Dinamika: Volume 9 . 2026 Jurnal Bahasa. Sastra. Pembelajarannya e-issn 2715-8381 Stimulasi Linguistik Melalui Tiktok dan Lingkungan Sosial pada Anak Usia 3Ae6 Tahun: Analisis Behaviorisme Skinner Haerana. Juanda ,E & Nensilianti Universitas Negeri Makassar Correponding author juanda@unm. haerana573@gmail. com, nensilianti@unm. Dikirim:13 Desember 2025 Direvisi:21 Desember 2025 Diterima:22 Desember 2025Diterbitkan: 28 Februari 2026 How to Cite: Juanda, et. AuStimulasi Linguistik Melalui Tiktok dan Lingkungan Sosial pada Anak Usia 3Ae6 Tahun: Analisis Behaviorisme SkinnerAy Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya. Vol. 9, no. 1, 2026, pp. 86Ae103. Published by Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Suryakancana Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. ABSTRACT This study aims to describe the utilization of the TikTok platform as a medium for language acquisition among children aged 3Ae6 years, viewed through a psycholinguistic approach using B. SkinnerAos Behaviorist Theory. The research focuses on identifying linguistic stimuli presented in TikTok content, childrenAos verbal responses . ncluding mand, tact, echoic, and intraverba. , and reinforcement patterns that support language acquisition. This research applies a descriptive qualitative method, with data derived from educational TikTok accounts such as @belajardariibu_, @dhaneswara. kids, and @dunia. edukasianak_, along with observations of childrenAos interactions with these contents. Data analysis followed the three stages of Miles and HubermanAos model: data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that TikTok provides rich linguistic stimuli in the form of audio, visual, and textual cues that attract childrenAos attention. Verbal responses emerged in the form of imitation, object naming, and simple questionAeanswer exchanges. Positive reinforcement from parents and the surrounding environment plays a crucial role in strengthening these responses, enabling the effective operation of the stimulusAeresponseAereinforcement process. Consequently. TikTok can serve as an interactive and effective tool for early language learning when used under proper supervision and guidance. Keywords: acquisition. TikTok ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan platform TikTok sebagai media pemerolehan bahasa anak usia 3Ae6 tahun melalui pendekatan psikolinguistik dengan menggunakan teori Behaviorisme B. Skinner. Fokus penelitian diarahkan pada bentuk stimulus linguistik yang muncul dalam konten TikTok, respons verbal anak . eliputi mand, tact, echoic, dan intraverba. , serta bentuk penguatan . yang mendukung pemerolehan bahasa anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa video TikTok dari akun edukatif seperti @belajardariibu_, @dhaneswara. kids, dan @dunia. serta hasil observasi terhadap anak usia dini berinteraksi dengan konten tersebut. Data dianalisis menggunakan tiga tahapan analisis Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok memberikan stimulus linguistik berupa suara, gambar, dan teks yang menarik perhatian anak. Respons anak tampak melalui perilaku verbal seperti meniru, menamai objek, hingga merespons pertanyaan sederhana. Penguatan positif dari orang tua dan lingkungan berperan penting dalam Juanda dkk. : Stimulasi Linguistik Melalui Tiktok dan A memperkuat respons anak, sehingga proses stimulusAeresponsAereinforcement berjalan secara efektif. Dengan demikian. TikTok dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran bahasa yang interaktif, selama terdapat pengawasan dan pengarahan dari orang dewasa. Kata Kunci: pemerolehan. TikTok PENDAHULUAN Bahasa merupakan alat utama manusia dalam berinteraksi dan menyampaikan pikiran, perasaan, serta kehendaknya. Kemampuan berbahasa tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang dan bertahap yang dikenal dengan istilah pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa terjadi sejak anak mulai mengenal dunia sekitarnya dan berlangsung secara alamiah melalui interaksi dengan lingkungan sosial. Pada usia 3Ae6 tahun, anak berada dalam masa emas . olden ag. yang sangat menentukan perkembangan kemampuan berbahasa, baik secara reseptif maupun produktif. Dalam tahap ini, anak mulai mampu meniru, memahami, dan memproduksi ujaran yang ia dengar dari lingkungannya. Oleh karena itu, lingkungan berperan penting sebagai penyedia stimulus linguistik yang akan membentuk kemampuan berbahasa anak. Aplikasi TikTok dalam pemerolehan bahasa anak usia 3-5 tahun menunjukkan bahwa terdapat pengaruh TikTok terhadap pemerolehan bahasa anak, dan implikasinya terhadap pendidik, orang tua, dan sekolah (Sobirin et al. , 2. Pemerolehan bahasa merupakan proses yang berlangsung secara alamiah, tanpa melalui pengajaran formal. Anak memperoleh bahasa melalui interaksi dengan lingkungan sekitarnya, terutama dengan orang dewasa yang menjadi mitra tutur dalam kehidupannya sehari-hari (Pailing & Juanda, 2. Pemertahanan bahasa dalam era digital memerlukan upaya revitalisasi yang terarah dan menekankan pentingnya pelestarian dan revitalisasi bahasa daerah melalui kesenian tradisional sebagai bentuk identitas kelompok. Seiring dengan maraknya penggunaan media digital oleh anak-anak, termasuk TikTok, tantangan terhadap pemertahanan bahasa semakin besar. Anak-anak cenderung lebih tertarik pada konten visual yang menarik dan mudah ditiru, yang sering kali menggunakan bahasa informal atau bahkan tidak sesuai dengan norma kebahasaan yang baik. