EFEKTIVITAS EKSTRAK BUNGA ROSELLA (HIBISCUS SABDARIFFA L. ) TERHADAP JUMLAH BAKTERI STREPTOCOCCUS MUTANS PADA BASIS GIGI TIRUAN RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS Ni Kadek Sugianitri1. Ria Koesoemawati 2. Putu Ayu Paramitha Marsyadewi 3 Department of Prosthodontic. Faculty of Dentistry. Mahasaraswati Denpasar University Corresponding email : sugianitri@gmail. ABSTRACT Introduction: Long-term use of dentures without proper cleaning can lead to significant problems, including plaque accumulation and the proliferation of Streptococcus mutans The design of denture skeletons can also contribute to bacterial growth and plaque formation, increasing the risk of caries in remaining natural teeth. Rosella flower (Hibiscus sabdariffa L. ) is known for its antibacterial properties due to its constituents like tannin, anthocyanin, and saponins. Purpose: This purpose of this study to evaluate the effectiveness of rosella flower extract at concentrations of 30%, 40%, and 50% against Streptococcus mutans bacteria on heat-immersed polymerized acrylic resin plates over a 6-hour period. Methods: The study employed an experimental laboratory design with a post-test only control group. It was repeated five times, with four treatment groups: 30%, 40%, and 50% concentrations of rosella flower extract, along with a control group. Data analysis utilized the Least Significant Difference (LSD) test to identify the most effective concentration in reducing Streptococcus mutans bacteria on heat-polymerized acrylic resin plates. Results: Statistical analysis revealed significant differences . <0. among the treatment groups. The concentration of rosella flower extract had a clear impact on the reduction of Streptococcus mutans bacteria after Specifically, the 50% concentration demonstrated the highest efficacy in inhibiting bacterial growth on heat-polymerized acrylic resin plates. Conclusion: Rosella flower extract, particularly at a concentration of 50%, effectively reduced Streptococcus mutans bacteria on heat-polymerized acrylic resin plates over a 6-hour This suggests its potential as a natural antibacterial agent in dental care, particularly in managing bacterial growth associated with denture use. Keywords: Rosella Flower (Hibiscus sabdariffa L. Streptococcus mutans. HeatPolymerized Acrylic Resin ABSTRAK Pendahuluan: Penggunaan gigi tiruan dalam jangka waktu yang lama tanpa pembersihan yang tepat dapat menyebabkan masalah yang signifikan, termasuk penumpukan plak dan proliferasi bakteri Streptococcus mutans. Desain kerangka gigi tiruan juga dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan bakteri dan pembentukan plak, meningkatkan risiko karies pada gigi asli yang tersisa. Bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L. ) dikenal karena sifat antibakterinya yang berasal dari kandungannya seperti tanin, antosianin, dan Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas ekstrak bunga rosella pada konsentrasi 30%, 40%, dan 50% terhadap bakteri Streptococcus mutans pada plat resin akrilik polimerisasi panas selama periode 6 jam. Metode: Penelitian ini menggunakan desain laboratorium eksperimental dengan kelompok kontrol hanya pascauji. Penelitian diulang lima kali dengan empat kelompok perlakuan: konsentrasi ekstrak bunga rosella 30%, 40%, dan 50%, serta kelompok kontrol. Analisis data menggunakan uji Least Significant Difference (LSD) untuk mengidentifikasi konsentrasi yang paling efektif dalam mengurangi bakteri Streptococcus mutans pada plat akrilik resin polimer yang terkena panas. Hasil: Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan . <0. di antara kelompok perlakuan. Konsentrasi ekstrak bunga rosella memiliki dampak yang jelas dalam mengurangi bakteri Streptococcus mutans setelah perlakuan. Secara khusus, konsentrasi 50% menunjukkan efikasi tertinggi dalam menghambat pertumbuhan bakteri pada pelat resin akrilik polimerisasi panas. Kesimpulan: Ekstrak bunga rosella, terutama pada konsentrasi 50%, secara efektif mengurangi bakteri Streptococcus mutans pada plat