At-Tafasir: Journal of Al-QurAoan Studies and Contextual Tafsir Vol. No. : 204-223 Available online at https://jurnal. id/index. php/tafasir Mendaras Ulang Makna Ayat MafAti u al-Ghaib : Studi Komparatif Tafsr al-abar dan Tafsr al-MishbAh Ummi Muhklisoh 1, 1 Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Email: ummimukhlisoh02@gmail. Faiq Ainurrofiq2 2 Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Email: faiqainurrofiq84@gmail. ARTICLE INFO Article History: Received: June 26, 2025 Revised: November 21, 2025 Accepted: December 4, 2025 ABSTRACT Differences in interpretation are often found among mufassirs regarding a verse or srah of the Quran. For instance, the interpretation of srah LuqmAn verse 34 highlights a striking difference between classical mufassirs like Ibn Jarr al-abar and contemporary ones like M. Quraish Shihab in interpreting the verse Keywords: about the five Aukeys to the unseenAy or MafAtiu al-Ghaib. This MafAtiu al-Ghaib. Tafsr al- research aims to analyze the interpretations of al-abar and abar. Tafsr al-MishbAh Quraish and comprehend the differences in their interpretations of srah LuqmAn verse 34 based on the books Tafsr al-abar and Tafsr al-MishbAh. This research uses a qualitative approach with comparative analysis. Data collection uses documentation techniques from both books. The findings show that al-abar views the five unseen elements as absolute, while Quraish sees some as absolute and others as relative. Their differences are particularly notable in interpreting the descent of rain and what is in the womb, with alabar considering them absolute secrets and Quraish viewing them as relative. However, both interpret the timing of the apocalypse, what someone will do tomorrow, and where someone will die as absolute These differences may stem from methodological shifts and varying social contexts during interpretation, as well as different sources of opinion. How to Cite: Muhklisoh. Ummi. Faiq Ainurrofiq. AuMafAtiu al-Ghaib dalam Tafsr al-abar dan Tafsr al-MishbAh. Ay At-Tafasir: Journal of Al-QurAoan Studies and Contextual Tafsir 2. No. : 204-223. A 2022. The author. At-Tafasir: Journal of Al-QurAoan Studies and Contextual Tafsir is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License Mendaras Ulang Makna Ayat MafAtiu al-Ghaib (Studi Komparatif Tafsr al-abar dan Tafsr al-MishbA. (Ummi Muhklisoh. Faiq Ainurrofi. PENDAHULUAN Al-QurAoan sebagai bentuk mukjizat terbesar Nabi Muuammad allallAhu Aoalaihi wasallam, merupakan sumber hukum utama bagi umat Islam. Sebagai kitab petunjuk, tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya dan Al-QurAoan memiliki daya tarik tersendiri bagi berbagai golongan di dunia, khususnya dalam diskursus keilmuan. Hal ini sejalan dengan kemukjizatan Al-QurAoan yang berisi ilmu pengetahuan dengan segala diksi dan 1 Di sisi lain. Al-QurAoan juga mengungkap hal-hal yang tidak diketahui manusia sebagai bentuk iAojAz ghayb-nya, sehingga Al-QurAoan turut menempati andil dalam perannya memberitakan kepada manusia akan hal-hal yang tidak dapat diketahui mereka berupa rahasia atau gaib-gaib tertentu. 2 Kemudian dalam rangka memperoleh pemahaman mengenai pemaknaan Al-QurAoan yang tepat muncullah takwil dan tafsir agar Al-QurAoan dapat dipahami dengan baik dan benar sesuai proporsinya. Berdasarkan akar sejarah, awal penafsiran Al-QurAoan sebenarnya telah muncul sejak zaman Nabi Muuammad allallAhu Aoalaihi wasallam yang disebut dengan al-tafsr al-nabaw. Kemudian metode tafsir dikembangkan oleh para sahabat, diiringi dengan perkembangan pusat-pusat transmisi dan aliran-aliran tafsir di beberapa daerah seperti Makkah. Madinah dan Irak. 4 Bermula dari al-tafsr al-nabaw inilah hingga kian kini metode tafsir masih berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika perkembangan penafsiran Al-QurAoan terjadi reformasi mencari arah baru dalam proses pencarian makna di balik teks ayat sehingga Al-QurAoan tetap Aliu li kulli zaman wa al-makAn, yakni selalu relevan untuk segala zaman dan tempat. Dengan demikian, perbedaan penafsiran antar mufasir dapat sering ditemukan pada suatu ayat ataupun srah dalam Al-QurAoan. Perbedaan penafsiran ini bisa disebabkan karena pergeseran metode yang berlaku dalam dunia tafsir Al-QurAoan. Mengutip pandangan Muhammad Syahrur, ia menyatakan realitas historis menunjukkan bahwa setiap generasi memberikan interpretasi Al-QurAoan yang memancar dari realitas yang muncul dan sesuai dengan kondisi di mana mereka Ali Mursyid. AuSisi-Sisi Keindahan Bahasa Al-QurAoan,Ay Misykat. Vol. No. 2 (Desember, 2. Umar Al Faruq et. AuIAojaz Al-QurAoan. Menyingkap Kemukjizatan Bahasa. Ilmu Pengetahuan, dan Aspek Ghaib dalam Al-QurAoan,Ay Publishing: Jurnal Pendidikan Islam. Vol. No. , 12. Agnova Senida Sinaga. Anggiat Sinurat & Hisarma Saragih. AuKonsep Tafsir. TaAowil, dan Terjemah,Ay PESHUM: Jurnal Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. No. 2 (Februari, 2. , 2276. Wardani. Tren Perkembangan Pemikiran Kontemporer Metodologi Tafsir Al-QurAoan di Indonesia (Banjarmasin: Antasari Press, 2. , 2-3. At-Tafasir: Journal of Al-QurAoan Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 2. December 2025 5 Hal ini tentu mengecualikan praktik tafsir yang memilih untuk berorientasi pada harfiah teks saja. Oleh karena itu, periodesasi tafsir Al-QurAoan muncul untuk membedakan bentuk penafsiran para mufasir lintas zaman yang berbeda-beda. Sebagai contoh perbedaan penafsiran yaitu pada srah LuqmAn ayat 34 yang menunjukkan sisi perbedaan yang mencolok antara mufasir klasik seperti Ibn Jarr al- abar dan mufasir kontemporer seperti M. Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat tentang lima kunci-kunci kegaiban atau MafAtiu al-Ghaib pada srah LuqmAn ayat 34. Alasan pemilihan ayat ini sebagai fokus penelitian adalah karena ayat ini secara sekaligus merangkum beberapa gaib yang sebenarnya juga disebutkan dalam ayat lain namun secara Di sisi lain, pembahasan tentang pemberitaan hal gaib di dalam Al-QurAoan turut mewakili pemaknaan tentang kemukjizatan Al-QurAoan yang mengungkap hal gaib di Sedangkan pemilihan dua kitab tafsir ini sebagai objek kajian adalah karena model penafsirannya yang cukup berbeda. Al-abar secara gamblang menjelaskan tidak adanya pengetahuan manusia sama sekali berkaitan dengan lima kegaiban tersebut dengan penjelasan yang panjang berdasarkan perspektifnya dengan menitikberatkan penjelasan yang didasarkan pada berbagai riwayat, tidak dengan tafsir lain yang cukup ringkas isinya. Sedangkan pemilihan Tafsr al-MishbAh sebagai jalur pandang kontemporer karena dalam menafsirkan setiap ayat Al-QurAoan Quraish mengungkapkan secara rinci dan mengaitkannya dengan fenomena yang terjadi di masyarakat yaitu dengan kenyataan sosial yang ada, ditambah dengan penafsirannya yang terhitung banyak perbedaan dengan penafsiran pada Tafsr al-abar. Berdasarkan keterangan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gagasan Ibn Jarr al-abar dan M. Quraish Shihab serta memahami perbedaan penafsiran keduanya pada srah LuqmAn ayat 34 berdasarkan kitab Tafsr al-abar dan Tafsr al- MishbAh. Kebaharuan penelitian ini terletak pada pembahasannya mengenai MafAtiu al- Ghaib pada srah LuqmAn ayat 34 yang dikaji dengan analisis deskriptif-komparatif antara tafsir klasik dan kontemporer yang belum ditemukan pada penelitian-penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Wely Dozan. AuAnalisis Pergeseran Shifting Paradigm Penafsiran: Studi Komparatif Tafsir Era Klasik dan Kontemporer,Ay At-Tibyan: Jurnal Ilmu AlqurAoan dan Tafsir. Vol. No. 1 (Juni, 2. , 40. Mendaras Ulang Makna Ayat MafAtiu al-Ghaib (Studi Komparatif Tafsr al-abar dan Tafsr al-MishbA. (Ummi Muhklisoh. Faiq Ainurrofi. Konsep MafAtiu al-Ghaib MafAtiu al-Ghaib atau Aukunci-kunci kegaibanAy dalam penelitian ini merujuk pada lima kegaiban yang terdapat dalam srah LuqmAn ayat 34. Lafae MafAtiu al-Ghaib disebutkan sekali dalam Al-QurAoan justru bukan pada srah LuqmAn ayat 34, melainkan pada srah al-AnAoAm ayat 59. Allah berfirman: AaO aU ea au aia a eaa e aa a a eUa a aa a AuDan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya. tidak ada yang mengetahui selain Dia. ay (QS al-AnAoAm . : . Lafae (A )iaUAmafAtiu merupakan bentuk jamaAo dari lafae (A )iaAmiftAu yang berarti Sedang kata kerjanya . iAoi. adalah lafae (A )e Ae i Ae ieAfataua-yaftauu-iftau yang berarti membuka. 6 Sehingga dapat dipahami bahwa miftAu atau mafAtiu dapat diartikan sebagai alat untuk membuka. Sedangkan menurut Quraish Shihab lafae (A )iaUAmafAtiu merupakan bentuk jamaAo dari lafae (A )iAmaftau yang berarti gudang atau tempat Ada juga yang memahaminya sebagai bentuk jamaAo dari lafae (A)iA miftau yang berarti kunci/alat yang digunakan untuk membuka sesuatu. Adapun kata terakhir ini populer disebut dengan (A )iaAmiftAu, walaupun sementara ulama menilai kata yang populer itu bukan kata yang fasih. Dalam ayat ini digunakannya lafae (A)iaUA mafAtiu, sebagai bentuk jamaAo dari lafae (A )iaAmiftAu, tentu saja lebih tepat diartikan sebagai kunci, bukan gudang. 7 Kedudukannya dalam bentuk jamak . unci-kunc. mengandung arti bahwa yang menjadi kunci ini tidak hanya satu hal, melainkan lebih dari dua hal sekalipun. Pendapat yang semakna dengan Quraish Shihab disampaikan oleh Muuammad Rashd RisA dalam Tafsr al-Manar-nya dengan redaksi: AUiaU O i ci Ue O I Oua O Uia O i c iiaE O ))iaA 8 i a(( OI o o ia ic iA Sedangkan lafae (A )aghaib dalam bentuk madar memiliki arti AugaibAy atau yang berarti menyusup, terbenam atau tersembunyi. Selain itu madar dalam bentuk lain Muhammad MaAoshum bin Ali. Al-Amthilah al-Tarfiyyah (Kendal: Pustaka Amana. , 4-5. Quraish Shihab. Tafsr al-MishbAh: Pesan. Kesan, dan Keserasian Al-QurAoan Volume 4 (Ciputat: Lentera Hati, 2. , 128. Muuammad Rashd RisA. Tafsir al-Manar Juz 7 (Kairo: DAr al-Manar, 1. , 456. At-Tafasir: Journal of Al-QurAoan Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 2. December 2025 berupa kata (A )aei Ae aa Ae aeaAghaibah Ae ghiyAb Ae maghb. 9 Sedangkan kata kerjanya adalah (A )a Ae aa Ae aghAba Ae yaghbu Ae ghib. Secara detail derivasi kata ghaib dengan berbagai maknanya disebutkan sebanyak 58 kali di dalam Al-QurAoan. Lebih khusus lagi kata (A )aghaib sebagai madar disebutkan sebanyak 48 kali dalam bentuk isim mufrad dan 4 kali dalam bentuk jamaAo. Sebagaimana keterangan Quraish Shihab dalam bukunya AuMukjizat Al-QurAoan: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan. Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Gaib,Ay bahwa gaib adalah sesuatu yang tidak diketahui, tidak nyata atau tersembunyi. Terdapat sekian banyak hal yang tidak dapat diketahui oleh manusia, seperti kapan terjadinya hari kiamat, atau kapan datangnya kematian. Gaib ada kalanya nisbi dan ada kalanya mutlak. Gaib nisbi adalah gaib yang berlaku bagi seseorang tetapi tidak bagi yang lainnya, atau pada waktu tertentu gaib namun pada waktu yang lain tidak gaib. Sebagai contoh, dahulu orang mengetahuinya tetapi kini setelah berlalunya waktu orang tidak lagi mengetahuinya. Begitu juga sebaliknya, bisa jadi sesuatu yang awalnya gaib menjadi tidak gaib lagi. Sedangkan gaib mutlak tidak dapat diketahui oleh manusia selama ia masih hidup di atas bumi, atau bahkan tidak akan mampu diketahuinya sama sekali, yaitu hakikat Allah subuAnahu wa taAoAlA. Adapun penamaan lima hal dalam srah LuqmAn ayat 34 sebagai MafAtiu al- Ghaib didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh ImAm Aumad dari Ibn AoUmar, bahwa Rasulullah allallAhu Aoalaihi wasallam bersabda: a ai aOa a caU aE eaa e ao aO a eU a aI aa a e e aa anI aO a a A)) aia e a eaa e aa a e U a a eUa a a A a A IA. A aUa au a e aIA a Aae aO a ei U a a a eu a aa aU n aO aa ae aO a ei ac a cO e s a aA ((. UA a Ue aacA a A IA AuKunci-kunci kegaiban itu adalah lima, di mana tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. AoSesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat. dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui . engan past. apa yang akan diusahakannya esok. Dan tidak seorang Ahmad Warson Munawwir. Kamus Al-Munawwir (Surabaya: Pustaka Progressif, 2. , 1024. Quraish Shihab. Mukjizat Al-QurAoan: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan. Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Gaib (Bandung: Mizan, 1. , 197. Mendaras Ulang Makna Ayat MafAtiu al-Ghaib (Studi Komparatif Tafsr al-abar dan Tafsr al-MishbA. (Ummi Muhklisoh. Faiq Ainurrofi. pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha MengenalAo. Ay 11 Adapun yang dimaksud dengan lima kunci-kunci kegaiban pada ayat ini adalah sebagai berikut: A a e aI aa aiA, yaitu pengetahuan tentang hari kiamat. a A aOa a caU aE eaa eA, yaitu pengetahuan tentang penurunan hujan. AoA A aO a eU a aI aa a e e aa aIA, yaitu pengetahuan tentang apa yang ada di dalam rahim. Aa a UA a A aO aa ae aO a ei U a a a eu aA, yaitu pengetahuan tentang apa yang akan diusahakan seseorang besok. a A aO aa ae aO a ei ac a cO e s a aA, yaitu pengetahuan tentang di bumi mana seseorang akan mati. Penafsiran Srah LuqmAn Ayat 34 dalam Kitab Tafsr al-abar Di antara kekhasan Ibn Jarr al-abar dalam menafsirkan ayat yaitu ia tidak meninggalkan pandangan sahabat, tAbiAon, tAbiAo al-tAbiAon, dan tentu Nabi Muuammad allallAhu Aoalaihi wasallam, bahkan ia banyak memunculkan pendapat-pendapat tersebut. Selain itu, keistimewaan Tafsr al-abar yaitu memuat riwayat-riwayat yang terkadang juga disertai pen-tarju-an terhadap pendapat-pendapat yang diriwayatkan dan penyimpulan . stinbA) sejumlah penjelasan kedudukan kata . AorA. jika diperlukan. Dalam usahanya menemukan makna ayat, sebagai seorang ahli filologi besar di masanya al-abar dengan gigih menggali syair-syair pra-Islam. Sumbangsih utamanya dalam kumpulan riwayat tafsirnya adalah ilmu-ilmu filologi, gramatika Arab dan juga penemuan-penemuan serangkaian hukum aqidah dan fiqih yang disimpulkan dari ayat- ayat Al-QurAoan. 13 Sebenarnya kitab karya al-abar ini memiliki nama ganda yang dapat dijumpai di berbagai perpustakaan, yaitu JAmiAo al-BayAn Aoan TaAowl y al-QurAoAn dan juga Tafsr JAmiAo al-BayAn f Tafsr al-QurAoAn. AoAbd AllAh ibn Muuammad ibn AoAbd al-RaumAn ibn IsuAq Al al-Shaykh. Tafsr Ibn Kathr Jilid 6, terj. Abdul Ghoffar E. & Abu Ihsan Al-Atsari (Bogor: Pustaka Imam Asy-SyafiAoi, 2. , 417. Hamdan Hidayat. AuSejarah Perkembangan Tafsir Al-QurAoan,Ay Al-Munir. Vol. No. 1 (Juni, 2. , 69. Rina Susanti Abidin Bahren & Sabil Mokodenseho. AuMetode dan Corak Penafsiran Al-abar,Ay Mushaf Journal: Jurnal Ilmu Al Quran dan Hadis. Vol. No. 1 (April, 2. , 156. Adistia et. AuTelaah Kitab Tafsr al-abari dalam QS Al-Maidah Ayat 51,Ay al-Munir: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir. Vol. No. 2 (Desember, 2. , 61. At-Tafasir: Journal of Al-QurAoan Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 2. December 2025 Di dalam kitabnya, al-abar menyebutkan bahwa pendapat-pendapat yang ia sampaikan berasal dari para ahli takwil. Di antara takwil yang turut mewarnai Tafsr alabar dalam menafsirkan srah LuqmAn ayat 34 adalah sebagai berikut: Al-abar mengawali penyebutan pentakwilan para ahli takwil dengan menyebutkan riwayat berkaitan dengan asbAb al-nuzl ayat ini, bahwa: Muuammad ibn AoAmr menceritakan kepada kami, ia berkata: Ab AoAim menceritakan kepada kami, ia berkata: AosA menceritakan kepada kami, al-Arith menceritakan kepadaku, ia berkata: al-asan menceritakan kepada kami, ia berkata: WaraqAAo menceritakan kepada kami, semuanya dari Ibn Ab Najh, dari MujAhid, tentang ayat, a aiA a AAu IASesungguhnya Allah, hanya pada sisi A aUa au a e aIA Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat,Ay ia berkata: Seorang laki-laki datang --- Ab JaAofar berkata: Menurutku ia berkata: Aku datang --- kepada Nabi Muuammad allallAhu Aoalaihi wasallam, lalu berkata. AuIstriku hamil, maka beritahukanlah kepadaku jenis kelamin anak yang akan ia lahirkan? Negeri kami sedang musim kemarau, maka beritahukanlah kepadaku, kapan hujan akan turun? Aku telah mengetahui kapan aku terlahir, maka beritahukanlah kepadaku kapan a a ai aOa a caU aE eaa eA aku mati?Ay Allah lalu menurunkan ayat. AoA a A IA A aUa au a e aIA AuSesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan. Ay Mujahid berkata. AuItulah kunci-kunci semua yang gaib, yang difirmankan a AAo aO aU ea au aia a eaa