Hasil Penelitian Diserahkan: Maret 2026 / Direvisi: April 2026 / Diterima: April 2026 Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi p-ISSN: 2716-151X e-ISSN: 2722-869X Analisis Implementasi Nilai-Nilai Education Development (ESD) pada SMA Negeri 1 Belitang Sustainable Analysis of the Implementation of Education for Sustainable Development (ESD) Values at SMA Negeri 1 Belitang Rahma Aulia*. Anisa Oktina Sari Pratama. Nur Hidayah Program Studi Pendidikan Biologi. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Lampung, 35131. Indonesia. *Penulis Koresponden: auliaazzahwa31@gmail. Abstrak. Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk sumber daya manusia berkualitas sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan dengan integrasi nilai-nilai Education For Sustainable Development (ESD) dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi nilai-nilai ESD pada aspek lingkungan di SMA Negeri 1 Belitang yang merupakan sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional pada Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, data diperoleh berdasarkan wawancara, observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Studi ini mengevaluasi 100 indikator ESD pada aspek lingkungan, dan diperoleh hasil 97 indikator . %) telah berhasil diimplementasikan, yang terdiri dari aspek sumber daya alam, perubahan iklim, serta pencegahan dan mitigasi bencana. Kegiatan tersebut telah terintegrasi dalam Kurikulum Merdeka, baik melalui kegiatan pembelajaran ataupun dari budaya sekolah yang membangun kesadaran lingkungan. Meskipun begitu, terdapat tantangan yaitu belum optimalnya implementasi dari upaya pencegahan dan mitigasi bencana. Akan tetapi, implementasi ESD di SMA Negeri 1 Belitang masih perlu ditingkatkan supaya dapat berjalan lebih menyeluruh, efektif, dan berkelanjutan pada masa mendatang. Kata Kunci: education_for_sustainable_development. kurikulum_merdeka. sekolah_adiwiyata Abstract. Education plays a strategic role in developing high-quality human resources while fostering awareness of environmental sustainability through the integration of Education for Sustainable Development (ESD) values in learning. This study aims to analyze the implementation of ESD values in the environmental aspect at SMA Negeri 1 Belitang, which was recognized as a National Adiwiyata School in 2023. This research employs a qualitative approach, with data collected through interviews, observations, questionnaires, and documentation. The data analysis techniques used include data reduction, data display, and conclusion drawing. The study evaluates 100 ESD indicators in the environmental aspect, revealing that 97 indicators . %) have been successfully implemented. These include aspects of natural resources, climate change, as well as disaster prevention and mitigation. These activities have been integrated into the Merdeka Curriculum, both through classroom learning and school culture that promotes environmental awareness. However, there are still challenges, particularly the suboptimal implementation of disaster prevention and mitigation efforts. Therefore, the implementation of ESD at SMA Negeri 1 Belitang needs to be further improved to ensure it becomes more comprehensive, effective, and sustainable in the future. Keywords: education_for_sutainable_development. merdeka_curriculum. adiwiyata _school DOI: 10. 55241/spibio. Pendahuluan Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk sumber daya manusia lingkungan dan isu-isu global . Namun, tantangan besar masih dihadapi, salah satunya terlihat dari hasil PISA 2022 yang menempatkan Indonesia pada peringkat 63 dari 81 negara dalam literasi, matematika, dan sains, jauh tertinggal dari Singapura yang berada di posisi teratas. