Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 PEMANFAATAN SARGASSUM SP. TERHADAP DERIVAT PURIN. VFA DAN PROTEIN MIKROBA DOMBA EKOR TIPIS JANTAN LEPAS SAPIH Agustinus Paga1. Ali Agus2*. Kustantinah2. Ferdinan S. Suek1 Jurusan Peternakan. Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Jl. Prof. Dr. Herman Yohanes Lasiana Kupang Nusa Tenggara Timur Indonesia, 85228. Indonesia. Fakultas peternakan. Universitas Gadjah Mada Jl. Fauna 3. Bulaksumur Yogyakarta -55281. Indonesia e-mail : aliagus@ugm. ABSTRAK Rumput laut Sargassum sp. yang tidak dimanfaatkan untuk bahan pangan sangat berpotensi untuk bahan pakan Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan rumput laut Sargassum sp. terhadap Derivat Purin. VFA dan Protein Mikroba pada domba ekor tipis jantan lepas sapih. Penggunaan tepung rumput laut Sargassum pengeringan matahari pada domba ekor tipis jantan lepas sapih 16 ekor, berumur 5 Ae 6 bulan dengan bobot badan 11,8 kg selama 3 bulan, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 4x4 dengan empat perlakuan yaitu T1 = hijauan konsentrat 0% mineral dari konsentrat. T2 = Hijauan konsentrat mineral booster sapi 0,38% dari konsentrat. T3 = hijauan konsentrat Sargassum sp. 5% dari konsentrat. T4 = hijauan konsentrat Sargassum sp. 10% dari konsentrat. Variabel penelitian yang diamati adalah. Allantoin, asam urat, xantin-Hipoxantin, derivate purin. Asetat. Propionat. Butirat. VFA , pH. NH3 dan Protein mikroba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0,. terhadap allantoin, asam urat, xantin- hipoxantin, derivat purin. Propionat, pH, dan protein mikroba, namun berpengaruh nyata (P<0,. terhadap asetat, butirat. VFA dan NH3. Konsentrasi asetat tertinggi perlakuan T1 =144,025 mM dan terendah T2= 21,39 mM. Butirat tertinggi perlakuan T1=32,08 mM dan terendahT2=6,81mM. VFA tertinggi=T1=215,52 sedangkan terendahT4=102,69 mM. NH3 tertinggi T1=28,85 mM terendah T3=21,55 mM. Disimpulkan bahwa penggunaan tepung rumput laut Sargassum sp. 10% dari total konsentrat belum berpengaruh terhadap derivate purin,VFA dan protein mikroba domba ekor tipis jantan lepas sapih. Kata kunci : Sargassum sp. , domba ekor tipis. Derivat purin. VFA. PENDAHULUAN Sistem pencernaan ternak ruminansia memiliki keunikan bila dibandingkan dengan ternak non Keunikan tersebut terlihat dari proses pembentukan berbagai macam produk yang dihasilkan dalam rumen untuk memenuhi kebutuhan ternak ruminansia seperti nitrogen (N) mikroba. Peningkatan sintesis N mikroba rumen dipengaruhi oleh tingkat fermentasi rumen yang mempunyai peranan besar untuk pasokan protein ke usus halus (Husnaeni et al. , 2. Perbaikan nutrisi protein tersedia bagi organ pencernaan di kaudal rumen ruminansia dapat dicapai melalui peningkatan pasokan protein asal mikroba dan protein asal pakan yang lolos degradasi. Sumber protein yang terdegradasi di rumen kemungkinan hanya memberikan pasokan protein mikroba, sebaliknya pemberian protein yang tidak terdegradasi di rumen disamping memberikan pasokan protein mikroba, juga protein untuk hewan inang/induk semang, sehingga persediaan asam amino bagi penyerapan usus halus menjadi lebih banyak (Broderick, 2. Ekskresi turunan purin melalui urin tenak ruminansia. Penggunaan ekskresi derivate purin sebagai penduga protein mikroba rumen diberikan untuk hewan inang . nduk seman. Hal ini karena pada ternak ruminansia asam nukleat (AN) mengalir ke usus halus pada dasarnya berasal dari mikroba rumen (Chen & Gomes, 1. Purin yang diserap didegradasi menjadi hipoxantin, xantin, asam urat dan alantoin yang diekskresikan dalam urin dan harus berhubungan secara kuantitatif dengan jumlah purin dan karenanya protein mikroba diserap. Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Pengukuran sintesis protein mikroba rumen pada ternak yang diberi rumput laut Sargassum sp. diestimasi berdasarkan ekskresi derivat purin dalam urin yang didegradasi menjadi alantoin, asam urat, xantin, dan hipoxantin. Teknik ini didasarkan pada asumsi bahwa purin dibentuk dari degradasi asam nukleat dan diekskresikan dalam urin. Ekskresi derivat purin secara langsung berkaitan dengan penyerapan purin. Penyerapan nitrogen mikroba dapat dihitung dari jumlah purin yang diserap dan diperkrakan dari ekskresi derivate purin dalam urin (Chen & Gomes, 1. Penelitian ini bertujuan mengkaji Pemanfaatan Sargassum sp. terhadap Derivat Purin. VFA dan Protein Mikroba domba ekor tipis jantan lepas sapih. METODE PENELITIAN Bahan dan Alat Penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu Tepung rumput laut Sargassum sp. matahari, rumput gajah mini . , pollard, onggok, bungkil kelapa sawit, soya bean meal (SBM), mineral booster sapi, air minum dan desinfektan. Ternak domba ekor tipis jantan lepas sapih . sebanyak 16 ekor berumur 5 bulan dengan bobot badan 11,8 kg. Kandang panggung metabolik sebanyak 16 petak masing-masing petak berukuran Panjang 150 cm, lebar 70 cm, tinggi 115 cm serta tinggi kolong 73 cm. Setiap kandang dilengkapi tempat makan, tempat minum dari ember plastik, wadah plastik untuk menampung urin, sapu, sekop, gerobak, serta lampu untuk menerangi kandang. Peralatan yang digunakan yaitu timbangan elektronik kitchen scale model HL4350 Harnic CE kapasitas 5 kg dengan kepekaan 0,1 g untuk menimbang pakan, timbangan DLE Hanging scale kapasitas 75 kg dengan kepekaan 20 g merk 3A scale untuk menimbang ternak domba. Pompa vakum, peralatan untuk analisis, cairan rumen dan urin. Prosedur Penelitian Melakukan pra penelitian selama 14 hari untuk persiapan kandang dan peralatannya. Masa adaptasi ternak percobaan dilakukan selama 24 hari. Pada masa adaptasi domba dimasukan dalam kandang panggung metabolik untuk menyesuaikan kandang dan ransum. Lamanya periode penyesuaian 14 hari dan koleksi data 90 hari. Pakan diberikan dua kali sehari yaitu pada jam 08. 00 dan 00 WIB. Pemberian ransum dengan sistem Total Mixed Ration (TMR). Air minum diberikan secara ad libitum. Koleksi urin setiap ternak percobaan sesuai perlakuan selama 24 jam dari pukul 08. 00 sampai 00 hari berikutnya. Urin setiap hari ditampung dalam baskom kapasitas 5liter yang telah diketahui beratnya dan diberikan H 2SO4 10% sebanyak 30 mL sebagai pengawet sehingga pH berada pada pH asam di bawah 4. Pada sore hari pH urin diukur lagi jika pH di atas 4 maka perlu ditambahkan H2SO4 10% sampai pH di bawah 4. Tujuan penambahan H2SO4 10% supaya mengikat nitrogen urin. Urin yang telah dikoleksi selama 24 jam kemudian ditimbang untuk mengetahui produksi urin setiap hari. Urin ternak sesuai perlakuan ditempatkan dalam sebuah wadah lalu dicampur secara homogen kemudian disampling sebanyak 10% dengan pH di bawah 4 dimasukkan ke Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 