Jurnal Teologi Pambelum Volume 4. Nomor 1 (Agustus 2. : 70-82 ISSN: 2088-8767 (Prin. , 2829-0550 (Onlin. Link Jurnal: https://jurnal. stt-gke. id/index. php/pambelumjtp Published by: Unit Penerbitan dan Informasi STT GKE Doi Artikel: 10. 59002/jtp. Memahami Konsep Oikos dalam Perjanjian Baru dan Dialognya dengan Nilai Pendirian Rumah Bagi Orang Banjar: Kajian Biblis-Kultural May Linda Sari1. Ripaldi2. Endy3 Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (STT GKE) mlinda2013@gmail. Abstract This research, which was conducted in March-June 2024 in the city of Banjarmasin, wanted to highlight the meaning of house building for the Banjar people. This research is descriptive in nature and uses critical historical methods on Matthew 7:24-27 to find principles and values that can be dialogued between the biblical and the cultural in terms of building of Banjar houses. Traditionally it is understood that for Banjar people, it does not just function as a place to live because determining the location, selecting building materials, dividing rooms and measuring the building is detailed in detail by considering spiritual and ecological values. Research using theologicalcultural studies which combines the theory of historical analysis of texts with a cultural approach, found several research results, namely: first, the foundation has the meaning of life. second, the type of house reflects social strata. third, religious values are the foundation of the house and fourth, ecological values in understanding the house. Keywords: Banjarmasin People. Building of the House. Theological Value and Ecological Values. Abstrak Penelitian yang dilakukan pada bulan Maret-Juni 2024 di kota Banjarmasin kali ini ingin menyoroti tentang makna rumah bagi orang Banjar. Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan metode historis kritis terhadap Matius 7:24-27 dalam rangka menemukan prinsip dan nilai yang bisa didialogkan antara biblika dengan kultural dalam hal pembangunan rumah orang Banjar. Secara tradisional dipahami bahwa bagi orang Banjar, tidak sekedar berfungsi sebagai tempat tinggal sebab sejak penentuan lokasi, pemilihan bahan bangunan, pembagian ruangan dan pengukuran bangunan dirinci secara detail dengan mempertimbangkan nilai-nilai spiritual dan Penelitian dengan menggunakan kajian teologis-kultural yang menggabungkan teori analisis historis teks dengan pendekatan kultural, ditemukan beberapa hasil penelitian, yaitu: pertama, fondasi memiliki makna kehidupan. kedua, jenis rumah menggambarkan strata sosial. ketiga, nilai agama menjadi fondasi rumah dan keempat, nilai ekologis dalam memahami rumah. Kata Kunci: Masyarakat Banjarmasin. Pembangunan Rumah. Nilai Teologis, dan Nilai Ekologis. Diterima Redaksi: 11-08-2024 | Selesai Revisi: 30-08-2. Diterbitkan Online: 31-08-2024 Memahami Konsep Oikos dalam Perjanjian Baru dan Dialognya dengan Nilai Pendirian Rumah. Pendahuluan Kota Banjarmasin dulunya adalah ibukota provinsi Kalimantan Selatan. Ia terletak di lahan basah yang memiliki lapisan tanah lunak dengan ketebalan hingga 25 meter, dan tanah keras yang memiliki kedalaman rata-rata sekitar 35 sampai 45 meter. Daya dukung tanah rawa ini sangat rendah, hanya sekitar 0,2 kg/cm2. Kondisi tanah di Banjarmasin sebagian besar merupakan tanah rawa . ahan basa. , memiliki kondisi yang berbeda antara satu kaveling lahan dengan lahan lainnya. Namun, umumnya adalah tanah kering yang ditumbuhi tanaman atau rumput, agak basah atau sedikit kering ditandai adanya air saat penggalian fondasi, dan tanah dengan air tinggi . enuh terendam ai. (Nurfansyah et al. 2020, p. Keadaan ini barangkali disebabkan karena kota ini dikelilingi oleh banyak sungai baik sungai besar maupun dan kecil sehingga sering kali disebut juga sebagai kota seribu Sungai. Masyarakat yang umumnya mendiami kota Banjarmasin sebagian besar adalah suku Banjar. Suku Banjar merupakan salah satu etnis yang mendiami Kalimantan Selatan (Sudianto et al. , 2024, p. Sahriansyah menyatakan bahwa Suku Banjar mendiami sebagian besar dari wilayah Kalimantan Selatan (Sahriansyah, 2015, p. Lebih lanjut. Imadduddin Parhani menyatakan bahwa etnis Banjar adalah penduduk asli Kalimantan Selatan (Imadduddin Parhani, 2016, p. Ahmad Harisuddin menyatakan bahwa etnis Banjar pada dasarnya dibentuk dominan oleh etnis deutero melayu dari Sumatera dan Tanah Semenanjung Malaya serta etnis Dayak. Sedangkan kelompok dari etnis Dayak yakni etnis Dayak MaAoanyan. Dayak Lawangan. Dayak Ngaju, dan Dayak Meratus (Harisuddin, n. , pp. 12-13, . Penelitian ini dasarnya bertujuan untuk menggali nilai pembangunan rumah bagi orang Banjar di Kota Banjarmasin. Hal ini dilatari oleh kenyataan bahwa nilai-nilai pembangunan rumah itu sebenarnya memiliki makna teologis yang mendalam tetapi belum pernah dilakukan kajian atasnya. Bagaimana makna pembangunan rumah menurut orang Banjar di Banjarmasin? Dan bagaimana pemikiran tentang pembangunan itu didialogkan dengan teks Matius 7:24-27 khususnya terkait dengan makan aC dalam teks itu? Metode Penelitian dilakukan menggunakan metode penelitian kualitatif. Menurut Sanon dan Sudianto, penelitian kualitatif merupakan hasil dari kerangka berpikir pos positivistik (Sanon dan Sudianto, 2019, pp. 40Ae. Menurut Sugiyono, metode penelitian kualitatif menghasilkan hasil penelitian yang lebih menekankan makna dari generalisasi (Sugiyono, 2016, p. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara tak Satuan unit kajian merupakan obyek studi yang menjadi fokus perhatian dalam sebuah tulisan. Satuan unit kajian disebut juga sebagai populasi atau sampel. Dalam penelitian ini, satuan unit kajian peneliti adalah teks-teks yang terkait dengan kata OikoC dalam Perjanjian Baru khususnya teks Matius 7:24-27. Teks dikaji dengan menggunakan teknik analisis secara historis. Analisis historis berarti menelusuri makna kata dan konsep yang ada dalam teks menurut arti dasar sesuai dengan bahasa aslinya. Juga bagaimana teks itu dipahami menurut budaya pada masa itu. Kedua, satuan unit kajian peneliti adalah para tokoh yang memahami tentang makna pembangunan rumah dalam pemikiran masyarakat Banjar. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Memahami Konsep Oikos dalam Perjanjian Baru dan Dialognya dengan Nilai Pendirian Rumah. Hasil dan Pembahasan Bagi orang Banjar, rumah pada dasarnya memiliki fungsi sebagai tempat beristirahat dan tempat beribadah. Jika menilik dari segi jenis konstruksi bangunannya, rumah menurut tradisi orang Banjar adalah rumah yang biasanya berstruktur rumah panggung dengan material kayu sebagai yang dominan. Tidak seperti dulu yang memiliki ciri khas dari adat Banjar (Syamsiar Seman, 1982, p. Dalam kehidupan orang Banjar ada setidaknya 10 tipe rumah yakni rumah Bubungan Tinggi, rumah Gajah Baliku, rumah Gajah Manyusu, rumah Balai Laki, rumah Balai Bini, rumah Palimasan, rumah Palimbangan, rumah Cacak Burung atau Anjang Surung, rumah Tadah Alas dan rumah lanting (Syamsiar Seman, 2000, pp. 3Ae. Jenis-jenis rumah menggambarkan strata sosial yang berlaku di masyarakat. Sebagai contoh, rumah Bubungan Tinggi memiliki bagian-bagian rumah yang sangat lengkap dan terperinci. Rumah dengan tipe Bubungan Tinggi diperuntukkan sebagai rumah bagi Sultan Banjar (Syamsiar Seman, 2000, p. Sedangkan rumah Cacak Burung biasanya merupakan rumah yang ditempati oleh para petani. Disebut sebagai Cacak burung karena dari depan yang terlihat seperti tanda tambah ( ). Tanda tersebut bagi orang Banjar disebut dengan Cacak burung. Cacak burung biasanya dikaitkan dengan lambang pengobatan dalam tradisi Banjar. Dalam rumah Cacak Burung terdapat Kindai atau lumbung padi. Hal tersebut ada mengingat, rumah Cacak Burung didiami oleh para petani (Syamsiar Seman, 2000, pp. 42Ae. Bangunan rumah orang Banjar di Banjarmasin umumnya menerapkan konstruksi bentuk panggung, di mana lantai rumahnya berada di atas tanah karena kontur tanah berawa-rawa yang mengharuskannya demikian. Sementara itu bahan bangunan yang digunakan untuk bangunan rumah biasanya menggunakan kayu ulin atau kayu besi. Penggunaan kayu ulin ini karena mempertimbangkan daya tahan jenis kayu ini yang mampu bertahan sampai ratusan tahun dalam tanah (Syamsiar Seman, 1982, pp. 49Ae. Bagian fondasi rumah atau bagian bawah bangunan. Fondasi dibangun dengan menggunakan kayu galam. Kayu galam dianggap cocok sebagai fondasi rumah di wilayah kota Banjarmasin karena mampu mempertahankan kekuatan bangunan di daerah berawa (Syamsiar Seman, 1982, p. Meskipun bangunan dibuat dengan bahan cor beton semen, tetapi kayu galam tetap digunakan sebagai penyangganya. Kayu ini diposisikan secara melintang dan membujur sebagai pelapis di sekitar fondasi, sehingga dirasa kuat menjaga cor beton semen. Menurut orang Banjar, pada dasarnya pembangunan rumah memiliki beberapa tahapan yakni pemancangan tiang dan tongkat, pembangunan rangka rumah, pemasangan atap, pemasangan lantai, pemasangan dinding, pemasangan langit-langit, pemasangan pintu, pemasangan jendela dan pemasangan tangga. Dalam rangka fokus pada topik makna pendirian rumah bagi orang Banjar, maka dalam bagian ini peneliti, hanya fokus pada bagian mendasar yakni tahapan pemancangan tiang dan tongkat dalam pembangunan rumah banjar (Syamsiar Seman, 1982, pp. 22Ae. Pada bagian atas, setelah tiang kayu, dibuatlah kerangka yang biasanya juga menggunakan material kayu ulin. Kemudian untuk pengisi atau penutup dinding rumah, menggunakan bata yang dipasang berdiri untuk menjaga agar beban bangunan lebih ringan. Posisi bata yang dipasang berdiri ini juga bertujuan untuk mengisi dinding yang umumnya berbentuk rangka kayu, yang merupakan barisan tiang yang dipasang sepanjang dinding dengan jarak per 1 meter (Nurfansyah et al. , 2020, p. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Memahami Konsep Oikos dalam Perjanjian Baru dan Dialognya dengan Nilai Pendirian Rumah. Dalam pemancangan tiang dan tongkat dalam budaya Banjar pada dasarnya menggunakan kayu ulin. Karena kontur tanah yang lembek dan rawa di Banjarmasin, maka digunakan fondasi. Fondasi yang digunakan untuk mendirikan rumah yakni kayu galam yang mampu bertahan selama puluhan tahun di tanah dengan kondisi demikian. Dalam pembuatan fundasi, kayu galam disusun dengan melintang dan membujur. Pada persilangan kayu tersebut dipasang sunduk . epatu tian. sehingga kayu tersebut dapat disangga dan tersusun dengan baik (Syamsiar Seman, 1982, p. Biaya pembuatan fondasi untuk pembangunan rumah di kota Banjarmasin ini cukup besar, karena harga galam yang juga tidak murah sementara untuk pembangunan fondasi itu sendiri memerlukan ratusan buah kayu galam. Hal menarik dalam pembangunan rumah orang Banjar adalah ukuran depa yang digunakan haruslah berjumlah ganjil. Angka ganjil dipandang baik