Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 11-17 Pengukuran Keandalan Alat Keruk Kapal Isap Produksi Timah 7 Menggunakan Pendekatan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Iqbal Fadhilsyah*. Indra Feriadi. Erwansyah Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung. Sungailiat *E-mail iqbalfadhilsyah28@gmail. Abstract Article history: Received: 21-11-2025 Accepted: 18-01-2026 Published: 12-03-2026 Keywords: dredging equipment. equipment effectiveness. Production Suction Dredger (KIP) are the primary equipment for offshore tin mining, operating with a hydraulic system to drive the dredge, significantly impacting production This study aims to measure and analyze the reliability of the dredge at KIP Timah 7 using a partial approach to the Overall Equipment Effectiveness (OEE) method, focusing on two main components: availability and performance. Data were obtained from operational reports for the 2023Ae2024 period, covering downtime, uptime, and monthly The data will be processed monthly to obtain availability and performance values, then combined to calculate OEE as an indicator of work Effectiveness. The results show that availability fluctuates between 81. 30% and 100%, while performance remains constant at 100% because actual operating time meets the ideal target. The OEE value varies following changes in availability each month. The disruption analysis identified the soil pump cardan shaft, soil pump, and press pipe as the most frequently damaged components, increasing downtime. Therefore, scheduled maintenance is required on these critical components to improve work efficiency while minimizing potential production Pendahuluan Kapal Isap Produksi (KIP) merupakan peralatan utama dalam kegiatan penambangan timah laut di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Salah satu teknologi utama yang digunakan dalam kegiatan tersebut adalah Kapal Isap Produksi (KIP) yang berfungsi menambang bijih timah dari dasar laut. Keandalan kinerja alat keruk pada KIP menjadi faktor kunci dalam menjaga kontinuitas produksi karena alat ini berfungsi langsung dalam proses pemotongan dan pengambilan material dasar laut. Tingginya tingkat downtime pada alat keruk tidak hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga berdampak pada efisiensi sistem penambangan secara keseluruhan. Berbeda dengan alat tambang darat, alat keruk KIP beroperasi pada lingkungan laut yang dinamis dan dipengaruhi oleh gelombang, arus, serta beban kerja mekanik dan hidrolik yang fluktuatif. Kondisi komponen transmisi dan pompa lebih rentan mengalami keausan dan kerusakan berulang sehingga meningkatkan risiko downtime Oleh karena itu, diperlukan metode evaluasi kinerja yang mampu mengidentifikasi secara kuantitatif tingkat keandalan alat serta sumber utama kehilangan waktu operasi. Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) banyak digunakan sebagai indikator efektivitas peralatan produksi karena mampu mengintegrasikan aspek ketersediaan dan alat. Sejumlah menunjukkan bahwa OEE efektif dalam mengidentifikasi penyebab utama downtime dan menjadi dasar perumusan strategi perawatan preventif pada peralatan tambang. Kajian menunjukkan bahwa penerapan OEE efektif dalam mengidentifikasi penyebab utama downtime pada alat gali-muat di pertambangan batubara dan menjadi dasar perumusan strategi preventif. Kajian mengungkapkan bahwa rendahnya nilai availability pada peralatan tambang timah laut komponen hidrolik, sehingga dibutuhkan sistem monitoring berbasis data downtime untuk mengoptimalkan keandalan alat. Sementara itu, studi juga menegaskan bahwa analisis OEE tidak hanya bermanfaat dalam menilai performa teknis peralatan, tetapi juga berperan sebagai indikator efisiensi manajemen produksi pada laut. Namun demikian, sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada alat tambang darat atau mesin produksi industri. Sementara, kajian Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 11-17 empiris yang secara spesifik menganalisis alat keruk KIP timah dengan karakteristik operasi laut masih sangat terbatas. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan pendekatan OEE parsial yang downtime untuk mengidentifikasi komponen kritis alat keruk Kapal Isap Produksi timah laut. Pendekatan serupa telah diterapkan pada alat gali-muat tambang batubara dan mesin produksi industri, namun belum banyak dikaji pada alat keruk KIP yang beroperasi di lingkungan laut dengan karakteristik beban dinamis dan sistem hidrolik kompleks. Penelitian ini tidak hanya menyajikan nilai OEE, tetapi juga mengaitkan hasil perhitungan tersebut dengan kondisi operasional laut serta implikasinya terhadap sistem kerja alat keruk secara teknis, sehingga memperluas penerapan OEE pada konteks penambangan timah laut yang masih terbatas. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas dan keandalan alat keruk KIP Timah 7 menggunakan pendekatan Overall Equipment Effectiveness (OEE), serta menganalisis secara teknis komponen penyebab utama downtime sebagai dasar perumusan strategi perawatan preventif yang lebih tepat Metode Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) parsial yang performance. Komponen quality tidak dianalisis karena produk hasil penambangan timah laut berupa material curah . ulk materia. tanpa parameter kualitas produk individual yang dapat diukur secara kuantitatif. Pendekatan ini dipilih untuk menilai efektivitas kerja alat keruk dalam mendukung produksi sekaligus mengidentifikasi faktor penyebab penurunan kinerja akibat downtime selama periode operasi. Tahapan penelitian dilakukan secara sistematis mulai dari pengumpulan data operasional, pengolahan data OEE, hingga analisis hasil dan penyusunan rekomendasi perawatan. Alur kegiatan penelitian ditunjukkan pada Gambar 1, yang betujuan agar kegiatan lebih terarah, terkontrol, dan sesuai dengan target penelitian. Gambar 1. Diagram alir penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada alat keruk (Cutter suctio. di Kapal Isap Produksi (KIP) Timah 7 yang beroperasi di perairan Bangka, di bawah pengelolaan PT Timah Tbk. Data operasional yang dianalisis mencakup periode Januari 2023 hingga Desember 2024. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari dokumentasi internal perusahaan, meliputi laporan harian jam kerja kapal dan alat keruk. Catatan downtime harian dan mingguan. Laporan histori perawatan . aintenance lo. , dan rekap gangguan mekanis yang mencatat tanggal kejadian, durasi perbaikan, dan komponen yang mengalami kerusakan. Validitas data dijaga dengan melakukan verifikasi silang . ross-chec. antara laporan operator, teknisi perawatan, dan dokumen Data yang tidak konsisten atau tidak lengkap dieliminasi untuk menjaga keakuratan hasil perhitungan. Variabel Penelitian Variabel utama yang digunakan dalam penelitian ini meliputi ditunjukkan dalam Tabel Pada penelitian ini, selain tidak tersedianya data Standby/Idle yang terekomendasi. praktik operasional di KIP tidak dikenal adanya waktu Standby/Idle, dalam arti alat tersedia namun tidak dioperasikan. Dengan pola operasi berlangsung selama 24 jam per hari, setiap alat keruk yang berada dalam kondisi siap operasi Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 11-17 akan langsung digunakan untuk kegiatan Dengan demikian, tidak terdapat alokasi waktu Standby/Idle yang signifikan dalam sistem operasi tersebut. Oleh karena itu, waktu Standby/Idle diabaikan dalam perhitugan waktu operasi ideal dan diasumsikan bernilai Selain tidak tercatat secara terpisah dalam laporan operasional perusahaan. Oleh karena itu, perhitungan performance dilakukan dengan asumsi bahwa seluruh waktu non-downtime merupakan waktu operasi efektif. Asumsi ini menyebabkan nilai performance bernilai 100% dan menjadi keterbatasan penelitian yang perlu diperhatikan dalam interpretasi hasil. Variabel Total waktu operasi (Total Hour. Waktu aktual (Uptim. Waktu henti (Downtim. Satuan Jam Waktu operasi ideal (Standby/ Idl. Jam Jam Jam Keterangan Waktu total alat keruk