Ganesha Civic Education Journal Volume 6. Number 2. Oktober 2024, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index MEMPERKUAT CINTA TANAH AIR DI ERA KOREAN WAVE MELALUI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Harda Johan Prasetyo 1 * . Fatma Ulfatun Najicha 2 Universitas Sebelas Maret. Indonesia ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Received 20 Juni 2024 Accepted 1 Oktober 2024 Available online 10 Oktober Sikap cinta tanah air wajib dimiliki semua kalangan masyarakat terutama generasi milenial sebagai penerus bangsa. Namun, perkembangan teknologi yang sangat cepat dan merebaknya fenomena korean wave menjadi hambatan tersendiri bagi penanaman sikap cinta tanah air. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis peran pendidikan Kata Kunci: kewarganegaraan guna memperkuat rasa cinta tanah air di era korean wave. Pendidikan Metode penelitian dalam kajian ini menggunakan studi pustaka yang Kewarganegaraan. tanah air. gelombang korea. bersumber dari e-book, e-jurnal dan media serta artikel yang berkaitan dengan cinta tanah air, korean wave dan pendidikan kewarganegaraan. Hasil penelitian menyatakan bahwa Pendidikan kewarganegara sebagai Keywords: penangkal menurunnya sikap cinta tanah air dikalangan generasi muda Civic Education. korean wave. akibat dampak adanya korean wave. Walaupun pendidikan kewarganegaraan mampu sebagai solusi, namun perlu adanya studi lanjutan guna penyesuaian pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan perkembangan zaman sehingga pembelajaran berjalan efektif dan Implikasi dari penelitian ini adalah mampu mendorong para pendidik untuk mencari metode pembelajaran yang inovatif dan menarik bagi generasi muda yang akrab dengan budaya populer. Pemanfaatan elemen-elemen korean wave secara bijak dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan . isalnya, analisis film, musik, atau drama Korea dari perspektif nilai kebangsaa. dapat meningkatkan keterlibatan siswa. ABSTRACT The attitude of patriotism must be possessed by all levels of society, especially the millennial generation as the successors of the nation. However, the rapid development of technology and the spread of the Korean wave phenomenon have become obstacles in themselves for instilling an attitude of patriotism. The study aims to determine and analyze the role of civic education in strengthening the sense of patriotism in the Korean wave The research method in this study uses a literature study sourced from e-books, e-journals and media as well as articles related to patriotism, the Korean wave and civic education. The results of the study stated that Civic Education is an antidote to the decline in the attitude of patriotism among the younger generation due to the impact of the Korean wave. Although civic education is able to be a solution, further studies are needed to adjust civic education learning to the development of the times so that learning runs effectively and The implication of this study is that it is able to encourage educators to find innovative and interesting learning methods for the younger generation who are familiar with popular culture. The wise use of Korean wave elements in civic education learning . or example, analysis of Korean films, music, or dramas from the perspective of national value. can increase student involvement. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2024 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. * Corresponding author. E-mail addresses: hardaprasetyo@student. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. Pendahuluan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin pesat, memudahkan kita dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Berbelanja tidak harus datang ke supermarket, membayar tagihan dapat melalui e-banking dan menonton film tidak harus datang ke bioskop. Kemudahan berkomunikasi, interaksi antar daerah dan mengakses berbagai informasipun juga menjadi kelebihan dalam era ini. Tak heran apabila kita menyebut era ini sebagai era instan. Kemajuan IPTEK tersebut menyebabkan ketergantungan masyarakat dengan penggunaan Kemudahan berbagai aspek tersebut juga menyebabkan mudahnya kebudayaan negara lain masuk ke suatu negara, seperti gelombang korean wave. Korean wave atau yang sering di sebut juga hallyu menjadi salah satu hal yang wajib diperhatikan dan diwaspadai karena merupakan tren kebudayaan dari Korea Selatan. K-Drama dan K-Pop menjadi produk korean wave yang paling di gemari di dunia. Kebudayaan Korea tersebut dapat mempengaruhi masyarakat dan menggeser eksistensi kebudayaan di Indonesia khususnyadi kalangan generasi millial sebagai penerus bangsa. Padahal kebudayaan merupakan identitas suatu bangsa dan menjadi suatu pembeda antar negara satu dengan yang lainnya. Banyaknya suku bangsa beserta kebudayaannya menjadikan Indonesia sebagai negara yang majemuk. Bahasa, kesenian dan tradisi daerah yang menjadi warisan turun temurun bangsa Indonesia yang indah sudah diakui oleh dunia. UNESCO atau Badan PBB dalam bidang Pendidikan. Keilmuan dan Kebudayaan sebagai contohnya yang sudah menetapkan batik pada tahun 2009, keris pada tahun 2008, gamelan pada tahun 2021 dan lainnya sebagai warisan budaya takbenda. Sebagai identitas suatu bangsa kebudayaan tentuhanya harus dilestarikan dan di cintai oleh Cinta tanah air merupakan sikap kita untuk menunjukkan kepedulian dan kesetiaan kita kepada negara dalam semua aspek seperti kebudayan, bahasa dan lain sebagainya. Cinta seharusnya menjadi suatu kewajiban bagi seluruk warga negara. Hal tersebut menunjukkan bahwa cinta tanah tanah air tidak hanya untuk warga negara yang berada di negaranya tetapi juga untuk warga negara yang berada di luar negeri. Cinta tanah air di era sekarang terus dikampanyekan di kalangan generasi millenial. Pemerintah juga memasukkan cinta tanah air menjadi pokok pembahasan dalam pembelajaran baik di tingkat Sekolah Dasar hingga di tinggkat Perguruan Tinggi melalui mata pembelajaran Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraa. Berdasarkan hal tersebut, kajian ini memiliki tujuan untuk mengetahui . makna dan implementasai cinta tanah air . pengaruh korean wave di Indonesia . urgensi pendidikan kewarganegaraan. Metode Kajian ini menggunakan metode atau tata cara penelitian kajian pustakan dengan menjelas kan gagasan tentang terjadinya suatu gejala tertentu. Data dalam kajian ini, bersumber dari jurnal, buku, mediadan artikel yang memuat tentang pendidikan kewarganegaraan, korean wave dan cinta tanah air. Data yang diperoleh dari sumber-sumber tersebut kemudian dianalisis secara kritis dengan menggunakan model pengetahuan alternatif . Data yang telah dikumpulkan dan dianalisis tersebut, kemudian ditarik kesimpulan dan disajikan secara logis berdasarkan pemikiran penulis dengan bentuk penyajian teks naratif sehingga mudah dipahami semua Hasil dan Pembahasan Cinta tanah air merupakan cara berpikir, bertindak dan bersikap untuk menunjukkan kepedulian dan kesetiaan kita terhadap negara di mana kita dilahirkan dan dibesarkan serta memperoleh kehidupan. Dalam buku Merajut Kembali ke Indonesiaan Kita . karya Sultan Hamengku Buwono X, cinta tanah air adalah cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan kepedulian dan penghargaan terhadap bangsa (Kompas, 2. Kita dapat mengibaratkan rasa cinta tanah air sebagai kesetiaan, rasa bangga dan cinta anjing kepada tuannya, angsa kepada pasangannya dan pekerja terhadap perusahaannya. Cinta tanah air juga menjadi benteng untuk melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari berbagai GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. ancaman dan intervensi negara asing dan budayana. Sikap cinta tanah air tercermin dari beberapa perilaku sebagai berikut: Pertama, mengamalkan nilai-nilai pancasila. Penerapan dan pengamalan tersebut sangat penting karena Pancasila menjadi dasar dan landasan berbagai aspek kehidupan di Indonesia. Apabila diuraikan pengamalan nilai-nilai Pancasila dapat menumbuhkan perilaku hormat menghormati atau toleransi, memberi keadilan bagi seluruh masyarakat, mempererat persaudaraan, menjamin hak yang akan di peroleh masyarakat dan lain sebagainya. Cinta tanah air sendiri merupakan perwujudan nyata Sila ke 3 