resin akrilik polimerisasi panas selama periode 6 jam. Hal ini menunjukkan potensinya sebagai agen antibakteri alami dalam perawatan gigi, khususnya dalam mengelola pertumbuhan bakteri yang terkait dengan penggunaan gigi Kata Kunci: Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L. Streptococcus mutans. Resin Akrilik Polimerisasi Panas INTRODUCTION Di Indonesia, banyak penduduk, baik usia muda maupun lanjut usia, sering mengalami masalah di rongga mulut, terutama karies yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Kondisi ini dapat menyebabkan hilangnya gigi baik sebagian maupun keseluruhan. Salah satu cara untuk mengatasi dampak kehilangan gigi adalah dengan menggunakan gigi tiruan lepasan. Salah satu bahan yang sering dipakai sebagai basis gigi tirusn adalah resin akrilik polimerisasi panas (RAPP). Permukaan kasar dari resin akrilik pada basis gigi tiruan memudahkan pembentukan biofilm. Tingginya kekasaran permukaan gigi tiruan dan keberadaan Streptococcus mutans merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya stomatitis pada pengguna gigi tiruan1. Candida albicans, yang biasanya merupakan mikroorganisme komensal di rongga mulut orang sehat . itemukan pada 45-65% kasu. , hampir selalu terkait dengan denture stomatitis, dengan prevalensi meningkat hingga 60- 100% di kalangan pengguna gigi tiruan 2. Berbagai masalah kesehatan mulut seperti penyakit periodontal, karies, trauma, dan impaksi juga berperan besar dalam kehilangan gigi di masyarakat 3. Salah satu alternatif untuk mengetasi dampak kehilangan gigi adalah pemakaian gigi tiruan yang dapat dilepas atau cekat sering digunakan untuk menggantikan gigi yang hilang, baik sebagian maupun keseluruhan 4. Gigi tiruan yang dapat dilepas digunakan untuk menggantikan gigi yang hilang beserta jaringan pendukungnya, memungkinkan pasien untuk melepas dan memasang kembali gigi tiruannya dengan mudah. Plat gigi tiruan yang paling umum digunakan adalah resin akrilik polimerisasi panas (RAPP)5. RAPP masih banyak digunakan dalam kedokteran gigi meskipun memiliki sifat mudah patah, retak, dan cepat aus 6. Permukaan plat yang berhubungan dengan mukosa memiliki mikropori yang menjadi tempat berkembang biaknya mikroorganisme. Penggunaan gigi tiruan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan penumpukan plak serta kolonisasi oleh jamur dan bakteri, termasuk Streptococcus mutans 7. Di lingkungan rongga mulut, bakteri pada pengguna gigi tiruan menghasilkan asam dari fermentasi karbohidrat, menurunkan pH plak, dan menyebabkan demineralisasi pada permukaan gigi yang berujung pada karies, terutama oleh bakteri Streptococcus Karies gigi merupakan penyakit multifaktorial yang dipengaruhi oleh faktor inang . aliva dan gig. serta mikroorganisme, salah satunya Streptococcus mutans 9. Desain gigi tiruan sebagian juga berpengaruh terhadap perkembangan bakteri di rongga mulut dan pembentukan plak. Pembentukan plak pada gigi tiruan dapat diperparah oleh komposisi bahan yang digunakan untuk pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan 10. Akumulasi plak yang meningkat pada penggunaan gigi tiruan dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dan peningkatan frekuensi karies, terutama pada gigi yang langsung bersentuhan dengan basis gigi tiruan 11 Pemeliharaan kebersihan gigi tiruan dapat dilakukan dengan menggunakan bahan alami atau kimia8. Disinfektan ideal seharusnya memiliki aktivitas terhadap biofilm, tidak beracun, kompatibel, memiliki rasa yang tidak mengganggu, dan mudah digunakan. Pembersihan gigi tiruan secara kimia dilakukan dengan merendam dalam larutan seperti peroksida alkalin, natrium hipoklorit, asam, enzim, dan desinfektan 12. Namun, pembersih kimia dapat merusak logam, menimbulkan bau dan rasa tidak enak, dan residu yang tersisa dari pembilasan yang kurang sempurna dapat mengiritasi mukosa rongga mulut, sehingga menurunkan motivasi pengguna untuk membersihkan gigi tiruan secara teratur. Oleh karena itu, diperlukan alternatif berbahan dasar tumbuhan13. Salah satu disinfektan alami untuk gigi tiruan