Volume 3 Issue 1 Bulan Juni 2024 E-ISSN: 2963-5330 Quality: Journal of Islamic Studies Online at https://jurnal. id/index. php/qjis/index STRATEGI PEMBENTUKAN KARAKTER PATUH KEPADA GURU BAGI SISWA/I DI MTS AL-BAROKAH DESA JAHARUN B Rika Safitri Nasution STAI Serdang Lubuk Pakam lubukpakam@yahoo. ABSTRAK Pembentukan karakter patuh kepada guru merupakan aspek krusial dalam upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif dan efektif. Karakter patuh membantu siswa/i menghargai peran guru sebagai pembimbing, yang pada akhirnya berdampak positif pada suasana belajar di sekolah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi strategi yang diterapkan di MTs Al-Barokah Desa Jaharun B untuk membentuk karakter patuh pada siswa/i terhadap Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang melibatkan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Melalui observasi, peneliti dapat memahami secara langsung interaksi antara siswa/i dan guru di lingkungan sekolah. Wawancara dengan guru dan staf administrasi memberikan pandangan mendalam mengenai pendekatan yang digunakan, sementara dokumentasi membantu mengidentifikasi aturan dan program yang mendukung pembentukan karakter patuh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa strategi utama yang diterapkan di MTs AlBarokah. Pertama, pendekatan keteladanan guru, di mana guru berusaha menunjukkan sikap dan perilaku yang patut dicontoh oleh siswa/i. Keteladanan ini penting karena siswa/i cenderung meniru perilaku guru yang mereka hormati dan kagumi. Kedua, penguatan nilainilai religius melalui kegiatan keagamaan seperti doa bersama, pengajian, dan ceramah, yang bertujuan menanamkan nilai kepatuhan sebagai bagian dari ajaran agama. Selain itu, pembiasaan perilaku baik di sekolah juga menjadi strategi penting. Melalui aturan-aturan sekolah yang jelas dan konsisten, siswa/i dibiasakan untuk mematuhi peraturan dan menghormati otoritas guru. Misalnya, sikap disiplin dan ketepatan waktu dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada guru. Strategi terakhir meliputi pemberian apresiasi dan sanksi yang tepat. Apresiasi diberikan kepada siswa/i yang menunjukkan sikap patuh dan berperilaku baik, sementara sanksi disiapkan sebagai pengingat bagi mereka yang melanggar Secara keseluruhan, penerapan strategi-strategi ini diharapkan dapat membentuk karakter siswa/i yang patuh dan hormat kepada guru. Hal ini tidak hanya membantu meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga menciptakan suasana sekolah yang harmonis dan menyenangkan, di mana hubungan antara guru dan siswa/i didasari pada rasa saling hormat dan kepercayaan. Kata Kunci: Pembentukan karakter. Patuh kepada guru. Strategi pendidikan. MTs Al-Barokah ABSTRACT The formation of obedient character towards teachers is a crucial aspect in efforts to create a conducive and effective educational environment. Obedient character helps students appreciate the role of teachers as mentors, which ultimately has a positive impact on the learning atmosphere at school. This study aims to identify the strategies implemented at MTs AlBarokah. Jaharun B Village to form obedient character in students towards teachers. The approach used in this study is a qualitative method with a descriptive approach, involving observation, interviews, and documentation. Through observation, researchers can directly understand the interactions between students and teachers in the school environment. Interviews with teachers and administrative staff provide in-depth insights into the approaches used, while documentation helps identify rules and programs that support the formation of obedient character. The results of this study indicate that there are several main strategies implemented at MTs Al-Barokah. First, the teacher role model approach, where teachers try to demonstrate attitudes and behaviors that are worthy of being emulated by students. This role model is important because students tend to imitate the behavior of teachers they respect and Second, strengthening religious values through religious activities such as joint prayers, religious studies, and lectures, which aim to instill the value of obedience as part of religious In addition, the habituation of good behavior at school is also an important strategy. Through clear and consistent school rules, students are accustomed to obeying the rules and respecting the authority of teachers. For example, discipline and punctuality are considered a form of respect for teachers. The last strategy includes providing appropriate appreciation and Appreciation is given to students who demonstrate obedience and good behavior, while sanctions are prepared as a reminder for those who break the rules. Overall, the implementation of these strategies is expected to shape the