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana media sosial dapat dioptimalkan untuk mendukung perkembangan bahasa anak secara positif. Sebagai orang tua merupakan madrasah utama bagi anaknya di rumah selain merawat, ia juga sebagai guru untuk mengajarkan anak yang terutama dalam hal perkembangan bahasa verbal karena peran orang tua sangatlah penting di dalam keluarga terutama pada tahap perkembangan kognitif (Salamah et al. , 2. Secara teoretis, terdapat beberapa pendekatan utama dalam studi pemerolehan bahasa. Teori behaviorisme, misalnya, menjelaskan pemerolehan bahasa sebagai hasil penguatan stimulus-respons, anak meniru ujaran yang didengar dan mendapatkan penguatan darilingkungannya (Garnaya et al. , 2025. Anak usia dini, khususnya pada rentang usia 3-6 tahun, berada pada masa krusial dalam pemerolehan bahasa. Pada tahap ini, anak mulai mengembangkan kemampuan berbahasa melalui interaksi dengan lingkungan sekitar, termasuk orang tua, teman sebaya, dan media yang mereka konsumsi. Penelitian (Juanda & Azis, 2. menunjukkan bahwa anak usia dini telah menguasai beberapa vokal dasar dan kosa kata yang berhubungan dengan lingkungan Perkembangan bahasa pada anak usia dini melalui pemerolehanbahasa merupakan salah satu tahap penting dalam rangka transmisi bahasa agar terhindar dari kepunahan (Nugraheni & Ahsin, 2. Seiring pertumbuhan anak, kemampuan berbahasanya semakin berkembang. Ketika anak mulai belajar membaca, sumber pemerolehan bahasa 88 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 86-103 tidak lagi hanya dari percakapan, tetapi juga dari buku dan media lain yang mereka akses (Syofiyanti et al. , 2. Media sosial memberi peran baik itu positif maupun negatif terhadap perkembangan bahasa anak usia SD/MI Peran positifnya yaitu menambah perbendaharaan kata, mengerti arti kata/kalimat, memahami konsep struktur kalimat sederhana, menambah rasa ingin tahu, media sosial sebagai alat stimulasi bahasa untuk anak (Muallifah & Umami, 2. Perkembangan teknologi digital menghadirkan perubahan signifikan terhadap pola interaksi anak dengan Salah satu fenomena yang paling menonjol adalah meningkatnya penggunaan media sosial TikTok di kalangan masyarakat, termasuk anak-anak. TikTok yang awalnya dikenal sebagai platform hiburan kini telah bertransformasi menjadi ruang edukatif yang menawarkan berbagai konten pembelajaran, termasuk pembelajaran bahasa. Konten TikTok dengan durasi singkat, tampilan visual menarik, dan iringan musik mudah diingat menjadi daya tarik tersendiri bagi anak usia dini. Melalui pengulangan kata, intonasi, gerak tubuh, serta visualisasi yang dinamis, anak dapat menerima rangsangan . yang berpotensi memperkaya kosakata dan struktur bahasanya. Penggunaan TikTok sebagai stimulus linguistik yang bersifat multimodal dan kontekstual mempercepat perkembangan aspek fonologi, semantik, dan pragmatik anak (Garnaya et al. , 2025. Fenomena ini menarik dikaji dari perspektif psikolinguistik, karena berkaitan dengan proses mental dan perilaku yang mendasari kemampuan berbahasa anak. Psikolinguistik mempelajari bagaimana manusia memahami, menghasilkan, dan memperoleh bahasa dalam konteks perkembangan kognitif. Dalam konteks anak usia dini, paparan media digital seperti TikTok dapat memunculkan respons verbal yang menunjukkan perkembangan linguistik anak. Ketika anak meniru ucapan yang didengar dari TikTok, menamai objek yang ia lihat, atau menjawab pertanyaan yang muncul dalam konten, hal tersebut menggambarkan aktivitas psikolinguistik yang dipicu oleh stimulus dari lingkungan digitalnya. Memahami proses ini secara lebih mendalam, penelitian ini menggunakan teori Behaviorisme B. Skinner yang menekankan bahwa bahasa diperoleh melalui proses belajar yang melibatkan stimulus, respons, dan reinforcement . Menurut (Skinner, 1. Perilaku verbal tidak berbeda dengan perilaku lainnya yang dapat dipelajari melalui interaksi dengan lingkungan. Anak akan meniru ujaran yang ia dengar . sebagai reaksi terhadap rangsangan . , dan perilaku tersebut akan diperkuat ketika memperoleh tanggapan positif dari lingkungan . Dalam konteks ini. TikTok berperan sebagai penyedia stimulus linguistik, sementara interaksi anak dan tanggapan dari orang tua atau lingkungan menjadi bagian dari respons dan penguatan yang membentuk pemerolehan bahasa. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa media digital dan lingkungan sosial berperan signifikan dalam pemerolehan bahasa anak usia dini melalui mekanisme stimulasi, imitasi, dan penguatan perilaku verbal. Penelitian mengenai paparan video pendek mengungkapkan bahwa konten audiovisual berformat shorts mampu memperkaya kosakata verba, adjektiva, adverbia, dan nomina anak serta memunculkan dampak positif dan negatif terhadap pemerolehan bahasa kedua melalui proses observasi dan pengulangan yang diawasi orang dewasa (Askia et al. Kajian observasi naturalistik terhadap anak bilingual Indonesia Makassar menegaskan bahwa perkembangan fonologi, leksikon, morfosintaksis, dan pragmatik dibentuk melalui interaksi sosial yang intens dan responsif, sehingga bahasa berkembang sebagai hasil Juanda dkk. : Stimulasi Linguistik Melalui Tiktok dan A internalisasi praktik komunikasi sehari hari (Rosvita et al. , 2. Penelitian psikolinguistik pada anak usia tiga tahun memperlihatkan bahwa kemampuan memahami instruksi sederhana dan memproduksi tuturan dua hingga tiga kata muncul melalui proses imitasi, interaksi sosial, dan pengulangan bermakna yang distimulasi oleh keluarga dan guru (Septiani et al. , 2. Studi fonologis pada anak usia tiga tahun menunjukkan variasi bunyi serta penghilangan dan substitusi fonem sebagai bentuk adaptasi artikulatoris yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kognitif (Putri et al. , 2. Penelitian mengenai pengaruh media elektronik terhadap