JOHC, x. : x-x. Nop 202x ISSN: x-x-xx-x-x Website: http:/johc. id/index. DOI:x Pengaruh Error Orientation. Subjective Norm dan Perceived Behavioural Control Terhadap Personal Attitude Karyawan Dalam Melaporkan IKP di Rumah Sakit Lilis Maghfuroh1. Tjatur Ermitajani Judi2*. Arif Banar Rizali3 1,2,3 Program Pascasarjana Administrasi Kesehatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Lamongan Email: tjaturjudi@yahoo. Abstrak Patient safety incident reporting is a fundamental step and prerequisite in building a patient safety Previous studies indicate that only 37. 4Ae67% of medical errors are reported by nurses in Data from the hospitalAos Quality Committee revealed discrepancies between medical error reports submitted by staff and those recorded by the Patient Safety Team during the JanuaryAeJune 2025 period. This finding indicates that the number of incidents reported by employees does not reflect the actual number of events occurring. Therefore, this study aims to develop recommendations to improve employeesAo personal attitudes toward reporting Patient Safety Incidents (PSI. This study employed a quantitative research design using a cross-sectional survey method. The research was conducted in a hospital setting. The study population consisted of employees from all service units within the hospital. A total of 114 employees across nine service units were included as the study population, and the entire population was selected as the research sample. Kata Kunci: employeesAo personal attitude in reporting patient safety incidents, perceived behavioral control, subjective norm, error orientation. PENDAHULUAN Keselamatan pasien merupakan prioritas global dalam sistem pelayanan World Health Organization . melaporkan bahwa sekitar 1 dari 10 pasien mengalami cedera terkait pelayanan kesehatan, dan lebih dari separuhnya dapat dicegah. Insiden keselamatan pasien (IKP) mencakup kejadian yang mengakibatkan atau berpotensi menyebabkan cedera yang dapat dicegah, termasuk near miss dan adverse event (World Health Organization, 2. Tingginya angka insiden serta fenomena underreporting menunjukkan bahwa sistem pelaporan belum berjalan optimal (Evans et al. , 2. Pelaporan IKP merupakan fondasi budaya keselamatan pasien dan prasyarat pembelajaran organisasi (Leape, 2. Namun, berbagai penelitian menunjukkan sebagian besar insiden tidak dilaporkan karena adanya hambatan psikologis dan organisasional, seperti fear of blame, fear of legal consequences, serta persepsi kurangnya manfaat pelaporan (Pfeiffer & Manser, 2. Kondisi ini menghambat identifikasi akar masalah dan perbaikan sistem secara berkelanjutan. Dalam kerangka Theory of Planned Behavior, perilaku pelaporan ditentukan oleh intention yang dibentuk oleh personal attitude, subjective norm, dan perceived behavioral control (Ajzen, 1. Sejumlah studi menunjukkan bahwa attitude dan perceived behavioral control berperan signifikan terhadap intention melapor, namun masih ditemukan kesenjangan antara niat dan perilaku aktual . ntentionAebehavior ga. (Sheeran & Webb, 2. Hal ini mengindikasikan perlunya eksplorasi faktor yang membentuk personal attitude terhadap pelaporan, termasuk error orientation sebagai cara individu memaknai kesalahan (Rybowiak et al. , 1. Secara konseptual, sikap terhadap pelaporan tidak hanya dipengaruhi norma sosial dan persepsi kontrol, tetapi juga orientasi individu terhadap kesalahan serta budaya organisasi yang mendukung just culture dan pembelajaran dari insiden (Dekker, 2. Pendekatan ini menempatkan pelaporan sebagai bagian dari profesionalisme tenaga kesehatan, bukan sekadar kewajiban administratif. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh error orientation, subjective norm, dan perceived behavioral control terhadap personal attitude karyawan dalam melaporkan insiden keselamatan pasien. Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi teoretis dalam penguatan model perilaku pelaporan berbasis Theory of Planned Behavior serta rekomendasi praktis untuk meningkatkan budaya keselamatan pasien di organisasi pelayanan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan survei crosectional. Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh error orientation, subjective norm, dan perceived behavioral control terhadap personal attitude karyawan dalam melaporkan insiden keselamatan pasien. Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu . Populasi penelitian adalah seluruh karyawan pada instalasi pelayanan kesehatan yang berjumlah 112 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, sehingga seluruh populasi dijadikan responden penelitian. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur dengan skala Likert lima poin . = sangat tidak setuju sampai 5 = sangat setuj. Variabel error orientation diukur menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Handriyanto . , sedangkan variabel subjective norm, perceived behavioral control, dan personal attitude dimodifikasi dari instrumen Ifinedo . Sebelum digunakan, instrumen diuji validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas dilakukan menggunakan korelasi Pearson dengan kriteria signifikansi p < 0,05. Uji reliabilitas menggunakan koefisien CronbachAos alpha dengan batas minimal 0,70. Data dianalisis melalui beberapa tahap, yaitu editing, scoring, coding, dan Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik responden dan distribusi masing-masing variabel. Analisis inferensial dilakukan menggunakan regresi linier berganda untuk menguji pengaruh error orientation, subjective norm, dan perceived behavioral control terhadap personal attitude. Pengujian hipotesis dilakukan pada tingkat signifikansi 5% ( = 0,. Seluruh analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak statistik. HASIL dan PEMBAHASAN Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 112 responden mayoritas berusia O30 tahun . %) dengan masa kerja 1Ae5 tahun . %) dan berpendidikan D4/S1 . %). Data ini menunjukkan bahwa komposisi tenaga kerja didominasi oleh karyawan muda dengan pengalaman kerja relatif awal namun memiliki kualifikasi pendidikan tinggi. Tabel 1 Karakteristik responden berdasarkan usia, masa kerja dan Pendidikan No. Karakteristik Demografi Usia (Tahu. <=30 >= 46 Total Masa Kerja (Tahu. Total Pendidikan Terakhir SMA D4/S1 Total Responden Rumah Sakit Tabel 2 menunjukan bahwa dari 112 responden, mayoritas berasal dari instalasi rawat inap . %) dengan lama kerja di instalasi 1Ae5 tahun . %). Profesi didominasi perawat . %), sementara tenaga lainnya tersebar dalam proporsi lebih Tabel 2 karakterisitik responden berdasarkan instalsi tempat kerja,lama kerja dan No. Karakteristik Demografi Instalasi Rawat Jalan Rawat Inap IBS IGD HCU/ICU/NICU Rekam Medik Farmasi Radiologi Laboratorium Gizi Lainya Total Responden Rumah Sakit Lama Kerja di Instalasi Terakhir (Tahu. Total Profesi Dokter/Dokter Gigi Perawat Bidan Apoteker Radiografer Ahli Gizi Asisten Apoteker Analis Laboratorium Fisioterapis Perekam Medis Prakarya Gizi Non Medis Lainnya Total Pada grafik 1 dapat dilihat bahwa jumlah Insiden Keselamatan Pasien (IKP) yang dilaporkan sepanjang tahun tergolong rendah. Puncaknya terjadi pada satu bulan tertentu dengan tiga insiden, sementara di bulan-bulan lain hanya tercatat satu atau dua insiden, bahkan ada bulan tanpa laporan sama sekali. Mengingat rata-rata kunjungan pasien setiap bulan mencapai ribuan, jumlah insiden yang seharusnya dilaporkan diperkirakan jauh lebih banyak, sekitar 2Ae3 puluh kali lipat dari yang Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaporan IKP masih belum mencerminkan jumlah kejadian sebenarnya dan perlu peningkatan agar lebih akurat dan realistis. Berdasarkan data, jumlah Insiden Keselamatan Pasien (IKP) yang dilaporkan sepanjang tahun tergolong rendah, dengan puncak hanya tiga insiden dalam satu bulan dan beberapa bulan tanpa laporan. Mengingat rata-rata kunjungan pasien bulanan mencapai ribuan, jumlah insiden yang seharusnya tercatat jauh lebih banyak, diperkirakan puluhan insiden per bulan. Hal ini konsisten dengan temuan