Jurnal Agroteknologi. Vol. 14 No. Februari 2024: 53Ae 62 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . KARAKTERISASI MORFOLOGI DAN UJI ANTIFUNGI ISOLAT JAMUR Trichoderma DARI TANAH GAMBUT TERHADAP PATOGEN PADA JARAK KEPYAR (Ricinus communis L. (Morphological Characterization and Antifungal Tests of The Isolate Trichoderma spp. from Peat Soil to Pathogen Disease of Castor Oil (Ricinus communis L. NUR AINI1. ATRIA MARTINA1 Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Riau. Pekanbaru. Indonesia *E-mail: nuraini0042@student. ABSTRACT Castor oil (Ricinus communis L. ) is an oil producing commodities that plays a role in meeting industrial and economic needs. Infection with the pathogen fungi caused a decrease in the production of castor Biological control using Trichoderma spp. has been widely used. Trichoderma spp. known as one of the benefical biofungicide because it has high antagonistic properties inhibiting the growth pathogenic The purpose of this study was to obtain isolates and characters as well antifungal test for Trichoderma spp. isolated from peat soil to control pathogen Aspergillus sp. on castor been (Ricinus communis L. Trichoderma spp. isolated from peat soil in Meranti Islands. Riau. The antagonistic activity the isolates against pathogen Aspergillus sp. was studied in vitro using dual culture and in vivo assay. In this study, six isolates of Trichoderma spp have isolated. Trichoderma sp. GBA5 has the highest growth rate on PDA and TSM medium. Trichoderma sp. GBA3 and Trichoderma sp. GBA4 were most effective in percentage inhibition of mycelial growth of test pathogen i. e 84,55% and 83,71% In in vivo assay, only Trichoderma sp. GBA5 inhibited pathogen with the percent infected castor capsule was 51. Keywords: Aspergillus sp. , biological control, castor bean, in vivo, peat soil PENDAHULUAN Jarak kepyar (Ricinus communis L. ) merupakan salah satu komoditi penghasil minyak sayur nonnabati yang penting karena kandungan minyak yang cukup tinggi berkisar 50-55%. Minyak ini berperan penting dalam memenuhi kebutuhan industri dan ekonomi (Soares 2. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik . produksi jarak kepyar di Indonesia sebesar 2,3 ribu ton pada tahun 2011 dan pada 2019 mengalami penurunan yaitu menjadi 1,7 ribu ton. Jarak kepyar diketahui rentan terkena penyakit yang disebabkan oleh jamur dan bakteri pada berbagai tahap pertumbuhannya (Soares 2. Penyakit pada tanaman ini antara lain layu daun disebabkan oleh jamur Fusarium pallidoroseum (Mamza et al. , busuk batang Rhizoctonia sp. (Basetto et al. flavus dan A. versicolor menyebabkan infeksi pada benih jarak kepyar (Dawar et al. dan kapang abu-abu menginfeksi pada tahap perbungaan dan buah yang disebabkan oleh jamur Botryotinia ricini. Penyakit ini merupakan ancaman utama bagi budidaya tanaman jarak karena menyebabkan kehilangan hasil panen yang sangat besar (Soares 2. Pengendalian penyakit seringkali bergantung pada pengaplikasian fungisida yang mengandung senyawa kimia dalam mengendalikan jamur patogen. Penggunaan fungisida yang terus-menerus dapat menimbulkan resistensi patogen (Konstantinou et al. Pengendalian penyakit secara biologi dapat dijadikan alternatif dengan