ingatan linguistik anak mengungkapkan bahwa paparan televisi yang terkontrol dapat memperkaya kosakata bahasa asing tanpa menghambat penguasaan bahasa pertama melalui mekanisme stimulus respons dan penguatan verbal (Saputri, 2. Penelitian terdahulu cenderung menelaah pemerolehan bahasa anak melalui pendekatan psikolinguistik dan sosial interaksionis dengan fokus pada interaksi keluarga, sekolah, dan paparan media digital secara umum, sementara analisis berbasis teori behaviorisme Skinner terhadap media sosial khususnya TikTok pada anak usia 3Ae6 tahun belum mendapatkan perhatian memadai. Kajian sebelumnya lebih menekankan deskripsi perkembangan fonologi, leksikon, dan struktur bahasa atau dampak umum media elektronik tanpa mengurai secara sistematis mekanisme stimulus, respons, dan penguatan yang membentuk perilaku berbahasa Kebaruan penelitian ini terletak pada pemaknaan TikTok sebagai sumber stimulus linguistik berulang yang berinteraksi dengan lingkungan sosial anak untuk membentuk pola pemerolehan bahasa melalui penguatan positif, pembiasaan, dan imitasi verbal. Pendekatan ini memperluas pemahaman praktis mengenai peran media sosial sebagai agen pembelajaran bahasa anak usia dini yang terstruktur dan terkontrol serta memberikan dasar empiris bagi pengembangan strategi pendidikan dan kebijakan berbasis prinsip behaviorisme. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran stimulasi linguistik melalui TikTok dan lingkungan sosial terhadap pemerolehan bahasa anak usia 3Ae6 tahun berdasarkan prinsip behaviorisme Skinner. Kontribusi praktis penelitian ini memberikan acuan bagi pendidik anak usia dini dalam merancang strategi pembelajaran bahasa yang memanfaatkan media digital sebagai stimulus berulang dan terarah. Kontribusi berikutnya mendukung pengembangan praktik pembelajaran yang menekankan penguatan positif dan pembiasaan tuturan bermakna melalui interaksi sosial yang konsisten. Kontribusi terakhir menyediakan dasar empiris bagi perumusan kebijakan pendidikan anak usia dini terkait regulasi dan pemanfaatan media sosial sebagai sarana stimulasi bahasa yang terkontrol dan berorientasi perkembangan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam terhadap fenomena pemerolehan bahasa anak melalui media TikTok. Penelitian kualitatif bertujuan menggambarkan dan memahami perilaku manusia berdasarkan konteks alami tanpa intervensi peneliti. Melalui pendekatan ini, proses pemerolehan bahasa diamati sebagaimana adanya dalam situasi nyata, bukan melalui eksperimen buatan. Jenis penelitian deskriptif digunakan karena fokus penelitian ini bukan untuk menguji hipotesis, melainkan untuk memaparkan temuan empiris secara sistematis dan faktual (Sugiyono, 2. Peneliti berperan sebagai instrumen utama dalam proses pengumpulan dan analisis data, serta memastikan interpretasi dilakukan berdasarkan hasil observasi dan dokumentasi lapangan. 90 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 86-103 HASIL DAN PEMBAHASAN Stimulus. Respons, dan Penguatan melalui mand Data 1 Gambar 1. akun tiktok @belajardariibu_ (D1/TT1/@belajardariibu_/00:19/28-07-2025/2. Aukalau berbuat salah bilang maaf . , kalau butuh bantuan bilang tolong . , kalau dapat hadiah ucap terima kasih, kalau kau mau lewat ucapkan permisiAy Video TikTok dari akun @belajardariibu_ menampilkan pembelajaran kata sopan AutolongAy dan Aumaaf. Ay Anak menonton dengan antusias sambil mengikuti pengucapan kata Autolong. Ay Beberapa menit kemudian, anak menerapkannya secara spontan dalam konteks nyata dengan berkata tolong dan maaf. Stimulus utama berasal dari contoh ujaran yang diucapkan dengan intonasi lembut dan ekspresi ramah. Anak memperhatikan suara, ekspresi wajah, dan gestur pembicara sebagai rangsangan linguistik dan emosional. Respons anak berupa penggunaan kata AutolongAy menunjukkan kemampuan mengaitkan bentuk bahasa dengan tujuan komunikatif, yaitu meminta sesuatu dengan cara yang sopan. Proses ini memperlihatkan bahwa perilaku verbal tidak lahir secara instingtif, melainkan terbentuk melalui pengulangan dan penguatan lingkungan. TikTok berfungsi sebagai media yang memberikan stimulus awal, sedangkan keluarga menjadi agen penguat yang mengokohkan perilaku bahasa tersebut. Data 2 Gambar 2. Akun tiktok @gishafunbox (D2/TT2/@gishafunbox/00:22/10-08-2025/2. AuBuka mulutnya a a a, mana giginya i i i, maju mulutnya u u u, mana senyumnya e e e, bulat mulutnya o o o, ini huruf vokal a i u e oAy Pada data dua, respons anak tampak jelas ketika diperlihatkan konten TikTok berupa beajar huruf vokal. Saat gambar anak animasi lucu ditampilkan, saat lagu atau video berlangsung respons Anak menirukan kata Aumana senyumnya e e eAy sambal tersenyum seperti yang ditampilkan pada video TikTok. saat lagu berlangsung, respons tersebut merupakan Juanda dkk. : Stimulasi Linguistik Melalui Tiktok dan A bagian dari perilaku verbal Behaviorisme Skinner, karena kata digunakan sesuai konteks Respons video ini berupa mand. Dengan demikian, respons anak tidak hanya terbatas pada peniruan. Adapun bentuk respons pada data ini adalah mand, yakni perilaku verbal anak menirukan sesuai dengan yang ditampilkan pada video TikTok yang ia tonton. Dengan demikian, respons pada data ini memperlihatkan kemampuan anak dalam menghubungkan stimulus visual dengan huruf vokal. Hal ini menunjukkan bahwa TikTok dapat memengaruhi pemerolehan bahasa sekaligus melalui mekanisme dalam teori Skinner. Stimulus. Respons, dan Reinforcement melalui Tact Data 3 Gambar 3. akun tiktok @elenazahira25 (D3/TT3/@elenazahira25/04:20/15-06-2025/2. AuTebak gambar nama-nama hewan mulai dari