dalam botol plastik diberikan identitas, disimpan dalam refrigerator 1 OC sampai hari terakhir masa total koleksi data. Setelah hari terakhir masa total koleksi data setiap sampel urin ternak percobaan sesuai perlakuan dan ulangan sebanyak 14 sampel dicampur secara homogen . lalu disampling sebanyak 5% diberikan identitas untuk analisis derivat purin dan N mikoba. Cairan rumen domba diambil sehari sebelum akhir penelitian menggunakan pompa vakum. Setelah pengambilan disaring, diukur pH lalu disimpan dalam cool box untuk dianalisis NH3. VFA dan protein mikroba. Tabel 1. Susunan pakan dan komposisi nutrien Jenis Pakan (%) . s fe. Rumput odot Pollard Onggok Bungkil kelapa sawit Soybean Meal Mineral Booster sapi Sargassum sp. Total BK (%) BO(%) Abu (%) PK (%) LK (%) SK(%) BETN (%) TDN (%) Ca . g/K. Mg . g/k. K (%) Na . g/k. Cu . g/k. Fe . g/k. Zn . g/k. Komposisi Ransum 38,09 38,09 38,09 23,81 23,81 23,81 9,52 9,52 9,52 14,29 14,29 14,29 14,29 14,29 14,29 0,38 1,14 Komposisi nutrien 86,66 91,36 86,59 87,88 82,90 84,13 12,12 15,87 16,73 15,52 16,73 1,15 1,19 1,99 21,15 17,96 18,92 48,85 48,23 46,49 64,27 61,91 60,09 1354,76 7262,66 4672,14 2882,47 4435,64 3744,66 1,13 0,92 1,30 909,06 2154,40 2099,18 3,92 4,08 3,37 249,91 389,90 295,34 43,17 48,67 40,98 38,09 23,81 9,52 14,29 14,29 2,28 86,42 83,09 16,91 16,41 1,78 17,94 46,96 60,46 2612,01 4297,14 1,51 3314,62 5,15 287,70 38,36 Keterangan: T1 = Hijauan konsentrat 0% mineral dari total konsentrat. T2 = Hijauan konsentrat mineral booster sapi 0,38% dari total konsentrat. T3 = Hijauan konsentrat tepung rumput laut Sargassum 5% dari total konsentrat. T4 = Hijauan konsentrat tepung rumput laut Sargassum sp. 10ri total konsentrat. BK=bahan kering. BO=bahan organik. PK=protein kasar. LK=lemak kasar. SK=serat kasar. BETN=bahan ekstrak tanpa nitrogen. TDN=total digestible nutrient. Ca=kalsium. Mg=magnesium=kalium. Na=natrium. Cu=cuprum Fe=ferrum. Zn=zink Rancangan Percobaan Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan dan empat Empat perlakuan yang diberikan yaitu: T1 = Hijauan konsentrat 0% mineral dari total konsentrat. T2 = Hijauan konsentrat mineral booster sapi 0,38% dari total konsentrat T3 = Hijauan konsentrat tepung rumput laut Sargassum sp. 5% dari total konsentrat T4 = Hijauan konsentrat tepung rumput laut Sargassum sp. 10% dari total konsentrat Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Variabel Penelitian Variabel penelitian yaitu : Sintesis Protein Mikroba. Pengukuran total derivatif purin dalam urin sesuai metode Borchers, . Konversi ke allantoin Hypoxanthine. Xanthine dan asam urat sesuai prosedur enzimatik (Fujihara et al. , 1. Suplai N mikroba ke usus kecil dihitung melalui derivat purin dalam urin sesuai metode Chen & Gomes . yang dimodifikasi oleh Purbowati et . berdasarkan derivat purin kambing bligon yaitu: Y = 0,84X . ,018 W0,75e-0,25X) Keterangan: Y . mol/har. X . mol/har. 0,84 0,018 jumlah purin mikrobia yang dikeluarkan jumlah purin mikrobia yang telah diserap proporsi derivat purin melalui plasma dan diekskresikan lewat kontribusi endogenous pada kambing bligon W0,75 e-0,25X berat badan metabolik ternak . logaritma alam Rumus perhitungan estimasi sintesis protein mikrobia yaitu: GN mikrobia/hari 0,83x0,116x1000(%) Kandungan N purin 70 mg/mmol kecernaan purin mikrobia sebesar 0,83 dan