dalam pembangunan Selain hal tersebut dalam ajaran Islam, angka ganjil merupakan sebuah perintah yang ditemukan dalam Hadist Nabi Muhammad SAW. Bahkan bukan hanya terkait ukuran Dalam jumlah jerajak hiasan, pembuatan jendela, hiasan, anak tangga, layang-layang dipuncak atap pun menggunakan angka ganjil. Bahkan dalam membangun bagian-bagian rumah dari palatar sampai padapuran pun digunakan ukuran ganjil misalnya 7x3 meter (Syamsiar Seman, 1982, pp. 24Ae. Makna Rumah Menurut Orang Banjar Makna Rumah Menurut Kontraktor Menurut Pak Raymond Alberto bagi orang Banjar rumah dapat dipahami sebagai tempat tinggal. Rumah juga dipahami sebagai tempat berkah bagi keluarga. Oleh sebab itu, ketika rumah selesai dibangun biasanya akan dilaksanakan syukuran dari magrib sampai dengan subuh sebelum matahari terbit. Dalam rangka membangun rumah pun, orang banjar menggunakan tata cara agama muslim. Pertama, dalam penentuan lokasi, orang Banjar akan menggunakan benang. Jika pada pagi hari benang yang dibentangkan malamnya putus, maka akan dicarikan lokasi rumah yang lain. sebab dipercaya bahwa lokasi tersebut menjadi jalan lalu lintas bagi makhluk gaib. Kedua, peran alim ulama dan orang pintar pun menjadi penting dalam menentukan lokasi rumah. Selain itu, arah matahari pun diperhatikan agar ketika pagi, anggota dalam rumah mendapat sinar matahari, dan sore hari sinar matahari terhalang oleh tembok rumah sehingga tidak menjadi panas. Dalam pembangunan fondasi rumah, biasanya digunakan kayu galam. Sebab pada dasarnya titik tanah terkeras dari kontur tanah di Banjarmasin mencapai kedalaman 20 Oleh sebab itu, diperlukan kayu galam. Sebab dengan kayu galam, kedalaman 5 meter pun sudah cukup karena sifat kayu yang mengikat dan kulit kayu yang kuat bergesekan dengan tanah sehingga fondasi rumah menjadi sangat kuat. Oleh sebab itu, kayu galam yang sudah ditancapkan ke dalam tanah akan sulit sekali untuk ditarik kembali. Galam yang terendah di dalam tanah akan dapat bertahan menjadi fondasi rumah puluhan bahkan hingga ratusan tahun (Wawancara Dilakukan Oleh Peneliti Pada Tanggal 20 Mei 2024, n. Makna Rumah Menurut Pengurus Museum Waja Sampai Kaputing Menurut Muksin dalam rangka pembangunan rumah, model pembangunan rumah bagi orang Banjar ada 10 jenis yang menunjukkan strata sosial masyarakatnya. Sebagai contoh model rumah yang ditunjukkan dari museum ini adalah model rumah Bubungan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Memahami Konsep Oikos dalam Perjanjian Baru dan Dialognya dengan Nilai Pendirian Rumah. Tinggi. Jenis rumah yang seperti ini biasanya memberikan makna bahwa yang mendiaminya pasti seorang pengusaha, pedagang intan atau orang lain yang memiliki strata sosial yang tinggi. Rumah dengan jenis Gajah Baliku pun biasanya ditempati oleh para penguasa. Sedangkan rumah Cacak Burung biasanya menunjukkan bahwa pemilik rumah adalah rakyat biasa. Perbedaannya dari tipe-tipe rumah ini dapat dilihat dari atapnya. Dalam rangka pembangunan rumah, pertama adalah pemasangan tiang. Maksimal kedalaman pemasangan tiang adalah 7 meter. Di samping itu, dalam membangun rumah, biasanya akan memperhatikan jarak dengan rumah yang lain biasanya 3-5 meter. Dalam pembangunan rumah, jenis rumah Bubungan Tinggi tidak menggunakan galam, melainkan kayu ulin. Dalam pembangunan rumah, nilai-nilai Islam dapat terlihat dari lafal Lam Jalalah di dinding rumah. Hal tersebut menjadi ciri khas rumah orang muslim (Wawancara Dilakukan Oleh Peneliti Pada Tanggal 30 Mei 2024, n. Hasil Tafsir Atas Teks Matius 7:24-27 Latar Belakang Injil Matius Injil Matius termasuk dalam kelompok Injil-Injil Sinoptis/Sinoptik. Kata tersebut berasal dari Bahasa Yunani yang berarti melihat bersama atau dapat dilihat bersama (Barclay, 2003, p. Menurut Barclay. Injil Matius merupakan Injil yang ditujukan bagi orang-orang Yahudi. Hal tersebut bertujuan untuk meyakinkan orang-orang Yahudi lain, bahwa semua nubuatan dalam Perjanjian Lama tentang Mesias digenapi dalam diri Yesus. Hal tersebut dilihat dengan pernyataan dalam Injil ini bahwa AuHal ini memenuhi apa yang telah Allah nyatakan kepada para nabiAy. Ungkapan ini bahkan muncul sebanyak 16 kali dalam Injil Matius. Walaupun bangsa-bangsa lain pun tak luput dari tujuan Injil ini yakni agar semua bangsa menjadi murid Tuhan Yesus (Bdk. Mat. (Barclay, 2003, pp. 9Ae Werner Georg Kummel meyakini bahwa penulisan Injil Matius dilakukan di Antiokhia di Siria sebelum tahun 70 M (Werner Georg Kummel, 1965, p. Terkait tempat penulisan. Klijn memiliki pandangan yang sama, bahwa Antiokhia merupakan tempat penulisan injil ini, atau setidaknya tempat yang dekat dengan kota ini (A. Klijn, 1980, p. Kritik Terjemahan Atas Teks Matius 7:24-27 Peneliti melakukan kritik historis atas teks Matius 7:24-27, didapatkan hasil bahwa: Ayat 24 Dalam GNT, kata hears dalam NIV berasal dari kata AsA yang diterjemahkan dalam TB-LAI menjadi mendengar. Kata AsA berbentuk Present Indikatif Aktif. Dengan demikian, maka kata AsA pun ditujukan kepada pendengar di masa kini pula. Bentuk indikatif aktif, memberikan penekanan bahwa kata AsA memiliki makna yang Kata uUIC dapat diterjemahkan sebagai perkataan, suatu pernyataan, atau firman. Dalam NIV kata uUIC diterjemahkan sebagai Words of mine yang jika diterjemahkan sepadan dengan terjemahan TB-LAI yakni perkataan-Ku. Hal tersebut menunjuk pada perkataan Yesus. Kata uUIC dalam perikop ini tidak hanya menunjuk pada khotbah yang telah disampaikan dan diterangkan oleh Yesus sebelumnya. Akan tetapi pengajaran yang telah Yesus sampaikan. Orang yang bijaksana yang dimaksud dalam bagian ini menunjuk pada orang yang mampu menilai dengan baik. Ia adalah orang yang mempertimbangkan Software Hebrew/Greek Interlinear Bible. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Memahami Konsep Oikos dalam Perjanjian Baru dan Dialognya dengan Nilai Pendirian Rumah. dengan sungguh-sungguh ketika akan membangun rumah (Tim Penyusun, 2008, pp. 204Ae Sedangkan kata An dapat diterjemahkan sebagai berbuat, atau melakukannya. Dalam NIV diterjemahkan sebagai Puts them into practice yang sepadan dengan terjemahan TB-LAI yakni melakukannya. Hal tersebut menunjuk pada makna melakukan perkataan atau firman yang Tuhan Yesus ucapkan. Kata AA IA diterjemahkan dalam NIV sebagai A wise man atau jika diterjemahkan dalam TB-LAI sebagai seorang yang bijaksana. Kata AA menunjuk pada kata seorang, sedangkan kata IA menunjuk pada kata bijaksana. Kata UEA menunjuk pada kata membangun dalam TB-LAI, kata tersebut sepadan dengan kata Built dalam NIV. Kata diterjemahkan sebagai house dalam NIV sedangkan dalam TB-LAI diterjemahkan sebagai rumah. Kata dalam teks ini menunjuk pada makna sebagai bangunan yang dibangun. Walaupun kata dalam teks ini dapat pula bermakna figuratif. Dalam edisi Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK), judul perikop teks ini disebutkan sebagai AuPembangun rumah yang pandai dan pembangun rumah yang bodoh. Bahkan bisa saja diberi judul AuDua orang membangun rumahAy. Konteks utama dari perikop ini adalah terkait pendengar yang benar dan tidak benar. Kata kerja An dalam teks ini bermakna sama dengan kata kerja Aumenghasilkan buahAy dalam Matius 7:17-19. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa yang dimaksud melakukannya, sama artinya dengan Aumenghasilkan buahAy. Selain itu, kata melakukannya yang dimaksud di sini menunjuk pada sikap menuruti apa yang Yesus sampaikan (Tim Penyusun, 2008, 204Ae. Kata Audi atas batuAy, menunjuk pada batu besar. hal tersebut ditunjukkan melalui . kata EA. Kata EA dalam NIV diterjemahkan sebagai rock. Kata rock sendiri bermakna sebuah batu dengan berat yang besar. Hal tersebut sejajar dengan kata EA yang menunjuk pada batu berukuran besar, berbeda dengan kata liqon yang menunjuk pada batu-batu berukuran kecil. Dalam TB-LAI, kata tersebut menunjuk pada makna batu secara Sulit untuk membedakannya secara khusus layaknya kata EA. Namun pada umumnya, pembaca pasti memahami dalam Bahasa Indonesia batu untuk menjadi fondasi rumah umumnya adalah batu yang berukuran besar. Dalam perikop ini, membangun di atas batu, tidak bermakna bahwa rumah tersebut dibangun di atas batu-batu biasa, atau batu yang kecil melainkan batu yang bisa membuat fondasi dan rumah itu dapat berdiri dengan kokoh (Tim Penyusun, 2008, p. Melalui teks ini Ae baik dalam makna figuratif maupun makna sebenarnya Ae jelas menyatakan bahwa pondasi yang dibangun di atas Aubatu yang besarAy berpengaruh pada kekokohan bangunan yang ada di atasnya. Ayat 25 Kata oE diterjemahkan sebagai came down kata tersebut diterjemahkan sebagai turunlah dalam TB-LAI. Kata oE menunjuk pada hujan yang turun. Kata turunlah yang dimaksud dalam teks ini, menunjuk pada kasus di mana hujan turun atau hujan datang (Tim Penyusun, 2008, pp. 205Ae. Kata hujan yang digunakan di sini menunjuk pada kata Yunani eAN yang diterjemahkan sama dalam TB-LAI dan NIB sebagai hujan dan rain. Kata diterjemahkan dalam NIV sebagai Rose yang diterjemahkan sebagai datanglah dalam TB-LAI. Kata E diterjemahkan dalam NIV sebagai Streams dapat diterjemahkan sebagai aliran-aliran, dalam TB-LAI menunjuk pada kata banjir. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Memahami Konsep Oikos dalam Perjanjian Baru dan Dialognya dengan Nilai Pendirian Rumah. Kata iAAIE dalam NIV diterjemahkan sebagai blew. Kata iAAIE dalam TBLAI diterjemahkan sebagai kata bertiup. Dua terjemahan ini merupakan terjemahan yang Kata iAAIE menunjuk pada kata EA yang diterjemahkan oleh NIV sebagai winds yang diterjemahkan dalam TB-LAI sebagai angin. Dua kata tersebut sama-sama menerjemahkan kata EA sebagai angin dalam Bahasa Indonesia, perbedaannya adalah bahwa dalam NIV, kata winds berbentuk jamak. Kata AEAAE diterjemahkan dalam NIV sebagai beat dan dalam TB-LAI diterjemahkan sebagai melanda. Kata melanda yang digunakan di sini berbeda dengan ayat Kata AEAAE menunjuk pada hujan dan angin yang melanda dengan kencang terhadap rumah tersebut. Hal tersebut menunjuk pada kuatnya angin dan derasnya hujan yang melanda namun rumah tersebut tidak roboh (Tim Penyusun, 2008, pp. 205Ae. Kata aOE menjadi sangat penting. Sebab kata tersebut menunjuk pada makna fondasi yang dibangun tidak roboh. Dengan demikian maka jelas, kata aOE menunjuk pada kata EA yang membuat rumah menjadi kokoh. Dalam NIV, kata aOE diterjemahkan sebagai Foundation sedangkan TB-LAI diterjemahkan sebagai Dua kata tersebut bermakna sepadan, keduanya menunjuk pada sebuah dasar. Ayat 26 Kata orang yang bodoh dalam teks ini merupakan istilah yang sama untuk penggunaan kata jahil dalam Matius 5:22. Orang yang bodoh di sini merupakan lawan dari orang bijaksana. Oleh sebab itu, bagian ini dapat diterjemahkan sebagai orang yang tolol atau orang yang tidak berakal budi. 2 Dalam