DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. Pelaksanaan Sistem Rujukan Pasien BPJS di Puskesmas Halmahera Kota Semarang Referral System of the BPJS Patient at the Halmahera Community Health Center. Semarang City Aulia Putri Kafrawi1 Eliyah2 Retnowati3 Jurusan Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Poltekkes Kemenkes Semarang Jl. Tirto Agung. Pedalangan. Banyumanik. Semarang E-mail : auliaputri. kafrawi@gmail. com, elay1975@gmail. Abstract Implementation of SISRUTE in Health Centers needs to be a priority in the implementation of RME, there is a discrepancy between the implementation of SISRUTE in Halmahera Health Center and the applicable This study to describe the implementation of SISRUTE in Halmahera Health Center. Semarang City from the aspects of human, organization, technology, net-benefit. This research using the HOT-Fit method, data collection through observation and interviews. Human aspect, the owner of the SISRUTE account is a doctor but is operated by nurses and midwives on duty, there has been no training to develop the ability to use SISRUTE for HR other than the account owner. Organization aspect, shows the existence of SOP and Decree of the Head of Health Center regarding the delegation of authority to use SISRUTE accounts in Health Centers. The technology aspect of SISRUTE has not been bridged with other Health Information Systems, data integration has not been created between Health Centers and Hospitals, so that referral files are still manual and require re-entry time at the Hospital. Net-benefit aspect. SISRUTE has not been a priority for referral applications so that speed, effectiveness and efficiency cannot be measured. Keywords: SISRUTE. Health Information System. Community Health Center. Hot-Fit Method Abstrak Pelaksanaan SISRUTE di Puskesmas perlu menjadi prioritas dalam pelaksanaan RME, terdapat ketidaksesuaian pelaksanaan SISRUTE di Puskesmas Halmahera dengan ketentuan yang berlaku. Tujuan dari penelitian ini menggambarkan pelaksanaan SISRUTE di Puskesmas Halmahera Kota Semarang dari aspek human, organization, technology, net-benefit. Metode penelitian menggunakan metode HOT-Fit. Pengumpulan data dengan observasi dan wawancara. Aspek human, pemilik akun SISRUTE adalah dokter namun di operasikan oleh perawat dan bidan yang berjaga, belum ada pelatihan pengembangan kemampuan penggunaan SISRUTE kepada SDM selain pemilik akun. Aspek organization, menunjukan adanya SOP dan Surat Keputusan kepala Puskesmas terkait pelimpahan kewenangan penggunaan akun SISRUTE di Puskesmas. Aspek technology SISRUTE belum terbridging dengan Sistem Informasi Kesehatan lainnya, belum terciptanya integrasi data antara Puskesmas dengan Rumah sakit, sehingga berkas rujukan masih manual dan memerlukan waktu entri ulang di Rumah Sakit. Aspek net-benefit. SISRUTE belum menjadi prioritas aplikasi rujukan sehingga kecepatan, efektifitas dan efisien belum bisa diukur. Kata kunci: SISRUTE. Sistem Informasi Kesehatan. Puskesmas. Metode Hot-Fit Pendahuluan Penerapan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada penyelenggaraan pelayanan medis diberikan secara bertahap. Proses ini dimulai melalui fasilitas kesehatan tingkat awal sesuai dengan kebutuhan medis pasien. Fasilitas kesehatan tingkat kedua hanya dapat diakses melalui Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. rujukan dari layanan tingkat pertama, sedangkan layanan kesehatan tingkat lanjut hanya dapat diperoleh melalui rujukan dari layanan tingkat kedua atau tingkat pertama. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan melalui aplikasi Sisten Rujukan Terintegrasi (SISRUTE) berbasis kompetensi fasilitas kesehatan sesuai berdasarkan SE Dirjen pelayanan keseharan no HK. 02/I/1161/2022(Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, 2. Sistem rujukan merupakan metode pengorganisasian dalam bidang kesehatan yang melibatkan pelimpahan tugas atas penanganan suatu penyakit atau masalah kesehatan secara timbal balik. Pelimpahan tanggung jawab ini dapat berlangsung dari unit yang memiliki kemampuan yang lebih rendah ke unit yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi, atau antara unit dengan kemampuan sebanding (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, 2. Sistem rujukan dijalankan sesuai dengan indikasi medis, memungkinkan puskesmas atau Fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan jaringannya untuk menjangkut rujukan secara efektif pada fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL) selama era JKN (Rahmadani et al. Pusat Kesehatan Masyarakat yang kemudian disingkat menjadi Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang mengatasi kesehatan masyarakat dan individu dengan berfokus pada upaya promotif dan preventif di lingkungan kerjanya. (Peraturan Menteri Kesehatan RI No 43 tahun 2. Puskesmas berfungsi sebagai gate keeper atau titik awal dalam pelayanan kesehatan resmi, serta sebagai penentu rujukan sesuai dengan standar pelayanan medis (Ratnasari, 2. yang berarti Puskesmas dapat memberikan perawatan medis terhadap kasus-kasus yang dapat diatasi sesuai kemampuan dan sumber daya yang ada di Puskesmas tersebut sebelum melakukan rujukan ke fasilitas pelayanan tingkat lanjut. Melalui Permenkes No 24 Tahun 2022 Pemerintah mewajibkan penyelenggaraan Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. rekam medis elektronik pada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dengan maksimal keterlambatan pada tanggal 31 Pelaksanaan rekam medis elektronik dimulai saat pasien datang hingga pasien pulang, dirujuk atau meninggal, maka dibutuhkan sistem yang dapat menciptakan rasa nyaman bagi penerima maupun pemberi pelayanan kesehatan dalam melakukan rujukan Untuk meningkatkan jangkauan dan mutu layanan rujukan maka diterapkan aplikasi sistem informasi rujukan yang berbasis online yaitu Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi (SISRUTE). Melalui Surat Dirjen Pelayanan Kesehatan pada tanggal 10 Desember 2018 tentang permohonan penggunaan Sistem Rujukan Terintegrasi (SISRUTE). SISRUTE adalah alat komunikasi proses rujukan yang dapat digunakan untuk memberikan informasi rujukan pelayanan kesehatan individu (Peraturan Menteri Kesehatan RI No 43 tahun 2. Salah satu fasilitas pelayanan kesehatan primer yang menjadi fokus pada penerapan Sistem Rujukan Terintegrasi (SISRUTE) adalah Puskesmas. Dengan adanya SISRUTE ini membuat pelayanan rujukan menjadi cepat, tepat, efektif dan efisien. Namun disisi lain penerapan SISRUTE menimbulkan kendala yang menjadi hambatan-hambatan pada proses rujukan Dari penelitian yang dilakukan oleh Wulandari et al. , . gangguan jaringan selama proses rujukan pada SISRUTE membuat peserta harus menunggu untuk beberapa waktu. Penelitian Putri & Frinaldi . hambatan dari pasien yaitu peserta masih kurang paham bagaimana alur dan juga konsep dari sistem SISRUTE. penelitian yang dilakukan oleh Arifah et al . menyebutkan Sistem Rujukan Terintegrasi (SISRUTE) performa proses rujukan, tetapi masih ada masalah pada ketidakstabilan koneksi Sejak pengimplemantasian SISRUTE di 2016 untuk digunakan dalam merujuk pasien antar fasilitas pelayanan Kesehatan Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. dengan kasus terbatas. SISRUTE sudah melakukan maintenance yang dilakukan oleh pihak Kementrian Kesehatan pada tahun 2021 dan digunakan Kembali pada Aplikasi SISRUTE versi baru SISRUTE Versi-2 mendapatkan tambahan pengamanan yang telah mendapatkan rekomendasi dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Dari hasil studi pendahuluan di Puskesmas Halmahera, setelah adanya maintenance pada aplikasi SISRUTE masih ditemukan kendala dalam pelaksanaan rujukan di SISRUTE, seperti lamanya respon time Rumah Sakit dalam menjawab rujukan membuat proses pelayanan kesehatan menjadi