Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Simbolisme Kakereb Barong Dan Rangda Dalam Upacara Butha Yadnya Di Desa Bitra Gianyar Ida Bagus Gde Yudha Triguna*. I Nyoman Kembar Bagiarta. I Nyoman Sudanta Universitas Hindu Indonesia. Denpasar. Indonesia *ajiktriguna353@gmail. Abstract Kakereb is the veil used for Barong and Rangda, made from a square piece of white cloth measuring 1. 2 meters by 1. 2 meters. Its uniqueness lies in the sacred inscriptions . written on its surface. These inscriptions contain texts that represent a sacred symbolic system of Shaivite Tantric theology, encompassing the concept of Acintya . he inconceivable aspect of Go. as well as sacred characters such as Ongkara and wijaksara. In addition to the textual elements, the kakereb also features symbolic images such as dragons, fire, weapons of the Dewata Nawasanga, and modre The essential meaning behind the kakereb is that God (Shiv. is the essence that is both One and many (Eka-anek. The One Supreme God (Ek. , by His own will, manifests Himself into various deities and even into all that exists . The kakereb, in relation to Barong and Rangda, symbolizes a theology of duality. God is glorified with the names Bhatara Shiva and Dewi Uma, who are considered the source, existence, and ultimate purpose of all things in the world. Shiva has a thousand names . ahasra nam. , and so does Uma, illustrating the infinite aspects of their divinity. Thus. Balinese Hindus who follow the Shaivite Tantric tradition are not worshipping demons, but are in fact worshipping God through sacred and religious-magical forms such as Barong and Rangda. Although these figures may appear demonic on the surface, they are actually sacred embodiments known as Ratu Bagus and Ratu Ayu Keywords: Kakereb. Barong Rangda. Bhuta Yadnya Abstrak Kakereb merupakan kerudung Barong dan Rangda. yang dibentuk dari selembar kain putih berukuran 1,2 m x 1,2 m. Keistimewaan kakereb terletak pada rerajahan di dalamnya tersurat teks yang merupakan sistem simbol suci paham ketuhanan ajaran Tantra Siwaistis yang mencakup aspek Acintya serta aksara-aksara sakral seperti Ongkara dan wijaksara. Selain tulisan, kakereb juga menampilkan gambar-gambar simbolis seperti naga, api, senjata Dewata Nawasanga dan aksara modre yang masih bisa dibaca secara linguistik tetapi suaranya susah dimengerti. Intinya bahwa Tuhan (Siw. itu hakikat yang Eka-aneka. Tuhan yang Esa (Ek. , atas kehendak-Nya sendiri, memanifestasikan diri menjadi dewa-dewa. Bahkan juga merupakan segala yang ada . Kakereb kaitannya dengan Barong dan Rangda menandakan teologi dualitas. Tuhan dimuliakan dengan nama Bhatara Siwa dan Dewi Uma yang adalah asal, keberadaan, dan tujuan segala yang ada di dunia. Siwa memiliki ribuan nama . ahasra nam. demikian juga Uma. Ideologi ini mengajarkan penganutnya melakukan pelatihan bakti berjenjang. Baktinya berupa ritual ruwatan diri sampai dapat mencapai kesucian paripurna melalui teknik yoga aksara. Puncak meditasi berada di tataran rohani kesadaran Monistis Imanen, yang pada tahap akhirnya dapat mencapai tataran samadhi . encapai Kesadaran Monistis Transende. Dengan demikian, umat Hindu Bali penganut ajaran Tantra Siwaistis bukan memuja setan, tetapi memuja Tuhan melalui sarana suci dalam wujud kreatif religius-magis Barong-Rangda. Tampak kasarnya saja demonis, tetapi keduanya adalah Ratu Bagus-Ratu Ayu. Kata Kunci: Kakereb. Barong Rangda. Bhuta Yadnya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pendahuluan Dalam kepercayaan religius dan sejumlah ritus masyarakat Hindu Bali, figur Barong dan Rangda masing-masing berfungsi sebagai simbol kekuatan. Barong merupakan simbol kekuatan perlindungan dan Rangda mencitrakan kekuatan destruktif. Pemujaan terhadap wujud-wujud demonis ini diperdebatkan dan bahkan dianggap menyimpang oleh beberapa kalangan, meskipun keduanya dianggap sebagai manifestasi sakral dari aspek-aspek ketuhanan secara teologis. Fakta bahwa orang Hindu Bali menyembah setan seringkali disebabkan oleh pemahaman yang terbatas tentang ritus seperti Napak Pretiwi yang menggunakan darah sebagai persembahan, serta cerita mitologis tentang Durga. Calonarang, atau Rare Angon, yang dianggap mengandung elemen ilmu hitam atau pangiwa. Menurut Suarka . , masyarakat yang tidak mengikuti tradisi Bali, bahkan orang Hindu penganut ahimsa ketat, melihat ritual ini sebagai bentuk kekerasan dan menyimpang dari ajaran Veda. Setelah menelusuri lebih lanjut melalui pendekatan tekstual dan simbolik, tampak bahwa figur Barong dan Rangda adalah representasi kosmis dari prinsip dualitas dan keseimbangan dalam ajaran Hindu, terutama dalam konteks Tantra Siwaistis. Dalam teks Purwa Bhumi Kemulan. Siwagama, hingga Barong Swari. Rangda digambarkan sebagai bentuk transformasional dari Dewi Uma (Durg. sebagai akibat dari kebencian atau kemarahan, sedangkan Barong digambarkan sebagai