E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. Pengaruh Literasi Keuangan Terhadap Pola Konsumsi Petani Jagung di Kabupaten Sumenep Puteri Nanda Nuriyantika Agustin1 . Dian Eswin Wijayanti2 . Moh. Wahyudi Priyanto3 1,2,3 Program Studi Agribisnis. Universitas Trunojoyo Madura. Bangkalan. Indonesia Abstrak Tingkat literasi keuangan yang rendah dapat mendorong perilaku konsumtif sehingga edukasi mengenai literasi keuangan sangat dibutuhkan untuk menekan perilaku komsumtif tersebut. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian yaitu untuk megetahui pengaruh literasi keuangan terhadap pola konsumsi petani jagung di Kabupaten Sumenep. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan alat analisis regresi linear berganda. Penelitian dilakukan dengan sampel 80 petani yang ada di Kabupaten Sumenep. Pengumpulan data dilakukan secara langsung dengan kuesioner sehingga data yang digunakan merupakan data primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan memiliki pengaruh pada pola konsumsi petani jagung namun perlu ada upaya peningkatan literasi keuangan agar petani lebih paham mengatur keuangannya sehingga pola konsumsi petani menjadi lebih baik. Penelitian ini memiliki implikasi untuk meningkatkan kesejahteraan petani dalam mengatur keuangan dan pola konsumsi yang Selain bermanfaat bagi petani, penelitian ini juga bermanfaat bagi mahasiswa sebagai referensi dalam pengerjaan tugas dan peneliti yang hendak melakukan penelitian Kata Kunci: Literasi Keuangan. Pola Konsumsi. Petani Jagung. Sumenep Abstract A low level of financial literacy can encourage consumptive behavior, so education regarding financial literacy is needed to suppress this consumptive behavior. The aim of the research is to find out the influence of financial literacy on the consumption patterns of corn farmers in Sumenep Regency. The method used is quantitative with multiple linear regression analysis tools. The research was conducted with a sample of 80 farmers in Sumenep Regency. Data collection was carried out directly with a questionnaire so that the data used was primary data. The research results show that financial literacy has an influence on the consumption patterns of corn farmers, but there needs to be efforts to increase financial literacy so that farmers understand better managing their finances so that farmers' consumption patterns become better. This research has implications for improving farmers' welfare in managing finances and good consumption patterns. Apart from being useful for farmers, this research is also useful for students as a reference in carrying out assignments and researchers who want to carry out related research. Keywords: Financial Literacy. Consumption Patterns. Corn Farmers. Sumenep E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. Pendahuluan Ketahanan finansial adalah ketersediaan keuangan yang dimiliki untuk bertahan dan pulih dari masalah keuangan dalam waktu tertentu (Fitriasari et al. , 2. Ketahanan finansial rumah tangga petani di Indonesia masih terbilang kurang baik karena rendahnya pengetahuan para petani terkait pengelolaan keuangan. Menurut Palupi & Rotikan . pengetahuan mengenai merencanakan dan mencatat keuangan rumah tangga masih belum dipahami dan dilakukan karena petani belum pernah mendapatkan materi atau informasi mengenai hal tersebut. Petani tidak melakukan pencatatan pengeluaran sehingga mereka tidak tahu jika usahataninya memperoleh keuntungan atau kerugian. Petani juga tidak membedakan pengeluaran untuk kegiatan bertani maupun rumah tangga karena semua penghasilan yang didapat langsung dijadikan satu. Kebanyakan petani juga bertani hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok dan mengkonsumsi hasil taninya (Hapsari et al. , 2. Kurangnya pengetahuan petani terkait pengelolaan keuangan ini terjadi karena banyak faktor seperti tingkat pendidikan petani yang rendah sehingga petani tidak memahami pentingnya pengelolaan keuangan yang baik. Masih banyak petani yang tidak mengunakan smartphone dan terhubung dengan internet membuat petani tidak dapat mencari informasi mengenai pengetahuan keuangan tersebuat. Hal ini membuktikan jika ketahanan finansial yang rendah terjadi karena tingkat literasi keuangan petani juga masih rendah. Ketahanan finansial yang rendah ini dapat ditingkatkan dengan pengetahuan mengenai literasi keuangan agar setiap rumah tangga petani mampu mengelola keuangannya sendiri dengan baik. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022 indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 49,68% yang artinya tingkat literasi keuangan masih terbilang rendah. Tingkat literasi keuangan yang rendah akan berpengaruh pada pengelolaan keuangan baik untuk memenuhi keinginan, tabungan maupun pola konsumsi sebagai kebutuhan. Petani yang memiliki tingkat literasi keuangan yang baik menyesuaikan pola konsumsinya dengan pendapatan yang dimiliki. Sedangkan yang memiliki tingkat literasinya rendah, kurang bisa memperhitungkan keuangan yang dimiliki dengan pola konsumsinya sehingga kadang pengeluran lebih besar dari pemasukan. Hal ini terjadi karena besarnya keinginan manusia yang melebihi kapasitas pendapatan dari dirinya sendiri. Sejalan dengan pernyataan tersebut Sekita et al . berpendapat bahwa rendahnya tingkat literasi E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. keuangan akan berdampak pada tingkat kesejahteraan yang rendah karena keputusan yang buruk dalam mengelola keuangan. Lindiawate & Shahreza . juga berpendapat bahwa tingkat literasi keuangan yang rendah mendorong perilaku konsumtif karena ketidakpahaman Peran menyeimbangkan pendapatan dan pengeluaran yang dilakukan. Tingkat literasi keuangan petani jagung di Kabupaten Sumenep terbilang masih cukup rendah. Para petani beranggapan bahwa hasil panen yang didapat untuk memenuhi kebutuhan pokok sendiri karena lahan yang dimiliki hanya sedikit. Tidak seperti para petani di negara-negara maju yang bisa mengelola lahan berhektar-hektar untuk satu petani sehingga kondisi pertaniannya produktif meskipun dengan sedikit pekerja (Mubaroq & Risky, 2. Fokus utama petani di Sumenep dalam melakukan pertaniannya yaitu untuk memenuhi kebutuhan pokok baru setelah itu untuk dijual. Hal ini terjadi karena kebanyakan petani mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok kedua setelah beras dimana jagung tersebut merupakan hasil dari pertaniannya sendiri. Masyarakat Sumenep juga memiliki kebiasaan memadukan beras dan jagung untuk dikonsumsi sebagai makanan utama (Khairul Anam et al. , 2. Sejalan dengan pernyataan tersebut Wati et al. menyatakan bahwa komoditas penting yang ada di Kabupaten Sumenep yaitu padi, tembakau, kacang-kacangan dan jagung. Jagung menjadi komoditas terpenting karena sebagian besar masyarakat mengkonsumsi jagung sebagai pangan pokok bersama beras. Pentingnya komoditas jagung di Kabupaten Sumenep membuat banyak petani memilih untuk menanam jagung. Berdasarkan data dari (BPS, 2. produksi jagung 361. 737 Ton, (BPS, 2. produksi sebesar 378. 091,99 Ton, dan (BPS, 2. produksi jagung 447. 143,13 Ton. Selama 3 tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan produksi jagung di Kabupaten Sumenep. Peningkatan tersebut akan berdampak pada meningkatnya produksi jagung serta pendapatan petani. Meningkatnya pendapatan akan berdampak pada pola konsumsi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Seperti yang diketahui bahwa keberagaman pola konsumsi dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni tingkat pendapatan, selera atau keinginan, harga barang, tingkat pendidikan, jumlah keluarga dan lingkungan (Basri & Seto, 2. Hal itu sejalan dengan pendapat Nainggolan . yang mengatakan bahwa semakin berkembangnya zaman serta adanya peningkatan teknologi akan dapat mempengaruhi pola konsumsi E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. Oleh karena itu, petani