Manna Rafflesia, 8/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia, 9/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia ISSN: 2356-4547 (Prin. , 2721-0006 (Onlin. Vol. No. Oktober 2025, . , https://s. id/Man_Raf Published By: Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Article History: Submitted : 13/03/2025 Reviewed : 15/08/2025 Accepted : 20/10/2025 Published : 31/10/2025 DYOTHELITISME DALAM PERSPEKTIF JOHN CALVIN : ANALISIS THEOLOGIS TERHADAP KONSEP DUALITAS KEHENDAK KRISTUS Mozes Lawalata1* Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta *)Email Correspondence: mozes. lawalata@gmail. Abstract: Dyothelitism is a doctrine affirming that Christ possesses two wills divine and human which sparked long-standing theological debates until it was affirmed as orthodox by the Third Council of Constantinople . AD). This article analyzes John CalvinAos perspective on dyothelitism, focusing on how he interpreted and integrated ChristAos two wills within the Christological framework he developed, and highlights its relevance for the contemporary Using a qualitative method with a historical-theological approach, the study draws primarily on CalvinAos Institutio Christianae Religionis. The analysis shows that, for Calvin, the duality of ChristAos will not only preserves the balance between His divine and human natures but also provides a crucial foundation for Christian soteriology and spirituality. This understanding affirms the integrity of Christ as both God and man and ensures the effectiveness of His saving work, enabling the church to more deeply appreciate the mystery of the Incarnation and the work of redemption. Keywords: Dyothelitism. John Calvin. Christology, will of Christ. Third Council of Constantinople A Abstraksi: Dyothelitisme adalah doktrin yang menegaskan bahwa Kristus memiliki dua kehendak ilahi dan manusiawi yang sejak awal memicu perdebatan teologis hingga diteguhkan sebagai ajaran ortodoks oleh Konsili Konstantinopel i . M). Artikel ini menganalisis pandangan John Calvin mengenai dyothelitisme, terutama bagaimana ia menafsirkan dan mengintegrasikan kedua kehendak Kristus dalam kerangka Kristologi yang dibangunnya, serta menyoroti relevansinya bagi gereja masa kini. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis-teologis, merujuk pada karya Calvin terutama Institutio Christianae Religionis. Hasil analisis menunjukkan bahwa bagi Calvin, dualitas kehendak Kristus tidak hanya menjaga keseimbangan natur ilahi dan manusiawi-Nya, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi soteriologi dan spiritualitas Kristen. Pemahaman ini menegaskan keutuhan Kristus sebagai Allah dan manusia sekaligus menjamin efektivitas karya keselamatan-Nya, sehingga membantu gereja lebih mendalam menghayati misteri Inkarnasi dan penebusanmemberi pembinaan iman bagi semua kelompok kategorial dan pendampingan terhadap korban. Kata kunci: Dyothelitisme. John Calvin. Kristologi, kehendak Kristus. Konsili Konstantinopel i Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 99 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 PENDAHULUAN Kristologi merupakan pusat dari seluruh doktrin iman Kristen karena menyangkut pertanyaan fundamental: siapakah Yesus Kristus dan bagaimana Ia menyelamatkan manusia. Pemahaman yang tepat tentang pribadi dan karya Kristus menjadi landasan bagi seluruh ajaran gereja dan praktik kehidupan Sejak mula-mula, perdebatan tentang natur Kristus tidak pernah berhenti, karena kesalahan dalam memahami relasi antara keilahian dan kemanusiaan Kristus akan berdampak langsung pada keyakinan tentang Kontroversi yang bermula dari ajaran Arianisme. Apollinarianisme, hingga Nestorianisme menunjukkan betapa pentingnya konsistensi ajaran tentang Kristus. Perdebatan tersebut penetapan pengakuan Chalcedon . M) yang menegaskan Kristus sebagai satu pribadi dalam dua natur, ilahi dan manusiawi (Mia Hypostasis en Duo Physesi. Pengakuan ini menjadi dasar bagi pembahasan berikutnya tentang relasi kehendak ilahi dan manusiawi dalam diri Kristus, yang kemudian dikenal sebagai dyothelitisme. Doktrin dyothelitisme muncul sebagai jawaban atas pertanyaan yang lebih mendalam: bagaimana dua natur Kristus yang tidak tercampur itu Kontroversi Monotelitisme di abad ke-7 yang menyangkal adanya kehendak manusiawi dalam Kristus menimbulkan ancaman serius terhadap ajaran Inkarnasi dan penebusan. Konsili Konstantinopel i . M) menegaskan dua kehendak Kristus yang selaras tanpa pertentangan. Namun, relevansi doktrin ini tidak berhenti di abad ke-7. Pemahaman bahwa Kristus memiliki kehendak kehendak Bapa menjadi dasar penting bagi keyakinan bahwa keselamatan sungguh dikerjakan oleh Kristus sebagai manusia sejati. Urgensi penelitian ini terletak pada usaha untuk memahami kembali doktrin tersebut melalui Reformasi, pemikiran John Calvin, sehingga memperlihatkan hubungan erat antara Kristologi. Salah satu persoalan teologis yang memerlukan penjelasan lebih lanjut adalah bagaimana kehendak ilahi dan kehendak manusiawi Kristus bekerja dalam kesatuan pribadi-Nya. Para teolog abad patristik seperti Maximus the Confessor menegaskan bahwa penolakan terhadap kehendak manusiawi Kristus mengakibatkan penyangkalan terhadap dikerjakan dalam ketaatan seorang manusia sejati. Pandangan ini ditolak oleh penganut Monotelitisme yang menekankan satu kehendak ilahi saja. Perdebatan ini berimplikasi langsung pada soteriologi: bila Kristus tidak memiliki kehendak manusiawi yang taat, maka karya penebusan kehilangan dasar 3 Kontroversi historis tersebut menjadi latar bagi Calvin yang berusaha menjelaskan kembali dua kehendak Kristus dengan menekankan Perdebatan historis ini meninjau ulang doktrin dyothelitisme agar lebih dipahami secara Alkitabiah Alister E. McGrath. Christian Theology: An Introduction (Oxford: WileyBlackwell, 2. , 245. dan Yvonna S. Lincoln Denzin. Norman K. The SAGE Handbook of Qualitative Research. 4th Ed (Thousand Oaks. CA: SAGE Publications, 2. , 12. Lihat John Meyendorff. Imperial Unity and Christian Divisions: The Church 450Ae680 A. (Crestwood. NY: St. VladimirAos Seminary Press, 2. , 273. Meyendorff menjelaskan bahwa keputusan Konsili Konstantinopel i untuk menegaskan dua kehendak Kristus lahir dari kebutuhan mempertahankan keutuhan iman Kristologis Chalcedon. Dengan mengakui kehendak manusiawi Kristus yang tunduk kepada kehendak ilahi-Nya, konsili ini melindungi realitas sejati kemanusiaan Kristus dan menjamin dasar soteriologi Kristen. Thomas G. Weinandy. Jesus: The Man Who Is God, 2nd Ed (Steubenville. OH: Emmaus Academic, 2. , 88Ae89. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 100 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf dan kontekstual bagi gereja masa kini. Kajian tentang dyothelitisme telah banyak dilakukan oleh para sejarawan gereja dan teolog patristik, terutama berkaitan dengan Konsili Konstantinopel i dan perdebatan dengan Monotelitisme. 