DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam AnakIslam Usia Anak Dini Usia Dini e-ISSN DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan e-ISSN2987-128X 2987-128X http://ejournal. id/index. php/dzurriyat http://ejournal. id/index. php/dzurriyat p-ISSN p-ISSN3026-2909 Volume 3 Nomor 2,32025 Volume Nomor 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 61104/dz. Peran Ayah terhadap Perkembangan Sosial-Emosional Anak dalam Buku Gentle Parenting vs VOC Parenting (Tinjauan Psikologi Ana. Nur Hana Azizah1. Zaitun Nur Rizqi Ilahi2. Pramono3. Muh Arafik4 Universitas Negeri Malang. Indonesia1-4 Email Korespondensi: nur. 2501548@students. 2501548@students. fip@um. fip@um. Article received: 14 November 2025. Review process: 18 November 2025 Article Accepted: 01 Desember 2015. Article published: 07 Desember 2025 ABSTRACT This study aims to analyze the representation of the father's role in shaping children's social-emotional development as depicted in the book Gentle Parenting vs VOC Parenting by Titiek Limarty. The analysis focuses on four core aspects: the formation of socialemotional competencies, the influence of paternal empathy on emotional regulation, the fatherAos communication patterns in supporting social competence, and the contribution of paternal support to childrenAos confidence and independence. This research employs a descriptive qualitative method with a case study design, using content analysis of the book alongside supporting literature on developmental psychology, attachment theory, and The findings indicate that within the Gentle Parenting approach, fathers are portrayed as warm, responsive, and empathetic figures who strengthen children's emotional regulation, self-confidence, and social skills. Conversely, the VOC Parenting approach, characterized by authoritarian control and obedience without emotional dialogue, may hinder emotional expression, initiative taking, and socialemotional development. These findings highlight that supportive and consistent paternal involvement contributes to the development of secure attachment, self-regulation, and independence in early childhood. Keywords: Father Involvement. Communication. Emotional Regulation. Early Childhood. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi peran ayah dalam membentuk perkembangan sosial-emosional anak sebagaimana digambarkan dalam buku Gentle Parenting vs VOC Parenting karya Titiek Limarty. Kajian ini berfokus pada empat aspek utama, yaitu pembentukan sosial-emosional, pengaruh empati ayah terhadap regulasi emosi, pola komunikasi ayah dalam pengembangan kompetensi sosial, serta peran dukungan ayah terhadap kepercayaan diri dan kemandirian anak. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus, melalui analisis isi terhadap teks buku serta literatur pendukung terkait psikologi perkembangan, teori keterikatan, dan pengasuhan anak. Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam pendekatan Gentle Parenting, ayah direpresentasikan sebagai figur pengasuhan yang hangat, responsif, dan empatik sehingga mampu memperkuat regulasi emosi, rasa percaya diri, dan keterampilan sosial Sebaliknya, pola VOC Parenting yang bersifat otoriter dan menekankan kepatuhan tanpa dialog emosional berpotensi menimbulkan hambatan dalam pengungkapan emosi, pengambilan inisiatif, dan perkembangan sosial-emosional anak. Temuan ini menegaskan bahwa keterlibatan ayah yang konsisten dan suportif memiliki kontribusi terhadap pembentukan secure attachment, kontrol diri, serta kemandirian anak sejak usia dini. Kata Kunci: Peran Ayah. Komunikasi. Regulasi Emosi. Anak Usia Dini. Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Nur Hana Azizah. Zaitun Nur Rizqi Ilahi. Pramono. Muh Arafik DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2, 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 PENDAHULUAN Peran ayah dalam pengasuhan anak menjadi isu penting dalam kajian psikologi perkembangan modern, terutama di Indonesia yang menghadapi persoalan rendahnya keterlibatan ayah. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negara fatherless di dunia, sebuah kondisi yang berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap perkembangan psikologis anak (Nurmalasari et al. , 2. Dalam konteks pengasuhan, pola asuh dipahami sebagai rangkaian sikap, perilaku, dan interaksi konsisten yang digunakan orang tua dalam membimbing, mendidik, dan mendisiplinkan anak sehingga membentuk kepribadian serta kecakapan hidup mereka (Fitriana, 2. Sejumlah penelitian menegaskan bahwa keterlibatan ayah memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan anak, seperti rendahnya risiko kegagalan akademik (Whitney et al. , 2. , peningkatan efikasi diri dan kemampuan mengelola perilaku (Ratningsih et al. , 2. , hingga penguatan regulasi emosi pada masa awal kehidupan (Salsabila & Hanif, 2. Ayah juga berperan dalam membantu anak menghadapi tekanan sosial di era digital serta menumbuhkan keterampilan berpikir kritis (Hendriani et al. , 2. Namun, partisipasi ayah dalam pengasuhan langsung di Indonesia tercatat masih rendah, yaitu hanya 26,2 persen (Setyawan, 2. Penelitian Fahira dan Ahmadi . menunjukkan bahwa peran ayah mencakup dimensi emosional, nilai moral, serta pola interaksi yang memengaruhi perkembangan perilaku dan karakter anak. Meskipun demikian, studi yang secara khusus menelaah bagaimana representasi ayah disajikan dalam literatur pengasuhan di Indonesia masih sangat terbatas. Kebanyakan penelitian berfokus pada dampak keterlibatan ayah terhadap perkembangan anak, tetapi belum banyak yang mengkaji bagaimana buku-buku parenting merepresentasikan figur ayah dan bagaimana representasi tersebut berkontribusi terhadap pemahaman teoretis dalam psikologi perkembangan. Dalam konteks ini, buku Gentle Parenting vs VOC Parenting karya Titiek Limarty menghadirkan perspektif yang menarik dan berbeda. Buku tersebut mengontraskan gaya pengasuhan berbasis kedekatan emosional, disiplin positif, dan komunikasi terbuka dengan pola pengasuhan otoriter yang cenderung menekan ekspresi emosional anak. Analisis terhadap buku ini menawarkan peluang akademik yang penting: memberikan gambaran mengenai bagaimana ayah diposisikan dalam dua pendekatan pengasuhan yang bertolak belakang, serta bagaimana representasi tersebut dapat memperkaya pemahaman tentang peran ayah dalam perkembangan sosial-emosional anak pada konteks Indonesia. Kesenjangan literatur terlihat jelas pada minimnya penelitian yang menelaah representasi ayah secara spesifik dalam karya parenting Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan konstruksi sosial-emosional anak berdasarkan teori Oleh karena itu, penelitian ini mengisi gap tersebut dengan menganalisis representasi peran ayah dalam buku Gentle Parenting vs VOC Parenting dan mengaitkannya dengan konsep-konsep inti dalam psikologi perkembangan anak. Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Nur Hana Azizah. Zaitun Nur Rizqi Ilahi. Pramono. Muh Arafik DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2, 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 Penelitian ini bertujuan untuk: . mengidentifikasi bentuk representasi ayah dalam pembentukan sosial-emosional anak. menelaah pengaruh empati ayah terhadap regulasi emosi. menganalisis pola komunikasi ayah dalam mengembangkan kompetensi sosial. mengkaji dukungan ayah dalam menumbuhkan kepercayaan diri dan kemandirian anak. Penjelasan tujuan yang eksplisit ini sekaligus menegaskan kontribusi penelitian, yaitu menawarkan pemetaan teoretis yang membedakan penelitian ini dari studi-studi sebelumnya serta memperkaya diskursus mengenai peran ayah dalam literatur pengasuhan Indonesia. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah buku Gentle Parenting vs VOC Parenting karya Titiek Limarty yang dianalisis sebagai objek utama kajian. Sumber data sekunder meliputi artikel ilmiah, buku rujukan, dan literatur yang relevan dengan topik pengasuhan serta perkembangan sosial-emosional anak. Seluruh sumber tersebut digunakan untuk memperkaya interpretasi serta memperkuat analisis konseptual terkait representasi peran ayah dalam isi buku. Proses analisis data dilakukan melalui teknik analisis isi . ontent analysi. yang mencakup tahap pengumpulan data teks, pembacaan intensif, pengkodean, kategorisasi, dan penarikan tema-tema utama. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber, yaitu membandingkan temuan dari buku utama dengan rujukan ilmiah yang sejenis untuk memastikan konsistensi interpretasi dan memperkuat kredibilitas hasil analisis. Pendekatan ini memungkinkan penelitian memaparkan gambaran yang sistematis dan mendalam mengenai representasi peran ayah sebagaimana disajikan dalam teks buku. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Ayah dalam Pembentukan Sosial-Emosional Anak Analisis menunjukkan bahwa representasi peran ayah dalam Gentle Parenting vs VOC Parenting menegaskan adanya pola hubungan yang kuat antara keterlibatan emosional ayah dan kualitas perkembangan sosial-emosional anak. Ketika ayah hadir secara hangat, responsif, dan menetapkan batasan yang logis sebagaimana dalam pendekatan Gentle Parenting, pola tersebut selaras dengan prinsip secure attachment yang menyatakan bahwa hubungan yang sensitif dan konsisten membentuk rasa aman serta kepercayaan diri anak. Temuan ini tidak hanya menggambarkan isi buku, tetapi memperlihatkan kesesuaian langsung dengan penelitian Ariyati dan Zaidah . yang menekankan bahwa keterlibatan ayah merupakan penentu penting kematangan emosi dan perkembangan sosial. Dengan demikian, hasil analisis memperjelas pola temuan: kehadiran ayah yang responsif meningkatnya rasa aman, regulasi emosi, dan kompetensi sosial anak, sehingga berfungsi sebagai faktor protektif sejak usia dini. Sebaliknya, hasil analisis terhadap unsur VOC Parenting memperlihatkan bahwa pola pengasuhan yang otoriter dan menekankan kepatuhan tanpa dialog emosional cenderung melemahkan sensitivitas hubungan ayahAeanak. Pola ini Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Nur Hana Azizah. Zaitun Nur Rizqi Ilahi. Pramono. Muh Arafik DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2, 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 konsisten dengan temuan Novela . serta Qodariah & Pebriani . , yang menunjukkan bahwa minimnya validasi perasaan anak berhubungan dengan rendahnya perkembangan kecerdasan emosional dan terbatasnya kemampuan sosial anak. Perbandingan ini membantu menegaskan bahwa hambatan perkembangan tidak hanya berasal dari kurangnya kehangatan emosional dalam VOC Parenting, tetapi dari struktur relasi yang kaku dan tidak responsif. Dengan demikian, bagian ini memperkuat pola temuan utama: pengasuhan ayah yang empatik dan responsif berhubungan positif dengan perkembangan sosialemosional, sedangkan pola pengasuhan otoriter berpotensi menghambat perkembangan tersebut. Analisis ini menempatkan penelitian secara lebih jelas dalam konteks literatur terdahulu dan menunjukkan kontribusi ilmiah yang lebih Empati Ayah dan Dampaknya terhadap Regulasi Emosi Anak Kajian pada bagian ini memperlihatkan bahwa empati ayah memiliki hubungan yang langsung dan kuat dengan