perlu memahami dan mampu menerapkan literasi keuangan agar tercapainya pengeluaran dan pemasukan yang seimbang dan terstruktur. Pengelolaan keuangan yang baik akan meningkatkan kesejahteraan petani sehingga ketahanan finansial dapat tercapai. Sehingga tujuan dari penelitian ini juga dapat dicapai yaitu untuk mengetahui tingkat literasi petani jagung dang pengaruhnya terhadap pola konsumsi petani jagung di Kabupaten Sumenep. Beberapa artikel yang membahas mengenai pengaruh literasi keuangan terhadap pengelolaan keuangan (Anwar SA, 2022. Napitupulu et al. , 2021. Arianti, 2. dalam artikel-artikel tersebut menjelaskan bahwa literasi keuangan berpengaruh dalam pengelolaan keuangan yang Beberapa artikel lain membahas pengaruh literasi keuangan terhadap pola konsumsi ibu rumah tangga, mahasiswa, dan pekerja (Puspita, 2022. Prasetyaningsih, 2019. Nainggolan. Sedangkan artikel yang membahas pengaruh literasi keuangan terhadap pola konsumsi petani masih terbilang sedikit yaitu penelitian dari (Bingawati et al. , 2. yang membahas yang menyatakan bahwa pendapatan, pola konsumsi, dan pola menabung memeliki hubungan yang saling memberi pengaruh. Belum ada penelitian yang meneliti tentang literasi keuangan petani pangan di daerah Madura dan pengaruh literasi keuangan terhadap pola konsumsi petani Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan guna melihat literasi keuangan petani pangan khususnya jagung dan pengaruhnya pada pola konsumsi petani jagung Desa GulukGuluk. Penelitian ini memiliki implikasi untuk meningkatkan kesejahteraan petani khususnya petani jagung dalam mengatur keuangan dan pola konsumsi yang baik. Selain bermanfaat bagi petani, penelitian ini juga bermanfaat bagi mahasiswa sebagai referensi dalam pengerjaan tugas dan peneliti yang hendak melakukan penelitian terkait. Metode Penentuan sampel pada penelitian ini yaitu menggunakan simple random sampling pada populasi petani jagung yang terdiri dari 80 orang petani di Desa Bragung Guluk-Guluk dengan pemilihan responden secara acak. Data yang digunakan merupakan data primer yang diperoleh dari menyebar kuesioner dan wawancara langsung kepada 80 responden di Desa Bragung. Data dikumpulkan dengan cara menyebar kuesioner secara random kepada 80 responden pada bulan September 2023. Membagikan kuisioner pada petani sambil melakukan wawancara untuk memperjelas pernyataan yang tertulis yang ada di kuisioner. Wawancara merupakan proses E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. memperoleh informasi dengan cara tanya jawab langsung dengan responden. Kegiatan wawancara ini dilakukan kepada responden yaitu petani jagung dengan mengajukan pertanyaan mengenai usahatani jagung, pola konsumsi, dan pengetahuan literasi keuangan Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan analisis regresi linear Regresi linear berganda dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independent terhadap variabel dependen. Dalam regresi linear berganda jumlah variabel bebas lebih dari satu (Ningsih & Dukalang, 2. Analisis regresi linear berganda dikatakan valid jika asumsi klasik terpenuhi. Asumsi klasik yang harus diuji untuk mengetahui kelayakan model regresi yang digunakan yaitu uji normalitas, uji heteroskedastisitas, dan uji multikolinearitas. Uji mengetahui bahwa terdistribusi normal. Uji normalitas dengan kriteria jika Kolmogorov Smirnov > 0. 05 maka data normal dan sebaliknya. Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan tujuan mengetahui adanya perbedaan varian residual. Dalam uji ini, apabila hasilnya sig > 0,05 maka tidak terdapat gejala Uji multikolinearitas menguji adanya hubungan korelasi antara variabel bebas yang dapat dilihat dari nilai variance inflation factor (VIF) dan nilai tolerance. Jika VIF < 10 dan tolerance > 0,1 maka tidak terjadi Multikolinearitas. Data akan dianalisis dengan regresi linear berganda sebagi berikut: b6X6. Keterangan: = Pola Konsumsi = Usia = Hewan Ternak = Tanaman Pekarangan = Pengetahuan Keuangan = Perilaku Keuangan = Sikap Keuangan = Konstanta b1-b5 = Koefiien Regresi E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. Hasil dan Pembahasan Lokasi penelitian berada di Desa Bragung Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep. Desa Bragung dipilih karena menurut data dari Dinas Pertanian Sumenep, 2022 desa ini merupakan daerah penghasil jagung terbesar yang ada di Kabupaten Sumenep. Desa Bragung berjarak cukup jauh dengan Kabupaten Sumenep. Luas wilayah Desa Bragung sebesar 6. 