representasi Siwa dalam bentuk pelindung kala (Hooykaas,1974. Gautama, 2009. Suarka, 2. Kisah Calonarang berfokus pada kutukan dan kekuatan destruktif, yang mengarah pada proses ruwatan, yaitu penyucian dan pemulihan guna mencapai harmoni sebagaimana yang banyak terjadi dalam ritus Masyarakat Bali (Triguna, 2. Tubuh dramatik Barong dan Rangda bergantung pada elemen simbolik kakereb, yang selama ini kurang diperhatikan oleh para akademisi. Kakereb adalah kain sakral yang berfungsi sebagai pelindung kepala dan juga sebagai media simbolik yang mengandung aksara sakral . , rerajahan, dan ikonografi visual yang memiliki makna religius. Perwujudan simbolik semacam itu dapat ditemukan di Desa Bitra Kabupaten Gianyar, yang terkenal dengan upacara sakral dan pemujaan Ratu Ayu dan Ratu Bagus. Kakeren dalam konteks itu berfungsi sebagai teks simbolik yang menunjukkan ajaran dan pemahaman teologis para pemujanya. Unsur-unsurnya tidak hadir secara kebetulan untuk membentuk makna keagamaan yang konsisten. Sebaliknya, itu sebagai sistem tanda yang terstruktur yang saling berhubungan (Teeuw, 1984. Triguna, 2. Dalam teologi Hindu, kakereb dipahami sebagai wahana manifestasi energi Tuhan melalui ajaran Tantra, sebuah cabang spiritualitas Hindu yang menekankan sadhana . atihan bati. , visualisasi sakral, dan pemujaan pada aspek transformatif Tuhan, terutama dalam wujud Dewi. Avalon . menyatakan bahwa ajaran Tantra berasal dari ajaran Siwa kepada Dewi Uma. Ajaran ini di Bali tersimpan dan 'dihidupkan' dalam berbagai lontar tattwa, tutur, kawisesan, dan mantra yang digunakan dalam ritual besar seperti Butha Yadnya. Dalam ritual masyarakat Bali, elemen Tantra seperti yantra, mudra, mantra, dan wijaksara diartikulasikan secara visual, terutama dalam struktur kakereb. Dalam praktik Tantra. Bhuwana Kosa menjelaskan secara sistematis bahwa pemujaan harus dilakukan melalui tahapan simbolik dan spiritual, seperti pembuatan mandala, pemilihan waktu . , penggunaan sarana . , sikap tubuh dan tangan . , pengucapan mantra . , dan pemusatan batin pada Omkara sebagai puncak Baik desain maupun fungsi kakereb mencerminkan unsur-unsur ini, menjadikannya bukan sekadar item tambahan tetapi sebuah miniatur dari kosmologi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Sayangnya, kajian akademik tentang Barong dan Rangda sebagian besar masih berkutat pada aspek estetika, transformasi naratif, atau fungsinya dalam konteks sosial. Penelitian-penelitian lain seperti Suastika . Karsana . Bandem . Ardhana, et. , hingga Sugita, et. telah membahas pertunjukan dramatari Calonarang, sebagai tari tolak bala, dan aspek estetik Barong Rangda. Penelitian Wirawan . secara selintas menyinggung mengenai kakereb sebagai pelindung dan kain sakral, tetapi pembahasan komprehensif dan mendalam tentang struktur simbolik kakereb, aksara modre, serta rerajahan belum pernah dilakukan. Padahal kakereb merupakan teks visual sakral yang dapat dibaca dan diinterpretasikan sebagai bagian dari sistem kepercayaan masyarakat penganut Siwa Tantra di Bali. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menelaah simbolisme kakereb Barong-Rangda dalam kerangka mitoteologis Siwa Tantra. Kajian ini mencoba menjawab pertanyaan fundamental: paham apakah yang sesungguhnya mendasari pemujaan personifikasi Tuhan dalam wujud Barong dan Rangda?. Melalui pendekatan semiotik-struktural dan interpretasi teologis berbasis teks suci . abda praman. , penelitian ini mencoba menghadirkan pemahaman baru yang lebih kontekstual. Metode Studi ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif analitis-interpretatif. Secara khusus, penelitian ini menekankan analisis simbolik kakereb yang ditemukan pada gambar kakereb Barong dan Rangda dalam konteks ritual Butha Yadnya. Dengan mempertimbangkan hubungan antara bentuk visual, cerita tradisional, dan konteks ritualnya, fokus utamanya adalah mengeksplorasi makna simbolik, fungsi budaya, dan pemaknaan spiritual yang terkandung dalam elemen kakereb. Semua data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi partisipatif terhadap beberapa informan penting yang dianggap memiliki keahlian, otoritas, dan pengetahuan yang mendalam tentang aksara sakral, rerajahan, dan konstruksi simbolik kakereb dalam pertunjukan Barong dan Rangda. Lokasi penelitian adalah Desa Bitra di Kabupaten Gianyar. Desa ini memiliki praktik ritual dan tradisi sakral yang kuat dan komunitas seni tradisi yang aktif melestarikan warisan budaya. Dengan teknik bola salju menggelinding . , pemilihan informan dilakukan secara bertahap. Informan awal merekomendasikan namanama informan berikutnya hingga peneliti memperoleh data yang dianggap cukup atau Demi tujuan mendapatkan pemahaman mendalam tentang simbolisme kakereb, data dianalisis secara reflektif dan interpretatif. Hasil dan Pembahasan Jenis Kakereb Barong Rangda Sebagian besar Barong dan Rangda sakral yang ditemukan