kemampuan regulasi emosi anak. Respons ayah yang hangat, validatif, dan sensitif menghasilkan pola temuan yang konsisten: semakin tinggi empati ayah, semakin kuat kemampuan anak mengenali, mengevaluasi, dan mengekspresikan emosinya secara adaptif. Pola ini tidak hanya tergambar dalam prinsip Gentle Parenting, tetapi juga sesuai secara eksplisit dengan temuan Fauzi et al. yang menekankan bahwa dukungan emosional orang tua berperan penting dalam pengembangan kemampuan kontrol emosi dan strategi penanganan emosi. Dengan demikian, bagian ini menegaskan bahwa empati ayah berfungsi sebagai mekanisme pembelajaran emosional yang memperkuat proses internal anak, bukan sekadar deskripsi teoretis dalam buku. Jika dikaitkan dengan kerangka Suryana . serta Shaffer . alam Yani, 2. , hubungan tersebut tampak selaras dan memperjelas bagaimana ayah yang empatik membantu anak menyeimbangkan respons kognitif dan fisiologis ketika menghadapi situasi emosional. Keselarasan ini dipertegas oleh Sun dan Nolan . , yang menekankan peran interaksi interpersonal berkualitas dalam memodifikasi cara anak mengevaluasi dan mengelola emosi. Sebaliknya. VOC Parenting yang minim dialog emosional menampilkan kecenderungan yang berlawanan: regulasi emosi anak melemah, sebuah pola yang sejalan dengan temuan Bytamar et al. tentang meningkatnya risiko emotion dysregulation pada anak yang tidak memperoleh dukungan emosional memadai. Dengan demikian, bagian ini menggarisbawahi pola temuan utama penelitian: empati ayah mempengaruhi peningkatan regulasi emosi, sedangkan minimnya empati mengakibatkan risiko disregulasi, sehingga memperjelas kontribusi ilmiah mengenai peran ayah dalam perkembangan sosial-emosional anak usia dini. Komunikasi Ayah sebagai Dasar Perkembangan Sosial Anak Pola komunikasi ayah yang terbuka, validatif, dan tidak mengintimidasi memiliki keterkaitan langsung dengan peningkatan kompetensi sosial anak. Pola hubungan komunikasi ayah mempengaruhi kompetensi sosial menjadi jelas ketika respons ayah yang dialogis seperti menjelaskan alasan, mendengarkan pendapat Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Nur Hana Azizah. Zaitun Nur Rizqi Ilahi. Pramono. Muh Arafik DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2, 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 anak, dan menghargai emosinya dihubungkan dengan kemampuan anak memahami perspektif orang lain, mengelola konflik, dan menampilkan perilaku Karakter komunikasi ini tidak hanya merefleksikan prinsip Gentle Parenting, tetapi juga memperkuat temuan Mufarrohah dan Diana . yang membuktikan bahwa intensitas interaksi ayah berkorelasi dengan meningkatnya toleransi, kontrol emosi, dan adaptabilitas sosial anak. Dengan demikian, bagian ini menonjolkan pola temuan utama bahwa kualitas komunikasi ayah berfungsi sebagai mekanisme kunci dalam pembentukan kecakapan sosial anak, bukan semata ringkasan konsep dalam buku. Jika dibandingkan dengan teori perkembangan sosial, keterkaitan ini semakin tegas. Anak mempelajari norma sosial dan cara berinteraksi melalui primary social model yang diberikan oleh orang tua, sehingga komunikasi suportif ayah mendukung tumbuhnya rasa percaya diri anak dalam berpartisipasi di berbagai situasi sosial. Sebaliknya, pola komunikasi otoriter yang muncul pada ciri VOC Parenting berbasis instruksi sepihak dan hukuman menunjukkan efek berlawanan berupa rendahnya keberanian anak dalam menyampaikan pendapat dan terbatasnya kemampuan bernegosiasi. Pola ini sejalan dengan penelitian Agustina et al. yang menegaskan bahwa komunikasi keluarga yang hangat dan konsisten meningkatkan motivasi dan keterlibatan anak karena mereka merasa dihargai secara emosional. Lebih lanjut, kecenderungan VOC Parenting