286 Km2 (Yaqin, 2. Responden yaitu 80 petani jagung yang ada di Desa Bragung Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep. Gambar 1. Peta Desa Bragung Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep Petani yang di Desa Bragung memilih menanam jagung dengan varietas hibrida karena dinilai lebih menguntungkan daripada jagung varietas lokal. Jagung hibrida lebih besar dan lebih mahal daripada jagung lokal sehingga lebih menguntungkan bagi petani. Selain itu, juga terdapat beberapa petani yang menanam tembakau jenis prancak 95. Petani berpendapat bahwa tembakau merupakan daun emas karena haraganya yang sangat mahal. Petani juga menanan padi untuk tujuan dikonsumsi sendiri. Hasil panen dari padi tidak dijual karena petani menggunakannya untuk kebutuhan pokok. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan petani di Desa Bragung sesuai dengan gambar 2. 13% 6% SMA SMP Gambar 2. Tingkat Pendidikan Petani E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. Tingkat pendidikan terbanyak petani jagung di Desa Bragung adalah SD sebanyak 43%. Banyak petani yang lebih memilih untuk tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena masalah ekonomi. Selain faktor ekonomi mereka juga beranggapan jika bertani maka sudah pasti mendapat penghasilan daripada harus sekolah dan menambah beban pengeluaran. Selain pendidikan, terdapat juga faktor usia para petani di Desa Bragung dapat dilihat pada gambar 3. 8% 5% Gambar 3. Usia Petani Usia petani yang ada di Kabupaten Sumenep rata-rata berada pada kisaran 30-60 tahun. Para petani terbiasa bekerja ke sawah sejak masih kecih karena pertanian yang dilakukan dan lahan yang dimiliki bersifat turun-temurun. Usia petani didominasi kisaran 30-60 tahun karena petani yang berusia 60 tahun ke atas tenaganya sudah kurang produktif oleh faktor usia sedangkan petani muda yang berusia 20 tahun sangat sedikit. Ini terjadi karena para genersi muda enggan melakukan kegiatan pertanian. Biasanya mereka memilih melakukan pekerjaan lain seperti Setelah mengetahui karakteristik petani maka selanjutnya ditampilkan tabel indikator dari pengetahuan keuangan, perilaku keuangan, dan sikap keuangan yang ditunjukan oleh tabel 1. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. Tabel 1. Presentase Indikator-Indikator Literasi Kauangan Sangat Tidak Variabel Litersi Setuju Sangat Tidak Setuju Ragu (R) Setuju Keuangan LK (S) Setuju (STS) (SS) (TS) Pengetahuan Keuangan LK 1 LK 2 LK 3 LK 4 LK 5 LK 6 LK 7 LK 8 LK 9 Perilaku Keuangan LK 10 LK 11 LK 12 Lk 13 LK 14 Sikap Keuangan LK 15 LK 16 LK 17 LK 18 LK 19 Dari tabel di atas terlihat bahwa variabel pengetahuan keuangan memiliki 9 indikator yaitu LK 1 tentang pemanfaatan layanan keuangan. LK 2 mengelola kuangan dengan menyimpannya di bank. LK 3 menggunakan ATM untuk menarik uang. LK 4 memahami aturan bank ketika akan melakukan pinjaman. LK 5 mengetahui resiko meminjam uang di bank. LK 6 menghitun suku bunga. LK 7 memahami maksud anggaran pribadi. LK 8 menyisihkan pendapatan untuk ditabung, dan LK 9 menghindari sikap konsumtif. Pada pilihan sangat setuju poin tertinggi terdapat pada LK 8 dengan 20% dimana petani menyisihkan uang mereka untuk ditabung secara rutin yang akan digunakan membeli kebutuhan mendesak dan poin terendah didapat pada LK 4. LK 5, serta LK 6 dengan nilai 0% hal ini terjadi karena petani tidak pernah dan tidak tertarik untuk meminjam uang di bank sehingga mereka tidak mengetahui aturan peminjaman di bank, resiko peminjaman, dan menghitung suku bunga dari uang pinjaman di Keterangan setuju terdapat indikator yang memperoleh poin tertinggi yaitu LK 8 dengan poin 63% yang menyatakan bahwa petani menyisihkan uang untuk ditabung namun tidak dilakukan secara rutin karena petani menabung jika ada uang lebih saja dan nilai terendah yaitu E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. 