaya lokal, seperti gotong royong, rasa syukur, penghormatan terhadap leluhur, dan kebersamaan. Sebaliknya, masyarakat lokal juga melakukan proses penerimaan terhadap kehadiran pihak luar dengan menjalin komunikasi terbuka dan menunjukkan sikap yang inklusif. Hal ini menunjukkan adanya adaptasi dan akomodasi budaya yang berlangsung secara harmonis dalam ruang tradisional. Tradisi ini juga memfasilitasi transfer budaya secara informal. Pengunjung yang hadir dan mengalami langsung kegiatan Saparan berpotensi menjadi penyebar informasi budaya kepada lingkungan sosial mereka. Baik melalui percakapan, dokumentasi pribadi, maupun unggahan media sosial, mereka secara tidak langsung membantu menyebarluaskan dan mempromosikan budaya Desa Jurnal Professional. Vol. 12 No. 1 Juni 2025 page: 401 Ae 408 | 405 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X Tajuk ke khalayak yang lebih luas. Ini merupakan bagian dari proses penyebaran nilai budaya secara horizontal yang sangat penting dalam pelestarian tradisi di era modern. Saparan bukan hanya menjadi media komunikasi internal komunitas, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi antarbudaya yang membangun apresiasi, memperluas pemahaman, dan memperkenalkan identitas budaya lokal kepada dunia luar. Maka dari itu, keberadaan pengunjung luar dalam pelaksanaan Saparan tidak hanya memperkaya pengalaman budaya mereka, tetapi juga turut memperkuat eksistensi budaya lokal melalui proses komunikasi yang aktif, saling menghargai, dan membangun pemahaman lintas budaya. Saparan Sebagai Upaya Untuk Melestarikan Kesenian Lokal Tradisi Saparan di Desa Tajuk bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang komunikasi budaya yang hidup. Salah satu aspek yang paling menonjol adalah bagaimana tradisi dijadikan media penyampaian nilai-nilai budaya kepada masyarakat, baik kepada warga lokal maupun pengunjung dari luar daerah. Pertunjukan seperti wayang kulit, reog, jathilan, dan tari topeng ireng tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium simbolik untuk menyampaikan pesan-pesan moral, sejarah, dan identitas budaya Jawa. Hal tersebut membuktikan bahwa tradisi saparan ini mencerminkan fungsi edukatif dari kesenian tradisional dalam menyampaikan narasi budaya yang mengandung nilai-nilai Selain itu, interaksi antara warga dan pengunjung saat menyaksikan pertunjukan menciptakan situasi komunikasi antarbudaya yang nyata. Pengunjung luar memperoleh pemahaman baru tentang nilai-nilai lokal, sedangkan masyarakat setempat mendapat kesempatan untuk merefleksikan identitas budayanya dalam konteks yang lebih luas. Di sinilah kesenian berperan sebagai jembatan antarbudaya, menjembatani antara masa lalu dan masa kini, antara komunitas lokal dan luar, tanpa kehilangan esensi Kesenian dalam tradisi Saparan bukan hanya alat ekspresi budaya, tetapi juga sarana strategis dalam menyampaikan dan melestarikan nilai-nilai budaya kepada khalayak yang lebih luas. Ia berfungsi sebagai ruang komunikasi yang mempertemukan generasi, golongan sosial, dan bahkan budaya yang berbeda, menjadikan Saparan sebagai bentuk praktik komunikasi antarbudaya yang hidup dan relevan hingga hari ini. Tradisi Saparan di Desa Tajuk tidak hanya berfungsi sebagai peristiwa budaya dan spiritual, tetapi juga menjadi media komunikasi antargenerasi yang efektif. Melalui kegiatan kesenian yang diselenggarakan selama rangkaian Saparan, terjadi proses pertukaran nilai, pengetahuan, dan pemahaman antara generasi tua dan generasi muda. Kegiatan seperti pementasan wayang kulit, reog, dan tari tradisional menjadi medium di mana generasi