dapat dipahami sebagai hambatan perkembangan sosial karena tidak menyediakan ruang bagi anak untuk membangun pemahaman perspektif lawan bicara. Melalui perbandingan teoritis dan empiris ini, tampak bahwa komunikasi ayah memainkan peran strategis dalam membentuk kesiapan sosial anak di lingkungan keluarga sebagai institusi pendidikan informal sesuai amanat Undang-Undang No. Tahun 2003. Peran Ayah dalam Menumbuhkan Kepercayaan Diri dan Kemandirian Anak Keseluruhan data memperlihatkan bahwa keterlibatan ayah berperan dalam memperkuat rasa percaya diri dan kemandirian anak. Ketika ayah memberikan kesempatan bagi anak untuk mencoba, mengambil keputusan sederhana, serta mengevaluasi konsekuensi tindakannya, anak menunjukkan peningkatan keyakinan terhadap kemampuan dirinya. Temuan ini berpaut dengan hasil Arpa . yang menegaskan bahwa dukungan ayah yang konsisten menciptakan rasa aman dan penghargaan diri yang menjadi dasar terbentuknya self-efficacy. Dengan demikian, tampak jelas pola hubungan dukungan ayah terhadap penguatan selfefficacy anak, yang berkontribusi pada munculnya keberanian untuk berinisiatif. Jika ditinjau lebih lanjut melalui perbandingan pola pengasuhan, pendekatan otoriter yang menekankan kontrol tanpa memberi ruang eksplorasi tampak kurang mendukung perkembangan kemandirian. Kondisi ini sejalan dengan teori psikososial Erikson, khususnya pada tahap autonomy vs. shame and doubt serta initiative vs. guilt, yang menempatkan pengasuh termasuk ayah sebagai figur penting dalam menyediakan kesempatan bagi anak untuk mengambil keputusan dan mengeksplorasi lingkungan. Temuan menunjukkan bahwa ayah yang responsif dan suportif lebih efektif memfasilitasi perkembangan kedua tahap Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Nur Hana Azizah. Zaitun Nur Rizqi Ilahi. Pramono. Muh Arafik DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2, 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 Dengan demikian, analisis menguatkan pola hubungan dukung-an paternal yang hangat dan fleksibel pembentukan kemandirian dan inisiatif, serta mempertegas relevansinya dalam perkembangan psikososial anak usia dini. SIMPULAN Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa peran ayah dalam buku Gentle Parenting vs VOC Parenting direpresentasikan sebagai faktor penentu perkembangan sosial-emosional anak melalui tiga pola temuan inti: empati ayah mempengaruhi regulasi emosi, komunikasi ayah mempengaruhi kompetensi sosial, dan dukungan ayah mempengaruhi penguatan self-efficacy serta Representasi ini memperlihatkan bahwa kualitas hubungan emosional dan pola interaksi ayah bukan hanya melengkapi fungsi pengasuhan ibu, tetapi membentuk mekanisme perkembangan yang spesifik dan konsisten pada anak usia dini. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan memperjelas bagaimana konsep attachment, komunikasi keluarga, dan regulasi emosi dapat dipahami melalui sudut pandang paternal dalam konteks parenting Implikasi praktis bagi orang tua dan pendidik PAUD, yakni perlunya peningkatan kapasitas ayah dalam menghadirkan komunikasi dialogis, validasi emosi, dan dukungan eksplorasi sebagai bagian dari stimulasi perkembangan Secara teoretis, hasil penelitian memperkuat pemahaman bahwa ayah memainkan peran strategis dalam pembentukan kemandirian, keberanian mengambil inisiatif, dan kesiapan sosial anak. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengkaji representasi peran ayah dalam berbagai model parenting kontemporer lainnya, meneliti praktik pengasuhan ayah dalam konteks keluarga Indonesia secara empiris, atau memetakan bagaimana interaksi ayah dan anak terbentuk dalam lingkungan digital sebagai respons terhadap perubahan pola komunikasi UCAPAN TERIMAKASIH