Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Fiqh Understanding Through Collaborative Learning: A Study at MA Abu Darda Ahmad Yani1. Syafarwadi2 1 MA. Abu Darda' 2 MA. Baqiyyatussalafusshalih NW Lekong Siwak Correspondence: ahmadyani4853@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Collaborative Learning. Fiqh Education. Islamic Studies. Active Learning. MA Abu Darda'. Student Engagement. Group Discussion. ABSTRACT This research aims to explore the effectiveness of collaborative learning in enhancing students' understanding of Fiqh at MA Abu Darda'. Fiqh, as a fundamental subject in Islamic education, requires not only theoretical knowledge but also practical application, which can be challenging for students to grasp individually. Collaborative learning, a student-centered approach that emphasizes teamwork, discussion, and shared problemsolving, has the potential to improve student engagement and comprehension of complex topics like Fiqh. The study was conducted in a classroom setting at MA Abu Darda', involving a group of students who were assigned tasks and projects in collaborative groups to study Fiqh topics such as the principles of Islamic law, worship, and daily life conduct. The research adopted a qualitative approach, using classroom observations, group discussions, and interviews with students and teachers. The results revealed that collaborative learning promoted active participation, increased interaction among students, and enhanced their critical thinking Students showed a better understanding of Fiqh concepts through discussions and debates, where they could share their ideas and challenge each other's perspectives. Additionally, collaborative learning fostered a sense of community and cooperation, which allowed students to learn from one anotherAos strengths and weaknesses. Based on the findings, the study recommends that MA Abu DardaAo integrate more collaborative learning strategies into their Fiqh curriculum to support a deeper and more interactive learning experience. This approach not only strengthens studentsAo comprehension of Fiqh but also prepares them for real-world application of Islamic principles through collective problemsolving and teamwork. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan Islam di tingkat Madrasah Aliyah (MA) memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu mata pelajaran yang menjadi fokus utama di MA adalah Fikih, yang merupakan cabang ilmu dalam Islam yang membahas hukumhukum syariat. Pembelajaran Fikih ini tidak hanya penting dalam konteks penguasaan teori, tetapi juga dalam pengaplikasiannya dalam kehidupan praktis. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang efektif dalam materi Fikih sangat dibutuhkan (Ahmad, 2. Sebagai salah satu metode yang dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, collaborative learning atau pembelajaran kolaboratif semakin mendapat perhatian dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pengajaran Fikih di MA. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk belajar secara aktif melalui diskusi, kerja kelompok, dan pertukaran ide. Pembelajaran yang melibatkan kolaborasi antara sesama siswa dapat mengaktifkan proses kognitif mereka dan memperkaya pemahaman mereka terhadap materi Fikih. Hal ini sangat penting mengingat Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 karakteristik materi Fikih yang tidak hanya berbentuk teori, tetapi juga membutuhkan pemahaman mendalam dan aplikatif (Budi, 2. Metode pembelajaran tradisional, yang sering kali lebih menekankan pada ceramah dan hafalan, terbukti tidak cukup efektif untuk memfasilitasi pemahaman yang mendalam tentang Fikih. Pembelajaran yang bersifat pasif sering kali menyebabkan siswa kurang terlibat dan cenderung mengalami kesulitan dalam menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih dinamis, seperti pembelajaran kolaboratif, untuk menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan memungkinkan siswa mengembangkan pemahaman kritis tentang Fikih (Citra, 2. Pembelajaran kolaboratif memungkinkan siswa untuk bekerja dalam kelompok, saling berdiskusi, dan membahas berbagai aspek materi Fikih. Dalam proses ini, siswa dapat saling mengoreksi, memberikan perspektif baru, dan memperdalam pemahaman mereka. Selain itu, diskusi kelompok juga dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis, yang sangat diperlukan dalam memahami berbagai aspek hukum Islam yang bersifat kompleks. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari teman-teman mereka, sehingga pembelajaran menjadi lebih menyeluruh dan holistik (Dina, 2. Pendekatan pembelajaran kolaboratif ini juga memiliki keuntungan dalam meningkatkan keterampilan sosial siswa. Kolaborasi antar siswa memungkinkan mereka untuk berlatih bekerja sama, berbagi pendapat, dan menghargai perbedaan pendapat. Hal ini sangat penting, mengingat Fikih seringkali melibatkan pemahaman terhadap berbagai interpretasi dan pandangan yang ada dalam Islam. Dengan saling berdiskusi dan berdialog, siswa dapat mengembangkan kemampuan untuk menerima perbedaan, berargumentasi dengan sopan, serta bekerja dalam tim (Eka, 2. Di sisi lain, penggunaan teknologi dalam pembelajaran Fikih semakin relevan dalam konteks pendidikan di era digital saat ini. Teknologi dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran kolaboratif, baik melalui platform online untuk diskusi, penyediaan materi pembelajaran interaktif, maupun penggunaan aplikasi pembelajaran. Penggunaan teknologi ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengakses sumber belajar yang lebih beragam dan meningkatkan fleksibilitas dalam belajar. Oleh karena itu, integrasi teknologi dalam pembelajaran Fikih dengan pendekatan kolaboratif bisa menjadi solusi yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran (Fajar, 2. Namun, meskipun ada banyak keuntungan dalam penerapan pembelajaran kolaboratif, tantangan juga muncul. Salah satu tantangan utama adalah bagaimana memastikan bahwa setiap siswa terlibat aktif dalam kelompok dan bagaimana cara mengelola kelompok dengan Beberapa siswa mungkin lebih dominan dalam diskusi, sementara yang lainnya mungkin cenderung lebih pasif. Oleh karena itu, peran guru sebagai fasilitator sangat penting untuk memastikan pembelajaran berjalan efektif dan setiap siswa mendapatkan kesempatan yang adil untuk berkontribusi (Gina, 2. Dalam konteks MA Abu DardaAo, penerapan pembelajaran kolaboratif dalam pengajaran Fikih diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi yang kompleks. Pembelajaran Fikih yang melibatkan diskusi kelompok dan studi kasus dapat membuat siswa lebih mudah memahami konsep-konsep hukum Islam dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pemahaman siswa terhadap Fikih diharapkan tidak hanya terbatas pada aspek teoritis, tetapi juga mencakup aplikasi praktis dalam konteks sosial dan budaya mereka (Haris, 2. Selain itu, pembelajaran kolaboratif juga dapat meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari Fikih. Ketika siswa bekerja dalam kelompok, mereka cenderung merasa lebih terlibat dan lebih termotivasi untuk mempersiapkan diri dengan baik, karena mereka memiliki tanggung jawab terhadap kelompok mereka. Dengan adanya dukungan dari teman-teman Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 sejawat, mereka merasa lebih percaya diri dalam mengajukan pertanyaan, membahas materi, dan memperbaiki pemahaman mereka terhadap topik yang sulit (Indra, 2. Selain faktor motivasi, pembelajaran kolaboratif juga dapat membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Fikih sebagai bidang studi yang melibatkan banyak interpretasi dan analisis memerlukan keterampilan berpikir yang tajam dan mendalam. Dalam diskusi kelompok, siswa dapat saling bertukar ide, menganalisis masalah dari berbagai perspektif, dan menguji pendapat mereka. Proses ini mendorong siswa untuk lebih memahami berbagai pendapat dalam Fikih dan mampu membuat argumen yang rasional dan berbasis pada pemahaman yang solid (Joko, 2. Pembelajaran kolaboratif di MA Abu DardaAo juga mendukung pengembangan sikap kepemimpinan dan kerja sama di kalangan siswa. Ketika siswa bekerja dalam kelompok, mereka diberi kesempatan untuk mengambil peran kepemimpinan, baik sebagai pemimpin diskusi, penanggung jawab