character of students who are obedient and respectful of teachers. This not only helps improve the quality of learning, but also creates a harmonious and pleasant school atmosphere, where the relationship between teachers and students is based on mutual respect and trust. Keywords: Character formation. Obedience to teachers. Educational strategies. MTs Al-Barokah PENDAHULUAN Pada abad ini, teknologi menjadi suatu media yang sangat konvensional di dunia, terlebih dengan teknologi yang semakin maju diantaranya adalah internet, internet merupakan jaringan komputer yang menghubungkan komputer di seluruh dunia dengan informasi dan dalam berbagai bentuk dapat dikomunikasikan di seluruh dunia. Kemajuan teknologi ini telah mengubah tatanan hidup di tengah masyarakat, baik dalam segi pembelajaran, interaksi, dan lainnya (Salsabila, 2. Seiring berjalannya waktu, perkembangan ilmu pengetahuan disertai dengan perkembangan teknologi dan informasi mengalami krisis moral, dimana pengaruh budaya asing yang sudah masuk melalui sosial media atau internet. Jika budaya asing sesuai dengan pandangan bangsa indonesia khususnya para anak remaja yang masih berada di bangku sekolah yang mudah terjerumus (Dewi, 2. Dampak teknologi ini memang bukan hanya berfokus kepada perkembangan nilai moral dan nilai agamanya saja, tetapi juga berdampak pada perkembangan aspek kognitif, aspek fisik dan motorik, aspek sosial, emosional serta aspek perkembangan bahasanya juga. Beberapa contoh dampak negatif dari teknologi seperti kurang sopan, berbicara kasar, susah di atur, tidak mendengarkan nasehat orang tua, meninggalkan rumah tanpa izin orangtua, melanggar perintah agama, tidak mau belajar agama, membolos atau meninggalkan sekolah tanpa izin pihak sekolah, memutarbalikkan fakta dengan tujuan menipu atau menutupi kesalahan, pergaulan buruk, tidak ingin besosialisasi dengan banyak orang, bersenjata tajam, mengkompas atau meminta uang orang lain secara paksa dan mengancamnya, merusak diri dengan menghisap ganja, mantato tubuhnya, narkoba dan lain sebagainya (Rosyidah. Teknologi semakin canggih tapi moral anak semakin merosot, inilah saatnya kita memperbaiki karakter peserta didik. Karakter yanag kuat akan membentuk mental yang kuat. Sedangkan mental yang kuat akan melahirkan semangat yang kuat, pantang menyerah, berani berjalan dengan segala resiko. Karakter yang kuat merupakan suatu prasyarat untuk menjadi seorang pemenang dalam kompeti seperti saat ini, dan yang akan datang. Begitupun sebaliknya, orang yang berkarakkter lemah akan menjadi orang yang mudah menyerah, tidak memiliki prinsip dan keberanian, penakut sehingga langkahnya Oleh karena itu pendidikan karakter seorang siswa tergantung dimana dia bersekolah, lingkungan keluarga, lingkungan teman, dan masyarakat. Jika dari lingkungan keluarga sudah baik, maka sekolahpun akan lebih mudah menanamkan nilai-nilai karakter pada siswa, sebaliknya, jika dari keluarga siswa tidak memiliki karakter yang baik, maka sekolahpun akan kesulitan untuk mendidik dan membentuk karakter siswa, khususnya karakter akan patuh dan hormat kepada guru, orang tua, ataupun orang yang lebih tua. Dengan begitu pembinaan moral atau karakter harus lebih ditingkatkan lagi, supaya karakter dan jati diri bangsa indonesia khususnya siswa sekolah tidak hilang oleh Pembinaan karakter pancasila adalah pokok yang menjadi dasar acuan untuk membentuk karakter bangsa. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa merupakan kristalisasi nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat indonesia (Dewi, 2. Salah satu tempat pembentukan karakter yang sangat berpengaruh bagi peserta didik adalah sekolah dimana mereka dapat mengimplementasikan hasil belajar mereka dalam kehidupan sehari-hari khususnya tentang, etika, sopan santun dan disiplin sehingga dapat peserta didik yang tidak hanya berilmu tapi juga beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Hal ini sesuai dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pasal 3 disebutkan tentang tujuan pendidikan yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertkawa kepada Tuhan yang Maha Esa , berakhlak mulia, berilmu,cakap, kretif, mandiri, serta demokratis juga bertanggung jawab. Dalam islam,pencapaian karakter yang sempurna adalah tujuan yang sebenarnya. Ada jugayang berpendapat bahwa nilai-nilai dari agama dapat diajdiakn dasar dalam pendidikan dan pembentuan karakter. Misalnya, nilai kejujuran, saling menghormati, tanggung jawab, kerja keras, semangat untuk membantu, teguh, pemegang amanah, dan lain sebagainya (Azzet, 2. Untuk mewujudkannya Guru adalah salah satu tombak utama dalam mendidik karakter peserta didik dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional sesuai dengan undang-undang . Untuk mewujudkan hal tersebut guru berperan sangat