yang lebih tua mentransmisikan nilai-nilai budaya kepada yang lebih muda, tidak hanya dalam bentuk verbal tetapi juga melalui simbol, ekspresi seni, dan praktik budaya. Dengan adanya hiburan kesenian yang ditampilkan setiap dusunnya dalam tradisi saparan dengan tujuan supaya generasi muda tahu dan tidak lupa dengan budaya sendiri. Hal tersebut memperlihatkan adanya kesadaran kolektif akan pentingnya transfer nilai budaya dari orang tua kepada anak-anak muda melalui kegiatan seni. Generasi yang lebih tua berperan sebagai pelaku budaya sekaligus sebagai pengajar informal yang menyampaikan makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap bentuk Sementara itu, generasi muda menjadi penerima sekaligus calon pewaris budaya. Selain itu, terjadi juga proses pembelajaran aktif, generasi muda tidak hanya menonton tetapi juga mulai terlibat sebagai penari, penabuh gamelan, atau asisten dalang. Keterlibatan ini menciptakan interaksi yang intens antar generasi, di mana praktik budaya diwariskan melalui pendekatan langsung, bukan sekadar wacana atau dokumentasi. Saparan menjadi ajang berkumpulnya berbagai elemen masyarakatAibaik warga lokal dari berbagai dusun, perantau, hingga pengunjung dari luar daerah dan lintas latar belakang budaya maupun Kehadiran beragam pihak ini menciptakan interaksi yang intens, membentuk ruang dialog sosial yang inklusif dan dinamis. Dalam suasana perayaan, berbagai pihak berbaur melalui kegiatan bersama seperti makan bersama . , menonton pertunjukan kesenian, serta mengikuti ritual adat. Interaksi ini membentuk komunikasi budaya lintas kelompok, di mana pengunjung dari luar dapat memahami dan mengalami langsung nilai-nilai budaya masyarakat Tajuk. Pengalaman pengunjung dari luar tersebut menunjukkan bagaimana praktik budaya lokal berfungsi sebagai bentuk komunikasi nonverbal yang efektif, memberikan pemahaman budaya baru kepada orang luar tanpa harus melalui penjelasan formal. Tradisi ini menjadi media pengenalan budaya yang alami dan partisipatif, di mana siapa pun yang hadir dapat menyaksikan, merasakan, dan bahkan ikut berpartisipasi dalam kegiatan budaya masyarakat. Keterbukaan masyarakat Tajuk terhadap pengunjung luar, termasuk mereka yang berbeda latar agama maupun budaya, mempertegas bahwa Saparan bukan hanya milik satu komunitas, melainkan 406 | Indra Maulana. Zahrotul Umami . Pelestarian Kesenian Melalui Tradisi . ruang budaya yang inklusif dan terbuka bagi semua pihak. Ini sejalan dengan nilai luhur Saparan sebagai bentuk rasa syukur, kebersamaan, dan gotong royongAinilai-nilai universal yang dapat diterima oleh siapa saja. Saparan bukan hanya tradisi lokal, melainkan juga platform komunikasi budaya yang mempertemukan berbagai latar belakang dalam suasana yang harmonis dan dialogis. Tradisi ini membuka peluang untuk pelestarian budaya sekaligus penguatan identitas budaya melalui proses komunikasi yang aktif, terbuka, dan berkesinambungan. Pelestarian seni dalam tradisi Saparan tidak hanya dilakukan melalui praktik fisik seperti pementasan kesenian atau kegiatan ritual budaya, melainkan juga berlangsung dalam bentuk komunikasi yang bersifat simbolik, interaktif, dan lintas budaya. Proses ini dapat dianalisis menggunakan Teori Komunikasi Antarbudaya yang dikemukakan oleh Alo Liliweri . Komunikasi antarbudaya adalah proses pertukaran pesan antara individu atau kelompok dari latar belakang budaya yang berbeda, yang melibatkan pemaknaan terhadap simbol, nilai, dan perilaku. Dalam konteks tradisi Saparan, komunikasi antarbudaya tidak hanya terjadi antar etnis atau agama, tetapi juga antar