117 Putra Anggraini, et. P-ISSN : 2502-8383 E-ISSN : 2808-3954 Vol. 10 No. 2, 2025 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ APPLICATION OF P3 IN THE KARAWI MA TAHO BOOK IN SHAPING THE CHARACTER OF 2ND GRADE STUDENTS AT SDIT INSAN KAMIL SANTI IN BIMA CITY Putri Anggriani 1. Dewi Masitha2. Hermansyah 3 Universitas Muhammadiyah Bima Email: putrianggriani036@gmail. com1, hermandompu95@gmail. com2, masithadewi. 21@gmail. Article Info Corresponding Author: Putri Anggriani putrianggriani036@gmail. Keywords: P3. Karawi Ma Taho. Character Kata kunci: P3. Karawi Ma Taho. Karakter Naskah. Diterima : 17 /04 /2025 Direvisi : 18 /07/ 2025 Disetujui : 07/09/ 2025 Abstract The Independent Curriculum is an innovation with the aim of shaping the character of students that reflects Pancasila values in the form of the Pancasila Student Profile. Character formation includes moral values such as honesty, responsibility and a sense of respect, which are crucial aspects of education. The purpose of this study is to analyze the application of P3 through the book Karawi Ma Taho in shaping the character of 2nd grade students at SDIT Insan Kamil Santi. Bima City. This study uses a qualitative method with a case study approach. Data collection techniques were obtained through observation, interviews and documentation. The results of the study show that the Karawi Ma Taho book is effectively used as a behavioral assessment instrument based on P3 Student characters such as independence, discipline, religiosity, and mutual cooperation develop significantly. In addition, parental involvement and school culture also strengthened the success of this implementation. This study confirms that the integration of character assessment books in school culture is a careful plan in an effort to instill Pancasila values and the formation of students' character. Overall, the Karawi Ma Taho Book has proven to be an effective medium in fostering students' character Abstrak Kurikulum Merdeka merupakan inovasi dengan tujuan untuk membentuk karakter siswa yang mecerminkan nilai-nilai pancasila berupa Profil Pelajar Pancasila. Pembentukan karakter mencakup nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab dan rasa horma, yang menjadi aspek krusial dalam pendidikan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis terkait penerapan P3 melalui buku Karawi Ma Taho dalam membentuk karakter siswa kelas 2 di SDIT Insan Kamil Santi Kota Bima. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku Karawi Ma Taho efektif digunakan sebagai instrumen penilaian perilaku yang berdasarkan nilai-nilai P3. Karakter siswa seperti kemandirian, kedisiplinan, religiusitas, dan gotong royong berkembang secara Selain itu, keterlibatan orang tua dan budaya sekolah turut memperkuat keberhasilan implementasi ini. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi buku asesmen karakter dalam budaya sekolah menjadi rencana yang cermat dalam upaya menanamkan nilai-nilai pancasila dan pembentukan karakter siswa. Secara keseluruhan. Buku Karawi Ma Taho terbukti menjadi media yang efektif dalam membina karakter siswa secara holistik. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Putra Anggraini, et. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan investasi dan menjadi persyaratan peradaban suatu bangsa. Saat ini perbaikan taraf pendidikan terus dilakukan oleh berbagai pihak dalam rangka membangun sumber daya manusia dan karakter bangsa (Astuti et al. , 2. Pendidikan bukan hanya investasi jangka panjang dalam upaya mencapai tujuan kognitif, tetapi juga dalam membangun kemampuan afektif yang membentuk karakter atau sikap yang masih memerlukan penguatan dan pendalaman dalam proses pembelajaran (Rizqi, et al. , 2. Pendidikan memiliki peran vital dalam membangun pengetahuan, keterampilan, dan karakter siswa (Ulandari & Rapita, 2. Aristoteles menjelaskan bahwa pendidikan karakter merupakan perolehan sifat-sifat bajik individu yang berbeda seperti keberanian, kemurahan hati, kasih sayang, dan sebagainya melalui latihan, praktik, dan pembiasaan ditambah aktivitas phronesis (Niccoli et al. , 2. Implementasi nilai-nilai tersebut dilakukan melalui kurikulum, yang senantiasa dinamis dan disesuaikan dengan perubahan zaman. Salah satu inovasi terbaru yuaitu kurikulum merdeka (Putri Jannati. Faisal Arief Ramadhan, 2. Menurut Muktamar kurikulum merdeka mencerminkan berbagai aspirasi dan potensi yang ada di masyarakat (Muktamar et al. Kurikulum merdeka dibuat dengan pengembangan Profil Pelajar