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar dalam kualitas pendidikan nasional serta menegaskan perlunya transformasi mendalam agar sistem pembelajaran lebih relevan dengan tuntutan global . Dalam konteks tersebut, pendidikan juga dituntut untuk mengintegrasikan isu-isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, mengingat tantangan global seperti perubahan iklim dan degradasi lingkungan semakin mendesak . Tantangan rendahnya capaian pendidikan nasional serta urgensi isu keberlanjutan menuntut adanya kebijakan yang mampu menghadirkan pembelajaran lebih relevan dengan kebutuhan abad ke21 . Permasalahan pendidikan ini membuat pemerintah mengupayakan transformasi dalam pendidikan. Salah satu penerapan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini menjadi penyempurnaan dari kurikulum pembelajaran berpusat pada peserta didik, diferensiasi serta penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila . Kurikulum ini bertujuan mewujudkan pembelajaran yang bermakna melalui penanaman nilai keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia, serta pengembangan potensi Pancasila. Kurikulum ini juga menekankan pada penguatan kompetensi mendasar, pembelajaran berbasis proyek, serta pengembangan karakter, sehingga sejalan dengan upaya membentuk generasi adaptif dan berdaya saing global . Kurikulum Merdeka diharapkan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, sekaligus membuka ruang untuk integrasi nilai-nilai keberlanjutan yang selaras dengan agenda global . Orientasi ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDG. Indonesia meningkatkan kualitas pendidikannya . Untuk mendukung hal tersebut. UNESCO sebagai lembaga khusus pada Perserikatan Bangsa-Bangsa di bidang pendidikan, yang Agenda Pendidikan Tahun 2030 yang menjadi upaya global dalam mewujudkan 17 tujuan SDGs dengan difokuskan pada pendidikan yang menjadi kunci dalam keseluruhan tujuan tersebut, khususnya dengan menempatkan tujuan keempat Education For Sustainable Development (ESD) sebagai strategi utama dalam mewujudkan kompetensi abad ke-21 yang berlandaskan keberlanjutan . ESD mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan dan SDGs ke dalam pendidikan, namun juga memastikan pendidikan menyatu pada setiap upaya pencapaian pembangunan berkelanjutan . Tujuan ESD tidak semata-mata terbatas pada aspek pengetahuan, melainkan juga mencakup pembentukan sikap, sudut pandang, dan nilai-nilai yang menjadi pedoman bagi manusia dalam menjalani kehidupan secara berkelanjutan mendatang . ESD memiliki tiga pilar, yaitu sosial-budaya, lingkungan dan ekonomi . ESD diyakini mampu pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan yang diperlukan untuk mewujudkan masa depan berkelanjutan. Bekal tersebut diharapkan mendorong kemampuan dalam mengolah informasi serta membuat keputusan yang bertanggung jawab demi keberlanjutan ekonomi, lingkungan, dan masyarakat yang berkeadilan . Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Belitang, pemilihan sekolah didasarkan oleh karakteristik yang sesuai dengan fokus penelitian yaitu sebagai satusatunya sekolah di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur yang ditetapkan sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional. Penetapan tersebut berdasarkan keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor 1061 Tahun 2023 Tentang Penetapan Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional. Penetapan menunjukkan SMA Negeri 1 Belitang telah memenuhi indikator serta kriteria sekolah yang memiliki kepedulian dan berbudaya lingkungan hidup, layak mendapatkan penghargaan sekolah adiwiyata pada tingkat Nasional. Meskipun penelitian serupa telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya, misalkan penelitian yang dilakukan oleh Safira et al . yang mengkaji implementasi nilai-nilai ESD pada aspek lingkungan di SMPN 1 Kalirejo. Hasil penelitian menunjukan bahwa 94 dari 99 indikator . %) telah berhasil diterapkan melalui integrasi CP Kurikulum Merdeka serta selaras dengan indikator Adiwiyata di Adapun yang menjadi relevansi sebelumnya adalah kesamaan fokus penelitian, meskipun memiliki kesamaan fokus pada integrasi nilai-nilai ESD aspek lingkungan dalam Kurikulum Merdeka dan indikator Adiwiyata, penelitian terdahulu masih terbatas pada jenjang SMP dan sekolah Adiwiyata tingkat provinsi. Oleh sebab itu, penelitian ini akan mengkaji implementasi lanjutan pada jenjang SMA yang memiliki kompleksitas capaian pembelajaran yang lebih tinggi serta pada sekolah Adiwiyata tingkat nasional untuk memperoleh gambaran implementasi ESD yang lebih komprehensif. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Purnama et al . Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa pada SD Negeri 149 Palembang telah dilaksanakan berbagai kegiatan yang mendukung konsep keberlanjutan, seperti kegiatan gotong royong dan piket kelas untuk menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, sebanyak 50% guru telah memahami konsep ESD, namun hanya 33,4% mengimplementasikannya dalam proses Terakhir penelitian yang dilakukan oleh Rizkika . Hasil penelitiannya yaitu di SMK Negeri 1 Adiwerna mengimplementasikan lima dari enam indikator ESD yang berkaitan dengan SDG 6 . ir bersi. SDG 7 . nergi bersi. SDG . roduksi-konsumsi jawa. SDG 13 (Mitigasi perubahan ikli. , dan SDG 15 . kosistem dara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana implementasi dari nilai-nilai ESD pada aspek lingkungan di SMA Negeri 1 Belitang. Berdasarkan prinsip ESD pada aspek lingkungan meliputi aspek seperti pengelolaan sumber daya alam, perubahan iklim, pembangunan pedesaan, urbanisasi berkelanjutan, serta upaya mitigasi dan pencegahan bencana . Penerapan nilai-nilai ESD ini sejalan dengan implementasi Kurikulum Merdeka, terutama melalui penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Tujuan Pembelajaran yang membuka peluang untuk mengintegrasikan isu lingkungan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran berkelanjutan yang diintegrasikan pada kurikulum merdeka di tingkat sekolah menengah atas. Metode Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026, yaitu bulan Januari, bertempat di SMA Negeri 1 Belitang. Kabupaten Oku Timur. Sumatera Selatan. Pendekatan Penelitian Penelitian pendekatan kualitatif, dengan tujuan menggambarkan tentang implementasi nilai-nilai ESD pada aspek lingkungan di SMAN 1 Belitang. Subjek penelitian dilakukan dengan teknik purposive Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh langsung oleh peneliti berdasarkan informasi dari sumber aslinya yang diperoleh langsung di sekolah. Sedangkan data sekunder yang diperoleh peneliti yaitu data yang didapatkan pihak-pihak berhubungan dengan data-data sekolah dan berbagai kajian literatur yang relevan dengan pembahasan dalam penelitian ini. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan 4 metode, yaitu: pertama wawancara dilakukan kepada kepala sekolah, wakil kepala bidang kurikulum, satu guru mata pelajaran Biologi dan juga 12 siswa perwakilan anggota ekstrakurikuler KIR dan Adiwiyata. Kedua, kuesioner dilakukan kepada informan yang berjumlah 36 siswa kelas XII untuk memperoleh data tambahan secara tertulis. Ketiga, observasi dengan lembar pedoman lingkungan sekolah yang berkaitan dengan penerapan ESD. Terakhir keempat, pengumpulan foto kegiatan, perangkat pembelajaran serta dokumen pendukung lainnya yang relevan dan dibutuhkan Ketika Analisis Data Teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan 3 tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan Pada tahap reduksi data, peneliti memilah informasi yang dianggap relevan dari hasil penelitian berupa wawancara, kuesioner, dan observasi. Data yang telah diringkas tersebut selanjutnya dituangkan dalam bentuk tabel, diagram batang dan gambar sebagai upaya mempermudah proses pemahaman dan analisis lanjutan. Tahap akhir yaitu penarikan kesimpulan dilakukan secara temuan dari seluruh teknik pengumpulan data, sehingga diperoleh gambaran komprehensif mengenai implementasi nilai-nilai ESD pada aspek lingkungan di SMA Negeri 1 Belitang. Hasil dan Pembahasan Implementasi nilai-nilai ESD pada aspek lingkungan yang terdiri dari sumber daya alam, perubahan iklim, pembangunan pedesaan, urbanisasi yang keberlanjutan, dan pencegahan serta penanganan bencana, di SMA Negeri 1 Belitang dapat dianalisis melalui keterkaitannya dengan praktik nyata yang berkembang di Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti melakukan pemetaan seperti yang terdapat pada Tabel 1 menunjukkan adanya keterkaitan atau hubungan antara aspek ESD lingkungan. Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka dan indikator-indikator Program Sekolah Adiwiyata. Melalui adanya pemetaan ini, diharapkan untuk diperoleh hasil berupa gambaran sejauh mana SMAN 1 Belitang telah menerapkan nilai-nilai keberlanjutan pada kegiatan pembelajaran serta dapat mendukung Pembangunan keberlanjutan di lingkungan sekolah. Tabel 1. Implementasi Aspek ESD Lingkungan dalam Kurikulum Merdeka dan Program Sekolah Adiwiyata di SMAN 1 Belitang Aspek ESD Lingkungan Sumber Alam Daya CP Kurikulum Merdeka Indikator Sekolah Adiwiyata Interaksi antar makhluk hidup dan lingkungannya. Penanaman. Pemeliharaan, pembibitan pohon/tanaman Partisipasi warga sekolah Perubahan Iklim Pembangunan Pedesaan Memahami sifat kimia yang berperan dalam kehidupan Konservasi air Konservasi Energi Merancang upaya mengatasi permasalahan dengan perubahan iklim Pemanfaatan bioteknologi dalam berbagai kehidupan Penanaman. Pemeliharaan, pembibitan pohon/tanaman Partisipasi warga sekolah Kampanye PBLHS Konservasi energi Aksi PRLH untuk Masyarakat sekitar Karya inovatif siswa/guru Partisipasi dalam pemindahan sampah . ank sampah, pengomposa. Pengelolaan sampah dalam kegiatan kebersihan, drainase sekolah dan fungsi Konservasi air Konservasi energi Pengelolaan sampah 3R Partisipasi dalam pemindahan sampah . ank sampah, pengomposa. Pengelolaan sampah di lingkungan sekitar sekolah Kebersihan drainase dan sanitasi Partisipasi siswa dalam kegiatan kebersihan, fungsi sanitasi dan drainase Konservasi air Konservasi energi Pengelolaan sampah 3R Penanaman, pemeliharaan, pembibitan pohon/tanaman Partisipasi warga sekolah Pengelolaan sampah 3R Kebersihan drainase dan sanitasi Pengelolaan sampah lingkungan sekolah Urbanisasi Keberlanjutan Merancang pemanfaatan energi alternatif mengatasi permasalahan Pencegahan dan Penanganan Bencana Ekosistem dan interaksi antar komponen serta faktor yang mempengaruhi Kurikulum Merdeka dan Program Sekolah Adiwiyata menunjukkan adanya keterkaitan yang kuat serta sejalan dengan prinsip-prinsip ESD khususnya aspek Keduanya memiliki peran dalam mendorong penerapan nilai-nilai keberlanjutan melalui proses pembelajaran serta dalam kegiatan lingkungan yang melibatkan seluruh warga sekolah . ESD sebagai sebuah pendekatan menjadi relevan dengan penerapan Kurikulum Merdeka, karena keduanya berfokus pada pembentukan karakter siswa yang mampu berpikir kritis dan inovatif, serta memiliki kepedulian dan juga dapat tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan dan keberlanjutan kehidupan . Dalam konteks yang sama, selanjutnya program Sekolah Adiwiyata yang memiliki tujuan dalam menumbuhkan kepedulian dan partisipasi aktif seluruh warga sekolah untuk mengelola dan menjaga lingkungan melalui penerapan tata Kelola sekolah yang efektif, guna menjadikan budaya sekolah yang dapat mendukung akan keberlanjutan . Penerapan nilai-nilai ESD dalam Kurikulum Merdeka dan Program Sekolah Adiwiyata dapat dilihat dari kesesuaian antara capaian pembelajaran dengan indikator kegiatan lingkungan. Pada gambar 1 menunjukkan bahwa jumlah aspek yang telah terimplementasikan di SMAN 1 Belitang, sehingga dapat memberikan gambaran tentang tingkat keberhasilan implementasi ESD dalam Kurikulum Merdeka dan Program Sekolah Adiwiyata. Sumber Daya Alam Perubahan Iklim Pembangunan Pedesaan Jumlah Aspek Diamati Urbanisasi Yang Keberlanjutan Pencegahan dan Mitigasi Bencana Jumlah Aspek Terimplementasi Gambar 1. Hasil Grafik Implementasi ESD Aspek Lingkungan Berdasarkan hasil analisis data, menunjukan bahwa total 97 dari 100 . %) indikator ESD pada aspek lingkungan yang tertuang pada instrumen penelitian terdiri dari hasil wawancara kepada Kepala Sekolah. Wakil Kepala Bidang kurikulum, guru biologi, petugas kebersihan dan beberapa siswa, hasil observasi dan juga kuesioner untuk siswa menunjukkan bahwa nilai-nilai ESD telah berhasil diterapkan di SMAN 1 Belitang. Adapun data lebih rinci pada tiap aspek: aspek sumber daya alam . , perubahan iklim . , dan pembangunan pedesaan . dan aspek urbanisasi keberlanjutan . Selain itu, pada aspek pencegahan dan mitigasi bencana . indikator sudah diterapkan. Dalam hal ini, menunjukkan bahwa pada sebagian besar akan nilai-nilai ESD sudah terimplementasi dengan baik, walaupun begitu masih terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan lebih lanjut. Dalam penerapan nilai-nilai ESD pada Kurikulum Merdeka, seluruh aspek pembelajaran telah memuat prinsip-prinsip keberlanjutan secara menyeluruh. Pada tabel 2 menunjukan adanya pemetaan antara Capaian Pembelajaran (CP) dalam Kurikulum merdeka mengenai nilai-nilai ESD yang telah diimplementasikan pada Tujuan Pembelajaran Biologi khususnya di SMAN 1 Belitang. Dengan adanya pemetaan ini dapat dilihat akan