Vol. XIV. No. 1 Januari 2020 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan ISSN CETAK : 1979-1879 ESTU UTOMO HEALTH SCIENCE JURNAL ILMIAH KESEHATAN http : //w. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BALITA MENGENAI MP-ASI DENGAN STATUS GIZI BALITA DI PUSKESMAS MEKAR BARU Etika Khoiriyah. Putri Yuriati. Akademi Kebidanan Anugerah Bintan E-Mail: etika2811@gmail. , . ABSTRAK Latar Belakang: Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan kesejahteraan balita dimana tingkat status gizi optimal akan tercapai apabila kebutuhan zat gizi optimal Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 87 responden, diambil dengan menggunakan teknik simple Pengumpulan data dengan mneggunakan kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah chi Hasil: Dari 41 responden yang berpengetahuan kurang mengenai MP-ASI, 13 responden . ,7 %) memiliki balita dengan status gizi baik. Dari 46 responden yang berpengetahuan baik tentang MPASI, 37 responden . ,4 %) memiliki balita dengan status gizi baik. Hasil uji Chi Square menunjukan bahwa Ha diterima yaitu adanya hubungan pengetahuan ibu balita mengenai MP-ASI dengan status gizi di Puskesmas Mekar Baru, dengan kata lain H0 ditolak karena diperoleh nilaidengan p=0,000 (<0. Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu balita mengenai MP-ASI dengan status gizi balita di Puskesmas Mekar Baru Tahun 2019. Kata Kunci : Pengetahuan. Ibu Balita. MP-ASI. Status Gizi THE RELATIONSHIP OF KNOWLEDGE ABOUT MOTHER TODDLERS MP-ASI WITH THE NUTRITIONAL STATUS OF TODDLERS IN NEW MEKAR HEALTH CENTER ABSTRACT Background: Nutrition is one of the important factors that determine the level of health and well-being of toddlers where the level of optimal nutritional status will be achieved if optimal nutritional needs are met. Method: This type of research is analytic with a cross sectional approach. The number of samples in this study were 87 respondents, taken using a simple sampling technique. Collecting data by using a The statistical test used is chi square. Results: Of the 41 respondents who lack knowledge about MP-ASI, 13 respondents . 7%) have toddlers with good nutritional status. Of the 46 respondents who had good knowledge about MP-ASI, 37 respondents . 4%) had toddlers with good nutritional The results of the Chi Square test showed that Ha was accepted, that is, there was a relationship between the knowledge of toddler mothers regarding MP-ASI with the nutritional status at the Mekar Baru Health Center, in other words H0 was rejected because it obtained a value with p = 0. 000 (<0. Conclusion: There is a significant relationship between the knowledge of toddler mothers regarding MPASI and the nutritional status of toddlers at the Mekar Baru Health Center in 2019. Keywords: knowledge, mothers under five. MP-ASI, nutritional status ISSN CETAK : 1979-1879 Vol. XIV. No. 1 Januari 2020 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan PENDAHULUAN Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan kesejahteraan manusia dimana tingkat status gizi optimal akan tercapai apabila kebutuhan zat gizi optimal terpenuhi (Sari, 2. Status gizi anak balita di Indonesia saat ini masih memprihatinkan (Mustafa, dkk. Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa status gizi anak Indonesia masih jauh dari harapan (Melayu, 2. Masalah gizi buruk dan gizi kurang nampaknya belum bisa teratasi dengan baik dalam skala internasional maupun nasional, tercatat 101 juta anak di dunia dibawah lima tahun menderita kekurangan gizi. Balita yang termasuk gizi kurang mempunyai resiko meninggal lebih tinggi dibandingkan balita yang gizinya baik (UNICEF, 2. Secara global, pada tahun 2011 lebih dari 25% jumlah anak yang berumur dibawah lima tahun yaitu sekitar 165 juta anak mengalami stunting, sedangkan untuk tingkat Asia, pada tahun 2005-2011 Indonesia menduduki peringkat kelima prevalensi stunting tertinggi. Berdasarkan hasil Riskesdas 2013, untuk skala nasional, prevalensi anak balita stunting di Indonesia sebesar 37,2. Menurut WHO, apabila masalah stunting di atas 20% maka merupakan masalah kesehatan masyarakat. Cakupan pemberian MP-ASI balita lebih dari 6 bulan secara nasional tahun 2013 sebesar 54,3%, menurun pada tahun 2014 sebesar 52,3%. Berdasarkan provinsi di Indonesia tahun 2014 tertinggi di Nusa Tenggara Barat sebesar 84,7% sedangkan terendah di Provinsi Jawa Barat sebesar 21,8 % (Kemenkes RI, 2. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), permasalahan gizi dapat ditunjukkan dengan besarnya angka kejadian pada tahun 2010, menunjukkan bahwa 1 dari 5 balita di Negara berkembang diperkirakan mengalami gizi kurang yang menunjukkan kesehatan masyarakat Indonesia terendah di ASEAN dan menduduki peringkat 142 dari 170 negara. Data WHO menyebutkan angka kejadian gizi kurang sebesar 28%. Pada tahun 2013, sekitar 17% atau 98 juta anak di bawah usia lima tahun di negara berkembang kekurangan berat badan (Berat badan usia sesuai dengan standar pertumbuhan anak WHO). Keadaan status gizi anak usia di bawah dua tahun (Badut. merupakan kelompok yang rawan gizi dan akan menentukan kualitas hidup selanjutnya. Pemenuhan gizi Vol. XIV. No. 1 Januari 2020 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan ISSN CETAK : 1979-1879 merupakan hak dasar anak (Ferreira, 2. Penjelasan tentang makanan pendamping ASI (MP-ASI) dan status gizi balita memunculkan masalah pada aspek hubungan sebab akibat dimana pemberian MP-ASI yang kurang tepat melahirkan status gizi kurang/status gizi buruk (Deba, 2. Perilaku ibu memegang peranan penting dalam pemberian makanan pendamping ASI yang tepat. Pemberian makanan tambahan merupakan bentuk perilaku kesehatan, menurut Green perilaku salah satunya ditentukan oleh faktor pengetahuan, pekerjaan dan pendapatan (Notoatmodjo, 2. Pengetahuan ibu tentang pentingnya MP-ASI masih rendah, tata laksana rumah sakit yang salah dan banyaknya ibu yang mempunyai pekerjaan di luar rumah. Beberapa rumah sakit memberikan susu formula pada bayi yang baru lahir sebelum ibunya mampu memproduksi ASI (Aprillia, 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan ibu mengenai MP-ASI dengan status gizi balita di wilayah di Puskesmas Mekar Baru Kota Tanjungpinang. METODE Penelitian ini bertempat di Puskesmas Mekar Baru Kota Tanjungpinang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel idalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita di puskesmas Mekar Baru Kota Tanjungpinang yang berjumlah 87 responden dengan teknik simple sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Analisis data dengan uji Chi Square. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Responden Umur ( Tahun ) A < 20 tahun A 20-35 tahun A > 35 tahun Pendidikan A SD A SMP A SMA A Perguruan Tinggi 15,11 ISSN CETAK : 1979-1879 Vol. XIV. No. 1 Januari 2020 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan Pekerjaan A Tidak bekerja A Bekerja Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa 67,8 % responden berusia 2035 tahun, menurut karakteristik pendidikan 55,2 % responden berpendidikan SMA, menurut karakteristik pekerjaan 58,6 responden yang bekerja. Tabel 2. Pengetahuan Ibu balita Mengenai MP-ASI Pengetahuan (%) Kurang Baik Jumlah Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa sebagian besar ibu balita berpengatahuan baik mengenai MP-ASI yaitu sebesar 63,2%. Penelitian ini sependapat dengan hasil penelitian Helmawati . , dimana responden yang berpengetahuan baik dikarenakan mereka telah mendapatkan tingkat pendidikannya sudah cukup baik, pengetahuan tentang MP-ASI dari tenaga kesehatan atau penyuluhan kesehatan dan sering ke posyandu. Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Riyanto. Peneliti berasumsi bahwa semakin tinggi pengetahuan semakinn mudah pula menerima informasi pengetahuan mengenai penyediaan makanan yang baik ( pemberian MP-ASI yang benar pada balit. Tabel 3. Status Gizi Balita Status gizi (%) Kurang Baik Jumlah Berdasarkan tabel diatas didapatkan bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi baik yaitu sebanyak 57,5%. Hal ini disebabkan karena responden melakukan penimbangan ke posyandu maka status gizi dan pertumbuhan balita dapat selalu Vol. XIV. No. 1 Januari 2020 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan ISSN CETAK : 1979-1879 terpantau setiap bulan. Penelitian ini menunjukan bahwa masih terdapat anak dengan status gizi kurang . ,5%). Kondisi ini disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah status ekonomi keluarga dimana 58,6% dimana pekerjaan suami responden adalah sebagai buruh , tukang bangunan, tukang kayu dan pembuat batu bata. Keluarga ibu balita hanya bergantung pada penghasilan suami menyebabkan penghasilan keluarga kurang mencukupi kebutuhan gizi anak. Selain itu status gizi balita yang kurang salah satu penyebabnya adalah kondisi berat badan lahir rendah ketika lahir. Kondisi berat badan rendah ketika lahir juga dipengaruhi oleh pengetahuan ibu terkait kenaikan berat badan selama hamil. Hal ini didukung oleh penelitian Trisnawati Y dan Utami T . yang menunjukkan adanya hubungan antara kenaikan berat badan selama hamil dengan kejadian berat badan lahir Menurut asumsi peneliti dari hasil penelitian dan pengamatan dilapangan, yang membuat banyak ibu balita dengan status gizi balitanya baik adalah yaitu dikarenakan tingkat pengetahuan ibu balita yang tinggi disebabkan oleh pendidikan yang tinggi yang mempermudah ibu memahami setiap anjuran yang diberikan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Mekar Baru Kota Tanjungpinang serta faktor usia yang masih produktif untuk menerima informasi dan waktu yang dimiliki ibu balita untuk datang ke Puskesmas. Dengan adanya pengetahuan tdan perilaku erkait status gizi yang baik akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan balita di fase selanjutnya Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mulyandari A dan Sharcnel CN . yang mendapatkan hasil bahwa ada hubungan antara perilaku ibu tentang status gizi dengan pertumbuhan balita di Posyandu Saliara. Tabel 4. Hubungan Pengetahuan Ibu Balita Mengenai MP-ASI Dengan Status Gizi Balita Pengetahuan Kurang Baik Jumlah Status gizi balita Kurang Baik Jumlah p value 0,000 ISSN CETAK : 1979-1879 Vol. XIV. No. 1 Januari 2020 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data bahwa dari 41 responden yang berpengetahuan kurang mengenai MP-ASI, 13 responden . ,7 %) memiliki balita dengan status gizi baik. Dari 46 responden yang berpengetahuan baik tentang MP-ASI, 37 responden . ,4 %) memiliki balita dengan status gizi baik. Hasil analisa statistik dengan uji Chi Square di peroleh hasil : X2 hitung sebesar 19,113 dengan taraf signifikan 0,05 ( p = 0,000 kecil dari 0,. Sehingga H0 ditolak dan Ha diterima yang artinya ada hubungan pengetahuan ibu balita mengenai MP-ASI dengan status gizi balita di Puskesmas Mekar Baru Kota Tanjungpinang. Ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Narsikhah . bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan orangtua dengan kejadian stunting pada Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hestunigtyas . dimana ada pengaruh antara pemberian konseling gizi terhadap pengetahuan, sikap, praktik ibu dan asupan zat gizi, dimana hanya pengetahuan yang memiliki hunbungan antara pemberian konseling gizi terhadap pengetahuan. Hasil penelitian ini menunjukan ada hubungan pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dengan status gizi anak. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan Fitri, dkk . yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan status gizi bayi umur 0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tambak 1 Kabupaten Banyumas, yaitu semakin baik pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif, maka status gizi bayi semakin baik. Menurut Wulandari . , pada teori dari Kalnins bahwa bayi yang di berikan MP-ASI dini sering mengalami ISPA di bandingkan dengan bayi yang tidak di berikan MP-ASI dini. Hal ini di sebabkan karena sistem imun pada bayi yang kurang dari 6 bulan belum sempurna, sehingga pemberian MP-ASI dini sama saja dengan mempermudah masuknya berbagai jenis kuman penyakit, apalagi jika makanan di sajikan secara tidak higienis. Dengan sikap yang positif terhadap risiko dari pemberian MP-ASI terlalu dini pada bayi maka akan timbul suatu perilaku yang positif pula yaitu memberika MP-ASI yang tepat pada bayi yaitu pada usia di atas 6 bulan. Selain itu menurut peneltian Utama . , pengetahuan ibu tentang gizi dan sikap ibu tentang gizi secara Vol. XIV. No. 1 Januari 2020 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan ISSN CETAK : 1979-1879 bersamasama berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI pada balita 6-24 bulan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lastanto . , dengan judul AuAnalisa Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Gizi Kurang pada Balita di Puskesmas CebonganAy. Dari hasil analisa dengan menggunakan uji Chi Square diperoleh P value 0,029 < 0,05 yang berarti terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dengan kejadian gizi kurang pada balita di Puskesmas Cebongan. Selanjutnya dari penellitian diperoleh hasil analisa bivariat dengan menggunakan uji Chi Square menunjukan bahwa H0 ditolak ditandai dengan p value 0. <0,. sehingga dengan kata lain Ha diterima yaitu adanya hubungan pengetahuan ibu balita mengenai MP-ASI dengan status gizi balita. Dari hasil penelitian yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu balita mengenai MP-ASI dengan status gizi balita adalah faktor pengetahuan dan Dengan pengetahuan dan pendidikan yang tinggi maka ibu bisa mengerti dan memahami mengenai pemberian MP-ASI yang baik pada balita. Hal ini terjadi pada responden yang berpendidikan tinggi sangat memperhatikan akan pentingnya pemberian MP-ASI pada balita, dengan demikian status gizi balitanya menjadi baik. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian tentang Hubungan Pengetahuan Ibu Balita Mengenai MP-ASI dengan Status Gizi Balita di Puskesmas Mekar Baru Kota Tanjungpinang Tahun 2019 dengan jumlah responden sebanyak 87 orang maka dapat diambil kesimpulan bahwa: Pengetahuan ibu balita tentang MP-ASI di Puskesmas Mekar Baru yang berpengetahuan baik sebanyak 55 responden . ,2%). Balita dengan status gizi baik di Puskesmas Mekar Baru sebanyak 50 responden . ,5 %). Ada Hubungan Pengetahuan Ibu Balita Mengenai MP-ASI denganStatus Gizi Balita di Puskesmas Mekar Baru Kota Tanjungpinang. Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penyuluhan mengenai MP-ASI di posyandu bagi ibu balita perlu ditingkatkan dan perlu diikuti oleh oleh semua ibu terkhusus yang memiliki anak balita agar dapat meningkatkan status gizi balita. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan faktor-faktor apa saja yang menjadi pengaruh status gizi balita. ISSN CETAK : 1979-1879 Vol. XIV. No. 1 Januari 2020 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan DAFTAR PUSTAKA