Original Research Paper Kajian Etnobotani Tanaman Asam (Tamarindus indica L. ) Di Manatuto Vila Timor-Leste Ethnobotanical Study of Tamarind (Tamarindus indica L. ) In Manatuto Vila Timor-Leste Alice Pinto1, * Departamento do Ensino de Biologia. Faculdade de Educayyo. Artes e Humanidades. Universidade Nacional Timor LorosaAoe. Avenida Cidade de Lisboa Dr. Francisco Machado Liceu-Dyli *Corresponding Author: apinto745@gmail. Abstrak: Penelitian ini dilakukan di Manatuto Vila. Timor-Leste untuk mengkaji pemanfaatan etnobotani tanaman asam (Tamarindus indica L. ) oleh masyarakat setempat serta sumber perolehan dan pewarisan pengetahuan terkait. Metode yang digunakan bersifat kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara terestruktur dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 74% responden memperoleh tanaman asam dari pekarangan rumah. Biji asam dimanfaatkan sebagai bahan pangan dengan nilai Fidelity Level (FL) tertinggi yaitu 100%, diikuti daun dan buah sebagai obat tradisional . %), serta pucuk daun, bunga, dan buah sebagai bumbu dapur . %). Cabang dan ranting kering juga dimanfaatkan sebagai kayu bakar . %). Sebanyak 98% responden menyatakan bahwa pengetahuan mengenai pemanfaatan tersebut diwariskan secara lisan dari nenek moyang. Temuan ini menunjukkan bahwa tanaman asam memainkan peran penting dalam sistem pengetahuan tradisional dan kehidupan sehari-hari masyarakat Manatuto Vila, serta menjadi bagian dari warisan budaya yang masih dilestarikan hingga kini. Kata kunci: Etnobotani. Tamarindus indica L. , pengetahuan lokal. Manatuto Vila. Timor-Leste Abstract: This research is conducting in Manatuto Vila. Timor-Leste to examine the ethnobotanical use of tamarind by local community, the sources acquisition and transmission of related knowledge. The method use is qualitative with data collection techniques through structure interviews and field observation. The research results of the study showed that 74% of respondents obtained tamarind from their home gardens. Tamarind seed were used as food ingredient with the highest fidelity level, namely 100%, followed by leaves and fruits as traditional medicine . %), and leaf shoots, flowers and fruit as kitchen spices . %). Dry branches and twigs were also used as firewood . %). As many as 98% of respondents stated that the knowledge regarding this use was passed down orally from their ancestors. These findings indicated that tamarind play an important role in the traditional knowledge system and daily life of the Manatuto Vila community, and are part of the cultural heritage that is still preserved today. Copyright: A 2025. Berkala Ilmiah Biologi (CC BY 4. Keywords: Ethnobotany. Tamarindus indica L. , local knowledge. Manatuto Vila. Timor-Leste Dikumpulkan: 2 Juli 2025 Direvisi: 3 Agustus 2025 Pendahuluan Etnobotani dapat didefinisikan sebagai hubungan timbal balik antara kelompok masyarakat dengan keanekaragaman hayati dan konservasi species tanaman, yang bertujuan Diterima: 20 Agustus Dipublikasi: 31 Agustus 2025 untuk memulihkan, mencari, dan melestarikan pengetahuan tradisional yang diperoleh dari masyarakat tentang penggunaan tanaman dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pengobatan, pangan, budaya, hingga fungsi sosial . Alvarez et , 2. A 2025 Pinto. This article is open access Pinto. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . ) : 70 Ae 80 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Dalam konteks Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, pendekatan etnobotani telah terbukti menjadi salah satu strategi penting dalam pelestarian keanekaragaman hayati berbasis kearifan lokal serta sebagai upaya konservasi budaya dan pengetahuan turuntemurun dari berbagai suku bangsa (Aziz et al. Oleh karena itu, dokumentasi dan pengkajian etnobotani sangat penting dilakukan, terutama pada komunitas lokal yang masih aktif memanfaatkan tanaman secara tradisional seperti masyarakat di Manatuto Vila. Timor-Leste. Namun, hingga kini belum ada kajian etnobotani tanaman asam yang fokus pada masyarakat Manatuto Vila. Timor-Leste. Tanaman asam berasal dari familia Fabaceae dengan nama species Tamarindus indica L. Merupakan jenis pohon yang dapat dikategorikan sebagai tanaman multifungsi, karena memiliki beragam manfaat etnobotani dan sekaligus dikenal sebagai tanaman obat Penelitian mengenai etnobotani asam Jawa di Desa Lebakrejo menunjukkan hasil bahwa masyarakat di lokasi tersebut memiliki sepuluh kategori pemanfaatan asam Jawa untuk pembuatan jamu dan bahan pangan dengan nilai IC (Index Consensu. paling tinggi yaitu 98% (Nur Fahima et al. , 2. Studi tentang etnobotani asam Jawa di Pagatan Besar, mengungkapkan bahwa masyarakat lokal dapat memanfaatkan asam Jawa dalam berbagai bidang (MuthiAoah et al. , 2. Selain itu, masyarakat di Uganda dapat memanfaatkan tanaman asam sebagai bahan pangan, obat tradisional, kultural, sosial, lingkungan, dan sumber pendapatan (Ebifa-Othieno et al. , 2. Sedangkan masyarakat di Afrika dapat memanfaatkan tanaman asam sebagai bahan pangan (Van Der Stege et al. , 2. dan masyarakat di Madagaskar dapat memanfaatkan tanaman asam sebagai bahan tambahan pada makanan, obat tradisional dan untuk memproduksi arang (Ranaivoson et al. , 2. Salah satu pemanfaatan etnobotani dari Tamarindus indica L. , adalah sebagai obat Daun asam Jawa dapat dimanfaatkan untuk pembuatan jamu sinom yang berperan untuk menurunkan demam dan menambah nafsu makan (Nur Fahima et al. , 2. Daun asam juga dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk mengobati penyakit cacar air (MuthiAoah et , 2. Air rebusan kulit batang pohon asam dapat digunakan untuk mengobati penyakit abdominal dan konsentrat daging buah asam dapat mengobati penyakit konstipasi (EbifaOthieno et al. , 2. Di Timor-Leste. Tamarindus indica L. dapat dimanfaatkan untuk mengobati nyeri sendi (Collins et al. , 2007, p. Selain itu dapat digunakan untuk mengobati penyakit luka, penyakit sistem pencernaan dan penyakit muskuloskeletal (Casquilho & Xavier, 2. Sedangkan daun asam dapat dipakai untuk mengobati penyakit cacar air (Martins & Henriques, 2. Berdasarkan observasi pendahuluan yang dilakukan di Manatuto Vila, ditemukan adanya pohon asam di pekarangan rumah penduduk, di kebun dan di area hutan dekat pemukiman penduduk. Masyarakat setempat dapat memanfaatkan daun asam sebagai obat Selain itu, masyarakat Manatuto telah lama dikenal dengan sebutan Manatuto biji asam, karena keunikan mereka yang dapat mengonsumsi biji asam. Selain biji, masyarakat juga dapat memanfaatkan pucuk daun, bunga dan buah asam untuk gastronomi. Pemanfaatan tanaman asam tersebut merupakan pengetahuan lokal yang diwariskan dari nenek moyangnya kepada keturunannya secara lisan. Sehingga perlu diadakan penelitian secara detail untuk mengungkapkan potensi etnobotani tanaman asam oleh masyarakat setempat, sehingga dapat mengurangi hilangnya pengetahuan tradisional. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mempelajari sumber perolehan, manfaat etnobotani dan sumber pengetahuan masyarakat Manatuto Vila terkait pemanfaatan etnobotani tanaman asam (Tamarindus indica Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber literatur bagi khalayak, dan upaya untuk melestarikan pewarisan budaya secara turun temurun dari nenek moyang hingga sekarang tentang pemanfaatan etnobotani tanaman asam (Tamarindus indica L. di Manatuto Vila. Timor-Leste. Selain itu dapat memberikan nilai tambah terhadap tanaman A 2025 Pinto. This article is open access Pinto. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . ) : 70 Ae 80 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. asam sebagai sumber bahan pangan dan pembuatan obat karena memiliki manfaat sebagai obat tradisional. Tahap observasi untuk mengamati secara lansung tentang pemanfaatan etnobotani tanaman asam (Tamarindus indica L. ) oleh masyarakat setempat. Bahan dan Metode Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 26 hingga 30 Juni 2024 di Manatuto Vila. Timor-Leste (Gambar . Analisis data Data mengenai sumber perolehan tanaman asam dan sumber pengetahuan tentang manfaat etnobotani tanaman asam dapat dihitung dengan persentase responden. Sedangkan data mengenai pemanfaatan etnobotani tanaman asam dapat dianalisis dengan rumus Fidelity Level (FL), yang diadaptasi dari Nur Fahima et al. yaycE Gambar 1. Lokasi penelitian tentang etnobotani tanaman asam di Manatuto Vila. Timor-Leste. (Sumber: Google Earth Pro, 2. Alat Dalam penelitian ini, alat-alat yang digunakan adalah kuesioner dan alat tulis untuk wawancara. HP untuk pengambilan gambar dan dokumentasi selama proses penelitian. Metode Penelitian ini menggunakan metode survei etnobotani dengan pendekatan kuantitatif. Data kualitatif mengenai pemanfaatan tanaman dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi, yang kemudian dianalisis secara kuantitatif untuk menentukan frekuensi dan tingkat kepercayaan pemanfaatan. Teknik pengumpulan data dapat dilakukan melalui tiga tahapan. Tahap pemilihan sampel yaitu AuPurposive samplingAy, yang didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman masyarakat (Pinto, 2. dan keterampilan dalam mengolah tanaman asam Jawa (Nur Fahima et al. , 2. Total sampel berjumlah sebanyak 50 orang, yang terdiri dari 38 orang perempuan dan 12 orang laki-laki, dengan batasan umur tercatat dari 19 sampai 83 tahun. Tahap interview untuk mewawancara masyarakat dengan menggunakan kuesioner Fidelity Level (%) = yaycO ycU 100% Keterangan: FL = Menghitung pentingnya species untuk sebuah alasan tertentu IP = Jumlah informan/responden yang menggunakan species dalam satu kategori pemanfaatan etnobotani IU = Jumlah total informan/responden yang menyebutkan species untuk seluruh kategori pemanfaatan etnobotani Hasil dan Pembahasan Hasil Sumber perolehan asam di Manatuto Vila Berdasarkan data hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat dikemukakan bahwa masyarakat setempat dapat memperoleh tanaman asam melalui tiga sumber yaitu Pekarangan. Kebun dan Hutan (Gambar . Hutan Kebun Pekarangan Gambar 2. Sumber perolehan tanaman asam (Tamarindus indica L. ) oleh masyarakat di Manatuto Vila. Timor-Leste. A 2025 Pinto. This article is open access Pinto. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . ) : 70 Ae 80 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Manfaat etnobotani tanaman asam di Manatuto Vila. Timor-Leste Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat dicatat sebanyak sepuluh potensi etnobotani dari tanaman asam yang ditemukan di Manatuto Vila. Timor-Leste. Untuk memudahkan pemahaman tentang manfaat etnobotani tersebut, maka data hasil penelitian ditampilkan dalam tabel yang penyajiannya berdasarkan sepuluh manfaat etnobotani asam, organ tanaman asam yang dimanfaatkan, serta nilai Fidelity Level (FL) (%) (Tabel . Tabel 1. Manfaat etnobotani dari tiap organ tanaman asam (Tamarindus indica L. ) disertai nilai FL (%) No. Manfaat etnobotani Bahan pangan Obat tradisional Bumbu dapur Kayu bakar Bahan pangan Pakan hewan domestik Sumber penghasilan Budidaya Pembatas tanah Bahan tambahan pada fermentasi alkohol Sumber pengetahuan masyarakat di Manatuto Vila Berdasarkan data hasil penelitian, maka dapat diketahui bahwa masyarakat setempat dapat memperoleh pengetahuan tentang (Tamarindus indica L. ) yang berasal dari nenek moyang dan tetangga (Tabel . Tabel 2. Sumber pengetahuan masyarakat Manatuto Vila mengenai manfaat etnobotani tanaman asam (Tamarindus indica L. No. Sumber pengetahuan Nenek moyang Tetangga Responden (%) Pembahasan Sumber perolehan tanaman asam (Tamarindus indica L. Berdasarkan data hasil penelitian, dapat dikemukakan bahwa sebanyak 74% dari masyarakat Manatuto Vila. Timor-Leste yang memperoleh tanaman asam (Tamarindus indica ) dari pekarangan rumahnya. Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian maka dapat Organ tanaman Biji Daun, buah Pucuk daun, buah, bunga Cabang dan ranting Buah asam Daun, buah Buah asam Biji Pohon asam Kulit batang FL (%) diketahui bahwa masyarakat setempat memiliki cara hidup yang berasosiasi dengan tanaman Mereka melestarikan ketersediaan tanaman asam yang dapat mendukung pemanfaatan etnobotani tanaman asam secara berkesinambungan. EbifaOthieno et al. , . melaporkan bahwa masyarakat di Uganda dapat memperoleh tanaman asam dari pekarangan rumah dengan persentase 53%. Masyarakat juga dapat memperoleh asam dengan cara melakukan ekplorasi ke dalam hutan dengan nilai responden 16%. Hal tersebut dengan hasil mengemukakan bahwa pohon asam dapat beradaptasi untuk tumbuh di daerah semi gersang dan di padang rumput yang berhutan (Bria & Binsasi, 2. Masyarakat juga dapat memperoleh tanaman asam dari kebun dengan persentase responden yang paling rendah yaitu Hasil penelitian ini identik dengan studi empirik yang mengemukakan bahwa di Jakarta, tanaman asam dapat ditemukan di kebun Selain itu, dapat ditemukan di pinggir jalan raya, taman kota dan pekarangan (Silalahi, 2. A 2025 Pinto. This article is open access Pinto. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . ) : 70 Ae 80 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Pemanfaatan etnobotani asam di Manatuto Vila. Timor-Leste Biji Biji asam dapat disangrai dan dikonsumsi sebagai makanan ringan dengan nilai FL yang tertinggi yaitu 100% (Gambar . Hasil penelitian ini dapat diartikan bahwa semua responden dapat mengonsumsi biji asam. Gambar 4. Budidaya biji asam yang tumbuh menjadi seedling asam Gambar 3. Biji asam yang sedang disangrai. Biji asam yang sudah matang sebagai bahan Masyarakat di Desa Lebakrejo juga mengonsumsi biji asam dengan cara disangrai, ditambahkan sedikit garam dan dijadikan sebagai makanan ringan (Nur Fahima et al. , 2. Selain itu, masyarakat di Afrika Barat juga mengonsumsi biji asam, tetapi dengan cara yang berbeda yaitu direbus, dikupas kulit bijinya, kemudian dapat dikonsumsi (Van Der Stege et , 2. Berdasarkan kandungan nutrisinya, maka biji asam dapat mengandung karbohidrat, protein, lemak, serta antioksidan. Selain itu, biji asam dapat mengandung asam lemak yang berupa asam palmitat, asam oleat dan asam Biji asam juga dapat mengandung mineral yaitu zat Besi. Fosfor. Potassium. Magnesium. Kalsium dan Sodium (Putri, 2. Berdasarkan kandungan nutrisi pada biji asam, maka dapat dinyatakan bahwa biji asam (Tamarindus indica L. ) dapat dikonsumsi dan dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pasokan makromolekul, asam lemak dan Biji asam juga dapat dimanfaatkan untuk budidaya, dengan nilai FL 12% (Gambar . Budidaya biji asam tersebut dapat bertujuan untuk melestarikan ketersediaan tanaman asam, yang dapat menjamin pemanfaatan etnobotani tanaman asam secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat. Daun Daun asam dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Manatuto Vila sebagai bahan baku untuk pembuatan obat tradisional untuk mengobati penyakit gatal pada kulit, cacar air, demam dan keputihan. Penggolahan daun asam dapat dilakukan dengan cara dekoksi, yaitu merebus daun asam secukupnya dalam 5 liter air hingga matang, dilanjutkan dengan penyaringan untuk memisahkan daun dan ekstrak akuosanya dapat digunakan untuk mandi, sebanyak dua kali/hari, baik pada penyakit gatal di kulit, cacar air, demam pada anak-anak dan keputihan (Gambar . Gambar 5. Daun asam secukupnya dan 5 liter air. Hasil filtrasi ekstrak aquosa dari dekoksi daun asam untuk mandi. Menurut MuthiAoah et al. , . masyarakat di Pagatan Besar juga memanfaatkan daun asam untuk mengobati penyakit cacar air. A 2025 Pinto. This article is open access Pinto. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . ) : 70 Ae 80 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Selain itu daun asam juga dapat dimanfaatkan untuk mengobati berbagai jenis penyakit seperti demam, bisul dan dapat menurunkan panas (Yuliana et al. , 2. Bakteri penyebab penyakit pada kulit seperti infeksi dan bisul adalah Staphylococcus Jenis bakteri ini dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan kulit yang diikuti dengan abses bernanah (Salim et al. , 2. Daun asam memiliki sifat antibakteri, yang dapat Staphylococcus aureus (Doughari, 2. Sehingga daun asam dapat dimanfaatkan untuk mengobati penyakit infeksi pada kulit seperti gatal-gatal dan bisul, karena memiliki bioaktifitas antibakteri. Studi fitokimia terhadap daun asam mengungkapkan adanya kandungan metabolit sekunder yang berupa tanin, saponin, sesquiterpen, alkaloid, dan phlobatamin. Komposisi metabolit sekunder tersebut memiliki sifat antibakteri yang dapat menghambat bakteri gram positif dan gram negatif (Doughari, 2. Sedangkan bioaktifitas antibakteri pada daun asam dapat berhubungan erat dengan adanya komponen fitokimia yang dikenal dengan glikosida flavonoid, yang telah diidentifikasi dan dikenal dengan orientin dan vitexin (Gumgumjee et al. , 2. Pucuk daun asam dapat dimanfaatkan sebagai bumbu dapur, terutama untuk pembuatan Pemanfaatan pucuk daun asam tersebut berdasarkan pada ketersediaan daun sepanjang tahun, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bumbu sayuran. Masyarakat di Afrika Barat juga memanfaakan daun asam sebagai bahan tambahan pada makanan (Van Der Stege et al. Daun dan buah asam juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai pakan untuk hewan domestik seperti kambing (Gambar . Gambar 6. Buah asam sebagai pakan ternak domestik kambing. Hasil penelitian ini identik dengan pemanfaatan etnobotani daun asam oleh masyarakat di Madagaskar (Ranaivoson et al. , di Lebakrejo (Nur Fahima et al. , 2. dan di Uganda (Ebifa-Othieno et al. , 2. Cabang dan ranting yang kering Masyarakat memanfaatkan cabang dan ranting tanaman asam yang kering sebagai kayu bakar, dengan nilai FL yang tinggi yaitu 88% (Gambar . Gambar 7. Cabang dan ranting asam yang kering sebagai kayu bakar Dari observasi di lapangan ditemukan adanya masyarakat yang masih menggunakan tungku tradisional, sehingga diharuskan untuk menggunakan cabang kayu sebagai sumber bahan bakar. Masyarakat juga mengungkapkan bahwa pembakaran cabang dan ranting asam dapat memberikan suhu pemanasan yang tinggi, sehingga dapat membantu mempercepat proses pemasakan dan pematangan makanan. Hasil A 2025 Pinto. This article is open access Pinto. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . ) : 70 Ae 80 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. penelitian ini memiliki kesamaan dengan pemanfaatan batang pohon asam sebagai kayu bakar oleh Masyarakat lokal di Uganda (EbifaOthieno et al. , 2. Buah asam Berdasarkan data hasil penelitian, maka dapat diketahui bahwa buah asam dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai bumbu dapur (Gambar . untuk dijual, dengan tujuan untuk menambah hasil ekonomi keluarga. Hasil penelitian ini memiliki kesamaan dengan pemanfaatan buah asam oleh masyarakat di Lebakrejo (Nur Fahima et al. , 2. , dan masyarakat di Afrika (Van Der Stege et al. , 2. Berdasarkan masyarakat menuturkan bahwa cara pembuatan permen asam secara tradisional, dapat diawali dengan pengupasan kulit buah asam yang sudah matang, yang diikuti dengan pengeluaran serta pemisahan biji asam dari daging buahnya, yang selanjutnya daging buahnya dapat dicampur dengan gula halus dan dibentuk menjadi bulatan yang dibungkus dengan plastik transparan untuk dapat dijual (Gambar . Gambar 8. Buah asam untuk sup ikan. Masyarakat mengungkapkan bahwa buah asam dapat menambah cita