dalam penelitian ini memakai kerudung yang disebut kakereb. Kakereb atau kereb, kekudung, atau kudung adalah kerudung berupa selembar kain kasa putih dengan ukuran kurang lebih 1,5 meter x 1,5 meter. Pada kain putih itu dilukis atau ditulis dengan tinta hitam berupa rajah aksara Bali sakral yang disebut wijaksara dan modre, lukisan manifestasi Tuhan yang dipuja, senjata Dewata Nawa Sangga, naga, pancaran cahaya atau api. Ada tiga tipe kakereb, yaitu pertama, kakereb memakai lukisan Sang Hyang Licin. kedua, kakereb memakai lukisan Rangda atau wajah Bhatari Durga. dan ketiga kakereb memakai rajah mantra, wijaksara, dan aksara modre, tetapi tanpa lukisan perwujudan. Kesamaan ketiga jenis kakereb itu sama-sama disurati aksara suci wijaksara dan modre. Dalam pustaka Dasaksara Krahkah Modre (Anonim, t. tidak dibedakan antara wijaksara dengan modre. Akan tetapi dalam tulisan ini dibedakan sehingga sejalan dengan pendapat Bagus . Wijaksara adalah aksara formula mantra atau rumus suci yang umumnya terdiri atas satu https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH suku kata aksara Bali yang disakralkan dan dapat diucapkan secara linguistik. Sedangkan modre adalah rajah aksara Bali yang unsur-unsurnya terdiri dari sejumlah huruf atau suku kata yang digabung sedemikian rupa sehingga tidak dapat dibaca secara linguistik. Rajah Kakereb Sang Hyang Licin Lukisan atau rajah Sang Hyang Licin disebut juga Sang Hyang Acintya. Licin artinya gaib. Acintya artinya tak terpikirkan. Adapun yang dimaksud adalah entitas yang gaib dan tak terpikirkan itulah Tuhan . yang patut dihormati . Lukisannya serupa gambar laki-laki telanjang (Purus. dengan sikap meditasi . : Mata merem memandang ujung hidung . simbul pikiran terkonsentrasi, sikap telapak tangan menyatu . simbol menguasai sepuluh indera . , kaki kanan posisinya lebih lurus dengan kaki kanan . simbol penguasaan terhadap daya ilusi duniawi (Maya Sakt. , masing-masing persendian, kemaluan, telinga, dan kepala bersurat aksara hamsa adalah simbol memancarkan daya spiritual . arama jyotir atau jnana wises. Menurut paham Tantra Siwa. Sang Hyang Licin adalah Bhatara Siwa atau Sang Hyang Purusa (Yasa, 2. Kakereb Rangda pada gambar 1 paling kanan adalah rajah Sang Hyang Licin dikurung oleh lingkaran api yang disebut keluwung geni, sementara yang lainnya dikelilingi gambar senjata Dewata Nawa Sangga. Gambar 1. Rerajahan Sang Hyang Licin Rerajahan Dewi Durga Durga dalam keyakinan umat Hindu merupakan Shakti Siwa dalam perwujudan yang sangat dinamis. Hal tersebut menyebabkan dalam pertunjukan-pertunjukan di Bali Durga digambarkan senantiasa aktif. Kendatipun demikian Durga menjadi salah satu Ista Dewata utama yang dipuja penganut Hindu Bali. Pada gambar kakereb nomor 2 bagian kiri tampak bentuk rajah Rangda sedang menari dikelilingi senjata dewata Nawa Sangga. Sementara pada gambar 2 bagian kanan tampak rajah Rangda mengendarai seekor naga. Gambar 2. Kakereb Rangda desa adat Bitra Gianyar . , dan kakereb Rangda di Pura Dalem Bitra . ) https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Secara visual rajah lukisan Rangda pada gambar 2 di bagian kiri di atas sesuai dengan yang dideskripsikan dalam lontar Purwa Bhumi Kemulan (Hooykaas, 1. Dikisahkan bahwa Dewi Uma kaget menyaksikan hasil yoganya, tiba-tiba Sang Dewi berubah wujud menjadi demonis. Tubuhnya membesar, mata melotot, rambut terurai, bertaring panjang mulut menganga lebar, dan menampilkan wujud-wujud menyeramkan Sekalipun wajahnya raksasa tetapi sikapnya tampaknya tenang dengan mahkota dan busana seorang ratu. Sikap tangan kanannya apana mudra yang berarti mengharmoniskan sirkulasi nafas vital pada kemaluan (Djapa, 2013. Dev, 1. Berwahanakan naga yang berarti Dewi Durga sebagai penguasa duniawi pada dirinya . ri Hal ini sesuai dengan makna tiga naga yang telah dibahas sebelumnya, yang tak lain merupakan tiga sifat materiil milik Dewi Durga. Keberadaan Dewi Durga dijelaskan dalam mantra yang disebut Durga Stawa: Om Durgypati bhyta rypa. Umy devy Sarasvaty Ganggy Gaury pravakyya mym. Durgy devi namo namay Terjemahan: Om Dewi Durga Ratu segala yang berupa bhuta AodemonisAo Dewi Uma Saraswati Gangga Gauri saksikanlah permohonan hamba Hamba hormat kepada-Mu Dewi Durga Om yoynta rypam vibhakyya mym. Sri devy yaryra devy sarva jagat yuddhytmakam, sarva vighna vinyyanam Terjemahan: Om Dewi yang berwajah damai berbelas kasihlah kepada hamba Dewi Sri perwujudan-Mu dewi, semua alam Engkau sucikan. Segala pengacau Engkau lenyapkan. Mantra tersebut menegaskan bahwa Dewi Durga adalah aspek feminis . Tuhan (Om. Siw. Durga memiliki banyak nama, di antaranya adalah Dewi Uma. Dewi Saraswati. Dewi Gangga. Dewi Gauri, dan Dewi Sri. Dewi Durga adalah substansi sekaligus penguasa materi (Panca Mahabhut. yang dipersonifikasikan sebagai mahluk demonis berwajah angker Rangda. Para pemuja memuji Sang Dewi dalam wujudnya yang