eADan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua Allah. Aa a a eU a a aa a yang gaib. tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Ay 15 Selain itu berikut penafsiran QatAdah tentang srah LuqmAn ayat 34, bahwa: Bishr menceritakan kepada kami, ia berkata Yazd menceritakan kepada kami, ia berkata: SaAod menceritakan kepada kami dari QatAdah, tentang ayat A IA a aiA a AuSesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan A aUa au a e aIA tentang hari kiamat,Ay ia berkata: Semua perkara gaib, hanya Allah yang mengetahuinya, tidak diberitahukan kepada malaikat yang mendekatkan diri kepada Allah dan tidak pula diberitahukan kepada para nabi yang diutus. a A IA a aiA AAo aUa au a e aIASesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan Ibn Jarr al-abar. Tafsr al-abar Jilid 20. Tahqiq: Ahmad Abdurraziq Al Bakri, et. (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. , 816-817. Mendaras Ulang Makna Ayat MafAtiu al-Ghaib (Studi Komparatif Tafsr al-abar dan Tafsr al-MishbA. (Ummi Muhklisoh. Faiq Ainurrofi. tentang hari kiamatAo. Maksudnya, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat, pada tahun berapa, pada bulan apa, malam atau siang. AU aEA ac a aOA AAo eaa e aoADan Dialah yang menurunkan hujanAo. Maksudnya, tidak seorang pun mengetahui kapan hujan akan turun, malam atau siang? AAo aO a eU a aI aa a e e aa a nIADan mengetahui apa yang ada dalam rahimAo. Tidak seorang pun dapat mengetahui jenis kelamin bayi yang ada di dalam rahim, laki-laki atau perempuan, putih atau hitam, dan apa yang ada di dalamnya? n Aa aU A a AAo aO aa ae aO a ei U a a a eu aADan tiada seorang pun yang dapat mengetahui . ecara past. apa yang akan diusahakannya besokAo. Maksudnya, tidak seorang pun dapat mengetahui secara pasti apa yang akan ia lakukan esok hari, kebaikan atau kejahatan? Wahai manusia, engkau tidak mengetahui kapan engkau akan mati, mungkin saja engkau akan mati esok hari, dan mungkin saja engkau akan ditimpa musibah esok hari. AaO aa ae aO a ei ac a cO e sA o a AAo a aADan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Maksudnya, tidak seorang manusia pun yang tahu di bumi mana ia akan mati, di lautan atau di daratan? Di dataran rendah atau pegunungan? Sungguh. Allah itu Maha Tinggi dan Maha Kuasa. Sedangkan berkaitan dengan perkataan AoAishah tentang ayat ini berikut Ibn WakAo menceritakan kepada kami, ia berkata: Bapakku menceritakan kepada kami dari Ibn Ab KhAlid, dari AoAmir, dari Masrq, dari AoAishah, ia berkata: AuBarangsiapa bercerita kepadamu bahwa ia mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, maka sungguh ia telah berdusta. Ay AoAisyah lalu membacakan ayat, o a AAo aO aa ae aO a ei ac a cO e s a aADan tiada seorang pun yang dapat mengetahui . engan AA past. apa yang akan diusahakannya besok. Ao 17 Al-abar mengutip pendapat ahli takwil sebagaimana disebutkan di atas dipahami sebagai representasi pendapatnya dan kesepahamannya dengan para ahli takwil. Berikut penafsiran lima kegaiban berdasarkan pandangan al-abar di dalam kitab tafsir JAmiAo al-BayAn f Tafsr al-QurAoAn: Al-abar. Tafsr al-abar Jilid 20. Tahqiq: Ahmad Abdurraziq Al Bakri, et. Al-abar. Tafsr al-abar Jilid 20. Tahqiq: Ahmad Abdurraziq Al Bakri, et. al, 821. At-Tafasir: Journal of Al-QurAoan Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 2. December 2025 Pengetahuan tentang hari kiamat Menurut al-abar hanya Allah-lah yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat yang akan datang secara tiba-tiba. Tidak ada yang mengetahui pada tahun berapakah kiamat akan terjadi, pada bulan apa, dan kejadiannya siang ataukah malam. Pengetahuan tentang penurunan hujan Berkaitan dengan penurunan hujan al-abar menafsirkan hal tersebut dengan pemahaman bahwa tidak ada seorang pun yang bisa melakukan penurunan hujan itu selain Allah. Selain itu, berdasarkan takwil yang dikutip alal-abar menunjukkan pemahaman bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kapan hujan akan turun, malam ataukah siang. Tidak ada yang dapat mengetahuinya selain Allah. Pengetahuan tentang apa yang ada di dalam rahim Al-abar menjelaskan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam kandungan para wanita. Sedangkan manusia, tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui jenis kelamin bayi yang ada di dalam rahim, apakah laki-laki atau Tidak seorang pun dapat mengetahui apakah bayi yang ada di dalam putih atau hitam, dan apapun yang ada di dalamnya. Pengetahuan tentang apa yang akan diusahakan seseorang besok Menurut al-abar tidak ada seorang pun manusia yang masih hidup dapat mengetahui secara pasti apa yang akan ia lakukan esok hari. Tidak ada yang mengetahui apakah besok seseorang akan melakukan kebaikan atau kejahatan. Tidak ada yang mengetahui jika ternyata besok seseorang akan ditimpa musibah atau bahkan mati. AoAishah berkata: AuBarangsiapa bercerita kepadamu bahwa ia mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, maka sungguh ia telah berdusta. Ay Pengetahuan tentang di mana seseorang akan mati Menurut al-abar tidak ada seorang pun manusia yang masih hidup dapat mengetahui secara pasti tempat di mana ia mati. Tidak seorang pun mengetahui apakah dia akan mati di daratan atau lautan, di dataran rendah ataukah di Penafsiran Srah LuqmAn Ayat 34 dalam Kitab Tafsr al-MishbAh Mendaras Ulang Makna Ayat MafAtiu al-Ghaib (Studi Komparatif Tafsr al-abar dan Tafsr al-MishbA. (Ummi Muhklisoh. Faiq Ainurrofi. Tafsr al-MishbAh adalah karya monumental M. Quraish Shihab yang menggunakan metode tahlili, yakni dengan menafsirkan ayat demi ayat sesuai dengan urutannya dalam Al-QurAoan. Metode ini berusaha menguraikan penafsiran Al-QurAoan lengkap dengan berbagai aspeknya dengan melibatkan mufradat, gramatika, pembahasan linguistik makna keseluruhan ayat yang ditafsirkan dan munAsabah dengan asbAb al- nuzlnya serta prinsip-prinsip umum yang dapat membantu pemahaman nash Al- QurAoan. 