sebelumnya bahwa pelaporan IKP masih jauh di bawah angka yang realistis jika dibandingkan dengan standar atau referensi penelitian lain, sehingga menunjukkan perlunya peningkatan sistem pelaporan agar lebih akurat dan mencerminkan kondisi Grafik 1 Data IKP yang dilaporkan di Rumah Sakit Penelitian pada tahun 2025 Analisis Tingkat Error Orientation. Subjective Norm. Perceived Behavioural Control, dan Personal Attitude Karyawan Melaporkan IKP. Faktor yang mungkin mempengaruhi personal attitude karyawan melaporkan IKP adalah terdiri dari error orientation, subjective norm, dan perceived behavioural Berikut dibawah adalah hasil pengukuran faktor tersebut. Error Orientation. Berdasarkan Tabel 3 didapatkan bahwa responden dari ketiga RS menunjukkan tingkat error orientation yang tinggi dengan prosentase >80%. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian karyawan di ketiga RS bahwa pelaporan IKP dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri, organisasi dan pasien menunjukkan hasil yang positif. Dengan demikian hal yang baik ini menjadi kekuatan faktor yang ada didalam karyawan di ketiga RS dan hal ini perlu untuk dipertahankan Tabel 3 Rekapitulasi Hasil Pengukuran Error Orientation Rumah Sakit Tahun 2025 Error Orientation Rendah Sedang Tinggi Total Subjective Norm Tabel 4 didapatkan responden di RS menilai adanya subjective norm di lingkungan kerja untuk melaporkan IKP. Adanya subjective norm di lingkungan kerja untuk melaporkan IKP menunjukkan bahwa karyawan merasakan pelaporan IKP merupakan norma yang berlaku di lingkungan kerja. Kemudian dengan prosentase adanya subjective norm belum mencapai 80% maka perlu ditingkatkan. Tabel 4 Rekapitulasi Hasil Pengukuran Subjective Norm di RS Tahun 2025 Subjective Norm Ada Tidak Ada Total Perceived Behavioral Control Tabel 5 didapatkan responden di RS memiliki perceived behavioural control yang tinggi. Hasil perceived behavioural control yang tinggi menunjukkan bahwa karyawan merasa memiliki kemampuan yang untuk bisa mengatasi hambatan didalam melaporkan IKP. Prosentase perceived behavioural control kategori tinggi sudah mencapai >80% maka perlu dipertahankan. Tabel 5 Rekapitulasi Hasil Pengukuran Perceived Behavioural Control di Rumah Sakit Tahun 2025 Perceived Behavioural Control Rendah Sedang Tinggi Total Personal Attitude Karyawan Melaporkan IKP. Tabel 7 didapatkan responden di rumah sakit menilai bahwa personal attitude karyawan melaporkan IKP di RS termasuk kategori tinggi. Hasil personal attitude karyawan melaporkan IKP yang tinggi menunjukkan bahwa karyawan memiliki kemauan yang baik untuk melaporkan IKP yang diketahui. Prosentase personal attitude karyawan melaporkan IKP kategori tinggi sudah mencapai >80% maka personal attitude karyawan berwujud kemauan untuk melaporkan IKP harus Tabel 6 Rekapitulasi Hasil Pengukuran Kemauan Karyawan Melaporkan IKP di Rumah akit Tahun 2025 Personal Attitude Karyawan Melaporkan IKP Rendah Sedang Tinggi Total Uji Pengaruh Error Orientation. Subjective Norm. Perceived Behavioural Control terhadap Personal Attitude Karyawan Melaporkan IKP Dalam upaya memahami apa yang memengaruhi karyawan untuk melaporkan Insiden Keselamatan Pasien (IKP), dilakukan analisis regresi logistik ganda dengan metode backward untuk menyaring faktor-faktor yang paling Hasilnya menunjukkan bahwa ada tiga faktor yang menonjol. Faktor pertama adalah error orientation. Karyawan yang memandang kesalahan sebagai peluang untuk belajar dan memperbaiki diri jauh lebih mungkin memiliki sikap yang mendukung pelaporan insiden, dengan pengaruh paling kuat ( = 34,887. p < 0,. Ini menunjukkan bahwa cara karyawan menilai kesalahan sangat menentukan kesiapan mereka untuk melaporkan. Faktor kedua adalah perceived behavioural control (PBC). Karyawan yang merasa sistem pelaporan mudah digunakan, tersedia sarana, memiliki waktu, dan merasa aman menunjukkan sikap yang lebih positif terhadap pelaporan ( = 13,197. p = 0,. Dengan kata lain, rasa percaya diri dan kenyamanan dalam melaporkan insiden mendorong mereka