Jurnal Aplikasi Ilmu Teknik Industri Volume 7. Nomor 1. Maret 2026, pp 18-31 p-ISSN: 2722-1539 e-ISSN: 2722-3795 Pemaknaan Karyawan terhadap Corporate Social Responsibility dan Sustainable Development pada Perusahaan Manufaktur dan Jasa A* Emma Budi Sulistiarini. A Imaduddin Bahtiar Efendi, 3Uyun Nadzirotul Faidah Chindy Alvionita Bana Pah Program Studi Teknik Industri. Universitas Widya Gama. Jalan Borobudur 35. Malang Program Studi Teknik Industri. Universitas Islam Majapahit. Jalan Raya Jabon. Mojokerto e-mail :1*emma_budi@widyagama. id, 2 imaduddin@unim. id, 3uyunnadzir@gmail. 2022@unim. ABSTRACT This study examines how employees in manufacturing and service firms interpret Corporate Social Responsibility (CSR) and Sustainable Development in their organizational context. The study is motivated by the continuing debate on whether CSR and Sustainable Development are understood as identical, different, or overlapping concepts in business practice. A descriptive qualitative approach was employed. Data were collected through semi-structured interviews with 11 employees working in manufacturing, service, and construction-related service contexts in East Java. Indonesia. The data were analyzed using descriptive thematic analysis, including data reduction, coding, categorization, interpretation, and conclusion drawing. The findings show that employees interpret CSR and Sustainable Development in different ways. Some employees understand CSR mainly as charity or social donation. Others interpret CSR as part of Sustainable Development, especially when company programs are related to environmental preservation, education, health, and community empowerment. The study also finds that internal communication and employee involvement play important roles in shaping employeesAo understanding of the relationship between CSR and Sustainable Development. These findings imply that companies need not only to implement CSR programs, but also to communicate them clearly and align them with long-term sustainability objectives so that employees can understand and support them as internal stakeholders. Keywords: corporate social responsibility, sustainable development, employee perception, manufacturing industry, service industry ABSTRAK Penelitian ini mengkaji bagaimana karyawan pada perusahaan manufaktur dan jasa memaknai Corporate Social Responsibility (CSR) dan Sustainable Development dalam konteks organisasi tempat karyawan bekerja. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih adanya perbedaan pandangan mengenai apakah CSR dan Sustainable Development dipahami sebagai konsep yang sama, berbeda, atau saling bertumpang tindih dalam praktik perusahaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap 11 karyawan yang bekerja pada sektor manufaktur, jasa, dan layanan konstruksi di Jawa Timur. Indonesia. Data dianalisis dengan analisis tematik deskriptif melalui tahap reduksi data, pengkodean, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karyawan memaknai CSR dan Sustainable Development secara beragam. Sebagian karyawan memahami CSR terutama sebagai kegiatan sosial atau donasi. Sebagian lainnya memaknai CSR sebagai bagian dari Sustainable Development, terutama ketika program perusahaan berkaitan dengan pelestarian lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan Penelitian ini juga menunjukkan bahwa komunikasi internal dan keterlibatan karyawan berperan penting dalam membentuk pemahaman karyawan mengenai hubungan antara CSR dan Sustainable Development. Implikasi penelitian ini adalah perusahaan tidak cukup hanya menjalankan program CSR, tetapi juga perlu mengomunikasikannya secara jelas dan mengarahkannya pada tujuan keberlanjutan jangka panjang agar dipahami serta didukung oleh karyawan sebagai internal stakeholders. Kata kunci: corporate social responsibility, sustainable development, persepsi karyawan, industri manufaktur, industri jasa id/index. php/japti Jurnal Aplikasi Ilmu Teknik Industri Volume 7. Nomor 1. Maret 2026, pp 18-31 p-ISSN: 2722-1539 e-ISSN: 2722-3795 PENDAHULUAN Isu keberlanjutan semakin mendapat perhatian dalam dunia industri, baik pada perusahaan manufaktur maupun jasa. Perubahan iklim, penurunan kualitas lingkungan, keterbatasan sumber daya, serta meningkatnya tuntutan sosial mendorong perusahaan untuk tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan dari aktivitas usahanya. Dalam konteks ini. Sustainable Development menjadi konsep yang relevan karena menekankan pemenuhan kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya . , . Agenda pembangunan berkelanjutan juga menuntut keterlibatan sektor swasta, termasuk dunia industri, untuk berkontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan . , . Keterlibatan perusahaan dalam agenda tersebut sering diwujudkan melalui Corporate Social Responsibility (CSR). Secara konseptual. CSR telah berkembang dari tanggung jawab moral perusahaan terhadap para pemangku kepentingan menjadi pendekatan yang lebih strategis dan semakin dekat dengan isu keberlanjutan . , . Dalam praktiknya. CSR dapat berbentuk program sosial, lingkungan, pendidikan, kesehatan, maupun pemberdayaan masyarakat. Berbagai kajian menunjukkan bahwa CSR tidak lagi dipahami semata-mata sebagai aktivitas