Pancasila dengan tujuan yaitu untuk mengembangkan kompetensi siswa berdasarkan pancasila (Tri Sukitman, 2. Selain itu kurikulum merdeka dibentuk berdasarkan tujuan pengembangan karakter melalui konsepsi Profil Pelajar Pancasila. Kurikulum ini berfokus pada lima pilar pendidikan seperti kreativitas, bernalar kritis, berkolaborasi, kerja sama dan pembentukan karakter (Prakarsa et al. Pembangunan karakter di Indonesia menjadi fokus utama dengan adanya pengembangan Profil Pelajar Pancasila (P. P3 merupakan karakter atau potensi yang dibangun melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari dan dihidupkan dalam diri peserta didik melalui budaya sekolah, pembelajaran intrakurukuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler (Wislita & Ramadan. P3 memiliki enam aspek nilai diantaranya yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, mandiri, bergotong-royong, berkebhinekaan global, bernalar kritis dan kreatif (Made et al. , 2. Berdasarkan keenam dimensi tersebut maka pendidikan Indonesia mengarah peserta didik dalam bernalar kritis, komperhensif, cinta tanah air serta bangga menjadi putra dan putri bangsa Indonesia (Rachmawati et al. , 2. Meskipun demikian, tantangan tetap ada, banyaknya sekolah terutama di daerah terpencil masih menghadapi kendala dalam Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Putra Anggraini, et. menanamkan nilai-nilai karakter secara efektif melalui Profil Pelajar Pancasila karena keterbatasan infrastruktur dan sumber daya (Umi Latifah. Tri Joko Raharjo, 2. Pembentukan karakter menjadi sangat penting bagi tegaknya suatu bangsa karena tanpa adanya karakter kemungkinan besar suatu bangsa tidak dapat bertahan sehingga yang muncul adalah siswa yang cerdas namun tidak memiliki nilai-nilai spiritual dan moral (Abidin, 2. Hal tersebut diperjelas dalam peraturan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, terutama Pasal 3 yang menekankan bahwa tujuan utama pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi individu yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohani, berpengetahuan luas, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (Prakarsa et al. , 2. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 mengatur berbagai kompetensi yang berkaitan dengan karakter selain intelektualitas (Muttaqin & Hariyadi, 2. Walaupun telah terdapat aturan tersebut masalah mengenai krisis mentalitas, moral, dan karakter peserta didik masih sangat urgen terutama berkaitan dengan krisis multidimensional lain yang dihadapi bangsa ini pada umumnya dan pada khususnya pendidikan nasional. Oleh sebab itu apabila diamati dan dinilai dengan lebih objektif, maka krisis mentalitas dan moral peserta didik merupakan bentuk refleksi dari yang lebil luas dan telah mengakar pada masyarakat umumnya (Ilham & Hermansyah, 2. Hal itu dapat dilihat pada data dari survei kemendikbud bahwa 35% siswa sekolah dasar di beberapa daerah menunjukkan tingkat ketepatan waktu yang rendah dan kesulitan mematuhi aturan sekolah, yang mengindikasikan kurangnya disiplin sejak dini. Hal ini melahirkan kekhawatiran terhadap penurunan kualitas karakter generasi muda yang terlalu fokus pada aspek kognitif saja (Tiara Savana C & Murfiah Dewi Wulandari, 2. Sebagai sekolah berbasis Islam terpadu. SDIT Insan Kamil memiliki keunikan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dengan ajaran keislaman. Di SDIT Insan Kamil, implementasi nilai-nilai ini didukung oleh buku Karawi Ma Taho. Buku Karawi Ma Taho merupakan sebuah instrumen asesmen perilaku yang mencatat dan mengevaluasi perkembangan karakter siswa. Buku ini diterapkan dengan tujuan untuk membantu pendidik dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila sekaligus mengintegrasikan ajaran keislaman yang menjadi ciri khas sekolah. Buku ini mencatat perilaku sehari-hari siswa, termasuk aspek religiusitas, kedisiplinan, dan tanggung jawab, sehingga sejalan dengan tujuan P3 dalam kurikulum merdeka. Hal tersebut sejalan dengan usaha pemerintah dalam upaya membangun karakter masyarakat melalui implementasi pendidikan karakter dan P3. (Setiawan, 2. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Putra Anggraini, et. Berdasarkan implementasi buku Karawi Ma Taho dan hasil observasi awal, karakter siswa di SDIT Insan Kamil Santi Kota Bima mencerminkan integrasi nilai-nilai pancasila dengan ajaran Siswa didorong untuk mengembangkan nilai religiusitas, kedisiplinan, dan tanggung jawab sebagai bagian dari upaya membentuk karakter yang bisa mencerminkan nilai pancasila. Namun, masih terdapat tantangan dalam penerapan nilai-nilai tersebut, dimana beberapa siswa menunjukkan perilaku yang kurang mencerminkan aspek kedisiplinan, tanggung jawab, dan Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas buku Karawi Ma Taho sebagai instrumen pembentukan karakter masih perlu diperkuat guna mencapai tujuan pendidikan karakter yang lebih optimal. Pembentukan karakter pada anak merupakan hal yang penting terutama pada era teknologi dan informasi yang yang berkembang pesat seperti saat ini. Hal ini didukung oleh Hidayat dalam penelitiannya bahwa pembentukan karakter pada anak seringkali terhambat karena pengaruh negatif dari perkembangan sains, teknologi dan informasi (Hidayat et al. , 2. Kajian mendalam terkait dampak spesifik penggunaannya dalam membentuk karakter menjadi hal yang urgen bagi peneliti untuk menemukan solusi. Adapun Kurniastuti dan Feriandi dalam penelitiannya menjelaskan bahwa dengan adanya penerapan P3 dapat menjadi salah satu bentuk pendidikan karakter pada siswa. Karena dengan adanya pengembangan P3, mampu menumbuhkan karakter pada siswa yang sesuai dengan sila-sila dalam pancasila. Sehingga para siswa dapat memiliki karakter yang baik sesuai dengan sila-sila dalam Pancasila (Roza & Ramadan, 2. Hal tersebut menjadi alasan peneliti untuk melalukan penelitian terkait. AuPenguatan Profil Pelajar Pancasila Pada Buku Karawi Ma Taho dalam Membentuk Karakter Siswa Kelas 2 di SDIT Insan Kamil Santi Kota BimaAy. METODE PENELITIAN Pada riset ini peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus merupakan metode yang digunakan untuk meneliti suatu Aukesatuan sistemAy seperti program, kegiatan, peristiwa, atau suatu kelompok individu yang terikat oleh tempat atau waktu. Pendekatan ini cocok untuk penelitian yang diarahkan untuk menghimpun data, memperoleh makna dan mendapatkan pemahaman dari kasus tersebut (Handayani, 2. Metode ini dipilih oleh peneliti karena dianggap memungkinkan eksplorasi yang mendalam, kontekstual, dan holistik terhadap implementasi buku Karawi Ma Taho dalam P3, khususnya dalam membentuk karakter siswa. Studi kasus memberikan kesempatan bagi peneliti untuk menginterpretasikan realitas sosial secara langsung dari perspektif guru, siswa, dan pihak Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Putra Anggraini, et. sekolah guna memahami dinamika penerapan buku ini dalam praktik sehari-hari. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti pada riset ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi guna memahami efektivitas implementasi buku Karawi Ma Taho dalam pendidikan karakter berbasis P3. Sedangkan dalam teknik analisis data mengunakan teknik Milles dan Huberman seperti pada bagan berikut ini: Gambar 1. Bagan teknik analisis data Milles dan Huberman Pertama. Reduksi data merupakan proses penyaringan, memusatkan, penyederhanaan dan perubahan data mentah agar lebih sistematis dan relevan untuk dianalisis. Kedua. Penyajian data merupakan langkah setelah reduksi data yang bertujuan untuk menyusun data yang telah dipilih, dipadatkan, dan dikelompokkan agar lebih mudah dipahami serta dianalisis. Data yang telah direduksi disusun dalam bentuk yang sistematis sehingga pola dan keterkaitan antar variabel dapat terlihat lebih jelas. Ketiga adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi data yang meliputi proses penafsiran dan pemaknaan data yang ditampilkan. Pengumpulan data itu sendiri merupakan siklus dan interaktif. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Profil Pelajar Pancasila (P. Menurut Notonagoro, pancasila merupakan dasar negara yang menjadi ideologi dan instrumen pemersatu bangsa (Antari & Liska, 2. Pancasila memiliki lima sila yang merupakan ideologi yang digunakan sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat indonesia. Selain itu Notonegoro juga menjelaskan bahwa pancasila merupakan dasar yang sesuai untuk dijadikan patokan (Fitra Amalia, 2. Nilai-nilai pancasila merupakan akar dari jati diri bangsa yang dianggap sebagai gagasan tentang bagaimana kehidupan sesuai dari segi corak, watak, dan ciri masyarakat itu sendiri. Profil Pelajar Pancasila merupakan karakter serta kemampuan yang dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap individu peserta didik melalui budaya suatu satuan pendidikan, pembelajaran intrakurikuler. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. dan esktrakurikuler (Rizkasari, 2. P3 adalah perwujudan pelajar yang memiliki kompetensi Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Putra Anggraini, et. global (Roza & Ramadan, 2. Tidak hanya itu. P3 juga merupakan penerapan dari kurikulum merdeka yang dibuat untuk membentuk karakter siswa sesuai dengan apa yang terkandung dalam pancasila (Kurniastuti. Nuswantari, 2. Dalam konteks pendidikan, penguatan P3 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan sikap moderasi beragama siswa di sekolah. Pelajar Indonesia merupakan individu yang diharapkan menjadi pelajar sepanjang hayat yang tidak hanya memiliki kompetensi akademis tetapi juga nilai-nilai kesehariannya (NurAoaini, 2. Buku Karawi Ma Taho Buku Karawi Ma Taho merupakan instrumen asesmen perilaku yang dirancang untuk mencatat dan mengevaluasi perkembangan karakter peserta didik dalam aktivitas setiap harinya di linkungan sekolah. Istilah Karawi Ma Taho berasal dari bahasa Bima yang berarti "perbuatan yang baik," dalam hal ini yang dimaksud yaitu sikap dan perilaku siswa sehingga secara filosofis mencerminkan esensi dari tujuan pendidikan karakter itu sendiri. Sebagai alat penilaian buku ini berfungsi sebagai panduan bagi guru dalam memberikan umpan balik yang membangun kepada siswa dan guru. Dengan menilai perilaku dalam konteks nyata, buku ini mampu memberikan gambaran komprehensif tentang kemajuan karakter siswa sekaligus mendorong perbaikan sikap secara berkelanjutan. Relevansinya terhadap nilai-nilai lokal dan prinsip pendidikan karakter menjadikan Karawi Ma Taho sebagai sarana yang strategis untuk membentuk perilaku siswa sesuai dengan tujuan Profil Pelajar Pancasila. Terdapat beberapa nilai karakter yang tercantum dalam buku ini seperti kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, dan gotong royong, akan direkapitulasi dan dimasukkan ke dalam rapor siswa sebagai bagian dari penilaian Karawi Ma Taho yang mencerminkan perkembangan sikap dan kepribadian siswa secara menyeluruh. Buku Karawi Ma Taho memiliki keterkaitan yang erat dengan elemen P3 seperti kemandirian, gotong royong dan beriman, yang tercermin pada indikator perilaku yang dinilai. Buku ini tidak hanya mencatat perkembangan sikap siswa, tetapi juga membantu guru memantau sejauh mana nilai-nilai pacasila diinternalisasi oleh siswa dalam aktivitasnya setiap Sebagai wadah untuk menerapkan kurikulum merdeka, buku ini menjadi alat asesmen yang efektif untuk mendukung implementasi Profil Pelajar Pancasila, memberikan panduan bagi guru dalam upaya pembentukan karakter pada siswa agar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Putra Anggraini, et. Penerapan Profil Pelajar Pancasila pada buku Karawi Ma Taho dalam membentuk karakter siswa kelas 2 di SDIT Insan Kamil Santi Kota Bima Melalui wawancara yang dilakukan peneliti terhadap Kepala Sekolah dan Wali Kelas 2A di SDIT Insan Kamil Santi, maka diperoleh data bahwa pada awalnya implementasi nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila hanya dilakukan melalui pembelajaran berbasis proyek P5. Namun, pendekatan tersebut dinilai kurang efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter secara Untuk itu, pihak sekolah memandang perlu adanya sebuah wadah yang lebih integratif dan berkelanjutan, yang mampu menginternalisasikan nilai-nilai P3 ke dalam budaya Maka lahirlah Karawi Ma Taho sebagai bentuk budaya sekolah yang berisi nilai-nilai seperti beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mandiri, gotong royong, berkebinekaan global, bernalar kritis, dan kreatif. Hal ini sejalan dengan konsep P3 yang menekankan pentingnya pendidikan karakter melalui pembelajaran yang terintegrasi pada aktivitas keseharian siswa dalam kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupuan budaya sekolah yang konsisten dan berkelanjutan (Marlina Rizky Suryaningsih, 2. Gambar 2. Proses pengumpulan data melaui wawancara Data atau informasi juga diperoleh dari wali kelas 2A melalui teknik wawancara secara langsung mengenai penerapan buku Karawi Ma Taho di kelas 2A. Dari wawancara dengan beliau bahwa buku Karawi Ma Taho sudah diterapkan sejak adanya kurikulum merdeka di SDIT Insan Kamil Santi Kota Bima. Sejak saat itu buku ini telah melalui beberapa kali perubahan berdasarkan evaluasi yang dilakukan secara berkala setiap tahunnya dengan melibatkan seluruh guru. Berdasarkan penjelasan dari Beliau bahwasanya untuk penggunaan buku Karawi Ma Taho sebagai alat asesmen sikap dan perilaku sudah terdapat aturan yang telah dimuat di dalam buku tersebut. Salah satunya yaitu petunjuk dalam memberikan nilai berdasarkan sikap dan perilaku siswa dengan format nilai sebagai