Durasi alat benar-benar bekerja secara aktua Durasi Waktu kondisi siap namun karena faktor nonteknis, yaitu 744 jam per bulan . jam x 31 Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan dengan Microsoft Excel perhitungan, tabulasi, dan penyusunan grafik tren operasional. Analisis dilakukan secara parsial dengan cara menghitung dua komponen OEE, yaitu availability dan performance berikut. yaycycaycnycoycaycaycnycoycnycyc= ycOycyycycnycoyceycNycuycycayco yaycuycycyc ycu 100% . Nilai ini menunjukkan tingkat kesiapan alat dalam beroperasi dengan mengabaikan waktu henti akibat gangguan teknis atau ycEyceycyceycuycycoycaycuycayce = ycNycuycycayco EaycuycycycOeyccycuycycuycycnycoyceOeycycycaycuyccycayc/ycnyccycoyce ycycyycycnycoyce ycu 100% ycCyayaycyycaycycycnycayco = yaycycaycnycoycaycaycnycoycnycycyycEyceycyceycuycycoycaycuycayce . Nilai OEE parsial digunakan untuk menggambarkan efektivitas keseluruhan alat keruk tanpa memperhitungkan aspek kualitas Tabel 1. Variabel penelitian No. alat tidak beroperasi akibat kerusakan atau perbaikan, dan Standby/Idle yaitu waktu alat tersedia tetapi tidak digunakan. Karena data Standby tidak tersedia, maka nilai performance mendekati 100%. Nilai OEE parsial dihitung sebagai hasil perkalian availability dan . Dimana. Total hours adalah total jam kalender dalam periode tertentu, uptime yaitu waktu operasi aktual alat. Downtime yaitu waktu Analisis Data Analisis data dilakukan dalam dua tahap yaitu analisis kuantitatif dan analisis kualitatif Analisis kuantitatif dimana nilai availability dan performance dihitung untuk setiap bulan selama periode 2023Ae2024 guna melihat tren efektivitas operasional alat keruk. Hasilnya divisualisasikan dalam grafik tren untuk menilai kestabilan kinerja alat . tabil, meningkat, atau menuru. Sedangkan analisis kualitatif teknis difokuskan pada identifikasi sumber downtime dengan mencatat jenis komponen yang rusak, tanggal kejadian, dan durasi perbaikan. Selanjutnya dilakukan analisis Pareto . untuk menentukan komponen penyebab utama downtime. Hasil analisis ini pemeliharaan prioritas yang dapat mengurangi frekuensi kerusakan dan meningkatkan efisiensi kerja alat. Hasil akhir analisis berupa evaluasi tingkat efektivitas alat keruk KIP Timah 7 berdasarkan nilai OEE parsial dan identifikasi komponen kritis yang paling mempengaruhi kinerja Hubungan Metode dengan Tujuan Penelitian Metode penelitian ini dirancang untuk mengetahui seberapa besar tingkat keandalan dan efektivitas alat keruk KIP Timah 7 berdasarkan nilai availability dan performance dan komponen mekanis apa saja yang menjadi penyebab utama downtime dan penurunan efektivitas alat. Dengan rancangan metode ini, hasil analisis diharapkan dapat memberikan dasar ilmiah dalam menyusun strategi perawatan Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 11-17 preventif dan peningkatan keandalan sistem kerja KIP Timah 7 secara berkelanjutan. Hasil dan Pembahasan Data Downtime Pengumpulan data penelitian difokuskan pada alat keruk (Cutter suctio. Kapal Isap Produksi (KIP) Timah 7. Data diperoleh secara tidak langsung melalui dokumentasi laporan operasional perusahaan untuk periode Januari 2023 hingga Desember 2024. Informasi yang dikumpulkan mencakup total jam kalender, waktu beroperasi . , waktu henti . , serta jumlah gangguan bulanan yang bersumber dari catatan jam jalan KIP Timah 7. Data tersebut disajikan dalam tabel berisi tanggal kejadian, komponen rusak, dan lama downtime. Selanjutnya, data direkap dalam bentuk ringkasan bulanan berisi total uptime, downtime, jam kalender, dan jumlah gangguan yang kemudian disajikan pada Tabel 2 dan Tabel dengan 78 kejadian, meskipun durasi gangguannya lebih rendah dibandingkan block bearing cutter maupun pompa tanah. Adapun block bearing cutter mencatat waktu henti tertinggi, yaitu 356 jam dari 18 kejadian. Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi kerusakan tidak selalu sebanding dengan dampak downtime yang Temuan ini menjadi acuan awal dalam menentukan komponen kritis yang ketersediaan alat keruk pada KIP. Tabel 2. Data downtime, uptime dan gangguan No. Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Downtime Uptime Total hours Total . Tabel 3. Data downtime, uptime dan gangguan No. Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Downtime Uptime Total hours Total . Selanjutnya, data gangguan dianalisis berdasarkan komponen penyebab kerusakan untuk mengetahui komponen yang paling sering bermasalah dan menyumbang downtime Hasil rekapitulasi ditampilkan pada Gambar 2. sebagai dasar analisis penyebab utama downtime. Berdasarkan data pada Gambar 2. komponen cardan shaft pompa tanah tercatat sebagai penyumbang gangguan terbanyak Gambar 2. Grafik gangguan komponen Hasil Pengolahan Data Setelah data downtime dan jam operasi alat keruk KIP Timah 7 diklasifikasikan, dilakukan perhitungan nilai availability dan performance dengan rumus modifikasi dari metode Overall Equipment Effectiveness (OEE). Perhitungan dilakukan bulanan sepanjang tahun 2023Ae2024 dengan acuan total jam kalender sesuai bulan berjalan . Ae744 ja. dengan menggunakan persamaan . dan persamaan . Terdapat beberapa variabel dalam persamaan tersebut, seperti Total Hours yaitu total jam kalender dalam periode tertentu . isalnya 720 jam/bula. Uptime yaitu waktu operasi aktual alat. Downtime yaitu waktu alat tidak beroperasi akibat kerusakan/perbaikan, dan Standby/Idle yaitu waktu alat tersedia tetapi tidak digunakan. Hal ini menjadi catatan penting agar pencatatan downtime di masa depan juga disertai data Standby/Idle untuk memperoleh hasil yang lebih akurat. Data availability dan performance disajikan secara rinci dalam Tabel Hasil perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) menunjukkan bahwa fluktuasi nilai OEE alat keruk KIP Timah 7 Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 11-17 sepenuhnya dipengaruhi oleh nilai availability, sedangkan performance tetap berada pada nilai Hal ini mengindikasikan bahwa alat mampu bekerja sesuai kapasitas ideal ketika beroperasi, namun belum mencerminkan potensi kehilangan kecepatan akibat faktor operasional non-teknis seperti Standby atau Idle time yang tidak terdokumentasi. Pada persamaan di atas, variabel availability dan performance diperoleh dari hasil perhitungan sebelumnya berdasarkan data uptime, downtime, dan jam kalender operasional. Kedua variabel ini menjadi dasar dalam menentukan efektivitas kerja alat keruk KIP Timah 7 setiap bulan. Interpretasi hasil, digunakan standar OEE, yaitu nilai Ou 85% dikategorikan world class . elas duni. , nilai antara 6085% dianggap cukup baik dan masih dapat ditingkatkan, sedangkan nilai < 60% menunjukkan bahwa efisiensi operasi masih rendah dan memerlukan banyak Tabel 4. Data availability dan performance Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total Availabil Perfor 90,1% 88,8% 85,6% 100,0% 100,0% 99,4% 87,6% 84,7% 92,3% 90,5% 95,4% 82,3% 1096,70% 1200% Availa Performa 91,3% 81,3% 94,8% 99,5% 87,8% 87,8% 95,2% 95,3% 97,2% 90,3% 89,9% 90,3% 1100,70% 1200% Analisis dan Tinjauan Akhir terhadap Kinerja Alat Keruk Hasil perhitungan overall equipment effectiveness ditunjukkan dalam Tabel 5. Berdasarkan Tabel 5. nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) alat keruk KIP Timah 7 selama 2023Ae2024 menunjukkan kinerja yang cukup baik. Pada 2023, capaian tertinggi sebesar 100% terjadi pada AprilAeMei, menandakan alat beroperasi optimal tanpa downtime, sedangkan terendah 82,30% tercatat pada Desember akibat meningkatnya gangguan. Tahun 2024 juga relatif stabil dengan kisaran 81,3099,50%, di mana nilai tertinggi terjadi ada April . ,50%) dan terendah pada Februari . ,30%). Tabel 5. Data overall equipment effectiveness Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total Overall Equipment Effectiveness (OEE) 90,1% 91,3% 88,8% 81,3% 85,6% 94,8% 100,0% 99,5% 100,0% 87,8% 99,4% 87,8% 87,6% 95,2% 84,7% 95,3% 92,3% 97,2% 90,5% 90,3% 95,4% 89,9% 82,3% 90,3% 1096,70% 1100,7% Berdasarkan hasil perhitungan nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE), alat keruk pada Kapal Isap Produksi (KIP) Timah 7 menunjukkan kinerja yang cukup baik sepanjang periode 2023Ae2024. Nilai OEE bulanan berada pada kisaran 81,30% hingga 100% yang berarti efektivitas alat secara umum melampaui batas kategori world class sebesar 85%. Fluktuasi nilai OEE disebabkan oleh perubahan availability, sedangkan performance tetap konstan di angka 100%, menandakan bahwa alat mampu beroperasi optimal ketika tersedia. Analisis Pareto downtime komponen diperlihatkan pada Gambar 3. Dari Gambar 3 menunjukkan bahwa cardan shaft pompa tanah, pompa tanah, dan pipa press merupakan komponen dengan kontribusi downtime Secara teknis, tingginya gangguan pada cardan shaft berkaitan dengan beban torsi tinggi dan ketidaksejajaran poros . akibat getaran serta pergerakan kapal selama operasi penambangan lau. Kerusakan pada pompa tanah dan pipa press mengindikasikan tingginya tekanan fluida serta abrasi material yang dipompa secara kontinu. Kondisi operasi laut seperti gelombang dan arus menyebabkan beban dinamis pada sistem keruk yang mempercepat keausan bearing dan sambungan transmisi. Gangguan pada alat keruk berdampak langsung pada penambangan karena alat keruk merupakan subsistem kritis dalam proses produksi timah Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 11-17 dan keandalan operasional alat keruk KIP timah Gambar 3. Grafik Pareto komponen Temuan penelitian ini sejalan dengan Octova & Mahesa yang menunjukkan bahwa metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) efektif dalam mengidentifikasi penyebab utama downtime pada peralatan tambang. , serta memperkuat hasil Anugerah dkk. menyatakan bahwa frekuensi kerusakan sistem hidrolik berkontribusi signifikan terhadap penurunan nilai availability pada penambangan timah laut. Selain itu, penelitian ini melengkapi studi yang menegaskan OEE sebagai indikator efisiensi manajemen produksi, dengan memberikan kontribusi empiris yang lebih spesifik melalui analisis hubungan antara availability dan frekuensi downtime komponen alat keruk KIP Timah 7. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dengan mengisi research gap berupa keterbatasan kajian empiris mengenai evaluasi keandalan alat keruk Kapal Isap Produksi (KIP) pada lingkungan penambangan laut yang memiliki karakteristik beban dinamis dan sistem hidrolik kompleks. Melalui penerapan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) yang dikombinasikan dengan analisis downtime komponen kritis, penelitian ini menunjukkan bahwa fluktuasi nilai OEE terutama dipengaruhi oleh availability, dengan sistem transmisi dan hidrolik sebagai penyumbang utama downtime akibat kondisi operasi laut. Temuan ini tidak hanya memperluas penerapan OEE yang sebelumnya dominan pada alat tambang darat, tetapi juga menyediakan dasar empiris dan teknis bagi perumusan strategi perawatan preventif yang lebih terarah untuk meningkatkan efektivitas Kesimpulan Berdasarkan analisis data operasional alat keruk Kapal Isap Produksi (KIP) Timah 7 periode 2023Ae2024, metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) terbukti efektif dalam mengevaluasi keandalan peralatan tambang Nilai OEE bulanan berada pada kisaran 82,30% hingga 100%, dengan capaian rata-rata tahunan melampaui standar world class . %), yang menunjukkan bahwa efektivitas kerja alat tergolong baik. Fluktuasi OEE terutama dipengaruhi oleh availability akibat downtime, sementara performance tetap berada pada nilai 100% karena keterbatasan pencatatan data Standby/idle. Analisis mengidentifikasi cardan shaft pompa tanah, pipa press, dan pompa tanah sebagai komponen kritis penyebab utama waktu henti, sehingga perawatan preventif terfokus pada komponen tersebut menjadi kunci dalam menjaga keandalan operasional. Ucapan Terima Kasih Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam pelaksanaan penelitian ini. Kontribusi tersebut sangat berarti dalam menyelesaikan penelitian dan penyusunan artikel ini. Daftar Pustaka