kucing, kelinci, sapi, kuda, bebek, gajah, singa, jerapah, monyet, kambing, harimau, serigala, anjing, kangguru, tikus, banteng, beruang, panda, unta, buaya, katak, burung merpati, ayam, tupai, badakAy. Video dari akun @elenazahira25menampilkan pembelajaran nama-nama hewan: Respons Anak menyebutkan nama hewan dengan benar, misalnya AukucingAy AukelinciAy atau Aujerapah. Ay Respons ini merupakan perilaku verbal anak berupa tact karena ketika anak menonton video TikTok tersebut anak langsung menyebutkan semua nama-nama hewan yang ada dalam video TikTok. Bentuk penggunaan TikTok dalam data ini adalah sebagai media kuis interaktif yang memperkaya kosakata kategoris hewan. Stimulus berupa gambar dan pertanyaan menimbulkan respons berupa tact. Reinforcement memperkuat respons anak, sehingga pemerolehan kosakata tentang hewan berlangsung efektif sesuai teori Behaviorisme Skinner. Data 4 Gambar 4. akun tiktok @sabinesinau (D4/TT4/@sabinesinau/00:39/26-12-2024/2. AuIni adalah gelas-gelas untuk minum, ini adalah piring-piring untuk makan, ini adalah sendok-sendok untuk menyuap makanan, ini adalah garpu-garpu untuk 92 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 86-103 menusuk makanan, ini adalah sapu-sapu untuk menyapu, ini adalah pel-pel untuk mengepelAy Respons Anak usia 5 tahun merespons dengan menyebut Augelas untuk minumAy setelah melihat video dan mendengar pertanyaan orang tua. Respons ini merupakan perilaku verbal dari tact yaitu penamaan benda gelas, . elas digunakan untuk minu. Respons tersebut menandakan bahwa anak sudah mulai mampu mengembangkan kalimat sederhana yang berisi informasi lebih lengkap. Hal ini menunjukkan perkembangan bahasa yang melampaui sekadar peniruan bunyi. Bentuk penggunaan TikTok pada data ini adalah sebagai media pengenalan kosakata benda sekaligus fungsinya. Stimulus berupa gambar dan narasi verbal menimbulkan respons berupa tact serta memperkuat perilaku verbal anak, sehingga ia terbiasa menjelaskan tidak hanya nama benda tetapi juga fungsi penggunaannya. Hal ini sesuai dengan prinsip Behaviorisme yang menekankan pembelajaran bahasa melalui asosiasi dan penguatan Data 5 Gambar 5. akun tiktok @miniatura. lagu anak (D5/TT5/@miniatura. laguanak/00:20/14-082025/2. AuBalonku ada lima, rupa-rupa warnanya, hijau kuning kelabu merah muda dan biruAy Video berjudul balonku ada lima menampilkan lagu dan gerakan sederhana. Anak mengikuti lagu sambil menunjuk bagian tubuhnya sesuai lirik. Respons anak menunjukkan perilaku tact, karena ia menamai nama-nama warna. Reinforcement dari orang tua berupa tepuk tangan, tawa, atau komentar positif seperti. Penguatan emosional ini membuat anak semakin antusias untuk mengulang lagu. Selain itu, permintaan anak untuk memutar ulang video juga sering dipenuhi, yang menjadi bentuk reinforcement tambahan. Semua penguatan ini memperkokoh habit formation anak dalam menyebut kosakata warna dan onomatope. Bentuk penggunaan TikTok dalam data ini adalah sebagai media hiburan sekaligus pembelajaran kosakata warna dan bunyi. Stimulus berupa lagu dan animasi balon menghasilkan respons berupa tact. Reinforcement positif dari orang tua memperkuat perilaku verbal anak, sehingga ia terdorong untuk mengulang kosakata yang telah dipelajarinya. Proses ini sesuai dengan prinsip Behaviorisme Skinner mengenai StimulusAeResponsAeReinforcement. Juanda dkk. : Stimulasi Linguistik Melalui Tiktok dan A Data 6 Gambar 6. akun tiktok /@khnisaica_ (D6/TT6/@khnisaica_/00:41/03-12-2023/2. AuSatu seperti lidi, dua seperti bebek, tiga burung terbang, empat kursi terbalik, lima seperti badut. Enam ular melingkar, tujuh tongkatnya kakek, delapan seperti kacang. Sembilan balonku terbang, sepuluh lidi dan bola, ini angka-angka yang sudah kuhafalkanAy Stimulus Video menampilkan angka dengan perumpamaan bentuk, misalnya Auangka satu seperti lidiAy atau Auangka dua seperti bebek. Ay Stimulus berupa metafora visual ini mempermudah anak mengenali bentuk angka melalui asosiasi konkret. Lagu dinyanyikan dengan nada sederhana dan disertai gambar angka serta objek perbandingan, sehingga anak menerima stimulus audio dan visual yang saling melengkapi. Bentuk penggunaan TikTok pada data ini adalah sebagai media pembelajaran angka dengan metode metafora visual. Stimulus berupa lagu angka menimbulkan respons tact. Penguatan dari orang tua memperkuat respons anak, sehingga ia semakin percaya diri dalam menyebutkan angka dan menghubungkannya dengan bentuk konkret. Proses ini membuktikan bahwa habit formation bahasa anak dapat terbentuk melalui rangkaian stimulus. Stimulus. Respons, dan Penguatan melalui Echoic Data 7 Gambar 7. akun tiktok @dhaneswara, kids(D7/TT7/@dhaneswara. kids/00:30/28-22025/2. Aua b c d e f g h I j k l m n o p q r s t u v w x y zAy Stimulus pada video ini menampilkan lagu alfabet dari huruf A sampai Z yang dinyanyikan dengan irama ceria dan sederhana. Visualisasi berupa animasi huruf-huruf berwarna-warni muncul satu per satu mengikuti alunan musik. Kombinasi audio . dan visual . uruf animas. menjadi stimulus yang kaya bagi anak usia 3-4 tahun. Konten semacam ini dirancang dengan tempo lambat, pengulangan, serta penekanan fonetik pada setiap huruf, sehingga memudahkan anak untuk menirukan. Dalam konteks Behaviorisme, video ini merupakan stimulus linguistik yang sengaja dikemas untuk memancing respons verbal awal 94 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 86-103 berupa peniruan bunyi echoic dan penamaan tact. Bentuk penggunaan TikTok dalam data ini adalah sebagai media pengenalan alfabet dasar. Stimulus berupa lagu alfabet dengan animasi huruf menimbulkan respons berupa echoic. Reinforcement dari orang tua memperkuat respons tersebut, sehingga anak semakin terlatih