berikut: . Poin 3 akan Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Putra Anggraini, et. diberikan kepada siswa yang melaksanakan aspek yang termuat di dalam buku Karawi Ma Taho tanpa diberitahu atau ditegur oleh guru, . Poin 2 diberikan kepada siswa yang melakukan dengan satu kali teguran, . Poin 1 diberikan kepada siswa yang melakukan dengan teguran lebih dari sekali, dan . poin 0 diberikan kepada siswa yang didak melaksanakan sama sekali, seperti yang ditunjukkan dalam gambar berikut: Gambar 3. Buku Karawi Ma Taho Sistem penilaian pada buku Karawi Ma Taho dilakukan setiap hari baik di sekolah dan di rumah yang telah termuat dalam tabel perminggu. Terdapat beberapa aspek yang penilaian untuk di sekolah yaitu: . Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, . Inklusi, berbudaya dan nasionalis, . Berukhwah dan peduli, . Berkepribadian yang matang, cerdas, bernalar kritis, . Digital, kreatif dan terampil. Aspek-aspek tersebut merupakan bentuk dari implementasi Profil Pelajar Pancasila yang dimuat ke budaya sekolah dalam bentuk buku Karawi Ma Taho. Selain itu pada lembar berikutnya terdapat lembar pengisian untuk di rumah yaitu: . sholat wajib, . sholat sunnah . tilawah Al-quAoan, . mengulang dan menambah hafalan Al-qurAoan, . kemandirian, . pendampinagn orang tua dan terdapat kolom khusus yang berisi catatan orang tua siswa. Pada setiap aspek dibuatkan tabel penilain yang berisikan beberapa beberapa hal terkait aspek tersebut. Untuk mengoptimalkan efektivitas buku Karawi Ma Taho setiap akhir semeter kepala sekolah dan guru akan melakukan evaluasi mengenai buku tersebut untuk mencari tahu mengenai aspek apa yang perlu ditingkatkan lagi untuk membagun karkater siswa sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Setelah itu aspek tersebut akan dimasukkan ke format penilaian pada buku Karawi Ma Taho. Tidak hanya kepala sekolah orang tua juga dilibatkan karena Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Putra Anggraini, et. untuk mengoptimalkan pembentukan karakter pada anak yan mana tidak hanya diterapkan di sekolah saja tetapi di rumah juga harus tetap diterapkan. Dampak Penerapan Profil Pelajar Pancasila pada buku Karawi Ma Taho dalam membentuk karakter siswa kelas 2 di SDIT Insan Kamil Santi Kota Bima Karakter merupakan nilai-nilai yang menjorong pada moral dasar misalnya, kepedulian, keadilan, tanggung jawab dan rasa hormat terhadap diri sendiri (Birhan et al. , 2. Merurut Alport yang merupakan tokoh psikologi Amerika, menjelaskan bahwa karakter berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang. Thomas Lickona menjelaskan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha untuk membuat seseorang memahami nilai-nilai etika secara sengaja (Damariswara et al. , 2. Berkenaan dengan hal ini, siswa menjadi subjek dan objek pendidikan karakter yang dengan sengaja dan tersistem direncanakan agar sesuai dengan situasi yang mengharuskan siswa untuk berperilaku baik (Su & Wang, 2. Bersumber pada beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan ciri khas kepribadian seseorang yang mencakup tabiat, akhlak dan nilai-nilai moral yang membedakannya dari orang lain. Untuk memahami pembentukan karakter secara lebih mendalam, berbagai teori psikologi perkembangan dapat digunakan sebagai landasan. Berdasarkan teori perkembangan moral yang dijelaskan oleh Lawrence Kohlberg bahwa nilai-nilai moral terbentuk melalui tahapan perkembangan kognitif. Teori ini, yang disebut sebagai cognitive-developmental theory of moralization, berakar pada pemikiran Piaget yang menyatakan kognisi dan efek yang berkembang secara bersamaan (Rekah, 2. Sejalan dengan hal tersebut, para tokoh pendidikan seperti Plato. Aristoteles. Locke, dan Herbart telah lama menekankan pentingnya pendidikan karakter sebagai metode yang berfungsi untuk menanamkan pembiasaan yang baik terhadap anak dan remaja (Heidari & Nowrozi, 2. Selain teori perkembangan moral, teori belajar sosial dari Albert Bandura juga memberikan kontribusi penting dalam menjelaskan bagaimana karakter terbentuk melalui proses observasi dan interaksi sosial. Teori ini menyatakan bahwa individu belajar melalui pengamatan, pemodelan, dan peniruan perilaku dari orang lain di lingkungannya (Felice et al. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial, termasuk keluarga, sekolah, dan masyarakat, memiliki peran besar dalam proses pembelajaran nilai-nilai moral. Dengan demikian, proses pendidikan karakter dapat diperkuat melalui pengalaman nyata yang melibatkan interaksi langsung dengan lingkungan sekitar, seperti yang ditegaskan oleh Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Putra Anggraini, et. Bakhrudin All Habsy ddk bahwa pengamatan terhadap perilaku orang lain juga merupakan sarana pembelajaran yang efektif (Bakhrudin All Habsy. Karina Apriliya & Gian Salsabilla Aprilyana, 2. Meninjau pentingnya pengaruh lingkungan dalam pembentukan karakter, pendekatan sistemik menjadi sangat relevan. Kerangka kerja sistem perkembangan menekankan bahwa karakter anak dibentuk oleh interaksi antara individu dan lingkungannya pada berbagai tingkat, termasuk keluarga, sekolah, masyarakat, dan budaya (Zhu et al. , 2. Oleh karena itu, pembentukan karakter merupakan proses multidimensional yang memerlukan sinergi antara faktor internal dan eksternal, yang mencakup bimbingan dari guru, peran aktif orang tua, serta budaya sekolah yang mendukung nilai-nilai positif. Nilai-nilai pancasila memiliki peran sentral sebagai fondasi moral dan etika bangsa dalam konteks pendidikan di indonesia. Pancasila bukan hanya sekadar ideologi nasional, tetapi juga berfungsi sebagai integrator nilai-nilai agama dan sosial dalam masyarakat. Menurut Munawir Syadzali, pancasila tidak bersifat sekuler, melainkan merupakan perpaduan antara nilai-nilai religius dan sosial yang menjunjung perdamaian dan kerukunan (Darmanto, 2. Hal ini diperkuat oleh pandangan bahwa pancasila mencerminkan integritas antara prinsipprinsip keislaman dan kehidupan berbangsa yang mengutamakan kedamaian, persatuan, dan keadilan (Antari & Liska, 2. Dengan demikian. Pancasila menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia melalui sistem pendidikan yang berbasis nilai dan budaya lokal. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap siswa kelas 2A SDIT Insan Kamil Santi, diperoleh informasi bahwa penerapan buku Karawi Ma Taho berdampak positif pada perkembangan karakterpeserta didik khususnya pada aspek gotong royong, tanggung jawab, dan kemandirian. Siswa mulai menunjukkan sikap tolong-menolong, mampu menyelesaikan tugas secara mandiri, dan lebih disiplin dalam mengikuti aturan sekolah. Guru secara aktif melakukan pencatatan terhadap sikap dan kebiasaan siswa serta mengaitkannya dengan indikator nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Sementara itu, dari hasil wawancara yang telah dilakukan peneliti bersama wali kelas 2A diperoleh informasi bahwa buku Karawi Ma Taho sangat membantu dalam proses pembinaan karakter siswa, khususnya dalam membentuk sikap religius dan sosial. Guru menyatakan bahwa buku ini memotivasi siswa untuk berperilaku baik karena mereka mengetahui bahwa setiap tindakan, baik positif maupun negatif, akan dicatat secara rutin. Hal ini berdampak Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Putra Anggraini, et. pada meningkatnya kesadaran siswa untuk lebih disiplin dalam menjalankan ibadah, menjaga kebersihan, berbicara dengan sopan, serta menghormati guru dan teman. Penilaian dalam buku ini yang mencakup aspek keislaman, seperti kedisiplinan salat dan kejujuran, juga dinilai mampu memperkuat identitas religius siswa sejak dini. Selain itu, keterlibatan orang tua juga meningkat karena mereka dapat memantau langsung perkembangan sikap anak melalui buku Namun demikian, guru juga menyampaikan adanya kekurangan dalam implementasi buku ini, khususnya pada siswa fase A yang masih berada pada tahap perkembangan awal. Meskipun format penilaiannya telah disesuaikan untuk usia mereka, beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami makna dari indikator-indikator yang digunakan, terutama yang bersifat abstrak seperti tanggung jawab atau kejujuran. Maka dari itu, pendampingan siswa secara intensif oleh guru harus dilakukan secara konsisten agar siswa dapat memahami makna dibalik setiap indikator dan mampu menginternalisasikannya dalam perilaku sehari-hari SIMPULAN Berdasarkan pemaparan di atas, penerapan buku Karawi Ma Taho di SDIT Insan Kamil Santi Kota Bima memberikan kontribusi yang signifikan dalam proses pembinaan karakter siswa khususnya pada siswa kelas 2A. Buku ini menjadi instrumen asesmen yang dirancang untuk mencatat, memantau, dan mengevaluasi perilaku siswa berdasarkan indikator-indikator karakter yang disusun sesuai nilai religius dan P3. Bagi siswa keberadaan buku ini menjadi pemicu munculnya kesadaran akan pentingnya perilaku baik karena mereka menyadari bahwa tindakan mereka mendapat perhatian dari guru maupun orang tua. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan dalam perilaku seperti kemandirian, kedisiplinan, gotong royong, dan religiusitas. Siswa juga menjadi lebih sopan, bertanggung jawab terhadap tugas, dan lebih konsisten menjalankan ibadah harian. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai moral yang dikaitkan dengan ajaran Islam dapat terinternalisasi melalui pendekatan yang konsisten dan sistematis di sekolah dasar. Buku Karawi Ma Taho sangat membantu dalam menilai dan membina karakter siswa secara lebih objektif dan menyeluruh. Format penilaian yang disediakan dalam buku ini memberikan panduan yang jelas dan memudahkan guru dalam mengamati serta mendokumentasikan perilaku sehari-hari siswa. Selain itu guru dapat merancang tindak lanjut atau pembinaan tambahan bagi siswa yang memerlukan perhatian khusus. Adanya buku Karawi Ma Taho juga meningkatkan komunikasi antara guru dan orang tua, karena buku Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Putra Anggraini, et. menjadi media pelaporan yang informatif dan langsung dapat dipantau oleh wali murid. Orang tua merasa lebih terlibat dalam proses pendidikan karakter anak dan menjadi lebih sadar akan pentingnya membentuk perilaku siswa baik di rumah maupun sekolah. Kolaborasi yang terjalin antara orang tua dan guru menjadikan proses pendidikan lebih efektif dan Meskipun memberikan banyak manfaat, penerapan buku ini masih memiliki tantangan, terutama bagi siswa fase A. Walaupun format penilaian telah disesuaikan, sebagian siswa masih kesulitan memahami makna indikator yang digunakan sehingga dibutuhkan pendampingan intensif dari guru. Hal ini menunjukkan pentingnya peran guru sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa untuk memahami nilai moral yang ingin ditanamkan. Secara umum penerapan buku Karawi Ma Taho mencerminkan pendekatan pendidikan karakter yang terintegrasi dengan nilai-nilai agama islam dan ideologi bangsa melalui pancasila. Berdasarkan pendekatan tersebut buku ini bukan hanya alat evaluatif, tetapi juga sarana pendidikan nilai yang berperan aktif dalam membentuk kepribadian siswa sejak usia dini. Selain memperkuat dimensi religius dalam keseharian siswa. Selain itu buku ini juga menumbuhkan sikap sosial yang berlandaskan pada nilai kebangsaan dan moral universal. Keberhasilan implementasi buku Karawi Ma Taho di sekolah ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran karakter berbasis nilai-nilai keislaman yang dikemas dalam bentuk yang sederhana namun sistematis dapat menjadi strategi efektif dalam pendidikan dasar. DAFTAR RUJUKAN Abidin. Pendidikan Moral Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Islam. Jurnal Paris Langkis, 2. , 57Ae67. https://doi. org/10. 37304/paris. Antari. , & Liska. Implementas Nilai-Nilai Pancasila dalam Penguatan Karakter Bangsa. Jurnal Widyadari, 21. , https://doi. org/10. 5281/zenodo. Astuti. Maryanto, & M. Implementasi Manajemen Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Di Sdit Permata Bunda Demak. Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD, 09. , 3841Ae3853. https://journal. id/index. php/didaktik/article/view/2478 Bakhrudin All Habsy. Karina Apriliya. , & Gian Salsabilla Aprilyana. Penerapan Teori Belajar Behaviorisme dan Teori Belajar Sosial Bandura Dalam Pembelajaran. Jurnal Penelitian Guru Indonesia, 4, 476Ae491. Birhan. Shiferaw. Amsalu. , & Tamiru. Social Sciences & Humanities Open Exploring the context of teaching character education to children in preprimary and Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Putra Anggraini, et. Social Sciences Humanities Open, 4. , https://doi. org/10. 1016/j. Damariswara. Wiguna. Khunaifi. Zaman. , & Nurwenda. Penyuluhan Pendidikan Karakter Adaptasi Thomas Lickona. Dedikasi Nusantara: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pendidikan Dasar, 1. , 25Ae32. https://doi. org/10. 29407/dedikasi. Darmanto. Integrasi Nilai-Nilai Ajaran Islam Dalam Pancasila. STIT Muhammadiyah Tempurrejo Ngawi, 4Ae5. Felice. De. Hamilton. Ponari. Vigliocco. Felice. Hamilton. & Felice. De. Learning from others is good , with others is better : the role of social interaction in human acquisition of new knowledge. Philosophical Transactions B. Fitra Amalia. Penerapan Nilai-nilai Pancasila dalam Membangun Karakter Bangsa. Jurnal Global Citizen, 12. , 1Ae6. http://ejurnal. id/index. Handayani. Metode Penelitian Sosial. In Bandung (Issue Septembe. Heidari. , & Nowrozi. Recognition and Applying Character Education Approaches in Schools. February. https://doi. org/10. 