rasa masakan menjadi sedikit masam dan sekaligus dapat menambah nafsu makan. Berdasarkan studi kandungan nutrisinya, buah asam dapat mengandung berbagai asam organik, diantaranya asam tartarat, asam asetat, asam sitrat, asam malat dan asam suksinat (Putri, 2. Buah asam juga dapat dimanfaatkan untuk dikonsumsi dengan nilai FL sebesar 56%. Putri . melaporkan bahwa buah asam dapat mengandung kadar karbohidrat dan protein yang tertinggi bila dibandingkan dengan buah yang Sumber karbohidrat utama yang terkandung dalam buah asam adalah glukosa dengan kadar 25-30%. Dari komposisi nutrisi buah asam yang telah disebutkan, maka dapat disimpulkan bahwa buah asam dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pasokan nutrisi karbohidrat seperti glukosa dan protein, sehingga baik untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Buah asam juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Manatuto Vila sebagai sumber penghasilan, dengan nilai FL 42% yaitu dengan cara buah asam dapat dijual secara langsung dan dapat diolah terlebih dahulu menjadi permen asam, yang kemudian dapat dijual. Berdasarkan hasil pengamatan ditemukan adanya masyarakat yang memiliki mata pencaharian sebagai petani, dengan penghasilan yang minim. Dengan demikian, mereka memanfaatkan buah asam Gambar 9. Buah asam. Permen asam untuk Buah asam juga dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk menurunkan berat badan dan mengobati bisul. Cara pengolahan buah asam untuk menurunkan berat badan, dapat dilakukan dengan cara ekstraksi buah asam secukupnya dengan segelas air untuk diminum. Sedangkan untuk mengobati penyakit bisul, dapat dilakukan dengan cara pembuatan konsentrat dari ekstrak akuosa buah asam, yang dapat dioleskan pada bisul, sebanyak dua kali/hari setelah mandi (Gambar . A 2025 Pinto. This article is open access Pinto. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . ) : 70 Ae 80 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Gambar 10. Ekstrak aquosa buah asam untuk diminum. Konsentrat daging buah asam untuk dioleskan pada bisul. Buah asam juga memiliki sifat Aktifitas antiobesitas tersebut menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida pada tikus wistar yang hiperlipidemia. Komponen fitokimia dalam buah asam adalah alkaloid, flavonoid, terpenoid dan fenolik (Sutrisna et al. , 2. Selain buahnya, daun asam juga memiliki aktifitas antiobesitas. Ekstrak akuosa daun asam dapat mengandung saponin, flavonoid, glikosida, asam amino, dan Komponen fitokimia tersebut memiliki peranan yang penting dalam aktivitas antiobesitas yang signifikan pada tikus (Valaparla et al. , 2. Bunga Bunga asam dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai bumbu dapur. Masyarakat mengungkapkan bahwa bunga asam juga memiliki rasa masam, sehingga dapat mengubah rasa sayuran menjadi keasaman. Thailand, bunga asam dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pada resep masakan karena rasanya asam dan aromanya yang Selain itu, bunga asam dapat dimanfaatkan sebagai bumbu untuk pembuatan masakan karri, salad dan sup (Bhadoriya et al. Pohon asam Masyarakat setempat juga dapat memanfaatkan pohon asam sebagai pembatas tanah dengan tetangga, dengan nilai FL yang rendah yaitu 10%. Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian, dapat diketahui bahwa batas tanah antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya belum didirikan tembok pembatas. Sehingga mereka manandai batas tanahnya dengan cara menanami tanaman asam (Gambar Gambar 11. Pohon asam sebagai pembatas Tetapi, karena jarak antara rumah yang satu dengan rumah lainnya yang saling tidak memungkinkan penanaman pohon asam yang banyak pada batas tanah, yang ditunjukkan dengan nilai FL yang rendah yaitu 10%. Hasil penelitian ini identik dengan pemanfaatan pohon asam sebagai pembatas tanah di Dusun Banjiran Selatan. Desa Lebakrejo (Nur Fahima et al. , 2. Kulit batang pohon asam dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pada fermentasi gula nira aren menjadi alkohol. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu informan yang mengemukakan bahwa kulit batang pohon asam dapat membantu dalam memperbaiki cita rasa pada minuman alkohol, yang diproduksi dari gula nira aren. Caranya diawali dengan pengambilan kulit batang pohon asam yang secukupnya, dimasukkan ke dalam tabung dari bambu. Pada pagi hari, tabung tersebut dibawa naik ke atas pohon aren untuk melakukan ekstraksi gula aren dengan lama waktu 24 jam. Pada keesokan harinya, gula nira aren yang telah difermentasi, dapat dipindahkan ke dalam jerigen untuk di bawa turun dari pohon aren (Gambar . A 2025 Pinto. This article is open access Pinto. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . ) : 70 Ae 80 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Gambar 12. Kulit batang pohon asam. Ekstraksi gula aren dalam tabung bambu selama 24 jam. Dipindahkan ke dalam jerigen untuk dibawa turun dari pohon aren. Sumber pengetahuan masyarakat Berdasarkan data hasil penelitian, maka dapat dikemukakan bahwa sumber pengetahuan masyarakat Manatuto Vila terkait pemanfaatan etnobotani tanaman asam (Tamarindus indica L. menunjukkan bahwa sebesar 98% berasal dari nenek moyang mereka. Hal ini membuktikan bahwa pengetahuan tersebut adalah warisan budaya yang turun temurun diwariskan secara lisan kepada keturunannya dan masih dilestarikan hingga kini. Selain itu, sumber pengetahuan yang lainnya adalah berasal dari tetangga yaitu 2%. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu responden yang merupakan penduduk dari wilayah lain yang menikah dengan orang Manatuto Vila. Sehingga, pengetahuan tentang pemanfaatan etnobotani tanaman asam dapat diperolehnya melalui sosialisasi hidup bertetangga. Pengetahuan lokal tersebut memiliki kemungkinan untuk hilang seiring dengan adanya modernisasi. Untuk meminimalisir hilangnya pengetahuan lokal, perlu didukung dengan adanya penelitian, sosialisasi, kerja bakti untuk konservasi tanaman asam dan dapat digabungkan dalam modul untuk pembelajaran siswa di sekolah dasar, menengah dan tingkat atas yang berbasis pengetahuan dan realitas Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman asam (Tamarindus indica L. ) memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Manatuto Vila. Timor-Leste, baik sebagai sumber pangan, obat tradisional, maupun bahan Sebagian besar masyarakat . %) memperoleh tanaman asam dari pekarangan rumah mereka, menunjukkan keterikatan langsung antara keberadaan tanaman dan ruang hidup warga. Pemanfaatan etnobotani paling dominan adalah biji sebagai bahan pangan . ilai Fidelity Level 100%), diikuti oleh daun dan buah sebagai obat tradisional . %), serta pucuk daun, bunga, dan buah sebagai bumbu dapur . %). Selain itu, cabang dan ranting tanaman juga digunakan sebagai bahan bakar . %). Berbagai bagian tanaman ini juga dimanfaatkan untuk pakan ternak, sumber penghasilan, pembatas tanah, dan fermentasi tradisional. Pengetahuan tentang pemanfaatan tersebut diperoleh secara turun-temurun, menyatakan bahwa informasi ini diwariskan oleh nenek moyang mereka. Hal ini menunjukkan bahwa praktik etnobotani tanaman asam merupakan bagian dari warisan budaya lokal yang masih hidup dan lestari hingga kini. Dengan demikian, tanaman Tamarindus indica L. hanya memiliki nilai ekologis dan ekonomis, tetapi juga nilai sosial-budaya yang penting, sehingga pelestarian pengetahuan dan praktik etnobotani ini perlu didukung untuk menjamin keberlanjutan identitas dan kesejahteraan masyarakat lokal. Ucapan terima kasih Penulis mengucapkan limpah terima kasih kepada pemimpin lokal, masyarakat setempat dan rekan mahasiswi dari Manatuto Vila. TimorLeste, yang telah bekerja sama dan membantu pemanfaatan etnobotani tanaman asam di lokasi Referensi