penting dalam prosesnya, dikutip dari ainara journal dijelaskan tenaga pendidik merupakan tokoh utama dalam mendidik dan membina peserta didik di lingkungan sekolah sekaligus menjadi teladan bagi seluruh peserta didik dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya agar mereka memilki karakter yang baik atau al- akhlak al karimah sebagai bekal untuk kehidupannya yang akan datang (Danin, 2. menyatakan bahwa Auguru merupakan pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur formal, tugas utama itu akan efektif jika guru memiliki derajat profesionalitas tertentu dan tercermin dari kompetensi, kemahiran, kecakapan,atau keterampilan,yang memenuhi standar mutu tertentuAy (Yudhinar, 2. Dikutip juga dari harmony jurnal dijelaskan bahwa sebelum melakukan pembinaan karakter kepada peserta didik maka guru ditekankan untuk lebih dahulu berkarakter. Sosok guru yang berkarakter akan memberi efek positif bagi perkembangan karakter peserta didik baik dari tutur kata, sikap, perilaku, penampilan, dan kebiasaan disekolah maupun di lingkungan sekolahAy(Prasetyo, 2. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa peran guru sangat penting dalam mewujudkan pesrta didik yang Berkarakter baik, perlu ada strategi serta usaha yang harus dilakukan guru agar tercipta peserta didik yang berkarakter, patuh hormat terhadap guru dan orang tua. Dikutip dari jurnal Usia Dini bahwa Aopendidikan karakter bertujuan untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampusan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baikAy(Harahap, 2. Hubungan guru dengan murid sejatinya harus harmonis, guru haruus menjadi pribadi yang diidolakan, dicintai, dan disukai oleh peserta didik. Hal ini sangat berpengaruh untk membentuk karakter yang baik pada peserta didik . karena itu peserta didik pasti mengikuti apa yang diucapkan dan diperintahkan oleh guru. dengan kata lain peserta didik dapat menerimanya dengan sepenuh sehingga apa yang di ucapkannya dapat diterapkan di kehidupan seharihari. Menurut Kemendikbud dalam jurnal pendidikan edumaspul ada beberapa macam-macam pembentukan karakter yaitu adalah religius, jujur, cerdas, berpikir logis, demokratis, tangguh, peduli, dan lain sebagainya. Di setiap sekolah pasti akan selalu ada saja siswa/I yang memiliki karakter kurang baik. Diantaranya yaitu tidak menaati perintah guru, keluar kelas tanpa izin ketikan proses pembelajaran berlangsung, berkelahi antar teman di sekolah ketika proses pembelajaran berlangsung, tidur saat proses pembelajaran, terlambat, makan saat proses pembelajaran, memakai pakaian yang tidak sesuai, bahkan ada yang sampai memaki dan memukul gurunya sendiri dan lain sebagainya. Salah satru cara untuk memperbaikinya adalah dengan mendidik dan membimbing siswa/I dengan menanamkan nilai-nilai religius agar karakter peserta didik menjadi lebih baik. Mts Al- Barokah yang terletak di desa Jaharun B ini merupakan salah satu madrasah yang patut dijadikan contoh, walaupun sekolah tersebut masih terbilang baru berdiri, namun berhasil tercetak peserta didik yang berkarakter Berdasarkan observasi. Saya melihat peserta didik disekolah tersebut patuh dan hormat terhadap guru, tamu , dan orang yang lebih tua yang mereka jumpai. Adapun rumusan masalah penelitian ini. Bagaimana strategi pembentukan karakter siswa/siswi patuh kepada guru bagi siswa/siswi di MTs al-barokah desa jaharun B, . Apa saja faktor pendukung dan penghambat pembentukan karakter patuh kepada guru bagi siswa/siswi di MTs al-barokah desa jaharun B. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui secara mendalam mengenai strategi pembentukan karakter dan factor factor yang mempengaruhi di MTs al-barokah desa jaharun B. METODE PENELITIAN Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada analisis dan konstruksi yang dilakukan secara sistematis, metodologis dan Bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran sebagai salah satu manifetasi keinginan manusia untuk mengetahui apa yang sedang dihadapinya. Penelitian ini dilakukan di MTs Al-Barokah Desa Jaharun B Tahun Ajaran 20232024. Peneliti memilih tempat ini karena sesuai dengan judul peneliti, serta siswa/siswi di MTs Al-Barokah Desa Jaharun B masih memiliki karakter patuh kepada guru yang kuat dimana siswa/ siswi tersebut memiliki rasa hormat kepada guru dan mempunyai akhlakul karimah yang baik. Subjek Penelitian ini adalah guru-guru yang mengajar di MTs Al-Barokah Desa Jaharun B dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling. Menurut sugiyono . dinyatakan simple karena pengambilan informan anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Margono . menyatakan bahwa simple random sampling adalah teknik untuk mendapatkan informs yang langsung dilakukan pada unit sampling (Mamik, 2. Dengan demikian, setiap unit sampling sebagai unsur populasi yang terpencil memperoleh peluang yang sama untuk menjadi informan atau untuk mewakili populasi. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Menurut Sugiono . dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada kondisi yang alamiah, sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi dan wawancara secara mendalam. Analisa data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, dengan pengertian menggambarkan fenomena yang ditemukan. Menurut Sukmadinata . penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada. Sedangkan menurut Furchan . penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status suatu gejala saat penelitian dilakukan (Indra, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah dan beberapa guru, diperoleh data sebagai berikut: Strategi Pembentukan Karakter melalui Rutinitas dan Keteladanan Rutinitas Bersalaman. Kepala sekolah dan guru-guru menanamkan kebiasaan bersalaman untuk mempererat hubungan hormatmenghormati antara guru dan siswa. Siswa diarahkan untuk bersalaman setiap pagi sebelum masuk kelas, setelah berdoa pulang, dan setelah kegiatan shalat Zuhur berjamaah. Guru piket yang lebih muda juga memberi contoh dengan menyalami guru yang lebih senior agar menjadi teladan bagi siswa. Penyambutan di Gerbang Sekolah. Guru piket menyambut siswa dengan bersalaman di pintu gerbang sekolah. Hal ini memperkuat kebiasaan bersalaman dan menunjukkan penghormatan kepada guru. Kegiatan Murotal dan Shalat Dhuha. Setiap pagi, sebelum mulai belajar, siswa melaksanakan kegiatan murotal dan shalat Dhuha, yang diiringi dengan nasihat dan motivasi dari guru agar siswa terbiasa patuh dan menghormati guru. Strategi Pembentukan Karakter Melalui Disiplin Tugas Pemberian Tugas dengan Pembatasan Waktu. Guru membiasakan siswa mengerjakan tugas di sekolah dengan pengawasan langsung. Ini mengurangi ketergantungan pada pekerjaan rumah dan memastikan tugas benar-benar dikerjakan sendiri oleh siswa. Sanksi untuk Tugas yang Tidak Diselesaikan. Bagi siswa yang tidak menyelesaikan tugas, guru memberikan sanksi sebagai efek jera. Sanksi bervariasi sesuai kebijakan guru, seperti lari keliling lapangan atau menghafal surah. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa akan tanggung jawabnya. Strategi Pembentukan Karakter Melalui Kegiatan Belajar yang Menarik Pembelajaran dengan Media Audio dan Aktivitas Fisik. Guru seni budaya menggunakan musik selama pelajaran untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menarik. Di samping itu, kegiatan pembelajaran di luar kelas atau disertai dengan aktivitas kreatif seperti senam dan tarian tradisional juga diterapkan. Metode ini menarik perhatian siswa sehingga mereka tetap tenang dan fokus di kelas. Metode Pembelajaran Aktif pada Mata Pelajaran Penjas. Guru PJOK memadukan penjelasan teori dengan praktik olahraga di luar kelas. Hal ini membuat siswa senang dan aktif dalam pembelajaran sehingga suasana kelas menjadi lebih kondusif. Strategi Pembentukan Karakter melalui Kedisiplinan Ibadah Pembiasaan Shalat Dhuha dan Zuhur Berjamaah. Siswa dibiasakan shalat berjamaah setiap hari, baik dhuha maupun zuhur, dengan pengawasan Guru memastikan siswa melaksanakan shalat tanpa harus diingatkan terus-menerus, sebab pembiasaan sudah tertanam sejak siswa pertama kali masuk sekolah. Peran Guru sebagai Teladan dalam Ibadah. Guru menunjukkan contoh dengan melaksanakan shalat di hadapan siswa, sehingga siswa terdorong mengikuti teladan yang baik. Faktor Pendukung dalam Pembentukan Karakter Patuh kepada Guru Keluarga yang Mendukung. Keluarga yang menerapkan nilai-nilai moral yang baik menjadi faktor pendukung utama dalam pembentukan karakter patuh siswa di sekolah. Lingkungan dan Pergaulan Positif. Lingkungan yang positif dan teman yang baik mendorong siswa untuk mematuhi aturan dan menghormati Kekompakan Guru dalam Pendekatan Disiplin. Guru di MTs Al-Barokah menunjukkan kekompakan dalam menegakkan aturan dan memberikan nasihat, sehingga siswa tidak mencari pembelaan atau jalan keluar lain saat diberi nasihat atau teguran. Faktor Penghambat dalam Pembentukan Karakter Patuh kepada Guru Latar Belakang Keluarga yang Kurang Mendukung. Siswa yang berasal dari keluarga broken home atau yang kurang mendapat perhatian dari orang tua cenderung mengalami kesulitan dalam menunjukkan karakter Pengaruh Lingkungan yang Negatif. Lingkungan dan teman yang tidak disiplin dapat memengaruhi karakter siswa sehingga menghambat pembentukan karakter patuh terhadap guru. Solusi Mengatasi Faktor Penghambat Pendekatan Konsisten dan Individual. Guru memberikan nasihat dan bimbingan secara individual kepada siswa yang kurang patuh. Bila siswa mengulangi kesalahan, sekolah melibatkan orang tua dengan mengeluarkan surat panggilan. Kerja Sama antara Guru dan Orang