Pancasila. Kedua. Ikut andil dalam pelestarian budaya. Pembinaan dan pengembangan kebudayaan merupakan salah satu cara atau upaya guna memperkokoh jati diri bangsa dan memupuk rasa cinta tanah. Pelestarian kebudayaan dapat menjadi tolak ukur seberapa besar masyarakat mencintai kebudayaannya. Pelestarian kebudayaan dapat berupa festival kebudayaan yang menapilkan berbagai tarian, permaianan tradisional dan lagu-lagu daerah. Selain itu pelestarian juga dapat dengan cara kita mempelajari, mengajarkan dan mempromosikan kesenian tersebut ke luar daerah sehingga kebudayaan tersebut akan terus berkembang dan tidak hilang di makan Ketiga, mencintai produk dalam negeri. Mencintai produk dalam negeri berarti kita membeli, menggunakan dan memanfaatkan produk lokal atau buatan dari Indonesia. Sikap ataupun kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kita bangga menggunakan produk buatan Indonesia. Selain itu, dengan membeli produk dalam negeri kita juga membantu UMKM dan perekonomian negara. Oleh karena itu mencintai produk dalam negeri termasuk salah satu contoh sikap cinta tanah air. Keempat, bangga dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kepala Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Dadang Sunandar juga menyatakan bahwa B adan Bahasa terus berupaya menjalankan amanat Undang Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang bendera, bahasa dan Lambang negara serta lagu kebangsaan. Pada Pasal 36 ayat 3 Undang Undang Nomor 24 Tahun 2009 menyatakan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau pemukiman, pekantoran organisasi yang didirikan oleh WNI atau badan hukum Indonesia dan sebagainya. Bahasa Indonesia menjadi pemersatu wilayah dan kemajemukan yang ada di Indonesia, dengan kita bangga menggunakan bahasa Indonesia berarti kita juga ikut andil melindungi serta menjaga negara dari perpecahan antar golongan. Kelima, menjunjung tinggi dan mengharumkan nama bangsa Indonesia di manapun berada. Hal ini sejalan dengan pepatah Jawa yaitu AuKebo mulih menyang kandhangeAy yang memiliki arti sejauh jauhnya seseorang pergi akhirnya akan pulang kerumahnya. Hal ini mengisyaratkan kita bahwa kita harus menjaga nama baik bangsa dan negara karena apabila kita berada di luar negeripun suatu saat kita akan kembali lagi ke Indonesia. Untuk itu kita perlu menjaga dan memiliki rasa cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia Pesatnya perkembangan dan penyebaran kebudayaan korea secara global serta kecenderungan di terimanya kebudayaan tersebut di berbagai negara menghasailkan fenomena Korean Wave atau yang disebut juga Hallyu. Dampaknya pun dapat kita lihat pada kehidupan sehari-hari generasi milenial kita. Korean wave sangat identik dengan dunia hiburan seperti musik, drama dan vareiety show yang di kemas dengan menarik, menghibur dan kekinian yang menampilkan kebudayaan Ae kebudayaan Korea. Kebudayaan Ae kebudayaan korea diimplementasikan penggemarnya dalam kehidupan sehari-hari baik dari gaya berpakaian, make up, makanan, gaya bicara hingga bahasa. Korean wave telah dipersiapkan sejak masa Pemerintahan Presiden Kim Dae Jung . dengan slogan politiknya yaitu AuCreatinon of the New KoreaAy (Kompasiana, 2. Hal tersebut mengimplikasikan bahwa korean wave telah dipersiapkan oleh Pemerintah Korea untuk di sebarluaskan di dunia. Presiden Kim dae Jung mendapat julukan AuPresiden of CultureAy karena pemikiranya membangun identitas budaya baru dan lebih modern serta menghapus citra bangsa yang tradisional. Menempati posisi ke empat dunia sebagai penduduk terbanyak di dunia. Indonesia menjadi salah satu pasar empuk penyebaran korean wave. K-Pop dan K-Drama menjadi produk korean wave yang paling di minati di dunia, khususnya Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan Drama Korea AoSquid GameAo yang Harda Johan Prasetyo. Fatma Ulfatun Najicha / Memperkuat Cinta Tanah Air Di Era Korean Wave Melalui Pendidikan Kewarganegaraan Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. memecahkan sejarah dunia dengan menduduki puncak Netflix selama 47 hari (Nugroho dkk. Selain drama AoSquid GameAo drama AuAll of Us Are DeadAy