filantropi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi organisasi untuk merespon tuntutan keberlanjutan dan ekspektasi para pemangku kepentingan . , . Meskipun demikian, hubungan antara CSR dan Sustainable Development belum selalu dipahami secara seragam. Sejumlah studi memandang CSR sebagai salah satu instrumen perusahaan untuk berkontribusi pada Sustainable Development Goals. Namun, studi lain menunjukkan bahwa CSR dan Sustainable Development dapat menempati posisi yang berbeda, bergantung pada orientasi program, strategi perusahaan, dan konteks organisasi . , . Dalam praktik perusahaan, perbedaan tersebut kerap muncul ketika program masih didominasi kegiatan donasi atau charity, sedangkan agenda keberlanjutan menuntut dampak yang lebih sistematis, berjangka panjang, dan terintegrasi. Perbedaan pemaknaan tersebut penting dikaji dari sudut pandang karyawan sebagai internal stakeholders. Karyawan merupakan pihak yang dekat dengan praktik organisasi sehari-hari, menerima informasi dari manajemen, terlibat dalam aktivitas operasional, dan dalam beberapa kasus juga berpartisipasi langsung dalam pelaksanaan program Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa persepsi karyawan terhadap CSR dapat memengaruhi kepuasan kerja, komitmen organisasi, keterlibatan kerja, dan dukungan terhadap organisasi . Ae. Oleh karena itu, pemahaman karyawan mengenai hubungan antara CSR dan Sustainable Development menjadi penting karena berpengaruh terhadap keberhasilan internalisasi nilai keberlanjutan di dalam perusahaan. Dalam konteks perusahaan manufaktur dan jasa di Indonesia, isu ini semakin relevan. Banyak perusahaan mulai menjalankan program sosial dan lingkungan, tetapi tingkat formalitas, dokumentasi, dan integrasinya dengan agenda keberlanjutan masih bervariasi. Kajian tentang sustainability pada organisasi bisnis menunjukkan bahwa dorongan menuju keberlanjutan dipengaruhi oleh tekanan eksternal, hambatan internal, manfaat yang dirasakan, serta kemampuan organisasi menerjemahkan sustainability ke dalam praktik bisnis sehari-hari . , . Dalam kondisi tersebut, pemahaman karyawan terhadap CSR dan Sustainable Development belum tentu seragam, meskipun perusahaan telah menjalankan program yang secara substansi berkaitan dengan keberlanjutan. Penelitian mengenai Corporate Social Responsibility (CSR) dan Sustainable Development telah berkembang dalam berbagai perspektif. Sebagian besar penelitian terdahulu berfokus pada dampak CSR terhadap reputasi perusahaan, kinerja organisasi, loyalitas pelanggan, maupun kontribusi perusahaan terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan . , . , . , . Selain itu, penelitian terdahulu umumnya id/index. php/japti Jurnal Aplikasi Ilmu Teknik Industri Volume 7. Nomor 1. Maret 2026, pp 18-31 p-ISSN: 2722-1539 e-ISSN: 2722-3795 menggunakan perspektif manajemen perusahaan, masyarakat, atau konsumen sebagai sumber utama data penelitian. Meskipun demikian, perhatian terhadap perspektif karyawan sebagai pemangku kepentingan internal masih belum sebesar perhatian terhadap kelompok pemangku kepentingan lainnya . Ae. Padahal, karyawan merupakan pihak yang secara langsung berinteraksi dengan kebijakan perusahaan dan berperan penting dalam keberhasilan implementasi program CSR maupun strategi keberlanjutan organisasi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam mendukung produktivitas dan kinerja organisasi. Namun, kajian yang ada masih lebih banyak menitikberatkan pada aspek beban kerja dan produktivitas karyawan . Sementara itu, penelitian yang secara khusus mengeksplorasi bagaimana karyawan memaknai kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan Corporate Social Responsibility (CSR) dan Sustainable Development masih sangat terbatas, khususnya pada konteks perusahaan manufaktur dan jasa di Indonesia. Selain itu, keberlangsungan organisasi dipengaruhi oleh berbagai aspek, termasuk faktor ekonomi, pasar, dan produksi . Meskipun demikian, kajian mengenai keberlanjutan organisasi masih didominasi oleh perspektif manajerial dan operasional, sehingga belum banyak memberikan pemahaman mengenai bagaimana keberlanjutan organisasi dimaknai oleh karyawan sebagai pelaku internal organisasi. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini menawarkan kontribusi dengan menempatkan karyawan sebagai subjek utama untuk memahami hubungan antara Corporate Social Responsibility dan Sustainable Development dalam konteks perusahaan manufaktur dan jasa. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang lebih banyak menyoroti aspek organisasi, manajerial, atau pemangku kepentingan eksternal, penelitian ini berfokus pada pemaknaan karyawan terhadap kedua konsep tersebut berdasarkan pengalaman kerja dalam lingkungan organisasi. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian CSR dan Sustainable Development dari perspektif internal organisasi yang masih belum banyak dieksplorasi dalam konteks perusahaan di Indonesia. Untuk menjawab tujuan tersebut, penelitian ini dirumuskan ke dalam beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut. RQ1: Bagaimana karyawan pada perusahaan manufaktur dan jasa memaknai Corporate Social Responsibility dan Sustainable Development? RQ2: Apakah CSR dan Sustainable Development dipahami karyawan sebagai konsep yang sama, berbeda, atau saling berkaitan? RQ3: Faktor apa saja yang memengaruhi pemaknaan karyawan terhadap hubungan CSR dan Sustainable Development di perusahaan? Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemaknaan karyawan terhadap hubungan antara Corporate Social Responsibility (CSR) dan Sustainable Development pada perusahaan manufaktur dan jasa serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pemaknaan tersebut. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat teoritis dan praktis. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya kajian mengenai hubungan CSR dan Sustainable Development dari perspektif internal stakeholders, khususnya karyawan. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi perusahaan manufaktur dan jasa dalam memperbaiki desain program CSR, meningkatkan komunikasi internal, serta memperkuat kontribusi program perusahaan terhadap Sustainable Development. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pendekatan tersebut dipilih karena penelitian bertujuan memahami pemaknaan karyawan terhadap Corporate id/index. php/japti Jurnal Aplikasi Ilmu Teknik Industri Volume 7. Nomor 1. Maret 2026, pp 18-31 p-ISSN: 2722-1539 e-ISSN: 2722-3795 Social Responsibility (CSR) dan Sustainable Development pada perusahaan tempat informan bekerja. Fokus penelitian tidak diarahkan untuk menguji hubungan kausal antarvariabel, melainkan untuk menggali pemahaman, penafsiran, serta pengalaman karyawan sebagai internal stakeholders terhadap program perusahaan yang berkaitan dengan CSR dan keberlanjutan. Dalam penelitian ini. Corporate Social Responsibility (CSR) didefinisikan sebagai tanggung jawab organisasi atas dampak keputusan dan aktivitasnya terhadap masyarakat dan lingkungan melalui perilaku yang transparan dan etis, yang berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat sebagaimana dijelaskan dalam ISO 26000 . CSR dalam penelitian ini dipahami melalui persepsi karyawan terhadap berbagai program dan kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Sementara itu. Sustainable Development mengacu pada konsep pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri sebagaimana dirumuskan dalam laporan World Commission on Environment and Development . Konsep ini menekankan keseimbangan antara dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan sebagai landasan keberlanjutan jangka panjang. Definisi konseptual tersebut digunakan sebagai dasar dalam penyusunan pedoman wawancara, proses pengumpulan data, pengkodean hasil wawancara, serta interpretasi temuan penelitian. Dengan demikian, analisis pemaknaan karyawan terhadap CSR dan Sustainable Development dilakukan berdasarkan kerangka konseptual yang memiliki landasan teoritis dan empiris yang jelas. Definisi tersebut juga digunakan untuk membedakan pemaknaan informan yang mengaitkan CSR dengan kegiatan sosial atau filantropi semata dan pemaknaan yang menghubungkan CSR dengan tujuan keberlanjutan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Penelitian dilaksanakan pada perusahaan yang beroperasi di wilayah Jawa Timur, khususnya di Kota Malang. Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan. Perusahaan yang menjadi konteks penelitian berasal dari sektor manufaktur dan jasa, termasuk layanan konstruksi yang dalam penelitian ini dikategorikan sebagai sektor jasa. Perusahaanperusahaan tersebut memiliki karakteristik skala usaha yang bervariasi. Namun demikian, penelitian ini tidak membedakan analisis berdasarkan ukuran perusahaan, melainkan berfokus pada pemaknaan karyawan terhadap CSR dan Sustainable Development dalam konteks organisasi tempat informan bekerja. Informan penelitian adalah karyawan yang bekerja pada perusahaan manufaktur dan jasa dengan kriteria telah bekerja minimal dua tahun, bersedia menjadi informan penelitian, serta mampu menjelaskan pemahamannya mengenai program CSR dan kaitannya dengan Sustainable Development. Penelitian ini melibatkan 11 informan. Sebagian informan juga merupakan mahasiswa atau lulusan baru program studi Teknik Industri. Karakteristik tersebut dinilai relevan karena memberikan paparan awal terhadap konsep CSR dan Sustainable Development, meskipun fokus penelitian tetap berada pada pengalaman dan pemahaman informan sebagai karyawan. Karakteristik lengkap informan disajikan pada Tabel 1 dalam pembahasan. Data primer dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur. Teknik ini dipilih karena memungkinkan peneliti memperoleh jawaban yang terarah sesuai tujuan penelitian, sekaligus memberikan ruang bagi informan untuk menjelaskan pengalaman dan pandangannya secara lebih bebas serta mendalam. Wawancara dilakukan secara individual menyesuaikan waktu luang masing-masing informan selama kurang lebih satu bulan. Sebelum wawancara dimulai, peneliti terlebih dahulu menjelaskan secara singkat pengertian umum CSR dan Sustainable Development untuk menyamakan pemahaman id/index. php/japti Jurnal Aplikasi Ilmu Teknik Industri Volume 7. Nomor 1. Maret 2026, pp 18-31 p-ISSN: 2722-1539 e-ISSN: 2722-3795 dasar informan. Wawancara kemudian diarahkan pada beberapa aspek, meliputi pengetahuan informan mengenai keberadaan program CSR di perusahaan, bentuk program yang diketahui, tujuan program menurut pemahaman informan, penilaian atas keterkaitan program dengan Sustainable Development, serta cara perusahaan mengomunikasikan program tersebut kepada karyawan dan masyarakat. Fokus pertanyaan wawancara dan tujuan penggalian data disajikan pada Tabel 2. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah panduan wawancara semi-terstruktur yang disusun berdasarkan tujuan penelitian. Panduan wawancara dirancang untuk menggali empat aspek utama, yaitu pemahaman karyawan tentang CSR, pemahaman karyawan tentang Sustainable Development, pemaknaan hubungan antara CSR dan Sustainable Development, serta peran komunikasi internal perusahaan dalam membentuk pemahaman karyawan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik deskriptif melalui beberapa tahap. Tahap pertama dilakukan reduksi data dengan menyeleksi dan merangkum hasil wawancara sesuai fokus penelitian. Tahap kedua berupa pengkodean awal terhadap bagian data yang berkaitan dengan pemahaman tentang CSR. Sustainable Development, hubungan antara keduanya, serta komunikasi internal perusahaan. Tahap ketiga adalah pengelompokan data yang telah diberi kode ke dalam kategori dan tema utama. Tahap keempat dilakukan interpretasi terhadap pola-pola pemaknaan yang muncul dari masingmasing informan serta perbandingan antar konteks perusahaan. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan berdasarkan pola temuan yang konsisten dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Alur analisis penelitian ditunjukkan pada Gambar 1. Sedangkan hasil reduksi data dan kategorisasi tema disajikan pada Tabel 3. Gambar 1. Alur Analisis Penelitian Untuk meningkatkan keabsahan data, penelitian ini menggunakan pemeriksaan konsistensi jawaban informan serta ketekunan peneliti dalam proses interpretasi. Peneliti membaca ulang hasil wawancara secara berulang guna memastikan bahwa kategori dan tema yang dibentuk sesuai dengan jawaban informan. Selain itu, dilakukan pula perbandingan jawaban antar informan dari sektor usaha yang berbeda untuk mengidentifikasi konsistensi maupun variasi pemaknaan yang muncul. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil berikut pembahasannya adalah sebagai berikut. Karakteristik Informan Penelitian ini melibatkan 11 informan yang bekerja pada perusahaan manufaktur, jasa, dan layanan konstruksi di wilayah Jawa Timur. Seluruh informan telah memiliki id/index. php/japti Jurnal Aplikasi Ilmu Teknik Industri Volume 7. Nomor 1. Maret 2026, pp 18-31 p-ISSN: 2722-1539 e-ISSN: 2722-3795 pengalaman kerja minimal dua tahun, sehingga dinilai cukup mengenal praktik kerja dan program perusahaan tempat informan bekerja. Sebagian besar informan berasal dari sektor manufaktur, sedangkan sisanya berasal dari sektor jasa. Selain berstatus sebagai karyawan, sebagian informan juga merupakan mahasiswa atau lulusan baru program studi Teknik Industri. Karakteristik ini relevan bagi penelitian karena informan memiliki paparan awal terhadap konsep CSR dan Sustainable Development, meskipun tingkat pemahaman dalam konteks perusahaan tetap beragam. Ringkasan karakteristik informan disajikan pada Tabel Secara umum, data menunjukkan bahwa sebagian besar informan mengetahui adanya program CSR di perusahaan tempat kerja masing-masing. Program-program tersebut umumnya dikenali dalam bentuk kegiatan sosial, bantuan masyarakat, aktivitas lingkungan, maupun program pemberdayaan tertentu yang dilaksanakan perusahaan. Meskipun demikian, tingkat pemahaman informan terhadap hubungan antara CSR dan Sustainable Development menunjukkan variasi yang cukup beragam. Sebagian informan memandang keduanya sebagai konsep yang saling berkaitan dan memiliki tujuan serupa, sementara sebagian lainnya masih memaknai CSR sebagai kegiatan sosial yang terpisah dari agenda keberlanjutan perusahaan secara lebih luas. Variasi pemaknaan tersebut mengindikasikan bahwa keberadaan program CSR dalam perusahaan belum secara otomatis diikuti oleh keseragaman pemahaman karyawan mengenai posisi strategis CSR dalam kerangka Sustainable Development. Oleh karena itu, perbedaan persepsi tersebut selanjutnya dianalisis dan dikelompokkan ke dalam beberapa tema utama untuk mengidentifikasi pola pemaknaan yang muncul antar informan. Tabel 1. Karakteristik Informan Penelitian Kode Informan Sektor Usaha I4 (RAS) I5 (ACN) I6 (ARN) Perawatan/perbaikan Industri rokok Layanan pakan ternak/sapi Industri furniture Industri cat Industri percetakan I7 (RBF) Industri media I1 (AS) I2 (AZM) I3 (YD) Jenis Usaha Status Pendidikan Jasa Mahasiswa Manufaktur Mahasiswa Jasa Mahasiswa Manufaktur Manufaktur Manufaktur Mahasiswa Mahasiswa Mahasiswa S1-fresh S1-fresh S1-fresh S1-fresh S1-fresh Jasa I8 (ABR) Pengolahan biji plastik Manufaktur I9 (RST) Industri otomotif Manufaktur I10 (YWS) Konstruksi Jasa I11 (WRG) Elektronik/smartphone Manufaktur Lama Bekerja Kelomp ok Usia Ou 2 tahun 20Ae30 Fokus Penggalian Data Wawancara Wawancara dalam penelitian ini dirancang untuk menggali tidak hanya pengetahuan informan mengenai keberadaan program CSR di perusahaan, tetapi juga cara informan menafsirkan hubungan antara CSR dan Sustainable Development serta bagaimana komunikasi internal perusahaan memengaruhi pembentukan pemahaman tersebut. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat mengeksplorasi lebih dalam apakah persepsi karyawan terbentuk melalui pengalaman langsung, keterlibatan dalam program, maupun melalui mekanisme komunikasi organisasi yang diterapkan perusahaan. Fokus pertanyaan wawancara dan tujuan penggalian data disajikan pada Tabel 2. id/index. php/japti Jurnal Aplikasi Ilmu Teknik Industri Volume 7. Nomor 1. Maret 2026, pp 18-31 p-ISSN: 2722-1539 e-ISSN: 2722-3795 Tabel 2. Fokus Pertanyaan Wawancara dan Tujuan Penggalian Data Aspek Fokus Pertanyaan Tujuan Penggalian Data Identitas informan Pengetahuan CSR Bentuk program Tujuan program Keterkaitan dengan Sustainable Development Komunikasi internal Keterlibatan karyawan Usia, status pendidikan, sektor usaha, lama bekerja Apakah perusahaan memiliki program CSR Program CSR apa yang diketahui informan Apa manfaat program menurut Apakah program hanya donasi atau juga mendukung Bagaimana perusahaan mengomunikasikan program kepada karyawan/masyarakat Apakah karyawan terlibat dalam pelaksanaan program Mengidentifikasi profil Mengetahui tingkat pengetahuan dasar informan Memetakan jenis program Mengidentifikasi pemahaman terhadap tujuan CSR Menilai pemaknaan hubungan CSR dan Sustainable Development Mengidentifikasi peran komunikasi internal Menilai posisi karyawan sebagai internal Proses Analisis Tematik Penelitian ini menggunakan tahapan reduksi data, pengkodean awal, kategorisasi, dan identifikasi tema untuk membangun hasil. Melalui alur tersebut, temuan penelitian disusun secara bertahap berdasarkan jawaban informan, bukan ditarik secara langsung dari narasi wawancara. Gambar 1 menunjukkan alur analisis penelitian dari input, proses, hingga hasil. Reduksi data dan kategorisasi tema disajikan pada Tabel 3. Kode Informan I1 (AS) I2 (AZM) I3 (YD) I4 (RAS) I5 (ACN) Tabel 3. Hasil Reduksi Data dan Kategorisasi Tema Ringkasan Jawaban Kode Awal Kategori Utama CSR berupa penghijauan dan pembagian bibit pohon. dipahami sebagai CSR, belum jelas sebagai SD CSR berupa pembangunan taman dipahami terkait lingkungan dan CSR berupa distribusi susu dan biogas dari limbah ternak. dipahami mendukung kesehatan dan energi CSR berupa membuka lapangan kerja dan pemanfaatan limbah kayu untuk masyarakat CSR berupa donasi cat dan hadiah. dipahami promosi, sebagian terkait pelatihan masyarakat Tema Utama bibit pohon. Program Lingkungan CSR sebagai bagian dari Sustainable Development taman kota. ruang hijau. Program Lingkungan CSR sebagai bagian dari Sustainable Development Program Kesehatan dan Pemberdayaan CSR sebagai bagian dari Sustainable Development limbah kayu. Pemberdayaan Masyarakat CSR sebagai bagian dari Sustainable Development bantuan cat. Charity dan Pelatihan CSR dan Sustainable Development tumpang tindih id/index. php/japti Jurnal Aplikasi Ilmu Teknik Industri Volume 7. Nomor 1. Maret 2026, pp 18-31 Kode Informan I6 (ARN) I7 (RBF) I8 (ABR) I9 (RST) I10 (YWS) I11 (WRG) Ringkasan Jawaban Utama CSR berupa pembagian makanan gratis. dipahami sebagai donasi murni CSR berupa santunan, job fair, dan pelatihan memberi manfaat sosial CSR berupa bakti sosial dan penanaman mendukung lingkungan Tidak mengetahui adanya program CSR di Tidak mengetahui apakah perusahaan memiliki CSR karena pola kerja mobile CSR berupa pelatihan bahasa, fotografi, dan bermanfaat bagi Kode Awal p-ISSN: 2722-1539 e-ISSN: 2722-3795 Kategori bantuan sosial Charity Sosial dan Pendidikan bakti sosial. Sosial dan Lingkungan tidak tahu. Komunikasi Lemah tidak tahu. Komunikasi Lemah Pendidikan dan Pengembangan Tema Utama CSR sebagai kegiatan sosial CSR dan Sustainable Development tumpang tindih CSR sebagai bagian dari Sustainable Development Ketidakpahaman Ketidakpahaman CSR sebagai bagian dari Sustainable Development Bentuk Program Perusahaan yang Dipahami sebagai CSR Hasil wawancara menunjukkan bahwa karyawan mengenali berbagai bentuk program perusahaan yang dikategorikan sebagai CSR. Program-program tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat bentuk utama, yaitu program donasi atau charity, program lingkungan, program pendidikan dan pelatihan, serta program kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Program donasi atau charity merupakan bentuk CSR yang paling mudah dikenali oleh Beberapa informan menyebut program pembagian makanan, santunan kepada yatim piatu, hadiah perayaan kemerdekaan, serta bantuan sosial kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk utama CSR. Temuan ini menunjukkan bahwa pada tingkat operasional. CSR masih banyak dipahami sebagai kegiatan sosial yang bersifat langsung, insidental, dan berorientasi pada bantuan kepada masyarakat. Selain itu, terdapat pula program lingkungan yang dipahami sebagai CSR, seperti penghijauan lahan, pembagian bibit pohon, pembangunan taman kota, dan penanaman Program-program ini menunjukkan bahwa sebagian perusahaan telah menjalankan bentuk CSR yang lebih dekat dengan agenda keberlanjutan lingkungan. Pada sektor manufaktur dan industri yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan, program seperti ini lebih mudah dipahami karyawan sebagai bentuk tanggung jawab Bentuk lain yang juga muncul adalah program pendidikan dan pelatihan, misalnya pelatihan bahasa, pelatihan fotografi, pelatihan menulis dan publikasi media, serta kegiatan