adalah bunga rosella (Hibiscus Sabdariffa L. Bunga rosella mengandung antosianin, tanin, saponin, dan asam amino yang memiliki sifat antibakteri, antivirus, dan antijamur 14. Aktivitas antijamur ini berasal dari kandungan polifenol seperti tanin, antosianin, dan saponin dalam ekstrak bunga Ekstrak bunga rosella mampu menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans pada gigi tiruan, dengan efektivitas yang meningkat seiring dengan konsentrasi yang lebih Konsentrasi 40% ekstrak bunga rosella menunjukkan efikasi yang setara dengan tablet ketoconazole 200 mg. Salah satu metode penggunaan disinfektan gigi tiruan adalah dengan merendam basis selama 6-8 jam selama tidur di malam hari. Penelitian ini menggunakan waktu perendaman selama 6 jam, yang merupakan waktu minimal untuk merendam gigi tiruan setiap hari 17. Berdasarkan latar belakang tersebut, bunga rosella memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada gigi tiruan dengan berbagai konsentrasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas ekstrak bunga rosella terhadap Streptococcus mutans pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dengan konsentrasi 30%, 40%, dan 50% selama 6 jam. METHODS Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah eksperimental laboratoris dengan menggunakan desain post-test only control group. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pertumbuhan Streptococcus mutans pada plat resin akrilik polimerisasi panas merek Vertex BasicQ 20. NetherlandA setelah direndam dalam berbagai konsentrasi ekstrak bunga rosella. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental true eksperimental laboratories dengan posttest only control group design. Sebanyak 24 plat RAPP berukuran 10 x 10 x 2 mm digunakan sebagai sampel. Sampel ini dibagi menjadi empat kelompok perlakuan: Kelompok Perlakuan 1 (P. direndam dalam ekstrak bunga rosella 30%. Kelompok Perlakuan 2 (P. direndam dalam ekstrak bunga rosella 40%. Kelompok Perlakuan 3 (P. direndam dalam ekstrak bunga rosella 50%, dan Kelompok Kontrol direndam dengan aquadest steril. Prosedur penelitian meliputi persiapan ekstrak bunga rosella, uji fitokimia, persiapan plat resin akrilik, persiapan suspensi Streptococcus mutans, dan pembuatan saliva Selanjutnya, dilakukan pengujian mikrobiologis dengan menginkubasi plat resin akrilik yang telah direndam dalam larutan ekstrak bunga rosella dalam media agar selama 48 jam, diikuti dengan penghitungan jumlah koloni Streptococcus mutans menggunakan Colony Counter. Analisis data dilakukan menggunakan software SPSS dengan langkah-langkah analisis deskriptif untuk karakterisasi data dan uji statistik One Way ANOVA untuk menentukan pengaruh signifikan dari berbagai perlakuan terhadap jumlah bakteri Streptococcus mutans. RESULTS Uji Fitokimia Tabel 1 Uji Fitokimia Bunga Rosella. No. Jenis pemeriksaan Saponin Fenol Terpenoid Alkaloid Flavonoid Tannin Steroid Hasil Analisis Deskriptif Analisis deskriptif meliputi rerata . , simpang baku . tandard deviatio. , minimum, dan maksimum variabel jumlah bakteri Streptococcus mutans setelah perlakuan pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas. Hasil analisis disajikan pada Tabel Tabel 2 Analisis Deskriptif Rerata Jumlah Bakteri Streptococcus mutans Setelah Perlakuan. Kelompok Rerata Min Maks 46,80 29,00 10,20 163,40 4,60 1,58 1,30 6,43 41,00 27,00 9,00 156,00 53,00 31,00 12,00 171,00 Uji Normalitas dan Uji Homogenitas Uji Normalitas Tabel 3 Uji Normalitas Data Jumlah Bakteri Streptococcus mutans Setelah Perlakuan Kelompok 0,992 0,967 0,421 0,584 Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa kelompok K. P1. P2, dan P3 memiliki nilai p>0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data nilai jumlah bakteri Streptococcus mutans setelah perlakuan pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas berdistribusi normal, sehingga tes homogenitas akan dilanjutkan dengan menggunakan uji LeveneAos test. Uji Homogenitas Tabel 4 menunjukkan hasil uji homogenitas data jumlah bateri Streptococcus Mutans. Hasilnya menunjukkan