5539/res. Hidayat. Atmojo. , & Istiyati. Implementasi projek penguatan Didaktika Dwija Indria, 12. , 49Ae57. https://doi. org/10. 20961/ddi. Ilham. Hermansyah. Pendidikan Moral Anak Usia Sekolah Dasar Dalam Perspektif Al-Gazali dan Implikasinya Pada Pembentuka Karakter Siswa. KREATIF, 21. , 267Ae278. Kurniastuti. Nuswantari. Implementasi profil pelajar pancasila sebagai salah satu bentuk pendidikan karakter pada siswa SMP. Jurnal SENASSADRA, 1, 445Ae451. Made. Gunawan. , & Suniasih. Profil Pelajar Pancasila dalam Usaha Bela Negara di Kelas V Sekolah Dasar. , 133Ae141. Marlina Rizky Suryaningsih. Implementasi Nilai-Nilai Profil Pelajar Pancasila Dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. Muallimuna : Jurnal Madrasah Ibtidaiyah, 9. , 12Ae26. Muktamar. Yusri. Reski Amalia. Esse. , & Ramadhani. Transformasi Pendidikan: Menyelami Penerapan Proyek P5 untuk Membentuk Karakter Siswa. Journal of International Multidisciplinary Research, 2. , 5. https://journal. com/index. php/jimr Muttaqin. , & Hariyadi. Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan Masyarakat Pada Sekolah Dasar. JRPD (Jurnal Riset Pendidikan Dasa. , 3. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Putra Anggraini, et. 1Ae7. https://doi. org/10. 26618/jrpd. Niccoli. Piantoni. , & Ricci. Virtue Monism . Some Advantages for Character Education Virtue Monism Some Advantages Character Education. April. https://doi. org/10. 1007/s11245-024-10041-y NurAoaini. Implementasi Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin (P2RA) dalam Kurikulum Prototife di Sekolah / Madrasah. Jurnal Ilmiah Pedagogy, 2. , 84Ae97. Prakarsa. Montessori. , & Rusdinal. Implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Pembentuk Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah. De-Journal (Dharmas Education Journa. , 5. , 747Ae753. http://ejournal. id/index. php/de_journal Putri Jannati. Faisal Arief Ramadhan. Peran Guru Penggerak Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 7. , 330Ae345. https://doi. org/10. 35931/am. Rachmawati. Marini. Nafiah. , & Nurasiah. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Implementasi Kurikulum Prototipe di Sekolah Penggerak Jenjang Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 6. , 3613Ae3625. Rekah. Moral Stages and Moralization: The CognitiveAe Developmental Approach of Lawrence Kohlberg. Tabayyun, 5. , 191Ae222. Rizkasari. Profil Pelajar Pancasila Sebagai Upaya Menyiapkan Generasi Emas Indonesia. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar. , 50Ae60. https://doi. org/10. 30659/pendas. Rizqi. Tanzilla. , & Anggraeni. Konstruksi Sosial : Jurnal Penelitian Ilmu Sosial Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Upaya Membangun Karakter. Penelitian Ilmu Sosial, 1. , 176Ae181. Roza. , & Ramadan. Implementasi Profil Pelajar Pancasila Elemen Berkhebinekaan Global di Sekolah Dasar. , 2206Ae2211. https://doi. org/10. 31949/educatio. Setiawan. Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Upaya Meminimalisir Bullying Sekolah Dasar. Jurnal Elementaria Edukasia, 7. , 2367Ae2380. https://doi. org/10. 31949/jee. Su. , & Wang. The influence of students Ao sense of social connectedness on prosocial behavior in higher education institutions in Guangxi . China : A perspective of perceived teachers Ao character Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Putra Anggraini, et. teaching behavior and social support. November, 1Ae14. https://doi. org/10. 3389/fpsyg. Tiara Savana C, & Murfiah Dewi Wulandari. Penanaman Pendidikan Karakter Profetik Dalam Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (Ptm. Melalui E-Learning. Jurnal Cakrawala Pendas, 8. , 592Ae600. https://doi. org/10. 31949/jcp. Tri Sukitman. Penguatan Nilai Profil Pelajar Pancasila Dalam Kurikulum Merdeka Di Sekolah Dasar. Jurnal Pembangunan Sumenep, 3. Ulandari. , & Rapita. Implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila sebagai Upaya Menguatkan Karakter Peserta Didik. Jurnal Moral Kemasyarakatan, 8. , 116Ae132. https://doi. org/10. 21067/jmk. Umi Latifah. Tri Joko Raharjo. Implementasi Projek Penguatan Profilpelajar Pancasila (P. Kurikulum Merdeka Tema Kearifan Lokal Dalam Penguatan Karakter Peserta Didik di Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 09(Septembe. Wislita. , & Ramadan. Implementasi Profil Pelajar Pancasila Sekolah Dasar. 579Ae587. Zhu. Shek. , & Yu. Parental and School Influences on Character Attributes Among Chinese Adolescents. 10(Februar. https://doi. org/10. 3389/fped. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025