untuk bertindak lebih proaktif. Faktor ketiga adalah subjective norms, yakni pengaruh dukungan sosial dari atasan, rekan kerja, dan budaya organisasi. Faktor ini memiliki pengaruh yang lebih moderat ( = 6,234. p = 0,. , tetapi tetap menunjukkan bahwa lingkungan yang mendukung secara sosial dapat mendorong karyawan membentuk sikap yang lebih baik dalam melaporkan IKP. Secara keseluruhan, temuan ini memperlihatkan bahwa sikap karyawan terhadap pelaporan IKP bukan hanya soal kemampuan atau prosedur, tetapi juga tentang bagaimana mereka memandang kesalahan dan seberapa besar dukungan yang mereka rasakan dari lingkungan sekitar. Ketiga faktor ini bekerja bersamasama membentuk budaya pelaporan yang lebih positif dan proaktif. Tabel 7 Uji Pengaruh Error Orientation. Subjective Norm, dan Perceived Behavioural Control terhadap Personal Attitude Karyawan Melaporkan IKP di RS Tahun 2025 Personal Attitude Karyawan Melaporkan No Faktor yang Diuji IKP Keterangan Error orientation <,001 Signifikan Subjective norms Signifikan Perceived behavioural control Signifikan Analisis Tabulasi Silang Error Orientation. Subjective Norm. Perceived Behavioural Control dengan Personal Attitude Karyawan Melaporkan IKP Berdasarkan tabel 8 dari responden RS diperoleh bahwa semakin tinggi error orientation dari karyawan maka semakin tinggi personal attitude karyawan untuk mau melaporkan IKP, begitu juga sebaliknya semakin rendah error orientation dari karyawan maka semakin rendah personal attitude karyawan untuk mau melaporkan IKP. Tabel 8 Tabulasi Silang Error Orientation dengan Personal Attitude Karyawan Melaporkan IKP di Rumah Sakit Tahun 2025 Personal Attitude Karyawan No Error Orientation Melaporkan IKP Total Rendah Sedang Tinggi 1 Rendah 2 Sedang 3 Tinggi Total Berdasarkan tabel 9 dari responden RS diperoleh bahwa adanya subjective norm yang dirasakan karyawan maka semakin tinggi personal attitude karyawan untuk mau melaporkan IKP, begitu juga sebaliknya tidak adanya subjective norm yang dirasakan karyawan maka semakin rendah personal attitude karyawan untuk mau melaporkan IKP. Tabel 1 Tabulasi Silang Subjective Norm dengan Personal Attitude Karyawan Melaporkan IKP di RS Tahun 2025 Subjective Norms (Melaporkan IKP) Ada Tidak ada Total Personal Attitude Karyawan Melaporkan IKP Rendah Sedang Tinggi Total Berdasarkan tabel 10 dari responden RS diperoleh bahwa semakin tinggi perceived behavioural control yang dirasakan karyawan maka semakin tinggi personal attitude karyawan untuk mau melaporkan IKP, begitu juga sebaliknya semakin rendah perceived behavioural control yang dirasakan karyawan maka semakin rendah personal attitude karyawan untuk mau melaporkan IKP. Tabel 10 Tabulasi Silang Perceived Behavioural Control dengan Personal Attitude Karyawan Melaporkan IKP di RS Tahun 2025 No Perceived Behavioural Control 1 Rendah 2 Sedang 3 Tinggi Total Personal Attitude Karyawan Melaporkan IKP Rendah Sedang Tinggi Total Pembahasan Penelitian ini dilakukan pada sebuah rumah sakit Islam tipe D yang berdiri tahun 2013 dengan kapasitas 86 tempat tidur. BOR sekitar 50%, serta rerata 672 pasien per bulan. Total SDM berjumlah 185 orang, dengan 112 orang sebagai populasi instalasi yang diteliti. Pengelolaan Insiden Keselamatan Pasien (IKP) berada di bawah Komite Keselamatan Pasien. Sebagai rumah sakit tipe D, organisasi menghadapi keterbatasan sumber daya, variasi kompetensi, serta sistem manajemen mutu yang masih berkembang. Dalam konteks seperti ini, budaya pelaporan sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan unit, iklim psikologis, kemudahan sistem, dan cara organisasi memaknai kesalahanAi apakah sebagai peluang belajar atau sebagai sumber hukuman (Reason, 1997. Dekker, 2. Karakteristik responden didominasi usia O30 tahun . %), masa kerja 1Ae5 tahun . %), pendidikan D4/S1 . %), dan profesi perawat . %), menunjukkan mayoritas tenaga lini depan yang masih berada pada fase pembentukan identitas profesional sehingga norma sosial dan keteladanan pimpinan berperan besar dalam membentuk