menirukan huruf dan mulai menghubungkannya dengan simbol tertulis. Dengan demikian, habit formation bahasa terjadi secara bertahap, sesuai dengan prinsip dalam teori Behaviorisme Skinner. Data 8 Gambar 8. akun tiktok @belajardariibu_(D8/TT8/@belajardariibu_/00:16/20-7-2025/2. Ausatu one, dua two, tiga three, empat four, lima five, enam six. Tujuh seven, delapan eight, sembilan nine, sepuluh tenAy Video ini menampilkan lagu berhitung angka 1 sampai 10 dengan irama sederhana yang diulang beberapa kali. Setiap angka ditampilkan dalam bentuk tulisan serta ilustrasi objek konkret, misalnya Auone satu, two dua, three tigaAy sehingga anak menerima stimulus ganda berupa bahasa verbal . , simbol . ulisan angk. , dan representasi visual . ambar obje. Konten edukatif seperti ini secara khusus ditujukan untuk anak usia dini yang masih berada pada tahap pra-literasi, sehingga strategi pengulangan dalam video TikTok menjadi stimulus efektif untuk melatih memori linguistik. Bentuk penggunaan TikTok dalam data ini adalah sebagai media pengenalan angka melalui lagu berhitung. Stimulus berupa kombinasi verbal, simbol, dan visual menimbulkan respons berupa echoic. Reinforcement dari orang tua membuat anak semakin terlatih dalam menyebut angka dan menghubungkannya dengan representasi konkret. Hal ini membuktikan bahwa pemerolehan kosakata numerik dapat difasilitasi melalui konten TikTok dengan mekanisme stimulus, respons, dan reinforcement. Data 9 Gambar 9. akun tiktok @ilyasmuyassar (D9/TT9/@ilyasmuyassar/00:29/14-07-2025/2. AuDua mata saya, hidung saya satu, dua kaki saya pakai sepatu baru, dua telinga saya yang kiri dan kanan, satu mulut saya tidak berhenti makanAy Juanda dkk. : Stimulasi Linguistik Melalui Tiktok dan A Respons Anak usia 3 tahun merespons dengan bernyanyi mengikuti irama, terutama pada bagian Audua mata saya. Ay Respons ini termasuk echoic karena anak menirukan kata dalam lagu. respons lebih kompleks terlihat ketika anak menunjuk matanya sendiri sambil berkata Aumata,Ay yaitu penggunaan kata untuk menamai objek nyata. Dalam beberapa kesempatan, anak juga menunjuk anggota tubuh lain, seperti telinga atau tangan, ketika lirik menyebutkan bagian tersebut, yang mengindikasikan pemahaman hubungan kata dengan referen. Bentuk penggunaan TikTok pada data ini adalah sebagai media pengenalan kosakata anggota tubuh. Stimulus berupa lagu dan animasi menghasilkan respons echoic. Reinforcement dari orang tua memastikan respons anak semakin kuat, sehingga ia mampu menghubungkan kosakata dengan tubuhnya sendiri. Hal ini sesuai dengan prinsip Behaviorisme bahwa bahasa diperoleh melalui proses stimulus, respons, dan reinforcement yang berulang. Stimulus. Respons, dan Penguatan melalui Intraverbal Data 10 Gambar 10. akun tiktok @maryamchanel2025 (D10/TT10/@maryamchanel2025/02:20/17-072025/2. AuMenebak nama-nama buah mulai dari buah kiwi, buah semangka, buah melon, dan buah jerukAy Respons Anak usia 5 tahun merespons dengan menyebut nama buah sesuai gambar, misalnya AusemangkaAy atau Aujeruk. Ay Respons ini menunjukkan anak menyebutkan apa yang ia lihat karena anak menamai objek visual yang ia lihat. Selain itu, ketika anak menjawab pertanyaan AuIni buah apa?Ay dengan kata yang sesuai, respons tersebut termasuk intraverbal, sebab ia memberikan jawaban atas stimulus pertanyaan. Respons intraverbal ini penting karena menandakan anak mulai mampu terlibat dalam interaksi tanya-jawab sederhana. Bentuk penggunaan TikTok pada data ini adalah sebagai media kuis edukatif yang memperkenalkan kosakata buah. Stimulus berupa gambar dan pertanyaan verbal menimbulkan respons berupa intraverbal. Reinforcement dari orang tua memperkuat respons tersebut, sehingga anak terbiasa menggunakan kosakata buah dalam interaksi sehari-hari. Data 11 Gambar 11. akun tiktok @gishafunbox (D11/TT11/@gishafunbox/00:43/06-08-2025/2. 96 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 86-103 AuSatu-satu aku sayang ibu, dua-dua juga sayang ayah,tiga-tiga sayang adik kakak, satu dua tiga sayang semuanya. Satu-satu aku sayang ibu, dua-dua juga sayang ayah,tiga-tiga sayang adik kakak, satu dua tiga sayang semuanyaAy Pada data 11, stimulus berasal dari konten TikTok berupa lagu aku sayang ibu. Dalam tayangan tersebut, terdapat video animasi seoarang anak bernyanyi bersama ibu, ayah, kakak, dan adik. Ketika anak ditanya Aulebih sayang ibu atau ayah?Ay anak menjawab Ausayang duaduanyaAy Pertanyaan yang dilontarkan ini menjadi stimulus yang mendorong anak untuk memberikan respons verbal. Bentuk video yang tonton bukan sekadar audio berupa animasi tetapi juga pertanyaan yang bersifat interaktif dan menuntut jawaban dari anak. Dengan demikian, stimulus pada data ini berbeda dengan lagu yang hanya mengandalkan peniruan, sebab anak diajak untuk berpikir dan memahami pertanyaan sebelum menjawab. Bentuk stimulus pada data ini memunculkan perilaku verbal intraverbal, yaitu kemampuan anak untuk merespons pertanyaan dengan jawaban yang sesuai, contohnya anak menjawab Ausayang ibu dan ayahAy sebagai orang tua. Intraverbal terjadi karena stimulus berupa pertanyaan mendorong anak untuk tidak hanya mengulang kata, melainkan menggunakan kosakata berdasarkan pemahaman konteks video. Stimulus interaktif semacam ini sangat penting dalam pemerolehan bahasa anak, karena membantu mengembangkan kemampuan dialogis dan pemahaman naratif. Dengan reinforcement positif dari orang tua, stimulus tersebut menjadi efektif dalam menumbuhkan kemampuan intraverbal anak. Data 12 Gambar 12. akun tiktok @yenipaud (D12/TT12/@yenipaud/00:33/21-01-2024/2. AuLingkari jenis pekerjaan yang tepat sesuai gambar, lengkapi tulisan dari nama pekerjaan