menggunakan agen hayati Trichoderma spp. (Zin et al. Pengendalian hayati yang menggunakan jamur antagonis dapat menghambat pertumbuhan patogen dengan berbagai mekanisme (Muhibuddin et al. Trichoderma sp. merupakan salah satu pengendalian hayati yang baik karena mudah diisolasi dan dikultur, dapat bersaing dalam memperebutkan nutrisi dan ruang untuk tumbuh serta mampu menghasilkan antibiotik (Khan et al. Trichoderma spp. merupakan salah satu dari genus jamur yang terdapat pada tanah gambut (Fanida dan Ardiningsih 2. Kemampuan Trichoderma spp. dalam menghambat jamur patogen sudah banyak diaplikasikan antara lain terhadap jamur Culvularia lunata (Purwandriya 2. dan Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. Alternaria porri (Muksin et al. Trichoderma virens dapat menekan pertumbuhan Ganoderma boninense dengan cara melakukan kolonisasi pada perakaran tanaman (Mahmud et al. Penelitian terkait eksplorasi Trihoderma antagonis dari lahan gambut untuk mengendalikan penyakit pada jarak kepyar belum banyak dilakukan. Trichoderma spp. dari tanah gambut yang ditanami oleh jarak kepyar kemungkinan dapat menjadi pengendali hayati untuk penyakit pada jarak kepyar. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan isolat Trichoderma spp. yang diisolasi dari tanah gambut kawasan perkebunan jarak kepyar dalam mengendalikan Aspergillus sp. patogen pada tanaman jarak kepyar (Ricinus communis L. BAHAN DAN METODE Pengambilan Sampel Pengambilan sampel tanah dilakukan di PT. Meranti Energi Alam (MEA) yang terdapat di Desa Tanjung Peranap. Kecamatan Tebing Tinggi Barat. Kabupaten Kepulauan Meranti. Riau. Sampel tanah diambil pada dua lahan. Titik koordinat pengambilan sampel lokasi I N: 0A53Ao25,3Ay E: 102A29Ao10,8Ay, lokasi II N: 0A54Ao5,8Ay E: 102A28Ao43Ay. Pada setiap lahan terdapat lima titik pengambilan sampel tanah dengan jarak tiap titik 50 m. Pada tiap titik terdiri dari 3 sub sampling dan dikompositkan (Sastrahidayat dan Djauhari 2. Tanah diambil dengan kedalaman 15 cm. Sampel tanah dimasukkan kedalam kantong plastik dan diberi label, kemudian disimpan pada cool box untuk menjaga sampel agar tetap berada dalam kondisi baik. Sampel kemudian diisolasi di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau. Jamur patogen Aspergillus sp. digunakan merupakan koleksi dari Laboratorium Mikrobiologi Universitas Riau hasil isolasi buah jarak kepyar yang terinfeksi. Isolasi Trichoderma spp. Isolasi Trichoderma spp. dari sampel tanah menggunakan metode soil dilution plate. Pengenceran dilakukan hingga 10-4 menggunakan akuades steril. Hasil pengenceran 10-4 diambil sebanyak 1 ml kemudian dituang Trichoderma selective medium (TSM) inkubasi selama tiga hari. Pemurnian dilakukan hingga tiga kali subkultur untuk mendapatkan kultur murni Trichoderma spp. Karakterisasi Trichoderma spp. Karakterisasi Trichoderma spp. dilakukan dengan pengamatan secara langsung karakteristik morfologi makroskopis dan morfologi mikroskopis. Secara makroskopis meliputi bentuk koloni, pinggir koloni, elevasi, warna permukaan koloni, warna sebalik koloni, produksi eksudat, lingkaran konsentris, garis radial, dan diameter pertumbuhan Trichoderma spp. Pengamatan dilakukan setiap hari selama 7 Secara