perilaku (Ajzen, 1. Temuan utama menunjukkan adanya kesenjangan antara sikap dan Meskipun 89% responden memiliki personal attitude tinggi untuk melaporkan IKP, data laporan aktual menunjukkan beberapa bulan tanpa laporan, dan pada bulan tertentu hanya 1Ae3 kasus. Jika dibandingkan dengan estimasi angka kejadian medical error sekitar 2,4% dari pasien masuk rumah sakit, maka secara realistis dapat terjadi sekitar 64 insiden per bulan dari 2. Perbedaan mencolok ini menggambarkan fenomena intentionAe behavior gap, yaitu kesenjangan antara niat/sikap dengan tindakan nyata (Sheeran, 2. Dalam konteks keselamatan pasien, gap tersebut sering dipicu rasa takut disalahkan, stigma sosial, kekhawatiran konsekuensi karier, beban kerja, hingga persepsi bahwa laporan tidak ditindaklanjuti (WHO, 2. Secara deskriptif, mayoritas responden memiliki error orientation tinggi . %), perceived behavioral control/PBC tinggi . %), subjective norm AuadaAy . %), dan personal attitude tinggi . %). Distribusi yang sangat condong pada kategori tinggi dapat ditafsirkan secara positif sebagai indikasi budaya keselamatan yang telah terbentuk di level sikap. Namun secara metodologis, variasi jawaban yang rendah juga membuka kemungkinan social desirability bias, terutama karena topik keselamatan pasien bersifat sensitif (Polit & Beck, 2. Hal ini memperkuat asumsi bahwa sikap ideal dapat dinyatakan secara deklaratif, tetapi belum tentu terwujud dalam praktik ketika iklim sosial belum sepenuhnya Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa error orientation merupakan prediktor paling dominan terhadap personal attitude . <0,. , diikuti perceived behavioral control . =0,. , dan subjective norm . =0,074 pada =0,. Secara teoretik, temuan ini selaras dengan Theory of Planned Behavior yang menekankan bahwa sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol memengaruhi niat berperilaku (Ajzen, 1. Error orientation yang memandang kesalahan sebagai peluang belajar mendorong sikap positif terhadap pelaporan, sementara PBC memperkuat keyakinan mampu melapor. Namun, subjective norm yang belum sepenuhnya kuat menjadi bottleneck, terutama ketika pesan pimpinan tidak konsisten dan norma sosial belum sepenuhnya menormalisasi diskusi Temuan FGD menguatkan bahwa hambatan utama bersifat normatifbudaya: adanya potensi stigma, ketidakkonsistenan pesan pimpinan, minimnya umpan balik, serta belum terbentuknya just culture. Dalam kerangka budaya keselamatan, organisasi yang belum menerapkan pendekatan non-punitif cenderung menghasilkan keraguan dan menurunkan psychological safety (Edmondson, 2. Dengan demikian, meskipun secara kuantitatif variabelvariabel dalam TPB memengaruhi sikap, untuk menjembatani sikap menjadi perilaku aktual diperlukan penguatan norma sosial, kepemimpinan keselamatan, sistem umpan balik yang cepat, serta kebijakan non-punitif yang konsisten. Temuan ini menegaskan bahwa perubahan perilaku pelaporan IKP tidak cukup pada level individu, melainkan memerlukan intervensi budaya organisasi secara SIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun personal attitude karyawan untuk melaporkan Insiden Keselamatan Pasien (IKP) berada pada kategori tinggi . %), pelaporan aktual masih sangat rendah dibandingkan angka realistis kejadian insiden berdasarkan rerata kunjungan pasien. Analisis regresi menunjukkan bahwa error orientation merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi personal attitude, diikuti perceived behavioural control dan subjective norm. Namun, subjective norm menjadi titik lemah yang perlu diprioritaskan karena belum sepenuhnya kuat membentuk dorongan sosial yang Ditemukan pula adanya kesenjangan antara sikap yang tinggi dan perilaku pelaporan yang rendah, yang dipengaruhi faktor sosial-budaya organisasi seperti ketidakkonsistenan dukungan atasan, kekhawatiran stigma, minimnya umpan balik, dan belum terbentuknya budaya diskusi insiden yang rutin, sehingga menurunkan rasa aman psikologis dan membuat staf cenderung tidak melapor secara formal. DAFTAR PUSTAKA