UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VI DENGAN MENGGUNAKAN METODE THINK PAIR SHARE (TPS) PADA PEMBELAJARAN PKN DI SDN 16 SURAU GADANG NANGGALO PADANG Fauzan Fauzan@gmail. SD N 16 Surau Gadang Abstract : This research is motivated by the low learning outcomes Citizenship Education (Civic. sixth grade students of SDN 16 Surau Tower District of Nanggalo caused by the lack of variety of learning models so that learning Civics monotonous impacting interest and student learning outcomes. One of the methods that can increase the interest and student learning outcomes is a learning model Think Pair Share (TPS). This research is a classroom action research (PTK) is performed in 2 cycles of 2 meetings of learning. Each cycle includes four stages of action including planning, implementation, observation and The results of this study indicate that the value - average students in the first cycle of 68. 89 increased to 87. 40 in the second cycle. This shows an increase in student learning outcomes from the first cycle to the second cycle. It can be concluded that the application of learning methods Think Pair Share (TPS) can improve learning outcomes Civics sixth grade students of SDN 16 Surau Nanggalo Tower District of the city of Padang. Keywords: Think Pair Share. Learning Outcomes. Civics SD PENDAHULUAN Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu bidang kajian yang mengemban misi nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia melalui koridor Auvaluebased educationAy (Sunarso, 2008:. Pendidikan Kewarganegaraan diajarkan mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dan perguruan tinggi. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran di SD menjadi sarana untuk mengembangkan nilai-nilai luhur dan moral berdasarkan budaya bangsa Indonesia. Nilai-nilai luhur dan moral tersebut diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku kehidupan sehari-hari siswa, sebagai individu maupun anggota masyarakat dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan PKn seseorang akan memiliki kemampuan untuk mengenal dan memahami karakter dan budaya bangsa serta menjadikan warga negara yang siap bersaing di dunia internasional tanpa meninggalkan jati diri bangsa. Melalui PKn setiap warga negara dapat mawas diri dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini yang memberi dampak positif dan negatif. ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 Rendahnya minat belajar siswa terhadap pelajaran Pendidikan Kewarganegara mengakibatkan hasil belajar siswa kurang maksimal, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya dari segi pembelajaran yang masih menggunakan metode biasa atau Seperti yang telah diungkapkan Caroll . alam Ahmad Sabri 2005:. kualitas pembelajaran sangat mendominasi hasil belajar siswa. Namun selama ini dalam proses pembelajaran khusunya pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan guru kurang memperhatikan dan melakukan pendekatan secara emosional. Sehingga efek yang diterima oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran menjadi kurang menarik perhatian siswa dalam memahami atau mempelajari mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PK. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang relative menetap dalam diri seseorang sebagai akibat dari interaksi seseorang dengan lingkungannya. Djamarah . mengungkapkan hasil belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan - kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Berdasarkan hasil pengamatan pada siswa kelas VI SDN 16 Surau Gadang Nanggalo, ditemukan beberapa permasalahan, yaitu guru belum menerapkan model yang kreatif dan inovatif dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Guru hanya meminta siswa untuk membaca bacaan yang terdapat di buku paket lalu menjawab pertanyaan yang ada dan adanya anggapan dari diri para siswa bahwa pelajaran PKn merupakan mata pelajaran yang tidak menarik dan identik dengan hafalan. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran, dikarenakan kurang termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Maka hasil refleksi tersebut dapat berbanding lurus dengan hasil belajar siswa, lebih dari 50% siswa di kelas VI SDN 16 Surau Gadang Nanggalo belum memenuhi kriteria ketuntasan dengan nilai minimal 75. Sehingga perlu adanya pembenahan dengan menerapkan model pembelajaran yang Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Melalui model pembelajaran guru dapat membantu peserta didik ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berfikir, dan mengekspresikan ide. Model pembelajaran berfungsi pula sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. Joyce dan Weil . alam Rusman, 2011:. berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum . encana pembelajaran jangka panjan. , merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. Istilah model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan, guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Salah satu model pembelajaran adalah model pembelajaran koperatif tipe think pair share. Model pembelajaran Think Pair Share merupakan model pembelajaran Kooperatif. Menurut Sanjaya . , model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokkan/ tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akdemik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda . Sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok. Dengan demikian, setiap anggota kelompok akan mempunyai ketergantungan positif. Setiap individu akan saling membantu, mereka akan mempunyai motivasi untuk keberhasilan Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu. Think Pair Share (TPS) juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. Think Pair Share (TPS) sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran . eacher oriente. , tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru . tudent oriente. (Sahrudin, 2. Ciri utama model pembelajaran kooperatif teknik think pair share adalah tiga langkah utamanya yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Yaitu langkah think . erpikir secara individ. , pair . erpasangan dengan teman sebangk. dan share . erbagi jawaban ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 dengan pasangan lain atau seluruh kela. (Handayani, 2. Pada tahap think, siswa diminta untuk berpikir secara mandiri mengenai pertanyaan atau masalah yang diajukan. Langkah kedua adalah agar siswa berpasangan dengan teman sebangkunya sehingga dapat saling bertukar pikiran. Setiap pasangan siswa saling berdiskusi mengenai hasil jawaban mereka sebelumnya sehingga hasil akhir yang didapat menjadi setingkat lebih baik, karena siswa mendapat tambahan informasi dan metodologi pemecahan masalah yang lain. Dalam tahap ini, setiap siswa berbagi hasil pemikiran mereka dengan pasangan lain atau dengan seluruh kelas. Langkah ini merupakan penyempurnaan langkah-langkah sebelumnya, dalam arti langkah ini menolong agar semua kelompok berakhir pada titik yang sama. Untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal maka kualitas pengajaran harus dilakukan secara matang. Pembelajaran PKn yang sering diterapkan oleh guru lebih bersifat teacher oriented dimana guru lebih berperan aktif daripada siswa sehingga menyebabkan hasil belajar tidak maksimal. Untuk itu diperlukan pengembangan model pembelajaran yang dapat menumbukan keaktifan siswa yaitu model pembelajaran cooperative learning tipe Think Pair Share (TPS). Pembelajaran PKn menggunakan model pembelajaran Think Pair Share diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dikarenakan teknik TPS dapat mengkonstruksi pembelajaran sendiri tanpa dibatasi materi dari guru saja. Pada pembelajaran menggunakan model TPS ini,m siswa dapat melatih sikap saling menghormati sesama teman karena dalam tahapannya melibatkan interaksi satu siswa dengan siswa lainnya. Selain itu siswa juga diasah untuk memiliki rasa tanggungjawab dalam menyelesaikan tugasnya. Diharapkan dengan adanya Penelitian Tindakan Kelas ini, dapat bermanfaat bagi: siswa, memperoleh kemudahan dalam mempelajari materi PKn yang bersifat teoritis, diharapkan mempunyai semangat yang tinggi dalam mempelajari materi PKn sehingga pada akhirnya dapat meninggkatkan hasil belajar siswa yang bersangkutan. bagi guru, sebagai masukan bagi guru dibidang studi Pkn dalam menentukan metode mengajar yang tepat sesuai dengan kemampuan tiap kelas, pada mata pelajaran yang bersangkutan, dalam rangka peningkatan hasil belajar siswanya dan sekolah, teman sejawat pengampu mata pelajaran yang sama pada kelas yang berbeda dan pada mata pelajaran yang sejenis dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai masukan dalam penyempurnaan dan pengembangan pembelajaran mereka. Melalui penelitian ini diharapkan akan dihasilkan model pembelajaran PKn yang kontekstual serta memberdayakan komponen - komponen pembelajaran, terutama siswa dan guru secara aktif dan kreatif. ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Arikunto . Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa tindakan yang disengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara Tujuan PTK menurut Aqib . adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik pembelajaran secara berkesinambungan. Sehingga Penelitian Tindakan Kelas ini mempunyai tujuan meningkatkan mutu hasil instruksional, mengembangkan keterampilan guru, meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru. Penelitian ini dilaksanakan pada SD Negeri 16 Surau Gadang Kecamatan Nanggalo yang beralamat di Jalan Padang Perumnas Siteba Kecamatan Nanggalo Kota Padang. Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2014/2015 selama empat . bulan yang dimulai pada bulan September sampai November 2014. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI yang berjumlah 27 orang yang terdiri dari 11 orang laki - laki dan 16 orang perempuan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, tes, dan catatan lapangan. Data hasil belajar yang diperoleh dari tes akhir yang diberikan pada akhir siklus di analisa menggunakan cara persentase ketuntasan belajar siswa dengan indikator keberhasilan apabila 60%-75% siswa menguasai pembelajaran dan 75% atau lebih yang mengikuti proses belajar mengajar mencapai taraf keberhasilan minimal dengan memperoleh nilai KKM 75. Nilai rata Ae rata siswa dengan rumus: Nilai rata Ae rata = Jumlah nilai Jumlah peserta tes (Mulyasa, 2008:. Persentase ketuntasan belajar dengan rumus: Ketuntasan belajar = Oc sb x 100% Ock (Mulyasa, 2008:. Oc sb = jumlah siswa yang mendapat nilai 75 Oc k = jumlah siswa ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 HASIL PENELITIAN Pada siklus I dan siklus