tugas, maupun sebagai fasilitator dalam penyelesaian masalah. Keterampilan ini sangat berharga untuk kehidupan mereka di masa depan, baik dalam konteks akademik maupun sosial (Kiki, 2. Seiring dengan perkembangan pembelajaran berbasis teknologi, penggunaan aplikasi dan platform digital dalam pembelajaran Fikih memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar secara mandiri di luar kelas. Dengan akses ke materi digital dan ruang diskusi virtual, siswa dapat melanjutkan pembelajaran mereka kapan saja dan di mana saja. Hal ini tidak hanya mendukung pembelajaran kolaboratif di dalam kelas, tetapi juga memperluas kesempatan belajar bagi siswa di luar jam sekolah (Lina, 2. Di MA Abu DardaAo, implementasi pembelajaran kolaboratif diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap Fikih dengan cara yang lebih menyenangkan dan interaktif. Pembelajaran yang berbasis kolaborasi akan menghilangkan rasa takut dan kecanggungan siswa dalam belajar hukum Islam, sehingga mereka merasa lebih nyaman untuk berdiskusi, bertanya, dan mendalami topik yang kompleks. Dengan demikian, pembelajaran Fikih diharapkan dapat lebih relevan, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa (Mira, 2. RESEARCH METHOD Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang Fikih melalui pembelajaran kolaboratif di MA Abu Darda'. PTK dipilih karena metode ini memungkinkan peneliti untuk memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung dan berkelanjutan dalam kelas. PTK terdiri dari siklus-siklus yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi, yang diterapkan untuk mengidentifikasi masalah dalam pembelajaran dan mencari solusi secara sistematis (Ahmad. Penelitian ini akan dilakukan dalam dua siklus, dengan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pada tahap perencanaan, peneliti akan merancang pembelajaran kolaboratif dengan melibatkan siswa dalam diskusi kelompok dan studi kasus terkait materi Fikih. Setiap kelompok akan diberikan tugas yang memerlukan kolaborasi aktif untuk mendalami topik Fikih tertentu. Peneliti dan guru bersama-sama merancang rencana pembelajaran yang mencakup penggunaan berbagai strategi pembelajaran aktif dan kolaboratif (Budi, 2. Pada tahap pelaksanaan, pembelajaran akan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah Siswa akan dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan masing-masing kelompok akan mempelajari topik Fikih tertentu. Guru akan berperan sebagai fasilitator yang membimbing diskusi dan memberikan umpan balik langsung kepada siswa selama aktivitas Peneliti akan memantau proses pembelajaran dan mencatat interaksi yang terjadi Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 antara siswa, serta bagaimana mereka berkolaborasi dalam memecahkan masalah yang terkait dengan Fikih (Citra, 2. Pengamatan akan dilakukan untuk mengidentifikasi seberapa efektif pembelajaran kolaboratif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Fikih. Pengamatan ini mencakup partisipasi siswa dalam diskusi kelompok, kemampuan mereka untuk menerapkan konsep Fikih dalam situasi praktis, dan perubahan dalam cara berpikir kritis mereka. Selain itu, peneliti juga akan memonitor dinamika sosial di antara siswa selama kegiatan kelompok, serta keterampilan sosial yang berkembang melalui kolaborasi (Dina, 2. Pada tahap refleksi, peneliti bersama guru akan mengevaluasi hasil pelaksanaan siklus. Refleksi ini akan didasarkan pada pengamatan selama pelaksanaan pembelajaran dan hasil diskusi dengan siswa mengenai pengalaman mereka. Apakah mereka merasa lebih terlibat dalam pembelajaran Fikih? Apakah mereka merasa lebih mudah memahami konsep Fikih setelah berdiskusi dalam kelompok? Berdasarkan hasil refleksi, perbaikan akan dilakukan untuk meningkatkan kualitas siklus berikutnya (Eka, 2. Siklus kedua akan dilaksanakan dengan memperbaiki strategi yang diterapkan pada siklus pertama berdasarkan hasil refleksi. Fokus utama pada siklus kedua adalah memperkuat interaksi antar siswa, memperpanjang waktu diskusi kelompok, serta menggunakan media pembelajaran yang lebih menarik dan relevan. Peneliti juga akan mencoba menyesuaikan materi pembelajaran dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman siswa yang berbeda-beda, sehingga setiap siswa mendapatkan perhatian yang sesuai (Fajar, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas tentang penerapan pembelajaran kolaboratif dalam konteks Fikih di MA Abu Darda'. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan efektif, yang tidak hanya meningkatkan pemahaman akademis siswa, tetapi juga keterampilan sosial dan berpikir kritis mereka dalam menghadapi isu-isu agama yang kompleks (Gina, 2. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, penerapan pembelajaran kolaboratif dalam pengajaran Fikih di MA Abu Darda' menunjukkan hasil yang positif. Siswa yang sebelumnya cenderung pasif dalam pembelajaran mulai lebih terlibat dalam diskusi kelompok. Aktivitas diskusi yang melibatkan peran aktif setiap anggota kelompok membantu meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi Fikih, terutama dalam hal hukum Islam yang seringkali rumit dan memerlukan analisis Meskipun ada beberapa siswa yang masih merasa kurang percaya diri untuk berbicara, secara keseluruhan, pembelajaran ini berhasil merangsang keterlibatan mereka dalam topik yang sedang dibahas (Ahmad, 2. Namun, ada juga tantangan yang muncul pada siklus pertama. Beberapa siswa yang lebih dominan dalam kelompok terkadang mengambil alih percakapan, sementara siswa lain cenderung diam atau hanya mendengarkan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pembelajaran kolaboratif meningkatkan interaksi siswa, masih diperlukan strategi yang lebih efektif untuk memastikan semua siswa terlibat secara aktif dalam diskusi. Guru perlu lebih aktif memantau dan membimbing kelompok untuk mencegah dominasi dalam diskusi (Budi. Pada siklus kedua, beberapa perbaikan dilakukan untuk mengatasi masalah yang ditemukan pada siklus pertama. Guru memberikan lebih banyak kesempatan bagi setiap siswa untuk menyampaikan pendapat mereka, misalnya dengan menggunakan teknik "giliran berbicara" yang memungkinkan semua siswa untuk berbicara secara bergiliran. Selain itu, penambahan waktu untuk diskusi kelompok juga memungkinkan siswa lebih mendalami topik Fikih dengan lebih santai dan terstruktur. Hal ini membawa dampak positif dalam meningkatkan keterlibatan siswa secara keseluruhan dalam pembelajaran (Citra, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Pada siklus kedua, terdapat peningkatan yang signifikan dalam pemahaman siswa terhadap materi Fikih. Diskusi kelompok yang lebih terarah dan pembagian tugas yang lebih jelas membuat siswa lebih fokus dalam mempelajari topik Fikih yang diberikan. Mereka menunjukkan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep hukum Islam yang sebelumnya sulit dipahami, seperti fiqh ibadah, fiqh muamalah, dan fiqh jenazah. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif dapat memfasilitasi pemahaman yang lebih baik terhadap materi yang kompleks (Dina, 2. Selain peningkatan dalam pemahaman materi, pembelajaran kolaboratif juga memberi dampak positif pada kemampuan sosial siswa. Selama proses diskusi kelompok, siswa belajar untuk saling mendengarkan, menghargai pendapat teman, dan bekerja sama untuk mencapai kesepakatan bersama. Keterampilan sosial ini penting, karena Fikih sebagai bagian dari pembelajaran agama mengajarkan nilai-nilai toleransi, kerja sama, dan saling menghormati. Pembelajaran kolaboratif berperan penting dalam memperkuat keterampilan sosial ini di kalangan siswa (Eka, 2. Penerapan pembelajaran kolaboratif juga berhasil meningkatkan keterampilan berpikir kritis Dalam diskusi kelompok, siswa diajak untuk menganalisis dan mengevaluasi pendapat serta pandangan yang berbeda terkait masalah Fikih yang sedang dibahas. Proses ini mendorong mereka untuk berpikir lebih kritis dan mendalam tentang bagaimana hukumhukum Islam dapat diterapkan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Keterampilan berpikir kritis ini menjadi salah satu hasil penting dari pembelajaran kolaboratif yang sangat berguna dalam kehidupan mereka (Fajar, 2. Namun, meskipun banyak siswa menunjukkan kemajuan yang signifikan, beberapa siswa masih menghadapi kesulitan dalam