MERPATI 6 . JURNAL MERPATI Media Publikasi Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Logistik dan Bisnis Internasional https://ejurnal. id/index. php/merpati PRODUK GREEN INOVASI DARI JAVA PREANGER COFFEE BERUPA CASCARA TEA Bambang Triputranto1. Nur Aziz Sugiharto2. Kiagus Muhammad Amran3. Hilman Setiadi4 Manajemen Perusahaan. Universitas Logistik dan Bisnis Internasional email: bambangtriputranto@poltekpos. Manajemen Pemasaran. Universitas Logistik dan Bisnis Internasional email: azizsugiharto@ulbi. Manajemen Pemasaran. Universitas Logistik dan Bisnis Internasional email: amrankm@ulbi. Administrasi Logistik. Universitas Logistik dan Bisnis Internasional email: hilmansetiadi@ulbi. ABSTRAK Kopi merupakan salah satu komoditas strategis Indonesia yang memberikan kontribusi besar terhadap ekspor dan devisa negara. Di Kabupaten Bandung Barat. Provinsi Jawa Barat, potensi pengembangan kopi Arabika sangat menjanjikan, terutama di Desa Suntenjaya. Kecamatan Lembang, yang menjadi salah satu sentra produksi. Namun, dalam proses pengolahan biji kopi, dihasilkan limbah berupa kulit kopi . yang selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal dan hanya dijadikan sebagai pakan ternak atau kompos. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa cascara mengandung berbagai senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan. Melihat potensi ini, diperlukan upaya untuk meningkatkan pemanfaatan limbah kopi melalui pelatihan kepada para petani. Pelatihan ini diharapkan dapat membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah cascara menjadi produk bernilai ekonomi, seperti teh cascara yang ramah lingkungan. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas petani lokal, mendorong inovasi produk turunan kopi, serta menambah nilai ekonomi dari limbah yang sebelumnya terabaikan. Dengan begitu, petani tidak hanya mengandalkan penjualan biji kopi, tetapi juga dapat memperoleh penghasilan tambahan dari hasil olahan limbah yang berkelanjutan dan bernilai jual tinggi. Kata kunci: Cascara, inovasi, usaha tani kopi, green marketing ABSTRACT Coffee commodities play a strategic role in Indonesia's export activities and contribute greatly to the country's foreign exchange earnings. West Bandung Regency, located in West Java Province, has great potential in the development of Arabica coffee. One of the production centers is Suntenjaya Village in Lembang District. Unfortunately, the coffee bean processing process also produces waste in the form of coffee skin . which has not been optimally utilized and has only been used as animal feed or In fact, according to research results, cascara contains compounds that are beneficial to For this reason, training is needed for farmers so that they are able to process this waste into products of economic value such as cascara tea drinks. This community service program aims to increase the capacity of farmers through training in coffee waste processing, which can ultimately increase their income through environmentally friendly derivative products. Keywords: Cascara, innovation, coffee farming, green marketing MERPATI 6 . C Hal. PENDAHULUAN Analisis Situasi Kopi merupakan hasil perkebunan yang memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Saat ini indonesia merupakan salah satu produsen kopi terbesar di dunia setelah Brasil dan Vietnam dan memiliki kontribusi devisa yang cukup tinggi. Menurut Internasional Coffe Organization (ICO). Indonesia memperoleh $1,2 miliar dalam mata uang asing pada tahun 2015. Jumlah devisa tersebut diperoleh dari ekspor biji kopi Robusta dan Arabika yang mencapai 446. 279 ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 368. 817 ton. Ekspor kopi Indonesia rata-rata sekitar 000 ton per tahun, yang mana 85% adalah Robusta dan 15% adalah Arabika (Indonesia Investment. Pada kegiatan PKM yang kami lakukan pada tahun 2019 diperoleh sebuah hasil kemitraan berupa penyajian kopi menggunakan metode filter dripper . aring ampa. , pada kesempatan PKM tahun 2024 ini kami mencoba menawarkan sebuah metode penanggulangan limbah kulit kopi menjadi sebuah minuman teh yang disebut dengan Cascara tea, dikutip dari halaman halodoc. com kulit kopi atau cascara memiliki banyak manfaat diantaranya adalah memiliki anti oksidan yang tinggi, menjaga kesehatan pencernaan, menurunkan resiko penyakit jantung, menjaga kesehatan kulit, menjaga kesehatan otak, dan menurunkan resiko diabetes. Kabupaten Bandung Barat memiliki potensi besar untuk pengembangan bahan baku kopi Arabika, salah satunya saat ini dibudidayakan di kawasan Gunung Manlayang Kecamatan Lembang. Desa Suntenjaya di Kecamatan Lembang merupakan salah satu daerah penghasil kopi Arabika di Kabupaten Bandung Barat, terletak di Pegunungan Manlayang Barat. Namun, sebagian petani kopi masih menghadapi banyak kendala pengetahuan, keterbatasan teknologi,biaya dan tenaga kerja dalam mengolah limbah kopi secara baik dan tepat sesuai tuntutan ramah lingkungan. 