damai penuh kasih . anta rup. Dalam wujud yang damai. Durga dipuja dengan nama Ratu Ayu yang menyucikan alam dan menganugerahkan kerahayuan. Sebaliknya, dalam wujud yang demonis angker. Durga melenyapkan . dan segala mala petaka . arwa wighn. Rajah Aksara Wijaksara Rajah Wijaksara adalah bija aksara Bali yang dipandang sakral, karena merupakan formula dari mantra. Keberadaan bija aksara mengindikasikan bahwa setiap mantra diampu oleh satu atau beberapa sosok dewa atau dewi. Sosok sakral itu disimbolkan dengan satu aksara atau suku kata suci. Dalam ajaran Tantra Siwaistis. Wijaksara lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan mantra. Oleh karena itu disebut kutamantra, yakni mahkota mantra. Selanjutnya dijelaskan dalam Bhuwana Kosa (Yasa, 2. , bahwa Omkara (Ongkar. Pranawa lebih tinggi kedudukannya dari kutamantra, karena Pranawa adalah sumber dari mana kutamantra lahir dan kembali. Artinya. Tuhan yang disimbolkan dengan Omkara Pranawa adalah sumber para dewa yang disimbolkan dengan wijaksara di bawah Omkara Pranawa. Dalam kakereb dapat dibaca sejumlah wijaksara, sebagai berikut: Wijaksara Pranawa dibaca Ong, simbol Tuhan dalam struktur aksara Bali. Simbol Ongkara Pranawa sesungguhnya adalah juga dibaca Ong yang disebut Ongkara Geni atau Ongkara Mantra. Ongkara Gni umumnya dipakai atau disuratkan di awal setiap mantra. Untuk mantra-mantra pujian kepada dewa atau dewi selalu diawali dengan menyuratkan atau mengucapkan Omkara Gni dan diakhiri dengan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH menyuratkan atau mengucapkan Swaha. Omkara Gni adalah simbol Dewa Brahma dan Swaha adalah simbol suci pasangan Dewa Brahma yaitu Dewi Saraswati. Diyakini bahwa segala berkah kebaikan mengalir dari pasangan personifikasi Tuhan, yakni dewa-dewi. Seanjutnya Om dan Swaha wajib diucapkan oleh pengguna mantra (Bhuwana Kosa. Ongkara Pranawa atau Ongkara Gni sering disurat berpasangan di bagian atas kakereb. Itu adalah simbol Rwa Bhineda, pasangan dewa-dewi. Ongkara berpasangan dengan posisi horisontal disebut Ongkara Madumuka. Wijaksara Rwa Bhineda atau dwyaksara dibaca Ang Ah, simbol Tuhan dalam manifestasi-Nya yang Dua. Disimbolkan juga dengan Ongkara Madumuka. Ongkara di sebelah kanan simbol dewa, sebaliknya Ongkara sebelah kiri adalah simbol dewi. Pasangan itu disebut Sang Hyang Rwabhineda atau Sang Hyang Ardanareswari. Ang melambangkan Ibu Kosmos juga disebut Ibu Prethiwi . , posisinya di bawah. Sebaliknya Ah melambangkan Bapa Akasa . , yakni Bapak Kosmos. Dalam filsafat Samkha Ibu Kosmos disebut Prakreti. Sebaliknya Bapa Kosmos disebut Purusa. Hubungan keduanya bersifat dualitas. Samgama . Ibu-Bapa Kosmos itu menyebabkan tiga sifat . ri gun. yang semula laten dalam Prakreti, lalu manifes menjadi Tri Murti. Wijaksara tryaksara dibaca Ang Ung Mang. Simbol Tuhan dalam manifestasinya yang Tiga yang disebut Sang Hyang Tri Murti. Ang lambang Dewa Brahma. Sang Pencipta segala yang ada. Ung lambang Dewa Wisnu. Sang Pemelihara segala yang tercipta. dan Mang lambang Rudra . elebur segala ciptaa. Wijaksara Dasaksara adalah lambang Sepuluh Dewa penjaga kosmos. Dibaca Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang. Seluruhnya merupakan perkembangan lebih lanjut dari akibat manifesnya tiga sifat . ri gun. Prakreti. Dalam pustaka Aji Saraswati dijelaskan bahwa Dasaksara merupakan gabungan dari Pancagni. Dibaca Sang Bang Tang Ang Ing. Kemudian dipasangkan dengan Pancaksara atau Pancatirtha, dibaca Nang Mang Sing Wang Yang. Bhuwana Kosa (IV: sloka 48-76. X sloka 4-. sangat memuji keutamaan Dewa Pancagni. Masing-masing adalah Dewa Iswara posisinya di Timur, aksara sucinya Sang. Dewa Brahma posisinya di Selatan, aksara sucinya Bang. Dewa Mahadewa posisinya di Barat, aksara sucinya Tang. Dewa Wisnu posisinya di Utara, aksara sucinya Ang. Dewa Isana posisinya di Tengah bawah, aksara sucinya Ing. Disebut Pancagni, karena lima dewa itu adalah prinsip lima api kosmos, yakni Mahadagni di depan. Grahaspatyagni di perut. Daksinagni di hati. Sambartakagni didi empedu, dan Asucyagni di mata . : Sloka 30-34. Sebaliknya Pancatirtha disebut pula pancaksara, selain merupakan bagian aksara suci dasaksara, juga adalah mantra suci untuk memuliakan Dewa Siwa. Sebagai aksara suci lima dewa, masing-masing adalah Dewa Mahesora posisinya di Tenggara, aksara sucinya Nang. Dewa Rudra posisinya di Barat Laut, aksara sucinya Mang. Dewa Sangkara posisnya di Barat Daya, aksara Sucinya Sing. Dewa Sambhu posisinya di Timur Laut, aksara sucinya Wang. dan Dewa Siwa posisinya di Tengah atas. Disebut Pancatirtha karena lima dewa itu adalah prinsip lima air suci, yakni Tirta Sanjiwani, air suci pemurni jiwa. Tirtha Kamandalu, air mani. Tirtha Kundalini, air sumsum atau air berdaya magis. Tirtha Mahatirtha, air suci pemurni fisik. dan Tirtha Mahapawitra, air spiritual yang membahagiakan. Dengan demikian. Dasaksara adalah sepuluh