Tua. Pihak sekolah dan orang tua bekerja sama dalam memberikan dukungan dan kontrol terhadap siswa yang bermasalah, sehingga mereka dapat meningkatkan disiplin dan karakter patuh terhadap guru. Menyapa Menyapa identik dengan menegur, menyapa bisa berarti mengajak seseorang untuk bercakap-cakap. Menyapa bisa memudakan siapa saja untuk bergaul akrab, saling kontak, dan berinterkasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Alfonsus Sutarno yang menyatakan bahwa menyapa identic dengan menegur. Menyapa bisa berarti mengajak seseorang untuk bercakap-cakap. Tegur sapa bisa memudahkan siapa saja untuk bergaul akrab, saling kontak, dan Menegur dalam hal ini bukanlah menegur karena kesalahan, melainkan menegur karena bertemu dengan seseorang. Misalnya, dengan memanggil namanya atau dengan sapaan akrab yang bisa dilakukan. Cukup terlihat simple dan seele, namun memberikan efek yang positif. Menurut chaer . Dalam menyapa terdapat kata sapaan yaitu kata yang digunakan untuk menyapa, menegur , atau menyebut orang kedua, atau orang yang diajak berbicara. Kata sapaan ini tidak mempunyai berbendaharaan kata sendiri, tetapi menggunakan ata-kata dari perbendaharaan kata nama diri dan kata nama perkerabatan. Kata sapaan berguna sebagai ajakan bercakap, teguran, ucapan, atau frasa unruk saling merujuk dalam pembicaraan dan menurut sifat hubungan diantara pembicara itu, seperti anda, ibu, saudara. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara diatas yang diterapkan di MTs Al-Barokah Desa Jahraun B. Siswa menyapa guru ketika bertemu dengan guru mereka baik saat di sekolahmaupn di luar sekolah. Bersalaman Kata salam berasal dari bahasa Ibrani yaitu Syalom, yang berarti damai. Damai mengandung unsur silaturahmu, sukacita, dan sikap atau pernyataan hormat kepada orang lain. Jika seseorang memberikan salam kepada orang lain berarti seseorang itu bersikap hormat kepada orang yang diberi salam. Salam akan sangat mempererat tali persaudaraan. Pada saat seseorang mengucapka salam kepada orang lain dengan keikhlasan, suasana akan menjadi cair dan akan merasa bersaudara. Al-Utsaimin dalam Furqan mengungkapkan bahwa AuAsSalamAy mempunyai makna ad-duAoa . oAo. , yaitu doAoa keselamatan dari segalasesuatu yang membahayakan, merugikan, atau merusakkan. Mushafabab . adalah menempelkan telapak tangan dengan telapak tangn orang lain. Menurut ibnu hajar al-asqalani bersalaman adalah Auperbuatan yang membentangkan atau melapangkan tangan ke tangan lainAy. Pendapat senada di kemukakan oleh Imam Nawawi Au Membentangkan permukaan tangan ke permukaan tangan orang lain, dengan tujuan memperkokoh kasih sayingAy. Hukum bersalaman menurut iman Bukhari rahimakumullah dalam kitab shahihnya memuat sebuah bab yang berjudul Babul Mushafabab . ab: berjabat Berbunyi Ausahabat nabi shalallahuAoalaihi wa sallam apabila mereka bertemu, mereka berjabat tangan dan apabila kembali dari perjalanan jauh mereka saling berangkulanAy . berdasarkan hadist hadist diatas dapa dsimpulkan bawa bersalaman saat bertemu merupakan sunnah yang di syariAoatkan. Shalat Zuhur BerjamaAoah Menurut Watiniyah shalat secara bahasa artinya doAoa. Tengku Mhammad Hasbi mengungkapkan shalat dalam pengertian bahasa arab ia adalah doAoa memohon kebajikan dan pujian. Adapun pengertian shalat menurut istilah sebagai berikut: Menurut sayiid sabiq dalam kitab fiqh as-sunnah shalat adalah iabadat yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir bagi Allah TaAoala dan disudahi dengan memberi salam. Dalam istilah ilmu fikih shalat adalah suatu bentuk ibadah yang manifestasikan dalam melaksanakan perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan tertentu serta dengan syarat-syarat tertentupula yang dimulai dengan takbir (Allahu Akba. dan diakhiri dengan salam (AssalamuAoalaikum Warahmatulla. Sedangkan jamaoah secara etimologi berasal dari kata Al- JamuAou yaitu mengikat sesuatu yang bsecerai berai dan menyatukan sesuatu dengan mendekatkan antara ujung yang satu dengan ujung yang lain. JamaAoa secara etomologi syarAoI para ahli ulama fikih menyatakan bahwa jamaAoah dinisbatkan pada sekumpulan manusia. Al-Kasani berkta: AujamaAoah diambil dari kata kumpulan dan batasan minimal dari suatu perkumpulan adalah dua orang yaitu seorang imam dan seorang muslim. Shalat berjamaAoah adalah shalat yang dilakukan secara bersama-sama, sedikitnya dua orang, yaitu yang satu sebagai seorang imam dan yang satu lagi sebagai makmum. Shalat berjamaah adalah shalat yang dilakukan bersama-sama dengan seorang imam sebagai pemimpin. Dengan melakukan shalat secara bersama-sama, umat muslim dapat merasakan persatuan dan kesatuan dalam beribadah kepada Allah SWT. Shalat berjamaah sangat penting untuk diterapkan di lingkungan masyarakat, keluarga, dan sekolah karena selain mengajarkan kedisiplinan dan