4 Namun, fokus tersebut lebih menyoroti konteks sejarah daripada implikasinya dalam teologi Reformasi. Beberapa studi modern membahas pengaruh doktrin ini terhadap spiritualitas gereja Timur, tetapi sedikit Kristologi Reformasi. Penelitian Sutrisno dan Kristanto. 5 sudah menyinggung peran Calvin, tetapi masih terbatas pada uraian deskriptif tanpa analisis historis-teologis yang mendalam. Kekosongan ini menunjukkan perlunya penelitian yang lebih fokus pada bagaimana Calvin menafsirkan dualitas kehendak Kristus dan mengaitkannya dengan ketaatan Kristus dalam karya penebusan. Walaupun dyothelitisme telah dikaji sejak abad ke-7, perdebatan tentang penerapannya dalam teologi Reformasi belum digali secara memadai. Sebagian besar penelitian Kristologi Reformasi lebih banyak menyoroti aspek predestinasi, penebusan, atau kesatuan natur Kristus tanpa menelaah hubungan antara dua kehendak Kristus dengan karya keselamatan. Hal ini menciptakan celah penelitian . esearch ga. yang penting untuk diisi. Seperti disebutkan dalam naskah ini. Autampaknya ada kekurangan penelitian yang secara khusus menganalisis fakta mengenai dua Kristus . oktrin perspektif John CalvinAy6 Kajian terhadap John. Meyendorff. Imperial Unity and Christian Divisions: The Church 450Ae680 A. (Crestwood. NY: St. VladimirAos Seminary Press, 2. , 150Ae52. Antonius Sutrisno dan Yosafat Kristanto. AuDyothelitisme Dalam Kristologi Yohanes Calvin,Ay Verbum Christi 6, no. : 46Ae48. Antonius Sutrisno dan Yosafat Kristanto. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Calvin keputusan Konsili Konstantinopel i sekaligus menunjukkan kebaharuan . berupa penekanan soteriologis yang menjadi ciri khas pemikirannya. Penelitian ini menegaskan bahwa bagi Calvin, dualitas kehendak Kristus bukanlah sekadar doktrin metafisik tetapi berkaitan langsung dengan ketaatan Kristus sebagai manusia sejati yang menderita dan taat sampai mati. Dalam Institutio II. xiv-xvi. Calvin menegaskan bahwa karya penebusan tidak mungkin sempurna tanpa ketaatan manusiawi Kristus yang selaras dengan kehendak ilahi-Nya. 7 Temuan ini sesuai menunjukkan bahwa Calvin Kristus dengan efektivitas karya Dengan menonjolkan perdebatan dan implikasi soteriologis ini selaras dengan hasil dan pembahasan penelitian yang disajikan secara objektif dan analitis. Berdasarkan konteks di atas. John Calvin dyothelitisme dan implikasinya bagi Kristologi dan soteriologi Reformasi. Analisis pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. yang berfokus pada karya-karya Calvin seperti Institutio Christianae Religionis . , khotbah-khotbahnya, dan tafsir Alkitab Pendekatan historis-teologis digunakan untuk memahami bagaimana Calvin menginterpretasikan doktrin dua kehendak Kristus dalam kaitannya dengan konteks Reformasi serta dengan tradisi Dengan demikian, penelitian John. Calvin. Institutes of the Christian Religion. Diterjemahkan Oleh Henry Beveridge (Grand Rapids: Eerdmans, 2. , 345Ae46. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 101 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf ini tidak hanya memaparkan pandangan Calvin secara deskriptif tetapi juga perkembangan Kristologi. Penelitian pengembangan studi Kristologi dengan mengenai dyothelitisme dalam teologi Reformasi. Secara akademik, penelitian ini memperkaya literatur dengan perbedaan Calvin dengan ajaran Secara praktis, hasil penelitian ini relevan bagi gereja masa kini untuk memahami bahwa karya penebusan Kristus mencakup ketaatan manusiawiNya yang selaras dengan kehendak ilahiNya, sehingga umat Kristen dapat lebih keselamatan dan teladan ketaatan Kristus. 8 Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkuat fondasi meneguhkan keyakinan dan penghayatan iman gereja. METODE Penelitian pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. karena fokus penelitian adalah menganalisis pemikiran teologis John Calvin tentang karya-karya tulisnya dan dokumen-dokumen sejarah 9 Pendekatan ini dipilih untuk memungkinkan eksplorasi konseptual dan historis secara mendalam tanpa keterlibatan data lapangan. Sumber data primer penelitian ini adalah Institutio Christianae Religionis edisi 1559, khotbah-khotbah Calvin, dan tafsir Alkitab yang membahas relasi dua Herman Bavinck. Dogmatika Reformed. Jilid 3: Dosa Dan Keselamatan Di Dalam Kristus (Surabaya: Momentum, 2. , 254. Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln. AuPendahuluan: Memasuki Bidang Penelitian Kualitatif,Ay in Handbook of Qualitative Research, ed. Saifuddin Zuhri Qudsy, trans. Dariyatno et al. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 18Ae19. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 kehendak Kristus. Sementara itu, sumber data sekunder meliputi keputusan Konsili Konstantinopel i . M), literatur sejarah gereja, serta penelitian Proses pengumpulan data dilakukan melalui pembacaan kritis dan penelusuran tema-tema berhubungan langsung dengan fokus Data yang terkumpul dianalisis dengan pendekatan historis-teologis, yang memadukan pemahaman teks dengan konteks sejarah perkembangan doktrin dyothelitisme. Analisis ini dilakukan melalui tiga langkah utama: reduksi data untuk memilih bagian yang mengelompokkan data ke dalam tematema seperti dualitas kehendak Kristus. Kristus, implikasinya bagi soteriologi, serta interpretasi untuk memahami kontribusi pemikiran Calvin terhadap Kristologi Reformasi. Pendekatan memungkinkan penelitian untuk tidak hanya memaparkan pandangan Calvin menunjukkan kontinuitas dan perbedaan pemikirannya dengan tradisi patristik serta relevansinya bagi penghayatan iman Kristen masa kini. HASIL Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka yang memfokuskan perhatian pada karya-karya teologis John Calvin. Institutio Christianae Religionis khotbahkhotbahnya, dan tafsir Alkitab yang relevan dengan topik dyothelitisme. Selain itu, penelitian ini memanfaatkan dokumen sejarah gereja Konsili Konstantinopel i . M) serta literatur sekunder berupa buku dan artikel jurnal yang membahas doktrin dyothelitisme maupun pemikiran Kristologi Calvin. Seluruh sumber tersebut dikompilasi dan dianalisis untuk menemukan pola dan Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 102 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf yang berhubungan pertanyaan penelitian, yakni bagaimana Calvin mengintegrasikan doktrin tentang dua kehendak Kristus ke dalam kerangka Kristologi dan soteriologinya. Hasil menunjukkan bahwa Calvin secara konsisten menegaskan keberadaan dua kehendak dalam diri Kristus, yaitu kehendak ilahi dan kehendak manusiawi, yang bekerja secara harmonis tanpa saling bertentangan. Pandangan ini tidak hanya mencerminkan kesetiaan Calvin Konsili Konstantinopel i, menekankan relevansi praktis bagi iman Kristen. Dalam beberapa bagian Institutio, terutama Buku II Bab XIIAe XVI. Calvin menegaskan bahwa ketaatan Kristus sebagai manusia sejati merupakan bagian penting dari karya penebusan, dan ketaatan itu hanya dapat terjadi jika Kristus benar-benar memiliki kehendak manusiawi. Pandangan ini dipertegas pula dalam khotbahnya atas Injil Yohanes 6:38 dan tafsir atas