aksara suci yang merupakan prinsip penjaga kehidupan berupa api dan air. Dalam kakereb sepuluh aksara itu disurat mengelilingi lukisan Sang Hyang Licin atau Acintya. Dalam Jnanasiddhanta (Soebadio, 1. Dasaksara selain sebagai prinsip penjaga kehidupan, juga merupakan energi hidup yang disebut prana. Dasaksara https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH ketika menjadi prana disebut juga Dasabayu. Dibaca Ong I Ha Ka Sa Ma Ra La Wa Ya Ung. Djapa, . dengan mengacu pada teks Wrhaspati Tatwa menjelaskan sepuluh jenis nafas vital itu sebagai prana nafas di mulut dan hidung. apana nafas pada kemaluan dan anus. samana nafas di hati. udana nafas di ubun-ubun. wyana nafas pada semua naga nafas untuk meregang. kurma membuat gemetar. krekara membuat dan dhananjaya membuat suara. Rajah aksara Modre Rajah Modre adalah gabungan yang rumit sejumlah aksara Bali yang sering disertai rajah gambar sehingga sering tidak dapat dibaca secara linguistik (Bagus, 1. Kedatipun dicoba dusuarakan maka terdengar seperti gema mendengung. Putra . awancara, 2. menyatakan jika rajah modre adalah simbol Panca Mahabhuta, yaitu lima unsur besar alam semesta: Akasa . , bayu . dara/angi. , agni . , apah . , dan prethiwi . Dalam pustaka Kanda Pat Bhuta. Panca Mahabhuta itu dipersonifikasi dalam wujud lima demonis diberi nama Anggapati atau Bhuta Putih. Prajapati atau Bhuta Bang. Banaspati atau Bhuta Kuning. Banaspati Raja atau Bhuta Ireng, dan Bhutakala Dengen atau Bhuta Mancawarna. Dalam sosoknya yang lebih halus berupa wujud gaib yang sakti, menurut pustaka Kanda Pat Sari digelari Ratu Ngurah Tangkeb Langit. Ratu Wayan Teba. Ratu Made Jelawung. Ratu Nyoman Sakti Pangadangan, dan Ratu Ketut Petung. Sosok itulah yang disimbolkan dalam bentuk rajah aksara modre. Pada kakereb Barong . pada bagian tengah unsur-unsur aksara modre dapat dibaca antara lain aksara di sebelah kiri atas: engbmuungh. di sebelah kiri tengah: engngmungpaang. di sebelah kanan tengah: engnmungpaang. di sebelah kanan atas: engnrungpaang. Ke empat aksara yang menjadi unsur-unsur modre itu disurat sedemikian rupa menjadi satu kesatuan gema, yang diyakini sebagai gema magis alam semesta . Jadi, keempat modre itu adalah simbol Catur Bhuta (Catur Sana. lawan pasang dari Dewata Nawa sangga yang disimbolkan dengan wijaksara. Wijaksara bila diucapkan dengan tepat dapat memancarkan gema religius atau spiritual. Oleh karena itu, perpaduan aksara wijaksara-modre itu membangkitkan gema religius-magis kakereb sehingga dapat berfungsi sebagai pelindung dan sekaligus sebagai senjata supranatural. Rajah Senjata Dewata Nawa Sangga Senjata Dewata Nawa Sangga (Sangh. adalah daya sakti dewa yang masingmasing berkedudukan di satu titik penjuru. Senjata itu berturut-turut dari Timur ke Selatan . urwa daksin. Bajra yakni senjata petir Dewa Iswara: senjata kekuatan listrik tegangan tinggi yang dapat menghanguskan dosa. Dupa yakni senjata api Dewa Mahesora: senjata berkekuatan membakar hangus dosa. Gada yakni senjata palu godam Dewa Brahma: kekuatan mengodam remuk dosa. Moksala atau musala yakni senjata alu Dewa Rudra: berkekuatan memukul hancur dosa. Nagapasa, yakni senjata panah naga Dewa Mahadewa: berkekuatan ular mengikat dosa. Angkus atau angkusa yakni senjata pecut berkait Dewa Sangkara: berkekuatan mengait dan memecut dosa. Cakra yakni senjata cakram yang bermata tajam Dewa Wisnu: kekuatan mencakram dosa. Trisula yakni senjata tombak bermata tiga Dewa Sambhu: kekuatan menombak hancur dan . Padma yakni senjata berupa bunga teratai Dewa Siwa: kekuatan menyucikan perbuatan berdosa. Semua senjata dimaksud adalah simbol kepahlawanan atau keberanian para dewa yang disebut wira rasa. Dewata Nawa Sangga . adalah sembilan dewa penyangga . alam Seluruhnya adalah manifestasi Dewa Siwa yang dalam kakereb dilukis berupa Sang Hyang Licin atau Acintya. Keberadaan sejati Siwa sesungguhnya mahagaib, tak dapat dipikirkan . icin atau acinty. Sembilan dewa itu diyakini sebagai pelindung atau penyangga diri-Nya. Seluruh manifestasi secara bersama-sama adalah pelindung mistis roh yang disebut Brahma Kawaca. Semua senjata itu diyakini bekerja secara otomatis. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Arti didaktisnya, bahwa para pemuja Tuhan (Siw. yang tekun bermeditasi menuja-Nya akan dilindungi secara otomatis oleh kesembilan dewa dimaksud. Jadi, tak perlu ada rasa takut atas keselamatan diri. Demi mewujudkan bhakti yang murni dan dicapainya kesadaran, para pemuja disarankan untuk fokus dengan menyebut-nyebut dan merenungkan Tuhan (Siw. dalam berbagai perwujudan dan nama-Nya yang ada di segala penjuru. Dewata Nawa Sangga sesungguhnya hanyalah entitas Yang Maha Esa (Siw. Hal itu terbaca dalam Siwa Stawa (Yasa, 2. Om namay yoivyya yoarvyya, deva-devyya vai namyh Rudryya bhuvaneya, yoiva rypyya vai namay Terjemahan: Om hamba horma kepada Siwa yang adalah segalanya (Sarw. , hormat kepada