dibawah ini, bantulah bu guru menemukan jalan ke sekolah, hubungkan gambar yang sesuai dengan kategorinya, bantulah pak polisi menemukan tempat kerjanya, buatlah garis jalan menuju kesana, hubungkanlah orang dengan alat yang sesuai dengan pekerjaannya, hubungkanlah gambar profesi dengan kendaraan dinasnya, tebalkanlah nama-nama pekerjaan sesuai gambar, hitunglah ada berapa orang dan tuliskan, hitunglah jumlah gambar profesi yang samaAy. Respons Anak usia 6 tahun merespons dengan menyebut AudokterAy ketika ditampilkan gambar orang dengan stetoskop. Ketika orang tua anak bertanya. AuSiapa yang mengajar di sekolah?Ay dan anak menjawab Auguru,Ay respons tersebut merupakan intraverbal, karena muncul sebagai jawaban atas pertanyaan. Respons ini memperlihatkan kemampuan anak menghubungkan stimulus visual dan verbal dengan kosakata abstrak terkait peran sosial. Bentuk penggunaan TikTok pada data ini adalah sebagai media kuis interaktif untuk memperkenalkan kosakata profesi. Stimulus berupa pertanyaan dan gambar menimbulkan respons berupa intraverbal serta memperkuat respons anak sehingga kosakata profesi semakin Juanda dkk. : Stimulasi Linguistik Melalui Tiktok dan A Proses ini menegaskan bahwa pemerolehan bahasa tentang konsep sosial dapat terjadi melalui pola stimulusAeresponsAereinforcement. Data 13 Gambar 13. akun tiktok @ceritabumbum (D13/TT13/@ceritabumbum/00:25/19-102023/2. AuDalam video tersebut dengan tema belajar mengenal warna dasar mulai dari warna merah, biru, kuning, hijau, orange, pink, ungu, coklat, hitam, putih, dan abu-abuAy Respons Anak menirukan kata AumerahAy sambil mengucapkannya dengan suara lantang, yang menunjukkan menirukan bunyi atau kata yang didengar. Respons yang muncul ketika anak menunjuk balon merah pada layar sambil berkata Aumerah. Ay Selain itu, respons intraverbal terlihat ketika orang tua bertanya AuMana balon hijau?Ay dan anak menjawab dengan menunjuk layar sambil mengatakan Auhijau. Ay Dalam respons ini menunjukkan kemampuan anak untuk menjawab pertanyaan berdasarkan stimulus. Bentuk penggunaan TikTok pada data ini adalah sebagai media pembelajaran kosakata Stimulus berupa lagu dengan animasi balon berwarna menghasilkan respons Penguatan positif memperkuat respons tersebut, sehingga anak mampu menghubungkan kosakata warna dengan objek visual dan menggunakannya dalam interaksi. Proses ini menunjukkan terbentuknya habit formation sesuai prinsip Behaviorisme Skinner. Data 14 Gambar 14. akun tiktok @dongenganakcerdas(D14/TT14/@dongenganakcerdas/02:47/10-052025/2. AuDi sebuah hutan yang damai tinggallah seekor kelinci bernama tilo, tilo ini lucu lincah tapi sayangnya hobinya bohong. Pagi-pagi tilo teriak kencang Aoaku lihat ufo, ada di atas pohonAo semua hewan panik dan menengadah tapi yang mereka lihat cuma awan 98 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 86-103 bebentuk panci Aotilo kamu ngibul lagi yaAo. Besoknya tilo lari-lari sambal teriak Aoapi rumahku kebakaranAo semua hewan datang bawa air ternyata tilo cuma bakar jagung Aohehe bercanda kokAo kata tilo, ya ampun dasar kelinci dramaotolong serigala datangAo tapi saat dia berlari minta tolong Aoyah tilo bohong lagi yaAo aku udah capek ditipu terus biarin aja ah. Tilo terdiam dia benar-benar sendiri dan benar-benar ketakutan beruntung serigala itu hanya lewat dia tampaknya tidak lapar dan segera pergi tapi tilo tahu besok belum tentu seberuntung itu dan dia belajar pelajaaran penting hari itu. Sejak saat itu tilo tidak pernah bohong lagi. Kalau kita bohong, orang nggak akan percaya sama kitay Penguatan Orang tua memberikan pujian verbal, misalnya AuBagus sekali, kamu tahu kalau bohong itu tidak baik. Ay Penguatan seperti ini membuat anak terdorong untuk mengulang kosakata dan semakin memahami nilai moral cerita. Penguatan dapat berupa ekspresi positif lain seperti pelukan atau senyuman, yang semakin memperkuat perilaku verbal anak. Bentuk penggunaan TikTok dalam data ini adalah sebagai media dongeng yang memperkenalkan kosakata sekaligus nilai moral. Stimulus berupa cerita menimbulkan respons berupa Reinforcement dari orang tua memperkuat respons anak, sehingga ia tidak hanya menirukan kata, tetapi memahami pesan moral. Hal ini menunjukkan bahwa TikTok dapat menjadi media pembelajaran bahasa sekaligus karakter melalui kerangka Behaviorisme Skinner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemerolehan bahasa anak usia 3Ae6 tahun melalui media TikTok berlangsung secara sistematis sesuai dengan prinsip dasar teori Setiap interaksi anak dengan konten TikTok membentuk hubungan antara stimulus, respons, dan reinforcement, sebagaimana dijelaskan (B. Skinner, 1. bahwa bahasa merupakan perilaku yang dipelajari melalui penguatan dari lingkungan. Keempat bentuk perilaku verbal yaitu mand, tact, echoic, dan intraverbal menunjukkan tahapan berbeda dalam perkembangan bahasa anak, mulai dari peniruan sederhana hingga kemampuan menghasilkan ujaran mandiri yang bermakna. Teknologi digital berperan sebagai salah satu sarana pendukung signifikan dalam pemerolehan bahasa anak usia dini (Saridewi et al. , 2. Sikap sosial merupakan dimensi penting dalam perkembangan anak karena berhubungan langsung dengan kemampuan mereka berinteraksi, bekerja sama, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial (Wisudaningsih et al. , 2. Pada fase mand, anak menggunakan bahasa untuk mengungkapkan keinginan atau kebutuhan tertentu. Ujaran seperti Autolong ambilkan airAy atau Aumau makan nasiAy memperlihatkan kemampuan anak mengaitkan bahasa dengan fungsi Fungsi komunikasi bahasa pada tahap awal perkembangan anak lebih bersifat instrumental yaitu digunakan untuk memenuhi