generasi, antar daerah, dan antar lapisan sosial yang hadir dan berinteraksi dalam satu ruang Dalam kegiatan pementasan wayang kulit, reog, atau tari topeng ireng, pesan-pesan budaya yang bersifat filosofis dan historis dikomunikasikan oleh seniman kepada penonton. Penonton tidak hanya dari kalangan warga lokal, tetapi juga dari luar daerah bahkan lintas agama. Hal ini menunjukkan bagaimana seni menjadi alat komunikasi lintas budaya, di mana nilai-nilai lokal disampaikan kepada khalayak yang tidak selalu berasal dari latar budaya yang sama. Pertunjukan seni di sini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga media edukasi budaya, yang mempertemukan perspektif lokal dengan pemahaman eksternal. Dalam konteks pelestarian seni, kesenian tidak sekadar diwariskan secara teknis, melainkan juga dikomunikasikan dalam suasana budaya yang terbuka, kolaboratif, dan edukatif dalam saparan. Setiap pertunjukan seni dalam Saparan mengandung makna kultural yang ditafsirkan oleh audiens berdasarkan latar belakangnya masing-masing dan dalam proses ini, terjadi transfer nilai budaya yang menjaga keberlanjutan seni itu sendiri. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Tradisi Saparan di Desa Tajuk merupakan manifestasi budaya yang memiliki fungsi strategis sebagai media komunikasi dalam pelestarian kesenian lokal. Tradisi ini tidak hanya bersifat ritual sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan penghormatan kepada leluhur, tetapi juga menjadi sarana penting dalam membangun interaksi sosial antarwarga serta komunikasi budaya dengan masyarakat Berbagai aktivitas yang terdapat dalam rangkaian Saparan seperti bersih kubur, sedekah makanan, pertunjukan wayang, reog, tari topeng ireng, hingga open house antarwarga menggambarkan adanya komunikasi interpersonal yang erat, komunikasi antargenerasi melalui proses pewarisan budaya, serta komunikasi antarbudaya melalui keterlibatan pengunjung dari luar desa yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Tradisi Saparan dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional melalui kesenian. Kesenian dalam Saparan bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai media penyampaian pesan budaya, sejarah, dan nilai moral yang dikemas dalam bentuk simbolik seperti cerita pewayangan, musik tradisional, dan gerak tari. Dalam konteks teori komunikasi antarbudaya. Saparan menjadi arena di mana nilai-nilai lokal dikomunikasikan kepada pihak luar, dan sebaliknya, masyarakat juga terbuka terhadap perspektif baru yang dibawa pengunjung. Interaksi semacam ini memperkuat integrasi sosial dan menumbuhkan sikap saling menghargai perbedaan budaya. Tradisi Saparan di Desa Tajuk berfungsi sebagai ruang komunikasi budaya yang terbuka dan inklusif, menjembatani generasi, membangun dialog antarbudaya, dan menjaga eksistensi kesenian tradisional di tengah arus modernisasi. Tradisi ini merupakan bukti nyata bahwa budaya lokal dapat tetap bertahan dan berkembang melalui strategi komunikasi yang menyeluruh baik verbal maupun nonverbal yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat pendukungnya . Saran Untuk mendorong keberlanjutan pelestarian budaya, pemerintah desa dan tokoh masyarakat perlu memberikan dukungan konkret untuk pelestarian tradisi Saparan melalui penyusunan agenda budaya tahunan, penyediaan dana khusus, dan pelibatan lembaga pendidikan serta komunitas seni. Hal ini akan membantu menjamin kelangsungan tradisi dalam jangka Panjang. Jurnal Professional. Vol. 12 No. 1 Juni 2025 page: 401 Ae 408 | 407 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X DAFTAR PUSTAKA