18 Dalam menafsirkan srah LuqmAn ayat 34 Quraish mengawalinya dengan menyatakan bahwa ayat ini melanjutkan keterangan ayat sebelumnya sambil menunjukkan keluasan ilmu Allah subuAnahu wa taAoAlA yang mana membahas tentang hari kiamat, juga sebagai jawaban atas kaum musyrikin yang selalu mempertanyakan kapan datangnya kiamat. Berikut penafsiran lima kegaiban berdasarkan pandangan Quraish dalam kitab Tafsr al-MishbAh: Pengetahuan tentang hari kiamat Lafae (AAo )UAindah mengandung makna pengkhususan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kapan terjadinya hari kiamat selain Allah. Pengetahuan tentang penurunan hujan Dalam menafsirkan bagian kedua ini. Quraish mencantumkan penjelasan dengan mengambil pemahaman dari seorang tokoh tafsir kontemporer bernama Ibn AoAshr. Tentang penurunan hujan, benar hanya Allah yang menurunkannya, namun berkaitan dengan waktu kapan turunnya bukan termasuk suatu gaib mutlak yang mana hanya Allah yang mengetahuinya. Hal ini dibuktikan dengan adanya Badan Meteorologi untuk memprakirakan cuaca, meskipun hal ini masih dalam bahasa AuPrakiraan CuacaAy sebagai bentuk ketidakpastiannya. Pengetahuan tentang apa yang ada di dalam rahim Menurut keterangan Quraish, manusia dapat mengetahuinya dalam kadar pengetahuan manusia, bukan dalam pengetahuan Allah yang tentu sangat berbeda dengan pengetahuan manusia. Dahulu banyak ulama mengartikan gaib ketiga ini dengan mengetahui jenis kelamin. Namun kini, ulama lebih memahaminya lebih luas dari itu. Hal ini dikarenakan kata (A )aAmA dapat mencakup segala sesuatu. Bukan hanya jenis kelaminnya yang Allah ketahui, tetapi segala sesuatu yang Fahrur Razi & Niswatur Rokhmah. AuTafsir Klasik: Analisis terhadap Kitab Tafsir Era Klasik,Ay Kaca: Jurnal Jurusan Ushuluddin. Vol. No. 2 (Agustus, 2. , 156. At-Tafasir: Journal of Al-QurAoan Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 2. December 2025 berkaitan dengan janin, misalnya proses pertumbuhan janin, berat badan dan bentuknya, keindahan dan keburukannya, usia dan rezekinya, masa kini dan masa depannya dan lain-lain. Dan manusia pun mungkin saja dapat mengetahui sekelumit tentang hal yang disebutkan misalnya melalui perantara penelitian ilmiah yang dilakukan. Pengetahuan tentang apa yang akan diusahakan seseorang besok Tidak seorang pun pandai atau bodoh yang dapat dengan pasti lagi rinci mengetahui apa yang akan diusahakannya besok serta dampak dan hasil usahanya Manusia sejatinya hanya dapat menguasai sekelumit dari masa kininya, untuk beberapa menit, atau bahkan detik. Selebihnya, dia tidak lagi dapat memastikannya walaupun dia berupaya, memberi perhatian dan berpikir untuk AumengetahuinyaAy. Pengetahuan tentang di mana seseorang akan mati Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui secara pasti di mana dan kapan dia akan mati. Karena seluas-luasnya pengetahuan manusia tetaplah terdapat sekian perbedaan dengan ilmunya Allah. Selanjutnya pada gaib keempat dan kelima ini. Quraish menjelaskan tentang makna lafae (A )OAtadr. Lafae ini tidak sepenuhnya sama dengan kata (A )UIAyaAolam yang sama-sama diterjemahkan dengan mengetahui. Lafae tadr mengandung makna upaya sungguh-sungguh, serta perhatian dan pemikiran. Karenanya, kata ini tidak digunakan untuk menunjuk kepada pengetahuan Allah. Seluas-luasnya pengetahuan manusia tetaplah terdapat sekian perbedaan dengan ilmunya Allah. Berikut rincian beberapa perbedaan pengetahuan Allah dan pengetahuan yang dimiliki manusia berdasarkan paparan Quraish: Dalam hal objek pengetahuan. Allah mengetahui segala sesuatu, sedang manusia tidak mungkin dapat mendekati pengetahuan Allah. Pengetahuan manusia hanya bagian kecil dari setetes samudra ilmu-Nya (QS al-IsrAAo . : . Kejelasan pengetahuan manusia tidak mungkin dapat mencapai kejelasan ilmu Allah. Quraish Shihab. Tafsr al-MishbAh: Pesan. Kesan, dan Keserasian Al-QurAoan Volume 11 (Ciputat: Lentera Hati, 2. , 164. Quraish. Tafsr al-MishbAh: Pesan. Kesan, dan Keserasian Al-QurAoan Volume 11, 165. Mendaras Ulang Makna Ayat MafAtiu al-Ghaib (Studi Komparatif Tafsr al-abar dan Tafsr al-MishbA. (Ummi Muhklisoh. Faiq Ainurrofi. Ilmu Allah bukan hasil dari sesuatu. Tetapi sesuatu itulah yang merupakan hasil dari ilmu-Nya. Sedang ilmu manusia dihasilkan dari adanya sesuatu. Untuk hal yang ketiga ini. ImAm GhAzal memberi contoh dengan pengetahuan pemain catur dan pengetahuan pencipta permainan catur. Sang Pencipta adalah penyebab adanya catur, sedang keberadaan catur adalah sebab pengetahuan pemain. Pengetahuan Pencipta mendahului pengetahuan pemain, sedang pengetahuan pemain diperoleh jauh sesudah pengetahuan pencipta catur. Demikianlah ilmu Allah dan ilmu manusia. Ilmu Allah tidak berubah dengan perubahan objek yang diketahui-Nya. Karena itu, tidak ada kebetulan di sisi Allah, karena pengetahuan-Nya tentang apa yang akan terjadi dan saat kejadiannya sama saja di sisi-Nya. Allah mengetahui tanpa alat, sedang ilmu manusia diraihnya dengan pancaindera, akal, dan hatinya, dan semuanya didahului oleh ketidaktahuan (QS al-Naul . Ilmu Allah kekal, tidak hilang dan tidak pula terlupakan. AuTuhanmu sekali-kali tidak lupaAy (QS Maryam . : . Sedang manusia dapat melupakan ilmunya. Analisis Komparatif Penafsiran Ayat AuKunci-Kunci KegaibanAy pada Srah LuqmAn Ayat 34 antara Kitab Tafsr al-abar dan Tafsr al-MishbAh Berkaitan dengan metode. Nashiruddin Baidan memaparkan dalam bukunya yang berjudul AuWawasan Baru Ilmu TafsirAy dengan membaginya menjadi 4 jenis yaitu metode ijmAl . , metode taull . , metode muqAran . dan metode mausAo . 