kebersamaan, juga menghargai waktu sendiri. Keutamaan lain dari shalat berjamaah termasuk menjadi salah satu kunci keberhasilan dakwah pada zaman Rasulullah Saw. Ketika para sahabat menunaikan shalat dengan penuh ketundukan, disiplin, dan ikhlas maka semangat persaudaraan mereka semakin kuat dan erat. Hubungan silaturrahmi pun terjalin dengan penuh kasih sayang di antara mereka. Dalam hal ini kita bisa melihat bahwa sholawatan atau saling menyapa saat bertemu teman-teman sepergaulannya setelah menjalankan ibadah salaat jema'ah merupakan bentuk nyata dari rasa kekeluargaan yang terbangun akibat melaksanaakan ibadah Selain itu, sahalat zuhur berjamaAoah memiliki manfaat dan peranan yang snagat penting yakni sebagai pengontrol emosi dalam diri yang sedang puberitas ataupun masuk masa remaja awal dimana jiwanya masih labil karena sikap dan pendirian anak masih bersifat khayal berupa angan-anagn bukan Shalat zuhur berjamaAoah juga sangat berpengaruh terhadap perilaku siswa karena dapat melatih siswa untuk lebih sabar, ihktiar dan tawakal kepada Allah SWT dalam menghadapi, dan melewati ujian dalam menunut ilmu. Serta membangun rasa persaudaran dalam diri agar hubungan sosial diantara sesama manusia lebih harmonis memperkuart tali ukhuwah Islamiah Menyambut Anak Didik Dalam poin ini, peneliti melihat bahwa guru dan Wakil Kepala Sekolah bergantian menjaga pintu gerbang dan menyambut siswa setiap hari. Mereka membuat shift agar selalu ada seseorang yang menyambut siswa di depan Setiap guru melakukan hal yang sama yaitu tersenyum, menyapa dengan suara lembut, menyalami siswa, dan beberapa kali terlihat memanggil siswa yang berlari tanpa menyalaminya. Tujuannya adalah untuk memberikan sambutan hangat kepada siswa ketika mereka tiba di sekolah sehingga mereka merasa disambut dengan baik dan senang datang ke sekolah setiap harinya. Hal ini juga bertujuan untuk menunjukkan suri tauladan yang baik bagi peserta didik dan kebiasaan yang positif yang dapat membangun keakraban antara guru dan Siswa dan kepala sekolah, dan teman sekelas maupun kelas lain, temuan tersebut memperkuat teori behavoristik yang menyatakan bahwa bwlajar adalah perubahan tingkahlaku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Factor Keluarga Lingkungan keluarga sangat penting dalam perkembangan peserta didik. Karena anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di lingkungan keluarga, maka keluarga memiliki peran yang besar dalam membentuk perilaku dan kepribadian mereka. Keluarga memberikan contoh nyata bagi anak-anak karena di dalam keluarga anggota keluarga bertindak seadanya tanpa dibuat-buat. Orang tua khususnya harus mampu memberikan berbagai sumbangan penting bagi anak untuk memenuhi kebutuhan perkembangan peserta didik seperti kasih sayang, aturan, dukungan moral dan contoh perilaku. Untuk menciptakan moral yang baik bagi anak adalah menciptakan komunikasi yang harmonis antara orangtua dan anak, karena itu akan mejadi modal dalam membentuk moral. Kebanyakan ketika anak beranjak remaja atau dewasa, tidak mengingat ajaran-ajaran moral diakibatkan tidak adanya ruang komunikasi dialogis anatara dirinya dengan orang tuanya sebagai guru pertama yang mestinya terus memberikan pengajaran moral. Jadi, titik terpenting dalam membentuk moral dan karakter sang anak adalah lingkungan sekitar rumah, setelah itu lingkungan sekolah dan terakhit lingkungan msyarakat. Namun, ketika dilingkungan rumahnya sudah tidak nyaman, anak akan memberontak di luar rumah. Hal ini sejalan dengan pendapat firdaus, lingkungan keluaraga adalah lingkungan yang pertama dan utama, karena dalam keluargala inilah anak pertama kali memperoleh pendidikan dan bimbingan. Dikatakan utama karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah dalam keluarga. Factor keluarga merupakan salah satu factor penentu yang berpengaruh dalam perkembangan pribadi anak, dapat dibagi tiga yaitu: kondisi ekonomi, kedekatan orangtua dan anak, serta pola asuh atau cara orang tua mendidik anak Dalam hal ini, kita dapat menyimpulkan bahwa lingkungan keluarga merupakan faktor penting dalam pembentukan karakter seseorang. Oleh karena itu, orang tua harus memperhatikan bagaimana cara mendidik anak dengan baik agar dapat membantu perkembangan mereka secara optimal. Teman Sebaya Damon menyatakan bahwa faktor-faktor seperti keluarga, teman sebaya, sekolah, media massa, komunitas, perkembangan kognitif dan kepribadian mempengaruhi pemahaman moral remaja. Faktor keluarga dianggap sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap pemahaman moral remaja. Kelompok teman sebaya juga memainkan peran penting dalam memberikan umpan balik kepada anak-anak tentang kemampuan mereka. Menurut sumarjono, teman sebaya adalah anak atau remaja yang kurang lebih berada pada taraf usia sama atau berada pada