terhambat. Pada pelaksanaan sistem rujukan terintegrasi ditemukan penumpukan antrian rujukan di fasilitas keselamatan pasien sebagai prioritas dan terlambatnya respon dari faskes rujukan. Berdasarkan hambatan yang sudah dijelaskan maka rumusan masalah pada AuBagaimana pelaksanaan rujukan pasien BPJS di Puskesmas Halmahera Kota Semarang?Ay Metode Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Obyek penelitian yaitu pelaksanaan SISRUTE pada periode tahun Metode wawancara serta dokumentasi. Analisis data menggunakan metode HOT-Fit. Metode HOT-Fit merupakan metode pendekatan yang digunakan untuk mengevaluasi mengklasifikasikan empat aspek penting dalam sistem informasi yaitu aspek human, organization, technology, dan net-benefit (Tawar et al. , 2. Subjek dalam penelitian ini adalah kepala puskesmas, 1 orang dokter selaku koordinator SISRUTE serta 2 orang perawat IGD/RI. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Halmahera Kota Semarang. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 5 Februari hingga 7 Maret 2024. Hasil dan Pembahasan Penerapan kembali sisrute di Puskesmas Halmahera pada April tahun 2022 untuk merujuk pasien gawat darurat dan pasien Puskesmas Halmahera mengakses Sistem Rujukan Terintergrasi (SISRUTE) melalui website milik Kemenkes https://sisrute. Tujuan diterapkannya SISRUTE pada Puskesmas Halmahera adalah mempermudah petugas Puskesmas dalam mencari Rumah Sakit Dalam menunjang penerapannya di Puskesmas Halmahera sudang di lengkapi dengan fasilitas yang memadai. Berikut ini adalah data hasil observasi pelaksanaan SISRUTE di Puskesmas Halmahera ditinjau dari aspek human, organization, technology, net-benefit : Pelaksanaan SISRUTE ditinjau dari aspek human . Tabel 1. Checklist observasi aspek human Sumber data : Data Primer No. Aspek yang di amati SISRUTE dioperasikan oleh Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP Pengguna mampu menjalankan SISRUTE Pengguna menguasai seluruh menu di SISRUTE Tidak E Dari hasil observasi di dapatkan hasil SISRUTE di Puskesmas Halmahera terdaftar akun atas nama dokter IGD/RI tetapi di operasikan oleh Perawat/bidan yang berjaga dengan pemantauan penuh dari pemilik akun. Belum tersedianya tenaga IT serta admin khusus SISRUTE di Puskesmas Halmahera membuat adanya pelimpahan wewenang dari dokter ke perawat/bidan yang sedang berjaga. Hal tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Dirjen Yankes Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. HK. 02/D/1131/2023 melakukan rujukan menggunakan SISRUTE adalah Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP). Pihak Puskesmas mengaku hal tersebut SDM wewenang penggunaan SISRUTE dengan username yang berbeda. Hal ini perlu pelimpahan kewenangan antara pemilik kewenangan tersebut agar tidak terjadi penyalahgunaan akun tersebut. Setiap fasilitas pelayanan kesehatan. Public safety center (PSC) 119, dan Dinas Kesehatan mengimplementasikan aplikasi SISRUTE harua memiliki akun sesuai dengan alur sebagai berikut: Gambar 1: alur pembuatan akun SISRUTE Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa setiap pengguna SISRUTE harus memiliki akun, sehingga memudahkan Tersedia Surat Puskesmas terkait pelimpahan wewenang untuk para perawat dan bidan dalam hal melakukan rujukan pasien selama dokter tidak berada di tempat. Namun belum tersedianya peraturan tertulis terkait pelimpahan wewenang dalam pelaksanaan rujukan di SISRUTE sebagai perlindungan hukum bagi para perawat dan bidan jika terjadi permasalahan hukum nantinya. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. Berdasarkan hasil observasi aspek human juga di dapatkan bahwa pengguna SISRUTE di Puskesmas Halmahera sudah dapat menjalankan SISRUTE namun belum Pengguna hanya familiar dengan menu rujukan IGD/IRNA untuk follow-up rujukan. Hal ini dikarenakan belum adanya pelatihan terkait SISRUTE kepada pengguna. perlu dilakukan pre service training sebagai bekal bagi para pengguna dalam melaksankan SISRUTE. Pre service training . elatihan pra tuga. adalah pelatihan yang ditujukan kepada calon pegawai yang akan mulai bekerja atau pegawai baru, dengan tujuan memberikan melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang akan diberikan kepada mereka (Susan. Selain itu perlu dilakukan juga in service training guna mematangkan keterampilan pengguna dalam pengoperasian SISRUTE di In service training . elatihan dalam tuga. adalah jenis pelatihan yang diselenggarakan untuk pegawai yang aktif bekerja di dalam sebuah organisasi yang bertujuan untuk mengasah kemampuan pegawai dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang diberikan (Susan, . Pelaksanaan SISRUTE ditinjau dari aspek organization . Aspek organization . menilai pelaksanaan Sistem Rujukan Terintegrasi (SISRUTE) di Puskesmas Halmahera dari peran dan dukungan dari manajemen. Dukungan dari manajemen dinilai penting untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan sistem dalam mencapai tujuan organisasi seperti tersedianya Standar Operasional Prosedur (SOP) serta peraturan tertulis lainnya dan adanya monitoring evaluasi dari manajemen Puskesmas (Anggraini. Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Di Puskesmas Halmahera sudah tersedia SOP terkait dengan penggunaan SISRUTE juga sudah tersedianya SOP untuk proses rujukan pasien yang di tetapkan oleh kepala Puskesmas. Dari hasil observasi yang dilakukan kepada dokter selaku pemilik akun dan pengguna SISRUTE di dapatkan hasil bahwa dokter sudah memahami secara mendetail terkait SOP yang berlaku namun dari hasil observasi yang dilakukan kepada perawat selaku pengguna SISRUTE di dapatkan hasil bahwa belum semua perawat memahami mengenai SOP yang berlaku, karena masih sering di dapatkan perawat yang terbata-bata dalam mengoperasikan SISRUTE. Setiap pengguna harus memahami secara mendetail terhadap SOP sehingga alur pekerjaan akan menjadi jelas. Memahami aturan yang berlaku merupakan faktor penting dalam menjalankan setiap pekerjaan. Tingkat pemahaman yang baik dapat menjadi kunci keberhasilan bagi instansi atau organisasi dalam mencapai tujuan mereka (Ence et al. Dukungan lainnya yang diberikan oleh monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan di lingkup Puskesmas dengan Kementrian Kesehatan. Apabila terdapat kendala selama pelaksanaan SISRUTE maka petugas akan menyampaikan hal tersebut pada saat rapat Kementrian Kesehatan. Monitoring bertujuan untuk memantau pelaksanaan kegiatan agar tetap sesuai dengan rencana yang ditentukan, sedangkan evaluasi dilakukan untuk menilai setiap fungsi Kesehatan pengorganisasian (Diningestu, 2. Dari hasil observasi juga ditemukan bahwa prasarana yang tersedia di Puskesmas Halmahera sudah memumpuni dan mendukung pelaksanaan SISRUTE, hal anggaran dari manajemen yang baik. Ketersediaan anggaran yang memadai Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. memungkinkan pembelian perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan untuk menjalankan SISRUTE Fasilitas Kesehatan melaksanaan SISRUTE harus memiliki pengelola, bukan akun perorangan, tim pengelola yang akan bertangungjawab terhadap implementasi aplikas isi sisrute, dan di tetapkan oleh pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan atau instansi. Adanya tim pengelola akan memudahkan pada pelaksanaan kegiatan serta monitoring nya, efektifitas dari aplikasi bisa di laksanakan secara maksimal, hal ini mendukung adanya juga dengan SOP yang tersedia. Pelaksanaan SISRUTE ditinjau dari aspek technology . Tabel 2. Checklist observasi aspek technology Aspek yang di amati Tidak Komputer E chrome/mozilla firefox/opera/safari Komputer E spesifikasi processor dual Komputer E spesifikasi memory RAM Menggunakan mouse dan E keyboard yang standar. Memiliki E video komunikasi Jaringan internet stabil SISRUTE terbridging dengan Sistem Informasi Kesehatan Sumber data : Data Primer. Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa sarana dan prasarana yang digunakan oleh Puskesmas Halmahera Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. pelaksanaan SISRUTE. Penggunaan memungkinkan akses data dan informasi yang lebih cepat, mudah, dan akurat. Semakin baik kualitas sistem maka semakin baik kualitas informasi dan kualitas layanan yang diperoleh (Andi Dermawan Putra et al. Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada perawat IGD/RI Jika terjadi downtime system/eror pada software dalam melakukan rujukan di SISRUTE pengguna akan menghubungi pihak Rumah Sakit melalui nomor telfon Rumah sakit tujuan atau menggunakan whatssapp sedangkan yang bertugas untuk maintenance hardware dan software di Puskesmas Halmahera adalah petugas pendaftaran atau tenaga tersedianya tenaga Teknologi Informasi (TI) Puskesmas Halmahera. Hal ini menandakan perlunya pengadaan tenaga TI untuk me-maintenance hardware yang tersedia serta software yang digunakan dalam pelaksanaan Sistem Informasi Kesehatan di Puskesmas Halmahera. Teknologi yang tersedia di Puskesmas Halmahera sudah menjembatani akses internet pada 1 . sistem yang terintegrasi karena data yang tersedia di SISRUTE dapat di akses secara real time oleh pihak tujuan rujukan sehingga proses rujukan pasien bisa terangkum dalam satu sistem dan mendukungnya paperless. Namun dalam pelaksanaannya SISRUTE belum sepenuhnya paperless. karena perawat masih diminta membawa berkas-berkas pasien dalam bentuk print-out oleh pihak Rumah sakit. Adanya pengaruh dari faktor eksternal. Rumah memperhambat integrasi satu data pada SISRUTE. Dari hasil wawancara didapatkan hasil bahwa Rumah sakit masih belum Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. Puskesmas, hal ini dibuktikan dengan adanya permintaan konfirmasi data ulang melalui whastapp serta adanya permintaan hard copy berkas rujukan pasien. Kementrian Kesehatan memfalisitasi menu AuPengajuan BridgingAy pada SISRUTE untuk fasyankes atau Dinas Kesehatan apabila hendak melakukan interoperabilitas dengan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) mandiri, namun pada kenyataannya SISRUTE belum terbridging dengan Sistem Informasi Kesehatan lainnya. Dengan terbridgingnya SISRUTE dengan SIK mandiri maka fasyankes sudah tidak perlu lagi melakukan penarikan data yang Dinas Kesehatan, karena Dinas Kesehatan sudah bisa mengakses data secara real time dari sistem tersebut. Pelaksanaan SISRUTE ditinjau dari aspek net-benefit . Tabel 3. Checklist observasi aspek net-benefit No. Aspek yang di amati SISRUTE mempercepat proses rujukan pasien. SISRUTE mempermudah dalam mencari faskes Dengan adanya SISRUTE proses rujukan menjadi Sumber data : Data Primer. Tidak E Aspek net-benefit dampak positif maupun negatif dari pelaksanaan suatu sistem. Dengan adanya SISRUTE diharapkan pelaksanaan rujukan pasien menjadi cepat, tepat, efektif dan efisien sehingga dapat meningkatkan kualitas rujukan pelayanan Kesehatan perorangan (Departemen Kesehatan RI. Penerapan SISRUTE di Puskesmas Halmahera membuat pelaksanaan rujukan menjadi tepat karena mempermudah Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. pengguna dalam mencari Rumah Sakit tujuan, karena di SISRUTE pengguna dapat melihat Rumah sakit mana saja yang tersedia, namun pelaksanaan SISRUTE dinilai belum mendukung pelaksanaan rujukan pasien menjadi cepat karena sulitnya mendapat jawaban dari Rumah Sakit tujuan karena tidak adanya admin khusus SISRUTE di Rumah sakit tersebut. Penerapan SISRUTE juga belum memberikan nilai efektif dalam pelaksanaan rujukan karena Rumah Sakit masih meminta Puskesmas konfirmasi ulang via whastapp yang mengakibatkan double job bagi para perawat IGD/RI karena isi pesan konfirmasi ulang di whatsapp sama dengan apa yang sudah di tuliskan di SISRUTE. Hal ini menandakan masih adanya komunikasi bertingkat dalam pelaksanaan SISRUTE yang tidak sejalan dengan tujuan penerapan SISRUTE yaitu menjadi alat komunikasi untuk proses rujukan yang menyediakan informasi tentang rujukan pelayanan kesehatan Dengan adanya SISRUTE juga tidak mendukung pelaksanaan rujukan menjadi Perawat masih membawa berkas-berkas print-out dikarenakan dari pihak rumah sakit masih meminta berkas pasien yang dirujuk dalam bentuk print-out. Hal ini SISRUTE terciptanya efesiensi anggaran untuk keperluan Alat tulis Kantor (ATK). Simpulan dan Saran Kesimpulan Pelaksanaan SISRUTE Puskesmas Halmahera ditinjau dari Aspek human terdapat Keterbatasan SDM, pendidikan dan pelatihan terkait penggunaan SISRUTE. Penggunaan akun SISRUTE belum di sesuaikan dengan ketentuannya Pelaksanaan ditinjau dari Aspek organization terdapat dukungan manajemen dalam bentuk SOP dan monitoring serta evaluasi berkala mendukung pelaksanaan SISRUTE. Tetapi pembentukam tim pengelola belum dilakukan Pada aspek technology sudah sesuai dengan SISRUTE memfasilitasi integrasi data secara real-time antara puskesmas dan rumah sakit, "paperless" rumah sakit masih meminta berkas pasien dalam bentuk print-out. Kementerian Kesehatan menyediakan fasilitas pengajuan bridging pada SISRUTE namun dilaksanakan dengan baik Pelaksanaan SISRUTE Puskesmas Halmahera ditinjau dari net-benefit terlaksana secara tepat namun belum menjadikan sistem rujukan terlaksana secara cepat, efektif dan Adanya pengaruh faktor dengan Rumah Sakit tujuan. SISRUTE juga belum memberikan efesiensi pada penganggaran Saran Pada diadakannya pelatihan pra tugas dan pelatihan dalam tugas bagi para SDM pengguna SISRUTE guna meningkatkan kompetensi SDM dalam melakukan tugasnya serta SISRUTE pihak yang bukan pemilik akun tersebut. Serta penambahan tenaga TI guna memperlancar pelaksanaan Sistem Informasi Kesehatan. Pada aspek organization perlu diadakannya monitoring evaluasi Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. kembali terhadap aturan terkait karakteristik pengguna SISRUTE. Pada aspek technology perlu adanya peningkatan terkait penggunaan SISRUTE dan perlu singkronisasi satu data antara Rumah sakit Puskesmas pencatatan Kesehatan masyarakat sehingga satu data kesehatan di Indonesia yang terintegrasi dan komperhensif bisa terlaksana serta perlunya dilakukan bridging antar SISRUTE dengan SIK lainnya guna mendukung terciptanya satu data Kesehatan. Pada aspek net-benefit perlu adanya SISRUTE dengan latar belakang Pendidikan rekam medis atau tenaga medis lainnya yang sesuai SISRUTE terkait entry data pasien untuk memastikan respon yang lebih cepat terhadap rujukan yang Daftar Pustaka Andi Dermawan Putra. Muhammad Siri Dangnga, & Makhrajani Majid. Evaluasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (Simr. Dengan Metode Hot Fit Di Rsud Andi Makkasau Kota Parepare. Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan, 3. , 61Ae68. https://doi. org/10. 31850/makes. Anggraini. EVALUASI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DENGAN METODE HOT-FIT DI RSD K. WONGSONEGORO KOTA SEMARANG. Arifah. Anggraeni. , & Mangilep. Studi Implementasi Sistem Rujukan Berjenjang Antar Fasilitas Kesehatan. Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia, 9. , 45Ae52. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. Departemen Kesehatan RI. Petunjuk Teknis Penggunaan Aplikasi Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi. Diningestu. Implementasi Aplikasi Absensi Dalam Monitorinhg dan Evaluasi Mengenai Ketepatan dan Kelengkapan Laporan Bulanan di Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Departemen Biostatistika Dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya, 30. , 5053156. Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan. Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Nomor HK. 02/I/1161/2022 Tentang Implementasi Penggunaan Aplikasi Sistem Rujukan Terintegrasi (SISRUTE) Penyelenggaraan Rujukan