mikroskopis yang diamati meliputi bentuk konidiofor, fialid dan konidia dengan metode slide culture (Gusnawaty et al. Karakterisasi morfologi Trichoderma spp. mengacu pada buku identifikasi Watanabe . dan Samson et al. Uji antagonis Uji antagonis dilakukan dengan metode dual culture. Koloni Trichoderma spp. dan Aspergillus sp. berumur 3 hari dibuat disk dengan cara dipotong menggunakan yellow tip yang terbalik pada bagian pinggir koloni. Potongan miselium dari Trichoderma spp. dan Aspergillus sp. kemudian diletakkan secara berhadapan pada cawan petri berukuran 9 cm berisi medium PDA. Masing-masing jarak antara keduanya dari tepi cawan yaitu 3 cm (Kaunang et al. Pengamatan dilakukan setiap hari selama Pengaruh antagonis terhadap patogen dilihat dengan cara menghitung PIRG . resentase inhibition of radial growt. (Kalay et al 2. P = r1 Ae r2 y 100% P = Persentase hambatan (%). r1 = Jari-jari pertumbuhan patogen menjauhi arah pertumbuhan antagonis. r2 = Jari-jari pertumbuhan patogen mendekati arah pertumbuhan antagonis. Evaluasi Trichoderma spp. terhadap Aspergillus sp. secara in vivo Tiga isolat Trichoderma spp. dengan daya hambat tertinggi diuji lanjut dengan detached spike assay terhadap Aspergillus sp. Buah jarak dikumpulkan dari tanaman jarak kepyar yang sehat. Potongan tangkai buah direndam pada erlenmeyer yang mengandung larutan sukrosa 2%. Buah jarak disemprot dengan suspensi konidia isolat Aspergillus sp. sebanyak 106konidia/ml. Setelah 24 jam Jurnal Agroteknologi. Vol. 14 No. Februari 2024: 53Ae 62 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . kemudian disemprotkan dengan suspensi konidia Trichoderma sp. 107 konidia/ml (Yamuna et al. Buah yang telah diberi perlakukan diletakkan pada suhu ruang dengan kelembaban 90% selama 7 hari menggunakan alat hygrometer. Persen kapsul buah yang terinfeksi pada masing- masing perlakuan dihitung menggunakan Persen terinfeksi = Jumlah kapsul yang terinfeksi dalam satu gugus buah y 100% Jumlah total kapsul dalam satu gugus buah Analisis Data Analisis data karakterisasi isolat Trichoderma spp. dilakukan secara deskriptif. Data hasil uji antagonis dan evaluasi Trichoderma spp. terhadap Aspergillus sp. secara in vivo pada buah jarak kepyar dianalisis secara statistik dengan menggunakan ANOVA apabila terdapat perbedaan dilakukan uji lanjut Duncan . erangkat lunak statistik program Sigma Stat SPSS). HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi Trichoderma spp. Jumlah isolat Trichoderma spp. yang berhasil diisolasi dari tanah gambut sebanyak 6 isolat seperti terlihat pada Tabel 1. Tabel 1. Parameter lingkungan dan hasil isolasi Trichoderma spp. dari tanah gambut Lokasi Pengambilan Sampel Lokasi I Lokasi II Total Parameter Lingkungan Suhu Kelembaban 29AC 63,6% 51,6% Jumlah isolat Isolasi jamur Trichoderma spp. menggunakan medium TSM (Trichoderma selective mediu. Penggunaan medium TSM diharapkan mampu menyeleksi jamur lainnya yang. Hasil isolasi pada kedua lokasi tersebut menunjukkan perbedaan. Pada lokasi I, hanya ditemukan satu jenis Trichoderma sp. Pada lokasi ini serangan penyakit pada tanaman jarak sangat tinggi dan umur tanaman yang sudah memasuki 6 bulan dibandingkan pada lokasi sampel II sehingga pada