22 Adapun penelitian ini menggunakan analisis jenis muqAran/komparatif. MuqAran adalah bentuk madar dari fiAoil qArana-yuqaArinu-qArin yakni lafae muqAranah yang berarti perbandingan. Maka sebagaimana namanya, metode ini menekankan kajiannya pada aspek perbandingan tafsir Al-QurAoan. Metode tafsir muqAran umumnya terbagi menjadi tiga. Namun belakangan, di era kontemporer ini metode tafsir jenis ini bekerja pada empat objek kajian. Pertama, komparasi antara ayat Al-QurAoan satu dengan ayat lain yang memiliki redaksi sama Quraish. Tafsr al-MishbAh: Pesan. Kesan, dan Keserasian Al-QurAoan Volume 11, 165-166. Azis. AuMetodologi Penelitian. Corak dan Pendekatan Tafsir Al-QurAoan,Ay Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam. Vol. No. 1 (Juni, 2. , 4-5. Lukman Nul Hakim. Metode Penelitian Tafsir (Palembang: NoerFikri, 2. , 20. At-Tafasir: Journal of Al-QurAoan Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 2. December 2025 meskipun masalah dan kasusnya berbeda. Kedua, komparasi antara ayat Al-QurAoan dengan Hadits yang isinya tampak kontradiktif. Ketiga, perbandingan pendapat antar mufasir baik dari segi arah kecenderungan mufasir dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya ataupun dari segi lain. 24 Keempat, komparasi antara ayat-ayat Al- QurAoan dengan ayat-ayat dari kitab suci lain. 25 Dari pembagian tersebut, jenis ketigalah yang peneliti gunakan untuk menganalisis penelitian ini. Peneliti mencoba melihat dan mengkaji perbedaan Ibn Jarr al-abar dan M. Quraish Shihab dalam menafsirkan MafAtiu al-Ghaib pada srah LuqmAn ayat 34 yang berkaitan. Penggunaan metode muqAran pada perbandingan pendapat antar mufasir memiliki cakupan yang sangat luas. Adapun aspek-aspek yang dibahas bisa menyangkut kandungan ayat maupun munAsabah antara ayat satu dengan ayat lain, atau antar srah. Selain itu, menurut M. Quraish Shihab, pembahasannya bukan sekedar pada perbedaannya saja, tetapi juga argumentasi masing-masing, bahkan dengan mencoba mencari apa yang melatarbelakangi perbedaan pandangan mereka dan mencari sisi kelemahan dan kelebihan masing-masing penafsiran. Metode muqAran dengan membandingkan pendapat antar mufasir memiliki beberapa langkah-langkah. Adapun jika dikerucutkan pada perbandingan penafsiran mufasir khusus pada satu ayat Al-QurAoan, maka langkah-langkahnya sebagai berikut: Memilih satu ayat yang akan dibandingkan penafsirannya. Melacak berbagai pendapat ulama tafsir dalam menafsirkan ayat tersebut. Menganalisis tafsir dengan memeriksa masing-masing tafsir dan mencari poinpoin utama yang dibahas. Membandingkan pendapat-pendapat mereka dengan mengidentifikasi perbedaan dan persamaan, serta alasan mengapa mereka memiliki interpretasi yang berbeda. Mustahidin Malula & Reza Adeputra Tohis. AuMetodologi Tafsir Al-QurAoan,Ay Al-Mustafid: Jurnal of Quran and Hadith Studies. Vol. No. 1 (Januari-Juni, 2. , 19. Najamuddin Makmur et. AuStudi Komparatif Konsep Kenabian dalam Kitab Suci Al-QurAoan. Tanakh. Bibel dan Weda,Ay Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama (ARJ). Vol. No. 1 (Maret, 2. , 90. Jani Arni. Metode Penelitian Tafsir (Riau: Daulat Riau, 2. , 93. Quraish Shihab. Kaidah Tafsir: Syarat. Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat Al-QurAoan (Tangerang: Lentera Hati, 2. , 385. Mendaras Ulang Makna Ayat MafAtiu al-Ghaib (Studi Komparatif Tafsr al-abar dan Tafsr al-MishbA. (Ummi Muhklisoh. Faiq Ainurrofi. Menentukan kesimpulan akhir berdasarkan komparasi yang telah dilakukan. Kelima langkah inilah yang akan peneliti gunakan dalam melakukan analisis komparatif antara penafsiran al-abar dan Quraish pada srah LuqmAn ayat 34 tentang makna ayat MafAtiu al-Ghaib. Berdasarkan langkah-langkah di atas, tiga langkah pertama telah peneliti lakukkan pada subbab sebelumnya yang berupa pemilihan satu ayat yang akan dibandingkan penafsirannya sebagai tema pembahasan, pelacakan berbagai pendapat ulama tafsir dalam menafsirkan ayat dan analisis tafsir dengan memeriksa masing-masing tafsir dan mencari poin-poin utama yang dibahas. Tema tentang makna ayat MafAtiu al- Ghaib ini diambil untuk mengungkap pemberitaan gaib di dalam Al-QurAoan sebagai salah satu bentuk kemukjizatan dan keotentikan Al-QurAoan. Karena dengan ini, menunjukkan bahwa Al-QurAoan bukan berasal dari ciptaan manusia, melainkan dari Zat yang Maha Mengetahui segala hal gaib. Langkah keempat metode penafsiran ini yakni dengan membandingkan pendapat-pendapat mereka dengan mengidentifikasi perbedaan dan persamaan, serta alasan mengapa mereka memiliki interpretasi yang berbeda. Sebagai bahan acuan analisis, peneliti jabarkan kembali mengenai makna dan pembagian gaib menurut ulama tafsir sebagaimana keterangan sebelumnya. Gaib dibagi menjadi 2 macam, yaitu gaib nisbi dan gaib mutlak. Ringkasnya, gaib nisbi adalah perkara gaib yang dimungkinkan dapat diketahui oleh