GNT, kata tersebut berasal dari kata AA OA yang diterjemahkan dalam NIV sebagai a foolish man. Terjemahan TB-LAI menerjemahkannya sebagai orang bodoh merupakan terjemahan yang sepadan. Kata pasir dalam TB-LAI diterjemahkan dari kata E dalam GNT. Kata tersebut diterjemahkan sebagai sand dalam NIV. Dengan demikian maka, kata pasir dan sand merupakan terjemahan yang sepadan. Kata pasir yang dimaksud di sini menunjuk pada fondasi rumah yang tidak kokoh. Oleh sebab itu, kalimat di atas batu dan di atas pasir menunjuk pada dua cara orang yang membangun rumah. Orang pertama membangun di atas fondasi yang kokoh dan orang kedua membangun di atas fondasi yang tidak kokoh (Tim Penyusun, 2008, p. Ayat 27 Kata Yunani yang digunakan untuk melanda rumah dalam ayat 27 berbeda dengan yang digunakan dalam ayat 25. Sebab kata melanda yang dimaksud di sini pun bermakna Walaupun tidak dibedakan manakah yang lebih kuat banjir dan angin yang melanda di ayat 25 dan 27. Akan tetapi satu hal yang harus dicermati adalah bahwa di ayat 27, kata caEIC A menunjuk pada kerusakan yang sangat hebat yang melanda rumah tersebut atau great crash dalam NIV. Oleh sebab itu, rumah tersebut benar-benar porakporanda dan rumah tersebut benar-benar runtuh dan hancur (Tim Penyusun, 2008, p. Pada akhirnya dari hasil Kritik Terjemahan disimpulkan bahwa NIV dan TB-LAI sebagian besar menerjemahkan teks asli (GNT) dengan makna yang sepadan. Tidak ditemukan perbedaan-perbedaan yang mendasar terkait hasil terjemahan dari keduanya. Dengan demikian, kedua terjemahan memiliki kedekatan yang sama dekat dengan teks asli (GNT). Tim Penyusun, 206. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Memahami Konsep Oikos dalam Perjanjian Baru dan Dialognya dengan Nilai Pendirian Rumah. Tafsiran Atas Teks Matius 7:24-27 Menurut J. De Heer, bagian Matius 7:24-27 merupakan bagian penutup dari AuKhotbah di BukitAy. Suatu bentuk peringatan yang disampaikan lewat perumpamaan. (Heer, 2013, p. Menurut Joachim Jeremias, perumpamaan pada dasarnya merupakan Au[H]oped that nomerous examples given in this book will establish the truth of his statement better. Ay (Jeremias, 1962, p. Perumpamaan yang sama dapat ditemukan dalam Injil Lukas 6:47-49. Menurut de Heer, perumpamaan ini dapat dimengerti dengan baik jika kita memahami dengan baik kondisi iklim di Palestina (Heer, 2013, p. Barclay memberikan judul AuSatu-satunya dasar yang sejatiAy dalam penafsirannya tentang Matius 7:24-27. Menurutnya lebih lanjut, dalam memahami ini. Yesus memahami dua hal yakni pertama, bahwa Yesus adalah ahli Kitab Suci. Ungkapan dalam perikop ini merupakan ungkapan yang sama dalam Amsal 10:25. Apa yang ada dalam teks tersebut merupakan inti dari gambaran dua macam rumah yang didirikan dalam perikop ini. Kedua. Yesus adalah seorang yang ahli dalam masalah kehidupan. Ia memahami seluk beluk bangunan dengan baik, dan Ia memahami pula tentang seluk beluk membangun fondasi Gambaran ini menampilkan gambaran praktis dari orang yang bekerja di lapangan (Barclay, 2003, p. Menurut Barclay, dalam kehidupan orang-orang di Palestina, seseorang yang akan membangun rumah harus memahami seluk-beluk tanah di mana rumah tersebut dibangun dengan baik sebab ketika musim kemarau, akan ada banyak tempat yang dipandang baik. Namun, keadaannya berubah ketika musim penghujan tiba. Sebab tanah-tanah tersebut akan menjadi bagian dari aliran air, sehingga rumah yang dibangun di atasnya akan roboh. Di mana umumnya, tempat-tempat tersebut adalah tempat yang berpasir. Sedangkan rumah yang dibangun di area yang tepat akan berdiri kokoh. Beberapa hal yang dilakukan biasanya adalah menggali tanah yang cukup dalam sampai pada bagian tanah yang kuat dan berbatu. Area yang seperti ini akan tahan terhadap hujan, bahkan banjir sekali pun (Barclay, 2003, p. Menurut de Heer, musim kemarau tanpa hujan apa pun akan berlangsung pada bulan Mei sampai bulan September. Pada musim kemarau, tanah akan menjadi sangat Sehingga seorang yang bodoh akan mengira tanah yang keras dapat didirikan langsung dengan batu di atasnya. Namun, lupa bahwa ketika musim penghujan, hujan akan sangat lebat bahkan disertai dengan angin ribut. Hujan di atas bukit akan membuat semacam banjir yang membanjiri lereng bukit dengan cepat. Rumah yang didirikan di atas tanah langsung akan hancur (Heer, 2013, p. Menurut Barclay, demikian pula kehidupan ini sama seperti rumah. Orang yang membangun dirinya di atas fondasi yang tepat dan teguh akan tahan terhadap segala ujian dan pencobaan. Oleh sebab itu, untuk hal tersebut. Yesus menurutnya menghendaki dua hal yakni pertama, agar manusia mendengar. Menyediakan diri agar mendengar perkataan Yesus merupakan sesuatu yang sangat penting. Kedua, agar manusia melakukan sesuatu. Pengetahuan dari mendengar akan menjadi relevan jika hal tersebut dipraktikkan atau dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab mendengar dan berbuat apa yang disampaikan oleh Yesus sama dengan menaati ajaran-Nya. Hidup yang taat kepada ajaran Yesus adalah hidup yang tahan uji. Meskipun ada ujian dan percobaan yang berat dihadapi (Barclay, 2003, pp. 475Ae. De Heer memiliki pandangan yang lebih jauh, menurutnya banjir dan angit ribut yang dimaksud dalam perumpamaan ini bukanlah badai kehidupan masa kini. Melainkan menunjuk pada hari Kiamat nanti. Orang yang bertahan adalah mereka yang hidup Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Memahami