lokasi I sering dilakukan penyemprotan berbagai macam jenis fungisida dengan intensitas penyemprotan 2-3 kali dalam Pada lokasi II didapatkan lima jenis Trichoderma sp. Pada lokasi ini intensitas penyemprotan fungisida berbeda dengan lokasi I. Penyemprotan fungisida hanya dilakukan 1 kali dalam seminggu karena tingkat serangan penyakit lebih kecil dan usia tanaman berkisar 2 bulan. Roman et al. penggunaan fungisida yang terus menerus dapat mempengaruhi kondisi tanah dan menyebabkan berkurangnya populasi mikroba tanah. Mikroorganisme memiliki sifat dapat mempertahankan diri dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Puspita et al. mendapatkan dua isolat Trichoderma spp. hasil isolasi tanah gambut yang ditanami kelapa sawit di Rimbo Panjang. Riau. Saputra et al. mendapatkan enam isolat Trichoderma spp. hasil isolasi dari tanah gambut perkebunan kelapa sawit Desa Deli Makmur. Kampar. Karakterisasi Isolat Jamur dari Tanah Gambut Berdasarkan perbedaan ciri makroskopis dan mikroskopis didapatkan 6 isolat Trichoderma dengan perbedaan morfologi yang terlihat pada Tabel 2 dan Gambar 1. Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. Gambar 1. Koloni Trichoderma spp. inkubasi hari ke 7, . Trichoderma sp. GBA1, . Trichoderma sp. GBA2, . Trichoderma sp. GBA3, . Trichoderma sp. GBA4, . Trichoderma sp. GBA5, Trichoderma sp. GBA6. koloni pada medium PDA. Koloni pada medium TSM. Mikroskopis perbesaran 40X, . Konidiofor, . Fialid, . Konidia, 1. Permukaan Koloni, 2. Sebalik Koloni. Jurnal Agroteknologi. Vol. 14 No. Februari 2024: 53Ae 62 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . Tabel 2. Karakter morfologi isolat Trichoderma spp. Karakter Warna Koloni Pada Medium Trichoderma sp. GBA1 Trichoderma sp. GBA2 Trichoderma sp. GBA3 Trichoderma sp. GBA4 Trichoderma sp. GBA5 Trichoderma sp. GBA6 Spora kehijauan mulai muncul dan eksudat berwarna Pada pinggir koloni muncul spora berwarna kehijauan Koloni berwarna putih dan terdapat eksudat berwarna Pertumbuhan koloni berwarna putih Koloni berwarna putih kehijauan dan sudah memenuhi cawan Setelah memenuhi cawan petri muncul spora berwarna Menghasilkan eksudat berwarna Tekstur koloni agak longgar dan warna kehijauan semakin jelas terlihat Menghasilkan eksudat berwarna Koloni berwarna putih kehujauan Koloni berwarna putih Hari ke3 Pertumbuhan koloni berwarna hijau muda Koloni berwarna putih kapas dan tekstur koloni agak longgar Koloni mulai berwarna kehijauan dan sebalik koloni berwarna kuning Permukaan koloni berwarna putih Menghasilkan eksudat berwarna hijau dan sebalik koloni menjadi kuning kecoklatan Menghasilkan eksudat berwarna Koloni berwarna hijau Koloni warna putih dengan tekstur koloni agak longgar Muncul warna kehijauan pada permukaan koloni Warna hijau semakin tua dan memenuhi cawan petri Koloni berwarna putih dan seperti kapas Koloni berwarna putih sedikit kehijauan Pertumbuhan koloni memenuhi cawan petri dan berwarna putih kehijauan Warna permukaan koloni menjadi hijau kekuningan dan sebalik koloni berwarna hijau muda Permukaan koloni berwarna putih Pertumbuhan koloni memenuhi cawan Seluruh permukaan koloni berwarna hijau dengan tekstur koloni Sirkular Muncul spora berwarna hijau Permukaan koloni