1% pada LK 4 karena petani sama sekali tidak mengetahui aturan peminjaman uang di bank disebabkan petani tidak mencari informasi mengenai hal tersebut. Pada keterangan ragu poin tertinggi diperoleh LK 9 sebesar 35% karena petani masih bingung jika mereka sudah hemat atau malah sebaliknya disebabkan tidak adanya pencatatan keuangan yang jelas dan LK 4. LK 5. LK 6 memiliki poin terendah 0% karena petani tidak ingin meminjam uang di bank dengan alasan tidak ingin mengambil resiko jika tidak bisa membayar. Keterangan tidak setuju dengan poin tertinggi 25% pada LK 5 yang artinya petani tidak setuju meminjam uang di bank karena menghindari kemungkinan ada resiko dan nilai terendah LK 2 dengan presentase 9% karena petani merasa mereka sudah memanfaatkan layanan keuangan dengan baik. Terakhir pada keterangan sangat tidak setuju poin tertinggi diperoleh LK 4 dengan nilai 75% petani mengatakan bahwa tidak ingin mengetahui aturan peminjaman uang di bank dikarenakan petani tidak tertarik meminjam uang dengan kemungkinan adanya resiko pada syarat yang harus dipenuhi dan poin terendah 0% pada LK 9 petani berpendapat bahwa berhemat itu penting agar keuangan tetap cukup sehingga tidak perlu melakukan pinjaman uang. Pada variabel perilaku keuangan terdapat lima indikator yaitu LK 10 menabung secara teratur. LK 11 membelanjakan uangan sesuai anggaran. LK 12 mengelola keuangan pribadi. LK 13 menabung secara rutin, dan LK 14 tepat waktu saat membayar hutang. Pada keterangan sangat setuju poin tertinggi sebesar 26% yaitu LK 12 dengan alasan pengelolaan keuangan yang dimaksud adalah memegang uang sendiri tanpa campur tangan orang lain untuk kebutuhan yang harus dibeli dan nilai terendah 0% pada LK 11 serta LK 14 karena petani tidak pernah membatasi uang untuk dibelanjakan jika memang perlu maka langsung beli tanpa ada batasan pengaluaran dan petani juga tidak memiliki hutang sehingga tidak ada tagihan yang harus Setuju memiliki poin tertinggi sebesar 68% pada LK 12 karena petani beranggapan bahwa keuangan harus dikelola secara pribadi dan poin terendah sebesar 6% pada LK 14 kerena petani tidak memiliki hutang sehingga tidak punya kewajiban untuk membayarnya. Selanjutnya yaitu keterangan ragu dengan poin tertinggi sebesar 44% LK 11 petani mengatakan masih ragu mengenai keuangannya dibelanjakan sesuai anggaran pemasukan atau tidak karena tidak ada pencatatan mengenai keuangan dan poin terendah sebesar 1% LK 14 karena petani memiliki hutang sehingga tidak Keterangan memperoleh poin tertinggi pada LK 11 sebesar 36% dengan alasan bahwa petani tidak perlu membuat anggaran sehingga uang dibelanjakan jika ada sesuatu yang ingin dibeli tanpa melihat E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. anggaran dan poin terendah sebesar 3% pada LK 12 jika petani harus mengelola kuangan Terakhir keterangan sangat tidak setuju LK 14 memperoleh poin tertinggi sebesar 85% karena petani tidak perlu membayar sesuatu yang tidak dipinjam sedangkan LK 10 dan LK 12 memperoleh nilai 0% karena petani merasa perlu untuk menabung secara teratur dan mengelola keuangan pribadi tanpa campur tangan pihak lain. Pada variabel sikap keuangan terdapat lima indikator yaitu LK 15 minat meminjam uang di bank. LK 16 dipercaya pihak peminjam untuk melakukan pinjaman. LK 17 mampu membandingkan harga. LK 18 menentukan varietas tanaman, dan LK 19 menabung untuk jangka panjang atau masa depan. Pada keterangan sangat setuju poin tertinggi sebesar 44% yaitu LK 18 dengan alasan bahwa