taraf perkembangan yang Teman sebaya berpengaruh pada motovasi belajar dan karakter anak. Hal ini sesuai dengan pendapat pendapat sandtrock bahwa teman sebaya dapat mempengaruhi motivaasi siswa melalui perbandingan sosial, kompetensi dan motivasi sosial, belajar bersama dan pegaruh kelompok teman sebayanya. Ancaman temanyang nakal, perkelahian antar pelajar akan memgganggu karakter dan motivasi belajarnya, begitu juga sebaliknya, pergaulan siswa yang baik akan memperkuat karakter dan motivasi belajar serta kepribadiannya. Menurut Santosa teman sebaya memiliki fungsi untuk mengajarkan kebudayaan masyarakat dan standar moralitas orang dewasa seperti bermain dengan baik, bekerja sama, jujur dan bertanggung jawab. Belajar dalam kelompok sebaya biasanya terjadi pada usia awal ketika anak-anak kurang menyadari situasi belajar. Pengaruh kelompok sebaya cenderung menjadi lebih penting daripada pengaruh keluarga ketika anak semakin bertambah usianya. Namun demikian, sulit untuk melakukan hal ini dalam lingkungan keluarga karena saudara kandung biasanya tidak sebaya. Oleh karena itu, pengaruh kelompok sebaya terhadap anak semakin penting ketika mereka semakin bertambah usia. Kekompakan Guru di Sekolah Sekolah merupakan tempat untuk terlaksananya aktivitas pembelajaran antara peserta didik dengan adanya pegawasan dari pendidik untuk terciptanya peserta didik yang unggul. Agar mengalami kemajuanndalam proses pembelajaran, sekolah dengan sengaja menciptakan sekolah itu sendiri untuk memudahkan proses pembelajaran yang beraneka ragam. Di dalam sekolahorang-orang berhubungan dengan konteks sekolah ada yang mengajar, ada yang belajar, dan adalagi yang membersihkan ruangan, menyiapkan makanan, menjaga keamanan serta melakukansegala kegiatan di sekolah. Sekolah adalah organisasi yang kompleks sehingga di dalamnya perluadanya koordinasi yang baik. Menurut David yang dikutip oleh Yusni, sejalan dengan tujuan sekolah atau pendidikan,kerjasama yang baik akan menghasilkan tujuan yang baik pula. Seperti halnya tujuan sekolah adalah menciptakan sekolah yang efektif adalah sekolah yang memiliki ciri utama yaitu : kepemimpinan instruksional yang kuat, harapan yang tinggi terhadap prestasi siswa, adanya lingkungan belajar yang tertib dan nyaman, menekankan pada keterampilan dasar, pemantauan secara berkelanjutan terhadap kemajuan siswa, dan terumuska ntujuan sekolah secara Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan karakter kerjasama merupakan usaha atau tindakan yang nyata yang dilakukan oleh tenaga kependidikan seperti kepala sekolah dan guru dalam mendidik atau menanamkan karakter kerjasama di dalam lembaga kependidikan demi mencapai keharmonisan serta mencapai interaksi dan interelasi sosial yang baik dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Pendidikan karakter kerjasama harus ditanamkan kepada seluruh tenaga kependidikan serta kepada peserta didik, supaya tidak hanya pendidik saja yang bekerjasama dengan baik akan tetapi peserta didik juga bisa saling bekerjasama baik dalam proses pembelajaran maupun di luar pembelajaran seperti bekerjasama dalam membersikan kelas. Kedisplinan Guru Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Bab XI pendidikan dan tenaga kependidikan pasal 39 ayat 2 ditegaskan bahwa pendidikmerupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan prosespembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan mengabdi pada masyarakat, terutama bagi pendidik dan perguruan tinggi. Guru merupakan factor penting yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Hal ini menjadi penting karena pendidikan karakter adalah wujud dari nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengam tuhan, dengan diri sendiri, dengan sesame manusia, maupun dengan lingkungan. Yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hokum, dan adat Untuk mengaktualisasikan wujud pendidikan karakter di atas, guru harus menjalankan perannya dengan baik. Hal ini dikarenakan guru memilikijabatan , keahlian khusus sebagai guru yang membedakannya dengan profesi lain. Perjaan menjadi guru tidak bisa dilakukam oleh orang yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. Jadi, guru adalah sosok yang memiliki jabatan professional yang tidak dimiliki semua orang. Guru memiliki pendidikan khusus untuk mencapai apa yang menajdi profesionalitasnya. Di dalam profesionalitasnnya itu, guru tidak hanya menyampaikan materi dalam proses pembelajaran, tetapi guru juga memiliki tugas lain sebagai teladan, inspirator , motivator, dinamisator, dan Untuk menjalankan perannya, guru harus mampu membudayakan pendidikan karakter pada siswa. Guru merupakan sosok yang patut ditiru oleh Hal ini senada dikemukakan oleh Muylasa bahwa guru merupakan factor penting yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pendidikan