pun menjadi pemuncak daftar 10 teratas acara TV non bahasa Inggris Netflix untuk pekan 24 hingga 30 Januari dengan 124,79 juta jam penayangan (Muhammado, 2. Apabila melihat dari segi K-Pop banyaknya boy and girls group di era sekarang. BTS menjadi boysgroup paling banyak diminati di dunia. BTS pun menjadi utusan Korea Selatan untuk menghadiri United Nations General Assembly (UNGA) atau Sidang Umum PBB. Pengemasan K-Drama dan K-POP yang menarik dan kekinian menjadikan generasi millenial kita lebih akrab dengan kebudayaan korea. Penyatuan dengan teknologi dan penyesuaian dengan zaman menambah menariknya budaya korea, sebagai contohnya K-Drama. Metode pengambilan gambar, penggunaan efek CG I animation serta pendalaman karakter tokoh pemerannya menjadikan K-Drama sangat menarik dan terlihat seperti keadaan sesungguhnya. Sedangkan apabila melihat dari segi K-POP, aransemen musik yang kekinian, lirik yang indah dan koreo serta visual penyanyinya yang menjadi daya tarik utamanya menjadi poin plus musik Korea. Tidak hanya visual penyanyi Korea, visual dari aktor dan aktris Korea pun tidak kalah Korean wave membawa dampak positif dan negatif bagi Indonesia. Meningkatnya minat masyarakat Korea mempelajari budaya Indonesia pun bertambah. Dengan mempelajari bahasa Indonesia akan menarik perhatian dan antusias masyarakat Indonesia sehingga peluang pemasaran lebih besar dan terbuka. Bukan hanya dampak positif. Tergerusnya kebudayaan bangsa akibat korean wave menjadi fokus perhatian yang perlu diperhatikan pemerintah agar kebudayaan Indonesia tetap eksis di generasi millenial dan dapat bersaing dengan kebudayaan Korea. Pesatnya penyebaran korean wave di Indonesia mempengaruhi generasi millenial dalam berbagai aspek dari segi penggunaan produk makan, skincare, make up buatan Korea, style meniru aktris dan aktor Korea, gaya bahasa Korea dan lainnya bahkan mereka juga sering menyelipkan bahasa Korea dalam kegiatan sehari-hari seperti annyeonghaseyo, saranghae, hyung, yeorobun, dan lain sebagainya. Korean wave juga menyebabkan rasa cinta tanah air di generasi muda berkurang. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa karena melalui pendidikan dapat membuat masyarakat lebih menjadi berpikir lebih maju dan kritis, bermoral dan mampu untuk berkompetisi dengan negara lain (Najicha, 2. Sikap cinta tanah air mendapatkan perhatian yang sangat besar terutama dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 35 Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi yang menyatakan bahwasannya mata kuliah pendidikan kewarganegaraan, agama, dan bahasa Indonesia menjadi mata kuliah wajib di perguruan tinggi. Selain itu, dalam Pasal 37 huruf b Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa pendidikan dasar dan menengah harus memuat pendidikan kewarganegaraann serta berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 84/E/KTP/2020 tentang Pelaksanaan Mata Kuliah wajib pada Kurikulum Pendidikan Tinggi, pendidikan kewarganegaraan merupakan mata kuliah wajib umum. Pendidikan kewarganegaraan diberikan agar masyarakat khususnya generasi muda yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air, demokratis, bertanggung jawab, berdaya saing, berkeadaban, disiplin dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional serta menjadi warga negara yang baik guna mewujudkan tujuan nasional yang tertuang dalam pembukaan Undang Undang Dasar tahun 1945. Pokok pembahasan yang disajikan dalam pendidikan kewarganegaraan yaitu identitas nasional, integrasi nasional, konstitusi, tata hukum di Indonesia, penegakan hukum di Indonesia, kewajiban dan hak warganegara, demokrasi, wawasan nusantara, bela negara, ketahanan nasional. Materi dan metode pembelajaran tersebut diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman dan meningkatkan rasa cinta tanah air generasi milenial di Indonesia. Kesuksesan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan tak lepas dari peran guru sebagai penyampai materi. Pendidikan kewarganegaraan seharunya di kemas menjadi pembelajaran yang menyenangkan bagi generasi millenial. Selain itu sebagai perantara, guru atau pengajar