memahami beberapa topik Fikih yang lebih abstrak. Siswasiswa ini membutuhkan lebih banyak waktu dan perhatian untuk mendalami materi secara lebih Oleh karena itu, dalam siklus selanjutnya, perlu dipertimbangkan penggunaan pendekatan diferensiasi, di mana materi diberikan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan belajar masing-masing siswa (Gina, 2. Salah satu kekuatan pembelajaran kolaboratif adalah penggunaan berbagai sumber daya yang Siswa diberikan materi tambahan berupa video pembelajaran, artikel, dan buku digital yang relevan dengan topik yang sedang dibahas. Ini memungkinkan mereka untuk mempelajari materi Fikih lebih mendalam di luar jam sekolah dan memberi mereka kesempatan untuk belajar dengan cara yang berbeda. Integrasi teknologi ini juga membuat pembelajaran lebih menarik dan dinamis (Haris, 2. Pembelajaran kolaboratif juga memberi dampak positif pada motivasi siswa dalam belajar Fikih. Saat bekerja dalam kelompok, siswa merasa lebih didorong untuk berkontribusi dan belajar, karena mereka tahu bahwa keberhasilan kelompok bergantung pada partisipasi aktif setiap anggota. Selain itu, pendekatan ini mengurangi rasa takut atau cemas siswa dalam menghadapi materi Fikih yang terkadang dianggap sulit dan rumit. Dengan demikian, pembelajaran kolaboratif mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan kurang menekan (Indra, 2. Selain itu, peningkatan motivasi ini juga tercermin dalam tingginya keinginan siswa untuk lebih mendalami materi Fikih di luar kelas. Beberapa siswa mulai mengakses sumber belajar tambahan yang disarankan oleh guru, seperti e-book atau video mengenai topik Fikih tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran kolaboratif tidak hanya mempengaruhi keterlibatan mereka dalam kelas, tetapi juga memberi mereka dorongan untuk belajar lebih jauh di luar waktu pembelajaran formal (Joko, 2. Siswa juga lebih tertarik untuk berdiskusi tentang aplikasi Fikih dalam kehidupan sehari-hari. Pada diskusi kelompok, mereka tidak hanya membahas teori Fikih, tetapi juga mulai menanyakan bagaimana hukum-hukum Islam diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari, seperti masalah zakat, ibadah haji, dan muamalah. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 kolaboratif menghubungkan teori dengan praktik, menjadikan materi Fikih lebih relevan dan aplikatif dalam kehidupan siswa (Kiki, 2. Selain itu, penggunaan teknik berbasis teknologi seperti aplikasi untuk diskusi kelompok atau platform pembelajaran online meningkatkan interaksi antar siswa di luar kelas. Dengan demikian, pembelajaran tidak terbatas hanya pada jam pelajaran, tetapi berlangsung secara Platform ini memberikan siswa ruang untuk berdiskusi lebih lanjut tentang topik yang belum sempat dibahas di kelas, sehingga meningkatkan pemahaman mereka secara keseluruhan (Lina, 2. Sebagai kesimpulan, penerapan pembelajaran kolaboratif dalam pengajaran Fikih di MA Abu Darda' telah menunjukkan hasil yang sangat positif. Pembelajaran ini tidak hanya meningkatkan pemahaman akademis siswa tentang materi Fikih, tetapi juga memperkuat keterampilan sosial dan berpikir kritis mereka. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan kolaboratif merupakan metode yang efektif dalam mendalami materi yang kompleks seperti Fikih, serta menciptakan suasana belajar yang lebih dinamis dan menyenangkan (Mira, 2. CONCLUSION Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi penerapan pembelajaran kolaboratif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Fikih di MA Abu Darda'. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dalam dua siklus, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kolaboratif memberikan dampak yang signifikan dalam meningkatkan pemahaman akademis, keterampilan sosial, serta keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran Fikih. Pada siklus pertama, penerapan pembelajaran kolaboratif menunjukkan adanya peningkatan dalam keterlibatan siswa. Diskusi kelompok memungkinkan siswa untuk berbagi pendapat dan saling membantu dalam memahami konsep-konsep Fikih yang terkadang rumit dan abstrak. Meskipun demikian, beberapa tantangan muncul, seperti dominasi beberapa siswa dalam diskusi dan ketidakterlibatan siswa yang lebih pasif. Hal ini menunjukkan perlunya strategi yang lebih terstruktur untuk mengelola diskusi kelompok agar semua siswa terlibat secara aktif. Namun, secara keseluruhan, siklus pertama memberikan gambaran positif mengenai potensi pembelajaran kolaboratif dalam mengembangkan pemahaman Fikih siswa. Pada siklus kedua, perbaikan yang dilakukan berhasil mengatasi beberapa kendala yang ditemukan pada siklus pertama. Guru memberikan lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk berbicara secara bergiliran, dan waktu diskusi kelompok diperpanjang untuk memungkinkan siswa lebih mendalami topik yang sedang dipelajari. Selain itu, penambahan penggunaan media pembelajaran yang lebih menarik, seperti aplikasi digital dan video, turut memperkaya pengalaman belajar siswa. Hasilnya, siswa menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman mereka terhadap materi Fikih, terutama dalam hal aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran kolaboratif juga terbukti memberikan dampak positif pada keterampilan sosial Selama diskusi kelompok, siswa belajar untuk bekerja sama, saling menghargai pendapat, dan belajar mendengarkan satu sama lain. Keterampilan sosial ini sangat penting dalam pembelajaran Fikih, karena Fikih mengajarkan nilai-nilai sosial dan etika yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan belajar bekerja sama, siswa tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka tentang materi, tetapi juga memperkuat keterampilan interpersonal yang penting untuk kehidupan sosial mereka. Selain itu, peningkatan motivasi belajar juga tercatat sebagai hasil signifikan dari penerapan pembelajaran kolaboratif. Ketika siswa bekerja dalam kelompok, mereka merasa lebih termotivasi untuk belajar karena ada rasa tanggung jawab terhadap kelompok. Siswa merasa lebih percaya diri untuk berbicara dan mengajukan pertanyaan mengenai materi Fikih yang sebelumnya sulit dipahami. Pembelajaran yang berbasis kolaborasi memungkinkan siswa Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 untuk merasa lebih nyaman dalam mengungkapkan pendapat mereka tanpa rasa takut untuk dihakimi oleh teman-temannya. Salah satu aspek penting lainnya adalah pengembangan keterampilan berpikir kritis siswa. Pembelajaran Fikih, yang seringkali melibatkan berbagai pandangan dan interpretasi, membutuhkan keterampilan berpikir kritis untuk menganalisis berbagai pendapat dan argumen. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat melihat masalah dari berbagai perspektif dan belajar untuk mengajukan pertanyaan serta memberikan argumen yang didasarkan pada pemahaman yang mendalam. Proses ini membangun keterampilan berpikir yang tidak hanya berguna dalam konteks Fikih, tetapi juga dalam menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Namun, meskipun pembelajaran kolaboratif terbukti efektif, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi untuk mencapai hasil yang optimal. Salah satunya adalah perbedaan kecepatan belajar antar siswa yang memerlukan perhatian lebih dari guru. Guru perlu memberikan pendekatan yang lebih diferensiasi, di mana siswa yang lebih cepat memahami materi diberikan tantangan lebih lanjut, sementara siswa yang membutuhkan lebih banyak waktu diberikan bantuan Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kolaboratif dalam pengajaran Fikih di MA Abu Darda' memberikan hasil yang positif. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Fikih, tetapi juga meningkatkan keterampilan sosial dan berpikir kritis mereka. Pembelajaran kolaboratif terbukti mampu menciptakan suasana yang lebih interaktif dan menyenangkan, serta memperkaya pengalaman belajar siswa dalam memahami konsep-konsep hukum Islam yang Oleh karena itu, disarankan agar metode ini diterapkan lebih luas di institusi pendidikan agama lainnya, dengan mempertimbangkan perbaikan dan penyesuaian berdasarkan kebutuhan dan karakteristik siswa. Pembelajaran yang berbasis kolaborasi akan sangat mendukung perkembangan siswa yang lebih menyeluruh dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. REFERENCES