sejauh mana nilai-nilai ESD sudah terintegrasi ke dalam pembelajaran, serta menjadi gambaran dalam upaya sekolah untuk mewujudkan pendiidkan yang berorientasi terhadap keberlanjutan. Tabel 2. Implementasi Aspek ESD lingkungan ke dalam Kurikulum Merdeka CP Kurikulum Merdeka Interaksi antar makhluk hidup dan Proses klasifikasi makhluk hidup dan manfaatnya bagi kehidupan Merancang upaya mengatasi permasalahan berkaitan dengan perubahan iklim Pemanfaatan bioteknologi dalam berbagai TP yang Sesuai Peserta didik mampu mengidentifikasi berbagai bentuk interaksi antar organisme dan lingkungannya. Peserta didik dapat menunjukkan sikap peduli dan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan sebagai bagian dari warga negara yang baik. Peserta didik dapat mengidentifikasi berbagai upaya penanganan dan pencegahan perubahan lingkungan. Peserta didik mampu menerapkan bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi antar komponen ekosistem dan pengaruhnya terhadap keseimbangan Merancang upaya mengatasi permasalahan berkaitan dengan perubahan iklim Peserta didik mampu menganalisis dampak perubahan lingkungan terhadap komponen dan keseimbangan Peserta didik dapat mengidentifikasi berbagai upaya penanganan dan pencegahan perubahan lingkungan. Berdasarkan Tabel 2, menunjukkan bahwa pada aspek sumber daya alam, nilainilai ESD telah terintregasi dalam Tujuan Pembelajaran yaitu Peserta didik mampu mengidentifikasi berbagai bentuk interaksi antar organisme dan lingkungannya dan juga Tujuan Pembelajaran yaitu Peserta didik dapat menunjukkan sikap peduli dan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan sebagai bagian dari warga negara yang baik. Pernyataan ini sejalan dengan temuan Silvia & Tirtoni . yang karakter peduli lingkungan pada siswa akan lebih mudah tercapai apabila sekolah menerapkan strategi yang berkelanjutan, pelaksanaan budaya sekolah secara Kemudian untuk aspek perubahan iklim, peserta didik dikenalankan tentang upaya mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan perubahan iklim melalui materi perubahan lingkungan, terutama terjadinya pemanasan global dan efek rumah kaca, yang tertuang pada Tujuan Pembelajaran yaitu peserta didik dapat penanganan dan pencegahan perubahan Dalam memperdalam akan pemahaman peserta didik akan bermacam isu keberlanjutan, berkembangnya kemampuan berpikir kritis untuk mengkaji akan penyebab, dampak, dan alternatif solusi atas permasalahan yang ada. Sekaligus dapat membekali mereka tidak hanya dengan pemahaman pembelajarannya, namun dapat juga dengan mengambil keputusan secara tepat dan bertindak dengan tanggung jawab terhadap lingkungan . Selanjutnya, diintegrasikan pada pelajaran biologi tepatnya pada materi inovasi teknologi bioteknologi baik konvensional maupun modern yang berhubungan dengan pengelolaan lingkungan adapun Tujuan Pembelajaran yaitu peserta didik mampu menerapkan bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari. Keterpaduan antara pendidikan peduli lingkungan dalam pembelajaran meningkatkan kesadaran serta tanggung sekitarnya . Lalu, keberlanjutan telah disisipkan pada pembelajaran biologi yang terdaoat pada Tujuan Pembelajaran yaitu Peserta didik mampu menganalisis dampak perubahan lingkungan terhadap komponen dan keseimbangan ekosistem. Dalam hal ini dapat membangun pemahaman peserta didik tentang pentingnya konsep urbanisasi keberlanjutan yang berorientasi akan kelestarian lingkungan, terutama dalam pemanfaatan sumber daya alam secara efisien serta akan perlindungan bagi Namun, meskipun urbanisasi pelaksanaannya juga dapat berpotensi menimbulkan pencemaran dan degradasi Maka, pesserta didik perlu memahami akan berbagai dampak negatif dari lingkungkungan yang kerap diabaikan . Kemudian pada aspek pencegahan dan penanganan bencana di lingkungan sekolah, pada Tujuan Pembelajaran yaitu peserta didik dapat mengidentifikasi pencegahan perubahan lingkungan. Dalam hal ini penting dikarenakan dengan terjadinya perubahan lingkungan maka potensi akan bencana juga meningkat, sehingga peserta didik perlu mengetahui beragam karakteristik bencana, berbagai indikator terjadinya bencana, tempat yang rawan akan bencana serta mengidentifikasi mempunyai kesiapsiagaan dan dibekali akan pengetahuan yang tepat dalam menghadapi potensi