Konsep Oikos dalam Perjanjian Baru dan Dialognya dengan Nilai Pendirian Rumah. menurut hukum-hukum yang diberikan oleh Tuhan Yesus pada hari Kiamat nanti (Heer, 2013, p. Pandangan ini sepertinya lebih cocok untuk diterima sebab konteks dari perikop ini menunjuk kepada penghakiman akhir atau menunjuk pada akhir zaman (Tim Penyusun, 2008, p. Orang bijak membangun rumahnya di atas batu, sedangkan orang yang bodoh membangun rumahnya di atas pasir. Menurut William Barclay dalam bukunya AuPemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Matius Pasal 1-10Ay bahwa pemahaman tentang konsep rumah atau aC (Oiko. dalam Perjanjian Baru dipahami dalam dua makna. Makna pertama, aC dimaknai sebagai gedung. Gedung yang dimaksud di sini menunjuk pada fungsi aC sebagai rumah tempat tinggal. Sedangkan makna yang kedua, aC dipahami sebagai dunia di mana dunia adalah rumah Allah dan umat manusia adalah keluarga Allah. Makna kedua inilah yang sebenarnya seringkali muncul dalam teks Perjanjian Baru. Dalam hal ini, maknanya bersifat simbolis. Gambaran aC yang dipahami dalam makna kedua juga ditemukan dalam Surat Ibrani. Hal ini menjadi salah satu bagian dalam memahami gereja sebagai rumah Allah . Petrus 4:17. 1 Timotius 3:15. 1 Petrus 2:. Konsep tersebut menurut Barclays tidak terlepas dari konsep tentang dasar bangunan. Bahwa gereja dapat berdiri kokoh jika dibangun di atas dasar yang kokoh pula yakni Yesus Kristus (Barclay, 2008, p. Bagi orang Kristen sendiri, konsep Oikos sebagai rumah tidak hanya menunjuk pada fungsi rumah sebagai sarana tempat tinggal. Mengutip Larry L. Rasmussen memahami konsep aC dalam kaitannya dengan bumi atau a Konsep aC ini memahami bahwa bumi adalah rumah atau tempat kediaman Allah. Lebih lanjut menurut Rasmussen bahwa ungkapan a a AAua (Oikonomia tou theo. dipahami sebagai cara kuno untuk memahami sejarah penebusan dan penggenapannya. Walaupun kemudian menurutnya, makna aC sebagai rumah kehadiran dan kediaman Allah menjadi pemaknaan mendasar dari kata tersebut. Kata tersebutlah yang kemudian menjadi dari kata auAAu (Oikumen. yang berasal dari dua kata yakni aC yang berarti rumah dan AAuAAu berarti tinggalA Dengan demikian maka auAAu bermakna harfiah sebagai rumah tinggal. Dalam konteks yang lebih luas, kata auAAu berarti seluruh dunia yang didiami (Rasmussen, 2010, pp. 153Ae. Gambaran dalam Matius 7:24-27 ditemukan bahwa kata aC mempunyai 2 Yang pertama, aC menunjuk pada makna rumah sebagai sebuah bangunan fisik yang didirikan di dua tempat berbeda yakni di atas batu dan di atas pasir. Sedangkan pada konsep yang kedua, aC menunjuk pada makna figuratif. Di mana aC dapat dipahami sebagai bumi atau seluruh dunia yang didiami. Dalam hal ini, dipahami bahwa Allah pun hadir mendiaminya. Ketika konsep aC dalam Matius 7:24-27 ini dipahami sebagai sebuah dunia di mana Allah hadir, maka menjadi masuk akal ketika perumpamaan ini menyebutkan pula tentang kehadiran orang bodoh dan orang bijaksana. Kedua kelompok ini mewakili gambaran tentang bagaimana manusia yang hidup di bumi ini memperlakukan dan merawat bumi tempat kediaman mereka. Yang bodoh akan memperlakukan bumi secara sembarangan sedangkan yang bijaksana akan merawat bumi dengan baik. Jadi, pernyataan ini mengandung makna ekologis pula. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Memahami Konsep Oikos dalam Perjanjian Baru dan Dialognya dengan Nilai Pendirian Rumah. Implikasi Dialog Makna Pembangunan Rumah Bagi Orang Banjar dengan Hasil Tafsir Teks Matius 7:24-27 Fondasi Rumah Memiliki Makna Kehidupan Fondasi rumah memiliki makna yang penting baik bagi pembangunan rumah menurut orang Banjar maupun bagi orang-orang yang mendengar khotbah Yesus tentang dua macam dasar. Fondasi dijadikan perumpamaan yang mengajar banyak orang tentang makna kehidupan. Bagi orang Banjar sendiri, rumah bukan hanya tempat tinggal, melainkan juga sebagai tempat untuk beribadah. Dengan demikian rumah tidak hanya dimaknai sebagai tempat untuk beristirahat, melainkan tempat untuk melakukan kewajiban-kewajiban agama. Salah satunya yang menjadi sangat penting adalah ketika rumah dibangun, ia dimulai dengan tahapan-tahapan persiapan. Salah satunya adalah AumemeriksaAy lokasi tersebut apakah layak dibangun sebuah rumah atau tidak. Hal di atas sejalan dengan perumpamaan Tuhan Yesus bahwa rumah yang dibangun di atas dasar yang tepat akan kokoh bertahan. Dalam budaya orang-orang di Timur Tengah sendiri, sebelum mereka membangun rumah. Hal yang harus dicermati terlebih adalah lokasi rumah akan dibangun. Sebab jika dibangun di atas fondasi yang tidak kokoh, rumah tersebut akan roboh pada musim penghujan nantinya. Fondasi bagi rumah menjadi bagian yang penting. Fondasi menjadi satu nilai yang tercermin sama dari dua agama ini. Jenis Rumah Menggambarkan Strata Sosial Bagi orang Banjar, bentuk rumah seseorang bukan hanya tempat tinggal melainkan rumah menggambarkan strata sosial yang berlaku di masa lalu. Sebagai contoh rumah bubungan tinggi menggambarkan kehidupan strata atas khususnya Sultan Banjar. Oleh sebab itu, rumah dengan tipe tersebut jarang ditemui di masyarakat. Rumah dengan tipe Bubungan Tinggi pun memiliki keunikan tersendiri. Selain ruangan-ruangan yang dibangun cenderung rumit dengan ukuran watun dan jenis watun yang berbeda. Selain itu, rumah dengan tipe Bubungan Tinggi pun terbilang memiliki jumlah ruangan yang lengkap. Ruangan-ruangan memiliki pesan-pesan tersendiri yang sarat dengan makna yang Hal di atas berbeda dibandingkan dengan rumah Cacak Burung yang umumnya ditempati oleh masyarakat biasa atau kalangan petani. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya ruangan khusus yang diperuntukkan sebagai lumbung padi. Hal tersebut tidak ditemukan di rumah tipe Bubungan Tinggi. Rumah Cacak Burung juga menggambarkan kehidupan orang-orang biasa. Oleh sebab itu, rumah ini umum ditemukan dalam kehidupan masyarakat Banjar. Gambaran tentang rumah yang menggambarkan strata sosial ditemukan pula dalam gambaran rumah yang ada di dalam Alkitab. Rumah-rumah di masa Perjanjian Baru berjenis dua. Pertama rumah yang menggambarkan kehidupan masyarakat strata atas yakni rumah yang bergaya Romawi. Sedangkan kedua yakni bagi masyarakat strata bahwa yakni rumah orang miskin yang terbuat dari bahan yang kurang tahan lama. Hal tersebut karena material bangunan yang temboknya terbuat dari tanah liat sehingga ketika hujan menjadi rusak bahkan roboh. Rumah orang miskin biasanya terdiri dari dua tingkat. Sedangkan rumah orang-orang kaya, terdiri dari beberapa tingkat dan umumnya bangunannya baik yang terdiri dari batu bata atau batu granit yang kokoh. Dari gambaran-gambaran di atas, maka jelas rumah bagi orang Banjar dan rumah dalam Alkitab memiliki nilai-nilai yang maknanya sejajar. Sejajar dalam hal ini berarti baik orang Banjar maupun teks Alkitab memperlihatkan dalam semua ruang hidup, ada strata sosial pun dalam hal pembangunan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Memahami Konsep Oikos dalam Perjanjian Baru dan Dialognya dengan Nilai Pendirian Rumah. Hanya saja, secara tekstual gambaran tentang strata sosial dalam pembangunan rumah menurut teks Alkitab itu tidak terlihat secara jelas sebab hal-hal fisikal tidak penting dibahas menurut teks Alkitab. Nilai Agama Menjadi Dasar Bagi Sebuah Rumah Yang Kuat Rumah memiliki filosofi penting sebagai identitas sebagai seorang muslim. Oleh sebab itu, nilai agama kental dalam memahami rumah bagi orang Banjar. Pertama, sebelum membangun rumah, tokoh agama menjadi orang yang dipandang penting untuk ditanyakan petunjuknya terkait pembangunan rumah. Kedua, setelah rumah selesai dibangun, dilakukan ibadah syukuran yang tentunya dipimpin oleh tokoh agama tersebut. Ketiga, setelah rumah ditempati maka lafaz Lam Jalalah perlu ada sebagai penanda identitasnya sebagai seorang muslim sehingga di rumah tersebut nama Allah SWT diagungkan. Telah dikatakan sebelumnya bahwa Lafaz Lam Jalalah bisa dikatakan sebagai penyebutan atas nama AuAllah SWTAy jadi semakin sering nama Allah ini diucapkan, maka semakin kuatlah keadaan penghuni rumah itu dan semakin kuat juga rumah kediaman di mana bacaan ini Secara spiritual, penyebutan nama Allah SWT adalah semacam tolak bala. Bagi orang Kristen, pembangunan rumah juga memiliki filosofi. Seperti yang dinyatakan dalam teks Matius 7:24-27, pembangunan rumah sangat bergantung pada hikmat orang yang mendirikannya. Ada kondisi-kondisi kehidupan yang digambarkan bsia mengganggu Pembangunan rumah yang dikiaskan sebagai banjir dan angin rebut. Dalam hal ini, banjir dan angin ribut yang melanda rumah tidak hanya dipandang sebagai kondisi alam, tetapi sebuah kiasan dari pencobaan dan ujian dalam kehidupan. Oleh sebab itu, orang Kristen sendiri harus benar-benar membangun rumahnya di atas dasar yang kuat sebagai fondasinya yakni firman Allah. Firman Allah harus menjadi pembimbing bahkan penuntun kehidupan. Firman Allah itulah yang membuat orang Kristen mampu bertahan dalam kondisi kehidupan yang Tuhan Yesus menjadi Kepala Rumah Tangga yang Agung yang memerintah dalam keluarga Kristen. Oleh sebab itu, belajar dari hal ini, maka nilai-nilai kristiani menjadi sangat utama dalam kehidupan orang Kristen di dalam rumahnya. Nama Yesus diagungkan dalam rumah tersebut. Dan nama Yesus adalah nama yang dengan-Nya orang Kristen meyakini keselamatan dan pertolongan Tuhan itu dinyatakan. Nilai Ekologis Rumah Bagi Orang Banjar Rumah bagi orang Banjar tidak sekedar dipahami sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi tempat untuk menyatakan keagungan Tuhan, tempat untuk menjalankan kewajiban kepada Tuhan dan menyatakan identitas pemiliknya sebagai seorang Muslim melalui penulisan lafaz Allah, juga penting untuk dicatat bahwa rumah juga bermakna Nilai ekologis itu misalnya bisa terlihat dari beberapa gambaran berikut: pertama, penggunaan bahan-bahan bangunan yang dihitung dengan cermat dan dengan jumlah bilangan ganjil yang jelas. Perhitungan detail itu dimaksudkan agar pada saat pembangunan rumah, pemilik rumah tidak membeli bahan secara berlebihan yang membuat mubazir dan rugi. Kedua, penggunaan kayu galam sebagai pelapis fondasi rumah secara tidak langsung ternyata bernilai ekologis juga. Kayu galam yang kuat dan mampu bertahan lama di tanah yang basah dan berawa-rawa membuat rumah juga dapat bertahan lama sehingga tidak membutuhkan renovasi terlalu sering. Kebutuhan kayu juga berkurang dan ini membawa hal baik bagi tumbuhan itu sendiri, ia dapat tumbuh lebih lama. Dan ketiga, pendirian rumah di atas tiang-tiang kayu seperti bentuk panggung, akan memberi Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Memahami Konsep Oikos dalam Perjanjian Baru dan Dialognya dengan Nilai Pendirian Rumah. dampak langsung