Dewanya dewa, kepada Rudra penguasa alam semesta, hormat kepada Siwa yang Tvam yoivas tvam mahydeva, yUyvara Parameyvara Brahmy Viyyuy ca Rudray ca. Puruyay Prakyutis tathy Terjemahan: Engkau adalah Siwa. Mahydewa, yUswara. Parameswara Brahmy. Wisnu, dan Rudra. Purusa. Prakrti juga Engkau. Rajah Naga Naga adalah raja ular mitologis dalam Agama Hindu. Pada rajah kakereb . ambar nomor . paling kanan terlukis dua ular mengapit Sang Hyang Licin. Dua ular itu adalah Naga Ananta Bhoga dan Naga Basuki. Ananta Bhoga artinya makanan yang tiada habishabisnya. Naga Basuki adalah simbol air sungai yang mengalir. Dengan demikian, dua naga itu melambangkan keberadaan bumi dan air, yakni sumber kesejahtraan hidup. Sebenarnya ada lagi satu raja ular, namanya Naga Taksaka, yakni simbol udara. Tiga naga mistis itu dikisahkan dalam lontar Adiparwa dan Korawasrama (Yasa, 2. Ketiga naga itu dikatakan sebagai penjelmaan dari tiga dewa yang disebut Tri Murti. Brahma mewujud menjadi Naga Anatabhoga. Dewa Wisnu menjelma menjadi Naga Basuki, dan Iswara/Rudra menjelma menjadi Naga Taksaka. Tiga dewa itu adalah prinsip ketuhanan yang ada pada api, air, dan udara. Dilihat dari sudut pandang ajaran Samkhya Jawa Kuno, sebagaimana yang diajarkan dalam lontar Wrehaspati Tattwa dan Tattwa Jnana (Djapa 2013. Yasa, 2. , maka ketiga naga dimaksud merupakan simbol manifestasi asas materiil semesta yang disebut Prakreti. Bahwa manifestasi pertama Prakreti adalah Tri Guna, yakni tiga unsur pembentuk karakter dan sekaligus wujud segala yang tercipta. Tiga unsur itu adalah satwa guna, yaitu sifat benih materiil yang terang dan ringan, dipersonifikasikan sebagai Dewa Wisnu. Raja guna, yaitu sifat benih materiil yang agresif atau egois dipersonifikasikan sebagai Dewa Brahma. dan tamo guna sifat benih materiil yang berat dan gelap dipersonifikasikan sebagai Dewa Iswara/Rudra. Ketiga guna itu lalu berdinamika. Mereka saling mendominasi, lalu terbentuklah tubuh . stral, halus, dan kasa. dan karakter Sang Roh (Sang Hyang Licin. disebut juga Sang Hyang Purus. menjadi berbagai sosok individual. Rajah Teja Teja merupakan simbolisasi energy panas atau cahaya yang memiliki peran fisik maupun religius dalam Agama Hindu Pada kakereb Barong di Griya Manuaba Bitra tampak Sang Hyang Licin dikitari lukisan cahaya. Sebagaimana tampak pada gambar 3 di bawah ini: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 3. Kakereb Barong di Griya Manuaba Bitra Lukisan cahaya itu adalah tanda cahaya batin . eja jnan. yang dipancarkan oleh Sang Hyang Licin yang tak lain adalah Roh yang menjadi daya hidup sehingga Barong menjadi berkharisma . Dalam Bhuwana Kosa (I:. cahaya Roh dijelaskan: Swa yarire mahyyogi, pasyate hrydayantare, wakyante parameyanam, suryya yutama maprabham. Nihan wuwus ni nghulun i kita Sang Mahyyogi, sira tumon Bhayyra Parameywara, sateja lywan teja ning aditya yoayuta, ngka ri yarira nira mwang ri hati nira. Terjemahan: Begini penjelasanku padamu. Orang yang telah mencapai tingkat yoga tertinggi, ia melihat Bhatara Parameswara, yang sama dengan cahaya sejuta matahari di dalam dirinya dan dalam hatinya Kakereb Barong-Rangda Simbol Yoga Aksara: Purusha-Prakriti Hasil penelitian menunjukkan bahwa kakereb Barong dan Rangda adalah dimensi sakral sehingga keduanya menjadi aspek dualitas. Oleh karena itu, memahami simbolisme Barong-Rangda menjadi sangat penting sebagai dasar untuk mempelajari fungsi dan makna kakereb. Dalam ajaran Hindu Bali, konsep rwa bhineda, yang memisahkan Perwujudan Tuhan Yang Esa menjadi pasangan maskulin-feminin atau Purusha-Prakriti, berfungsi sebagai simbol estetik dari dualitas kosmis Barong-Rangda. Pasangan ini digambarkan sebagai representasi dari Bhatara Siwa dan Bhatari Uma, yaitu prinsip kesadaran semesta dan energi material sebagaimana dinyatakan dalam beberapa buku tattwa, seperti Wrehaspati Tattwa. Tattwa Jnana, dan Bhuwana Kosa (Yasa, 2. Siwa tampil sebagai Barong dan Uma sebagai Rangda ketika diwujudkan secara estetik sebagai krodha murti, atau ekspresi kemarahan Dewa. Secara teologis Barong-Rangda diyakini sebagai perwujudan estetik demonis dari pasangan Bapa-Ibu alam semesta beserta isinya. Menurut pandangan dualitas . wa bhined. , pasangan asas itu aktif berdinamika mencipta, memelihara, dan melebur segala ciptaanNya berupa alam semesta . huwana agun. dan segala isinya . huwana ali. Dalam pustaka lontar tattwa Jawa Kuno, seperti Wrehaspati tattwa. Tattwa Jnana. Bhuwana Kosa. Jnana Siddhanta, dan yang lainnya, pasangan asas purba semesta itu dipuja dengan nama Bhatara Siwa dengan Bhatari Uma. Pasangan itu adalah Kesadaran Semesta (Cetana. Siwa. Purus. dan Ketidaksadaran (Acetana. Maya. Prakret. Keduanya diyakini sebagai asal, keberadaan, dan kembalinya segala yang tampak ada ini (Yasa, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Para penganut ajaran Siwa di Bali meyakini bahwa Bhatara Siwa dalam