bencana pada lingkungan sekitar . Lalu, jika merujuk dari Gambar 1. pada pencegahan dan mitigasi bencana memperoleh capaian terendah, yaitu hanya memenuhi 15 dari 18 indikator. Disebabkan karena belum terpenuhinya beberapa indikator penting. Diantaranya yaitu ketiadaan jalur evakuasi yang jelas dan rendahnya prioritas serta keterbatasan perencanaan dan sarana pendukung kebencanaan di sekolah. Selain itu, tidak mengindikasikan bahwa program mitigasi belum terintegrasi secara sistematis dalam kegiatan sekolah. Di sisi lain, pemahaman siswa yang masih rendah, meskipun materi telah diberikan dalam pembelajaran biologi, menunjukkan adanya kesenjangan keterampilan praktis karena tidak didukung oleh kegiatan simulasi. Disamping itu, dalam konteks implementasi ESD melalui program Sekolah Adiwiyata, pada aspek sumber daya alam dilakukan program pembibitan, penanaman, pemeliharaan pohon serta Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2a, sekolah ini secara rutin menanam sayur-sayuran dan tanaman obat pada kebun sekolah pada Gambar 2b, selain itu juga pada green house dan tempat hidroponik yang tersedia. Selain itu, dalam pembelajaran siswa kelas X juga pernah melakukan penanaman dan pemeliharaan pohon seperti buah pisang, buah mangga, pucuk merah dan palem. Hal ini didukung oleh pernyataan Adha . bahwa aktivitas tersebut menciptakan suasana pembelajaran yang kontekstual dan interaktif, di mana pemahaman konseptual tidak hanya dibangun melalui materi tekstual, tetapi juga diperkuat melalui pengalaman langsung yang melibatkan berbagai indra. Sehingga proses pembelajaran menjadi lebih hidup dan membangkitkan semangat eksploratif. Bukan hanya itu, lewat tema gaya hidup berkelanjutan dalam program P5, siswa berpartisipasi dalam kegiatan memanfaatkan botol bekas, lalu proses penanaman, terutama tanaman sayuran seperti kangkung, sawi, dan cabai. Seluruh warga sekolah terlibat aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kegiatan tersebut sangat berkontiribusi dalam mendukung upaya keberlanjutan, selaras dengan Hidayat . mengindikasikan bahwa adanya kebun pemanfaatan sebagai sarana pembelajaran pemahaman tentang struktur dan fungsi Gambar 2. Kebun Kelas Gambar 2. Tanaman Obat Sebagai bentuk konkret dari tanggung jawab tersebut, setiap seminggu sekali pada hari Sabtu. SMAN 1 Belitang bersih-bersih lingkungan kelas dan sekolah. Kegiatan ini dilakukan oleh seluruh warga sekolah mencakup pembersihan area sekolah baik dalam ruangan maupun di lingkungan sekitar, membersihkan rumput pada kebun kelas, dan pengelolaan sampah. Kondisi tersebut selaras dengan hasil dari penelitian oleh Fadil et al . yang memperlihatkan bahwa penerapan dari beragam inisiatif yang dilakukan secara konsisten pada lingkungan sekolah dapat menjadi kebiasaan siswa dalam bersikap peduli terhadap lingkungan hingga menjadikan bagian dari budaya sehari-hari. Melalui pembiasaan-pembiasaan sederhana itulah, akan tumbuh dan terbentuk secara alami karakter peduli lingkungan pada siswa. Gambar 3. Ventilasi Selanjutnya pada aspek perubahan iklim mencerminkan bahwa sekolah sudah menerapkan bermacam usaha nyata dalam mendukung pencegahan perubahan iklim. Diantaranya meskipun pada tiap kelas terdapat kipas angin, sekolah tetap memprioritaskan ventilasi terbuka tanpa jendela tertutup yang dijadikan sebagai sumber utama sirkulasi udara alami yang dapat dilihat pada Gambar 3. Dalam hal ini menjadi kontribusi terhadap upaya penghematan energi di lingkungan Selain itu, seluruh warga sekolah secara konisten mematikan peralatan elektronik di sekolah, seperti lampu, kipas. AC, dan perangkat elektronik lainnya jika tidak dipakai lagi, serta saat pulang sekolah juga menjadi tugas petugas keamanan memastikan bahwa perangkat elektronik sudah dalam keadaan mati saat pulang Tidak hanya itu pada dinding ditiap ruangan tepatnya disekitar saklar lampu terdapat poster seperti AuAyo Hemat Energi : Matikan Lampu dan Peralatan Saat tidak DigunakanAy dan juga pada tiap kipas angin di ruangan kelas maupun lainnya juga diberi himbauan AuKipas Angin ini Jika Tidak Dipakai Lagi. Untuk Menghemat Listrik Lebih Baik DimatikanAy seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4, hal ini menjadi PBLHS (Kampanye Gerakan Peduli dan Berbuaya Lingkungan Hidup di