tertutupi spora berwarna hijau Filamentous Pertumbuhan koloni berwarna hijau Teksur koloni tebal agak longgar dan berwarna hijau Filamentous Permukaan koloni mulai berwarna Koloni berwarna hijau muda dan terdapat lingkaran kosentris PDA TSM Bentuk Koloni Irregular Pertumbuhan koloni berwarna putih Muncul spora berwarna hijau pada sekeliling lingkaran Sirkular Lingkaran Kosentris Garis Radial Bentuk dan Warna Konidia Bulat Gelap Oval Gelap Bulat Gelap Oval Hijau Bulat Hijau Bulat Hijau Panjang Konidia 0,1-0,3 AAm 0,1-0,3 AAm 0,1-0,2 AAm 0,1-0,4 AAm 0,1-0,3 AAm 0,2-0,5 AAm Letak Spora Terminal Terminal Terminal Terminal Terminal Terminal. Interkalar Bentuk Fialid Pendek dan Tebal Silindris Tipis Silindris Tipis Tabung Filamentous Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. Trichoderma spp. memiliki permukaan koloni berwarna putih kehijauan hingga hijau, memiliki miselium yang menyerupai rambut, tekstur koloni agak longgar, terdapat lingkaran kosentris, garis radial dan menghasilkan eksudat. Secara mikroskopis memiliki benruk konidia bulat hingga semi bulat berwarna hijau, konidiofor bercabang dan terdapat fialid. Menurut Samson et al. Trichoderma spp. memiliki pertumbuhan koloni yang cepat, pada awal pertumbuhan koloni Trichoderma berwarna putih kemudian menjadi berwarna hijau, memiliki konidiofor bercabang dan terdapat fialid pada ujung konidiofor berbentuk silindris. Konidia berbentuk bulat hingga semi bulat dengan warna hialin, permukaan konidia halus hingga kasar. Watanabe . menyatakan koloni Trichoderma mula-mula berwarna putih lalu berwarna kehijauan dan setelah miselium dewasa menunjukkan warna hijau kekuningan atau hijau tua. Jamur Trichoderma memiliki konidiofor yang bercabang tidak beraturan yang menyerupai piramida, konidia berbentuk bulat, semi bulat hingga oval berwarna transparan dan hialin dengan permukaan konidia halus. Uji Antagonisme Trichoderma spp. Terhadap Aspergillus sp. Uji antagonis jamur Trichoderma spp. terhadap patogen pada tanaman jarak kepyar (Ricinus communis L. ) dilakukan menggunakan metode dual culture. Masing-masing isolat memiliki nilai persen hambatan yang berbeda. Hasil uji antagonis ditunjukkan dengan persentase hambatan yang dapat dilihat pada Gambar 3. Daya hambat isolat yang paling tinggi adalah Trichoderma sp. GBA3 yaitu 84,55% dan Trichoderma sp. GBA4 sebesar 83,71%. Hasil ini berbeda nyata dengan kemampuan isolat Isolat yang mempunyai daya hambat paling rendah terhadap Aspergillus sp. yaitu Trichoderma GBA1 sebesar 48,86%. Gambar 3. Persentase daya hambat uji antagonis Trichoderma spp. terhadap Aspergillus sp. Pada hari ke 5. Menurut Ratnasari et al. apabila nilai persentase hambatan lebih dari 60% dari permukaan cawan petri, maka dapat dikatakan bahwa jamur antagonis mampu menghambat pertumbuhan jamur Kemampuan antagonis yang berbeda pada tiap isolat kemungkinan adanya perbedaan pada morfologi tiap isolat Trichoderma spp. dan kecepatan pertumbuhannya. Rahmadani et al. kemampuan daya antagonis jamur Trichoderma spp. berbeda-beda disebabkan adanya perbedaan kemampuan dari mekanisme masing-masing spesies Trichoderma spp. dan metabolit yang dihasilkan oleh masing-masing spesies. Beberapa isolat menunjukkan adanya