wujud demonisnya disebut Bhatara Kala. Diwujudkan secara estetik berupa Barong. Penganutnya memuja Barong dengan nama Jro Gede atau Ratu Bagus. Sebaliknya Bhatari Uma dalam wujud demonisnya disebut Bhatari Durga Bhairawi dan diwujudkan secara estetik berupa Rangda dengan nama pujaan Ratu Ayu. Oleh karena Barong dan Rangda adalah pasangan dualitas, maka dalam penelitian ini Barong dan Rangda dieja Barong-Rangda personifikasi Tuhan itu Esa, tetapi dipahami sebagai Yang Dua berpasangan, yakni pasangan suami-istri asas kosmis yang tidak terpisahkan . Hal ini sesuai dengan arti istilah rwa bhineda. Rwa berarti dua, bhineda berarti dibedakan. Rwa Bhineda berarti yang Satu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dibedakan menjadi Dua. Bhatara-bhatari. Tujuan membedakan Yang Esa adalah agar dapat lebih mudah memahami dan menghayati Tuhan yang tak terpikirkan, yang suwung, dan yang misteri . unya, niskala, suksm. Dibedakan berarti usaha mengkonkretisasi . Yang Misteri agar sesuai dengan alam pikir manusia. Keberadaan Tuhan yang misteri itu, pertama-tama dikonkretisasi menjadi dua sebagai sosok bhatara-bhatari, atau dewadewi. Dalam ketunggalan pasangan dualitas itu disebut Ardanareswatri. Tuhan Yang Esa dibayangkan sebagai satu sosok sakral yang setengah tubuh bagian kanannya laki-laki . erkarakter maskuli. , setengah tubuh bagian kirinya perempuan . erkarakter femini. Jadi, pembedaan menjadi dua dari esensi Yang Tunggal semata-mata adalah cara berpikir, yakni berupaya mengkonkretkan yang abstrak sesuai dengan pengalaman hidup nyata . , misalnya, pengalaman orang tentang tubuh dengan jiwanya. Menurut pustaka Bhuwana Kosa (Yasa, 2. , bahwa Yang Esa yang diyakini sebagai asas segala ini. AdaNya tidak dapat dipikirkan sama sekali, oleh karena itu disebut Sang Hyang Acintya. Sementara Itu yang dibedakan menjadi dua dipahami sebagai Sang Hyang PurusaPrakriti. Lalu Yang Dua itu dihormati sebagai Bhatara Siwa dan Bhatari Uma. Kata Barong dalam bahasa Jawa Kuno barwang yang berarti beruang. Kata Barong sudah disebutkan dalam sejumlah karya sastra seperti dalam Kakawin Ramayana . Sumanasantaka . Sutasoma . , dan Kakawin Arjunawijaya . singha barwang alayu Aosinga Barong berlariA. (Zoetmulder, 1. Dalam Kidung Sunda . dan Ranggalawe . ditemukan pula kata binarwang dan binarong yang berarti ditarikan dengan ekspresi galak. Dilihat dari wujudnya. Barong memang tampak dahsyat dan menakutkan, yang di Bali disebut aeng (Bandem, 2. Secara mitologis, sosok Barong juga dipuji dengan sebutan kehormatan Sang Hyang Banaspati Raja: raja binatang hutan. Keberadaannya yang gaib seringkali digambarkan menjadi penghuni pohon kepah rangdu . terculia feotid. yang tumbuh di Setra Gandamayu . uburan orang Hindu Bali yang angke. Banaspati Raja diyakini sebagai penjelmaan salah satu saudara gaib manusia yang jumlahnya empat . anda pa. Menurut pustaka Kanda Pat Bhuta (Sandika, 2. , saudara empat manusia itu adalah makhluk gaib demonis . Kempatnya terdiri atas: . Anggapati pelindung gaib di depan atau di Timur. Prajapati pelindung gaib di kanan atau di Selatan. Banaspati pelindung gaib di Belakang atau di Barat. Banaspati Raja pelindung gaib di kiri atau di Utara. Keempat saudara berwujud demonis itu diyakini dapat menjadi musuh sekaligus dapat menjadi sahabat pelindung gaib diri. Bahwa jika manusia lupa jati dirinya, saudara gaibnya otomatis menjadi musuhnya. Sebaliknya, jika manusia sadar jati dirinya yang memancar sebagai karakter penuh rasa kasih, maka saudara gaibnya otomatis menjadi pelindung gaib penuh kasih juga. Secara mistis. Kanda Pat juga mengalami proses ruwatan seiring sang pemilik saudara, yakni individu penganut Hindu Bali melalui ritual kemanusiaan yang disebut Manusa Yadnya. Upacara ruwatan bertujuan untuk menjadikan wujud sekaligus karakter saudara empat gaib itu mengalami transformasi wujud-karakter, yakni dari berwajah dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH berkarakter demonis (Kanda Pat Bhut. menjadi berwajah manusia sakti . ang gai. dengan karakter baik yang disebut Kanda Pat Sari atau Kanda Pat Ratu Nama keempatnya berturut-turut adalah . Ratu Ngurah Tangkeb Langit. Ratu Wayan Teba. Ratu Made Jlawung. Ratu Nyoman Sakti Pangadangan. Sementara sang diri, dari bernama Bhutakala Dengen merubah menjadi Ratu Ketut Petung. Kemudian setelah bertransformasi lebih lanjut. Kanda Pat menjadi berwajah dewa sekaligus berkarakter Keempatnya kemudian disebut disebut Kanda Pat Dewa (Sandika, 2. Dalam Aji Terus Tunjung (Gautama, 2. , berturut-turut nama dewa itu adalah dewa . Iswara, . Brahma, . Mahadewa, dan . Wisnu. Sementara sang diri bernama Siwa (Siwatm. Demikianlah proses kebatinan manusia Hindu Bali itu dapat diterangkan bahwa para penghayat kebatinan terus dituntun berlatih tahap demi tahap dalam laku yoga Yoga aksara adalah usaha batin untuk dapat menunggalkan bayu-sabda-idep dengan sarana aksara