makhluk Allah, namun tidak secara terperinci. Sedangkan gaib mutlak hanya Allah saja yang mengetahuinya. Dengan demikian berdasarkan beberapa hal di atas, berikut analisis perbandingan pendapat-pendapat al-abar dan Quraish pada penafsiran tentang makna ayat MafAtiu al-Ghaib pada srah LuqmAn ayat 34 dengan mengidentifikasi perbedaan dan persamaan, serta alasan mengapa mereka memiliki interpretasi yang berbeda: Gaib Pertama: Pengetahuan tentang Hari Kiamat Pada gaib pertama, al-abar dan Quraish sama-sama menafsirkan bahwa hanya Allah-lah yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat. Tidak ada yang mengetahui pada tahun berapakah kiamat akan terjadi, pada bulan apa, dan kejadiannya siang ataukah Perbedaan keduanya dalam menafsirkan gaib pertama ini yakni pada pemilihan Nofitayanti. Aam Abdussalam & Edi Suresman. AuStudi Komparasi Metode Tafsir Tahlily dan Metode Tafsir Muqaran,Ay Civilization Research: Journal Of Islamic Studies. Vol. No. , 72. At-Tafasir: Journal of Al-QurAoan Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 2. December 2025 penjabaran makna yang mana Quraish turut menekankan penjelasannya pada pemaknaan lafae (AAo )UAindah. Sehingga dapat dipahami bahwa sekalipun di zaman ini banyak peramal muncul dan memprediksi bahkan dengan pasti menentukan tanggal sekian akan terjadi kiamat, hal ini tidak akan dapat menyingkirkan kenyataan dari pemahaman lafae (AAo )UAindah sebagai pengkhususan pengetahuan ini hanya milik Allah. Artinya sepandai-pandainya seseorang, dia tidak akan bisa mengetahui kapan terjadinya kiamat. Gaib Kedua: Pengetahuan tentang Penurunan Hujan Pada gaib kedua, melihat dari redaksi lafaenya dapat disimpulkan bahwa al- abar menafsirkan gaib kedua ini sebagai gaib mutlak. Menurutnya tidak ada seorang pun yang dapat menurunkan hujan dan mengetahui kapan hujan akan diturunkan, malam ataukah siang. Sedangkan Quraish menafsirkan gaib kedua ini bukan sebagai gaib mutlak. Benar hanya Allah yang menurunkan hujan . engan perantara malaika. , namun berkaitan dengan waktu kapan turunnya tidak dapat digolongkan sebagai suatu gaib Quraish menafsirkan demikian karena tidak adanya pengkhususan sebagaimana lafae Aoindah pada gaib mengenai pengetahuan hari kiamat. Termasuk di antara sebab perbedaan penafsiran ini bisa karena berbeda zaman tentu berbeda pula keadaannya. Zaman sekarang telah ada Badan Meteorologi. Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menyediakan informasi tentang cuaca, iklim, dan fenomena geofisika di Indonesia sehingga manusia dapat memperkirakan cuaca. Melalui berbagai penelitian ilmiah manusia bisa memperkirakan cuaca, meskipun masih dalam bahasa AuPrakiraan CuacaAy sebagai bentuk ketidakpastian keakuratan pengetahuannya. Jika dikerucutkan lagi, mengenai kapan terjadinya hujan, maka dapat dikategorikan sebagai gaib nisbi. Sebagian orang yang tahu tentang ilmunya, bisa mengetahui dengan memperkirakan kapan hujan akan turun, namun tidak berlaku bagi sebagian yang lain. Dahulu ulama tafsir menafsirkan bahwa hujan tidak dapat diketahui kapan akan turun, namun sekarang hal itu dengan mudah diperkirakan oleh manusia. Sehingga dahulu ini merupakan suatu gaib, namun sekarang bukanlah suatu gaib lagi, dan mungkin di masa yang akan datang hal ini sudah bisa dipastikan keakuratan pengetahuan manusia mengenai kapan hujan akan turun. Gaib Ketiga: Pengetahuan tentang Apa yang Ada di dalam Rahim Mendaras Ulang Makna Ayat MafAtiu al-Ghaib (Studi Komparatif Tafsr al-abar dan Tafsr al-MishbA. (Ummi Muhklisoh. Faiq Ainurrofi. Pada gaib ketiga, dapat disimpulkan bahwa al-abar menafsirkan gaib ketiga ini sebagai gaib mutlak. Tidak ada yang dapat mengetahuinya selain Allah. Ia menafsirkan bahwa tidak seorang pun dapat mengetahui jenis kelamin bayi yang ada di dalam rahim, apakah laki-laki atau perempuan. Selain itu, tidak ada yang mengetahui apakah bayi yang ada di dalam putih atau hitam, dan apapun yang ada di dalamnya. Berbeda dari itu. Quraish menafsirkan gaib ketiga ini bukan sebagai gaib mutlak. Menurutnya, dahulu banyak ulama mengartikan bahwa yang dimaksud gaib ketiga ini adalah manusia tidak dapat mengetahui jenis kelamin bayi yang ada di dalam rahim. Namun, ulama zaman sekarang memahami gaib ketiga ini lebih luas dari itu. Dapat dipastikan perbedaan penafsiran ini tentu karena zaman semakin modern sehingga telah ditemukan pula alat USG untuk mengetahui jenis kelamin bayi. Sehingga jika tetap ditafsirkan bahwa yang dimaksud gaib ketiga adalah tidak diketahuinya jenis kelamin bayi oleh manusia, maka kebenaran Al-QurAoan akan dipertanyakan seiring berjalannya zaman. Karena sejatinya manusia hanya dapat mengetahuinya dalam kadar pengetahuan manusia, bukan dalam pengetahuan Allah yang tentu sangat berbeda dengan pengetahuan Kemudian ulama menafsirkan gaib ketiga ini dengan pemahaman bahwa bukan hanya jenis kelaminnya saja yang Allah ketahui, tetapi segala sesuatu yang berkaitan dengan janin, misalnya proses pertumbuhan janin, berat badan dan bentuknya, keindahan dan keburukannya, usia dan rezekinya, masa kini dan masa depannya dan lain-lain. Berdasarkan penjelasan di atas, sebenarnya ada kemutlakan ketidaktahuan manusia mengenai apa yang ada di dalam rahim. Namun di samping itu, terdapat pula gaib nisbi yang mana bisa diketahui oleh manusia bahkan dengan sangat akurat. Seperti pada jenis kelamin bayi, maka itu termasuk gaib nisbi karena dahulu hal ini tidak dapat diketahui, namun sekarang