zona bening antara jamur antagonis dan patogen pada hari 5-7 pengamatan. Zona bening ditemukan pada isolat Trichoderma sp. GBA1 yang mulai terlihat pada hari ke 7, isolat Trichoderma sp. GBA5 dan Trichoderma sp. GBA6 pada hari ke 5. Pada isolat Trichoderma sp. GBA2. Trichoderma sp. GBA3 dan Trichoderma sp. GBA4 terdapat beberapa miselium jamur antagonis yang tumbuh diatas jamur patogen dapat dilihat pada Gambar 4. Antibiosis ditandai dengan terbentuknya zona bening sebagai zona penghambatan pertumbuhan bagi jamur patogen dan hiperparasit ditandai dengan pertumbuhan miselium Trichoderma spp. tumbuh menutupi seluruh permukaan medium termasuk tumbuh diatas permukaan koloni jamur patogen (Purwantisari dan Rini 2. Mekanisme penghambatan antibiosis Trichoderma atriviride menghasilkan antibiotik yaitu 6-pentyl-a-pyrone . -PP), asam heptilidat dan peptaibol (Jin et al. Trichoderma sp. Menghasilkan antibiotik seperti glioktisin yang mampu menghambat pertumbuhan miselium dari beberapa spesies Phytopthora (Berlian et al. Jurnal Agroteknologi. Vol. 14 No. Februari 2024: 53Ae 62 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . Gambar 4. Uji Antagonis Trichoderma spp. terhadap Aspergillus sp hari ke 7 pada medium PDA. Trichoderma sp. GBA1. Trichoderma sp. GBA2. Trichoderma sp. GBA3. Trichoderma sp. GBA4. Trichoderma sp. GBA5. Trichoderma sp. GBA6, . Trichoderma sp. , . Patogen. Howell . menyatakan mekanisme hiperparasit diawali dengan hifa Trichoderma spp. tumbuh memanjang lalu membelit dan mempenetrasi hifa jamur patogen sehingga hifa jamur patogen mengalami vakuolasi, lisis kemudian hancur. Trichoderma spp. melakukan penetrasi terhadap dinding sel jamur patogen dengan bantuan enzim pendegradasi dinding sel yaitu protease, kitinase dan Penelitian Saputra . , uji antagonis Trichoderma spp. terhadap F. ditemukan bahwa hifa F. oxysporum terlilit oleh hifa Trichoderma spp. secara melingkar, kemudian Trichoderma spp. mengeluarkan enzim tertentu yang menyebabkan terjadinya lisis pada lapisan kitin dinding sel hifa jamur F. Uji antagonis Trichoderma spp. isolat lokal Riau terhadap beberapa jamur patogen pada tanaman budidaya yang dilakukan oleh Safitri et al. , menunjukkan bahwa Trichoderma sp. PNE 4 mampu menghambat pertumbuhan miselium jamur F. oxyporum sebesar 85,30%. Philippi 100%. Boninense 100% dan C. sansevieria 100%. Evaluasi Trichoderma spp. Terhadap Patogen Secara In Vivo Tiga dari enam isolat Trichoderma spp. yaitu Trichoderma sp. GBA3. Trichoderma sp. GBA4, dan Trichoderma sp. GBA5 yang mempunyai daya hambat tertinggi secara in vitro, kemudian diuji secara in vivo menggunakan metode deatchead spike assay selama 7 hari. Hasilnya disajikan pada Gambar 5. Gambar 5. Persen infeksi pada buah jarak kepyar inkubasi hari ke 7 Trichoderma sp. GBA5 mampu menghambat pertumbuhan patogen Aspergillus sp. pada jarak kepyar dengan nilai persen infeksi sebesar 51,66%. Trichoderma sp. GBA3 dan Trichoderma sp. GBA4 tidak mampu menghambat pertumbuhan jamur patogen dengan nilai persen infeksi keduanya sebesar 100%, dan meskipun pada uji in vitro isolat Trichoderma sp. GBA3 mampu menghambat jamur patogen Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. sebesar 84,55%. Trichoderma