rasio N purin dengan N total mikrobia rumen 11,6 : 100 (Chen & Gomes, 1. pH Cairan Rumen. pH cairan rumen diukur menggunakan pH meter digital merk Hanna yang telah dikalibrasi pH 7 dengan cara mencelupkan batang pH meter ke dalam larutan cairan rumen yang kemudian dibaca pH pada layar monitornya. Setiap pengukuran pH cairan rumen yang baru, batang pH meter harus dibilas dengan aquades (AOAC, 2. Kandungan amonia (NH. Pengukuran kandungan NH3 menggunakan spektrofotometri (Broderick & Kang, 1. Pengambilan cairan rumen ternak domba penelitian sebanyak 0,4 mL ditambah 0,2 mL larutan A . % Sodium tungsta. dan 0,2 mL larutan B (H 2SO4 1 N) lalu disentrifuge dengan kecepatan 3000 g selama 15 menit, selanjutnya disentrifuge lagi dengan 000 g selama 10 menit. Kemudian pengambilan supernatan sebanyak 10 AAl lalu diencerkan dengan 10 AAl aquades, tambahkan 2,5 mL larutan C . arutan feno. dan 2,5 mL larutan D (Sodium hypochlorite 5%). Campuran larutan tersebut dipanaskan selama 30 menit pada suhu 40oC kemudian dibaca absorbansi pada spektrofotometri pada panjang gelombang 630 nm. Perhitungan kadar NH3 dengan persamaan kurva standar Y=0,030X 0,170(R20=0,. Y= Absorbansi sampel, dan X = Kadar NH3 . g/100 mL). Volatile Fatty Acids (VFA) cairan rumen. Konsentrasi VFA diukur dengan metode steam destilasi (General Laboratory Procedures 1. sesuai yang dilakukan (Dona & Triani, 2. Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Prosedur pengukuran VFA yaitu menyiapkan destilator dengan mendidihkan air ke pendingin atau kondensor. Selanjutnya masukan 5 mL sampel dan 1 mL H2SO4 15% ke dalam destilator. Produksi VFA ditangkap dalam labu erlenmeyer dengan 5 mL NaOH 0,5N. Cairan ditampung sampai 250 mL selanjutnya ditambahkan indikator phenolptalein . 2 tetes dan dititrasi menggunakan HCl 0,5N. Perhitungan produksi total VFA yaitu: VFA Total Oe (B Oe S) x Normalitas HCLx 1000/5 g sampel x BKSampel Keterangan: B = Volume titrasi blanko S = Volume titrasi sampel Analisis Statistik Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian satu arah menggunakan Windows IBM SPSS 23. 0 (IBM Corporation. New York. AS), dan signifikansi ditetapkan pada P<0,05. Perbedaan antara rata-rata perlakuan dianalisis menggunakan uji jarak berganda Duncan (Gaspersz, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Derivat Purin Derivat purin yang diekskresikan dalam urin terdiri atas allantoin, asam urat, xantin dan Rataan derivat purin perlakuan pemberian rumput laut Sargassum sp. sebagai sumber mineral pada domba ekor tipis jantan lepas sapih disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 Efek Sargassum sp. dalam ransum terhadap allantoin, asam urat, xanthin dan hypoxanthin, devivat purin pada domba ekor tipis jantan lepas sapih Parameter (AAmol/ekor/har. Allantoinns Asam uratns Xantinhipoxantinns Perlakuan 352,16A274,63 505,10A844,92 195,38A60,31 129,08A25,06 115,95A35,35 175,63A50,07 172,28A62,16 155,17A13,82 132,16A103,17 243,22A99,11 198,00A31,70 161,00A61,48 Keterangan: T1 = Hijauan konsentrat 0% mineral dari total konsentrat. T2 = Hijauan konsentrat mineral booster sapi 0,38% dari total konsentrat. T3 = Hijauan konsentrat tepung rumput laut Sargassum sp. 5% dari total konsentrat. T4 = Hijauan konsentrat tepung rumput laut Sargassum 10ri total konsentrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan mineral Sargassum sp. pada domba ekor tipis jantan lepas sapih dengan pemberian pakan pola TMR tidak berpengaruh terhadap alantoin, asam urat, xantin-hipoxantin. Tidak berbeda nyata allantoin, asam urat, xantin dan hipoxantin menunjukkan bahwa tingkat degradasi protein dalam rumen antar perlakuan T1. T2. T3 dan T4 dalam kisaran yang sama untuk mensuplai protein untuk pertumbuhan mikroba rumen. Hal tersebut dapat dilihat dari ketersediaan prekursor seperti pH 6,68 Ae 6,83. amonia 21,55 Ae 28,85 mg/100 mL dan VFA 215,52. 134,60. 136,82. 102,69 mM dan kondisi lingkungan rumen yang sesuai untuk pertumbuhan mikroba Husnaeni et al. , . menyatakan tidak berbeda antar perlakuan berkaitan dengan derivate purin menunjukkan kisaran prekursor yang sama untuk menyuplai protein mikroba. Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Volatile Fatty Acids Rerata konsentrasi volatile fatty acids (VFA) perlakuan disajikan dalam Tabel 3. Tabel 3. Efek Sargassum sp. dalam ransum terhadap VFA, pH, amonia dan protein mikroba pada domba ekor tipis jantan lepas sapih Perlakuan Parameter Asetat . M) 144,02A52,31 21,39A16,35 95,69A85,15 80,06A87,48ab Propionat . M) 39,42A20,59 6,41A3,82 21,94A25,31 26,61A24,77 Butirat . M) 32,08A9,88b 6,81A3,33a 19,18A18,63ab 21,02A17,96ab VFA . M) 215,52A82,60a 134,60A20,71a 136,82A124,71ab 102,69A99,95ab 6,74A0,36 6,83A0,15 6,75A0,13 6,68A0,24 NH3 . g/100 mL) 28,85A3,53b 24,74A1,50ab 21,55A3,96a 24,21A4,75ab Protein mikroba 44,78A11,72 46,97A14,24 45,51A18,24 41,41A14,75 g/100 mL)ns Keterangan: a,b,cSuperskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,. , ns = not T1 = Hijauan konsentrat 0% mineral dari total konsentrat. T2 = Hijauan konsentrat mineral booster sapi 0,38% dari total konsentrat. T3 = Hijauan konsentrat tepung rumput laut Sargassum sp. 5% dari total konsentrat. T4 = Hijauan konsentrat tepung rumput laut Sargassum sp. 10ri total konsentrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan mineral Sargassum sp. pada domba ekor tipis jantan lepas sapih dengan pemberian pakan pola TMR tidak berpengaruh terhadap propionat, namun berpengaruh nyata (P<0,. terhadap asetat, butirat dan VFA total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asetat dan butirat T1 lebih tinggi dari T2 namun tidak berbeda dengan T3 dan T4, namun untuk perlakuan T2 juga tidak berbeda dengan T3 dan T4. Hasil DMRT untuk VFA total perlakuan T1 lebih tinggi dari perlakuan T2. T3 dan T4. Rendahnya konsentrasi asetat, propionat, butirat dan VFA pada perlakuan mineral T2 mineral Booster sapi. T3 dan T4 mineral rumput laut Sargassum sp diduga dengan penambahan mineral misalnya Ca dan P bersamaan terjadi interaksi menekan pencernaan selulosa sehingga menyebabkan penurunan VFA. Hal ini sesuai dengan pernyataan Muhtarudin dan Liman . bahwa penambahan Ca dan P dalam ransum domba bersamaan akan menekan pencernaan selulosa sehingga produksi VFA menurun. Konsentrasi VFA dalam ransum dengan penambahan Sargassum sp. lebih rendah dari kontrol hal tersebut kemungkinan polisakarida Sargassum sp. seperti asam manuronat dan guluronat dari alginat, fruktosa dan xilosa tidak semuanya terdegradasi oleh mikroba rumen. Hal ini sesuai dengan pendapat Maryn et al. menyatakan konsentrasi asetat, butirat dan propionat dalam VFA dengan pakan yang mengandung Sargassum sp. selalu lebih rendah dari kontrol, karena kemungkinan polisakarida Sargassum sp, yaitu manuronat dan guluronat dari alginate, fruktosa dan xilosa tidak semuanya terdegradasi oleh mikroba rumen . Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Konsentrasi VFA yang diperoleh dalam penelitian ini T1. T2. T3 dan T4 berturut-turut yaitu 215,52. 134,60. 136,82. 102,69 mM lebih tinggi dari hasil penelitian Maryn et al. konsentrasi VFA kontrol dengan 10% Sargassum sp. untuk asetat, propionat dan butirat berturut-turut yaitu 78,61. 79,15. 30,02. 23,47. 12,81 dan 8,14 mM. Perbedaan tersebut disebabkan perbedaan bahan pakan, komposisi kimia, dan jumlah pemberian pakan. pH Cairan Rumen Data penelitian pH cairan rumen domba penelitian disajikan pada Tabel 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan mineral Sargassum sp. pada domba ekor tipis jantan lepas sapih dengan pemberian pakan pola TMR tidak berpengaruh terhadap pH cairan rumen. Tidak berbeda nyata pH cairan rumen diduga ransum yang diberikan pola TMR konsentrat dan hijauan diberikan secara bersamaan untuk setiap perlakuan yang berbeda hanya aras mineral untuk perlakuan T2. T3 dan T4 sehingga dominan bakteri selulolitik yang mendegradasi selulosa dalam pakan sehingga pH rumen 6,65 Ae 6,77 berada pada kisaran ideal. Kisaran pH yang ideal untuk mencerna selulosa 6,4 Ae 6,8 (Kardaya et al. , 2. Selain itu ransum dengan penambahan Sargassum sp. cenderung pH rumen Hal tersebut sesuai dengan Maryn et al. bahwa pakan banyak mengandung pati atau karbohidrat yang mudah larut pH menjadi rendah, namun ketika diberikan dengan Sargassum sp dalam ransum terdapat hijauan maka pH menjadi netral karena memperbanyak bakteri selulolitik untuk mendegradasi selulosa dalam pakan. pH rumen dalam penelitian ini . ,65 Ae 6,. berada pada kisaran pH ideal untuk pertumbuhan mikroba rumen. Orskov et al. menyatakan pH yang ideal untuk pertumbuhan mikroba rumen berkisar 6 Ae 7. pH hasil penelitian ini 6,68 Ae 6,83 hampir sama dengan hasil penelitian Purbowati et al. yang berkisar 6,65 Ae 6,77 yang berada pada kisaran pH ideal walaupun perbedaan jenis pakan dengan dominan pakan konsentrat. Selain itu tidak berbeda dengan hasil penelitian Marin et al. pH 6,80, 6,95 dan 6,74 yang memberikan tepung Sargassum sp. 10, 20 dan 30% pada domba. Konsentrasi Amonia Rerata konsentrasi amonia (NH. cairan rumen domba sesuai perlakuan disajikan dalam Tabel 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan mineral Sargassum sp. pada domba ekor tipis jantan lepas sapih pemberian pakan pola TMR berpengaruh nyata (P<0,. terhadap konsentrasi amonia cairan rumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan T1 lebih tinggi (P<0,. dibanding konsentrasi NH3 pada perlakuan T3 tetapi tidak menunjukkan perbedaan dengan perlakuan T2 dan T4. Konsentrasi NH3 perlakuan T3 tidak berbeda dengan perlakuan T2 dan T4. Tingginya konsentrasi NH3 cairan rumen menunjukkan jumlah protein yang didegradasi di dalam rumen yang dibutuhkan mikroba untuk mensintesis protein tubuhnya. Konsentrasi NH3 hasil penelitian cenderung menurun seiring dengan penambahan mineral booster sapi perlakuan T2 maupun mineral Sargassum perlakuan T3 dan T4. Konsentrasi amonia rumen rendah pada perlakuan penambahan mineral diduga amonia yang dihasilkan banyak dimanfaatkan oleh mikroba untuk sintesis protein tubuhnya. Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Konsentrasi amonia hasil penelitian ini T1. T2. T3 dan T4 berturut-turut 28,25. 24,74. 21,55. 24,21 mg/100 mL akan terjadi maksimum untuk laju sintesis protein mikroba. Dona & Triani . menyatakan konsentrasi maksimal amonia cairan rumen untuk laju sintesis protein mikroba berkisar 3,0 - 8,0 mg/100 mL cairan rumen. Widyobroto et al. menyatakan konsentrasi N-NH3 cairan rumen merupakan sisa yang tidak dimanfaatkan oleh mikroba dan diabsorbsi. Hindratiningrum et al. menyatakan konsentrasi NH3 rumen berkorelasi positif dengan sintesis protein mikroba. Konsentrasi amonia yang diperoleh dalam penelitian ini . ,55 Ae 28,85 mg/100 mL atau setara 215,5 Ae 288,5 mg/L) lebih rendah dari hasil penelitian Maryn et al. dengan pemberian Sargassum sp. 10, 20 dan 30% memperoleh konsentrasi amonia rumen 378,1A218,9. 316,9A177,8. 368,2A128,6 mg/L. dengan penambahan Sargassum sp. Perbedaan tersebut karena perbedaan ransum dan aras Sargassum sp. yang diberikan. Konsentrasi amonia yang diperoleh dalam penelitian ini . ,55 Ae 28,85 mg/100 mL) optimum untuk pertumbuhan mikroba rumen. Adelina . menyatakan konsentrasi N-NH3 untuk memenuhi pertumbuhan dan sintesis protein mikroba yaitu 5 Ae 29 mg/100 mlL cairan rumen. Konsentrasi amonia hasil penelitian ini sudah lebih tinggi dari tingkat kritis . mg/L) untuk daya cerna dan sintesis protein mikroba seperti yang disarankan oleh Dona & Triani . Orskov et al. menyatakan konsentrasi amonia untuk pertumbuhan mikroba berkisar 85300 mg /L atau setara 2,7 Ae 14,3 mM cairan rumen. Sintesis Protein Mikroba Sumber nitrogen utama untuk sintesis protein mikroba adalah amonia yang merupakan hasil perombakan protein pakan di dalam rumen. Rerata konsentrasi sintesis protein mikroba cairan rumen domba penelitian disajikan dalam Tabel 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan mineral Sargassum sp. pada domba ekor tipis jantan lepas sapih dengan pemberian pakan pola TMR tidak berpengaruh terhadap sintesis protein mikroba. Tidak berbeda nyata terhadap sintesis protein mikroba diduga faktor prekursor dari masing-masing perlakuan T1. T2. T3 dan T4 itu sama, karena ransum yang diberikan pola TMR hampir sama setiap perlakuan yang berbeda hanya aras mineral. Prekursor penyusun mikroba yaitu NH3 sebagai sumber N, kerangka karbon, dan unsur nutrisi lainya (Suprayogi, 2. Tidak berbeda sintesis protein mikroba kemungkinan ketersediaan NH 3 21,55 Ae 28,85 mg/100 mL atau setara 215,5 Ae 288,5 mg/L dan VFA optimal setiap perlakuan untuk sintesis protein mikroba. Hindratiningrum et al. menyatakan faktor yang menentukan penggunaan amonia rumen untuk sintesis protein mikroba adalah karbohidrat ransum yang berfungsi sebagai sumber energi. Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Sintesis protein mikroba yang diperoleh dalam penelitian ini T1. T2. T3 dan T4 berturut-turut 44,78. 46,97. 45,51 dan 41,41 mg/100 ml lebih tinggi dari penelitian (Dona & Triani, 2. sebesar 20,42, 16,65, 15,06 dan 13,02. mg/L/jam. Perbedaan tersebut karena perbedaan ransum yang menggunakan POD kakao dan Chromolaena odorata. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan disimpulkan penggunaan tepung rumput laut Sargassum sp. 10% dari total konsentrat belum berpengaruh terhadap derivat purin ,VFA dan protein mikroba domba ekor tipis jantan lepas sapih. DAFTAR PUSTAKA