sudah dengan mudah diketahui oleh manusia. Mengambil penafsiran zaman ini, mungkin saja yang sekarang tidak dapat diketahui di kemudian hari menjadi sesuatu yang mudah diketahui oleh manusia. Sebagaimana penafsiran Quraish, manusia pun mungkin saja dapat mengetahui sekelumit tentang hal yang disebutkan misalnya melalui perantara penelitian ilmiah yang dilakukan. Bahkan beberapa hal yang disebutkan Quraish seperti proses pertumbuhan janin, berat badan dan bentuknya sekarang dapat diketahui secara akurat. Artinya, ketidaktahuan manusia mengenai apa yang ada di dalam rahim telah mencapai level yang lebih tinggi lagi dari yang disebutkan oleh para mufasir. At-Tafasir: Journal of Al-QurAoan Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 2. December 2025 Gaib Keempat: Pengetahuan tentang Apa yang Akan Diusahakan Seseorang Besok Pada gaib keempat, dapat dipahami bahwa banyak kemiripan antara al-abar dan Quraish dalam menafsirkan tentang apa yang akan diusahakan seseorang esok hari. Mereka sama-sama memaknainya sebagai suatu gaib yang bisa dikategorikan sebagai gaib al-abar dengan bahasanya menyatakan bahwa tidak ada seorang pun manusia yang masih hidup dapat mengetahui secara pasti apa yang akan ia lakukan esok hari. Adapun Quraish menyatakan bahwa tidak seorang pun pandai atau bodoh yang dapat dengan pasti lagi rinci mengetahui apa yang akan diusahakannya besok serta dampak dan hasil usahanya itu. Ia menambahkan bahwa sejatinya manusia hanya dapat menguasai sekelumit dari masa kininya, untuk beberapa menit, atau bahkan detik. Selebihnya, dia tidak lagi dapat memastikannya walaupun dia berupaya, memberi perhatian dan berpikir untuk AumengetahuinyaAy. Dapat disimpulkan bahwa manusia mungkin bisa berencana, namun selebihnya ia tidak dapat memastikannya karena segala ketetapan dan pengetahuan tentang itu hanyalah milik Allah. Sehingga tidak ada yang mengetahui kebaikan atau kejahatan yang akan seseorang lakukan esok hari dan bagaimana nasibnya besok dan seterusnya. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa antara tafsir era klasik dan kontemporer terkhusus pada kitab Tafsr al-abar dan Tafsr al-MishbAh tidak jauh berbeda dalam menafsirkan ayat Gaib Kelima: Pengetahuan tentang di mana Seseorang Akan Mati Pada gaib kelima, al-abar dan Quraish memiliki pandangan yang sama akan kemutlakan kegaiban ini bagi manusia. Tidak ada seorang pun manusia yang masih hidup dapat mengetahui secara pasti tempat di mana ia mati. Dari paparan analisis di atas, berikut persamaan dan perbedaan Ibn Jarr al-abar dan M. Quraish Shihab jika dikelompokkan menjadi dua jenis gaib yakni termasuk gaib nisbi ataukah gaib mutlak: Persamaan dan Perbedaan Ibn Jarr al-abar dan M. Quraish Shihab pada Pengelompokan Jenis Gaib Tafsr al-abar Tafsr al-MishbAh Gaib mutlak Gaib mutlak Pengetahuan tentang Hari Kiamat Pengetahuan tentang Penurunan Hujan Mendaras Ulang Makna Ayat MafAtiu al-Ghaib (Studi Komparatif Tafsr al-abar dan Tafsr al-MishbA. (Ummi Muhklisoh. Faiq Ainurrofi. Gaib mutlak Gaib nisbi Pengetahuan tentang Apa yang Ada di dalam Rahim Gaib mutlak Gaib nisbi Pengetahuan tentang Apa yang Akan Diusahakan Seseorang Besok Gaib mutlak Gaib mutlak Pengetahuan tentang di mana Seseorang Akan Mati Gaib mutlak Gaib mutlak Di balik perbedaan penafsiran setiap mufasir, tentu terdapat latar belakang dan alasan di baliknya. Dalam hal penafsiran antara al-abar dan Quraish, selain muncul karena pergeseran metode, perbedaan penafsiran ini bisa disebabkan karena adanya perbedaan kondisi sosial pada saat Al-QurAoan ditafsirkan dan pengambilan sumber pendapat yang berbeda. Selain mengutip hadits nabi, al-abar juga mengutip pendapat dari para sahabat dan tAbiAon dalam menafsirkan Al-QurAoan. Sedangkan Quraish mengutip pendapat dan ijtihad ulama klasik maupun kontemporer lalu diikuti ijtihadnya sendiri di antara penafsiran ulama yang ia kutip. Di antara pendapat ulama yang sering ia kutip ialah pendapat IbrAhm ibn AoUmar al-BiqAAo. Muuammad Sayyid anaw. Muuammad Mutawall al-ShaAorAw. Sayyid Qub. Muuammad al-Ahir ibn AoAshr, dan Muuammad usain abAabAAo. Ia berusaha memberikan pemahaman yang lebih luas, termasuk mengaitkannya dengan sains modern dan isu-isu kontemporer seperti penafsiran pada srah al-AnAoAm ayat 75 tentang bukti-bukti kebesaran Allah di alam semesta yang dikaitkan dengan perkembangan ilmu modern khususnya astronomi dan Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, menurut Ibn Jarr al-abar lima kegaiban pada srah LuqmAn ayat 34 semua bersifat mutlak. Sedangkan menurut M. Quraish Shihab kegaiban tersebut ada yang bersifat mutlak dan adapula yang nisbi. Perbedaan penafsiran kedua mufasir ini begitu terlihat pada gaib kedua dan ketiga yang berkaitan dengan penurunan hujan dan tentang apa yang ada di dalam rahim yang mana al-abar menafsirkannya sebagai gaib mutlak, sedangkan menurut Quraish bersifat nisbi. Selain karena pergeseran metode, perbedaan penafsiran dua ulama ini bisa disebabkan karena perbedaan kondisi sosial pada saat ayat Al-QurAoan ditafsirkan dan pengambilan sumber pendapat yang berbeda. Al-abar mengutip pendapat sumber dari hadits nabi. At-Tafasir: Journal of Al-QurAoan Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 2. December 2025 pendapat sahabat dan tAbiAon, sedangkan Quraish mengutip pendapat dan ijtihad ulama baik klasik maupun kontemporer lalu diikuti ijtihadnya sendiri di antara penafsiran ulama yang ia kutip. Daftar Pustaka