Sekola. Menurut Khotimah . kebiasaan dalam mematikan perangkat listrik jika sedang tidak digunakan menjadi salah satu upaya sederhana dalam menanamkan budaya hemat energi, yang secara nyata dapat kesadaran energi di lingkungan sekolah Gambar 4. Poster matikan kipas Kemudian Pembangunan Pedesaan, menunjukkan komitmen nyata akan mendukung program lingkungan hidup dengan mengikutsertakan dari berbagai pihak, baik di dalam sekolah maupun masyarakat sekitar. Salah satu langkahnya yaitu dengan melakukan sosialisasi pelatihan pembuatan pupuk organik untuk masyarakat sekitar sekolah tepatnya di Lapangan Koni Gumawang pada tahun Selain itu, sekolah ini juga melibatkan wali murid melalui paguyuban kelas, yang mana untuk mengikuti sosialisasi tentang lingkungan pada saat rapat wali murid. Siswa juga berperan aktif dalam pelaksanaan berbagai inovasi lingkungan baik dari limbah organik ataupun Setiap kelas memiliki peran tersendiri dalam pengolahan limbah, yaitu kelas 10 dan 11 bertanggung jawab dalam memilah sampah anorganik pada bank sampah yang selanjutnya akan dijadikan bermacam-macam pada saat kegiatan P5 yang dilaksanakan satu semester sekali. Inovasi lingkungan yang pernah dihasilkan berupa barang layak pakai seperti menjadi tas belanja, tempat tisu, tempat pena, poster berisikan lingkungan, bermacam pajangan, baju karnaval dari kertas bekas, dan ada juga ecobrick, serta masih banyak kreativitas siswa dalam upaya pengelolaan anorganik menjadi Sementara itu, kelas 12 berfokus dalam pengelolaan sampah organik yang nantinya diolah menjadi kompos seperti yang terlihat pada Gambar 5 dengan adanya pengelolaan sampah ini, bisa menumbuhkan akan karakter peduli lingkungan pada siswa dengan melalui kegiatan sederhana yang dilakukan secara membuang sampah sesuai jenis dan tempatnya, memilah sampah organik dan anorganik, sekaligus dapat menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan setelah beraktivitas . Gambar 5. Hasil Kompos Selanjutnya. SMAN 1 Belitang sudah melakukan upaya dalam mendukung urbanisasi keberlanjutan. Sebagai bentuk upaya mengurangi sampah, di sekolah menerapkan prinsip 3R (Reduce. Reuse. Recycl. melalui penanaman kebiasaan sederhana, seperti membawa bekal dan botol minum dari rumah, tak jarang juga siswa yang tidak membawa bekal terkadang membawa mangkuk kecil sebagai wadah makanan dari kantin. Pada tiap kelas juga tersedia galon air minum, sehingga siswa tidak perlu membeli minuman kemasan yang menghasilkan sampah plastik. Upaya ini merupakan bagian dari strategi komprehensif untuk meminimalkan dampak lingkungan akibat limbah plastik, melalui peningkatan efisiensi proses daur ulang, pembatasan pelaksanaan edukasi, serta dukungan terhadap kebijakan pengelolaan limbah . Dalam pengelolaan limbah, seperti yang terlihat pada Gambar 6 sekolah memfasilitasi tempat sampah terpilah antara sampah organik dan anorganik pada tiap depan kelas, serta bank sampah terpilah juga. Sampah organik berupa sisa-sisa makanan yang telah terkumpul di bank sampah selanjutnya diolah sehingga menghasilkan kompos, dan untuk sampah anorganik, seperti botol bekas dimanfaatkan menjadi bermacam karya yang telah dibuat di sekolah ini salah satunya membuat Gambar 6. Tempat Sampah Terpilah Dalam upaya penghematan air, sekolah memasang himbauan dengan AuHematlah Dalam Penggunaan AirAy seperti yang terlihat pada Gambar 8. Upaya ini dilakukan supaya warga sekolah bijak dalam menggunakan air secukupnya. Selain itu di sekolah ini juga mempunyai beberapa sumur manual dan tempat penampungan air hujan seperti yang terlihat pada Gambar 7. digunakan untuk mendukung pemanfaatan air secara berkelanjutan, khususnya dalam kegiatan penyiraman tanaman. Dalam hal ini, selaras dengan pendapat Madonna . Mengungkapkan bahwa salah satu solusi dalam mengatasi krisis dan kerusakan lingkungan adalah melalui peningkatan efisiensi penggunaan air, yang berperan dalam mengurangi pemborosan sumber daya alam serta mendukung keberlanjutan lingkungan. Gambar 7. Sumur dan tempat penampungan Gambar 8. Poster Hemat Air Jika dilihat dari fasilitas sekolah lainnya yang mendukung akan konservasi air, selanjutnya adalah dengan telah dibuatnya lubang resapan biopori dan sumur resapan seperti yang terlihat pada Gambar 9. Dengan adanya itu, pengelolaan air hujan dan