karakter di Bahkan sangat menentukan berhasil tidaknya peserta didik dalam megembangkan pribadinya secara utuh. Oleh karena itu dalam pendidikan karakter guru harus mulai dari dirinya sendiri agar apa-apa ynag dilakukannya dengan baik menjadi baik pula pengaruhnya bagi peserta didik. Pendidikan sulit untuk menghasilkan sesuatu yang baik tanpa dimulai oleh guru itu sendiri. Selain itu, guru juga sebagai pelaku utama dalam penerapan program pendidikan di sekolah memiliki peranan yang sangat strategis dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan guru dipandang sebagai faktor determinan terhadap pencapain mutu prestasi belajar siswa. Mengingat perannya yang sangat penting, maka guru dituntut untuk memiliki pemahaman dan kemampuan serta komperehensif tentang Kompetensinya sebagai pendidik. Disiplin tidak hanya berlaku kepada siswa akan tetapi kedisiplinan juga berlaku kepada guru, setiap guru harus mematuhi peraturan yang telah dibuat oleh sekolah dan bertanggungjawab atas tugasnya. Kedisiplinan guru sangat berpengaruh terhadap karakter siswa karena apabila gurunya kurang disiplin dalam belajar, siswa akan mengikuti apayang diperbuat oleh guru. Seorang guru hendaklah menegakan kedisiplinan dan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan kepadanya supaya siswa juga bisa bersikap disiplin dalam belajar disekolah dan dari kedisiplinan siswa mampu memunculkan karakter yang baik dari siswa itu sendiri. Terlambat kesekolah, guru kurang bertanggungjawab atas tugas yang dibebani kepadanya banyak guru tidak tepatwaktu dalam mengajar dan kurang tegas dalam melaksanakan pembelajaran mengakibatkan para siswa menjadi tidak sopan kepada guru. Siswa juga sering keluar masuk pada saat jam pelajaran berlangsung, sering terlambat, tidak mematuhi peraturan, terus berkelahi, sering melawan guru, tidak mau berbaris tanpa disuruh oleh guru dan tidak mengerjakan PR dari sekolah. Pada dasarnya perilakuan siswa juga bisa dilatar belakangi oleh lingkungan dan dirinya sendiri, namun pengaruh terbesar dan paling utama adalah kedisiplinan guru dalam sekolah. SIMPULAN Berdasarkan uraian-uraian diatas maka peneliti dapat menarik kesimpulan yaitu. Strategi Pembentukan karakter patuh kepada guru bagi siswa/siswi di MTs Al- Barokah Desa Jaharun B antara lain . Menyapa siswa/siswi. Guru menyambut peserta didik di depan gerbang sambil menyapa siswa agar tercipta keakraban antara guru dan murid. Selain itu guru juga menyapa siswa terlebih dahulu sebagai bahan contoh peserta didik unruk ditiru. B] Membimbing siswa/siswi untuk bersalaman. Ketika guru menyambut peserta didik di depan gerbang, guru membimbing siswa agar beebaris unruk memyalami guru tersebut. Setelah itu dilanjutkan juga ketika selesai melaksanakan shalat dhuha berjamaAoah dan ketika hendak akan masuk kelas dan pulang sekolah. Hal ini diterapkan untuk menumbuhkan rasa hormat siswa/I terhadap guru mereka. Melaksanakan shalat zuhur berjamaAoah. Hal ini diterapka agar dapat melatih siswa untuk lebih sabar, ihktiar dan tawakal kepada Allah SWT dalam menghadapi, dan melewati ujian dalam menunut Serta membangun rasa persaudaran dalam diri agar hubungan sosial diantara sesama manusia lebih harmonis memperkuart tali ukhuwah Islamiah Factor pendukung dan penghambat pembentukan karakter patuh kepada guru bagi siswa/siswi di MTs Al-Barokah Desa Jaharun B antara lain . Factor keluarga. Keluarga memberikan contoh nyata bagi anak-anak karena di dalam keluarga anggota keluarga bertindak seadanya tanpa dibuat-buat. Orang tua khususnya harus mampu memberikan berbagai sumbangan penting bagi anak untuk memenuhi kebutuhan perkembangan peserta didik seperti kasih sayang, aturan, dukungan moral dan contoh perilaku. Teman sebaya. Teman sebaya berpengaruh pada motovasi belajar dan karakter anak karena dapat mempengaruhi motivaasi siswa melalui perbandingan sosial, kompetensi dan motivasi sosial, belajar bersama dan pegaruh kelompok teman sebayanya. Ancaman teman yang nakal, perkelahian antar pelajar akan memgganggu karakter dan motivasi belajarnya, begitu juga sebaliknya, pergaulan siswa yang baik akan memperkuat karakter dan motivasi belajar serta kepribadiannya. Kekompakan guru. Merupakan usaha atau tindakan yang nyata yang dilakukan oleh tenaga kependidikan seperti kepala sekolah dan guru dalam mendidik atau menanamkan karakter kerjasama di dalam lembaga kependidikan demi mencapai keharmonisan serta mencapai interaksi dan interelasi sosial yang baik dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Kedisiplinan guru. Dalam pendidikan karakter guru harus mulai dari dirinya sendiri agar apa-apa yang dilakukannya dengan baik menjadi baik pula pengaruhnya bagi peserta didik. Pendidikan sulit untuk menghasilkan sesuatu yang baik tanpa dimulai oleh guru itu sendiri. DAFTAR PUSTAKA