sp. GBA4 83,71%, dan Trichoderma sp. GBA5 75,04%. Persen infeksi pada buah jarak kepyar isolat Trichoderma sp. GBA3 dan Trichoderma sp. GBA4 sama dengan kontrol yang disemprotkan konidia jamur Aspergillus sp. yaitu sebesar 100% dapat dilihat pada Gambar 6. Pada hasil uji antagonis isolat Trichoderma sp. GBA3 dan Trichoderma sp. GBA4 memiliki nilai hambat tertinggi dibandingkan isolat Trichoderma sp. GBA5 sedangkan pada uji in vivo isolat Trichoderma sp. GBA3 dan Trichoderma sp. GBA4 mengalami penurunan tidak dapat menghambat infeksi Aspergillus sp. pada buah jarak kepyar. Gambar 6. Efek isolat Trichoderma sp. terhadap Aspergillus sp. Kontrol Negatif. Kontrol Positif. Trichoderma sp. GBA3. Trichoderma sp. GBA4, dan E. Trichoderma sp. GBA5. Aspergillus sp. yang disemprotkan terlebih dahulu dapat menyebabkan Trichoderma spp. mampu menghambat pertumbuhan Aspergillus sp. karena Aspergillus sp. sudah terlebih dahulu memanfaatkan nutrisi dan ruang yang ada untuk tumbuh sehingga saat Trichoderma sp. sudah tidak mampu bersaing untuk tumbuh. Penelitian Dwiastuti et al. , menyatakan bahwa Trichoderma sp. yang diaplikasikan setelah Fusarium spp. kurang efektif dalam menghambat infeksi dan menunjukkan nilai persen infeksi paling tinggi yaitu 46,03%. Isolat Fusarium spp. yang diaplikasikan terlebih dahulu telah tumbuh di dalam jaringan tanaman sehingga Trichoderma sp. tidak mampu tumbuh dan menghambat infeksi Fusarium spp. Hal ini juga mungkin disebabkan adanya perbedaan laju kecepatan tumbuh pada masing-masing isolat. Isolat Trichoderma sp. GBA5 lebih cepat tumbuh daripada isolat Trichoderma sp. GBA3 dan Trichoderma sp. GBA4 sehingga pada saat Trichoderma sp. GBA5 disemprotkan ke buah R. communis L. lebih cepat tumbuh dan berkompetisi dalam memperebutkan nutrisi yang ada pada buah R. communis L. dibandingkan isolat Trichoderma sp. GBA3 dan Trichoderma sp. GBA4. Penelitian Yamuna et al. , dari dua belas isolat Trichoderma sp. diujikan menggunakan uji deatchead spike assay selama 7 hari menunjukkan bahwa tiga isolat Trichoderma sp. mampu menghambat persen infeksi A. ricini yaitu T. harzianum 1 sebesar 5%. harzianum 4 6,67% dan T. asperallum 2 sebesar 6,67%. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian didapatkan enam isolat Trichoderma spp. hasil isolasi tanah gambut di Desa Tanjung Peranap. Riau. Uji antagonis secara in vitro dengan menggunakan metode dual culture didapatkan tiga dari enam isolat yaitu Trichoderma sp. GBA3. Trichoderma sp. GBA4 dan Trichoderma GBA5 memiliki nilai hambat tertinggi masing-masing sebesar 84,55%, 83,71%, dan 75,04%. Evaluasi secara in vivo hanya isolat Trichoderma sp. GBA5 yang mampu menghambat infeksi dari jamur patogen dengan nilai persen infeksi sebesar 51,66% sedangkan isolat Trichoderma sp. GBA3 dan Trichoderma sp. GBA4 mempunyai nilai persen infeksi 100%. Saran dari penelitian ini adalah perlu dilakukan identifikasi lanjut untuk mengetahui spesies dari masing-masing Trichoderma spp. dan pengujian patogenitas semua isolat Trichoderma spp. secara in UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada PT. Meranti Energi Alam (MEA) yang telah membantu dalam memfasilitasi penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA