Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Pengenalan Konsep Green Economy Education Melalui Pemanfaatan Tanaman Purun Sebagai Media Edukasi di SMK Negeri 4 Palangka Raya Eriawaty1. Dewi Rakhmawati2*. Eli Karliani3. Ali Sunarno4. Rifan Andika Manalu5. William Joshua Sinaga6 1,2,5 3,4,6 Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Palangka Raya Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Palangka Raya Email: dewi. rakhmawati@fkip. Abstrak Krisis lingkungan global seperti perubahan iklim, degradasi sumber daya alam, dan peningkatan volume limbah menuntut penerapan prinsip ekonomi hijau . reen econom. dalam Pendidikan menjadi sarana strategis untuk menanamkan nilai keberlanjutan sejak dini, khususnya pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang akan terjun ke dunia kerja maupun wirausaha. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi ekonomi berkelanjutan pada siswa SMK Negeri 4 Palangka Raya melalui pelatihan interaktif berbasis konsep green economy. Metode yang digunakan meliputi pemaparan materi, simulasi studi kasus, diskusi kelompok, praktik pembuatan produk ramah lingkungan, serta evaluasi melalui post-test. Kegiatan dilaksanakan dengan melibatkan IKM Jawet Pahari Hapakat sebagai narasumber dan diikuti oleh 28 Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terkait konsep green economy serta tumbuhnya kesadaran akan pentingnya penerapan prinsip ramah lingkungan dalam aktivitas Dengan demikian, kegiatan ini berkontribusi dalam membekali siswa keterampilan dan sikap berkelanjutan yang relevan dengan kebutuhan pembangunan masa depan. Keywords: Green economy. Kewirausahaan berkelanjutan. Pendidikan lingkungan. SMK PENDAHULUAN Perubahan iklim, polusi, dan eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran telah menjadi isu global yang mendesak. Fenomena ini mendorong munculnya pendekatan baru dalam pembangunan, yakni green economy . konomi hija. , yaitu suatu model ekonomi yang rendah emisi karbon, efisien dalam penggunaan sumber daya, serta inklusif secara sosial. Konsep ini tidak hanya menekankan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seiring dengan berkembangnya ekonomi hijau, muncul pula kesadaran akan pentingnya menerapkan sustainability lifestyle . aya hidup berkelanjuta. , yaitu pola hidup yang mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Gaya hidup ini meliputi penggunaan energi terbarukan, pengurangan limbah plastik, konsumsi produk lokal dan organik, hingga penggunaan transportasi ramah lingkungan. Berdasarkan laporan UN Environment Programme (UNEP) tahun 2022, perubahan gaya hidup masyarakat dapat mengurangi emisi karbon global hingga 40-70% pada tahun 2050, asalkan perubahan tersebut dimulai sedini mungkin dan dilakukan secara kolektif. Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Di Indonesia, tantangan untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan masih cukup Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2023. Indonesia menghasilkan lebih dari 18 juta ton sampah plastik, di mana hanya sekitar 9% yang berhasil didaur ulang. Hal ini menunjukkan perlunya perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Salah satu kunci utama perubahan ini adalah melalui peningkatan kesadaran sejak usia dini, terutama pada generasi muda yang akan menjadi pengambil keputusan dan pelaku utama pembangunan di masa Laporan UNESCO . menegaskan bahwa pendidikan lingkungan yang dimulai dari usia dini memiliki pengaruh jangka panjang terhadap perilaku berkelanjutan seseorang. Pendidikan ini tidak hanya menanamkan pengetahuan, tetapi juga membentuk nilai, sikap, dan tindakan yang ramah lingkungan. Selain itu, survei oleh World Wide Fund for Nature (WWF) menunjukkan bahwa 82% anak muda di Asia Tenggara menyatakan tertarik untuk berkontribusi pada pelestarian lingkungan jika diberikan edukasi dan fasilitas yang memadai. Maka dari itu, penanaman nilai-nilai ekonomi hijau dan gaya hidup berkelanjutan sejak dini sangat penting untuk membentuk generasi yang sadar lingkungan, inovatif, dan mampu menghadapi tantangan krisis ekologi global. Dengan langkah awal ini, diharapkan Indonesia dan dunia dapat bertransisi menuju masa depan yang lebih adil, bersih, dan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang pesat sering kali tidak diimbangi dengan upaya pelestarian lingkungan, sehingga menimbulkan berbagai permasalahan ekologis seperti polusi, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Untuk menjawab tantangan tersebut, muncul konsep ekonomi hijau . reen econom. , yaitu sistem ekonomi yang berfokus pada efisiensi sumber daya, energi terbarukan, dan pengurangan emisi karbon demi mendukung pembangunan berkelanjutan. Konsep ini penting untuk dikenalkan sejak dini, terutama kepada pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang kelak akan terlibat langsung dalam dunia kerja maupun kewirausahaan. Pendidikan ekonomi hijau akan membekali siswa dengan wawasan dan keterampilan dalam menciptakan solusi inovatif yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi dan pemahaman siswa SMK terhadap konsep green economy, serta mendorong penerapan prinsip keberlanjutan dalam kegiatan kewirausahaan sekolah. Melalui Pengabdian Kepada Masyarakat yang berjudul Green Economy Education: Meningkatkan Literasi Ekonomi Berkelanjutan pada Siswa SMK Negeri 4 Palangka Raya, diharapkan dapat diidentifikasi langkah-langkah strategis untuk meningkatkan literasi ekonomi di kalangan siswa, sehingga mereka dapat menjadi generasi yang cerdas dan bijak dalam memaknai keberlanjutan hidup. Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 METODE KEGIATAN Kegiatan pelatihan dilaksanakan pada hari jumat, 28 Juli 2025 mulai pukul 08. di SMK Negeri 4 Palangka Raya yang beralamatkan jln Temanggung Kanyapi dengan peserta siswa kelas X-XII. Siswa yang dibekali pengetahuan tentang ekonomi hijau sejak dini akan lebih peka terhadap isu lingkungan, seperti pengelolaan sampah, hingga pentingnya memanfaatkan sumber daya lokal secara bijak. OECD . menekankan bahwa pendidikan berkelanjutan di sekolah merupakan kunci untuk membentuk pola pikir baru yang mendukung pembangunan ramah lingkungan. Selain itu, menurut UNESCO . , pendidikan lingkungan dan ekonomi hijau dapat menumbuhkan keterampilan, seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan inovasi. Metode pelatihan yang digunakan menjadi empat tahapan. Tahap pertama pemaparan materi yang meliputi pengenalan konsep ekonomi hijau dan bisnis Tahap kedua yakni pengenalan produk atau jasa ramah lingkungan. Tahap ketiga sesi praktek pembuatan produk dari bahan purun. Tahap keempat yakni Post test untuk mengukur pemahaman siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pelatihan dilaksanakan pada tanggal 28 Juli 2025 di aula SMK Negeri 4 Palangka Raya di ikuti oleh 30 siswa dan guru mata pelajaran Kewirausahaan Metode pelatihan dalam kegiatan ini disusun melalui empat tahapan utama yang saling terintegrasi antara teori, pengenalan praktik, pengalaman langsung bersama praktisi, serta evaluasi. Tahap pertama berupa pemaparan materi yang disampaikan oleh Rahman. Pd. , dosen Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Palangka Raya. Materi berfokus pada konsep ekonomi hijau dan bisnis berkelanjutan, yang menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya secara efisien, tanaman purun, keterkaitan produk purun dengan ekonomi keberlanjutan dan produk lokal. Pengenalan ini menjadi dasar penting bagi siswa untuk memahami relevansi ekonomi hijau dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Gambar 1. Tim Pengabdian dan peserta pelatihan Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Pada tahap kedua, peserta dikenalkan pada berbagai produk dan jasa ramah Tahap ini menjadi jembatan untuk mengaitkan teori dengan praktik serta menumbuhkan kesadaran siswa bahwa peluang usaha berkelanjutan dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan (Handayani & Fitriana, 2. Pendidikan mengenai produk hijau telah terbukti berperan penting dalam membentuk pola pikir generasi muda yang lebih peduli terhadap isu lingkungan (Hardianti et al. , 2. Tahap ketiga adalah praktik pembuatan produk berbahan dasar purun, yang dipandu oleh Ibu Jaliah, pemilik IKM Jawet Pahari Hapakat. Purun merupakan tanaman rawa khas Kalimantan yang bernilai ekologis sekaligus ekonomis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa purun dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku anyaman, sedotan biodegradable, hingga produk ramah lingkungan lain yang dapat mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai (Rahmah et al. , 2022. Nurhayati et al. , 2. Lebih jauh, pengolahan purun mampu meningkatkan pendapatan masyarakat lokal serta memperkuat potensi ekonomi hijau berbasis kearifan lokal (Mansyah et al. , 2. Pada tahap ini sejumlah siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk praktek menganyam purun. Terdapat 6 kelompok dan masingmasing kelompok terdiri 5 siswa untuk menyelesaikan anyaman purun. Adapun bahan dan tahapan membuat anyaman purun sederhana yakni: Bahan: Daun purun kering. Gunting atau pisau kecil. Pilih daun purun yang rata dan tidak patah. Potong sesuai ukuran . ebar 0,5 Ae 1 cm, panjang 30Ae40 c. Membuat Pola Dasar Anyaman Ambil 6Ae8 helai purun, letakkan sejajar secara horizontal. Ambil helai lain, anyam secara vertikal dengan pola atasAebawah. Lanjutkan hingga membentuk anyaman datar berbentuk persegi atau persegi panjang. Setelah pola dasar jadi, rapatkan helai-helai purun agar tidak renggang. Tekan dengan tangan atau ikat sementara menggunakan penjepit. Rapikan ujung purun dengan gunting. Lipat ujung ke dalam atau selipkan agar lebih rapi. Gambar 2. Proses menganyam dan hasil anyaman Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Tahap keempat adalah post-test, yang digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa setelah mengikuti rangkaian pelatihan. Evaluasi ini penting untuk melihat efektivitas transfer pengetahuan sekaligus memberikan dasar bagi pengembangan metode pelatihan di masa depan (Sugiyono, 2. Gambar 3. Diagram hasil post test Hasil umpan balik yang tergambar pada diagram menunjukkan bahwa mayoritas responden sangat setuju (A60%) bahwa ekonomi berkelanjutan penting untuk masa depan. Pandangan ini sejalan dengan definisi klasik pembangunan berkelanjutan dari Brundtland Report, yang menekankan bahwa pembangunan harus Aumemenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannyaAy. Dengan demikian, kesadaran siswa mengenai pentingnya keberlanjutan dapat dipandang sebagai fondasi awal untuk membentuk perilaku yang konsisten dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDG. , khususnya Tujuan 4 (Pendidikan Berkualita. dan Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawa. Namun, ketika ditanyakan mengenai pengalaman belajar tentang ekonomi keberlanjutan di sekolah, responden cenderung netral (A70%). Hal ini mencerminkan bahwa pengetahuan formal mengenai keberlanjutan belum banyak diajarkan dalam kurikulum sekolah. Kondisi ini selaras dengan temuan UNESCO . yang menyebutkan bahwa pendidikan untuk (Education Sustainable Development/ESD) menghadapi tantangan besar dalam hal integrasi ke dalam sistem pendidikan formal, meskipun ESD merupakan kunci untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi isu-isu global (UNESCO, 2. Di sisi lain, sebanyak 60% responden setuju bahwa menjaga lingkungan itu penting dalam membuat dan menggunakan produk. Temuan ini mendukung hasil penelitian Zhou et Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 . yang menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat pendidikan dengan perilaku pro-lingkungan, seperti penghematan energi, penggunaan produk ramah lingkungan, dan partisipasi dalam kegiatan daur ulang. Artinya, meski pengetahuan formal terbatas, siswa sudah menunjukkan sikap positif terhadap praktik ramah lingkungan. Lebih lanjut, aspek yang paling menarik adalah tingginya harapan siswa terhadap pembelajaran berbasis praktik produk lokal. Sekitar 40% responden Ausangat setujuAy dan 40% lainnya AusetujuAy bahwa kegiatan praktik semacam ini perlu dihadirkan dalam pendidikan. Antusiasme ini mendukung hasil penelitian ynzkan & Gyk . yang menemukan bahwa pembelajaran berbasis STEM dan kewirausahaan dengan praktik nyata dapat meningkatkan sikap siswa terhadap pembangunan berkelanjutan sekaligus menumbuhkan keterampilan Hal ini juga sejalan dengan konsep pendidikan kontekstual yang menekankan pentingnya keterkaitan antara materi ajar dengan kehidupan nyata siswa. KESIMPULAN Kesadaran tentang pentingnya ekonomi berkelanjutan sudah tinggi, sesuai dengan prinsip Brundtland Report dan relevan dengan pencapaian SDGs. Integrasi kurikulum masih lemah, terlihat dari dominasi jawaban netral terkait pengalaman belajar keberlanjutan di Sikap pro-lingkungan mulai terbentuk, meskipun masih perlu diperkuat dengan pembelajaran terstruktur. Ada antusiasme besar terhadap praktik berbasis produk lokal, yang bisa menjadi pintu masuk strategis untuk mengimplementasikan ESD di sekolah. Secara keseluruhan, metode pelatihan berbasis teori, praktik, keterlibatan praktisi lokal, serta evaluasi terbukti relevan untuk menanamkan pemahaman sekaligus keterampilan siswa dalam mengembangkan konsep ekonomi hijau berbasis potensi lokal UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada SMK Negeri 4 Palangka Raya. IKM Jawet Pahari Hapakat, serta seluruh peserta pelatihan atas dukungan dan partisipasinya sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. DAFTAR PUSTAKA