pendidikan kewarganegaraan juga dapat memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. teknologi yang berkembang sebagai media pembelajarannya. Hal tersebut dikarenakan keenderungannya generasi muda . di Indonesia menggunakan perangkat elektronik dalam kesehariannya. Oleh karena itu, perlu adanya kajian ulang dan studi lanjutan guna menyesuaikan metode pembelajaran dengan perkembangan zaman, terutama pada era korean wave serta perlunya pelatihan bagi pengajar untuk mengembangkan media dan perangkat yang digunakan. Sehingga pembelajaran pendidikan kewarganegaraan berjalan secara efektif dan efisien serta dapat mencapai tujuan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Simpulan dan Saran Cinta tanah air merupakan sikap kita menghargai, berpikir dan bertindak guna menunjukkan kesetiaan dan kepedulian terhadap negara. Cinta tanah air dapat ditunjukkan dengan cara mengamalkan nilai-nilai Pancasila, membeli produk lokal atau karya anak bangsa, ikut melestarikan kebudayaan dan lain sebagainya. Di era perkembangan IPTEK yang menyebabkan berbagai kemudahan di berbagai sektor memudahkan kebudayaan negara lain masuk ke Indonesia yang dapat memperlemah rasa cinta tanah air, korean wave sebagai Korean wave merupakan penyebaran kebudayaan Korea secara global. Korean wave membawa dampak positif dan negatif bagi Indonesia. Di era merebaknya korean wave, perlu adanya kajian ulang dan lebih mendalam mengenai sistem pendidikan di Indonesia. Slah satunya adalah melalui pendidikan kewarganegaraan sebagai alat memperkuat dan menumbuhkan kebudayaan daerah dan sikap cinta tanah air di Indonesia . Oleh karena itu, kajian ulang sistem pendidikan kewarganegaraan bertujuan untuk mengoptimalkan pembelajaran yang efektif dan efisen serta esensi pendidikan kewarganegaraan sebagai pembentuk sikap rasa kebangsaan, demokratis, beranggung jawab, cinta tanah air, disiplin, berdaya saing dan berpartisipasi aktif guna mewujudkan tujuan nasional. Daftar Rujukan Anisa H. Najicha F. Wawasan Nusantara Dalam Memecahkan Konflik Kebudayaan Nasional. Jurnal Global Citizen. Atika N. Wahuyudin H. Fajriyah K. Pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter Membentuk Karakter Cinta Tanah Air. Jurnal Mimbar Ilmu, vol. 24, no 1. Erviana V. Fatmawati L. Pratiwi R. Pengembangan Modul Pendidikan Multikultural Berbasis Karakter Cinta Tanah Air dan Nasionalis pada Pembelajaran Tematik. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Hamsyah Febri. Kompasiana. Korean Wave Dapat Merusak Budaya Indonesia. Diakses April https://w. com/amp/febrihamsyah5601/61b7ecff06310e5edc346715/koreanwave-dapat-merusak-budaya-indonesia Kemendikbud. Utamakan Bahasa Indonesia. Lestarikan Bahasa Daerah dan Kuasai Bahasa AsingAy Dikakses April http://w. id/main/blog/2017/12/utamakan-bahasa-indonesialestarikan-bahasa-daerah-dan-kuasai-bahasa-asing Kurniasih. Lutfia. Okezone. Did You Know: Hallyu. Fenomena Korean Wave yang Guncang Dunia. Diakses April https://edukasi. com/amp/2021/09/15/65/2471847/did-you-know-hallyufenomena-korean-wave-yang-guncang-dunia Lestari. Sely. Pengaruh Mata Kuliah Pendidikan Pancasila Dan Pendidikan Kewarganegaraan Terhadap Sikap Ideologi Pancasila Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, vol. 6, no. 2, hlm 445-454 Najicha. Aku Generasi Unggul Masa Depan. Genenrasi Muda Harapan Bangsa. Ratih L. Najicha F. Wawasan Nusantara Sebagai Upaya Membangun Rasa Dan Sikap Nasionalis. Jurnal Global Citizen. Sajarwati. Kamila. Fenomena Korean Wave di Indonesia. Diakses pada 17 April 2022, dari http://egsa. Harda Johan Prasetyo. Fatma Ulfatun Najicha / Memperkuat Cinta Tanah Air Di Era Korean Wave Melalui Pendidikan Kewarganegaraan Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. Suyanto T. Ismawati Y. Peran Guru PKn Dalam Membentuk Sikap Cinta Tanah Air Siswa Di SMA Negeri 1 Mojosari Kabupaten Mojokerto. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. Volume 02 Nomor 03. Wibowo A. Wahono M. Pendidikan Pancasila: Usaha Konkret Untuk Memperkuat Multikulturalisme di Indonesia. Jurnal Civics, vol 14 no. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304