formula sakral . , yaitu usaha mistis untuk dapat menunggalkan nafas . dengan mantra . dan pikiran . sehingga dapat mencapai kemanunggalan dengan Kanda Pat Dewa. Dalam tahapan yoga ini, personifikasi Kanda Pat Dewa terus disublimasi secara sugestif. Tahapan yoganya, yaitu langkah pertama, dewa yang empat bersama dewa yang kelima dimeditasikan menjadi tiga dewa (Tri Murt. , yaitu pertama. Iswara dibayangkan menyatu dengan Brahma berkedudukan pada bahu kanan peyoga. Mahadewa menyatu dengan Wisnu berkedudukan pada bahu kiri peyoga. dan ketiga, dewa yang di tengah adalah Siwa tetap berkedudukan di tengah dalam diri peyoga. Langkah kedua, dewa yang tiga lagi disublimasikan menjadi dewa yang dua . wa bhined. Langkahnya, . Brahma menyatu dengan Wisnu menjadi I Meme (Ibu Prethiw. berkedudukan di tengah bawah, di pangkal batin peyoga. Sebaliknya . Siwa berkedudukan di tengah atas batin peyoga dengan nama I Bapa, yaitu Sang Hyang Akasa. Lalu penunggalan I Meme dengan I Bapa itulah yang disebut Sang Hyang Ardanareswari. I Meme dalam aspek kemarahannya . rodha murt. berubah wujud menjadi Rangda. Sebaliknya I Bapa dalam kemarahan-Nya berubah wujud menjadi Barong. Oleh karena itu, konsep Barong-Rangda dalam penelitian ini berarti perwujudan krodha murti Bhatara Siwa-Bhatari Uma menjadi kaladurga. Krodha murti itu lalu dirupakan secara estetika sebagai Barong-Rangda. Menurut teologi Tantra Siwa, keduanya dalam tradisi Bali dipuja dengan nama lokal Bali I MemeI Bapa atau Ratu Ayu-Ratu Bagus. Nama Ratu Ayu menandakan aspek kejiwaan rupa demonis Rangda yang sesungguhnya dewinya segala yang cantik . Demikian juga nama Ratu Bagus juga menandakan aspek kejiwaan rupa demonis Barong. Sesungguhnya adalah ratunya segala yang bagus . anteng, rupawa. Ada sejumlah rupa estetik Barong: . yang serupa harimau disebut Barong ketet. serupa gajah disebut Barong gajah. serupa babi disebut Barong bangkal. serupa sapi atau lembu disebut Barong lembu. serupa macan disebut Barong macan. serupa manusia besar bertaring berkulit gelap disebut Barong kedengkleng atau kedingkling atau Jro Lanang. Pasangannya serupa manusia berperawakan tinggi berkulit kuning langsat disebut Jro Luh. serupa manusia berpakaian daun pisang kering disebut Barong brutuk. serupa singa tetapi berkaki dua disebut Barong tunggal. Sebaliknya, ada rupa-rupa estetik demonis Rangda atau manusia raksasa perempuan berambut tebal panjang terurai dengan payudara besar menggelayut, kulit berbulu, berbusanakan organ tubuh manusia. Dalam pustaka Siwagama (Suarka, 2. menyebutkan bahwa ada lima wujud Bhatari Durga, yaitu yang berwajah putih posisi di Timur disebut Sri Durga. yang berwajah Hitam di Utara disebut Raji Durga. yang kuning di Barat disebut Suksmi Durga. yang merah di Selatan disebut Dhari Durga, dan putih berona aneka warna . di Tengah disebut Dewi Durga. Kelimanya umumnya disebut Ratu Ayu. Pengiring atau anak Ratu Ayu, yaitu Rangda berambut hitam disebut rarung disebut Ratu Mas. Wajahnya demonis merah berambut hitam terurai. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kesimpulan Berdasarkan uraian singkat tentang relasi unsur-unsur kakereb di atas, dapat disimpulkan bahwa kakereb Barong-Rangda adalah simbol konstruktif berkaitan dengan hubungan dengan yang kuasa yakni Ida Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan yang Maha Esa. Secara teologis. Ista Dewata penganut Tantra Siwaistis adalah Bhatara Siwa-Bhatari Uma. Keduanya mencitrakan adalah segalanya . Siwa memiliki ribuan nama . ahasra nam. demikian juga Uma. Dalam tahapan pemujaan, paham Tantra Siwaistis mengajarkan penganutnya melakukan pelatihan bhakti berjenjang. Bhakti itu berupa ritual ruwatan diri sampai dapat mencapai kesucian paripurna melalui teknik yoga aksara. Tujuan duniawinya . adalah tercapainya karahayuan jagat . etertiban duni. Tujuan idealnya . , yakni dengan laku suci religius-magis para penganut dapat mencapai puncak meditasi dalam Kesadaran Monistis Imanen, yang lalu di tahap akhir dapat mencapai keadaan Samadhi . anunggal dengan Kesadaran Monistis Transende. Barong disimbolkan sebagai perwujudan dharma . , sedangkan Rangda merupakan simbol adharma . egelapan dan keterikata. Dualitas ini senantiasa akan ada dengan sebagai dua kekuatan yang saling mempengaruhi manusia. Rerajahan dalam kakereb Barong Rangda adalah media manusia menghidupan serta mengaktikan dualisme menjadi dualitas, antara Siwa dengan Maya dalam filsafat Samkya. Secara teoritis membenarkan bahwa kakereb sebagai simbol kekuatan selalu mengandung berdimensi ganda, menyatukan dan membuat kekuatan terbelah. Hasil penelitian menyiratkan betapa penting literasi dan edukasi untuk memahami hakikat sesungguhnya dari kehidupan dalam keseharian. Kakereb Barong Rangda berupa nyasa, akan menjadi semakin memiliki makna jika dilandasi oleh pengetahuan yang benar sebagaimana diyakini oleh para penganutnya. Daftar Pustaka