terhadap tanah basah di Banjarmasin. Ini memungkinkan ekosistem lokal tetap terjaga dan mengurangi risiko kerusakan lingkungan dan mempertahankan keanekaragaman hayati. Rekomendasi untuk Penelitian Lanjutan Penelitian tentang dialog nilai pembangunan rumah menurut orang Banjar dengan makna dari teks Matius 7:24-27 merupakan salah satu upaya menggali nilai dari dua agama yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai bentuk upaya bersama dalam mencapai nilai-nilai toleransi dan dialog nilai terkait lokus di Banjarmasin. Oleh sebab itu, menurut peneliti penelitian lanjutan patut untuk dilaksanakan terkait nilai-nilai lain penting untuk dilakukan. Kesimpulan Penelitian yang dilakukan Tim peneliti kali ini adalah tentang upaya mendialogkan konsep rumah yang dalam Perjanjian Baru dikenal dengan istilah anAdengan konsep rumah menurut orang Banjar. Jadi, pada intinya penelitian ini adalah penelitian Bibliskultural. Tentunya penelitian ini bukanlah hal yang sederhana karena sebelumnya perlu dilakukan proses pembacaan ulang dan tafsir atas teks dalam Perjanjian Baru tentang konsep rumah itu. Pilihan untuk teks itu adalah dari Matius 7:24-27 yang diberi judul AuDua Macam DasarAy. Ketika teks Matius 7:24-27 ini didialogkan dengan konsep rumah orang Banjar, ada beberapa konsepsi dasar yang tampaknya bisa ditarik sebagai bentuk Pertama, penting untuk memahami bahwa rumah bukanlah semata sebagai tempat tinggal. Ia juga bermakna sebagai pembentukan hidup mereka yang diam di Rumah itu adalah sebuah tempat untuk menjalankan hidup lengkap dengan tanggung jawab sosial, dan spiritual. Jadi, rumah itu adalah lokus kehidupan seseorang. Kedua, rumah merupakan tempat untuk mengenali realitas sosial seseorang, baik kaya ataupun miskin mendiami rumah dengan semua kualitas yang ditawarkannya. Inilah ruang hidup yang sebenarnya, tiap orang memahami dirinya sebagai bagian dari Ketiga, rumah adalah tempat di mana nilai-nilai identitas diri itu melekat dengan kuat. Di dalam rumah, identitas, moralitas dan hidup dalam ketaatan pada Tuhan itu dibangun dan dipelihara. Ini bukan pekerjaan yang mudah, sebuah usaha seumur hidup. Hal ini pula yang membuat rumah orang Banjar misalnya mencirikan rumahnya sebagai tempat untuk selalu melafalkan tentang nama Tuhan. Tiap kali mengingat perjalanan hidup, tiap kali pula nama Tuhan dilantunkan. Tujuannya agar manusia bisa menjalani hidupnya dengan terus takut kepada Tuhan. Tuhanlah satu-satunya pembimbing dan pengharapan Keempat, pembangunan rumah mengandung nilai ekologis, baik melalui konsep penghitungan katerial, proses dan tahap pembangunannya maupun proses hidup yang dijalani di dalamnya. Pada akhirnya makna pembangunan rumah bagi orang Banjar memiliki nilai yang sejajar dengan hasil tafsir yang ditemukan dalam teks Matius 7:24-27. Hal tersebut menunjukkan bahwa walaupun berasal dari dua agama yang berbeda yakni Islam dan Kristus ada nilai-nilai tertentu yang dapat didialogkan. Daftar Rujukan Klijn. An Introduction To The New Testament. Brill. Barclay. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Matius Pasal 1-10, terj. The Daily Bible Study: The Gospel of Mattew Volume I, diterjemahkan oleh S. Wismoady. BPK Gunung Mulia. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Memahami Konsep Oikos dalam Perjanjian Baru dan Dialognya dengan Nilai Pendirian Rumah. Barclay. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Surat Ibrani, terj. The Daily Bible Study: A Letter Of Hebrew, diterjemahkan oleh S. Wismoady Wahono. BPK Gunung Mulia. Harisuddin. Urang Banjar: Asal Usul dan Identitasnya [Artikel pada Universitas Islam Negeri Banjarmasi. https://osf. io/h95av/download Heer. De. Tafsiran Alkitab: Injil Matius Pasal 1-22. BPK Gunung Mulia. Imadduddin Parhani. Perubahan Nilai Budaya Urang Banjar (Dalam Perspektif Teori Troompenaa. Al-Banjari, 15. Jeremias. The Parables Of Jesus (Second Ed. Charles ScribnerAos Sons. Lantigimo. Ripaldi, & Afriliani. Abah Guru Sekumpul. Jurnal Teologi Pambelum, 3. , 70Ae87. https://doi. org/10. 59002/jtp. Nurfansyah. Saud. Wastuti. Aini. , & Agusniansyah. Perkembangan Pondasi Tiang Kayu Pada Rumah Tinggal Di Banjarmasin. INFOTEKNIK, 21. , 199. https://doi. org/10. 20527/infotek. Rasmussen. Komunitas Bumi: Etika Bumi- Merawat Bumi Demi Kehidupan Yang Berkelanjutan Bagi Segenap Ciptaan, terj. Earth Community Earth Ethics, diterjemahkan oleh Liem Sien Kie. BPK Gunung Mulia. Sahriansyah. Sejarah Kesultanan dan Budaya Banjar. IAIN Antasari Press. Sanon Dan Sudianto. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Makalah. Laporan. Proposal Skripsi. Skripsi. Proposal Tesis. Tesis. Unit Publikasi Informasi STT GKE. Sudianto. Maleh. , & Ripaldi. Dialog Nilai Mira Pakat Dayak MaAoanyan Di Banjarmasin Dengan Teks Filipi 2:1-7. Jurnal Teologi Pambelum, 3. , 97Ae110. https://doi. org/10. 59002/jtp. Sugiyono. Metode Penelitian Manajemen. Alfabeta Syamsiar Seman. Rumah Adat Banjar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Syamsiar Seman. Rumah-Rumah Adat Banjar Bahari. Museum Negeri Fropkalsel Lambung Mangkurat. Tim Penyusun. Pedoman Penafsiran Injil Matius. Terjemahan A TranslatorAos Handbook on the Gospel of Mattew. Lembaga Alkitab Indonesia. Werner Georg Kummel. Introduction Of The New Testament, diterjemahkan dari Einleitung in das Neue Testament. SCM Press LTD. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024