kebutuhan langsung. Reinforcement dari orang tua, seperti senyuman, pelukan, atau pemenuhan permintaan, memperkuat kebiasaan anak menggunakan bahasa secara sopan dan sesuai konteks sosial. Dengan demikian, proses pemerolehan bahasa melalui TikTok tidak hanya melibatkan peniruan tetapi juga pembentukan kesadaran pragmatik dan moral. Fase tact memperlihatkan kemampuan anak menamai objek konkret di sekitarnya. Ketika anak menyebut kata AumerahAy sambil menunjuk benda berwarna sama, atau mengatakan AukucingAy saat melihat hewan peliharaan, hal itu menunjukkan munculnya hubungan antara simbol dan referen. Kemampuan ini sebagai tahap simbolik, yaitu ketika anak mulai Juanda dkk. : Stimulasi Linguistik Melalui Tiktok dan A memahami bahwa kata merupakan representasi dari benda dan konsep di dunia nyata. TikTok yang menampilkan visual warna, bentuk, dan hewan berperan sebagai stimulus yang efektif untuk memperkuat asosiasi semantik tersebut. Reinforcement positif dari orang tua memperkuat koneksi antara bunyi, makna, dan konteks, sehingga bahasa tidak sekadar dihafal tetapi benar-benar dipahami secara fungsional. Teori belajar behavioristik merupakan teori yang menjelaskan mengenai pembelajaran dalam kaitannya dengan peristiwa-peristiwa lingkungan. Teori behavioristik memberikan penekanan pada keadaan lingkunganlah yang berkaitan erat dalam proses pembelajaran (Syarifur et al. , 2. Pada fase echoic, kemampuan anak untuk meniru bunyi dan urutan ujaran menjadi dominan. Anak menirukan angka, huruf, atau kata dari konten TikTok seperti Ausatu, dua, tiga, empatAy atau AuA. DAy. (B. Skinner, 1. menjelaskan bahwa perilaku echoic merupakan dasar pemerolehan bahasa karena anak belajar melalui pengulangan dan peniruan stimulus verbal yang diberikan lingkungannya. Melalui proses ini, anak tidak hanya meniru suara tetapi juga melatih kemampuan fonologis dan artikulatorisnya. Reinforcement berupa pujian atau tepuk tangan dari orang tua menumbuhkan motivasi untuk terus berlatih, memperkuat daya ingat bunyi, serta meningkatkan kejelasan pelafalan. Kemampuan anak dalam berbahasa, menulis, membaca, menghitung, berbicara, dan memecahkan masalah semuanya dapat ditingkatkan melalui literasi sejak dini (Andi Alfiana & Amaranadya Puteri, 2. Fase intraverbal menandai tahap tertinggi dalam perkembangan bahasa anak pada konteks behavioristik. Anak mulai mampu memberikan respons verbal terhadap ujaran lain tanpa stimulus langsung, misalnya menjawab pertanyaan AuApa warna langit?Ay dengan AuBiru,Ay atau mengungkapkan perasaan melalui kalimat AuAku senang. Ibu. Ay Kemampuan ini menunjukkan keterampilan berpikir simbolik dan pemahaman hubungan semantis antar kata. Dalam konteks ini. TikTok berfungsi sebagai media yang menstimulasi kemampuan berpikir dan berbahasa anak melalui cerita, lagu, dan dialog interaktif. Reinforcement berupa tanggapan positif dari orang tua memperkuat kepercayaan diri anak untuk menggunakan bahasa dalam berbagai situasi. Secara keseluruhan, hubungan antara stimulus, respons, dan reinforcement membentuk siklus pembelajaran bahasa yang dinamis. TikTok menyediakan stimulus yang kaya secara visual dan auditif, sedangkan anak memberikan respons verbal yang bervariasi, dan lingkungan keluarga memberikan reinforcement yang mempertahankan kebiasaan berbahasa. (Skinner, 1. menegaskan bahwa penguatan berulang akan meningkatkan frekuensi munculnya perilaku yang diinginkan. Dalam konteks ini, perilaku yang diperkuat adalah penggunaan bahasa secara komunikatif, sopan, dan bermakna. Hasil penelitian ini juga menegaskan bahwa pemerolehan bahasa anak tidak bersifat Anak menjadi pembelajar aktif yang menyeleksi, meniru, dan memodifikasi ujaran sesuai dengan pengalaman sosialnya. Pemerolehan bahasa anak melibatkan aspek sensorimotorik, kognitif, dan afektif yang saling berinteraksi. Paparan konten TikTok yang menarik secara visual dan emosional memicu keterlibatan afektif anak, sehingga mempercepat proses internalisasi bahasa. Reinforcement yang konsisten dari orang tua menjaga agar proses belajar ini berkelanjutan dan bermakna. Perkembangan teknologi yang sangat cepat telah memberikan andil besar bagi terjadinya perubahan bahasa (Maria Firlyana Pare et al. , 2. TikTok berfungsi sebagai media pemerolehan bahasa yang efektif dalam konteks behavioristik, selama penggunaannya 100 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 86-103 diarahkan dan diawasi. Media ini menghadirkan stimulus linguistik yang kuat, memungkinkan anak belajar melalui imitasi, pengulangan, dan interaksi sosial. Ketika anak mendapatkan penguatan positif, perilaku verbal menjadi lebih stabil dan berulang. Proses inilah yang pada akhirnya melahirkan kebiasaan berbahasa yang baik, komunikatif, dan kontekstual pada anak usia dini. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerolehan bahasa anak usia 3Ae6 tahun melalui media TikTok terjadi melalui proses stimulus, respons, dan reinforcement sebagaimana dijelaskan dalam teori behaviorisme (B. Skinner, 1. TikTok berperan sebagai penyedia stimulus linguistik yang bervariasi melalui kombinasi unsur audio, visual, dan teks. Anak memberikan respons berupa ujaran yang menunjukkan empat jenis perilaku verbal, yaitu mand, tact, echoic, dan intraverbal. Proses ini kemudian diperkuat melalui reinforcement dari lingkungan sosial, khususnya orang tua. Media sosial dapat mempengaruhi akuisisi bahasa anak ditinjau dari psikolinguistik, bahwa anak memperoleh kosa kata baru dari media sosial untuk menadai diri mereka, baik untuk suatu kelompok yang kecil maupun kelompok besar (Hilaria et al. , 2. Stimulus adalah segala sesuatu yang dapat memicu respon dari individu