petani harus menentukn varietas tanam yang sesuai musim dan kondisi lahan agar panen berhasil sehingga hasil yang diperoleh melimpah dan nilai terendah 0% pada LK 15 serta LK 16 karena petani tidak memiliki minat sama sekali untuk meminjam uang di bank oleh karenanya petani tidak tahu jika dirinya dipercaya atau tidak oleh pihak bank. Setuju memiliki poin tertinggi sebesar 57% pada LK 17 karena petani beanggapan bahwa membandingkan harga sebelum membeli itu penting agar uang yang dikeluarkan tidak banyak sehingga bisa menghemat pengeluaran dan poin terendah sebesar 1% pada LK 15 kerena petani tidak memiliki minat untuk melakukan peminjaman di bank. Selanjutnya yaitu keterangan ragu dengan poin tertinggi sebesar 29% LK 16 petani mengatakan masih ragu jika pihak bank percaya untuk meminjamkan uangnya karena petani tidak pernah meminjam sebelumnya dan poin terendah sebesar 5% LK 17 karena membandingkan harga cukup penting bagi petani Keterangan tidak setuju memperoleh poin tertinggi pada LK 16 sebesar 13% dengan alasan bahwa petani merasa tidak percaya diri untuk melakukan pinjaman karena takut akan resiko sehingga petani beranggapan tidak dipercaya oleh pihak bank dan poin terendah sebesar 1% pada LK 17 dan LK 18 jika petani merasa harus mampu membandingkan harga untuk menekan pengeluaran dan menentukan varietas tanam demi keberhasilan usahatani yang Terakhir keterangan sangat tidak setuju LK 15 memperoleh poin tertinggi sebesar 78% karena petani tidak memiliki minat sama sekali untuk melakukan peminjaman uang di bank karena bagi mereka itu merepotkan saat harus mebayar dan kemuangkinan adanya resiko lain sedangkan LK 17 dan LK 18 memperoleh nilai 1% karena petani harus mampu membandingkan harga untuk menekan pengeluaran dan menentukan varietas tanam demi E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. keberhasilan usahatani yang dilakukan. Deskriptif statistik yang akan diukur pada setiap variabel baik variabel dependen maupun variabel independent terlihat pada table 2. Variabel Pola Konsumsi Usia Ternak Tanaman Pekarangan Pengetahuan Keuangan Perilaku Keuangan Sikap Keuangan Tabel 2. Deskriptif Statistik Mean 7,1625 45,925 2,5500 1,5250 19,9375 15,6250 16,1250 Std. 1,2059 10,7748 5,1137 1,7716 5,0299 2,4771 3,2662 Tabel 2 menyajikan data deskriptif statistik untuk beberapa variabel kunci dalam penelitian ini. Pertama, dalam hal pola konsumsi, hasil menunjukkan bahwa rata-rata . responden 1625 dengan deviasi standar yang relatif rendah, yaitu 1. Ini mengindikasikan bahwa secara umum, pola konsumsi responden cukup stabil dan homogen. Namun, hasil ini memerlukan analisis lebih lanjut untuk memahami komposisi dan karakteristik lebih detail dari pola konsumsi tersebut. Selanjutnya, variabel Usia menampilkan rata-rata usia responden 925 dengan deviasi standar 10. Hasil ini menggambarkan variasi yang signifikan dalam kelompok usia responden, mencakup berbagai rentang usia yang perlu diperhatikan dalam analisis lebih lanjut terkait faktor usia dengan variabel lain. Dalam hal kepemilikan Ternak, nilai mean yang rendah . menunjukkan bahwa secara umum responden memiliki jumlah ternak yang terbatas. Deviasi standar yang tinggi . mencerminkan variasi yang besar dalam kepemilikan ternak di antara responden. Variabel Tanaman Pekarangan menunjukkan mean sebesar 1. 525 dengan deviasi standar Rata-rata yang rendah menandakan jumlah tanaman pekarangan yang terbatas di kalangan responden, sementara deviasi standar yang moderat mengindikasikan variasi yang cukup beragam. Pengetahuan Keuangan menghasilkan mean tinggi . dan deviasi standar moderat . , menunjukkan tingkat pengetahuan yang baik di antara responden dengan variasi yang cukup signifikan. Perilaku Keuangan, dengan mean 15. 