II, peneliti merencanakan pembelajaran PKn dengan mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), membuat pedoman observasi sikap antusiasme siswa selama proses pembelajaran PKn menggunakan strategi kooperatif think-pair-share, menyiapkan buku penunjang (PK. yang akan digunakan dalam Tindakan Tindakan yang diberikan oleh guru pada siklus I dan II adalah: C Menjelaskan secara singkat materi tentang tugas dan fungsi pemerintah pusat dan daerah pada siswa C Menyampaikan informasi mengenai pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share kepada siswa seperti pada pertemuan pertama C Memberikan bahan masalah kepada siswa untuk berdiskusi dimana siswa disuruh untuk mencari pasangan dalam kelompoknya . esuai dengan kelompok pada pertemuan sebelumny. C Meminta siswa mengerjakan LKS secara berkelompok. C Mendisuksikan masalah yang diberikan dengan teman berkelompok. C Membagi hasil pemikirannya dengan teman berkelompok dan di kelas. C Menyimpulkan pelajaran. Hasil Penelitian Siklus I Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus I, maka diperoleh hasil penelitian yang menggambarkan frekuensi perolehan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode Think Pair Share. Data tersebut disajikan pada tabel 1 berikut ini. Tabel 1 Frekuensi Perolehan Hasil Belajar Siswa Metode think-pair-share Siklus I Kriteria Penilaian Jumlah Nilai rata-rata Frekuensi 68,89 Berdasarkan data tersebut, nilai rata-rata pretest siswa pada siklus I hanya mencapai 68,89. Artinya dari pembelajaran yang telah dilakukan telah mengalami peningkatan tetapi ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 belum memenuhi indikator keberhasilan penelitian. Data tersebut menunjukkan bahwa yang memperoleh nilai 80-89 adalah 5 orang. 70-79 adalah 9 orang, 60-69 adalah 11 orang, dan 50-59 adalah 2 orang. Artinya, perolehan nilai siswa telah mengalami peningkatan walaupun masih ada siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM yang telah ditentukan Hasil Penelitian Siklus II Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus II, maka diperoleh hasil penelitian yang menggambarkan frekuensi perolehan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode Think Pair Share. Tabel 1 Frekuensi Perolehan Hasil Belajar Siswa Metode think-pair-share Siklus II Kriteria Penilaian Jumlah Nilai rata-rata Frekuensi Berdasarkan data tersebut, nilai rata-rata pretest siswa pada siklus II hanya mencapai Data tersebut menunjukkan bahwa yang memperoleh nilai 90-100 adalah 14 orang. 80-89 adalah 10 orang, dan 70-79 adalah 3 orang. Hal ini membuktikan terjadinya peningkatan dari pelaksanaan tindakan pada siklus I dan siklus II dengan menerapkan metode pembelajaran Think Pair Share. PEMBAHASAN Penelitian tindakan kelas ini dilakukan sebanyak dua siklus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dengan melalui penerapan metode metode think-pair-share pada mata pelajaran PKn dapat meningkatkan penguasaan materi tugas dan fungsi pemerintah pusat dan daerah siswa kelas VI SD Negeri 16 Surau Gadang Kecamatan Nanggalo Kota Padang. Untuk mencapai hasil belajar yang maksimal, maka dalam pelaksanaannya peneliti mengupayakan untuk meningkatkan motivasi ditunjukkan dari: merasa terangsang untuk melaksanakan tugas yang diberikan . , tergerak untuk selalu belajar . , terangsang untuk mewujudkan keinginannya . , keinginan untuk selalu menghilangkan kemalasan, mempunyai keinginan kuat terhadap sesuatu . , mengikuti pembelajaran dengan senang, tidak merasa jenuh dengan pelajaran, selalu tak kenal malas dengan belajar . , bertanya untuk mencari tahu, selalu merasa penasaran terhadap sesuatu . asa ingin tah. Makadapat disimpulkan bahwa melalui ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 penerapan metode think-pair-share dapat meningkatkan penguasaan materi tugas dan fungsi peemrintahan pusat dan daerah pada mata pelajaran PKn pada siswa kelas VI SD Negeri 16 Surau Gadang Kecamatan Nanggalo Kota Padang. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas, adapun hal-hal yang dapat disimpulkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Penggunaan strategi pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan haruslah sesuai dengan strategi pembelajaran yang digunakan, sehingga akan dapat meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran PKn siswa kelasvVI SD Negeri 16 Surau Gadang Kecamatan Nanggalo Kota Padang. Penggunaan strategi TPS dan media yang tepat dalam pembelajaran PKn kelas VI SD Negeri 16 Surau Gadang Kecamatan Nanggalo Kota Padang, dapat meningkatkan hasil belajar pada siklus I yaitu 68,89 menjadi 87,40 pada siklus II. Saran Berdasarkan kesimpulan yang diuraikan di atas, berikut ini disampaikan saran- saran dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS, yaitu kepada: Siswa Dalam proses pembelajaran hendaknya siswa harus lebih aktif dan lebih mengasah kemampuan berfikirnya. Siswa dapat mengembangkan sikap kerjasama dengan saling menghargai, bertanggung jawab atas tugas yang diberikan agar memperoleh hasil belajar yang maksimal. Guru Memilih strategi pembelajaran yang cocok untuk digunakan dalam proses Sekolah Diharapkan dapat memberikan sarana dan prasarana guna untuk mengembangkan model pembelajaran sebagai inovasi dalam pembelajaran agar mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 REFERENSI