data jumlah bakteri Streptococcus mutans setelah perlakuan pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas tidak homogen . < 0,. , disajikan pada Tabel 4. Tabel 4 Hasil Uji Homogenitas Data Jumlah Bakteri Streptococcus mutans Setelah Perlakuan Variabel Jumlah Bakteri Streptococcus 5,849 0,007 mutans Setelah Perlakuan Uji One Way Anova Tabel 5 Hasil Uji Perbedaan Rerata Jumlah Bakteri Streptococcus mutans Antar Kelompok Setelah Perlakuan Kelompok Rerata 46,80 4,60 29,00 1,58 10,20 1,30 163,40 6,43 0,000 Tabel 5 di atas, dengan analisis kemaknaan menggunakan uji One Way Anova menunjukkan bahwa nilai p = 0,000. Hal ini berarti bahwa rerata jumlah bakteri Streptococcus mutans setelah perlakuan pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas pada keempat kelompok sesudah perlakuan berbeda secara bermakna . < 0,. Uji Post-hoc Least Significant Difference (LSD) Tabel 6 Hasil Uji Beda Nyata Terkecil Antar Dua Kelompok Perlakuan Kelompok (EBR 30%) (EBR 40%) (EBR 50%) (Aquades. 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 *EBR: Ekstrak Bunga Rosella Tabel 6 menunjukkan hasil uji lanjutan dengan Least Significant Difference Test dengan signifikansi p<0. 05 K dengan P1. K dengan P2. K dengan P3. P1 dengan P2. P1 dengan P3, dan P3 dengan P2 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antar dua kelompok. Dapat juga digambarkan seperti Gambar 1. 180,00 160,00 140,00 120,00 100,00 80,00 60,00 40,00 20,00 0,00 Aquades Ekstrak Bunga Rosella 30% Ekstrak Bunga Rosella 40% Ekstrak Bunga Rosella 50% Gambar 1 Hasil Uji Beda Nyata Terkecil Antar Dua Kelompok Perlakuan DISCUSSION Penelitian ini menggunakan plat RAPP berukuran 10x10x2 mm, yang umum digunakan sebagai bahan basis gigi tiruan lepasan. Resin akrilik memiliki sifat fisik dan estetik yang baik, harga terjangkau, dan minim toksisitas, namun rentan terhadap abrasi dan kolonisasi bakteri Streptococcus mutans, yang dapat menyebabkan karies gigi pada plat gigi tiruan. Penurunan jumlah koloni bakteri Streptococcus mutans dapat dilakukan dengan perendaman pada ekstrak bunga rosella. Pada penelitian sebelumnya menyebutkan Bunga rosella (Hibiscus sabdariffa ) mengandung senyawa flavonoid, tanin dan saponin18. Setelah dilakukan pengujian fitokimia pada sampel bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L. ), sampel bunga rosella menghasilkan senyawa yang mengandung saponin, fenol, flavonoid, terpenoid, tanin dan alkaloid. Pada hasil uji fitokimia yang telah dilakukan dalam penelitian ini, saponin merupakan kandungan yang memiliki nilai tertinggi. dapat berperan sebagai aktivitas antioksidan. Flavonoid, tanin dan saponin yang terdapat dalam tanaman dapat digunakan untuk membunuh bakteri19. Tanin memiliki kemampuan menghambat sintesis dinding sel bakteri dan sintesis protein sel bakteri gram positif maupun gram negatif. Flavonoid memiliki mekanisme antibakteri dengan membentuk senyawa kompleks dengan protein ekstraseluler dan terlarut sehingga dapat merusak membran sel bakteri dan diikuti dengan keluarnya senyawa intraseluler20. Senyawa flavonoid didalam bunga rosella memiliki aktifitas biologis terhadap bakteri, dilakukan dengan merusak dinding sel dari bakteri. Saponin dapat menjadi antibakteri karena zat aktif permukaannya mirip detergen, akibatnya saponin akan menurunkan tegangan permukaan dinding sel bakteri dan merusak permeabilitas membran. CONCLUSION Ekstrak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L. ) dengan konsentrasi 30%, 40%, dan 50% yang direndam selama 6 jam menunjukkan efektivitas dalam mengurangi jumlah Streptococcus mutans pada plat RAPP . Secara khusus, ekstrak dengan konsentrasi 50% menunjukkan efektivitas paling tinggi dalam menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Hal ini memberikan implikasi bahwa ekstrak bunga rosella memiliki potensi sebagai agen antimikroba yang efektif dalam aplikasi pada plat gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas, berkontribusi pada upaya pencegahan karies gigi dan meningkatkan kualitas perawatan kesehatan gigi. REFERENCES