Ibrani 5:8Ae9, kehendak manusiawi Kristus dalam ketaatan-Nya kepada Bapa. Data yang ditemukan juga memperlihatkan bahwa Calvin tidak hanya mengafirmasi dua kehendak Kristus sebagai doktrin dogmatis, tetapi menghubungkannya secara langsung dengan karya keselamatan. Menurut Calvin, kehendak manusiawi Kristus memungkinkan-Nya untuk menaati Allah penderitaan sebagai manusia sejati, ilahi-Nya memastikan kuasa dan efektivitas karya penebusan yang dikerjakan-Nya. Dengan pandangan Calvin memiliki fungsi ganda: menjaga integritas natur Kristus Hal ini menonjolkan dimensi soteriologis yang menjadi ciri khas Kristologi Calvin. Selain itu, temuan penelitian Calvin P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 menempatkan ajaran tentang dua kehendak Kristus dalam kerangka kesatuan pribadi-Nya. Ia berpendapat bahwa dua kehendak tersebut tidak pernah bekerja secara terpisah atau selaras dan tunduk pada rencana keselamatan Allah. Dengan demikian, doktrin dyothelitisme bagi Calvin tidak berhenti sebagai rumusan metafisik yang abstrak, melainkan memiliki makna pastoral karena mengajarkan umat bahwa Kristus adalah Pengantara sejati yang sepenuhnya memahami kelemahan manusia dan sekaligus memiliki kuasa ilahi untuk menyelamatkan. Hasil menemukan bahwa dalam tradisi Reformasi, pandangan Calvin mengenai dyothelitisme menonjolkan hubungan erat antara Kristologi dan soteriologi. Pandangan ini menekankan bahwa keselamatan manusia tidak hanya bergantung pada pengakuan bahwa Kristus adalah Allah dan manusia sejati, tetapi juga pada kenyataan bahwa Ia memiliki dua kehendak yang bekerja selaras untuk melaksanakan rencana keselamatan Allah. Dengan menegaskan Calvin kesinambungan antara ajaran gereja awal dan teologi Reformasi, sekaligus memberikan sumbangan khas yang relevan bagi pengajaran dan kehidupan iman gereja masa kini. Temuan-temuan di atas secara keseluruhan menjawab tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengidentifikasi dan memaparkan pemikiran Calvin tentang dyothelitisme serta kontribusinya bagi pemahaman Kristologi dan soteriologi. Pemaparan ini menunjukkan bahwa penelitian berhasil menemukan titik fokus yang belum banyak dikaji dalam studi sebelumnya, khususnya tentang hubungan erat antara dualitas kehendak Kristus dan efektivitas karya penebusan menurut perspektif Calvin. Bagian hasil ini disajikan secara objektif untuk memberikan gambaran yang jelas tentang temuan utama penelitian, yang kemudian akan didalami secara analitis Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 103 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf dalam bagian pembahasan. PEMBAHASAN Latar Belakang Historis Dalam sejarah gereja, terdapat berbagai doktrin yang menimbulkan memainkan peran penting dalam membentuk iman dan pemikiran Kristen. Salah satu doktrin yang menjadi perdebatan penting adalah doktrin Doktrin Dyotheletisme, juga dikenal sebagai doktrin dua kehendak dalam Kristus, adalah sebuah konsep teologis yang muncul pada abad ke-7 Kristologis. Doktrin ini menyatakan bahwa Yesus Kristus, yang sepenuhnya ilahi dan sepenuhnya manusia, memiliki dua kehendak: kehendak ilahi dan kehendak manusia . Doktrin ini diformulasikan sebagai Monothelitisme, yang menyangkal Diofisitisme (Diophysitis. berasal dari bahasa Gerika: Dyophysite . eUC). Secara literal. I . berarti "dua" dan IsEC . berarti "hakikat". Dengan demikian, istilah Dyophysite secara sempit dapat diartikan sebagai DUA HAKIKAT. Diofisitisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa Yesus memiliki SATU pribadi dan DUA hakikat. Kedua hakikat Yesus itu adalah: Satu hakikat Allah . dan satu hakikat MANUSIA. Walaupun berpadu namun kedua hakikat Yesus tidak menyatu. Hakikat ilahi Yesus bersifat Mahakuasa dan Mahatahu. Hakikat manusia Yesus tidak mahakuasa dan tidak Mahatahu. Karena hakikat ilahi-Nya maka Yesus disebut Allah sejati dan karena hakikat manusia-Nya Yesus pun disebut manusia sejati. Meskipun memiliki DUA hakikat namun Yesus hanya memiliki SATU pribadi yaitu pribadi yang dimiliki-Nya sebelum menjadi manusia. Monothelitisme (Yunani: AEEUC. Romanisasi: monotheletismys. Literal: doktrin satu kehenda. , adalah sebuah doktrin theologis dalam ajaran iman Kristen, yang menyatakan bahwa Kristus hanya memiliki satu kehendak. Dengan demikian, doktrin ini berlawanan dengan doktrin dyothelitisme, sebuah doktrin Kristologis yang menyatakan bahwa Kristus memiliki dua kehendak . lahi dan Secara historis, monoteisme berkaitan erat dengan ajaran monoenergisme. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 keberadaan kehendak manusia di dalam Kristus. Signifikansi Doktrin Dyotheletisme terletak pada perannya dalam membentuk pemahaman akan natur Kristus dan implikasinya terhadap hubungan antara natur ilahi dan natur manusiawi-Nya. Doktrin ini merupakan titik perdebatan yang krusial dalam diskusi-diskusi teologis dan konsilikonsili gereja Kristen mula-mula, khususnya Konsili Konstantinopel i pada tahun 680-681, di mana doktrin ini secara resmi ditegaskan sebagai doktrin Kristen ortodoks. Perumusan Doktrin Dyotheletisme membahas kompleksitas dari natur Kristus dan kesatuan kehendak ilahi dan manusiawi-Nya, yang berkontribusi pada pengembangan pemahaman Kristologis dalam teologi Kristen. Doktrin ini juga menjadi aspek penting dalam kerangka teologis dari berbagai tradisi Kristen, mempengaruhi diskusi tentang sifat Kristus keselamatan dan penebusan. Doktrin Dyotheletisme mewakili perkembangan teologis yang signifikan dalam sejarah pemikiran Kristen, yang mencerminkan upaya berkelanjutan dari para teolog dan pemimpin gereja untuk mengartikulasikan natur Kristus dengan cara yang konsisten dengan ajaran-ajaran kitab suci dan tradisi-tradisi Kristen mula-mula. Doktrin Dyotheletisme menyatakan bahwa Yesus Kristus memiliki dua kehendak: kehendak ilahi dan kehendak manusia. Doktrin ini memiliki latar belakang historis yang kaya dan kompleks, yang melibatkan perdebatan teologis yang substansial di dalam gereja Perdebatan mengenai kehendak Kristus dalam gereja awal berkaitan dengan permasalahan teologis yang lebih besar, yaitu sifat Kristus sebagai yakni sebuah doktrin teologis yang menyatakan bahwa Yesus Kristus hanya memiliki satu energi. Kedua doktrin ini menjadi pusat perselisihan Kristologis selama abad ke-7. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 104 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf manusia dan Allah secara bersamaan. Salah satu perdebatan yang signifikan adalah antara Uskup Agung Aleksandria. Cyril dari Aleksandria, dan Uskup Agung Konstantinopel. Nestorius. Nestorius pemisahan antara sifat manusia dan ilahi Kristus, menimbulkan keraguan akan kesatuan pribadi Yesus. Ia mengusulkan istilah AuTheotokosAy untuk menggambarkan Maria sebagai AuIbu AllahAy yang Kristus. Cyril menentang hal ini karena Nestorius mengabaikan kesatuan pribadi Kristus. Kontroversi ini mengarah pada Konsili Efesus pada tahun 431 M, di mana Nestorius dinyatakan sebagai Keputusan ini juga menimbulkan kontroversi baru, khususnya berkaitan dengan apakah Kristus memiliki satu kehendak atau dua kehendak. 