peresapan air ke tanah sudah dimaksimalkan di lingkungan sekolah. Tidak hanya itu, pada sistem drainase sekolah juga sudah berjalan dengan optimal, dengan ditandakan tidak terjadi penyumbatan sampah ataupun rumput dikarenakan sekolah sudah menerapkan budaya menjaga kebersihan di lingkungan sekolah bagi seluruh warga sekolah dan bukan hanya menjadi pekerjaan bagi petugas kebersihan. Dalam hal ini, sejalan dengan hasil temuan Damayanti et al . yang mengungkapkan bahwa dengan diterapkannya sistem drainase dengan eko-drainase, menggunakan sumur resapan telat terbukti dapat meminimalisir adanya limpasan Gambar 9. Sumur Resapan Kemudian pada aspek pencegahan dan mitigasi bencana, upaya bagian dari hal tersebut di lingkungan sekolah seperti hasil wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan beberapa siswa, diketahui bahwa sekolah belum menerapkan secara konsisten melakukan simulasi penanggulangan bencana, seperti banjir dan gempa bumi yang merupakan bagian dari program mitigasi bencana. sekolah hanya memiliki alat keselamatan kebakaran seperti APAR, namun alat tersebut dalam keadaan rusak dan tidak dapat digunakan dalam upaya mitigasi bencana kebakaran. Artinya, siswa belum sepenuhnya dapat memahami dari bagian aspek pencegahan dan mitigasi bencana di kelas serta belum pernah mempraktikkan secara langsung bagaimana prosedur Langkah-langkah keselamatan yang harus dilakukan pada saat situasi darurat. Perlu dilakukannya pelatihan akan hal tersebut yang sebagaimana sejalan dengan hasil temuan oleh Rahmawati et al . yang menyatakan bahwa, adanya pelatihan ini sangat penting dikarenakan dapat membantu siswa bersikap dengan tenang dan bersikap aman saat terjadi bencana, serta dapat membentuk kesiapsiagaan mereka melalui pemahaman yang baik tentang mitigasi, sehingga menjadi lebih tanggap dalam menghadapi situasi darurat. Pengalaman SMA Negeri 1 Belitang dalam mengintegrasikan nilai-nilai ESD sudah hampir sempurna namun masih ada hal yang perlu ditingkatkan, dapat menjadi dasar untuk mengembangkan kebijakan Pelaksanaan yang baik telah diterapkan dan berpotensi untuk dapat diterapkan bagi sekolah lain, terutama bagi sekolah yang memiliki karakteristik yang sama. Baik dari pemerintah daerah atau dinas Pendidikan juga dapat mendukung hal ini dengan membuat program pendampingan dan ESD memastikan implementasi yang lebih merata serta berdampak di lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat kesempatan dalam memperbaiki supaya ESD menyeluruh dan berkelanjutan di masa Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi dalam penguatan kajian ESD melalui analisis implementasi nilai-nilai ESD di lingkungan sekolah. Kontribusi tersebut terletak pada penyajian gambaran empiris mengenai penerapan nilai-nilai ESD pada aspek lingkungan di SMA Negeri 1 Belitang sebagai sekolah Adiwiyata tingkat nasional. Penelitian nilai-nilai keberlanjutan diwujudkan dalam kegiatan pembelajaran, budaya sekolah, serta memberikan pemahaman yang lebih luas terkait praktik ESD di tingkat satuan Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pendidik dan pemangku kebijakan dalam mengoptimalkan implementasi ESD, serta meningkatkan kualitas pendidikan yang Simpulan dan Saran Berdasarkan temuan penelitian yang telah dilakukan, pada SMA Negeri 1 Belitang telah berhasil menerapkan nilainilai dari ESD ke dalam implementasi Kurikulum Merdeka serta Program Sekolah Adiwiyata. Dari 100 indikator ESD pada aspek lingkungan, total ada 97 indikator . %) telah berhasil diimplementasikan. Sekolah telah mencerminkan komitmen yang tinggi dalam mewujudkan lingkungan belajar yang berkelanjutan, dimulai dari kegiatan pembelajaran di kelas hingga kontribusi aktif dari seluruh warga sekolah dalam menjaga kelestarian lingkungan. Dari berbagai implementasi yang telah diterapkan di sekolah seperti penanaman pohon/tanaman, pengelolaan sampah dengan 3R, penghematan air dan energi, partisipasi aktif warga sekolah dalam program-program lingkungan serta kesiapan sekolah dalam pencegahan dan mitigasi bencana. Namun demikian, masih terdapat indikator yang belum sepenuhnya diterapkan, seperti kurangnya fasilitas dari mitigasi bencana dan prosedur evakuasi dan Langkah-langkah keselamatan yang harus dilakukan pada saat situasi darurat. Daftar Pustaka