penguatan . adalah konsekuensi yang meningkatkan kemungkinan suatu perilaku akan terulang di masa depan. Dalam teori behaviorisme berpendapat bahwa proses belajar harus dijelaskan melalui peristiwa lingkungan, yaitu hubungan antara stimulus dan respons konsekuensi yang menyenangkan disebut penguatan reinforcers. Teori behaviorisme menjelaskan bahwa pemerolehan bahasa pertama pada anak dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu rangsangan yang berasal dari lingkungan sekitarnya Perubahan dalam lingkungan belajar dapat memengaruhi cara berpikir, perasaan, serta perilaku anak secara bertahap (Syahdia & Khadijah, 2. Bahasa pada anak-anak terkadang sukar diterjemahkan, karena anak pada umumnya masih menggunakan struktur bahasa yang masih kacau dan masih mengalami tahap transisi dalam berbicara sehingga sukar untuk dipahami oleh mitratuturnya (Putri et al. , 2. Pada perilaku mand, anak menggunakan bahasa untuk memenuhi kebutuhan, seperti meminta bantuan atau menyatakan keinginan. Tact muncul saat anak menamai objek konkret, warna, atau bagian tubuh. Echoic tampak melalui peniruan bunyi dan pengulangan ujaran dari video, sedangkan intraverbal muncul saat anak menjawab pertanyaan, menceritakan kembali isi video, atau mengekspresikan perasaan dengan kalimat sendiri. Keempat bentuk perilaku verbal tersebut menggambarkan tahapan perkembangan bahasa anak yang progresif, dari peniruan menuju produksi bahasa yang mandiri dan bermakna. Penguatan dari orang tua menjadi faktor kunci dalam keberhasilan proses pemerolehan Pujian, pelukan, senyuman, dan respon positif lainnya memperkuat perilaku verbal yang sesuai. Agar dampak positif ini dapat dirasakan secara optimal, pengawasan dari pendidik dan orang tua sangat diperlukan. Pembimbingan terkait pemilihan konten yang edukatif dan aman, serta pengajaran tentang penggunaan media sosial yang bertanggung jawab, harus menjadi bagian dari strategi pembelajaran (Nugrahani & Abduh, 2. Perilaku yang diperkuat secara positif akan memiliki kecenderungan lebih besar untuk diulang di masa depan. Oleh karena itu, peran orang tua tidak hanya sebagai pendamping, tetapi juga sebagai penguat . dalam proses belajar bahasa anak. Selain itu, konten edukatif Juanda dkk. : Stimulasi Linguistik Melalui Tiktok dan A di TikTok terbukti mampu menarik perhatian anak karena disajikan dengan visual yang dinamis dan audio yang menarik. Media ini memberikan stimulus yang efektif bagi pembelajaran bahasa apabila digunakan secara terarah dan dengan pengawasan yang bijak. Dengan demikian, pemerolehan bahasa anak melalui TikTok dapat berlangsung secara alami, menyenangkan, dan kontekstual. Temuan ini menegaskan bahwa media sosial tidak selalu berdampak negatif bagi anak. Dalam konteks pembelajaran bahasa. TikTok dapat menjadi sarana kreatif yang memfasilitasi pemerolehan kosakata, pelafalan, dan kemampuan berkomunikasi anak. Sejalan dengan pandangan (Tarigan, 2. perkembangan bahasa dipengaruhi oleh intensitas interaksi verbal dan kualitas lingkungan belajar. Oleh karena itu. TikTok dapat menjadi bagian dari lingkungan belajar modern yang mendukung proses perkembangan linguistik anak usia dini. PENUTUP Penelitian ini menegaskan bahwa pemanfaatan TikTok sebagai media multimodal . udioAevisualAe tek. mampu menyediakan stimulus linguistik yang kaya bagi anak usia 3Ae6 tahun. Dalam bingkai Behaviorisme B. Skinner, interaksi anak dengan konten edukatif di TikTok membentuk rantai fungsional stimulusAeresponsAereinforcement yang terlihat nyata pada empat operan verbal: mand . engungkap kebutuhan/permintaa. , tact . enamai objek/konse. , echoic . enirukan bunyi/uja. , dan intraverbal . erespons pertanyaan/berdialo. Temuan dari berbagai cuplikan konten menunjukkan kemunculan perilaku verbal dari level peniruan hingga produksi ujaran sederhana yang Peran reinforcement dari orang tua dan lingkungan sekitar terbukti krusial dalam menstabilkan dan meningkatkan frekuensi perilaku verbal yang diharapkan. Pujian, respons afektif, dan kesempatan praktik berulang memperkuat pembentukan kebiasaan berbahasa . abit formatio. , sehingga kosakata, pelafalan, dan fungsi pragmatik bahasa anak berkembang lebih Dengan kurasi konten yang tepat dan pendampingan yang konsisten. TikTok tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga alat bantu pemerolehan bahasa yang efektif dan Secara teoretis, studi ini memperlihatkan relevansi kontemporer teori Behaviorisme dalam ekosistem digital: penguatan yang sistematis terhadap respons verbal anak pada konteks media singkat dan atraktif mempercepat pengaitan bunyiAemaknaAefungsi sosial. Secara praktis, implikasi utama bagi orang tua dan pendidik adalah pentingnya seleksi konten, batasan durasi, serta pemberian penguatan positif selama dan setelah paparan media. Studi ini memiliki keterbatasan pada cakupan sampel konten dan sifatnya yang deskriptif-kualitatif, sehingga belum menguji besaran pengaruh secara kausal . isalnya durasi paparan, tipe konten, intensitas penguatan, dan perbedaan usi. Penelitian lanjutan disarankan menggunakan desain kuantitatif/eksperimental untuk mengukur efek dan dosis optimal, membandingkan TikTok dengan platform lain, serta menelaah variasi latar sosialbudaya keluarga. Secara keseluruhan, dengan pendampingan orang dewasa yang memadai. TikTok dapat berfungsi sebagai media pembelajaran bahasa dini yang interaktif, bermakna, dan kontekstual, yang memfasilitasi transisi anak dari peniruan menuju produksi ujaran mandiriAi sejalan dengan prinsip stimulusAeresponsAereinforcement dalam kerangka Behaviorisme Skinner. 102 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 86-103 DAFTAR PUSTAKA