13 Akan tetapi, pada Konsili Chalsedon pada tahun 451 M, dinyatakan bahwa Yesus memiliki dua kehendak, yaitu kehendak ilahi dan manusia, yang saling bersatu Konsili Chalsedon pada akhirnya mengutuk mereka yang mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki satu kodrat ilahi AucampuranAy kodrat-Nya. Konsili tersebut menghasilkan AuDefinisi Chalsedon,Ay yang menegaskan bahwa Kristus adalah Auyang sama sempurna dalam Ketuhanan dan juga sempurna dalam kemanusiaan. benar-benar Tuhan dan benar-benar manusiaAy. Dia Ausehakikat . dengan Bapa menurut Ketuhanan, dan KemanusiaanAy. Yesus Kristus Auharus diakui dalam dua kodrat, tidak dapat dikacaukan, tidak dapat diubah, tidak dipisahkanAy. Sifat ilahi dan sifat manusiawi Kristus berbeda namun bersatu dalam satu Pribadi. Koeksistensi Meyendorff. Imperial Unity and Christian Divisions: The Church 450Ae680 A. Editors. AuWhat Happened at the Council Ephesus?,Ay https://w. org/, 2024. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 kedua kodrat Kristus ini disebut Doktrin mendapat dukungan luas dan diterima oleh mayoritas gereja pada masa itu. Selanjutnya, mengenai tabiat dan kehendak Kristus muncul kembali pada abad ke-7 dalam konteks teologis yang lebih luas, yang dikenal sebagai Kontroversi Monotelit. Monothelitisme . ari bahasa Yunani, berarti Ausatu kehendakA. adalah sebuah doktrin dan gerakan teologis yang berpengaruh pada abad ketujuh Masehi. Ajarannya adalah bahwa kehendak Kristus selalu sepenuhnya dengan kehendak Allah. Monothelitisme berpendapat bahwa meskipun Kristus memiliki dua kodrat . anusia dan ilah. , ia hanya memiliki satu kehendak . lahi/manusi. , yang tidak dapat dibedakan dari kehendak Tuhan. Pada saat yang sama, pandangan ortodoks menyatakan bahwa Yesus mempunyai kehendak manusia dan kehendak ilahi. Pada saat itu, terdapat perbedaan pendapat antara kaum monofisit dan Kekaisaran Bizantium. Kekaisaran Bizantium, pada masa itu, sedang berjuang untuk menyatukan gereja yang terpecah antara kaum monofisit yang meyakini bahwa Kristus hanya memiliki satu kehendak . dan kaum kristologis yang meyakini bahwa Kristus memiliki . Kontroversi ini terutama berkaitan dengan upaya Kekaisaran Bizantium untuk meredakan ketegangan dengan gereja-gereja Timur memisahkan diri dari gereja Bizantium. Di tengah ketegangan yang terjadi pada saat itu, pada akhirnya membuat Kaisar Heraclius . ahun 638 M) mengeluarkan sebuah dekrit yang Ekthesis, mengusulkan kompromi teologis dengan Editors. AuWhat Was the Significance of Council Chalcedon?,Ay https://w. org/, 2022. Editors. AuMonothelitism,Ay New World Encyclopedia, 2022. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 105 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf mengajukan bahwa Kristus memiliki satu kehendak . Namun, dekret ini menimbulkan kontroversi yang lebih besar dan memperdalam perpecahan dalam gereja. Puncak perdebatan ini terjadi pada Konsili Konstantinopel Ketiga pada tahun 680-681 Masehi. 17 Konsili ini sebagai pandangan resmi Gereja Ortodoks Timur. Konsili tersebut menegaskan bahwa Kristus memiliki dua kehendak, yaitu kehendak ilahi dan kehendak manusiawi, yang bekerja secara harmonis tanpa konflik. Doktrin ini mengakui keutuhan dan kesatuan Kristus, mengakui keberadaan kedua sifat-Nya secara jelas. Konsili Konstantinopel Ketiga pada akhirnya mengutuk paham Monothelitisme dan menyimpulkan bahwa Yesus mempunyai kehendak ilahi dan kehendak manusia, sesuai dengan dua sifat-Nya. Konsili ini juga terkenal karena mengecam Paus Honorius I monotheletisme, serta secara anumerta Mark Cartwright. AuHeraclius,Ay World History Encyclopedis, 2023. Konsili tersebut diadakan pada tanggal 7 November 680, dan berakhir pada tanggal 16 September 681. Konsili tersebut dipimpin langsung oleh Kaisar Konstantinus IV selama 11 sesi pertamanya. Jumlah total uskup yang hadir dilaporkan kurang dari 300 orang, namun tindakan akhir konsili tersebut hanya berisi 174 tanda tangan. Paus Honorius I memerintah sebagai uskup Roma dari tahun 625 hingga 638 M. Kepausannya berhasil dalam hal misi dan administrasi, tetapi menimbulkan kontroversi karena simpati Honorius terhadap Monoteisme, sebuah doktrin yang kemudian dikutuk sebagai ajaran sesat. Monothelitisme berpendapat bahwa Kristus memiliki dua kodrat . lahi dan manusiaw. tetapi hanya memiliki satu kehendak . Tampaknya hal ini menarik bagi Honorius karena hal ini mewakili, baginya, sebuah jalan tengah di antara Monofisitisme . ang mengajarkan bahwa natur manusiawi Kristus ditaklukkan oleh keilahian-Ny. dan Nestorianisme . ang mengajarkan bahwa natur ilahi Kristus berbeda dari karakter-Nya sebagai Para pembela Honorius berpendapat bahwa tidak jelas bahwa ia benar-benar mendukung Monoteisme, tetapi hanya gagal P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 memulihkan Paus Martin I dan Santo Maximus sang Pengaku (Saint Maximus the Confesso. ,19 yang sebelumnya dikutuk sebagai bidah karena menentang konsep Monothelitisme pada masa pemerintahan Kaisar Konstans II. Dengan dyothelitisme muncul sebagai upaya untuk menegaskan bahwa Kristus memiliki dua kehendak . ua-thelem. , yaitu kehendak ilahi dan kehendak Ini menjadi landasan bagi pandangan bahwa Kristus sepenuhnya ilahi dan sepenuhnya manusiawi, tanpa percampuran atau perubahan antara kodrat-kodrat tersebut. Doktrin dyothelitisme secara resmi diterima dan diakui oleh Gereja Katolik dan sebagian besar Gereja-gereja Ortodoks. Dengan penentangan terhadap menghindari ungkapan yang dapat dengan mudah ditafsirkan sebagai dukungannya. Santo Maximus sang Pengaku . uga dikenal sebagai Maximus sang Teolog dan Maximus dari Konstantinope. ekitar tahun 580 - 13 Agustus 662 M) adalah seorang biarawan, teolog, dan cendekiawan Kristen. Pada awal kehidupannya, ia adalah seorang pegawai negeri dan ajudan Kaisar Bizantium Heraklius . -641 M). Namun, ia melepaskan kehidupannya di bidang politik untuk mengabdikan dirinya pada ketaatan agama sebagai seorang cenobite. Setelah pindah ke Kartago. Maximus berguru pada Santo Sophronius, yang mengajarinya ajaran-ajaran teologis Gregorius dari Nazianzus dan Pseudo-Dionisius sang Areopagit, serta spekulasi-spekulasi filosofis kaum Neo-Platonis. Di bawah pengaruh-pengaruh ini, sang pemula muda memulai panggilan barunya sebagai penulis dan teolog. Ketika salah satu temannya mulai menganut posisi Kristologis yang kemudian dikenal sebagai Monothelitisme. Maximus tertarik ke dalam kontroversi tersebut, mendukung posisi Khalsedon bahwa Yesus memiliki kehendak manusiawi dan ilahi. Setelah berbagai perdebatan teologis dan manuver politik, ia akhirnya diasingkan karena keyakinannya dan meninggal tak lama Namun, teologinya dibenarkan oleh Konsili Konstantinopel Ketiga dan dia disucikan secara publik segera setelah kematiannya. Maximus dihormati baik dalam Kristen Barat maupun Kristen Timur, dan hari perayaannya adalah 13 Agustus di Kristen Barat, dan 21 Januari di Kristen Timur. Editors. AuThird Council Constantinople,Ay newworldencyclopedia, 2023. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 106 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf monotelitisme. Konsili Konstantinopel ketiga memberikan landasan teologis bagi pemahaman gereja mengenai Kristus yang memiliki kedua kodrat dengan kehendak masing-masing. Doktrin Dyothelitisme Dalam Perspektif John Calvin John Calvin adalah seorang theolog terkemuka dan sekaligus menjadi salah satu tokoh kunci dalam gerakan Reformasi Protestan di Swiss Eropa. Ia merupakan generasi kedua dalam jajaran pelopor dan pemimpin gerakan reformasi gereja pada abad ke16, tetapi peranannya sangat besar dalam gereja-gereja reformatoris. 21 Pandangan theologisnya sering dikaitkan dengan theologi Reformed, yang menekankan Allah, providensia Allah, karya penyelamatan Allah . ang meliputi ajaran tentang kerusakan manusia pasca kejatuhan ke predestinas. dan otoritas Alkitab. Salah satu aspek penting yang menjadi fokus perhatiannya adalah sifat dan natur Kristus, khususnya dalam konteks dua kehendak Kristus, yakni kehendak ilahi dan kehendak insani. Haruslah diakui di sini bahwa John Calvin tidak pernah mewariskan suatu karya tulis yang secara khusus membahas Kristologi. namun demikian, karakter Kristosentris sangat nyata dalam karya-karyanya. Bagi Calvin sangatlah penting untuk memahami Alkitab sebagai suatu kesaksian tentang Kristus dan karya-Nya. Bagi Calvin, seluruh Injil terkandung di dalam Pribadi Kristus, di dalam penafsirannya atas Roma 1:2-3, ia menyatakan bahwa. AuBergeser selangkah pun dari Kristus berarti menarik diri dari Injil. Karena Kristus adalah gambar Bapa yang hidup dan nyata, maka tidak mengherankan Alister E. McGrath. Reformation Thought: Introduction, (Massachusetts: Wiley-Blackwell, 2. , 45Ae60. Wayne Grudem. Systematic Theology : An Introduction to Biblical Doctrine (Grand Rapids: Zondervan Academic, 2. , 670Ae700. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 jika Dia sendiri ditempatkan di depan kita sebagai Pribadi yang menjadi objek dan pusat dari seluruh iman kitaAy. John Calvin, dalam karyanya yang monumental, yakni Institutio Christianae Religionis, menekankan pentingnya kemanusiaan dan keilahian Kristus yang utuh dan tak terpisahkan. Ia menolak monotheletisme . atu kehenda. , yang menurutnya mengurangi kemanusiaan Kristus dan mengaburkan realitas Bagi Calvin, dyotheletisme bukanlah sekadar pengakuan akan dua kehendak yang terpisah dan berkonflik, melainkan sebuah kesatuan dinamis di mana kehendak ilahi dan manusiawi Kristus bekerja secara harmonis, namun tetap terbedakan. Menurut Calvin. Kristus memiliki dua sifat yang berbeda, yaitu sifat ilahi dan sifat manusia. Sifat ilahi Kristus mengacu pada kodrat-Nya sebagai Anak Allah yang kekal dan sama dengan Bapa. Sementara itu, sifat manusia Kristus merujuk pada kodrat-Nya sebagai manusia yang sejati, dengan tubuh dan jiwa manusia yang lengkap. Kristus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia secara bersamaan. Dua natur ini tidak bercampur atau terpisah, melainkan ada dalam satu pribadi Kristus. Calvin berpendapat bahwa keduanya tetap utuh dan tidak saling menggantikan satu sama lain. John Calvin mengajarkan kedua natur itu disatukan tanpa adanya transfer Calvin menekankan bahwa sifatsifat ini tidak bercampur atau saling tumpang tindih satu sama lain. Sifat-sifat ini tetap berbeda dan tidak dapat disatukan menjadi sifat yang baru. Pada Tonny Sutrisno and Billy Kristanto. AuDyothelitisme Dalam Kristologi Yohanes Calvin,Ay Verbum Christi: Jurnal Teologi Reformed Injili 6, no. 1 SE-Artikel (April 2. 45Ae59, https://doi. org/10. 51688/vc6. John Calvin. Institutes of the Christian Religion, trans. Henry Beveridge (Louisville: Westminster John Knox Press, 2. , 494Ae97. Calvin. Institutes of the Christian Religion. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 107 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf saat yang sama. Calvin juga berpendapat bahwa sifat-sifat ini tidak terpisahkan atau terbagi-bagi. Kristus tetap adalah satu pribadi dengan dua sifat yang tidak tercampur atau terpisah. Satu atribut tidak bisa diambil dari satu natur tanpa mengubah esensi dari natur tersebut. Kedua natur disatukan tanpa kehilangan satu pun atribut esensial dan bahwa dua natur tetap memiliki identitas yang Tidak ada percampuran dari kedua natur itu. kekekalan tidak dapat ditransfer pada keterbatasan. akal tidak dapat ditransfer pada materi. Allah tidak dapat ditransfer pada manusia. Pengambilan salah satu keilahian-Nya. Dan pengambilan salah satu atribut dari natur manusia-Nya, akan menghancurkan kemanusiaan-Nya yang sejati. Oleh karena itu, maka kedua natur Kristus tidak dapat hilang atau transfer dari salah satu atribut-Nya. Dalam Calvin, inkarnasi Kristus adalah proses di mana Allah yang tak terlihat mengambil tubuh Dalam keberadaan-Nya yang ilahi. Kristus tetap sebagai Allah yang tak terbatas, tetapi dalam inkarnasi-Nya. Ia juga mengambil sifat manusia yang Dalam keberadaan-Nya yang manusiawi. Kristus mengalami segala keterbatasan dan penderitaan manusia. Dalam pemikiran teologis John Calvin. Kristus menghadirkan realitas yang kompleks dan mendalam, yang melibatkan hubungan esensial antara dua sifat Kristus - manusia dan ilahi - serta implikasi yang mengalir dari kedua natur tersebut, yakni menegnai kehendak yang ada pada diri Yesus Kristus. Mengenai konsep sifat ganda dari kehendak Kristus. Calvin berpegang pada doktrin yang dikenal sebagai Melalui karya-karyanya, yakni karya penafsiran . Calvin. Calvin. Calvin. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 dan Institutes of Christian Religion, terlihat dengan jelas bahwa Calvin menerima serta mengakui bahwa doktrin kebenaran yang tidak terbantahkan. Dyothelitisme30 mengajarkan bahwa Yesus Kristus, yang sepenuhnya ilahi dan sepenuhnya manusiawi, memiliki dua kehendak, yakni kehendak ilahi dan kehendak manusiawi. Doktrin ini menegaskan bahwa kehendak ilahi serta kehendak manusiawi Kristus bersatu secara sempurna dan selaras satu sama Sehubungan dengan pemahaman Calvin mengenai doktrin dyothelitisme, ia mengajarkan bahwa Yesus Kristus memiliki dua kehendak yang saling berkaitan, yaitu kehendak ilahi dan kehendak manusiawi. Kehendak ilahi Yesus Kristus adalah sama dengan kehendak Allah Bapa, sedangkan kehendak manusiawi-Nya adalah sama dengan kehendak manusia. Menurut Calvin, kedua kehendak ini tidak bertentangan satu sama lain, melainkan selalu berjalan sejalan dalam kesatuan pribadi Yesus Kristus. Dalam pandangan Calvin, kehendak manusiawi Yesus Kristus tidak pernah memberontak atau melawan kehendak ilahi-Nya. Pandangan John Calvin terhadap Dyotheletisme menggambarkan pandangan teologisnya yang khas terkait dengan natur dan kehendak Kristus. Menurut Calvin. Kristus memiliki dua kehendak yang John Calvin. Commentary on the Gospel According to John. Vol. 1, trans. William Pringle (Grand Rapids: Christian Classics Ethereal Library, 2. , 345Ae50. Dyothelitisme, berasal dari bahasa Yunani "dyo" yang berarti dua, dan "thelema" yang berarti kehendak, adalah pandangan theologis yang menyatakan bahwa Kristus memiliki dua kehendak, yaitu kehendak ilahi dan kehendak manusiawi. John Calvin, seorang Reformasi Protestan, pandangan khas terhadap doktrin ini, yang mencerminkan perdebatan theologis pada Calvin. Institutes of the Christian Religion. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 108 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf tidak bertentangan satu sama lain, melainkan saling mengikuti dan selaras. Kehendak Kristus manusiawi-Nya. Calvin menekankan bahwa kedua kehendak ini harus dipahami dalam konteks kesatuan pribadi Kristus, dan bukan sebagai dua pribadi yang terpisah. Pemahaman Calvin tentang natur ganda dari kehendak Kristus dipengaruhi oleh penafsirannya terhadap Kitab Suci, khususnya ayat-ayat yang menyoroti aspek-aspek ilahi dan aspek-aspek manusiawi dari natur Kristus. Ia percaya bahwa kehendak ilahi Kristus selalu Bapa, sementara kehendak manusiawi-Nya tunduk pada kehendak Bapa. Dalam dyothelitisme. Calvin merujuk kepada berbagai nats di dalam Alkitab. Salah satu referensi yang sering dikutip oleh Calvin dyothelitisme adalah Injil Matius 26:39 . Lukas 22:. , di mana Yesus berdoa di Taman Getsemani: "Ya BapaKu, jikalau mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku. tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki. " Dalam doa ini. Calvin melihat adanya dua kehendak yang berbeda, yaitu kehendak manusiawi Yesus yang menginginkan cawan berlalu, dan kehendak ilahi yang menyerahkan diri kepada kehendak Bapa. 32 Menurut John Calvin, nats ini dengan jelas menunjukkan kebodohan besar dari para bidat kuno, yang disebut sebagai kaum Monoteis, karena mereka membayangkan bahwa kehendak Kristus hanyalah satu dan sederhana. Kristus adalah Allah, maka Ia tidak menghendaki apa pun yang berbeda dengan Bapa. dan oleh karena itu, maka jiwa manusiawi-Nya memiliki kasih P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 sayang yang berbeda dengan kehendak Allah yang rahasia. Pendekatan Calvin dyotheletisme juga didasarkan pada konsep inkarnasi. Dalam inkarnasi. Firman Allah menjadi manusia dalam pribadi Yesus Kristus. Ini menciptakan hubungan unik antara kedua sifat Kristus, di mana kedua sifat ini tidak dipertahankan secara terpisah dalam pribadi Kristus. Calvin menggunakan teks-teks Alkitab yang menunjukkan kedua sifat ini, seperti Yohanes 1:14 yang menyatakan bahwa "firman itu menjadi manusia", untuk mendukung 34 Terkait dengan fakta mengenai inkarnasi Kristus. Calvin dengan tegas menyatakan bahwa Alkitab secara jelas menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah manusia sejati yang mengalami kehidupan manusia dengan segala kelemahan dan keterbatasannya (Ibrani 2:. 35 Namun, dalam waktu yang sama. Alkitab juga menegaskan bahwa Kristus adalah Allah yang mengambil rupa manusia (Yohanes 1:1, . , menunjukkan bahwa Dia memiliki sifat ilahi yang tak terbatas. Calvin juga menekankan peran Kristus yang berinkarnasi menjadi manusia untuk menggenapi peran-Nya sebagai Mediator. Di dalam inkarnasiNya. Kristus yang adalah Allah sejati dan manusia sejati, memenuhi syarat menjadi satu-satunya Pribadi yang dapat memediasi Allah dan manusia berdosa. Selanjutnya Calvin berpendapat bahwa hanya Dia yang sungguh-sungguh benar yang dapat berlaku sebagai Mediator. Hanya Allah yang dapat melakukannya dengan mengirimkan Anak-Nya yang tunggal sebagai Penebus. Sebagaimana yang dinyatakan Alkitab bahwa setiap karya Kristus adalah karya Pribadi-Nya, maka Calvin juga berpendapat bahwa Sutrisno and Kristanto. AuDyothelitisme Dalam Kristologi Yohanes Calvin. Ay Calvin. Institutes of the Christian Religion. Calvin. Calvin. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 109 John Calvin. Commentary on a Harmony of the Evangelists Matthew. Mark. Luke - Volume 3, trans. William Pringle (Grand Rapids: Baker Books, 2. , 220Ae25. Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf karya mediasi adalah karya inkarnasi Kristus, dan bukan merupakan karya kedua natur-Nya, akan tetapi merupakan karya Pribadi Kristus yang dilakukan melalui kedua natur-Nya. Bagi Calvin ke-ilahian Kristus sama krusialnya dengan kemanusiaan-Nya di dalam karya mediasi. Calvin juga menggunakan teksteks Alkitab yang menunjukkan kedua sifat Kristus bekerja bersama dalam persekutuan yang harmonis. Misalnya, dalam surat kepada jemaat di Filipi. Paulus menyatakan bahwa Kristus, "meskipun memiliki sifat Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah dipertahankan, tetapi mengosongkan diri-Nya sendiri, dengan mengambil rupa seorang hamba" (Filipi 2:6-. Ini menunjukkan bahwa kedua sifat Kristus, manusiawi dan ilahi, bekerja secara bersamaan dalam inkarnasi-Nya. Dengan landasan ini. Calvin dyotheletisme, atau dua kehendak Kristus, adalah bagian integral dari iman Kristen yang didasarkan pada pengajaran Alkitab. Menurutnya, pemahaman ini penting untuk memahami secara lebih baik kedalaman karya penyelamatan Kristus dan implikasinya bagi kehidupan orang percaya. Doktrin dyothelitisme memiliki pengaruh yang signifikan dalam pemikiran Calvin. Dalam pandangannya, doktrin ini memperkuat pemahaman akan kedaulatan Allah dan kehendakNya yang sempurna. Calvin berargumen bahwa melalui kedua kehendak dalam diri Yesus Kristus. Allah mengalami secara pribadi karya penyelamatan dan memberikan contoh yang sempurna bagi umat manusia. Selain itu. Calvin melihat doktrin dyothelitisme sebagai landasan bagi pemahaman doktrin penyelamatan dan kedaulatan Allah yang ditekankan Sutrisno and Kristanto. AuDyothelitisme Dalam Kristologi Yohanes Calvin. Ay Calvin. Institutes of the Christian Religion. Calvin. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 dalam teologi Reformed. Perspektif Calvin tentang natur ganda dari kehendak Kristus konsisten dengan tradisi Reformed yang lebih luas, yang menegaskan persatuan hipostatis dari natur ilahi dan natur manusiawi Kristus. Kesatuan ini dipandang sebagai sesuatu yang esensial bagi penggenapan keselamatan, karena ketaatan Kristus yang sempurna dalam kehendak ilahi dan kehendak insani memampukan Dia untuk menjadi pengantara antara Allah dan manusia. Analisis Theologis Untuk Calvin tentang dyothelitisme, penting untuk melihat konteks teologis dan sejarah Reformasi pada masanya. Sebagaimana kita ketahui bahwa teologi Reformed sejatinya merupakan buah dari gerakan Reformasi Protestan abad 16, dan reformasi tersebut terjadi dalam konteks sejarah dan budaya tertentu. Para penulis pada zaman itu menulis dalam konteks filosofis dan teologis Demikian pula halnya dengan John Calvin. Oleh karena itu, memahami beragam konteks terkait dengan gerakan Reformasi Protestan . akni konteks merupakan hal yang penting untuk memahami teologi Reformed. Sebagaimana kita ketahui bahwa Reformasi Protestan yang dimulai pada abad ke-16 merupakan respons terhadap berbagai praktik dan doktrin dalam Gereja Katolik Roma. Salah satu isu yang menjadi perhatian utama adalah pemahaman tentang Kristus dan sifatsifat-Nya. Sebelum Calvin, berbagai pemikir Kristen telah berdebat mengenai hubungan antara sifat ilahi dan Kristus. Konsekuensi dari debat ini sangat besar, karena pemahaman yang salah tentang Kristus keselamatan dan pengertian tentang Calvin. Calvin. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 110 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Allah. Dyothelitisme muncul sebagai monotelitisme, yang menyatakan bahwa Kristus hanya memiliki satu kehendak, yaitu kehendak ilahi. Monotelitisme dianggap tidak Kristus. Dalam konteks ini. Calvin berusaha untuk menegaskan pentingnya kedua kehendak dalam diri Kristus untuk ditawarkan kepada umat manusia. Pemikiran Calvin dyothelitisme tidak dapat dipisahkan dari konteks teologis yang lebih luas pada masa Reformasi. Pada saat itu, banyak teolog dan pemikir Kristen berusaha untuk kembali kepada ajaran Alkitab dan mengoreksi kesalahan-kesalahan yang telah berkembang dalam tradisi gereja. Calvin, dengan pendekatannya yang sistematis dan berbasis Alkitab, berusaha untuk memberikan pemahaman yang jelas dan konsisten tentang Kristus. Dalam konteks ini, dyothelitisme menjadi penting karena memberikan landasan bagi pemahaman yang lebih Calvin berusaha untuk menegaskan bahwa Kristus bukan hanya sekadar simbol atau representasi Allah, tetapi benar-benar Allah dan manusia Hal ini menjadi inti dari iman Kristen dan merupakan bagian penting dari pengajaran Reformasi. Calvin Kristus, sebagai Tuhan dan Juru Selamat, harus memiliki dua kehendak yang berfungsi secara harmonis. Dalam karyanya, "Institutes of the Christian Religion". Calvin menjelaskan bahwa kehendak ilahi dan kehendak manusiawi Kristus tidak bertentangan satu sama lain, melainkan saling melengkapi. Alister E. McGrath. Christian Theology: An Introduction. Richard A. Muller. Post Reformation Reformed Dogmatics. Vol 3. Logos Elec (Grand Rapids: Baker Academic, 2. , 120Ae25. Calvin. Institutes of the Christian Religion. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Kehendak ilahi Kristus adalah sumber dari semua kuasa dan otoritas, sementara manusiawi-Nya memungkinkan-Nya untuk mengalami keselamatan umat manusia. Calvin berargumen bahwa jika Kristus hanya memiliki satu kehendak, maka pengorbanan-Nya di kayu salib tidak akan memiliki makna yang sama. Kehendak manusiawi-Nya memungkinkan-Nya untuk benar-benar merasakan penderitaan dan kematian, sehingga pengorbanan-Nya menjadi sempurna dan cukup untuk menebus dosa umat manusia. Dalam hal ini. Calvin menekankan bahwa pemahaman yang benar tentang kedua kehendak Kristus adalah kunci untuk memahami Calvin percaya bahwa Kristus sebagai pribadi tunggal memiliki dua kehendak yang tidak bertentangan satu sama lain. Kehendak ilahi Kristus selaras dengan kehendak Bapa, sementara manusia-Nya sepenuhnya manusiawi. Pemikiran ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana Kristus, sebagai Allah dan manusia sejati, memenuhi perannya sebagai Juruselamat. Calvin kehendak ilahi Kristus adalah sempurna dan tidak dapat dibatasi oleh sifat manusiawi-Nya. Namun, kehendak manusia Kristus juga aktif dan bertanggung jawab dalam melakukan kehendak Bapa. Dalam pemikiran Calvin, kedua kehendak ini tidak bertentangan atau saling menggantikan satu sama lain, tetapi bekerja secara harmonis dalam satu pribadi Kristus. Calvin menolak pemisahan antara kehendak ilahi dan manusiawi di dalam diri Kristus, serta mengakui bahwa keduanya bekerja secara bersamaan untuk mencapai tujuan keselamatan. Dalam pandangan Calvin. Dyotheletisme Calvin. Calvin. Calvin. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 111 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf kesatuan dalam keanekaragaman. Pemikiran Calvin dyothelitisme mencerminkan upaya untuk memahami dan menjelaskan misteri inkarnasi Kristus dalam konteks teologis dan sejarah Reformasi. Dengan menegaskan bahwa Kristus memiliki dua Calvin kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman tentang keselamatan dan hubungan antara Allah dan manusia. Dalam menghadapi tantangan teologis Calvin mengartikulasikan doktrin yang tidak hanya relevan untuk zamannya, tetapi juga tetap berpengaruh dalam pemikiran Kristen hingga saat ini. Dyothelitisme, dalam pandangan Calvin, bukan hanya sekadar doktrin teologis, tetapi juga merupakan kunci untuk memahami kasih Allah pengorbanan Kristus bagi umat manusia. Pemikiran Calvin dyothelitisme memiliki relevansi yang kuat dalam teologi Kristen saat ini. Konsep ini membantu menjelaskan bagaimana Kristus, sebagai Allah dan Juruselamat yang sempurna. Doktrin ini kemanusiaan Kristus secara bersamaan, menghindari penekanan yang berlebihan pada salah satu aspek tersebut. Dualitas Kehendak dan Pengaruhnya Dalam doktrin dyothelitisme, keyakinan bahwa Yesus Kristus memiliki dua kehendak, yaitu kehendak ilahi dan kehendak manusia, yang bekerja bersama tanpa saling bertentangan. Doktrin ini merupakan salah satu upaya untuk menjelaskan bagaimana Yesus sebagai pribadi yang memiliki sifat ilahi dan sifat manusia dapat beroperasi dalam satu Calvin. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Dyothelitisme didasarkan pada keyakinan bahwa Kristus adalah pribadi tunggal dengan dua kodrat, yaitu kodrat ilahi dan kodrat manusia, yang tidak menyatu menjadi satu kodrat baru. Dalam kerangka ini. Kristus memiliki kehendak ilahi yang sama dengan Bapa, serta kehendak manusia yang sesuai dengan kodrat manusia-Nya. Kehendak ilahi Kristus tidak bertentangan dengan manusia-Nya, keduanya bekerja bersama dalam kesatuan yang sempurna. Dalam konteks ini, pengaruh dyothelitisme adalah bahwa keberadaan dua kehendak dalam diri Yesus memungkinkan-Nya untuk mengalami dan memahami pengalaman manusia secara penuh, sambil tetap memiliki kehendak ilahi yang sempurna. Dalam hal ini. Yesus dapat mengambil bagian dalam kehidupan manusia dan mengalami penderitaan, godaan, dan keterbatasan manusia, sambil tetap menjalankan kehendak ilahi-Nya. Dalam doktrin dyothelitisme, kehendak ilahi dan kehendak manusia Yesus tidak saling bertentangan atau bersaing, tetapi bekerja bersama untuk mencapai tujuan keselamatan manusia. Kehendak manusia Yesus tunduk pada kehendak ilahi-Nya, sehingga tidak ada konflik antara keduanya. Dalam hal ini, dualitas kehendak memungkinkan Yesus untuk menjadi teladan yang sempurna bagi umat manusia, sambil tetap mempertahankan keilahian-Nya. Dalam doktrin dyothelitisme. Thomas G. Weinandy. Jesus: The Man Who Is God (San Francisco: Ignatius Press, 2. , 45Ae50. John Meyendorff. Christ in Eastern Christian Thought (New York: St. VladimirAos Seminary Press, 2. , 112Ae15. Gerald OAoCollins. Christology: A Biblical. Historical, and Systematic Study of Jesus (Oxford: Oxford University Press, 2. , 78Ae82. Richard A. Norris Jr. The Christological Controversy (Massachusetts: Harvard University Press, n. ), 95Ae100. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 112 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf dualitas kehendak ini penting karena mengakui kedua sifat Yesus sebagai manusia dan Allah. Dengan memiliki dua kehendak yang bekerja bersama. Yesus dapat menjadi juru selamat yang sempurna dan memenuhi tugas-Nya untuk menebus umat manusia dari dosa Implikasi Theologis dan Praktis Bertolak dari pembahasan di atas, maka dapat dikatakan di sini bahwa John Calvin, sebagai salah satu tokoh reformasi yang berpengaruh, telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman dan penerapan doktrin dyotheletisme. Fakta telah berbicara bahwa keyakinan terhadap doktrin dyotheletisme sejatinya telah mempengaruhi cara gereja Reformed pastoral, dan pentingnya hubungan yang erat dengan Kristus sebagai Kepala Oleh sebab itu, pada kesempatan ini kita akan membahas implikasi teologis dan praktis dari doktrin dyotheletisme dalam perspektif Calvin, serta bagaimana pemikirannya dapat diterapkan dalam kehidupan Kristen Implikasi Theologis : Kristologi yang Seimbang Salah satu implikasi teologis utama dari doktrin dyotheletisme adalah penegasan tentang sifat Kristus yang Calvin menekankan bahwa untuk memahami keselamatan, kita harus mengakui bahwa Kristus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya Dalam pandangan Calvin, kedua kehendak ini tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi. Kehendak ilahi dan manusiawi Kristus bekerja sama dalam rencana keselamatan, yang menunjukkan bahwa Allah berinisiatif dalam menyelamatkan umat manusia John Anthony McGuckin. The Eastern Orthodox Church (New Haven: Yale University Press, 2. , 123Ae26. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 melalui inkarnasi. Keyakinan ini sekaligus memperkuat dasar teologis Kristologi Calvin yang kokoh. Penegasan tentang Keselamatan Dalam dyotheletisme memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana Kristus dapat menjadi perantara antara Allah dan manusia. Calvin mengajarkan Kristus pengorbanan yang efektif penebusan dosa manusia. Calvin berargumen bahwa kehendak manusiawi Kristus memungkinkan-Nya mengalami penderitaan dan kematian, sementara kehendak ilahi-Nya menjamin bahwa pengorbanan tersebut cukup untuk menebus dosa umat manusia. Dengan keselamatan yang sempurna melalui Kristus. Kedaulatan Allah Pandangan Calvin Dyotheletisme menegaskan kedaulatan Allah dalam penyelamatan manusia. Implikasi teologisnya adalah bahwa Calvinisme menekankan penyelamatan bukanlah hasil dari kehendak manusia, tetapi semata-mata anugerah Allah. Pandangan ini mempengaruhi teologi Calvin kedaulatan Allah dalam pemilihan orang Hubungan antara Kehendak dan Kebebasan Calvin juga menyoroti hubungan antara kehendak dan kebebasan dalam Dalam Kristus kehendak tersebut tidak terpisah dari kehendak ilahi. Ini menunjukkan bahwa kebebasan sejati terletak dalam ketaatan Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 113 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf kepada kehendak Allah. Dalam hal ini. Calvin mengajak umat Kristen untuk memahami bahwa ketaatan kepada Allah adalah bentuk kebebasan yang sejati. Implikasi Praktis: Teladan Sehari-hari Kehidupan Implikasi praktis dari doktrin dyotheletisme dalam perspektif Calvin adalah penekanan pada teladan hidup Kristus. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk mengikuti jejak Kristus yang menunjukkan ketaatan kepada kehendak Bapa. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti kita harus berusaha untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab mengandalkan kekuatan Roh Kudus untuk melaksanakan kehendak Allah. Penerimaan Penderitaan Calvin pengalaman manusia, dan Kristus, melalui kehendak manusiawi-Nya, telah mengalami penderitaan yang sama. Dalam pandangan Calvin, penderitaan Kristus solidaritas-Nya persoalan yang dihadapi oleh umat Implikasi pandangan ini adalah bahwa manusia dapat menemukan penghiburan dan harapan dalam penderitaan mereka, karena Kristus sendiri telah mengalami penderitaan yang sama. Pemahaman bahwa Yesus memiliki kehendak penghiburan dan harapan kepada umat Kristen. Yesus memahami penderitaan dan godaan yang kita alami sebagai manusia, karena Dia sendiri telah mengalami hal itu. Pemahaman bahwa Yesus memiliki kehendak manusiawi penderitaan dan kesulitan yang kita Yesus sendiri mengalami P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 penderitaan dan kesulitan, sehingga Dia dapat mengerti dan memberikan penghiburan kepada kita dalam saat-saat Kenyataan ini tentu saja dapat memberikan penghiburan bagi orang Kristen yang menghadapi kesulitan. Dengan memahami bahwa Kristus memahami penderitaan kita, kita dapat menemukan kekuatan dan harapan dalam situasi yang sulit. Kemenangan atas Dosa Calvin mengajarkan bahwa Yesus Kristus tidak pernah berdosa dan mengalahkan dosa melalui kehendakNya Implikasi praktisnya adalah bahwa umat Kristen dapat mencari pertolongan dan kekuatan dalam Kristus untuk melawan godaan dan dosa dalam hidup mereka. Komunitas dan Kebersamaan Doktrin Kristen membangun komunitas yang saling Dalam konteks gereja, kita diajarkan untuk saling menguatkan dan mendorong satu sama lain dalam ketaatan kepada kehendak Allah. Calvin menekankan pentingnya persekutuan dalam iman, di mana setiap anggota tubuh Kristus berkontribusi untuk saling Doktrin dyotheletisme perspektif John Calvin memberikan pemahaman yang mendalam tentang sifat Kristus dan implikasinya bagi kehidupan Kristen. Implikasi teologisnya kehendak ilahi dan manusiawi, serta pentingnya keselamatan melalui Kristus. Sementara itu, implikasi praktisnya Kristen meneladani Kristus dalam kehidupan sehari-hari, menerima penderitaan, dan membangun komunitas yang saling Dengan Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 114 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf pemikiran Calvin tentang dyotheletisme tetap relevan dan dapat diterapkan dalam konteks kehidupan Kristen kontemporer. KESIMPULAN Doktrin menegaskan bahwa Yesus Kristus memiliki dua kehendak, yaitu kehendak ilahi dan kehendak manusiawi, yang Pemahaman ini sangat penting dalam iman Kristen karena berkaitan erat dengan doktrin keselamatan: melalui inkarnasi. Kristus sungguh-sungguh menjadi manusia dengan kehendak manusiawi yang taat kepada kehendak Bapa, sehingga karya penebusan-Nya sah sebagai tindakan manusia sejati yang sekaligus ilahi. Pemahaman yang benar tentang dyothelitisme membantu umat Kristen mengerti identitas Yesus Kristus sebagai Allah sejati dan manusia sejati, serta memperteguh keyakinan akan dikerjakan-Nya. Dalam konteks Reformasi. John Calvin terhadap pengembangan doktrin ini dengan menekankan kesatuan pribadi Kristus yang mengintegrasikan kedua kehendak-Nya untuk karya keselamatan. Pandangan Calvin memperkaya teologi Kristologi, tetapi juga berdampak pada pemahaman dan praktik iman gereja Reformasi. Dengan mempelajari pandangan Calvin tentang dyothelitisme, kita dapat menelusuri Kristen memahami secara lebih mendalam karya penebusan Kristus dalam sejarah gereja. DAFTAR PUSTAKA