job fair. Karyawan juga menyebut kegiatan yang diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat atau peningkatan kesiapan kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa CSR tidak hanya dimaknai sebagai bantuan material, tetapi juga sebagai bentuk pengembangan kemampuan masyarakat. id/index. php/japti Jurnal Aplikasi Ilmu Teknik Industri Volume 7. Nomor 1. Maret 2026, pp 18-31 p-ISSN: 2722-1539 e-ISSN: 2722-3795 Program kesehatan dan pemberdayaan masyarakat juga ditemukan, seperti distribusi susu untuk siswa Sekolah Dasar dan pemanfaatan limbah kotoran sapi menjadi biogas rumah tangga. Temuan ini menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus, perusahaan tidak hanya menjalankan CSR yang bersifat simbolik, tetapi juga mulai mengarah pada penciptaan manfaat sosial dan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Pemaknaan Karyawan terhadap Hubungan CSR dan Sustainable Development Berdasarkan hasil reduksi data, pemaknaan karyawan terhadap CSR dan Sustainable Development dapat dipetakan ke dalam empat tema utama, sebagaimana diringkas pada Tabel 4. Tabel 4. Sintesis Pemaknaan Karyawan terhadap CSR dan Sustainable Development Tema utama Indikator temuan Informan terkait Interpretasi CSR dipahami sebagai CSR masih CSR sebagai bantuan sosial, sedekah, dimaknai sempit kegiatan sosial atau donasi insidental sebagai charity Program dikaitkan CSR sebagai dengan pelestarian Karyawan melihat bagian dari lingkungan, kesehatan. I1. I2. I3. I4. I8. CSR berkontribusi Sustainable pendidikan, energi I11 pada keberlanjutan Development alternatif, dan Program dipahami Batas antara CSR CSR dan sekaligus sebagai CSR dan Sustainable Sustainable dan sebagai kegiatan I5. I7 Development Development yang memberi manfaat belum dipahami tumpang tindih jangka panjang secara tegas Informan tidak Komunikasi Ketidakpahaman mengetahui program CSR karena kurang I9. I10 sosialisasi atau komunikasi internal CSR dipahami sebagai kegiatan sosial Sebagian informan memaknai CSR terutama sebagai aktivitas sosial berupa pemberian bantuan kepada masyarakat. Program seperti pembagian makanan gratis, santunan ke panti asuhan, hadiah perlombaan warga, dan bantuan sosial dipahami sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan yang bersifat langsung. Dalam pola pemaknaan ini. CSR belum dipandang sebagai bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang, melainkan lebih sebagai bentuk kepedulian perusahaan kepada masyarakat sekitar. Pernyataan informan yang merepresentasikan tema ini adalah: AuProgramnya lebih ke pembagian makanan gratis untuk masyarakat setelah salat JumAoat. (I. CSR dipahami sebagai bagian dari Sustainable Development Sebagian informan menunjukkan pemahaman yang lebih luas. Informan tersebut menilai bahwa beberapa program CSR perusahaan juga berkontribusi pada Sustainable Development, terutama jika program tersebut berkaitan dengan lingkungan, pendidikan, kesehatan, atau pemberdayaan masyarakat. Misalnya, program penghijauan, pembangunan taman kota, penanaman mangrove, distribusi susu, dan pemanfaatan limbah menjadi biogas dipahami sebagai kegiatan yang tidak hanya bermanfaat secara sosial, tetapi juga mendukung keberlanjutan. id/index. php/japti Jurnal Aplikasi Ilmu Teknik Industri Volume 7. Nomor 1. Maret 2026, pp 18-31 p-ISSN: 2722-1539 e-ISSN: 2722-3795 Pernyataan yang mewakili tema ini antara lain: AuPenanaman pohon dan pembagian bibit itu menurut saya untuk menjaga lingkungan, jadi bukan hanya CSR biasa. Ay (I. AuPemanfaatan kotoran sapi jadi biogas itu membantu masyarakat dan juga mengurangi Ay (I. CSR dan Sustainable Development dipahami tumpang tindih Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bagi sebagian karyawan, batas antara CSR dan Sustainable Development tidak selalu jelas. Kedua konsep tersebut dipahami saling berkaitan dan dalam praktik kerap bertumpang tindih. Karyawan melihat bahwa satu kegiatan dapat sekaligus disebut sebagai CSR dan Sustainable Development apabila kegiatan tersebut dilakukan oleh perusahaan, ditujukan kepada masyarakat, dan memiliki dampak sosial atau lingkungan. Contoh pernyataan informan: AuProgramnya memang promosi, tetapi juga ada pelatihan untuk masyarakat, jadi menurut saya ada manfaat jangka panjangnya. Ay (I. Ketidakpahaman akibat keterbatasan informasi Selain tiga pola pemaknaan di atas, terdapat pula informan yang menyatakan tidak mengetahui secara jelas apakah perusahaan memiliki program CSR atau tidak. Ada pula yang belum mampu menjelaskan hubungan antara CSR dan Sustainable Development. Kondisi ini terutama muncul pada informan yang merasa tidak memperoleh informasi yang cukup dari manajemen, atau bekerja dalam sistem kerja yang lebih tersebar sehingga akses informasi menjadi terbatas. Contoh pernyataan informan: AuSaya tidak tahu ada program CSR atau tidak, karena tidak pernah ada informasi yang Ay (I. Peran Komunikasi Internal dalam Membentuk Pemahaman Karyawan Salah satu temuan penting penelitian ini adalah bahwa komunikasi internal perusahaan sangat memengaruhi pemahaman karyawan mengenai CSR dan Sustainable Development. Pada perusahaan yang informasinya disampaikan dengan baik, karyawan cenderung mampu menyebut bentuk program, menjelaskan tujuan kegiatan, dan menilai keterkaitannya dengan Sustainable Development. Sebaliknya, pada perusahaan dengan komunikasi internal yang lemah, karyawan cenderung tidak mengetahui program CSR secara jelas atau hanya memahami sebagian kecil dari kegiatan perusahaan. Komunikasi internal dalam konteks ini tidak hanya berarti penyampaian informasi secara formal. Komunikasi juga mencakup keterlibatan karyawan dalam pelaksanaan kegiatan, penggunaan media internal, sosialisasi oleh pimpinan, dan penjelasan mengenai tujuan program. Ketika karyawan terlibat langsung, karyawan cenderung lebih mudah menghubungkan program perusahaan dengan manfaat sosial dan lingkungan yang lebih Keterlibatan Karyawan sebagai Internal Stakeholders Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa keterlibatan karyawan dalam program perusahaan berkontribusi pada terbentuknya pemahaman yang lebih baik. Pada beberapa kasus, karyawan tidak hanya mengetahui program CSR, tetapi juga terlibat langsung dalam pelaksanaannya, baik sebagai peserta, pelaksana, maupun pendukung kegiatan. Keterlibatan ini membuat karyawan lebih mudah melihat bahwa program perusahaan tidak hanya bertujuan membangun citra, tetapi juga memberi manfaat sosial dan lingkungan. Sebagai internal stakeholders, karyawan memiliki posisi strategis dalam menjembatani tujuan perusahaan dan pelaksanaan program di lapangan. Ketika karyawan memahami bahwa suatu program merupakan bagian dari tanggung jawab sosial sekaligus id/index. php/japti Jurnal Aplikasi Ilmu Teknik Industri Volume 7. Nomor 1. Maret 2026, pp 18-31 p-ISSN: 2722-1539 e-ISSN: 2722-3795 mendukung Sustainable Development, karyawan cenderung memiliki sense of belonging yang lebih kuat terhadap perusahaan. Pembahasan Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa pada tingkat praktis. CSR masih dominan dipahami karyawan sebagai kegiatan sosial dan donasi. Namun, ketika program perusahaan memiliki orientasi yang lebih jelas pada aspek lingkungan, pendidikan, kesehatan atau pemberdayaan masyarakat, karyawan mulai melihat bahwa CSR juga merupakan bagian dari Sustainable Development. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara CSR dan Sustainable Development tidak dipahami secara tunggal, tetapi berada pada spektrum pemaknaan yang berbeda-beda. Temuan ini sejalan dengan kajian yang menyatakan bahwa keterlibatan perusahaan dalam Sustainable Development dapat mengambil bentuk yang beragam, dan CSR sering menjadi salah satu jalur implementasinya, meskipun tidak selalu identik secara konseptual . , . , . Fakta bahwa sebagian karyawan masih memahami CSR sebagai charity menunjukkan bahwa orientasi tradisional CSR masih cukup kuat di tingkat internal organisasi. Hal ini dapat dipahami karena bentuk program yang paling terlihat oleh karyawan sering kali berupa bantuan sosial langsung kepada masyarakat. Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa sustainability pada organisasi bisnis tidak hanya ditentukan oleh niat perusahaan, tetapi juga oleh interaksi antara tekanan, hambatan, manfaat, dan kemampuan organisasi untuk mengintegrasikan agenda keberlanjutan ke dalam praktik bisnisnya . , . Dengan demikian, ketika perusahaan belum mengomunikasikan tujuan jangka panjang program secara jelas, karyawan cenderung menafsirkan CSR dalam makna yang lebih Temuan penelitian ini juga menegaskan bahwa komunikasi internal berperan penting dalam membentuk pemahaman karyawan mengenai hubungan antara CSR dan Sustainable Development. Karyawan yang memperoleh informasi yang lebih jelas dan terlibat dalam kegiatan perusahaan cenderung mampu menjelaskan tujuan program secara lebih utuh. Sebaliknya, karyawan yang kurang memperoleh informasi menunjukkan ketidakjelasan dalam menafsirkan program perusahaan. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa komunikasi yang transparan dan hubungan internal yang baik dapat meningkatkan kepercayaan, keterbukaan terhadap perubahan, dan pemaknaan yang lebih positif terhadap kebijakan organisasi . Dalam konteks CSR, persepsi karyawan yang lebih baik terhadap autentisitas dan arah program perusahaan juga berkaitan dengan sikap yang lebih positif terhadap organisasi . Dari perspektif internal stakeholders, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa karyawan bukan hanya penerima informasi, tetapi juga aktor penting dalam internalisasi nilai keberlanjutan. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa persepsi karyawan terhadap CSR berhubungan dengan kepuasan kerja, komitmen organisasi, dan dukungan terhadap perusahaan . , . Dalam penelitian ini, keterlibatan karyawan dalam pelaksanaan program juga tampak memperkuat pemahaman karyawan mengenai manfaat sosial dan lingkungan dari kegiatan perusahaan. Dengan demikian, semakin kuat pelibatan karyawan, semakin besar peluang CSR dipahami bukan hanya sebagai aktivitas simbolik, tetapi juga sebagai bagian dari orientasi keberlanjutan perusahaan. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa karyawan memaknai Corporate Social Responsibility (CSR) tidak hanya sebagai aktivitas sosial perusahaan, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap berbagai pemangku kepentingan. Karyawan melihat bahwa implementasi CSR memiliki keterkaitan dengan upaya perusahaan dalam menjaga keberlanjutan organisasi melalui perhatian terhadap aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan organisasi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan program perusahaan, tetapi juga oleh pemahaman dan keterlibatan karyawan sebagai pelaku utama dalam organisasi. Berbagai id/index. php/japti Jurnal Aplikasi Ilmu Teknik Industri Volume 7. Nomor 1. Maret 2026, pp 18-31 p-ISSN: 2722-1539 e-ISSN: 2722-3795 penelitian menunjukkan bahwa sumber daya manusia memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian tujuan organisasi dan kinerja perusahaan . Dalam konteks penelitian ini, peran tersebut tercermin melalui cara karyawan memaknai serta menghubungkan program CSR dengan tujuan keberlanjutan perusahaan. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karyawan memandang keberlanjutan perusahaan sebagai upaya yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga mencakup tanggung jawab sosial dan lingkungan. Pandangan tersebut sejalan dengan kajian yang menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan usaha melalui pengelolaan aspek ekonomi, pasar, dan produksi secara berkelanjutan . Dengan demikian, pemaknaan karyawan terhadap CSR dan Sustainable Development dapat dipahami sebagai bagian dari upaya organisasi dalam menciptakan keberlanjutan jangka Bagi bidang Teknik Industri dan Manajemen Industri, temuan ini relevan karena menunjukkan bahwa implementasi CSR dan Sustainable Development tidak dapat dilepaskan dari aspek sistem organisasi, komunikasi, dan pengelolaan sumber daya Program CSR yang dirancang tanpa dukungan komunikasi internal yang baik berisiko dipahami secara parsial oleh karyawan. Sebaliknya, program yang jelas, terarah, dan melibatkan karyawan berpotensi memperkuat sense of belonging, dukungan internal, dan konsistensi pelaksanaan program di lapangan. Oleh karena itu, perusahaan manufaktur dan jasa perlu memandang karyawan sebagai bagian penting dari sistem keberlanjutan perusahaan, bukan hanya sebagai pelaksana operasional. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa karyawan pada perusahaan manufaktur dan jasa memiliki pemaknaan yang beragam terhadap Corporate Social Responsibility (CSR) dan Sustainable Development. Berdasarkan hasil wawancara, pemaknaan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat pola utama. Pertama. CSR dipahami sebagai kegiatan sosial atau donasi murni. Kedua. CSR dipahami sebagai bagian dari Sustainable Development. Ketiga. CSR dan Sustainable Development dipahami sebagai konsep yang saling bertumpang tindih. Keempat, sebagian karyawan belum memahami hubungan keduanya karena keterbatasan informasi di dalam perusahaan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan dalam konteks penelitian telah menjalankan program yang dipahami karyawan sebagai CSR, baik dalam bentuk bantuan sosial, program lingkungan, pendidikan, kesehatan, maupun pemberdayaan Namun, tidak seluruh program tersebut dipahami karyawan sebagai kontribusi terhadap Sustainable Development. Program yang paling mudah diidentifikasi sebagai bagian dari Sustainable Development umumnya adalah program yang memiliki dampak lebih jelas terhadap lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya, program yang bersifat insidental dan berbentuk donasi cenderung dipahami sebagai CSR dalam arti sempit. Temuan penting lainnya adalah bahwa komunikasi internal perusahaan berperan besar dalam membentuk pemahaman karyawan. Karyawan yang memperoleh informasi yang jelas dan terlibat dalam pelaksanaan program cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai hubungan antara CSR dan Sustainable Development. Sebaliknya, lemahnya komunikasi internal menyebabkan sebagian karyawan tidak mengetahui keberadaan program CSR atau tidak mampu menjelaskan kontribusinya terhadap keberlanjutan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa pemaknaan karyawan terhadap CSR dan Sustainable Development bersifat kontekstual dan dipengaruhi oleh bentuk program, keterlibatan dalam kegiatan, serta kualitas komunikasi internal Oleh karena itu, perusahaan perlu memandang karyawan sebagai internal stakeholders yang penting dalam memperkuat orientasi keberlanjutan, bukan semata-mata sebagai pelaksana operasional. id/index. php/japti Jurnal Aplikasi Ilmu Teknik Industri Volume 7. Nomor 1. Maret 2026, pp 18-31 p-ISSN: 2722-1539 e-ISSN: 2722-3795 Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran yang dapat diajukan. Pertama, perusahaan manufaktur dan jasa perlu meningkatkan komunikasi internal mengenai tujuan, bentuk, dan manfaat program CSR agar keterkaitan program dengan Sustainable Development dapat dipahami secara lebih memadai oleh karyawan. Kedua, perusahaan perlu mengarahkan program CSR agar tidak berhenti pada kegiatan donasi atau charity semata, tetapi lebih diarahkan pada program yang memiliki manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat. Ketiga, perusahaan perlu meningkatkan keterlibatan karyawan dalam perencanaan maupun pelaksanaan program CSR. Keempat, penelitian selanjutnya dapat dikembangkan dengan memperluas jumlah informan, melibatkan lebih banyak sektor usaha, dan membandingkan perusahaan berdasarkan karakteristik organisasi, tingkat formalitas program CSR, atau intensitas komunikasi internal. DAFTAR PUSTAKA