625 dan deviasi standar rendah . , menggambarkan bahwa responden cenderung memiliki perilaku keuangan yang konsisten dan baik. Sedangkan. Sikap Keuangan menunjukkan mean yang E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. dengan deviasi standar sedang . , mencerminkan sikap positif terhadap keuangan di kalangan responden dengan variasi yang cukup beragam. Setalah mengetahui karakteristik petani jagung dan indikator setiap variabel literasi keuangan serta data statistik setiap variabel maka selanjutnya perlu diketahui hasil dari uji regresi data yang telah diperoleh dari turun lapang sehingga diperoleh hasil pada table 3. Tabel 3. Hasil Regresi Variabel X terhadap Variabel Y Pola Konsumsi Coef. Std. Err Usia -0,0292** 0,0113 -2,59 Hewan Ternak -0,0064 0,0240 -0,27 Tanaman 0,7828 0,0721 1,09 Pengetahuan -0,0787** 0,0328 -2,40 Perilaku 0,1020* 0,0575 1,77 Sikap -0,0936* 0,0520 -1,80 Konstanta 9,8829*** 0,9654 10,24 Number of obs F. , . 4,94 Prob > F 0,0003*** R-squared 0,2887 Adj R-squared 0,2302 *** Signifikan pada level 0,01 P>. 0,012 0,790 0,281 0,019 0,080 0,076 0,000 ** Signifikan pada level 0,5 * Signifikan pada level 0,1 Dari tabel terlihat bahwa variabel usia berpengaruh negatif dan signifikan terhadap variabel Y dengan nilai P>. yaitu 0,012 dan t bernilai -2,59 yang artinya semakin bertambahnya usia seseorang maka pola konsumsinya akan semakin buruk. Usia petani berpengaruh terhadap pola konsumsinya karena semakin tua usia seseorang maka makanan yang dicerna juga semakin sedikit diakibatkan daya tahan dan kondisi tubuh yang semakin menurun pula. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Shiska & Wahyuni . yang menyatakan bahwa usia berpengaruh signifikan dan negatif pada pola konsumsi karena petani di pedesaan didominasi oleh petani yang telah berusia dan tetap bertani untuk kebutuhan hidup karena sudah menjadi kebiasaan temurun tetapi dengan pertambahan umur maka kinerja juga akan menurun dan pola konsumsinya pun menjadi kurang baik terutama saat memasuki usia lanjut. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. Variabel pengetahuan keuangan memiliki hasil negatif dan signifikan terhadap pola konsumsi dengan nilai P>. adalah 0,019 dan t yaitu -2,40 yang artinya semakin rendah pengetahuan seseorang maka pola konsumsinya semakin tinggi. Koefisien regresi negatif menggambarkan hubungan yang tidak searah yaitu semakin rendah tingkat literasi keuangan yang dimiliki maka akan berpotensi meningkatkan perilaku konsumtif begitupun sebaliknya karena rendahnya pengetahuan literasi keuangan dapat memebuat petani tidak bisa me-manage kauangannya dengan baik. Hasil ini sejalan dengan penelitian Lindiawate & Shahreza . bahwa tingkat literasi keuangan yang rendah mendorong perilaku konsumtif karena ketidakpahaman mengenai prioritas kebutuhan. Meskipun petani mengetahui mengenai literasi keuangan tetapi mereka juga terkadang tidak bisa menekan keinginan mereka untuk membeli sesuatu yang sebenarnya bukan prioritas. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Basri & Seto . bahwa pola konsumsi yang dilakukan oleh seseorang dapat dipengaruhi selera atau keinginan dari Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Martono & Sudarma . bahwa Pengetahuan keuangan berpengaruh signifikan dan negatif pada pola konsumsi melalui pengendalian diri sebagai mediator. Kontrol diri yang buruk akan memudahkan seseorang terlibat dalam hal-hal negatif. Variabel perilaku keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pola konsumsi petani dengan nilai P>. adalah 0,080 dan t yaitu 1,77 yang artinya semakin baik perilaku keuangan yang diakukan petani maka semakin baik pula pola konsumsinya. Rizkiana & Kartini, . menjelaskan bahwa perilaku keuangan merupakan ilmu yang mendeskripsikan tingkah laku manusia dalam pengambilam tindakan yang didasarkan faktor psikologi dan informasi yang diperoleh dari lingkungannya. Dalam hal perilku keuangan, petani biasanya melakukan dibelanjakan atau untuk ditabung. Petani biasanya menyisihkan pendapatan mereka untuk ditabung sehingga tidak melakukan pemborosan pada konsumsi. Hasil ini sejalan dengan penelitian Prihastuty & Rahayuningsih . yang menyatakan bahwa perilaku keuangan berpengaruh positif secara signifikan. Semakin rasional perilaku keuangan seseorang, akan berdampak pada perilaku konsumtif mereka yang terkendali karena mereka sudah terlatih untuk mengelola sumber daya keuangannya agar lebih efisien. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. Variabel sikap keuangan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pola konsumsi petani dengan nilai P>. adalah 0,076 dan t yaitu -1,80 yang artinya semakin rendah sikap keuangan petani maka pola konsumsinya akan semakin tinggi. Menurut Rafidah et al. sikap keuangan adalah tahap dalam merencanakan keuangan dengan tujuan untuk waktu yang akan Perencanaan keuangan yang rendah membuat petani kurang bijak dalam mengatur pola konsumsinya karena kurang memikirkan masa depan dan hanya terfokus pada saat ini saja. Petani tidak tertarik saat membicarakan rencana keuangan masa depan karena bagi mereka hal yang terjadi saat ini lebih penting daripada masa depan. Ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Haq et al. yang menyatakan bahwa sikap keuangan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif karena kurangnya perencanaan petani untuk masa Dari hasil yang diperoleh dapat dikatakan bahwa literasi keuangan berpengaruh terhadap variabel dependen. Namun pada pengetahuan dan sikap keuangan pengaruhnya negatif terhadap pola konsumsi yang artinya perlu adanya upaya untuk meningkatkan literasi keuangan petani agar pengelolaan keuangan dan pola konsumsi menjadi lebih baik. Hal ini penting untuk dilakukan karena menurut penelitian dari Akande et al. literasi keuangan sangat berpengaruh terhadap kehidupan yang berkelanjutan dikarenakan berhubungan dengan keterampilan seseorang untuk menabung, membuat anggaran, pengajuan pinjamaan dan cara mengelolanya sehingga keuangan terkelola dengan baik. Peningkatan literasi keuangan di Desa Bragung dapat dicapai melalui penerapan program pendidikan keuangan bagi rumah tangga petani. Hal ini bertujuan agar para petani dapat lebih memahami pengelolaan keuangan untuk keperluan konsumsi, sehingga diharapkan dapat berdampak positif pada kesejahteraan rumah tangga petani. Keberlanjutan program ini diperkuat oleh hasil penelitian Nurhayati & Nurodin . , yang menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan, diukur melalui pemahaman masyarakat terhadap berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kesejahteraan. Penelitian ini juga menyoroti bahwa partisipasi dalam kegiatan pendidikan keuangan dapat meningkatkan pemahaman rumah tangga terhadap kebutuhan literasi keuangan, memungkinkan mereka untuk lebih efektif mengelola keuangan pribadi mereka. Oleh karena itu, penerapan program pendidikan keuangan yang mampu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. mengenai literasi keuangan menjadi suatu keharusan, dengan harapan dapat memberikan dampak positif pada peningkatan kesejahteraan petani di masa depan. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa literasi keuangan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pola konsumsi di Desa Bragung. Kecamatan Guluk-Guluk. Kabupaten Sumenep. Potensi pengembangan penelitian ini terbuka dengan mengukur variabel tambahan guna memperoleh pemahaman yang lebih rinci. Rekomendasi yang dapat diajukan setelah penelitian adalah perlunya upaya meningkatkan literasi keuangan petani di Desa Bragung, melalui implementasi program pendidikan keuangan. Hal ini mencakup edukasi terkait pencatatan transaksi, baik pengeluaran maupun pendapatan, hingga pembuatan laporan keuangan rumah tangga petani. Langkah ini sejalan dengan dukungan terhadap program pemerintah terkait literasi keuangan, yang mengintegrasikan pendidikan keuangan dengan ketersediaan akses layanan keuangan guna meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia, khususnya petani di Desa Bragung. Kecamatan Guluk-Guluk. Kabupaten Sumenep. Daftar Pustaka