2 Profile Mitra Desa Suntenjaya terletak di bagian timur wilayah administratif Kabupaten Bandung Barat dan termasuk dalam wilayah Kecamatan Lembang. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 1. 456,56 hektar dan berada pada ketinggian 1. 290 meter di atas permukaan laut. Iklimnya tergolong sejuk dengan rata-rata suhu berkisar antara 20 hingga 28 AC serta curah hujan tahunan mencapai 2. 027 mm. Berdasarkan data tahun 2017, jumlah penduduk di desa ini tercatat sebanyak 8. 166 jiwa dengan total 2. 510 kepala keluarga. Wilayah desa berbatasan dengan sejumlah desa lain di Kecamatan Lembang. Sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani, peternak, termasuk pengelola sapi perah, dan pekerja sektor Jarak dari desa ke pusat pemerintahan kabupaten sekitar 13,5 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit 3 Persoalan yang dihadapi mitra Dari hasil kajian awal yang dilakukan di Desa Suntenjaya, diketahui bahwa sebagian besar petani kopi masih menghadapi berbagai tantangan pada tahap pascapanen, khususnya terkait dengan penanganan limbah kulit kopi. Umumnya, limbah ini hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau bahan kompos, padahal kulit kopi sebenarnya memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai guna tinggi. Minimnya inovasi serta keterbatasan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengolah limbah tersebut menjadi kendala utama dalam upaya pemanfaatan yang lebih optimal. Sebagai bentuk kontribusi akademisi dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tim pengusul menawarkan solusi melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dalam bentuk pengembangan inovasi ramah lingkungan dari kopi Java Preanger, yakni produk teh cascara berbasis limbah kulit kopi. MERPATI 6 . C Hal. METODE PELAKSANAAN Metode pelaksanaan kegiatan menjelaskan tahapan dalam melaksanakan solusi yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan yang memuat hal-hal berikut ini. 1 Metode Transfer ilmu Metode ini dilakukan dengan cara menularkan ilmu sekaligus memberikan pelatihan kepada mitra berupa perancangan Inovasi dan Strategi pasca panen Java Preanger coffee dengan pengolahan limbah kulit kopi berupa cascara tea pada petani kopi di desa Suntenjaya kec. Lembang Kab. Bandung Barat. Provinsi Jawa Barat. 2 Metode Penyampaian Penyampaian materi dilakukan langsung oleh narasumber kepada peserta mitra. Dalam sesi pelatihan, peserta melakukan observasi langsung proses pengolahan limbah kulit kopi dengan pendampingan Pendekatan ini dirancang agar materi lebih mudah dipahami dan tujuan pelatihan dapat tercapai secara efektif. Kegiatan PKM berupa pemanfaatan limbah kopi menjadi Casacara tea bagi mitra ini akan dilaksanakan dalam beberapa tahap, meliputi. Kegiatan pengolahan limbah kopi menjadi cascara tea dilaksanakan dalam beberapa tahap, antara lain: Tahap Persiapan: C Melakukan survei lokasi pelaksanaan kegiatan. C Menyusun proposal serta mengurus perizinan yang berkaitan dengan mitra. C Membuat sampel produk dan menyusun tutorial proses pembuatan teh cascara. C Menjalin kerja sama dengan pakar yang akan bertindak sebagai narasumber. C Menyusun dan menggandakan modul pelatihan. Tahap Pelaksanaan: Kegiatan pelatihan dilakukan satu kali dalam ruangan yang dilengkapi fasilitas instruktur. Setiap peserta dibekali alat tulis untuk mendukung proses pembelajaran. Materi disampaikan dalam tiga sesi utama: C Sesi pertama berupa penyampaian teori dan manfaat pengolahan limbah kopi menjadi produk bernilai guna. C Sesi kedua adalah praktik langsung pembuatan cascara tea oleh peserta, didampingi oleh narasumber dan panitia. C Sesi ketiga yaitu pendampingan untuk memastikan peserta memahami proses penyeduhan cascara secara mandiri. C Ditutup dengan sesi tanya jawab seputar teknik dan potensi produk cascara tea. Tahap Akhir: Tahap penutup meliputi penyusunan dan pengumpulan laporan hasil kegiatan sebagai dokumentasi pelaksanaan program. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Penentuan Data Dasar (Look dan Thin. Meskipun para petani kopi di Desa Suntenjaya telah berupaya memanfaatkan limbah kopi, persoalan terkait pengelolaan kulit kopi sebagai limbah utama masih belum terselesaikan secara optimal. Beberapa faktor yang menyebabkan hal ini antara lain: Terbatasnya akses kelompok tani terhadap informasi mengenai teknologi budidaya serta penanganan pascapanen kopi. Jumlah petani yang memiliki kemampuan dan pemahaman dalam mengolah limbah kopi secara tepat dan efisien masih tergolong minim. Melalui proses observasi dan analisis awal . ook and thin. , tim pelaksana menyimpulkan bahwa diperlukan alat ukur yang sesuai untuk mengetahui sejauh mana capaian target program PKM ini dapat Oleh karena itu, dilakukan penyebaran kuesioner kepada peserta sebagai langkah awal untuk menilai tingkat pemahaman mereka mengenai pengolahan limbah kopi, khususnya dalam konteks pemanfaatan menjadi produk cascara tea sebelum pelatihan dimulai. MERPATI 6 . C Hal. 2 Kemampuan Mengelola limbah kulit kopi sebelum pelatihan Kemajuan teknologi belum sepenuhnya merata ke seluruh lapisan masyarakat, termasuk para petani di Implementasi teknologi tersebut seringkali membutuhkan infrastruktur dan perangkat khusus, yang justru menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan inovasi pengelolaan limbah. Oleh karena itu, tim pelaksana melakukan wawancara langsung dengan para peserta sebagai langkah awal. Selain itu, penyebaran kuesioner pada awal kegiatan menjadi salah satu cara yang efektif untuk menyesuaikan materi pelatihan dengan tingkat pemahaman peserta serta mengukur efektivitas kegiatan PKM ini. Kuesioner disebarkan selama dua hari pertama pelatihan kepada 15 peserta, masing-masing menjawab 10 pernyataan dalam bentuk afirmatif menggunakan skala Likert 1 hingga 5, di mana angka yang lebih besar menunjukkan tingkat persetujuan yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil analisis kuesioner, pernyataan dengan skor tertinggi . adalah: AuSaya akan mendukung penggunaan limbah kulit kopi untuk produk-produk ramah lingkungan. Ay Hal ini menunjukkan bahwa peserta sangat antusias terhadap pemanfaatan limbah kulit kopi untuk produk bernilai guna yang ramah lingkungan. Sebaliknya, pernyataan dengan skor terendah adalah: AuSaya mengetahui bahwa limbah kulit kopi bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau pakan ternak. Ay Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar peserta belum sepenuhnya menyadari potensi kulit kopi, yang selama ini hanya dianggap sebagai bahan pupuk atau pakan ternak. Dari analisis terhadap 10 pernyataan yang diajukan, dapat disimpulkan bahwa sebelum pelatihan dimulai, peserta memiliki motivasi dan rasa ingin tahu yang tinggi terkait pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi produk yang memiliki manfaat kesehatan dan nilai ekonomi lebih besar daripada sekadar limbah biasa. 3 Kemampuan Mengelola limbah kulit kopi setelah Pelatihan Minat peserta terhadap kegiatan pelatihan sangat tinggi. Hal ini terlihat dari partisipasi aktif para petani yang banyak mengajukan pertanyaan langsung kepada pemateri, terutama saat sesi pengembangan produk inovatif berbasis kopi dan pelatihan pemasaran melalui platform digital . -commerc. Sebanyak 15 peserta menjawab kuesioner yang dibagikan pada hari pertama dan kedua pelatihan, masing-masing menggunakan 10 pernyataan yang diukur dengan skala 1 hingga 5. Hasil dari tabel 4. menunjukkan bahwa pernyataan dengan skor tertinggi adalah: AuSaya mengetahui bahwa limbah kulit kopi dapat diolah menjadi cascara . inuman berbahan kulit kop. ,Ay dengan nilai total mencapai 70. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar peserta sebelumnya belum mengetahui potensi kulit kopi sebagai bahan dasar teh cascara. Umumnya, limbah kulit kopi hanya dibuang atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk organik. Dalam pelatihan, para peserta mendapat kesempatan untuk mencoba menyeduh dan mencicipi teh cascara. Tanggapan peserta pun beragam, seperti: Auteh rasa kopiAy atau Aukopi rasa teh,Ay menunjukkan pengalaman baru yang positif bagi mereka. Sebaliknya, pernyataan dengan skor terendah adalah: AuSaya percaya bahwa cascara dapat menjadi alternatif produk minuman yang sehat dan ramah lingkungan. Ay Ini mencerminkan masih adanya keraguan di kalangan peserta tentang sejauh mana produk cascara dapat diterima oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, dibutuhkan edukasi lanjutan baik kepada petani maupun masyarakat untuk memperkenalkan manfaat kesehatan dan potensi ekonomi dari produk cascara. Dari hasil analisis keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa pelatihan ini telah berhasil memperluas wawasan peserta tentang nilai tambah dari pengolahan limbah kulit kopi. Mereka tidak hanya memahami manfaat kesehatan dari cascara, tetapi juga mulai menyadari potensi ekonominya yang jauh lebih baik dibandingkan sekadar dijadikan pupuk atau pakan ternak. Meski begitu, tindak lanjut berupa penyuluhan lanjutan tetap diperlukan untuk mendukung pemanfaatan limbah ini secara berkelanjutan. Maka dari hasil analisa 10 pernyataan yang ditanyakan kepada peserta, dapat gambarkan situasi setelah pelatihan adalah peserta pelatihan mempertambah wawasan tentang bagaimana pengelolaan limbah kulit kopi ini menjadi suatu produk yang memiliki nilai manfaat untuk kesehatan tubuh dan juga memiliki nilai ekonomis yang lebih baik ketimbang limbah kulit kopi ini hanya dijadikan sebagai pupuk MERPATI 6 . C Hal. organik dan pakan ternak. Namun diperlukan penyuluhan-penyuluhan lebih lanjut agar supaya kulit kopi ini dapat manfaatkan dengan lebih baik. 4 Pelasanaan (Ac. Berdasarkan hasil analisis dari kuesioner pra-pelatihan yang disebarkan kepada petani kopi dan perangkat desa di Desa Suntenjaya, ditetapkan beberapa batasan yang menjadi acuan agar pelatihan dapat disesuaikan secara tepat dengan kebutuhan para mitra, dalam hal ini petani kopi. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan dalam satu kali pertemuan tatap muka pada tanggal 1 November 2024 dan berlangsung di aula desa. Acara diisi oleh seorang dosen sebagai pemateri utama dan dibantu oleh tiga orang mahasiswa. Sebelum kegiatan dimulai, setiap peserta menerima perlengkapan alat tulis guna menunjang proses Dalam kegiatan tersebut, peserta diberikan modul yang telah disusun oleh tim dan pemateri, berisi informasi tentang pengolahan limbah kulit kopi menjadi teh cascara. Pelatihan dilaksanakan dalam tiga tahapan. Tahap pertama berisi penyampaian materi mengenai potensi komoditas kopi dan pemanfaatan platform e-commerce untuk pemasaran produk teh cascara. Tahap kedua adalah sesi praktik, di mana peserta secara langsung memproduksi seduhan cascara dengan bimbingan dari pemateri dan asisten. Tahap ketiga merupakan evaluasi dari praktik pembuatan seduhan Namun, keterbatasan waktu dan fasilitas membuat sesi pelatihan e-commerce hanya mencakup pemahaman dasar dan penampilan simulasi iklan digital di marketplace. Sesi pelatihan kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab guna menguatkan pemahaman peserta. Sebagai tambahan, peserta juga menerima materi pelatihan dalam bentuk cetak agar bisa dipelajari lebih lanjut secara mandiri di luar waktu pelatihan. KESIMPULAN Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia yang berperan penting dalam mendatangkan devisa negara. Kabupaten Bandung Barat, khususnya Desa Suntenjaya di Kecamatan Lembang, memiliki potensi besar dalam pengembangan budidaya kopi arabika. Namun, kegiatan pascapanen kopi sering menimbulkan limbah berupa kulit kopi yang belum dimanfaatkan secara Untuk mengatasi hal ini, ditawarkan pendekatan inovatif melalui pengolahan limbah kulit kopi menjadi teh cascara. Dikutip dari sumber halodoc. com, cascara memiliki berbagai manfaat kesehatan, seperti kandungan antioksidan yang tinggi, membantu menjaga kesehatan pencernaan, jantung, kulit, dan otak, serta menurunkan risiko diabetes. Produk ini juga berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi Oleh karena itu, dibutuhkan strategi pengembangan usaha tani kopi yang dapat memasukkan cascara sebagai bagian dari inovasi produk. Program pengabdian masyarakat ini diharapkan mampu memberdayakan petani dalam mengolah limbah kulit kopi dengan meningkatkan keterampilan teknis mereka dalam menghasilkan produk sampingan bernilai ekonomi, sekaligus memperkuat kapasitas kelompok usaha tani. REFERENSI